Kebijakan Sosial Dan Masyarakat Welfare State
1. Sejarah wellfare state
Secara umum, welfare state merupakan konsep kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah guna memberikan pelayanan yang berkaitan erat dengan pendidikan, kesehatan serta lainnya yang dimaksudkan guna melindungi dan memberikan kesejahteraan yang layak bagi seluruh masyarakat.
Sebenarnya gagasan tentang Negara Kesejahteraan (welfare state) bukanlah
suatu gagasan yang baru. Ide tentang Negara Kesejahteraan (welfare state)sudah lahir sejak sekitar abad ke-18. Menurut Bessant, Watts, Dalton dan Smith (2006), ide dasar negara kesejahteraan beranjak dari abad ke-18 ketika Jeremy Bentham (1748-1832) mempromosikan gagasan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab untuk
menjamin the greatest happiness (atau welfare) of the greatest number of their citizens. Bentham menggunakan istilah ‘utility’ (kegunaan) untuk menjelaskan konsep kebahagiaan atau kesejahteraan. Berdasarkan prinsip utilitarianisme yang ia kembangkan, Bentham berpendapat bahwa sesuatu yang dapat menimbulkan kebahagiaan ekstra adalah sesuatu yang baik. Sebaliknya, sesuatu yang menimbulkan sakit adalah buruk. Menurutnya, aksi-aksi pemerintah harus selalu diarahkan untuk meningkatkan kebahagian sebanyak mungkin orang. Gagasan Bentham mengenai reformasi hukum, peranan konstitusi dan penelitian sosial bagi pengembangan kebijakan sosial membuat ia dikenal sebagai “bapak negara kesejahteraan” (father of welfare states).
Sementara pada tahun 1850-an di Prusia konsep Negara Kesejahteraan
(welfare state) dirintis oleh Otto Von Bismarck (Triwibowo & Bahagio, 2006:xvi). Di masa lalu, di Eropa dan Amerika, gagasan tentang Negara Kesejahteraan (welfare state) sempat berbenturan dengan konsepsi negara liberal kapitalistik. Namun ternyata benturan kedua gagasan besar tersebut telah menghasilkan negara-negara makmur, terutama di Eropa Barat dan Amerika Utara, dimana rakyatnya hidup dengan sejahtera. Rakyat di negara-negara tersebut bisa menikmanti pelayanan dari negara di bidang kesehatan dan jaminan hari tua dengan program asuransi kesehatan dan pensiun, sekolah gratis, dan sebagainya. Di Jerman, misalnya, warga negara mendapatkan jaminan sekolah gratis hingga tingkat Universitas, memperoleh jaminan penghidupan yang layak dari sisi pendapatan dan standar hidup, mendapatkan pelayanan sistem transportasi yang murah dan efisien, dan orang yang menganggur menjadi tanggungan negara. Semua layanan negara tersebut sebenarnya dibiayai sendiri oleh masyarakatnya yang telah menjadi semakin makmur melalui sistem asuransi dan perpajakan, dengan orientasi utamanya peningkatan kualitas sumberdaya manusia dari warga negaranya (human investment).
Berangkat dari sejarahnya, konsep ini mulai sedikit demi sedikit terimplementasikan pada tahun 1870 yang pada saat ini dimaksudkan untuk membangun jaringan jaminan
kesehatan dan sosial yang diupayakan oleh pemerintah Jerman untuk melindungi para pekerja dan masyarakat Jerman pada umumnya, pemerintah jerman kemudian membuat sebuah konsep sozialstaat. Sozialstaat merupakan konsep keadilan dalam bermasyarakat atau sosial yang berisikan muatan-muatan yang mendukung adanya kesejahteraan umum atau social welfare.
Pada tahun 1883, para pekerja yang merasa terpanggil dan tergerak untuk melakukan mobilisasi terhadap hak dan upaya untuk melakukan advokasi terhadap kondisi yang terjadi, kemudian mendirikan serikat pekerja yang kemudian mendapat tempat dihati para pekerja.
Dalam rangka untuk menunjang advokasi dan mobilisasi, serikat pekerja ini kemudian mengadakan sistem iuran untuk digunakan sebagai dana awal untuk membangun sistem advokasi yang lebih sistematis untuk kemudian dipakai memobilisasi serta mengadvokasi pekerja Jerman yang mengalami kecelakaan dalam bekerja maupun intimidasi dari pengusaha.
Melihat potensi serta gerakan organisasi serikat pekerja yang meluas dan sistematis, pemerintah Jerman kemudian mengambil sikap dan tindakan untuk membubarkan serikat pekerja dan menggulirkan sebuah program sosial, program tersebut dikenal sebagai “sickness insurane”.
Dengan adanya program tersebut, pemerintah Jerman berupaya untuk memberikan perlindungan kepada pekerja dengan menggunakan dana APBN serta iuran masyarakat anggota program untuk membantu para pekerja tersebut ketika mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, implikasi dari adanya program ini adalah kewajiban masyarakat Jerman menjadi bertambah, karena pemerintah Jerman kemudian menerapkan pajak progresif. Pajak ini diterapkan dan dikenakan pada perusahaan-perusahaan yang tengah mendirikan usaha di Jerman. Selain itu, pemerintah Jerman beralasan dengan menerapkan pajak progresif ini, dana yang digunakan dapat menjadi alat untuk meng-cover masyarakat pekerja yang kesulitan dalam mengakses fasilitas kesehatan dan lain sebagainya.
Pada tahun 1927, diadakan conference of national unions of mutual benefit societies and sickness insurane funds di Bruseel, Belgia. Pada konferensi ini, beberapa negara kemudian mulai membahas tentang urgensi-urgensi yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial bagi masyarakat yang salah satu topiknya adalah kesehatan dan penguatan hubungan antar negara.
Pada tahun 1936, beberapa negara nordik seperti Swedia, mulai mengembang dan mengaplikasikan konsep “sozialstaat” untuk mengontrol sekaligus membantu masyarakat dalam mengakses kesejahteraan yang utuh di negaranya. Selanjutnya, negara Italia juga mulai mengaplikasi konsep ini.
Pada tahun 1941, pemerintah Inggris kemudian mengguliran rencana Beveridge.
Sebelum perang dunia kedua, program-program kesejahteraan lebih banyak dilakukan
dan dikontrol oleh lembaga-lembaga masyarakat, misalnya lembaga swasta dan sukarelawan. Kondisi ini kemudian mulai mengalami perubahan selepas selesainya perang dunia pada tahun 1945, pemerintah Inggris secara eksplisit mendeklarasikan negaranya merupakan negara kesejahteraan yang kemudian diaplikasikan pada penyediaan sistem kesejahteraan yang mendukung proses pemulihan bagi masyarakat Inggris secara luas pada saat itu yang sangat membutuhkan bantuan pasca perang.
Deklarasi dari pengakuan perubahan tatanan sosial baru di Inggris adalah ketika William Beveridge menerbitkan laporan Beveridge (1942) yang berisikan konsep- konsep yang berkaitan dengan asuransi sosial dan layanan bagi sekutu.
Selain itu, secara garis besar, gagasan ini adalah upaya Beveridge untuk memaksimalkan kondisi kesejahteraan untuk diterima oleh semua masyarakat dengan menggunakan konsep-konsep seperti mengenakan pajak kepada mereka yang bekerja, kemudian diaplikasikan kembali pajak ini kepada para pekerja berupa bantuan untuk mengatasi pengangguran, pensiunan dan kesehatan. Selain itu, pemerintah Amerika Serikat juga mulai mengadopsi konsepsi sozialstaat ini dengan nama social security act (1935).
Pada tahun 1946, pemerintah perancis mulai mengadopsi sistem ini kedalam konstitusi dan aplikasi dalam menjalankan roda pemerintahan.
Pada tahun 1952, setelah berakhirnya masa-masa perang dunia kedua, sejumlah negara membentuk lembaga yang digunaka sebagai alat untuk mnegontrol keadilan dan peradamaian di dunia. Lembaga tersebut disebut sebagai PBB. Berkaitan dengan konsepsi kesejahteraan, PBB mendeklarasikan gagasan HAM yang mana isinya adalah
“setiap orang, sebagai anggota masyarakat, berhak memiliki hak atas jaminan sosial”
(1952).
Sebagai tindak lanjut gagasan-gagasan yang telah dicanangkan sebelumnya, PBB kemudian membuat kampanye global untuk mendukung konsep jaminan sosial untuk semua manusia, yang tentu saja melibatkan negara-negara sebagai alat untuk representatifkannya (2001).
Program pemerintah Jerman seperti “Sickness Insurance”,merupakan program yang tepat dan layak untuk diaplikasikan dalam rangka untuk mengadvokasi para pekerja dalam menjalankan profesi mereka di pabrik-pabrik. Program ini juga masih berjalan hingga sekarang dan berhasil menggurita hingga ke berbagai negara di belahan dunia.
Negara-negara di dunia pada masa itu memahami dan berkeinginan untuk mengadakan hal yang sama untuk mendukung kemampuan masyarakat dalam survive di masa revolusi Industri yang sangat massif berkembang. Inggris melalui dokumen Beveridge, Amerika melalui program social security act merupakan dua contoh kebijakan dan program yang dilahirkan dari konsep sozialstaat ala Jerman (1870).
Di Indonesia, konsep sozialstaat ini kemudian diratifikasi berdasarkan dan kutipan dalam deklarasi HAM yaitu setiap orang memiliki ha katas jaminan sosial. Bentuk ratifikasi ini tertuang dalam pasal 27 ayat 2 UUD NRI 1945 yang berbunyi “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaa”
dan dalam pasal 28H ayat 3 yang berbunyi “Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat”.
Dalam tahap selanjutnya, pemerintah Indonesia juga membangun program-program yang diusaha serta diupayakan untuk memanifestasikan amanat-amanat negara dalam yang termuat dalam UUD NRI 1945. Contoh program pemerintah terkait jaminan sosial adalah peluncuran sekaligus penyelenggaraan program jaminan kesehatan masyarakat yang digulirkan dengan membentuk badan penyelenggara jaminan sosial atau sering disebut sebagai BPJS. Pembentukan BPJS ini termuat dalam UU nomor 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
2. Konsep Welfare State
- Spicker (Suharto, 2005:50) berpendapat bahwa negara kesejahteraan dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem kesejahteraan sosial yang memberi peran lebih besar kepada negara (pemerintah) untuk mengalokasikan sebagian dana publik demi menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar warganya.
- Husodo menyatakan bahwa Negara Kesejahteraan (welfare state) secara singkat didefinisikan sebagai suatu negara dimana pemerintahan negara dianggap bertanggung jawab dalam menjamin standar kesejahteraan hidup minimum bagi setiap warga negaranya (Triwibowo & Bahagijo, 2006: xv).
- Esping-Anderson (Triwibowo & Bahagijo, 2006; 9), negara kesejahteraan pada dasarnya mengacu pada peran negara yang aktif dalam mengelola dan mengorganisasi perekonomian yang di dalamnya mencakup tanggung jawab negara untuk menjamin ketersediaan pelayanan kesejahteraan dasar dalam tingkat tertentu bagi warga negaranya.
Secara umum suatu negara bisa digolongkan sebagai negara kesejahteraan jika mempunyai empat pilar utamanya, yaitu: (1) social citizenship; (2) full democracy;
(3) modern industrial relation systems; dan (4) rights to education and the expansion of modern mass educations systems.
Keempat pilar ini dimungkinkan dalam negara kesejahteraan karena negara memperlakukan penerapan kebijakan sosial sebagai penganugerahan hak-hak sosial (the granting of social rights) kepada warganya. Hak-hak sosial tersebut mendapat jaminan seperti layaknya hak atas properti, tidak dapat dilanggar (inviolable), serta diberikan berdasar basis kewargaan (citizenship) dan bukan atas dasar kinerja atau kelas.
1. **Kewarganegaraan Sosial (Social Citizenship): Konsep ini melibatkan pemberian hak dan tanggung jawab sosial tertentu kepada setiap individu, memastikan bahwa semua warga negara memiliki akses ke kebutuhan dan layanan dasar.
2. **Demokrasi Penuh**: Konsep ini memastikan bahwa semua warga negara memiliki hak untuk berpartisipasi dalam proses politik, termasuk memberikan suara dan dipilih untuk menduduki jabatan publik.
3. **Sistem Hubungan Industrial Modern**: Sistem ini bertujuan untuk menciptakan hubungan yang adil dan seimbang antara pengusaha dan karyawan, yang sering kali melibatkan peraturan dan kebijakan yang melindungi hak-hak pekerja.
4. **Hak atas Pendidikan dan Perluasan Sistem Pendidikan Massal Modern**: Pilar ini menekankan pentingnya menyediakan akses pendidikan bagi semua orang, memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar dan mengembangkan keterampilan mereka.
Dalam garis besar, negara kesejahteraan menunjuk pada sebuah model ideal
pembangunan yang difokuskan pada peningkatan kesejahteraan melalui pemberian peran yang lebih penting kepada negara dalam memberikan pelayanan sosial secara universal dan komprehensif kepada warganya. Ide dasar konsep negara kesejahteraan berangkat dari upaya negara untuk mengelola semua sumber daya yang ada demi mencapai salah satu tujuan negara yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
3. Menurut Goodin (1999:22), terdapat enam hal yang dijadikan sebagai alasan mengapa memilih negara kesejahteraan, yaitu: Pertama, adalah untuk mempromosikan efisiensi ekonomi (promoting economic efficiency); Kedua, untuk mengurangi kemiskinan (reducing proverty); Ketiga, mempromosikan kesamaan sosial (promotingsocial equality); Keempat, mempromosikan integrasi sosial atau menghindari eksklusi sosial (promoting social integration and avoiding social exclusion) ; Kelima, mempromosikan stabilitas sosial (promoting social stability); dan Keenam, mempromosikan otonomi atau kemandirian individu (promoting autonomy).
4. Model welfare state
• Model universal
Pemerintah menyediakan jaminan sosial kepada semua warga negara secara melembaga dan merata. Anggara untuk program sosial >60% dari total belanja negara. Model ini dianut oleh negara2 skandinavia seperti swedia, norwegia, Denmark, dan Finlandia yang mana penerapan pajaknya ketat.
• Model institusional
Pada model satu ini tanggung jawab terhadap warga nera di tanggung oleh institusi dimana mereka bekerja. Model ini dianut oleh jerman dan Austria.
• Model residual
Jaminan sosial dari pemerintah lebih diutamakan kepada kelompok lemah, seperti orang cacat, miskin, lansia, dan pengangguran. Pemerintah menyerahkan sebagian perannya kepada organisasi sosial dan lsm melalui pemberian subsidi bagi pelayanan sosial dan rehabilitasi sosial “swasta”. Model ini dianut oleh as, inggris, Australia, dan selandia baru.
• Model minimal
Pada model ini semua diselesaikan negara tapi dengan anggaran minimal.
Anggaran negara untuk program sosial sangat kecil, di bawah 10% dari total pengeluaran negara. Jaminan sosial dari pemerintah diberikan secara sporadic, temporer, dan minimal yang umumnya hanya diberikan kepada pegawai negeri dan swasta. Model ini di anut oleh negara latin ( prancis, spanyol, Yunani, potugis, itali, etc) dan negara asia ( korsel, filipina, sri lanka, Indonesia).