Cindy alvitasani 20102050054 Moh. Fawais 20102050055
Nanda Tito Saputra 20102050056 Elsa Kurniawati 20102050057
Febiansyah Zakaria 20102050058
Anggota
Kelompok 3 :CONTENTS
Interaksi pada Fase Kerja (Pertengahan)
02
Interaksi Pada Fase Pertumbuhan
01 Interaksi pada Fase
Akhir atau Transisi
03
Interaksi pada Fase Pertumbuhan
01
• Pada fase pertumbuhan praktek pekerjaan sosial, tugas utama pekerja dan klient adalah mengadakan “kontrak kerja”. Kontrak kerja menunjukkan saling
melengkapi (cammon groud) antara pelayanan dan bantuan yang ditawarkan oleh lembaga sosial (agency) melalui pekerja sosial dan kebutuhan yang
dirasakan klient. Mengadakan kontrak kerja adalah langkah awal dalam proses membantu klient untuk mengelola masalah mereka.
• Pada gilirannya, pekerja sosial mungkin ingin membantu klient pada hal-hal yang sesuai (relevant) yang tidak diketahui oleh klient. Hanya pada “commond ground” tersebut bantuan yang efektif bisa tercapai. Bahkan ketika seseorang berhubungan dengan klient di luar, prinsip tersebut masih tetap berlaku.
• Konsep kontrak seperti yang digambarkan disini berbeda dengan istilah lain yang menyangkut pernyataan-pernyataan tertulis dari klient mengenai
perubahan-perubahan yang ingin mereka buat. Kontak dapat berbentuk tulisan atau pembahasan, dalam konteks ini, kontrak-kontrak itu menunjukkan area (bidang-bidang) untuk pekerjaan yang potensial.
Keterampilan Mengkontrak Sangat Penting Pada Fase Pertumbuhan
Menjelaskan tujuan dan peran pekerja sosial dan mengetahui umpan balik tujuan klien.
Menjelaskan tujuan dan peran meliputi pernyataan-pernyataan bebas dengan bahasa sederhana oleh pekerja sosial, untuk mempermudah klient mengetahui tujuan hubungan menurut perspektif lembaga pelayanan dan peran pekerja sosial sangat penting dalam proses ini.
Interaksi pada Fase Kerja (Pertengahan)
02
• Fase pertengahan sering ditandai dengan ilusi kerja. Ilusi ini disebabkan oleh pekerja sosial dan klient yang hanya mengandalkan gerakan saja dalam
wawancara, tidak benar-benar menyentuh inti masalah atau perasaan- perasaan (felling) klient.
• Timbulnya masalah pada fase kedua ini ditandai dengan klien memerlukan keputusan kedua (second decision) klient merasakan tanggung jawab yang akan dipikul oleh pekerja sosial, pada tahap ini pekerja sosial harus
mempertegas ulang tanggung jawab yang dilakukan.
• Jika pekerja sosial tidak menggunakan ilusi kerja yang menandai interaksi ini, klient memberikan isyarat tentang masalah secara tidak langsung sebagai test untuk melihat apakah benar-benar bermaksud menghadapi kepedihan itu, atau Pekerja sosial yang mengontrak untuk berhubungan dengan masalah-masalah tabu dan kemudian ikut serta dalam pembicaraan dengan klient yang sangat berarti menunjukan ambivalensinya sendiri.
Keterampilan-keterampilan Empatik Dalam Fase Studi Ini Meliputi:
Mengubah perasaan klien menjadi kata-kata dan memperlihatkan
pengertian/pemahaman terhadap perasaan-perasaan klient yang langsung diungkapkan.
Ketrampilan kedua yaitu sensitif terhadap pengungkapan perasaan klient.
Terkadang klien memberikan respon yang tidak baik seperti sikap diam klient sering menyulitkan pekerja sosial untuk mengetahui informasi. Mengetahui apa yang terdapat dalam sikap diamnya klient dapat dilakukan dengan banyak cara misalnya tetap diam untuk beberapa saat agar klient mau berbicara atau
menanyai klient mengapa dia diam. Kemudian menterjemahkan perasaan klient dengan kata-kata, atau menawarkan sejumlah penanganan kerja yang potensial dengan menyarankan maksud-maksud yang berbeda.
Mendukung klient dalam hal-hal yang bersifat tabu didalamnya membantu membahas hal-hal yang dirasakan klient untuk dikatakan. Menghargai klient karena usahanya, bersungguh-sungguh dengan dia, dan tidak bertindak sebagai hakim – seluruh tanggapan pekerja sosial tersebut adalah bersifat memberi dorongan. Keterampilan-keterampilan ini merupakan ketegasan/ kesungguhan secara alami, juga menggambarkan suatu bentuk tuntutan kerja.
Sebagai seorang profesional, pekerja sosial harus menggunakan seluruh
karirnya untuk mengikuti sintesis ini, tidak dapat dengan mudah dapat dicapai.
Interaksi pada Fase Akhir atau Transisi
03
• Fase akhir dan transisi sangat penting dalam proses pertolongan. Karena
urgensi yang disebabkan oleh keterbatasan klient mungkin mulai menghadapi masalah-masalah esensial yang hanya ditunjukkan dalam fase-fase
sebelumnya. Pada bagian akhir dimana pekerja sosial menghasilkan feeling- feeling baik yang positip maupun negatip perlu diuji.
• Pada fase akhir ini serupa dengan “tahap” yang didiskripsikan oleh Elizabeth Kubler Ross dalam pembahasan kematian dan sekarat. Pertama ada
penyangkalan yang akan terjadi: “apa, hanya tinggal tiga seassion?”. Saya kira anda mengatakan kita bertemu sampai bulan April. Kemarahan kepada pekerja sosial mungkin juga diungkapkan. Meskipun bagian akhirnya logis, klien
mungkin masih merasa ditinggalkan begitu saya : “Bagaimana anda berhenti menemui saya apabila anda benar-benar memperhatikan saya?”. Tahap ini sering diikuti masa sedih dan depresi, yang sering muncul ialam bentuk kemarahan. Akhir dari hubungan mungkin menunjukkan suatu kerugian lain bagi kehidupan klient.
• Pekerja sosial yang setuju dengan pendapat ini akan diragunakan untuk memperhatikan klient sehingga klient mampu mengontrol apa yang sedang terjadi dalam jam tersebut. Meminta perhatian klient pada akhir
berhubungan sedini mungkin, sehingga bagian akhir (ending) merupakan proses berkelanjutan, tidak tersendat-sendat, juga penting. Ketrampilan yang sudah diidentifikasi sebagai hal penting diperhatikan untuk digunakan
berkenaan dengan masalah pada bagian akhir. Pada bagian ini pekerja sosial dan klient harus secara terbuka bertukar pikiran, baik positif maupun negatif.
Keterampilan Pekerja Sosial Disini Dikelompokkan Menjadi Dua Yaitu:
Keterampilan pertama dirancang untuk membantu klient mengelola masalah- masalahnya. Keterampilan tersebut terdiri dari menjelaskan tujuan,
mengetahui umpan balik klient, memisah-misahkan masalah menjadi bagianbagian, dan menyelidiki hal-hal tabu.
Keterampilan lainnya dirancang untuk membantu klient mengelola perasaan- perasaan mereka. Keterampilan tersebut terdiri dari memahami dibalik
diamnya klient, mengartikulasikan perasaan-perasaan klient, menghargai perasaan-perasaan klient dan mengungkapkan perasaan-perasaan pekerja sosial.