SEBAGIAN AYAT-AYAT AL- QUR’AN DAN HADITS NABI SAW
TENTANG EKONOMI
َمّر َح َو َعْيَبْلٱ ُ ّلٱ ّلَحَأ َو ۗ ۟اا ٰوَبّرلٱ ُلْثِم ُعْيَبْلٱ اَمّنِإ ۟ا ٓوُلاَق ْمُهّنَأِب َكِل َٰذ ۚ ّسَمْلٱ َنِم ُن َٰطْيّشلٱ ُهُطّبَخَتَي ىِذّلٱ ُموُقَي اَمَك ّلِإ َنوُموُقَي َل ۟ا ٰوَبّرلٱ َنوُلُكْأَي َنيِذّلٱ
َنوُدِل َٰخ اَهيِف ْمُه ۖ ِراّنلٱ ُب َٰحْصَأ َكِئَٰٓل ۟وُأَف َداَع ْنَم َو ۖ ِ ّلٱ ىَلِإ ٓۥُهُرْمَأ َو َفَلَس اَم ۥُهَلَف ٰىَهَتنٱَف ۦِهّبّر نّم ٌةَظِع ْوَم ۥُهَٓءاَج نَمَف ۚ ۟ا ٰوَبّرلٱ
Arti : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (al-Baqarah [2] : 275).
ْمُكِب َناَك َ ٰاا ّنِا ۗ ْمُكَسُفْنَا ا ْٓوُلُتْقَت َل َو ۗ ْمُكْنّم ٍضاَرَت ْنَع ًةَراَجِت َن ْوُكَت ْنَا ّلِا ِلِطاَبْلاِب ْمُكَنْيَب ْمُكَلا َوْمَا ا ْٓوُلُكْأَت َل ا ْوُنَمٰا َنْيِذّلا اَهّيَآٰي . اًمْيِح َر
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.
Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu (al-Nisa [4] : 29).
ْنَا ٌبِتاَك َبْأَي َل َو ِۖلْدَعْلاِب ٌۢبِتاَك ْمُكَنْيّب ْبُتْكَيْل َو ُۗه ْوُبُتْكاَف ىًامَسّم ٍلَجَا ىٰٓلِا ٍنْيَدِب ْمُتْنَياَدَت اَذِا ا ْٓوُنَمٰا َنْيِذّلا اَهّيَآٰي
ۗأًاْيَش ُهْنِم ْسَخْبَي َل َو ٗهّبَر َ ٰاا ِقّتَيْل َو ّقَحْلا ِهْيَلَع ْيِذّلا ِلِلْمُيْل َو ْۚبُتْكَيْلَف ُ ٰاا ُهَمّلَع اَمَك َبُتْكّي ARTINYA :
WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN! APABILA KAMU MELAKUKAN UTANG PIUTANG UNTUK WAKTU YANG DITENTUKAN, HENDAKLAH KAMU MENULISKANNYA. DAN HENDAKLAH SEORANG PENULIS DI ANTARA KAMU MENULISKANNYA DENGAN BENAR. JANGANLAH PENULIS MENOLAK UNTUK MENULISKANNYA SEBAGAIMANA ALLAH TELAH MENGAJARKAN KEPADANYA, MAKA HENDAKLAH DIA MENULISKAN. DAN HENDAKLAH ORANG YANG BERUTANG ITU MENDIKTEKAN, DAN HENDAKLAH DIA BERTAKWA KEPADA ALLAH, TUHANNYA, DAN JANGANLAH DIA MENGURANGI SEDIKIT PUN DARIPADANYA.
و اومذي مل اورتشا اذإ و اوفلخي مل اودعو اذإ و اونوخي مل اونمتئا اذإ و اوبذكي مل اوثدح اذإ يذلا راجتلا بسك بسكلا بيطأ نإ اورسعي مل مهل ناك اذإ و اولطمي مل مهيلع ناك اذإ و اورطي مل اوعاب اذإ).
“Sesungguhnya sebaik-baik penghasilan ialah penghasilan para pedagang yang mana apabila berbicara tidak bohong, apabila diberi amanah tidak khianat, apabila berjanji tidak mengingkarinya, apabila membeli tidak mencela, apabila menjual tidak berlebihan (dalam menaikkan harga), apabila berhutang tidak menunda-nunda pelunasan dan apabila menagih hutang tidak memperberat orang yang sedang kesulitan.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, Bab Hifzhu Al- Lisan IV/221).
(قدصو ربو ا ىقتاا نم لااإ اراجاااف ةمايقلااا اموااي نوثعبااي راجتلااا ناإ )
Artinya :
“Sesungguhnya para pedagang (pengusaha) akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai para penjahat kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan jujur.” (HR. Tirmidzi,
Kitab Al-Buyu’ Bab Ma Ja-a Fi At-Tujjar no.1131)
5
1. Pasal 29 dan Pasal 33 UUD 1945.
2. UU No.10 Tahun 1998 tentang Perubahan UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan ditentukan :
- Bank Umum adalah Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syari’ah yang
dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
- Bank Perkriditan Rakyat adalah Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip
Syari’ah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
II. DASAR HUKUM EKONOMI ISALAM / SYARI’AH
6
3. UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia Pasal 1 (7) disebutkan bahwa pembayaran berdasarkan Prinsip Syari’ah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara BI dan Bank yang mewajibkan Bank yang membayar untuk mengembalikan yang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.
4. Keputusan Direksi Bank Indonesia tentang Bank Umum berdasarkan Prinsip Syari’ah (tanggal 12 Mei 1999) ditentukan sebagai berikut :
7
- Pasal 1 (j) dinyatakan bahwa DSN adalah Dewan yang dibentuk oleh MUI yang bertugas dan memiliki kewenangan untuk memastikan kesesuaian antara produk, jasa dan kegiatan usaha Bank dengan prisnip Syari’ah.
- Pasal 1 (J) dinyatakan bahwa DPS adalah Dewan yang bersifat independent, yang dibentuk oleh DSN dan ditempatkan pada Bank tugas yang diatur oleh DSN.
8