• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kearifan Sosial Masyarakat Perdesaan - Spada UNS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Kearifan Sosial Masyarakat Perdesaan - Spada UNS"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Kearifan Sosial Masyarakat

Perdesaan

(2)

Konsepsi dan Falsafah Adat Kearifan Lokal

1. Konsep Kearifan Sosial

Kearifan lokal merupakan cara dan strategi

komunitas dalam menghadapi lingkungan fisik, ekologis, sosial, budaya, dan ekonomi.

Dikatakan kearifan (wisdom) karena merupakan kristalisasi pengalaman masa lampau yang

membentuk stock of knowledge dan practices (praksis) yang dipandang arif dan bijaksana

terhadap berbagai lingkungan mereka. Kearifan tersebut bersifat lokal (tempatan)

(3)

Kearifan dan kebijaksanaan tersebut terlihat penampakannya pada kemampuan antisipatif, adaptif, dan solutif terhadap berbagai persoalan kehidupan. Oleh sebab itu disebut sebagai

kearifan lokal, di mana ada persoalan ruang.

Antara ruang yang berbeda meskipun lingkungan fisik dan ekologisnya relatif sama, bisa berbeda pula kearifan lokalnya. (antara Jawa dan Sunda misalnya) walaupun bertentangga secara

geografis, lokalitas dan relatif sama ekologisnya, namun kearifan lokalnya berbeda.

(4)

• Kearifan Lokal dipandang sebagai kearifan sosial karena kearifan tersebut dikonstruksi secara sosial oleh para anggota komunitas.

• Kearifan lokal dibangun, dikembangkan dan dipertahankan atau disempurnakan dalam proses interaksi bersama anggota komunitas dalam menghadapi (berbagai) lingkungan.

• Kearifan lokal terdiri dari nilai, sistem pengetahuan dan teknologi lokal.

• Kearifan lokal mencakup hampir seluruh aspek kehidupan manusia.

(5)

Kearifan Lokal dalam kaitan dengan ketahan pangan

• Bagaimana sumber pangan dijaga dan

dipertahankan seperti “ikan larangan” atau

“tebat larangan” yang melarang orang

menangkap ikan pada waktu sebelum masa panen.

(6)

Pranoto Mongso (Jawa)

Pranoto mongso atau aturan waktu musim digunakan oleh para tani pedesaan yang didasarkan pada naluri dari leluhur dan dipakai sebagai patokan untuk

mengolah pertanian. Berkaitan dengan kearifan tradisional maka pranoto mongso ini memberikan

arahan kepada petani untuk bercocok tanam mengikuti tanda-tanda alam dalam mongso yang bersangkutan,

(7)

Tidak memanfaatkan lahan seenaknya sendiri meskipun sarana prasarana mendukung seperti misalnya air dan saluran irigasinya. Melalui perhitungan pranoto mongso maka alam dapat menjaga keseimbangannya.

Dengan adanya pemanasan global sekarang ini yang juga mempengaruhi pergeseran musim hujan, tentunya akan mempengaruhi masa-masa tanam petani. Namun

demikian pranoto mongso ini tetap menjadi arahan petani dalam mempersiapkan diri untuk mulai bercocok tanam.

Berkaitan dengan tantangan maka pemanasan global juga menjadi tantangan petani dalam melaksanakan pranoto mongso sebagai suatu kearifan lokal di Jawa.

(8)

Kearifan Lokal dalam Hubungan dengan Pemanfaatan Sumberdaya Air

• Bagaimana sumberdaya air tidak menjadi

barang yang langka seperti Subak di Bali atau

“tali banda” atau Kincir di Minangkabau

(9)

Nyabuk Gunung

Nyabuk gunung merupakan cara bercocok tanam dengan membuat teras sawah yang dibentuk

menurut garis kontur. Cara ini banyak dilakukan di lereng bukit sumbing dan sindoro.

Cara ini merupakan suatu bentuk konservasi lahan dalam bercocok tanam karena menurut garis kontur.

Hal ini berbeda dengan yang banyak dilakukan di Dieng yang bercocok tanam dengan membuat teras yang memotong kontur sehingga mempermudah terjadinya longsor.

(10)

Nyabuk Gunung

(11)

Kearifan Lokal dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan SDA untuk Ekonomi

• Bagaimana penggunaan sumberdaya alam yang ada untuk sumber ekonomi seperti klasifikasi hutan menurut adat di

Minangkabau dan Melayu, klasifikasi tanah menurut adat, hak ulayat tanah, dan

sebagainya

(12)

Tumpang Sari

Sistem ‘tumpangsari’ adalah praktek penanaman beragam biji- bijian sebagai bagian dari peladangan berpindah yang banyak

meniru kompleksitas dan keragaman sistem vegetasi wilayah sub- tropis dan tropis. Model pertanian ini dilakukan dengan cara

menanam beberapa jenis tanaman yang berbeda dalam suatu areal atau petak tanah secara bersamaan.

(13)

Pada awalnya, sistem pertanian ini dianggap ketinggalan zaman dan tidak sesuai dengan ilmu pertanian modern karena tidak efisien secara kuantitas dan kualitas hasil yang akan didapatkan.

Akan tetapi terdapat tujuan yang baik dan penting adanya kearifan lokal ini, yaitu untuk melindungi tanah dari sinar matahari langsung, mengurangi pemanasan langsung pada

permukaan tanah, menjaga permukaan tanah dari proses erosi, penggunaan volume tanah secara efisien dan mengurangi

kerentanan tanah dari hama dan serangga perusak.

Hal ini dapat terjadi karena perbedaan kecepatan tumbuh

beragam tanaman tersebut membuat tanah menjadi permanen, di samping itu juga karena tanahnya selalu ditutupi oleh

tanaman tersebut secara terus menerus serta sistem akar tanaman tersebut yang bervariasi.

(14)

Kearifan Lokal dalam Hubungan dengan Pemukiman

• Tuntunan praksis adat tentang pola bangunan rumah (rumah adat), tata letak perumahan

dan seterusnya

(15)

Kearifan Lokal dalam kaitannya dengan sandang

• Tuntutan praksis adat tentang pakaian adat, tenunan dan lainnya

(16)

Kearifan lokal dalam kaitannya dengan Interaksi Sosial

• Tuntutan adat tentang interaksi sosial

berdasarkan gender, usia dan status sosial

(17)

Kearifan Lokal dalam hubungannya dengan Antisipasi masa Depan

• Tuntunan adat tentang antisipasi bencana alam, konflik sosial atau kemiskinan

(18)

• Bahasa lokal harus dipahami untuk menyelami kearifan lokal yang terkandung dalam sistem nilai, sistem pengetahuan dan teknologi lokal.

Tanpa pemahaman bahasa lokal. Berarti tidak ada pemahaman kearifan lokal.

(19)

Falsafah Bali: Tri Hita Karana

Bermakna tiga penyebab kesejahteraan,

merupakan falsafah hidup yang membimbing

orang Bali dan memberikan pedoman bagaimana beradaptasi dengan lingkungannya secara

harmonis dan adaptif dalam berbagai dimensi ruang dan waktu yaitu:

Lingkungan spiritual (parhyangan)

Lingkungan sosial (pawongan)

Lingkungan fisik (palemahan)

(20)

Implementasi falsafah tri hita karana terlihat dalam subak, suatu kelembagaan pengelolaan irigasi pedesaan. Aspek spiritual dari subak dapat terlihat dari keberadaan tempat suci (pura), yang dibangun karena kaitannya dengan subak.

Pura berfunsi sebagai sarana komunikasi antara umat dan Sang Pencipta. Menurut Sudaratmaja dan Soethama (2003), pura subak memiliki hirearki ekosistem yang mencakup:

Pura Masceti meliputi seluruh daerah aliran sungai (DAS);

Pura Ulun Dani menaungi kawasan pertanian yang memperoleh air dari danau;

Pura Ulun Sawi mencakup kawasan satu subak;

Pura Pelinggih Pangalapan meliputi hamparan petakan sawah.

(21)

• Kaitannya dengan pura, petani Bali melakukan berbagai macam kegiatan ritual yang

diidentifikasi I Made Legawa (1999) sebagai berikut:

1. Ritual muwat emping/pemungkah (awal mengolah tanah)

2. Ritual mendak toya (menyongsong air) 3. Ritual Ngurit (membuat bibit)

4. Ritual Pujawali kapat (memuja Tuhan)

5. Ritual Melasah (meratakan pematang sawah)

(22)

6. Ritual Ngabut winih (mencabut benih) 7. Ritual nuwasen nandur (memulai tanam) 8. Ritual nandur (menanam)

9. Ritual mubuhin (pemeliharaan)

10.Ritual Makambuhan (Selamatan 42 hari padi) 11.Ritual mlayagin (menstanakan Dewi

Sri/selamatan 50 hari)

12.Ritual Pujawali kapitu (selamatan 2,5 bulan padi) 13.Ritual Nanggluk mrana (memberantas hama dan

penyakit tanaman)

(23)

14.Ritual Pujawali nyungsung (menuntun) 15.Ritual ngusaha (syukuran)

16.Ritual mabikukung (perkawinan);

17.Ritual Ngadegang dewa nini (membuat simbol Dewi Sri)

18.Ritual Ngulapin (pemakluman)

19.Ritual Mendak dan gunggahang Dewa Nini (menyongsong dan menstanakan Dewi Sri) 20.Ritual Nedunung Sarin Asep (menurunkan

padi dari lumbung)

(24)

Lingkungan sosial (pawongan) dari subak

berhubungan dengan aspek organisasional para

petani, yang disebut krama subak. Dalam menjalankan fungsinya, organisasi subak dilengkapi dengan awig-

awig yaitu seperangkat aturan mengenai tata tertib organisasi serta hak dan kewajiban para anggotanya.

Lingkungan fisik (palemahan) dari subak meliputi infrastruktur berupa areal persawahan dengan berbagai macam fasilitas sistem irigasinya.

Dalam pandangan orang Bali, harmonisasi dan adaptasi yang baik dalam relasi dengan ketiga lingkungan tersebut akan bermuara pada

kesejahteraan lahir dan batin.

(25)

Tugas Kelompok

• Membuat makalah terkait dengan:

kearifan lokal (nilai, sistem pengetahuan dan teknologi lokal) yang dimiliki oleh masyarakat perdesaan di Indonesia

• Sumber makalah berasal dari media cetak, elektronik atau jurnal

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan menganalisis kearifan lokal komunitas Kuta dalam menjaga dan mengelola sumberdaya air; menganalisis peran pemimpin

Murdiati, C.Woro dan Suliantoro, Bernardus Wibowo., 2008, Potensi Kearifan Lokal Masyarakat Adat Desa Beji Kecamatan Ngawen Gunung Kidul Dalam Melestarikan Hutan Adat.

Murdiati, C.Woro dan Suliantoro, Bernardus Wibowo., 2008, Potensi Kearifan Lokal Masyarakat Adat Desa Beji Kecamatan Ngawen Gunung Kidul Dalam Melestarikan Hutan

Masyarakat Dayak Meratus merupakan satu model kearifan lokal yang dapat mendukung pengelolaan sumberdaya alam secara lestari dan merupakan satu dari banyak kearifan masyarakat dayak

Pengelolaan sumberdaya alam harus disesuaikan dengan kondisi karakteristik dan kearifan lokal pada setiap daerah karena masing-masing daerah memiliki karakterisitik yang

Studi ini untuk mengetahui aktivitas ekonomi yang bisa dikembangkan oleh masyarakat dan LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) melalui pemanfaatan sumberdaya hutan produksi KPH

Masyarakat adat Cireundeu menerapkan nilai-nilai kearifan lokal dari dulu hingga saat ini, masyarakat adat menerapkan nilai-nilai kearifan lokal dengan cara memberi contoh dan

Pada tulisan ini, berbicara mengenai kearifan lokal adat masyarakat Sunda dalam hubungan dengan lingkungan alam, pada dasarnya diambil dari pemahaman atau perspektif kehidupan