• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETENAGAKERJAAN YANG DILAKUKAN SECARA BERLANJUT

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "KETENAGAKERJAAN YANG DILAKUKAN SECARA BERLANJUT "

Copied!
84
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, dapat diambil rumusan yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini. Bagaimana ketentuan sanksi terhadap tindak pidana penggelapan Dana BPJS Ketenagakerjaan yang terus menerus dilakukan berdasarkan keputusan nomor: 699/Pid.B/2016/PN.STB. Bagaimana analisis hukum penjatuhan hukuman oleh hakim dalam putusan perkara pidana Nomor: 699/Pid.B/2016/PN.STB.

Faedah Penelitian

Tujuan Penelitian

Pemenuhan unsur-unsur tersebut menyebabkan produsen melakukan tindak pidana dan memikul tanggung jawab pidana. Tindak pidana penggelapan merupakan salah satu tindak pidana terhadap harta benda manusia yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Pelaksanaan unsur tindak pidana pencurian iuran BPJS Ketenagakerjaan yang dilakukan secara terus menerus dalam putusan no.: 699/Pid.B/2016/PN.STB.

Pada dasarnya tindak pidana penggelapan dana BPJS Ketenagakerjaan diatur secara khusus dalam Pasal 52 huruf h Jo. Ketentuan sanksi atas tindak pidana penggelapan dana BPJS Ketenagakerjaan yang dibayarkan secara terus menerus berdasarkan keputusan nomor: 699/Pid.B/2016/PN.STB. Ketentuan tentang sanksi pidana yang dijatuhkan oleh majelis hakim terhadap tindak pidana penggelapan dana BPJS Ketenagakerjaan yang dilakukan secara terus menerus berdasarkan keputusan nomor: 699/Pid.B/2016/PN.STB yaitu dengan pidana penjara masing-masing 2 (dua) tahun.

Penerapan unsur tindak pidana penggelapan dana BPJS Ketenagakerjaan dilakukan secara terus menerus dalam Putusan nomor: 699/Pid.B/2016/PN STB, dimana Majelis Hakim memuat unsur pasal dalam Pasal 374 Jo. Jamhir & Mustika Alhamra, "Kejahatan penggelapan dalam hukum positif dianggap menurut hukum Islam", legitimasi, vol.

Definisi Operasioanal

Keaslian Penelitian

Penulisan undang-undang yang berjudul “Tanggung Jawab Pidana Terhadap Pelaku Penggelapan Terus Menerus Dana BPJS Ketenagakerjaan” pada awalnya dilakukan oleh penulis sendiri atas dasar beberapa hal. Sebagai perbandingan dapat dikemukakan beberapa hasil penelitian sebelumnya yang judulnya hampir mirip dengan judul penelitian ini, yaitu sebagai berikut. Tesis ini merupakan penelitian normatif yang lebih menekankan pada penetapan sanksi bagi pelaku penggelapan.

Skripsi diploma Akbar Maulana, NPM, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jember, 2019, berjudul “Analisis penilaian yuridis terhadap tindak pidana dan penipuan serta pemidanaan (studi kasus putusan nomor: 460/PID.B/2017/PN.Smd)”. Dalam penelitian Akbar Maulanai menganalisis putusan pengadilan, terhadap tindak pidana penggelapan dan penipuan, sedangkan penelitian penulis bersifat normatif, menghina orang yang telah meninggal dunia, dan melalui media sosial. Dari penjelasan perbedaan penelitian penulis dengan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa lain, terlihat bahwa penelitian penulis adalah asli, baru dan tidak mengandung unsur plagiarisme.

Metode Penelitian

  • Jenis dan Pendekatan Penelitian
  • Sifat Penelitian
  • Sumber Data
  • Alat Pengumpul Data
  • Analisis Data

Dalam penelitian ini menggunakan informasi dari Al-Qur'an yang terdapat dalam Surat QS.al-Baqarah ayat 188 dan Surat Al Maidah ayat 38. b. UUD 1945, KUHP, UU No. 40 Tahun 2004 tentang sistem jaminan sosial nasional, UU No. 24 tahun 2011 tentang kewenangan penyelenggaraan jaminan sosial. Offline yaitu pengumpulan data studi kepustakaan secara langsung dengan mengunjungi toko buku, perpustakaan (baik di dalam maupun di luar kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara) untuk mengumpulkan data sekunder yang diperlukan dalam penelitian masing-masing.

Online, yaitu pencarian literatur dengan mencari media internet untuk mengumpulkan data sekunder yang diperlukan. Data yang diperoleh dalam penelitian ini kemudian dianalisis secara kualitatif, yaitu analisis kualitatif yang menggambarkan kondisi sebenarnya dari obyek yang diteliti dan mengacu pada analisis doktrin hukum.

TINJAUAN PUSTAKA

Pelaku Tindak Pidana Penggelapan

Iuran Dana BPJS

Berdasarkan putusan yang telah direview, dalam hal ini perbuatan penulis yang melakukan perbuatan penggelapan dana BPJS Ketenagakerjaan dalam Putusan no: 699/Pid.B/2016/PN.STB yaitu Majelis Hakim tidak melaksanakan unsur pasal yang diatur dalam pasal 52 huruf h dan pasal 1. 2) UU No. 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial justru Majelis Hakim justru menilai para penyusun penggelapan dana BPJS Ketenagakerjaan menggunakan Pasal 374 KUHP yang merupakan tindak pidana berupa tindak pidana penggelapan. Kata “barang siapa” dalam unsur ini berarti pelaku kejahatan, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang apabila terbukti melakukan kejahatan, harus mempertanggungjawabkan kejahatan yang dilakukannya. Pelaksana tetap harus memiliki kualitas pribadi yang demikian, dengan alasan syarat-syarat melakukan tindak pidana bagi pelaksana sama dengan perbuatan pelaku.

Sebagaimana diketahui, dalam KUHP terdapat perbuatan yang merupakan tindak pidana ringan (minor crime) apabila perbuatan dilanjutkan dan nilai kerugian yang ditimbulkan melebihi tiga ratus tujuh puluh lima rupiah, oleh karena itu tunduk pada aturan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 406 KUHP 39. Sekali wasiat dasar diputuskan, maka tetap ditujukan kepada semua tindak pidana yang akan dilakukan kemudian. Makna suatu perbuatan dalam perbuatan yang berlanjut bukan dalam pengertian perbuatan yang substansial maupun dalam pengertian unsur kejahatan, tetapi lebih diartikan sebagai perbuatan yang menimbulkan kejahatan.

Perbuatan dalam pengertian ini adalah perbuatan-perbuatan yang telah memenuhi semua syarat suatu tindak pidana tertentu sebagaimana ditentukan oleh undang-undang. Kesenjangan waktu antara satu kejahatan dan kejahatan berikutnya tidak boleh terlalu lama. Sebagaimana diatur dalam tindak pidana penggelapan lainnya, tindak pidana penggelapan berat ini merupakan tindak pidana penggelapan dalam artian karena adanya unsur-unsur yang memberatkan lainnya ancaman pidananya menjadi berat.

Seluruh unsur Pasal 374 KUHP juncto Pasal 64(1) KUHP telah terpenuhi dalam Putusan Nomor: 699/Pid.B/2016/PN.STB, sehingga harus dinyatakan bahwa terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan tindak pidana yang didakwakan dalam dakwaan alternatif pertama, sehingga penerapan unsur-unsur terhadap pelaku tindak pidana penggelapan iuran BP JS untuk pekerjaan sudah sepatutnya dan harus dimintai pertanggungjawaban pidana atas perbuatan tersebut. perbuatan pelaku. 5000,- Manfaat terbesar dari menjatuhkan pidana kepada pembuatnya adalah mencegah dilakukannya suatu kejahatan, baik mencegah pengulangan oleh pembuatnya maupun mencegah mereka yang sangat mungkin melakukan kejahatan itu. Pada hakekatnya tujuan penjatuhan pidana menurut teori pembalasan adalah untuk membalas kejahatan yang dilakukan oleh pencipta, sedangkan menurut teori kemanfaatan tujuan utamanya adalah untuk mencegah pencipta mengulangi kejahatan dan masyarakat agar tidak melakukan kejahatan.

Selain itu, dalam penyusunan surat dakwaan harus diperhatikan agar tidak ada celah bagi terdakwa untuk lepas dari tanggung jawab hukum atas tindak pidana yang dilakukannya. 43 Andi Rizky Octavia, “Analisis Hukum Tanggung Jawab Pelaku Tindak Pidana Penggelapan Tugas (Studi Putusan No. 164/Pid.B/2018/PN MKS)”, Jurnal Ilmu Hukum (Kesetaraan Sebelum Hukum) Volume 1, Nomor 1, halaman 2 dan pegawai lain yang berpikir dua kali untuk melakukan tindak pidana penggelapan dana iuran BPJS. Pengerjaan rumah sakit Stabat Insani di rumah, serta penjatuhan pidana berat terhadap pelaku tindak pidana penggelapan dana iuran BPJS Ketenagakerjaan, dapat memenuhi rasa keadilan bagi para korban, khususnya bagi korban keadaan Insani Stabat.

Ketentuan mengenai sanksi atas tindak pidana penggelapan dana BPJS Ketenagakerjaan yang dilakukan secara terus menerus, dimana hukuman bagi pelakunya adalah 1 tahun 6 bulan penjara, namun dengan putusan majelis pengadilan yang berbeda, dimana hakim menjatuhkan hukuman penjara selama 2 (dua) tahun, meskipun sanksi pidana yang dijatuhkan oleh hakim lebih berat dari tuntutan penuntut umum. Besar harapan kami agar aparat penegak hukum dapat memberikan sanksi yang sepadan dengan kejahatan yang dilakukan oleh para pelaku, sehingga diperoleh sanksi pidana yang tepat dan adil serta terpenuhinya rasa keadilan bagi semua pihak, baik pelaku, korban maupun masyarakat.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

a) Menimbang, bahwa Penuntut Umum telah menyatakan sudah cukup dengan saksinya dan tidak akan mengajukan alat bukti lainnya. b) Menimbang, bahwa segala hal yang termuat

Telah terpenuhi unsur - unsur Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang RI No. Prosedur pembuktian dalam sidang kasus persetubuhan terhadap Irmawati oleh ayah kandungnya sendiri

Tidak terpenuhi seutuhnya Terdakwa sudah dianggap mampu bertanggung jawab atas tindak pidana yang dilakukannya tersebut dan telah terpenuhinya sebagian unsur-unsur dari pasal 289

Hal tersebut kerena dalam bentuk dakwaannya dipergunakan hanya satu tindak pidana saja yang didakwakan yaitu pasal 368 ayat (1) 1 KUHP tentang pemerasan yang dilakukan

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penerapan hukum pidana materiil terhadap kasus perampasan dengan kekerasan dan pemerkosaan yakni Pasal 285 Jo Pasal 55 Ayat

Apabila terdapat seseorang atau suatu korporasi yang memenuhi unsur- unsur Pasal 56 KUHP di atas, maka dapat disimpulkan orang atau korporasi tersebut telah ikut

Unsur-unsur Tindak Pidana Korupsi Unsur-unsur tindak pidana korupsi tidak akan terlepas dari unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 2 1 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo Undang-

Perbuatan penambangan tanpa izin pada hakikatnya telah memenuhi unsur yang dapat diancam dengan hukum pidana sebagaimana ditentukan dalam Pasal 158 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 jo