MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN (DIABETES MILITUS)
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah:
Keperawatan Dewasa
Dosen Pengampu: Dr. Auliasari Siskaningrum, S.Kep., Ns, M.Kep.
Disusun Oleh:
Kelompok 1
1. Kumara Sandi Kusuma (233210031) 2. Linanda Alisa (233210033)
3. Niken Anggraini Putri (233210039) 4. Rizka Alfianti (233210043)
5. Silvya Dewi Fitri Ramadhani (233210045) 6. Sopiah (233210047)
PRODI S1 KEPERAWATAN FAKULTAS KESEHATAN INSTITUT
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala atas segala limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam memahami “Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Sistem Endokrin (Diabetes Militus)”.
Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan- kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Jombang,27 Maret 2025
Penyusun
DAFTAR ISI
Contents
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I... 1
PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah... 2
1.3 Tujuan Penulisan... 2
BAB II...3
TINJAUAN PUSTAKA...3
2.1 Konsep Dasar Diabetes Militus...3
2.1.1 Definisi Diabetes Militus...3
2.1.2 Etiologi Diabetes Militus...3
2.1.3 Tanda dan Gejala Diabetes Militus...5
2.1.4 Pengobatan dan Pencegahan Diabetes Militus...5
2.2 Asuhan Keperawatan Diabetes Militus...10
BAB III...11
PENUTUP...11
3.1 Kesimpulan... 11
DAFTAR PUSTAKA...12
BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah akibat gangguan produksi atau fungsi insulin. Penyakit ini telah menjadi masalah kesehatan global dengan angka kejadian yang terus meningkat setiap tahunnya. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diabetes merupakan penyebab utama berbagai komplikasi kesehatan seperti penyakit jantung, gagal ginjal, dan neuropati diabetik.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada individu yang mengalaminya tetapi juga pada sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan, mengingat kebutuhan akan perawatan jangka panjang dan biaya pengobatan yang tinggi.
Dalam praktik keperawatan, peran perawat sangat penting dalam memberikan asuhan kepada pasien diabetes melitus, terutama dalam hal edukasi, pencegahan komplikasi, serta manajemen terapi. Asuhan keperawatan pada pasien dengan diabetes melitus mencakup pendekatan holistik yang melibatkan aspek fisik, psikologis, dan sosial. Selain itu, pengendalian kadar gula darah yang optimal sangat bergantung pada kepatuhan pasien terhadap pola makan, aktivitas fisik, serta penggunaan obat yang diresepkan. Oleh karena itu, perawat memiliki tanggung jawab untuk membantu pasien dalam memahami kondisi mereka dan menjalani gaya hidup sehat yang sesuai.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai asuhan keperawatan pada pasien diabetes melitus, mencakup definisi, penyebab, tanda dan gejala, serta strategi pengobatan dan pencegahannya.
Dengan adanya kajian ini, diharapkan tenaga keperawatan dapat lebih siap dalam menangani pasien dengan diabetes melitus, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien serta mengurangi risiko komplikasi yang dapat terjadi.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan penyakit diabetes militus?
2. Apa penyebab penyakit diabetes militus?
3. Bagaimana tanda dan gejala penyakit diabetes militus?
4. Bagaimana pencegahan dan pengobatan penyakit diabetes militus?
5. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit diabetes militus?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit diabetes militus.
2. Untuk mengetahui apa penyebab penyakit diabetes militus.
3. Untuk mengetahui bagaimana tanda dan gejala penyakit diabetes militus.
4. Untuk mengetahui bagaimana pencegahan dan pengobatan penyakit diabetes militus.
5. Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit diabetes militus.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Diabetes Militus
2.1.1 Definisi Diabetes Militus
Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit gangguan metabolisme tubuh yang menahun akibat hormon insulin dalam tubuh yang tidak dapat digunakan secara efektif dalam mengatur keseimbangan gula darah sehingga meningkatkan konsentrasi kadar gula di dalam darah (hiperglikemia)(Sari et al., 2023). Diabetes melitus merupakan suatu penyakit kronis progresif biasa ditandai dengan tubuh yang tidak dapat memetabolisme karbohidrat, protein dan lemak, yang bisa menuju ke hiperglikemia atau kadar gula darah tinggi. DM tergolong penyakit tidak menular yang didapati tanda dengan terjadinya kenaikan pada kadar gula dalam darah. (Zakiudin et al., 2023)
Diabetes melitus dapat terjadi karena adanya kekurangan insulin yang absolut atau relatif dan menyebabkan gangguan pada fungsi kerja insulin. Gula darah yang meningkat konsisten akan menimbulkan kondisi serius yang menyebabkan kerusakan sistem saraf. Pasien diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan. Masalah tersebut dapat berdampak pada produktivitas dan sumber daya manusia yang menurun.(Zakiudin et al., 2023) 2.1.2 Etiologi Diabetes Militus
Diabetes melitus (DM) adalah kelainan metabolik yang ditandai oleh kadar glukosa darah yang tinggi. Penyebab DM bervariasi tergantung pada jenis diabetesnya. DM Tipe 1 adalah kondisi autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang dan menghancurkan sel beta pankreas yang memproduksi insulin.
Insulin adalah hormon yang diperlukan untuk mengatur kadar glukosa dalam darah.
Akibatnya, tubuh tidak dapat memproduksi insulin yang cukup, sehingga kadar glukosa darah meningkat. Faktor penyebab DM Tipe 1 meliputi(American Diabetes Association, 2021):
1. Faktor Genetik :Meskipun tidak sepenuhnya diwariskan, adanya riwayat keluarga dengan DM Tipe 1 dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengembangkan penyakit ini.
2. Faktor Autoimun:Dalam DM Tipe 1, sistem kekebalan tubuh salah mengenali sel-sel beta pankreas sebagai benda asing dan menyerangnya, menyebabkan kerusakan pada pankreas.
3. Infeksi Virus:Beberapa infeksi virus, seperti virus Coxsackie B atau rubella, dapat memicu respons autoimun yang merusak pankreas.
DM Tipe 2 adalah kondisi yang lebih umum dan terjadi ketika tubuh menjadi resisten terhadap insulin atau ketika pankreas tidak cukup memproduksi insulin untuk mempertahankan kadar glukosa darah yang normal. Pada DM Tipe 2, sel-sel tubuh tidak dapat merespons insulin dengan baik, yang disebut resistensi insulin. Faktor penyebab DM Tipe 2 meliputi(American Diabetes Association, 2021):
1. Faktor Genetik: Riwayat keluarga dengan DM Tipe 2 meningkatkan risiko seseorang mengembangkan penyakit ini. Genetik memainkan peran yang lebih besar dalam DM Tipe 2 dibandingkan dengan DM Tipe 1.
2. Kegemukan(Obesitas): Obesitas adalah faktor risiko utama untuk DM Tipe 2. Lemak yang berlebihan, terutama di area perut, dapat menyebabkan resistensi insulin.
3. Kurangnya Aktivitas Fisik: Kurangnya olahraga atau aktivitas fisik dapat berkontribusi terhadap resistensi insulin dan obesitas, yang meningkatkan risiko DM Tipe 2.
4. Usia:Risiko DM Tipe 2 meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 45 tahun.
5. Poliubiti: Beberapa kondisi, seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS), dapat meningkatkan risiko pengembangan DM Tipe 2.
6. Diet Tidak Sehat: Diet tinggi lemak jenuh, rendah serat, dan konsumsi karbohidrat sederhana dapat meningkatkan risiko DM Tipe 2.
2.1.3 Tanda dan Gejala Diabetes Militus
Tanda dan gejala penyakit DM tergolong dalam keluhan klasik dan keluhan lainnya. Keluhan klasik yang merupakan tanda dan gejala DM antara lain(Ariwati et al., 2023):
1. sering buang air kecil (poliuria) 2. mudah lapar (polifagia)
3. sering haus (polidipsi)
4. penurunan berat badan secara drastis tanpa penyebab yang jelas 5. sering merasa lemas
Keluhan lainnya yang menjadi tanda dan gejala penyakit DM antara lain (Ariwati et al., 2023):
1. Kesemutan
2. gatal di daerah genitalia
3. pada wanita sering mengalami keputihan 4. bila terluka menjadi sulit sembuh
5. memiliki bisul yang hilang timbul 6. penglihatan kabur
7. mudah mengantuk 8. disfungsi ereksi
2.1.4 Pengobatan dan Pencegahan Diabetes Militus
Tujuan dari pengobatan diabetes adalah mengendalikan glukosa darah untuk mencegah terjadinya komplikasi yang menyebabkan kematian. Pengobatan diabetes dilakukan dengan 2 pendekatan yaitu (Hardianto, 2021):
1. penggunaan obat a. Obat
DMT1 merupakan diabetes yang disebabkan oleh kekurangan produksi insulin akibat rusaknya sel β pankreas (sel yang berfungsi untuk memproduksi insulin) sehingga diobati insulin dari luar tubuh seumur hidup. Umumnya obat DMT2 diberikan secara oral.
Metformin dan sulfonilurea merupakan antidiabetes yang sudah
digunakan sejak tahun 1950. Pilihan utama untuk pengobatan DMT2 adalah metformin. Metformin menjadi pilihan utama karena efektif dengan 2 mekanisme kerja, yaitu mengurangi sekresi glukosa hepatik dan meningkatkan penyerapan glukosa, aman untuk penderita DM tanpa gangguan hati dan ginjal, dan harganya murah.
Pemilihan obat DM berdasarkan pada jenis diabetes, usia, situasi, dan faktor lainnya.
b. Insulin
Insulin biasanya diberikan secara subkutan dengan suntikan atau pompa insulin. Insulin dapat diberikan juga secara intravena. Saat ini tersedia insulin manusia dan analog insulin. Ada beberapa analog insulin (Tabel 2), seperti:
1) analog insulin yang bekerja cepat (memberikan efek dimulai dari 4 sampai 20 menit dan puncak antara 20 sampai 30 menit) seperti: Aspart (NovorapidTM, FiaspTM), Lispro (HumalogTM, LiprologTM, AdmelogTM), Glulisine (ApidraTM),
2) analog insulin yang bekerja dalam jangka waktu pendek (efek mulai dari 30 menit dan puncak 2-4 jam) seperti Insulin (ActrapidTM, Humulin STM, Insuman RapidTM),
3) analog insulin yang bekerja dalam jangka waktu menengah (onset puncak antara 4-6 jam dan efek 14-16 jam) seperti:
Insulin Isophane (InsulatardTM, Insuman BasalTM, Novolin NTM, Humulin NTM,
4) analog insulin yang bekerja dalam jangka waktu panjang (efek 24-36 jam) seperti: Glargine (LantusTM, AbasaglarTM), Detemir (LevemirTM),
5) analog insulin yang bekerja dalam jangka waktu sangat panjang (efek mulai dari 30-90 menit dan berlangsung sampai 42 jam) seperti: Degludec (TresibaTM).
Sulfonilurea (glibenklamid, gliklazid, glimepirid, gliburid, glipizid, tolbutamid) adalah obat antihiperglikemik oral yang pertama digunakan dan merupakan obat pilihan kedua untuk DMT2. Obat ini biasanya digunakan untuk DMT2 yang lanjut usia. Mekanisme kerjanya meningkatkan sekresi insulin dengan bekerja langsung pada saluran KATP sel β pankreas. Pasien yang menggunakan obat ini dapat mengalami hipoglikemia sehingga pasien harus mengetahui pola makan yang baik dan gejala hipoglikemia. Gliburid menyebabkan hipoglikemia lebih tinggi dibandingkan dengan glipizid. Hipoglikimia yang terjadi pada penderita lanjut usia akan meningkatkan risiko terjadinya kerusakan fungsi ginjal.
d. Meglitinide
Meglitinide (Repaglinid dan Nateglinid) merupakan obat antihiperglikemik oral dengan mekanisme kerja membantu pankreas untuk memproduksi insulin dengan menutup saluran kalium dan membuka saluran dari sel β pankreas sehingga meningkatkan sekresi insulin. Obat ini jarang digunakan karena kerja obat yang singkat sehingga pemberian obat lebih sering. Repaglinid sebagian besar dimetabolimedi hati dan sisanya disekresikan melalui ginjal.
e. Biguanid
Biguanid (Metformin, Fenformin, Buformin) merupakan obat anti diabetes dengan mekanisme kerja mengurangi sekresi glukosa hepatik dan meningkatkan penyerapan glukosa perifer termasuk otot rangka. Metforminmerupakan obat hipoglisemik utama untuk penderita DMT2 pada anak-anak dan remaja serta sesuai untuk pasien yang kelebihan berat badan. Obat ini sebaiknya tidak digunakan oleh pasien dengan gangguan fungsi hati atau ginjal.
Penggunaan pada penderita lanjut usia dapat menyebabkan terjadinya asidosis.
f. Tiazolidinedion
Tiazolidinedion (Rosiglitazon, Pioglitazondan Troglitazon) dikenal dengan sebutan glitazon. Obat ini bekerja membentuk ikatan dengan
peroxisome proliferator-activated receptor-gamma (PPAR-γ) yang mengatur metabolisme glukosa dan lemak serta mempengaruhi gen sensitivitas insulin sehingga meningkatkan penggunaan glukosa oleh sel. Obat ini mengurangi komplikasi mikrovaskular sebesar 2,6%. Pada beberapa tahun terakhir, penggunaan obat ini dikurangi karena meningkatkan risiko kematian pada penderita penyakit kardiovaskular, edema, patah tulang, gagal jantung, dan kanker.
g. Inhibitor α-glikosidase
Inhibitor α-glikosidase (Miglitol, Akarbose, Voglibose) tidak memiliki efek langsung pada sekresi atau sensitivitas insulin.
Senyawa ini memperlambat pencernaan pati di dalam usus halus sehingga glukosa dari pati lambat memasuki aliran darah, menunda adsorpsi karbohidrat, dan mengurangi peningkatan glukosa darah.
Akarbose telah digunakan untuk pengobatan diabetes lebih dari 20 tahun yang lalu. Manfaat dari akarbose adalah memperlambat perkembangan diabetes dan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Penggunaan obat ini harus dihindari bagi pasien dengan gangguan ginjal. Efek samping dari obat ini menyebabkan diare dan kembung.
h. Analog peptide
Inhibitor dipeptidilpeptidase (Vildagliptin dan Sitagliptin) mempunyai mekanisme kerja menghambat kerja dipeptidil peptodase sehingga meningkatkan kadar inkretin darah. Fungsi enkretin meningkatkan sekresi insulin dan menekan sekresi glukagon. Analog peptida yang lain adalah gastrik inhibitori peptida (Eksenatida dan Liraglutida). Agonis GLP (glucagon-like peptide) mengikat reseptor GLP pada membran sel β pankreas sehingga meningkatkan sekresi insulin. GLP endogen mempunyai waktu paruh beberapa menit, demikian juga obat agonis GLP ini sehingga kurang efektif.
Anolog amilin atau analog agonis amilin mempunyai mekanisme memperlambat pengosongan lambung, memperlambat proses pencernaan makanan, dan menekan glukagon. Biasanya analog amylin diberikan melalui injeksi subkutan sebelum makan dan dapat digunakan untuk DMT1 dan DMT2. Obat ini selain menurunkan kadar glukosa darah juga dapat menurunkan berat badan.
2. pengunaan non obat
Program pendidikan untuk meningkatkan motivasi, keterampilan, perubahan gaya hidup, pemahaman diet, olah raga, dan pengobatan diabetes akan meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes. Manfaat dari program ini adalah memahami pentingnya pengurangan asupan kalori, peningkatan aktivitas fisik, dan peningkatan pengetahuan tentang diabetes sehingga dapat menurunkan berat badan, mengurangi stress, mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, dan mencegah terjadinya komplikasi.
Perubahan gaya hidup untuk pengontrolan diabetes, diantaranya dengan mempelajari lebih banyak tentang diabetes, mendapatkan perawatan secara rutin, mempelajari cara mengontrol diabetes diri sendiri, memantau kondisi diabetes, dan memeriksasecara rutin untuk jangka panjang. Pasien secara aktif mengendalikan diri,memanfaatkan teknologi pemantauan dan pengobatan,dan berkomunikasidengan dokter.
Diet dengan mengkonsumsi makanan tinggi serat dan rendah lemak bertujuan untuk menurunkan berat badan merupakan cara lain untuk meningkatkan sensitivitas tubuh penderita diabetes terhadap efek insulin.
Diet yang tepat dapat mengontrol kadar glukosa darahdengan mengurangi hemoglobin terglikasi1,0-2,0% dan jika dikombinasi dengan manajemen diabetes akan mengurangi rawat inap penderita diabetes. Jenis dan jumlah kalori yang terkandung dalam makanan merupakan hal penting untuk memelihara kesehatan tubuh. Diet tinggi lemak jenuh menginduksi adaptasi metabolisme dengan mengubah sensitivitas insulin perifer, mengurangi sirkulasi lemak,dan menurunkan lipogenesisdan glikogenesis hati.
Olahraga secara rutin membantu mencegah dan mengontrol diabetes. Manfaat dari olahraga antara lain membantu menurunkan berat
badan, mengurangi kadar glukosa darah,mengurangi kolesterol dan tekanan darah, mengurangi stres, meningkatkan sensitivitas insulin, dan meningkatkan biogenesis mitokondria.
2.2 Asuhan Keperawatan Diabetes Militus
BAB III
PENUTUP 3.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association. (2021). Classification and diagnosis of diabetes:
Standards of medical care in diabetes-2021. Diabetes Care, 44(January), S15–
S33. https://doi.org/10.2337/dc21-S002
Ariwati, V. D., Martina, M., Ka, R. T., Kusumawati, K., Nufus, H., Anggi, A., &
Wandira, B. A. (2023). Pendidikan Kesehatan tentang Diabetes Melitus pada Masyarakat RT 3 Kelurahan Curug, Kota Depok. Jurnal ABDIMAS-HIP
Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1), 47–54.
https://doi.org/10.37402/abdimaship.vol4.iss1.217
Hardianto, D. (2021). Telaah Komprehensif Diabetes Melitus: Klasifikasi, Gejala, Diagnosis, Pencegahan, Dan Pengobatan. Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), 7(2), 304–317. https://doi.org/10.29122/jbbi.v7i2.4209 Sari, P., Harahap, F., Fakhriza, M., & Irawan, M. D. (2023). Kombinasi Metode
Backward Chaining Dan Certainty Factor Mendiagnosa Penyakit Gangguan Ansietas. Journal of Science and Social Research, 4307(3), 657–662.
http://jurnal.goretanpena.com/index.php/JSSR
Zakiudin, A., Nur Janah, E., & Karyawati, T. (2023). Laporan Penyuluhan Kesehatan Tentang Diabetes Melitus Dan Senam Kaki Diabetik Pada Warga Desa Kutayu Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes. Jurnal Locus Penelitian Dan Pengabdian, 2(1), 27–37. https://doi.org/10.58344/locus.v2i1.837