Rinosinusitis Akut dengan Komplikasi Selulitis Orbita
Bobby Pardomuan Sitompul, dr.*; Rus Suheryanto, dr., Sp. T.H.T.K.L. (K)**
*PPDS Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan dan Bedah Kepala Leher
**Staf SMF Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan dan Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya / RSUD Dr. Saiful Anwar Malang
Abstrak
Latar Belakang: Rinosinusitis merupakan inflamasi di mukosa hidung dan sinus paranasal dengan angka komplikasi yang rendah yakni 3,7-20%. Komplikasi dapat terjadi pada orbita, intrakranial dan tulang.
Komplikasi yang paling banyak terjadi adalah komplikasi orbita. Pengenalan diagnosis dini dan terapi yang adekuat menjadi sangat penting karena apabila tidak adekuat akan menimbulkan kebutaan permanen bahkan kematian. Tujuan: Melaporkan sebuah kasus rinosinusitis akut dengan komplikasi selulitis orbita. Laporan kasus: Laki-laki usia 57 tahun dengan keluhan utama bengkak pada pipi dan mata kanan. Berdasarkan anamnesis, presentasi klinis dan pemeriksaan High Resolution Computed Tomography (HRCT) Scan Pre Functional endoscopic sinus surgery (FESS) pasien didiagnosis rhinosinusitis akut dekstra dengan komplikasi selulitis orbita dekstra, diabetes mellitus tipe II, leukositosis, septum deviasi sinistra dan CAD stabil. Pasien menjalani operasi FESS, dilakukan konsultasi ke bagian mata dan menunjukkan hasil pasca operasi yang baik. Kesimpulan: Tatalaksana utama pada rinosinusitis akut dengan komplikasi selulitis orbita adalah melakukan eradikasi infeksi secara komplit dan tatalaksana komprehensif dengan bagian mata dan bagian lain terkait. Pada kasus ini telah dilaporkan kasus laki-laki usia 57 tahun dengan rinosinusitis akut dengan komplikasi selulitis orbita yang ditangani dengan Tindakan FESS.
Kata Kunci: Rinosinusitis akut, selulitis orbita, komplikasi rhinosinusitis, FESS Abstract
Background: Rhinosinusitis is an inflammation of the nasal mucosa and sinuses with a low complication rate of 3.7-20%. Complications can occur in the orbit, intracranial, and bone. The most common complications are orbital complications. Early diagnosis and adequate therapy are very important, otherwise they can lead to permanent blindness and even death. Purpose: We report a case of acute rhinosinusitis with orbital cellulitis. Case Report: A 57-year-old man complained mainly of cheek and right eye swelling. Based on the history, clinical presentation, and high-resolution computed tomography (HRCT) before Functional endoscopic sinus surgery (FESS), the patient was diagnosed with acute right rhinosinusitis complicated by right orbital cellulitis, diabetes mellitus type II, leukocytosis, left septal deviation, and stable CAD. The patient underwent surgery at FESS, consulted the eye department, and showed good postoperative results.
Conclusions: The most important treatment for acute rhinosinusitis complicated by orbital cellulitis is complete eradication of the infection and comprehensive treatment of the eye and other associated parts.
This case reported a 57-year-old man with acute rhinosinusitis complicated by orbital cellulitis which was treated with FESS.
Keywords: Acute Rhinosinusitis, Orbital Cellulitis, Rhinosinusitis Complications, FESS
PENDAHULUAN
Rinosinusitis masih merupakan penyakit yang menimbulkan problema di seluruh dunia dengan insiden dan prevalensi yang terus meningkat. Rinosnusitis menyebabkan
langsung yaitu biaya untuk pengobatan yang tinggi, menurunnya produktifitas kerja serta penurunan kualitas hidup penderita rinosinusitis.1
Sinusitis akut atau disebut juga
Laporan Kasus
hidung dan sinus paranasal dengan gejala berlangsung kurang dari 4 minggu.2 Meskipun terjadinya komplikasi rinosinusitis jarang, rata- rata komplikasi rinosinusitis bervariasi antara 3,7-20%. Secara umum komplikasi rinosinusitis terbagi menjadi 3, yaitu komplikasi orbita, komplikasi intrakranial dan komplikasi tulang. Komplikasi rinosinusitis yang paling sering terjadi adalah komplikasi orbita dengan angka kejadian berkisar 60-75%
dari angka kejadian komplikasi rinosinusitis dan rinosinusitis akut merupakan penyebab utama terjadinya infeksi orbita yang berat.3, 4
Komplikasi orbita dari rinosinusitis dibagi menjadi 5 kelompok menurut klasifikasi Chandler’s; 1. periorbita selulitis (selulitis preseptal), 2. selulitis orbita, 3. abses subperiosteal, 4. abses Orbita 5. trombosis sinus kavernosus. Apabila tidak diterapi, komplikasi orbita rinosinusitis dapat menyebabkan kebutaan permanen dan bahkan menyebabkan kematian.5, 6
Rinosinusitis akut dengan komplikasi orbita pada dewasa merupakan kasus dengan permasalahan yang kompleks, penanganan dengan medikamentosa atau terkadang membutuhkan intervensi pembedahan membuat penulis tertarik melakukan pembahasan melalui satu buah laporan kasus.
Dengan memahami mengenai penegakan diagnosis dan tatalaksana, diharapkan mencegah keterlambatan diagnosis dan memberikan penanganan yang cepat dan tepat terkait komplikasi rinosinusitis akut khususnya komplikasi orbita.
LAPORAN KASUS
Dilaporkan seorang laki-laki berusia 57 tahun dengan keluhan utama bengkak pada pipi dan mata kanan. Keluhan ini disertai dengan pilek dengan ingus kental kekuningan yang berbau sejak 2 minggu, rasa kleler-kleler di belakang tenggorok, suara sengau, nyeri pipi kanan, hidung berbau. Pasien memiliki riwatar gigi sakit dan berlubang di gigi geraham rahang kanan atas, dengan Riwayat demam pada saat awal sakit.
Tidak didapatkan Riwayat mimisan, penurunan penghidu dan nyeri kepala. Pasien tidak memiliki keluhan bersin beruntun bila terpapar udara dingin dan debu. Tidak ada keluhan pada telinga dan tenggorok.
Riwayat alergi obat atau makanan disangkal. Riwayat diabetes melitus sejak 17 tahun yang lalu, dengan konsumsi glibenklamid tetapi tidak teratur dan tidak pernah kontrol.
Tidak ada Riwayat penyakit hipertensi dan asma.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum cukup, tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis dengan Glasgow Coma Scale (GCS) 456. Tekanan darah 130/90 mmHg. Nadi 78 x/menit, regular, kuat angkat.
Frekuensi nafas 20 x/menit, regular. Suhu tubuh 36,9˚C dengan saturasi O2 99% room air, dan skor VAS 4.
Pada pemeriksaan hidung didapatkan sekret mukopurulen di meatus medius. Pada pemeriksaan tenggorok didapatkan karies pada gigi 18 dan ada post nasal drip.
Pada pemeriksaan kepala leher didapatkan hiperemi dan edema palpebra inferior, konjuntiva hiperemi, gerak bola mata D/
terbatas ke lateral, nyeri tekan dan nyeri pergerakan bola mata, nyeri tekan pipi dan dahi kanan. Tidak didapatkan pembesaran kelenjar getah bening aksila dan inguinal.
Hasil pemeriksaan nasoendoskopi cavum nasi dekstra didapatkan meatus media dan mukosa kavum nasi hiperemia, edema, terdapat sekret mukopurulen. Pada cavum nasi sinistra didapatkan septum deviasi setinggi konka inferior berbentuk spina derajat I.
Gambar 1. Nasoendoskopi cavum nasi dekstra
Gambar 2. Nasoendoskopi cavum nasi sinistra
Telah dilakukan pemeriksaan penunjang laboratorium dengan hasil leukositosis (19.780/
µL), hipergikemia (377 mg/dL).
Pada hasil High Resolution Computed Tomography (CT) scan Pre FESS, ditemukan panhemisinusitis dekstra, sinusitis akut maksilaris sinistra
Gambar 3. HRCT Pre FESS
Pasien didiagnosis dengan rhinosinusitis akut dekstra dengan komplikasi selulitis orbita dekstra, diabetes mellitus tipe II, leukositosis, septum deviasi sinistra dan CAD stabil. Pasien direncanakan functional endoscopic sinus surgery (FESS). Kemudian dilakukan konsultasi sejawat anestesi dengan assessment American Society of Anesthesiologist (ASA) 3, DM tipe II, Complete RBBB, Stable CAD.
Temuan operasi didapatkan terdapat sekret mukopurulen, fetor +, di dalam sinus maksilaris
didapatkan sekret mukopurulen dan jaringan nekrotik. Pada mukosa sinus ethmoidalis posterior tampak sekret mukopurulen dan jaringan nekrotik. Tampak mukosa sinus ethmoidalis posterior dekstra kehitaman bercampur darah, yang diduga suatu jamur dan dilakukan swab. Pada sinus frontalis dekstra tampak sekret mukopurulen dan jaringan nekrotik.
Paska operasi tidak didapatkan komplikasi, pasien diminta kontrol berkala untuk observasi. Hasil swa didapatkan biakan kultur Staphylococcus koagulase positif.
Selanjutnya pasien dikonsulkan ke bagian mata dengan diagnose OD selulitis preseptal, OD NPDR dan KT KW III, pasien direncanakan insisi drainase abses secara lokal.
DISKUSI
Rinosinusitis akut adalah inflamasi pada mukosa hidung dan sinus paranasal dengan gejala berlangsung kurang dari 4 minggu.
Meskipun jarang terjadi komplikas, komplikasi rinosinusitis yang paling sering terjadi adalah komplikasi orbita Pada kasus ini, didapatkan penderita rinosinusitis akut yang terjadi komplikasi selulitis orbita sesuai dengan kriteria Chandler tingkat 2, terdapat keterlibatan jaringan lunak bagian posterior orbita yang berbatasan dengan septum tanpa adanya formasi abses. 3, 4
Diagnosis pada penderita adalah dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, konfirmasi diagnosis dengan nasoendoskopi dan pemeriksaan radiologi CT-scan. Keluhan sesuai dengan literatur menurut EPOS dan AAOHNS rinosinusitis berdasarkan onset terjadi dalam 4 minggu dan memenuhi 3 dari 5 kriteria rinosinusitis akut bakterialis, yaitu hidung sekret hidung mukopurulen,unilateral, nyeri berat di pipi unilateral dan demam.7, 8 Pasien juga memiliki riwayat diabetes melitus sejak 17 tahun yang tidak rutin kontrol, hal ini sesuai dengan penelitian Pullarat et al,9 pada penelitian deskriptif mengenai komplikasi orbita pasien rinosinusitis akut dan kronis di rumah sakit India dengan sampel 27 pasien
ko-morbid tertinggi (63%).9 Pada penelitian Ismi et al,5 mengenai terapi pembedahan pada pasien rinosinusitis akut dengan komplikasi orbita dan faktor-faktor yang menyebabkan kebutaan irreversible, dari 25 pasien, 6 diantaranya ada penderita diabetes.5
Pada pemeriksaan fisik didapatkan sekret mukopurulent pada meatus medius dextra, PND (+), caries dentis gigi 18, hiperemi dan edema palpebra inferior, Konjuntiva hiperemi, gerak bola mata D/ terbatas ke lateral, nyeri tekan dan nyeri pergerakan bola mata +, dan visus normal. Pemeriksaan laboratorium dengan leukositosis dan peningkatan gula darah. Pemeriksaan nasoendoskopi tampak edema dan hiperemi meatus media dan tampak sekret mukopurulen dan pemeriksaan. Hal ini sesuai dengan literatur, tanda khas rinosinusitis akut dengan komplikasi selulitis orbita adanya edema konjuntiva, nyeri bola nyeri tekan dan nyeri gerak bola mata, disertai keterbatasan gerak bola mata. Karies gigi molar ketiga rahang atas dicurigai merupakan fokus infeksi pada kasus ini, hal ini sesuai dengan literatur infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksilaris, dengan faktor predisposisi gigi premolar pertama sampai molar ke tiga rahang atas.10,11
Penderita kemudian direncanakan menjalani rawat inap, terapi medikamentosa dan ekstraksi gigi yang dicurigai sebagai fokus infeksi untuk menghilangkan sumber odontogenik. Pemberian medikamentosa dengan antibiotik intravena spektrum luas, injeksi steroid methylprednisolon dengan monitoring ketat gula darah, mukolitik dan irigasi hidung cairan saline.12 Penderita terjadi perbaikan klinis dari komplikasi selulitis orbita dengan hilangnya edema palpebra dan perbaikan gerak bola mata, akan tetapi terjadi kondisi hiperglikemik karena pemberian methylprednisolon. Pemberian steroid tetap diberikan karena berdasarkan literatur, pemberian steroid pada kasus selulitis orbita memberikan efek menguntungkan seperti penurunan demam lebih cepat, nyeri minimal, resolusi edema dan proptosis lebih cepat dan lebih cepat kembali ke gerak bola mata normal,
perbaikan visus dan menurunkan durasi perawatan dirumah sakit serta penggunaan antibiotik intravena dibandingkan yang tidak mendapatkan steroid.13 Evaluasi nasoendoskopi yang ke 2, 6 hari setelah medikamentosa masih didapatkan hiperemi, edema dan sekret mukopurulen di meatus media dan pemeriksaan CT-scan 7 hari setelah medikamentosa disimpulkan panhemisinusitis dekstra dan sinusitis akut maksilaris sinistra sehingga pasien direncanakan operasi functional endoscopy sinus surgery FESS D/ untuk memperbaiki drainase rongga sinus. Hal ini sesuai dengan literatur beberapa kasus selulitis orbita membutuhkan intervensi pembedahan.
Secara umum, berdasarkan literatur intervensi bedah direkomendasikan ketika ada bukti formasi abses, ketajaman visus 20/60 atau yang lebih buruk dibandingkan evaluasi awal, perkembangan gejala orbita meskipun dengan perawatan medis, dan tidak ada perbaikan dalam 48 jam meskipun dengan perawatan agresif. Pada kasus ini, tindakan FESS D/
dilakukan karena terjadi perluasan infeksi ke rongga sinus lainnya dan pasien dengan kondisi imunnocompromised.12
Pada hasil pemeriksaan biakan kultur mikrobiologi didapatkan kuman staphylococcus koagulase negatif. Hal ini sesuai dengan penelitian di Taiwan mengenai komplikasi orbita dari sinusitis paranasal oleh Chang et al,14 dari 83 pasien didapatkan kuman tersering adalah staphylococcus koagulase negatif (25,3%) diikutin staphylococcus aereus (20,5%).22 Berbeda dengan laporan Flam et al,23 berdasarkan penelitiannya dari 16 pasien dengan rinosinusitis komplikasi orbita didapatkan 50% adalah streptococcus group viridans dan 31% staphylococcus aereus.15
Paska pembedahan pasien menjalani perawatan 5 hari rawat inap dan dilanjutkan pengobatan rawat jalan dengan terapi oral. Pada hari ke 25 paska operasi pasien sudah tidak ada keluhan dan perbaikan secara klinis tanpa ada gejala sisa. Hal ini sesuai penelitian oleh Van der veer et al,16 dari 68 kasus rinosinustis dengan orbital selulitis dapat sembuh total.16 Berdasarkan penelitian chaiyasate et al,3 pada
penelitian komplikasi rinosinusitis di rumah sakit tersier di Thailand disimpulkan prognosis bergantung jenis dari komplikasi rinosinusitis dan yang terburuk adalah komplikasi intrakranial.3
KESIMPULAN
Telah dilaporkan sebuah kasus laki-laki usia 57 tahun dengan diagnosis rhinosinusitis akut dekstra dengan komplikasi selulitis orbita dekstra, diabetes mellitus tipe II, leukositosis, septum deviasi sinistra dan CAD stabil. Tujuan penatalaksanaan rhinosinusitis alut komplikasi orbita adalah eradikasi infeksi secara komplit dan melakukan tatalaksana pada bagian orbita dengan adekuat. Diagnosis rhinosinusitis akut komplikasi orbita dari pemeriksaan nasoendoskopi dan pemeriksaan penunjang HRCT Pre FESS.
Pasien telah menjalani operasi FESS dan paska operasi tidak didapatkan komplikasi, pasien diminta kontrol berkala untuk observasi dan dikonsulkan ke bagian mata.
DAFTAR PUSTAKA
1. Hoddeson EK, K WS. Acute Rhinosinuitis.
In: Johnson JT, Rosen CA, editors. Bailey's Head and Neck Surgery-Otolaryngology. 1.
5th ed. Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins; 2014. p. 509-24.
2. Patel ZM, Hwang PH. Acute Bacterial Rhinosinusitis. Infections of the Ears, Nose, Throat, and Sinuses: Springer; 2018.
p. 133-43.
3. Chaiyasate S, Fooanant S, Navacharoen N, Roongrotwattanasiri K, Tantilipikorn P, Patumanond J. The complications of sinusitis in a tertiary care hospital: types, patient characteristics, and outcomes.
International journal of otolaryngology.
2015;2015.
4. Campbell AP, Bergmark RW, Metson R.
Orbital complications of acute sinusitis.
Operative Techniques in Otolaryngology- Head and Neck Surgery. 2017;28(4):213-9.
5. Ismi O, Vayisoglu Y, Bal KK, Helvaci I, Görür K, Ozcan C. Surgical Treatment of Rhinosinusitis-Related Orbital
Irreversible Blindness. Journal of
Craniofacial Surgery. 2018;29(5):1294-9.\
6. Holý R, Kovář D, Fundová P, Belšan T, Filipovský T, Astl J. Orbital Cellulitis as a Complication of Acute Rhinosinusitis-our Experience with Treatment in Adult Patients. CESKA A SLOVENSKA NEUROLOGIE A NEUROCHIRURGIE.
2016;79(6):698-702.
7. Fokkens WJ, Lund VJ, Mullol J, Bachert C, Alobid I, Baroody F, et al. EPOS 2012:
European position paper on rhinosinusitis and nasal polyps 2012. A summary for otorhinolaryngologists. Rhinology.
2012;50(1):1-12.
8. Aring AM, Chan MM. Acute rhinosinusitis in adults. American family physician.
2011;83(9).
9. Pullarat AN, CK MF, Nampoothiri MP, Suma R. A descriptive study of the patients with orbital complication of acute and chronic sinusitis. International Journal of Otorhinolaryngology and Head and Neck Surgery. 2018.
10. Mehra P, Jeong D. Maxillary sinusitis of odontogenic origin. Current allergy and asthma reports. 2009;9(3):238-43.
11. Longhini AB, Ferguson BJ, editors.
Clinical aspects of odontogenic maxillary sinusitis: a case series. International forum of allergy & rhinology; 2011: Wiley Online Library.
12. Giannoni C. Complications of
Rhinosinuitis. In: Johnson JT, Rosen CA, editors. Bailey's Head and Neck Surgery- Otolaryngology. 1. 5th ed. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins; 2014. p.
573-85.
13. Weber AC, Yen MT. Medical Therapy for Bacterial Preseptal and Orbital Cellulitis Associated with Sinusitis. Orbital Cellulitis and Periorbital Infections: Springer; 2018.
p. 65-74.
14. Chang Y-S, Chen P-L, Hung J-H, Chen H- Y, Lai C-C, Ou C-Y, et al. Orbital
complications of paranasal sinusitis in Taiwan, 1988 through 2015: Acute
and management. PloS one.
2017;12(10):e0184477.
15. Flam JO, Platt MP, Sobel R, Devaiah AK, Brook CD. Association of oral flora with orbital complications of acute sinusitis.
American journal of rhinology & allergy.
2016;30(4):257-60.
16. Van der Veer EG, van der Poel NA, de Win MM, Kloos RJ, Saeed P, Mourits MP. True abscess formation is rare in bacterial orbital cellulitis; consequences for treatment.
American journal of otolaryngology.
2017;38(2):130-4.