Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tingkat kelayakan alat evaluasi di SMA BSE Indonesia tahun ajaran 2019/2020. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi dengan mengikuti prosedur yang direkomendasikan oleh Mayring (2014), yaitu 1) Pertanyaan penelitian, latar belakang teori, 2) Penentuan kriteria pemilihan, definisi kategori, tingkat abstraksi, 3) Bekerja melalui teks aturan untuk aturan, formulasi atau subsumsi kategori baru, 4) Revisi kategori dan aturan setelah 10 - 50% teks, 5) Pekerjaan akhir materi, 6) Bangun kategori utama jika berguna, 7) Pemeriksaan kecocokan Intra-/Intercoder ,8) Hasil akhir, ev.Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan perangkat penilaian BSE Bahasa Indonesia SMA Kelas XI tahun pelajaran 2019/2020 telah memenuhi unsur kelayakan ditinjau dari keterampilan abad 21 yaitu berpikir kritis, kreatif-inovatif. , komunikatif dan kolaboratif.
Jenis instrumen yang relevan dengan pengembangan keterampilan berpikir kritis sebanyak 189 atau 34,94%, instrumen evaluasi yang relevan dengan keterampilan berpikir kreatif-inovatif sebanyak 161 instrumen atau 29,76%, instrumen yang relevan dengan pengembangan keterampilan komunikasi sebanyak 110 atau 20,33%, dan perangkat evaluasi relevan dengan pengembangan keterampilan kolaborasi sebanyak 81 atau 14,97%.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
2 Pertanyaannya adalah bagaimana relevansi instrumen evaluasi yang terdapat dalam buku teks BSE sekolah menengah Indonesia dengan nilai-nilai keterampilan abad 21. Berdasarkan penelusuran sumber literatur, tidak diperoleh informasi tentang adanya penelitian yang melakukan kajian terhadap nilai-nilai keterampilan abad 21 yang terkandung dalam instrumen evaluasi SADARI Indonesia. Misalnya Martini (2018) Membangun karakter generasi muda melalui model pembelajaran berbasis keterampilan abad 21, Komara (2018), Penguatan pendidikan dan pembelajaran karakter di abad 21, Arifin (2017) Mengembangkan instrumen untuk mengukur berpikir kritis siswa Pembelajaran Matematika Abad 21 dan Susilo (2015), Mengembangkan Kecakapan Hidup Abad 21 Berganda Melalui Penelitian Tindakan Kelas Berbasis Lesson Study untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran.
Berdasarkan berbagai permasalahan tersebut, maka penelitian ini perlu dilakukan yaitu mengkaji secara komprehensif kelayakan instrumen asesmen SADARI Indonesia ditinjau dari relevansinya dengan nilai-nilai keterampilan abad 21 yaitu berpikir kritis, kreatif-inovatif, komunikatif dan kolaboratif. Penelitian tentang BSE untuk SMA ini penting dilakukan, mengingat bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran utama di satuan Pendidikan Menengah (SMA) dan berperan sangat penting dalam meningkatkan kemampuan komunikasi siswa dalam bahasa Indonesia. baik dan benar, baik lisan maupun tulisan, serta mengedepankan penghargaan terhadap karya sastra manusia Indonesia (Pedoman Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, Depdikbud, 2016).
Urgensi Penelitian
3 4) Instrumen evaluasi yang terdapat dalam BSE Indonesia harus disusun dengan pendekatan otentik sehingga relevan dengan perkembangan siswa, kebutuhannya, dan membekali siswa dengan kompetensi untuk menghadapi berbagai tantangan zamannya.
TINJAUAN PUSTAKA
BSE, Instrumen Evaluasi, dan Kecakapan Abad 21
Berpikir kritis melibatkan disiplin, berpikir berorientasi pada proses yang mencakup upaya untuk meningkatkan keputusan dan tindakan (Paul, 1993; Facione, 1990; Scheffer dan Rubenfeld, 2000, Carter, Creedy, & Sidebotham, 2017) Berpikir kritis melibatkan proses reflektif dalam keputusan yang disengaja -membuat penilaian menggunakan proses kognitif analisis, interpretasi, evaluasi, inferensi, penjelasan dan refleksi (Facione, 1990; Hendricson, et al., 2006; Carter, Creedy, & Sidebotham, 2017b) Berpikir kritis merupakan proses metakognitif berupa penilaian reflektif yang ditujukan untuk meningkatkan kemungkinan mencapai kesimpulan logis untuk argumen atau solusi untuk masalah. Mengajarkan berpikir kritis menjadi sangat penting karena memungkinkan individu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih kompleks dari informasi yang mereka temui dan mendorong pengambilan keputusan dan pemecahan masalah yang baik dalam aplikasi dunia nyata (Butler et al., 2012; Halpern, 2003; Ku, 2009; Dwyer, Hogan, & Stewart, 2014). Berpikir kritis memungkinkan siswa untuk membuat keputusan yang logis dan tidak memihak, dan dalam situasi pendidikan telah terbukti menghasilkan hasil belajar yang lebih baik (e.g. Facione, 2009; Halpern, 1998; Helsdingen, Van Gog, & Van Merriënboer, 2011 (Heijltjes, van Gog , Leppink, & Paas, 2014).
Penilaian komprehensif berpikir kritis merupakan tantangan karena merupakan konstruk multidimensi yang mencakup keterampilan penalaran, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah (Willingham, 2007; (Bensley et al., 2016). muncul sebagai komponen penting dalam pemecahan masalah (Yang et al., 2018; Chan, 2013a).Inovasi adalah area penting untuk ditangani di tingkat pendidikan tinggi untuk mempertahankan kualitas pembelajaran yang luar biasa, (Shaari et al., 2012 ) Inovasi membutuhkan kontribusi kolektif dari semua anggota tim yang mengerjakan proyek bersama.
6 saling melengkapi, berbagi informasi dan sumber daya, saling membantu dan bekerja berjam-jam (Pandey et al., 2019). Berpikir Kritis 1) Menentukan kredibilitas suatu sumber 2) Membedakan relevan dan tidak relevan, 3) Membedakan fakta dari penilaian, 4) Mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi yang tidak dinyatakan, 5) Mengidentifikasi bias yang ada, 6) Mengidentifikasi sikap, 7) Mengevaluasi bukti yang disajikan untuk mendukung suatu klaim.
METODE PENELITIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
- Aspek berpikir kritis dalam instrument evaluasi BSE
- Aspek berpikir kreatif/inovatif dalam instrument evaluasi BSE
- Aspek komunikatif dalam instrument evaluasi BSE
- Aspek kolaboratif dalam instrument evaluasi BSE
Beberapa contoh instrumen asesmen tersebut dikategorikan sebagai upaya menggali kemampuan siswa dalam mengidentifikasi sudut pandang siswa, karena melalui instrumen asesmen tersebut siswa diminta untuk mengemukakan pendapat dan menganalisisnya berdasarkan tingkat pemahaman atau cara pandangnya. Melalui pemberian instrumen evaluasi yang mengukur kemampuan siswa berpikir kreatif/inovatif, diharapkan siswa mampu menyelesaikan berbagai tantangan yang dihadapinya. Oleh karena itu, keterampilan komunikasi individu siswa harus dipromosikan melalui penyediaan instrumen evaluasi yang tepat.
Berikut ini adalah temuan terkait kesesuaian instrumen penilaian dengan pengembangan kemampuan komunikasi yang tercakup dalam BSE Bahasa Indonesia SMA kelas XI tahun pelajaran. Tingkat persentase ini menunjukkan bahwa pengembangan kemampuan komunikasi yang termasuk dalam instrumen penilaian SMA BSE Indonesia tahun pelajaran 2019/2021 telah terlaksana dengan baik. Berdasarkan data pada tabel di atas terlihat bahwa instrumen asesmen terkait nilai-nilai keterampilan abad 21 aspek kooperatif sebanyak 81 soal atau 14,97% dari total instrumen asesmen.
Oleh karena itu, jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pengembangan instrumen evaluasi lainnya. Berikut beberapa contoh instrumen evaluasi yang sejalan dengan pengembangan keterampilan abad 21 pada aspek kooperatif yang terdapat pada BSE Bahasa Indonesia Kelas XI SMA.
KESIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran
LUARAN YANG DICAPAI
Melalui pembinaan ini, pemerintah berharap para guru memahami bagaimana melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan abad 21. Muatan pembelajaran abad 21 ini begitu familiar bagi kita seperti 4-C (Komunikasi, Kolaborasi, Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah, serta Kreativitas dan Inovasi), (Prayogi, R. Selanjutnya bagaimana penerapan keterampilan abad 21? nilai-nilai keterampilan dalam penyusunan dan evaluasi pembelajaran di setiap satuan pendidikan di Indonesia.
Konsistensi penyusunan dan pelaksanaan evaluasi yang dilakukan guru dalam pengembangan nilai-nilai keterampilan abad 21 di kalangan siswa belum maksimal. Hal ini disebabkan beberapa hal yaitu tingkat pemahaman nilai-nilai abad 21 yang belum maksimal, kemampuan guru dalam mengintegrasikan atau menyusun instrumen penilaian berdasarkan nilai-nilai keterampilan yang belum optimal, dan orientasi pembelajaran. pelaksanaan penilaian pembelajaran yang cenderung mendapat poin. Berdasarkan ketiga permasalahan tersebut, kami akan mengadakan kegiatan Program Kemitraan Masyarakat berupa pelatihan penyusunan hasil belajar instrumen evaluasi berbasis nilai-nilai keterampilan abad 21 bagi para guru di SDN Gandaria Selatan 01 Jakarta Selatan.
Oleh karena itu, perlu terus ditingkatkan kompetensi guru dalam pengembangan perangkat evaluasi berbasis nilai-nilai keterampilan abad 21. Sumber data dalam penelitian ini adalah alat evaluasi yang terdapat pada BSE SMA Indonesia kelas XI tahun ajaran 2019/2020. Data yang terkumpul berupa keragaman nilai keterampilan abad 21 yaitu berupa berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh sejumlah data, bahwa perangkat evaluasi yang terdapat di Kelas XI BSE Bahasa Indonesia banyak mengembangkan nilai-nilai keterampilan abad 21 yaitu berupa berpikir kritis, kreatif-inovatif, kooperatif dan komunikatif. Berdasarkan data pada tabel di atas terlihat bahwa persentase tingkat nilai keterampilan abad 21 yang terkandung dalam BSE Bahasa Indonesia Kelas XI SMA tahun pelajaran 2019/2020 sangat bervariasi. Keberagaman ini menunjukkan bahwa telah ada upaya yang sangat serius dari para penyusun bahan ajar untuk mengembangkan bahan ajar yang dapat meningkatkan nilai-nilai keterampilan abad 21 pada siswa.
Berdasarkan temuan dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa secara umum instrumen penilaian yang dimasukkan dalam BSE SMA Kelas XI tahun pelajaran 2019/2020 telah memenuhi unsur kelayakan dalam hal pengembangan nilai-nilai keterampilan abad 21. Tantangan Desain Instruksional di era kompetensi abad 21 untuk meningkatkan keterampilan profesional dan mengelola pembelajaran yang bermakna. Penerapan model pembelajaran berbasis proyek (PBL) dalam pembelajaran IPA untuk membangun keterampilan 4C siswa sebagai bekal dalam menghadapi tantangan abad 21 di.
RENCANA TINDAK LANJUT DAN PROYEKSI HILIRISASI