• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kalimat Khabar dalam Ilmu Balaghah

N/A
N/A
Yuyun Yunia

Academic year: 2024

Membagikan "Kalimat Khabar dalam Ilmu Balaghah"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Yuyun yunia

Nim : 21.134

Mata kuliah : Dirasah Ushlub 3

Dosen pembimbing : Ustadz Naufal Syauqi, Lc

KALAM KHABAR DALAM ILMU BALAGHAH I. Pendahuluan

Komunikasi adalah "suatu proses ketika seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain".Komunikasi dapat berbentuk verbal dan nonverbal. Verbal merupakan komunikasi yang dilakukan dengan bahasa lisan berupa kata-kata, sedangkan komunikasi nonverbal merupakan komunikasi menggunakan gerak-gerik tubuh.

Untuk dapat menyampaikan bahasa dengan indah maka kita mempelajari balaghah. Balaghah dengan ilmu tersebut bisa tersampaikan apa yang dimaksud oleh pihak mutakallim dengan penuh keindahan dan sesastraan.

Balâghah mempunyai pengertian yang lebih luas dibanding fashâhah. Karena selain memakai bahasa yang jelas, benar dan fashîh, balâghah juga harus dapat melekat (membekas) pada hati dan sesuai dengan situasi dan kondisi lawan bicara (mukhâthab)-nya.

Balaghah Al-quran adalah Ayat Ayat Al-quran yang berkaitan dengan nilai kesastraan dan keindahan yang jauh lebih tinggi santranya dan keindahannya dibandingkan dengan yang lain. Digunakan untuk :

a. Balaghah untuk meningkatkan kemampuan intelektual dalam tafsir Al-Qur‟an, Menerapkan

b. Balaghoh Al-Qur‟an untuk berkomunikasi transformatif-global secara lisan, Menikmati dan memanfaatkan karya

c. Balaghah Al-quran untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti

d. Balaghah untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa dan sastra.

Menghargai Balaghah Al-Qur‟an sebagai khazanah ilmu melalui firman Allah. Pada makalah ini penulis akan membahasa perbedaan dari beberapa khabar, sehingga lebih jelas dimana perbedaan dan persamaannya.

(2)

II. Pembahasan

Dalam ilmu balaghah kalam khabar/khabariyah tergolong kepada pembahasan ilmu ma‟ani yang mana ilmu ini adalah ilmu yang dengan ilmu ini dapat diketahui sesuatu lafaz muthobaqoh (sesuai) dengan muqtadhol halnya (keadaan situasi dan kondisi).

Pokok bahasan ilmu ma‟âni adalah kata-kata Arab yang dapat mewujudkan maksud hati seseorang dan sesuai dengan muqtadla al-hâl. Sedang kegunaannya adalah untuk mengetahui segi-segi kemu‟jizatan Al-Qur'an, baik dari susunan lafazh yang dikemukakan dengan bahasa yang indah dan ringkas, maupun pengertiannya yang mendalam. Juga untuk mempelajari rahasia-rahasia balâghah dan fashâhah pada kata-kata arab, baik yang berbentuk syair (puisi) maupun natsar (narasi)

Ilmu ma‟ani terdiri dari dua pembahasan yaitu kalam khabar dan kalam insya‟. Kalam khabar adalah kalam dimana pembicara bisa dikatakan benar ataupun salah. Sedangkan kalam insya‟ suatu pembicaraan yang pembicaranya tidak dapat dikatakan benar ataupun salah

A. Pengertian

Pada dasarnya, setiap kalimat ada yang berbentuk khabar (berita) dan ada yang berbentuk insyâ‟ (bukan berita). Setiap kalâm Ilmu Ma’ani 13 khabar tidak lepas dari isnâd, yang di dalamnya terdapat musnad dan musnad ilaih.

1. Menurut Abdurrahman al-Ahdrori kalam khabar ialah:

بذكلاو قدصلا لمتحا ام

“Kalam khabar ialah perkataan yang mungkin benar dan mungkin salah”

2. Menurut Imam al-Hasyimi kalam khabar ialah :

“ هتاذل بذكلاو قدصلا لمتحي ام وه ربخلا

”Kalam khabar ialah sesuatu perkataan yang dikatakan benar atau salah menurut zatnya itu sendiri (perkataan).”

Misalnya dalam perkataan mahasiswa A terhadap mahasiswa B “Dosen kamu sudah datang” maka perkataan ini disebut dengan perkataan khabar, karena ia

(3)

mengandung pembenaran dan pendustaan dalam perkataannya. Kalaulah si A berkata sesuai dengan situasi dan kondisi maka dapatlah dikatakan perkataan itu dengan perkataan yang benar atau shodiq. Dan apabila perkataan yang dilontarkan mahasiswa tidak sesuai dengan situasi dan kondisi (fakta) maka perkataan itu dikatakan dengan perkataan dusta. Misal dalam bahasa arab seperti :

دمحم رفاس

“Muhammad

telah pergi”

Dari perkataan di atas dapat disimpulkan bahwa perkataan tersebut memberitahu bahwa Muhammad telah pergi. Perkataan ini adalah perkataan yang disebut dengan khobariyah karena telah mengandung pembenaran dan pendustaan atas perkataan tersebut.

Kalam khabar ada kalanya berjumlah fi‟liyah dan berjumlah ismiyah.

Pertama:

yakni berjumlah fi‟liyyah yaitu khabar yang disusun untuk menyatakan kejadian/perbuatan berlangsung pada waktu tertentu dan terbatas. Kadang-kadang mengandung makna terus berlangsung (selalu terjadi), dengan qarinah (tanda-tanda) jika fi‟ilnya itu fi‟il mudhari‟.Misal dalam bahasa Arab :

م مهفيرععع يلا اوععثعب ةععليبق ظععكع تدرو اععملك و أ : فبرط كلوقك

سوتي

Seperti perkataan Tharif :Ketahuilah, setiap datang ke Ukaz satu qabilah, mereka mengutus kepadaku orang pandai mereka yang selalu berpirasat”

Kedua:

Jumlah ismiyah yakni disusun untuk semata-mata menyatakan tetapnya musnad (khabar) bagi musnad ilaih (mubtada) Seperti :

ةئيضم سمشل

اMatahari itu bercahaya”

Kadangkala memberi pengertian “terus-menerus” dengan qarinah (pengenal) jika khabarnya bukan fi‟il.11 Misal :

عفان ملعلا

“ Ilmu itu memberi manfaat” Jadi, dari semua pernyataan diatas dapat kita simpulkan bahwa sebuah kalam khabar sebenarnya itu dinyatakan untuk memberi tahu lawan bicara akan hukum (isi pernyataan) dalam jumlah yang sudah ditenrangkan diatas.

B. Tujuan Khabar (

ربخلا ضارغأ )

Tujuan asal dari kalam khabari ada dua, yaitu:

(4)

1. Faidatul khabar

Yaitu menyampaikan suatu hukum yang terkandung dalam suatu kalimat kepada mukhathab. Contoh:

ِةَيِرْوُهْمُجْلا ُسْيِئَر َرَضَح

Artinya: Pak Presiden telah datang.

2. Lazimul khabar

Yaitu memberiatahukan mukhathab bahwa mutakallim megetahui suatu hukum. Contoh:

ٌضْيِرَم َتْن َأ

Artinya: Kamu sakit.

Selain kedua tujuan di atas, ada beberapa tujuan kalam khabari sesuai dengan subjek mutakallim dalam menyampaikan suatu pernyataan. Diantaranya:

1. Al-Fakhr (

رخفلا)

Yaitu menyampaikan berita untuk menunjukkan kebanggaan (prestise). Contohnya sebagaimana sabda Rasulullah:

ٍشْيَرُق ْنِم يّن َأ َدْيَب ِبَرَعلا ُحَصْفَأ اَنَأ

Artinya: Saya orang yang paling fasih berbahasa Arab selain itu saya berasal dari keturunan Quraisy.

2. Izhhar al-Dha‘f (

فعضلا راهظإ )

Yaitu menyampaikan berita untuk menampakkan kelemahan. Contohnya:

اًبْي َش ُسْأّرلا َلَعَت ْشاَو يّنِم ُمْظَعْلا َنَهَو يّنِإ ّبَر َلاَق

Artinya: “Ia (Nabi Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban….” (Q.S.Maryam :4).

3. Al-Tahassur (

رسحتل )

ا

Yaitu menyampaikan berita untuk menunjukkan penyesalan.

Contohnya sebagaiman disebutkan dalam al-Qur’an yang mengisahkan tentang isteri Imran yang melahirkan anak perempuan bernama Maryam: Contohnya:

ىَثْنُأ اَهُتْعَضَو يّنِإ ّبَر ْتَلاَق اَهْتَعَضَو اّمَلَف

Artinya: “Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, “Ya Tuhanku, Sesunguhnya

aku melahirkannya seorang anak perempuan….” (QS. ‘Ali ‘Imran : 36).

4. Al-Istirham (

ماحرتسلا)

Yaitu menyampaikan berita untuk memohon kasih sayang dan belas kasihan. Contohnya:

ِهِناَرْفُغَو ِهللا ِوْفَع ىَلِإ ٌرْيِقَف ْيّنِإ

Artinya: Saya sangat mengharapkan ampunan dan magfirah dari Allah.

(5)

Masih banyak lagi tujuan dari penyampaian kalam khabari tergantung maksud dan niat pembicara.

C. Pembagian Kalam Khabar

1. Kalam khabar I‟btida‟i

Dimaksud dengan kalam ibtida‟i yakni apabila hati mukhatab bebas (khaaliyudz- dzihni) dari hukum yang terkandung didalam kalimat (yang akan diucapkan).(Ali al- jarim,220 )Sederhananya ketika mukhatab dalam kondisi tidak mengetahui apa pun tentang informasi yang dibawakan oleh mutakalim.

Dalam kondisi ini, kalam khabar yang disampaikan tanpa disertai dengan taukid (penguat). Dan ini sangat masuk akal sekali karena kalau suatu pembicaraan itu memberikan pengertian pada pendengarnya, maka seyogiannya dia memberikan pernyataan yang singkat saja, sekedar yang perlu saja, ini untuk menghindari omong kosong.

Oleh karena itu, kalau pendengar itu pasti bisa menerima pemberitaan, maka hendaknya pembicara menyatakannya tanpa mempergunakan taukid (kata penegas).

Seperti perkataan : ٌضْيِرَم َكاَبَأ ( ayahmu sakit)” Dari perkataan diatas pembicara ingin menjelaskan kepada mukhatab apa yang belum diketahui oleh mukhatab bahkan satu persenpun. Jadi, pembicara menyampaikan hukum itu tanpa menggunakan taukid.

Contoh dalam al-qur’an

عُعهعّعلعلعا عَعل عّ عععضعَعف عاعععَعمعِعب عِعءعا عَ عععسعّعنعلعا عىعَعلعَعع عَعنعوعععُعمعاعّعوعَعق عُعلعاعععَعِجعّعرعلعا عْعمعِعهعِعلعاعَعوعععععْعم َعأ عْعنعِعم عاعوعععععُعقعَعفعْعنَعأ عاعععععَعمعِعبعَعو عٍعضعْعععَعب عٰعىعَعلعَعع عْعمعُعه عَ عععععضعْعععَعب

ۚۚ

عُعهعّعلعلعا عَعظعِعفعَعح عاعَعمعِعب عِعبعْعيعَعغعْعلعِعل عٌعتعاعَعظعِعفعاعَعح عٌعتعاعَعتعِعنعاعَعق عُعتعاعَعحعِعلعاعّعصعلعاعَعف

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)

Ayat ini merupakan penyampaian kalam kabar, dengan mukhathabnya khaliy dzihniy. Sebagai mutakalimnya Allah.

(6)

Mukhatabnya khaaliyudz-dzihni, pada dasarnya pendengar/mukhatabnya adalah orang yang kosong hatinya (kosong hatinya, dan akan menerima sepenuhnya), akan tetapi pembicara menganggapnya sebagai orang yang ragu

2. Kalam khabarThalabi

Yaitu ketika mukhatab ragu-ragu tentang informasi yang diberitakan oleh mutakalim.

Mukhatab diperkirakan tidak akan menerima informasi dari mutakalim. Oleh karena itu perkataannya harus memakai taukid untuk meyakinkannya.

Pengertian lain diungkapkan oleh Ali alJarim yang disebut dengan kalam thalabi ialah ketika mukhatab ragu terhadap hukum dan ingin memperoleh sesuatu keyakinan dalam mengetahuinya. Dalam kondisi demikian, lebih baik kalimat disampaikan disertai dengan lafaz penguat agar dapat menguasai dirinya.

Seperti ungkapan

ٌضْيِرَم َكاَب َأ ّنِإ

( sesungguhnya ayahmu sakit )

Dari kalimat diatas pembicara ingin menjelaskan kalam khabar kepada mukhatab dengan menggunakan taukid, karena pembicara menilai perlunya memberi taukid untuk menguasai mukhatab yang sedikit ragu-ragu dengan khabar yang kita sampaikan.

Maka sebaiknya pembicara harus menyisipkan satu taukid (penguat)

Oleh karena itulah pembicara tidak memandang perlu untuk mempertegas berita .yang disampaikan.Dan kalimat yang disampaikan itu disebut dengan kalimat kalam khabar ibtida‟i.

3. Kalam Khabar Inkari

Dimaksud dengan kalam ingkari yakni ketika mukhatab dalam kondisi mengingkari khabar yang disampaikan oleh pembicara (mengingkari isi kalimat yang disampaikan). Dalam kondisi demikian,kalimat wajib disertai penguat dengan satu penguat atau lebih sesuai dengan frekuensi keingkarannya. Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa penerima berita ingkar atau mungkir yang tidak percaya akan khabar yang dibawa pembicara sedikitpun.

(7)

Dalam kasus ini pembicara harus memasukkan kalimat penguat lebih dari satu ataupun dua bahkan diharuskan lebih apabila frekuensi dari keingkarannya itu sudah fatal.

Seperti perkataan Abu Abbas as-Saffah sebagai berikut :

,ةد شلا لاإ هلععسي ىتح ىفيس ن دمغلأو ,ةماعلا ىلع مهتنمأام ةصاخلا نيلللا نمركلأو نيطعلأو ,ق حلا يطعلل ىرلا ىتح اعضوم ة نلمعلأ عفنيلا ىتح

Sungguh benar-benar saya akan mengangkat orang-orang lemah lembut sebagai aparatku sehingga mereka akan menjadi keras. Sungguh akan saya mulaikan orang- orang tertentu yang tidak dapat saya percaya pengurusan mereka kepada masyarakat umum. Sungguh saya akan menyarungkan pedang saya kecuali dihunus kepada kebenaran. Dan sungguh saya akan banyak member sehingga tidak ada lagi tempat pemberian.

ضْيِرَمَل َكاَبَأ ّنِإ ِهللاَو

Demi Allah sesungguhnya ayahmu sakit.

Pada contoh tergambar bahwa mukhatabnya mengingkari dan menentang isi beritanya. Dalam kondisi seperti ini kalimat wajib disertai beberapa sarana penguat yang mempu mengusir keingkaran mukhatab dan menjadikannya menerima kalam khabar yang disampaikannya.

Pemberian penguatan ini harus disesuaikan dengan frekuensi keingkarannya. Oleh karena itu pada contoh diperkuat dengan dua taukid yakni qasam dan nun taukid. .

D. Huruf Taukid ( penguat )

(8)

Taukid menurut ibn „Aqil dalam kitabnya terbagi menjadi dua macam yakni taukid lafzi dan taukid ma‟nawi.

a. Taukid Lafzi.

Taukid lafzi adalah taukid yang diulang-ulang seperti dalm perkataan udruji, udruji (naiklah-naiklah). Bait ini menjelaskan tentang bagian kedua dar jenis taukid, yaitu taukd lafzi. Yang dimaksud adalah mengulangi lafaz yang pertama untuk menonjolkan kepentingannya seperti:

يِجردا يِجردا

“ Naiklah, naiklah

اّكَد اّكَد ُضْرَ ْلا ِتّكُد اَذِإ ّلَك

.

Jangan (berbuat demikian), apabila bumi diguncangkan berturut-turut. [al-Fajr : 21].”

Taukid (penegas) itu bisa dengan inna, anna, lam ibtida‟ (la), huruf-huruf tanbih, huruf-huruf qasam (sumpah), nun taukid (khafifah atau tsaqilah), huruf-huruf tambahan,pengulangan kata, dengan qad dan amma syarat.

b. Taukid Ma‟nawi Taukid ma‟nawi ada dua macam:

1. Lafaz yang berfungsi untuk melenyapkan anggapan lain yang berkaitan dengan lafaz yang ditaukid-kan. Hal inilah yang dimaksud oleh kedua bait ini; jenis ini mempunyai dua lafaz an‟nafsu dan lafaz al‟ainu, contoh:

(9)

هسفن ديز ءاِج

“ Zaid datang sendiri ”

Lafaz nafsuhu berkedudukan sebagai taukid yang mengukuhkan makna lafaz Zaidun; berfungsi melenyapkan anggapan lain yang mengalahkan, bahwa Zaid beritanya telah datang,atau utusannya telah datang seperti contoh diatas, adalah:

“ هنيع ديز ءاج Zaid telah datang sendiri

.”

Sehubungan dengan hal ini lafaz an nafsu dan lafaz al „ainu harus di- mudhaf-kan kepada dhamir yang sesuai dengan mu‟akkad, contoh:

هسفن ديز ءاِج

“ Zaid telah datang sendirian ”

هنيع ديز ءاِج

“ Zaid telah datang sendirian ”

اهسفن دنه ءاِج

“ Hindun telah datang sendirian ”

اهنيع دنه ءاِج

“ Hindun telah datang sendirian

2. Taukid ma‟nawi, yaitu lafaz yang digunakan untuk melenyapkan anggapan yang meniadakan pengertian menyeluruh. Untuk tujuan ini gunakanlah lafaz kullun, kilaa, kiltaa, dan jamii‟un.

Dikukuhkan dengan memakai lafaz kullun dan jami‟un sesuatu yang memiliki beberapa bagian, sedangkan sebagaimana diantaranya dapat menduduki tempat sebagian yang lainnya, seperti:

(10)

هلك بك رلا ءاِج

“ Kafilah itu telah datang semuanya

هعمِج بك رلا ءاِج

"

Kafilah itu seluruhnya telah datang

Taukid yang digunakan dalam menguatkan khabar yang disampaikan kepada mukhatab yang ragu dan inkar.

Akan tetapi kadang-kadang maksud suatu kalam khabar itu menyalahi lahiriahnya karena ada beberapa pertimbangan yang diperhatikan oleh si pembicara antara lain

a. al-mutakallim (pembicara yang baligh)

yaitu orang yang mempunyai kecakapan (malakah) mengemukakan maksud hatinya dengan kalimat yang baligh sesuai dengan tujuannya. Kalimat tidak dapat disebut balîgh, karena pada dasarnya balâghah terdiri dari makna yang indah, ungkapan yang benar dan mudah dipahami. Lebih dari itu, balâghah adalah sesuatu yang menekankan pada isi hati mutakallim pada hati mukhathabnya, seperti pada hatinya sendiri. Makna yang indah dan ungkapan yang benar dalam balaghah di atas dimaksudkan, bahwa balaghah harus terdiri dari susunan kata yang lengkap (yang disebut dengan kalimat: kalam), dan kalam yang baligh harus terdiri dari kata yang fashih. Dengan demikian, kalimat tidak termasuk dalam balaghah, karena tidak dapat mengantarkan tujuan mutakallim secara sempurna.

b. Mukhatob ( yang diajak bicara ) diman mukhatab itu terbagi dari beberapa macam diantaranya :

 Mukhatab yang khaaliyudz-dzihni ditempatkan sebagai penanya yang ragu bila kalam khabar tersebut didahului dengan kalimat yang mengisyaratkan hukum dalam kalam khabar tersebut.

(11)

Pada pembagian yang pertama ini pada dasarnya pendengar/mukhatabnya adalah orang yang kosong hatinya (kosong hatinya, dan akan menerima sepenuhnya), akan tetapi pembicara menganggapnya sebagai orang yang ragu. Dengan

kata lain, bahwa kalam khabar ini dimaksudkan kepada orang yang khaaliyudz-zhihni akan tetapi pembicara menyampaikannya dengan menggunakan kalam thalabi atau inkari. Seperti :

َنوُقَرْغُم ْمُهّنِإ اوُمَلَظ َنيِذّلا يِف يِنْبِطاَخُت َل

Dan janganlah kau berbicara kepadaku tentang orangorang zalim itu, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan”. [Q.S. Huud. 37]

Pada ayat diatas, apabila ditelaah lebih lanjut maka akan didapatkan bahwa sebenarnya mukhatabnya adalah khaaliyudz-zdihni (kosong hatinya, dan akan menerima sepenuhnya khabar yang disampaikan oleh mukhotib) terhadap hokum yang khusus bagi orang-orang zalim. Jadi, pada dasarnya kalimat yang disampaikan kepadanya tidak perlu diperkuat dengan huruf taukid.

Akan tetapi, firman diatas disertai taukid. Maka apakah sebebnya ayat diatas disimpangkan dari lahiriyahnya?

Sebabnya adalah bahwa ketika Allah melarang Nabi Nuh. a.s.

mengadukan kepadanya tentang urusan orang-orang yang menyalahi perintah-Nya, maka Allah menunjukkan kepada Nabi Nuh a.s. sesuatu yang akan menimpa mereka. Oleh karena itu, Allah Swt., menempatkan Nabi Nuh a.s. sebagai penanya yang meragukan, seolah Nabi Nuh mengatakan “Apakah mereka akan dihukum dengan ditenggelamkan ataukah tidak?”. Maka Allah menjawab dengan firman-Nya :

“sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan”.

 Mukhatab yang bukan orang yang inkar dianggap sebagai orang yang ingkar karena tampak beberapa tanda keingkaran padanya. Akan tetapi pembicara menganggapnya sebagai orang yang ingkar yang

(12)

tidak mau menerima pemberitahuan yang diberikan oleh pembicara.

Penyimpangan kalam khabar yang disampaikan ini karena tampak ada tanda keingkaran padanya. Seperti :

َنوُتّيَمَل َكِلَذ َدْعَب ْمُكّنِإ

Kemudian, sesudah itu sesungguhnya kamu benarbenar akan mati”.

[Q. S. Al-Mu‟minun : 15]

Pada ayat diatas, maka akan didapatkan mukhatabnya tidaklah mengingkari hukum yang terkandung dalam firman Allah: “Kemudian, sesudah itu sesungguhnya kamu benarbenar akan mati”. Namun, apa sebabnya firman itu disampaikan kepada mereka dengan menggunakan taukid? Sebabnya adalah tampaknya tanda-tanda keingkaran pada mereka karena kelalaian mereka dari kematian dan ketidaksiapsiagaan mereka dengan amal saleh untuk menghadapi kematian itu, mereka ditempatkan sebagai orangorang yang inkar, dan khabar itu disampaikan kepada mereka diperkuat dengan dua taukid.

 Mukhatab yang inkar dianggap sebagai orang yang tidak ingkar bila di hadapannya terdapat beberapa dalil dan bukti, yang seandainya diperhatikan, niscaya musnahlah keingkaran itu

Pada bagian ketiga ini adalah kebalikan dengan bagian yang pertama, yakni mukhatab adalah seorang yang benar-benar ingkar akan tetapi tidak dianggap sebagai orang yang ingkar oleh penyampai khabar itu sendiri, melainkan dianggap sebagai orang yang kosong hatinya atau khaaliyudz-dzihni. Contoh :

ُهَلِإ ْمُكُهَل

Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Esa”. [Q. S. AlBaqarah : 163 [

Pada contoh yang kelima ini, maka akan didapati bahwa Allah menyeruh orang-orang yang mengingkarinya dan menentang ke-esaan-

(13)

Nya. Akan tetapi, Allah menyampaikan khabar kepada mereka tanpa disertai dengan huruf taukid seperti yang disampaikan dengan mukhatab yang khaaliyudzdzihni (kosong hatinya). Mengapa demikian? Sebabnya adalah bahwa sesungguhnya di hadapan mereka terdapat bukti-bukti yang jelas dan hujjah-hujjah yang pasti, yang seandainya mereka mau memperhatikannya, niscaya mereka akan menemukan hal-hal yang sangat memuaskan dan menundukkan.

Oleh karena itu, Allah tidak menegakkan pertimbangan bagi keingkaran yang demikian, dan tidak menganggap perlu mengarahkan khitab secara khusus kepada mereka. Dalam pembahasan ini maka ada tiga penyimpangan dalam pengungkapan kalam khabar ini, yang pertama yakni diungkapkan dengan kalam thalabi atau mukhatab ditempatkan sebagai penanya padahal sebenarnya mukhatabnya adalah khaaliyudz-dzihni.

Bagian yang kedua yakni pengungkapan dengan kalam ingkari yang memuat beberapa taukid (penegas), padahal mukhatabnya adalah orang yang tidak ingkar, dengan kata lain mukhatab hanya sebagai khaaliyudz-zhihni ataupun thalabi. Dan yang ketiga adalah pengungkapan yang diungkapkan dengan kalam Ibtida‟i, akan tetapi sebenarnya mukhatab atau pendengarnya adalah orang yang inkar.

Dan kalam khabar yang diselewengkan dengan makna lahiriyahnya harus memiliki indikasi yang mengisyaratkan untuk diselewengkan.

E. Analisis Kalam Khabar dalam Ayat Al-Quran

1.

Kalam Khabar Ibtida’I

عٰعىعَعلعَعع عْعمعُعه عَععضعْعععَعب عُعهعّعلعلعا عَعلعّعضعَعف عاعَعمعِعب عِعءعاعَعسعّعنعلعا عىعَعلعَعع عَعنعوعُعمعاعّعوعَعق عُعلعاعَعِجعّعرعلعا عٌعتعاعععَعتعِعنعاعَعق عُعتعاعَعحعِعلعا عّ عععصعلعاعَعف عْعمعِعهعِعلعاعَعوعععْعمَعأ عْعنعِعم عاعوعععُعقعَعفعْعنَعأ عاعععَعمعِعبعَعو عٍعضعْعععَعب ۚۚ

عُعهعّعلعلعا عَعظعِعفعَعح عاعَعمعِعب عِعبعْعيعَعغعْعلعِعل عٌعتعاعَعظعِعفعاعَعح ۚ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita

(14)

yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).

Pada ayat diatas, apabila ditelaah lebih lanjut maka akan didapatkan bahwa sebenarnya mukhatabnya adalah khaaliyudz-zdihni (kosong hatinya, dan akan menerima sepenuhnya khabar yang disampaikan oleh mukhotib) terhadap hokum yang khusus bagi orang-orang zalim. Jadi, pada dasarnya kalimat yang disampaikan kepadanya tidak perlu diperkuat dengan huruf taukid.

2. Kalam khabar Tholabi

Contoh :

َلَو اععَنْيَلِا ّمُلَه ْمِهِناَوععْخِ ِل َنْيِلِٕى َقْلاَو ْمُكْنِم َنْيِقّوَعُمْلا ُهّٰللا ُمَلْعَي ْدَق ۚ ۤا

ًلْيِلَق ّلِا َسْأَبْلا َنْوُتْأَي

ۙا

Sungguh, Allah mengetahui para penghalang (untuk berperang) dari (golongan)- mu dan orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, “Marilah bersama kami.”

Mereka tidak datang berperang, kecuali hanya sebentar.

Pada contoh diatas tergambar bahwa mukhatab sedikit merasa ragu dan tampak padanya keinginan untuk mengetahui hakikat. Dalam kondisi seperti ini baik sekali disampaikan kepadanya kalimat berita yang berkesan meyakinkan dan menghilangkan keraguannya. Oleh karena itu dalam kalimat ini diperkuat dengan qüd

3. Khabar Ingkari

Surat al Imran 186

(15)

ْٓيِف ّنُوععععععععععَلْبُتَل

ْمُكِلاَوعععععععععععععْمَا

ُ كِسُفْنَاَو

ْۗم

Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu.

Contoh diatas mukhatabnya mengingkari dan menentang isi berita. Dalam kondisi ini kalimat wajib di sertai beberapa sarana penguat yang mampu nengusir keingkarannya mukhatab sehingga mukhatab mampu nenerimanya . .Contoh diatas di perkuat dengan dengan dua penguat yaitu qasam dan nun taukid

Hufuf Qasam adalah laa ibtida

ّنُوَلْبُتَل

dan nun taukidnya adalah nun bertasjid pada

ّنُوَلْبُتَل

F. Kesimpulan

Kalam khabar menurut beberapa pendapat adalah perkataan yang dikatakan pembicara (mutakalim) bisa benar bisa salah, kalau sesuai kejadian itu benar dan kalau tidak itu bohong.

Kalam khabar dibagi menjadi 3.

- Kalam khabar I’btibai adalah perkataan dari hati mukhatab yang bebas dari hukum, atau mutakalim tidak mengetahui apapun tentang informasi itu ia memilih diam.

- Kalam khabar talabi mukhatab ragu-ragu tentang infarmasi atau perkataan dari mutakalim

- Kalam khabar ingkari mukhatob dalam kondisi ingkar mengikuti kabar yang disampaikan mutakalim.

Untuk mengetahui kalam khabar ingkari biasanya ada kata taukid atau penegasan lebih dari dua kali, dan untuk melenyapkan anggapan itu maka harus ada lafadz yang mengukuhkan lafadz itu, atau memberi penegasan (taukidz) dengan lafadz yang digunakan untuk meleyapkan anggapan dengan meniadakan pengertian menyeluruh.

(16)

Daftar pustaka

Abdurrahman al-Ahdhori, Jauharul Maknun, terj. Achmad sunarto, ( Surabaya : Mutiara Ilmu, 2009)

Ali al-Jarim dan Mustafa Amin, Balaghah al-Wadhiyah PDF https://repository.uin-suska.ac.id/20791/7/7.pdf

https://nahwusharaf.wordpress.com/ilmu-balaghah-duruusul-balaghoh/ilmu-maani

ILMU BALAGHAH Dilengkapi dengan contoh-contoh Ayat, Hadits Nabi dan Sair Arab Khamim & H. Ahmad Subakir, IAIN Kediri Press 2018.

https://eprints.iain-surakarta.ac.id/7614/1/scan%20ilmu%20m%27ani%20bu%20hafidah.pdf

Referensi

Dokumen terkait

Ta’ala berfirman dalam Al -Quran dengan tutur bahasa yang sangat indah dan sarat akan makna sehingga membuat pembacanya terpesona akan keindahan makna- makna

Berdasarkan hasil penelitian penggunaan kalimat efektif dalam poster pada majalah dinding Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako dapat

Tujuan penulisan artikel ini adalah mendeskripsikan tata bahasa Indonesia secara sederhana, khususnya terkait pemilihan kata, kalimat efektif, penggunaan tanda baca,

Dengan ibarat yang lain, bahwasanya ilmu bunyi normatif merupakan ilmu yang membahas asal mula bahasa yang dijelaskan seperti diharuskan untuk berbicara dengan tutur yang benar

Dengan menjelaskan kaidah-kaidah ilmu Balaghah dan memberikan contoh yang sesuai dengan konteks kehidupan sehari-hari para pelajar, diharapkan akan dapat mempermudah pemahaman

Oleh karena itu, penelitian ini hanya membahas struktur dan makna yang terbentuk dari kalimat bahasa Jepang yang mengandung modalitas darou dalam anime Himouto Umaru Chan

Kemampuan berbicara merupakan kemampuan seseorang dalam mengucapkan suatu kata atau kalimat yang mengandung makna dan bermaksud untuk menyampaikan

Salah satu metode dan media pembelajaran Bahasa arab yang efektif dan bervariasi yang akan dibahas pada artikel ini dengan metode permainan yang berupa teka-teki silang ilmu nahwu,