• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keterangan Saksi Decharge sebagai Alat Bukti dalam Kecelakaan Lalu Lintas yang Mengakibatkan Kematian

N/A
N/A
Fata Farihi

Academic year: 2025

Membagikan "Keterangan Saksi Decharge sebagai Alat Bukti dalam Kecelakaan Lalu Lintas yang Mengakibatkan Kematian"

Copied!
169
0
0

Teks penuh

(1)

(Studi Kasus : Putusan No.85/Pid.sus/2021/PN.Pbg) SKRIPSI

Disusun untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum

Oleh Tri Purnomo

8111418096

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2023

(2)

ii

(3)

iii

(4)

Nama : Tri Purnomo

NIM : 8111418096

Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Keterangan Saksi A De Charge Sebagai Alat Bukti Terhadap Kecelakaan Lalu Lintas Yang Mengakibatkan Orang Lain Meninggal Dunia” adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang saya kutip maupun dirujuk telah saya nyatakan benar. Apabila dikemudian hari diketahui adanya plagiasi maka saya siap mempertanggungjawabkan secara hukum.

Semarang, 2 Maret 2023 Yang Menyatakan

Tri Purnomo NIM. 8111418096

iv

(5)

v

(6)

adalah indahnya menggarap PR surga” - Abah Yai Masrochan PERSEMBAHAN

Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kepada ALLAH SWT, Skripsi ini saya persembahkan kepada :

1. Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan nikmatnya sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.

2. Kedua orang tua saya Bapak Sinu dan Ibu Kawen, Kakek dan Nenek saya Mbah Sadem, Kakak saya Ruchiah dan Nurul Alfiah, Kakak Ipar saya Warsito dana Kuat Yulianto, serta Keponakan saya Ilham Esa Subhi, Falah Amik Aqli Ramadhan, dan Alzena Nur Kharisah yang selalu memberikan kasih sayang, selalu mendo’akan dan memberikan dukungan baik dari segi moril maupun materi sehingga penulis bisa merasakan bangku di dunia perkuliahan sampai akhir dengan menyelesaikan skripsi ini.

3. K.H. Amanto, S.H. selaku Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotul Athfal yang selalu memberikan do’a, nasehat dan arahannya.

4. Kiai Agus Romadhon, S.Pd.I., selaku Pengasuh Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Wal Jam’ah Banaran Semarang yang telah memberikan do’a, motivasi, semangat, nasehat dan arahannya.

5. Seluruh kerabat, sahabat, teman yang selalu mendukung saya.

vi

(7)

Skripsi, Ikmu Hukum. Skripsi Bagian Hukum Pidana, Prodi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Negeri Semarang, Benny Sumardiana, S.H., M.H.

Kata Kunci : Alat Bukti, Saksi A De Charge, Kecelakaan Lalu Lintas

Kecelakaan lalu lintas di Indonesia yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia cukup tinggi. Para pelaku tindak pidana laka lantas mempunyai hak untuk mengajukan alat bukti yang dapat meringankan dirinya, dalam hal ini yaitu saksi a de charge. Rumusan masalah pada skripsi ini : 1) Bagaimana kekuatan keterangan saksi a de charge sebagai alat bukti terhadap kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia pada Putusan No.85/Pid.Sus/2021/Pn.Pbg? 2) Bagamana pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa berdasarkan keterangan saksi a de charge dalam kasus kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia pada Putusan No.85/Pid.Sus/2021/Pn.Pbg?

Metode Penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dengan jenis penelian hukum non doktrinal atau empiris. Fokus penelitiannya yaitu tentang kekuatan keterangan saksi a de charge terhadap kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, Lokasi penelitan ini di lembaga penegak hukum wilayah Kabupaten Purbalingga yang meliputi Polres Purbalingga, Kejaksaan Negeri Purbalingga, dan Pengadilan Negeri Purbalingga. Sumber Data yang digunakan adalah data primer dan dana sekunder dengan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pengujian validitas data dengan metode triangulasi data serta analisis data secara induktif.

Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa kekuatan keterangan saksi a de charge terhadap kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia pada putusan No.85/Pid.Sus/2021/Pn.Pbg tidak terlalu kuat, karena dalam keterangannya justru lebih banyak yang memberatkan terdakwa. Kemudian, pertimbangan hakim dalam menjatuhkan perkara berdasarkan saksi a de charge, pertimbangan yang hakim gunakan adalah pertimbangan yuridis dan non yuridis.

Pertimbangan yuridis berdasarkan fakta persidangan dan alat bukti. Pertimbangan non yuridis berdasarkan itikad baik terdakwa setelah tindak pidana erjadi.

Sedangkan keterangan dari saksi a de charge dipertimbangkan oleh hakim ke pertimbangan non yuridis, yaitu hal yang memberatkan terdakwa dan itikad baik dari terdakwa setelah melakukan tindak pidana. Selanjutnya terkait saran, seyogyanya terdakwa mengajukan saksi a de charge yang mengetahui secara langsung pada saat tindak pidana kecelakaan lalu lintas terjadi. Sementara majelis hakim dalam menjatuhkan putusan, harus lebih teliti dalam mempertimbangkan pertimbangan yuridis dan non yuridis.

vii

(8)

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menjalankan perkuliahan sampai dengan penyelesaian skripsi di Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang.

Penulisan skripsi yang berjudul Keterangan Saksi A De Charge Sebagai Alat Bukti Terhadap Kecelakaan Lalu Lintas Yang Mengakibatkan Orang Lain Meninggal Dunia” merupakan tugas akhir yang dijalankan oleh penulis sebagai mahasiswa untuk mendapatkan gelar sarjana hukum (S1) dengan konsentrasi Hukum Pidana pada Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat, khususnya untuk penulis dan umumnya untuk mahasiswa yang melakukan penelitian sejenis, saran dan kritik yang membangun penulis harapkan untuk kesempurnaan penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penulis berharap agar para pihak yang membaca skripsi ini memaklumi kekurangan penulis dikarenakan keterbatasan pengetahuan, kemampuan dan bahan-bahan referensi.

Selama penulisan skripsi ini penulis mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya dalam membantu, membina dan membimbing penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimkasih kepada :

1. Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan nikmatnya sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.

2. Kedua orang tua saya Bapak Sinu dan Ibu Kawen, Kakek dan Nenek saya Mbah Sadem, Kakak saya Ruchiah dan Nurul Alfiah, Kakak Ipar saya Warsito dana Kuat Yulianto, serta Keponakan saya Ilham Esa Subhi, Falah Amik Aqli Ramadhan, dan Alzena Nur Kharisah yang selalu memberikan kasih sayang, selalu mendo’akan dan memberikan dukungan baik dari segi

viii

(9)

4. Kiai Agus Romadhon, S.Pd.I., selaku Pengasuh Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Wal Jam’ah Banaran Semarang yang telah memberikan motivasi, semangat, nasehat dan arahan selama kuliah di Fakultas Hukum UNNES.

5. Prof. Dr. S. Martono.M.Si., selaku Rektor Universitas Negeri Semarang.

6. Dr. Rodiyah, S.Pd., S.H., M.Si., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang.

7. Benny Sumardiana, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dengan sabar dan bijaksana serta memberikan dorongan dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini.

8. Dr. Dewi Sulistianingsih, S.H., M.H., selaku Dosen Wali yang telah memberikan pengarahan, dan nasihat selama kuliah di Fakultas Hukum UNNES.

9. Dr. Cahya Wulandari, S.H., M.Hum., sebagai penguji utama yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

10. dan Ridwan Arifin, S.H., LL.M., sebagai penguji 12 yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

11. Seluruh Dosen Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang yang telah mengajarkan ilmunya sejak awal kuliah hingga terselesaikannya penulisan skripsi

12. Seluruh staf pegawai dan tata usaha di Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang.

13. Teman-teman Rombel 2 Fakultas Hukum Angkatan 2018 Universitas Negeri Semarang.

ix

(10)

santrinya dan menjadi tempat untuk penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.

16. Teman – teman grumbul Gandasuli Wetan, Desa Klinting, Kecamatan Somagede.

17. Orang-orang yang terlibat dalam penulisan skripsi ini yang memberikan dukungan dan bantuan nya atas penulisan skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu.

Akhir kata penulis hanya bisa mengucapkan syukur atas segala kebaikan serta bantuannya baik berupa do’a maupun dukungannya yang telah diberikan kepada penulis, semoga Allah SWT membalas dengan kebaikan. Dan penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari pembaca untuk penyempurnaan tulisan ini kedepannya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabrakatuh.

Semarang, 2 Maret 2023

Tri Purnomo NIM. 8111418096

x

(11)

PERSETUJUAN PEMBIMBING...ii

PENGESAHAN...iii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS...iv

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS...v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN...vi

ABSTRAK...vii

KATA PENGANTAR... viii

DAFTAR ISI...xi

DAFTAR TABEL... xiii

DAFTAR BAGAN...xiv

DAFTAR LAMPIRAN...xv

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Identifikasi Masalah...5

1.3 Pembatasan Masalah...6

1.4 Rumusan Masalah... 6

1.5 Tujuan Penelitian...6

1.6 Manfaat Penelitian...7

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN...8

2.1 Penelitian Terdahulu...8

2.2 Landasan Teori...11

2.2.1 Teori Sistem Pembuktian...11

2.2.2 Teori Kemanfaatan Hukum...14

2.3 Landasan Konseptual...16

2.3.1 Hukum Acara Pidana...16

2.3.2 Barang Bukti dan Alat Bukti...23

2.3.3 Keterangan Saksi...25

2.3.4 Kecelakaan Lalu Lintas...28

xi

(12)

3.3 Fokus Penelitian...36

3.4 Lokasi Penelitian...37

3.5 Sumber Data... 38

3.6 Teknik Pengambilan Data...38

3.7 Validitas Data... 40

3.8 Analisis Data... 41

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...43

4.1 Kekuatan Keterangan Saksi A De Charge Sebagai Alat Bukti Terhadap Kecelakaan Lalu Lintas Yang Mengakibatkan Orang Lain Meninggal Dunia Pada Putusan No.85/Pid.Sus/2021/Pn.Pbg...43

4.1.1 Pembuktian Oleh Terdakwa Pada Putusan No.85/Pid.Sus/2021/Pn.Pbg...43

4.1.2 Analisis Kekuatan Saksi A De Charge...50

4.2 Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Pidana Terhadap Terdakwa Berdasarkan Keterangan Saksi A De Charge Dalam Kasus Kecelakaan Lalu Lintas Yang Mengakibatkan Orang Lain Meninggal Dunia No.85/Pid.Sus/2021/Pn.Pbg...79

4.2.1 Pertimbangan Yuridis...80

4.2.2 Pertimbangan Non Yuridis...85

4.2.3 Analisis Penulis Mengenai Pertimbangan Hakim Dalam Memutus Perkara Berdasarkan Saksi A De Charge...88

BAB V PENUTUP...96

5.1 KESIMPULAN...96

5.2 SARAN... 97

DAFTAR PUSTAKA...98

LAMPIRAN-LAMPIRAN...102

xii

(13)

Tabel 4.1 Keterangan saksi a de charge tentang hubungan kekeluargaan...55 Tabel 4.2 keterangan saksi a de charge tentang sesuatu yang dilihat, didengar, dan dialami...60 Tabel 4.3 keterangan saksi a de charge yang meringankan terdakwa...61 Tabel 4.4 keterangan saksi a de charge yang tidak memiliki kesesuaian...64 Tabel 4.5 Keterangan saksi a de charge tentang kendaraan terdakwa yang tidak layak jalan...66 Tabel 4.6 keterangan saksi a de charge tentang jumlah santunan yang diberikan oleh terdakwa... 67 Tabel 4.7 keterangan saksi a de charge tentang kelengkapan surat kendaraan terdakwa... 69 Tabel 4.8 keterangan saksi a de charge tentang kredit pembayaran truk dump terdakwa... 70

xiii

(14)

xiv

(15)

Pengadilan Negeri Purbalingga...104

Lampiran 4 Surat Observasi Penelitian di Kejaksaan Negeri Purbalingga...105

Lampiran 5 Surat Keterangan Telah Melaksanakan Observasi Penelitian di Kejaksaan Negeri Purbalingga...106

Lampiran 6 Surat Observasi Penelitian di Polres Purbalingga...107

Lampiran 7 Surat Keterangan Telah Melaksanakan Observasi Penelitian di Polres Purbalingga...108

Lampiran 8 Surat Observasi Penelitian di Kantor Advokat Abdy Warsono...109

Lampiran 9 Instrumen Penelitian di Pengadilan Negeri Purbalingga...110

Lampiran 10 Instrumen Penelitian di KejaksaanNegeri Purbalingga...112

Lampiran 11 Instrumen Penelitian di Polres Purbalingga...113

Lampiran 12 Instrumen Penelitian di Kantor Advokat Abdy Warsono...115

Lampiran 13 Putusan No.85/Pid.Sus/2021/Pn.Pbg...117

Lampiran 14 Dokumentasi Observasi Penelitian di Pengadilan Negeri Purbalingga ...152

Lampiran 15 Dokumentasi Observasi Penelitian di Kejaksaan Negeri Purbalingga ...153

Lampiran 16 Dokumentasi Observasi Penelitian di Polres Purbalingga...154

Lampiran 17 Dokumentasi Observasi Penelitian di Kantor Advokat Abdy Warsono ...155

xv

(16)

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara berkembang yang tidak lepas mengenai hal teknologi. Masyarakat pada masa dahulu lebih menggunakan tenaga fisik dengan bantuan tenaga hewan untuk mendukung kepentingannya. Namun seiring perkembangan zaman, hal tersebut dirasa tidak cukup efisien untuk mendukung keperluan sehari – hari. Oleh karena itu, munculah revolusi industri yang mendukung kegiatan masyarakat sehingga lebih efisien, yang awalnya lebih dominan menggunakan tenaga manusia, berubah menjadi tenaga mesin. (Fajariah &

Suryo, 2020)

Begitupun dalam bidang transportasi, di indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Mulai dari kendaraan tradisional yang lebih menggunakan tenaga hewan seperti delman dan yang lebih menggunakan tenaga manusia seperti becak. Namun hal demikian dirasa kurang efisien, dilihat dari jarak tempuh, keterbatasan tenaga, kecepatan, dan lain lain. Sehingga hal tersebut mendatangkan inovasi berupa penggunaan kendaraan dengan menggunakan tenaga mesin yang lebih efisien dan efektif.

Adanya kendaraan dengan menggunakan tenaga mesin, atau yang lebih kita kenal dengan sebutan kendaraan bermotor, selain terdapat sisi positif tentu terdapat sisi negatif. Seperti adanya polusi udara, boros bahan bakar, kemacetan, bahkan sampai kecelakaan. Adanya dampak negatif tersebut, tentu menjadikan negara indonesia sebagai negara hukum untuk mengatur guna mencegah terjadinya dampak negatif tersebut baik secara represif maupun preventif.

Salah satu dampak negatif dari penggunaan kendaraan bermotor di indonesia adalah kecelakaan lalu lintas. Berikut statistik kasus kecelakaan di

Indonesia dari tahun 2017 – 2018:

(https://www.bps.go.id/indicator/17/513/1/jumlah-kecelakaan-korban-mati-luka-berat-

1

(17)

luka-ringan-dan-kerugian-materi.html diakses pada hari Minggu, 12 Juni 2022 pukul 09.00 WIB)

Tabel BAB I PENDAHULUAN.1 Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas

Berdasarkan data tersebut di atas, jumlah kasus kecelakaan terus meningkat di setiap tahunnya. Banyak faktor yang menyebabkan kecelakaan lalu lintas, ,mulai dari faktor kesalahan manusia, kerusakan teknis kendaraan, maupun jalan yang rusak.

Kecelakaan lalu lintas yang terjadi di indonesia tentu mengakibatkan kerugian bagi pelaku maupun korban. Adapun kerugian yang dialami dapat dari segi kerusakan kendaraan itu sendiri maupun dari kerusakan barang yang diangkut di kendaraan tersebut. Selain itu, juga dapat berakibat pada cacat fisik bagi pengendara bahkan tidak sedikit yang sampai merenggut nyawa pengendara kendaraan bermotor. Oleh karena itu, dibuatlah Undang – Undang No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan.

Salah satu penyelesaian kasus terhadap pelaku kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan orang lain meninggal dunia yaitu melalui jalur pidana. Sebagaimana dijelaskan dalam pasal 310 dan pasal 311 Undang – Undang No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan, seseorang dapat dikenakan pidana karena kelalaian atau kesengajaannya dalam mengemudikan kendaraan yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia. Pemberian hukuman pidana kepada pelaku kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan orang lain meninggal dunia tentu

(18)

harus melalui berbagai rangkaian hukum acara pidana. Mulai dari tahap penyidikan, penuntutan dan persidangan.

Salah satu tahap penting dalam rangkaian hukum acara pidana adalah pembuktian. Seperti yang disebutkan dalam pasal 183 KUHAP, yang berbunyi

“Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.” Kemudian disebutkan dalam pasal 184 (1) KUHAP, bahwa yang dapat dijadikan alat bukti yang sah yaitu : keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa.

Hak untuk mendatangkan saksi sebagai pembuktian ini dimiliki oleh jaksa penuntut umum ataupun terdakwa. Saksi yang didatangkan oleh jaksa sifatnya memberatkan bagi terdakwa, yang lebih dikenal dengan sebutan saksi a charge.

(Nofrizal et al., 2019) Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Pasal 160 ayat (1) KUHAP yang berbunyi :

a. Saksi dipanggil ke dalam ruang sidang seorang demi seorang menurut urutan yang dipandang sebaik-baiknya oleh hakim ketua sidang setelah mendengar pendapat penuntut umum, terdakwa atau penasihat hukum;

b. Yang pertama-tama didengar keterangannya adalah korban yang menjadi saksi;

c. Dalam hal ada saksi baik yang menguntungkan maupun yang memberatkan terdakwa yang tercantum dalam surat pelimpahan perkara dan atau yang diminta oleh terdakwa atau penasihat hukum atau penuntut umum selama berlangsungnya sidang atau sebelum dijatuhkannya putusan, hakim ketua sidang wajib mendengar keterangan saksi tersebut.

Sementara itu, Saksi yang diajukan oleh tersangka/terdakwa sifatnya meringankan atau menguntungkan bagi dirinya, yang biasa dikenal dengan istilah

(19)

saksi a de charge. (Pradita et al., 2015) Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 65 KUHAP yang berbunyi Tersangka atau terdakwa berhak untuk mengusahakan dan mengajukan saksi dan atau seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi dirinya. Selain itu,mengenai hak tersangka/terdakwa untuk mendatangkan saksi a de charge disebutkan dalam Pasal 116 ayat (3) KUHAP yang berbunyi Dalam pemeriksaan tersangka ditanya apakah ia menghendaki didengarnya saksi yang dapat menguntungkan baginya dan bilamana ada maka hal itu dicatat dalam berita acara.

Berdasarkan pencarian data putusan Pengadilan Negeri Purbalingga di Direktori Putusan Mahkamah Agung, bahwa dari tahun 2017 – 2021 ditemukan 10 putusan mengenai kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia.

Tabel BAB I PENDAHULUAN.2 Putusan Pengadilan Negeri Purbalingga Kasus Kecelakaan Lalu Lintas Tahun 2017 - 2021.

No Putusan Terdakwa Mengajukan Saksi A De Charge

Ya Tidak

1. 73/Pid.Sus/2017/PN.Pbg - 

2. 8/Pid.Sus/2018/PN.Pbg - 

3. 6/Pid.Sus/2019/PN.Pbg - 

4. 54/Pid.Sus/2019/PN.Pbg  -

5. 73/Pid.Sus/2019/PN.Pbg - 

6. 127/Pid.Sus/2019/PN.Pbg - 

7. 54/Pid.Sus/2020/PN.Pbg - 

8. 79/Pid.Sus/2020/PN.Pbg - 

9. 85/Pid.Sus/2021/PN Pbg  -

10. 97/Pid.Sus/2021/PN Pbg - 

Berdasarkan tabel tersebut di atas tercatat hanya 2 (dua) putusan Pengadilan Negeri Purbalingga mengenai terdakwa kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia yang mengajukan saksi a de charge dan selebihnya

(20)

tidak mengajukan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kebanyakan terdakwa pelaku kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia tidak mengajukan saksi yang meringankan. Padahal, secara hukum positif, sudah jelas bahwa terdakwa mempunyai hak untuk mendatangkan saksi a de charge sebagaimana telah disebutkan tersebut di atas. Pengajuan saksi a de charge merupakan sesuatu yang penting dalam proses pembuktian di hukum acara pidana, karena hal tersebut menunjukan adanya keseimbangan pembuktian antara jaksa penuntut umum dan terdakwa. (Chaimansyah, 2016)

Berdasarkan apa yang telah dijelaskan tersebut diatas, menarik Penulis untuk melakukan penelitian yang berjudul Keterangan Saksi A De Charge Sebagai Alat Bukti Terhadap Kecelakaan Lalu Lintas Yang Mengakibatkan Orang Lain Meninggal Dunia (Studi Kasus : Putusan No.85/Pid.Sus/2021/Pn.Pbg).

1.2 Identifikasi Masalah

Berbagai persoalan yang kemudian memperkuat perlunya penelitian ini, yaitu:

1. Bukti – bukti yang dapat diajukan dalam proses persidangan pada kasus kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan orang lain meninggal dunia.

2. Peran saksi sebagai alat bukti dalam peradilan pidana pada kasus kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan orang lain meninggal dunia.

3. Penunjukan saksi yang dapat memberi keterangan di persidangan pada kasus kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan orang lain meninggal 4. Faktor – faktor yang memengaruhi pelaku kecelakaan lalu lintas yang

menyebabkan orang lain meninggal dalam mengajukan saksi a de charge.

5. Bobot atau kekuatan saksi a de charge pada kasus kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan orang lain meninggal dunia.

6. Pedoman dan pertimbangan hakim dalam menilai saksi a de charge dalam memberi pidana kepada terdakwa pelaku kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan orang lain meninggal dunia.

(21)

7. Ketidakseimbangan pembuktian anatara jaksa penuntut umum dan pelaku kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan orang lain meninggal dunia.

1.3 Pembatasan Masalah

Agar permasalahn yang akan penulis bahas tidak meluas yang akan mengakibatkan ketidakjelasan pembahasan masalah, maka penulis akan membatasi masalah yang akan dikaji, yaitu :

1. Faktor – faktor yang memengaruhi pelaku kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan orang lain meninggal dalam mengajukan saksi a de charge 2. Bobot atau kekuatan saksi a de charge pada kasus kecelakaan lalu lintas

yang menyebabkan orang lain meninggal dunia pada persidangan di Pengadilan Negeri Purbalingga.

3. Pedoman dan pertimbangan hakim Pengadilan Negeri Purbalingga dalam menilai saksi a de charge dalam memberi pidana kepada terdakwa pelaku kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan orang lain meninggal dunia.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah disebutkan di atas, maka timbul beberapa permasalahan antara lain :

1. Bagaimana kekuatan keterangan saksi a de charge sebagai alat bukti terhadap kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia pada Putusan No.85/Pid.Sus/2021/Pn.Pbg?

2. Bagamana pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa berdasarkan keterangan saksi a de charge dalam kasus kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia pada Putusan No.85/Pid.Sus/2021/Pn.Pbg?

1.5 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini di antaranya adalah :

(22)

1. Mengetahui kekuatan keterangan saksi a de charge sebagai alat bukti terhadap kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia.

2. Mengetahui pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa berdasarkan keterangan saksi a de charge dalam kasus kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia

1.6 Manfaat Penelitian 1. Manfaat praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pengetahuan kepada penulis sendiri pada khususnya dan masyarakat atau pembaca pada umumnya mengenai keterangan saksi a de charge sebagai alat bukti terhadap kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia.

2. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran hukum kepada penelitian yang akan mendatang, khususnya mengenai keterangan saksi a de charge sebagai alat bukti terhadap kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia.

Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan sebagai referensi di bidang hukum pidana, terutama mengenai keterangan saksi a de charge sebagai alat bukti terhadap kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia.

(23)

Berdasarkan identifikasi yang telah dilakukan oleh penulis mengenai kekua tan saksi a de charge sebagai alat bukti terhadap kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia dengan berbagai penelitian yang perna h dilakukan oleh penulis lain,dengan berbagai macam prespektif, penulis mengemukaanbeberapa penelitian terdahulu.

Pertama, penelitiaan yang dilakukan oleh K. Reza Zaiual (Skripsi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang Tahun 2015) yang berjudul “Keku atan Hukum Keterangan Saksi Ahli Dalam Pemeriksaan Tindak Pidana Pembunuhan (Studi Kasus : Pengadilan Negeri Kelas 1 A Palembang). Peneliti an tersebut merumuskan masalah diantaranya yaitu, bagaimana kekuatan hukum k eterangan saksi ahli dalam pemeriksaan perkara tindak pidana pembunuhan (studi k asus : Pengadilan Negeri Kelas 1 A Palembang) dan apa saja yang dapat dikategoti kan sebagai saksi ahli agar bisa dijadikan keterangan dalam pemeriksan perkara tin dak pidana pembunuhan (studi kasus : Pengadilan Negeri Kelas 1 A Palembang).

Hasil dari penelitian tersebut yaitu, bahwa sesuai dengan Pasal 184 KUHAP yang mana menempatkan keterangan ahli pada urutan ke dua. Berdasarkan pasal te rsebut, maka keterangan ahli sangatlah penting, karena dengan adanya keterangan ahli tersebut dapat diketahui sebab – sebab terjadinya pembunuhan. Selain itu, keyterangan ahli juga dapat digunakan oleh seorang Hakim untuk mengambil suatu keputusan.

Penelitian tersebut memiliki persamaan dengan penelitian yang dilakukan p enulis. Keduanya memiliki permasalahan yang sama, yaitu membahas mengenai ke kuatan keterangan saksi dalam peradilan pidana. Adapun perbedaan dari kedua penelitian ini adalah dari segi subjeknya. Penelitian yang dilakukan oleh R, Reza Z ainal membahas mengenai saksi ahli. Sedangkan penelitian yang dibahas oleh penulis yaitu mengenai saksi a de charge (saksi yang meringankan terdakwa/tersan

8

(24)

gka). Perbedaan lainnya yaitu terletak pada objeknya. Penelitian yang dilakukan oleh R. Reza Zainal membahas mengenai tindak pidana pembunuhan. Sementara p enelitian yang dilakukan oleh penulis membahas mengenai tindak pidana kecelakaa n lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia.

Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Alvia Tiar Ratnani (Skripsi, Fakulta s Hukum Universitas Muhammadiyah Magelang Tahun 2020) yang berjudul

“Penggunaan Saksi Mahkota Dalam Proses Peradilan Pidana (Studi Pengadilan Ne geri Mungkid). Penelitian tersebut membahas masalah mengenai bagaimana ketera ngansaksi mahkota digunakan sebagai alat bukti dalam proses peradilan pidana di P engadilan Negeri Mungkid dan pada saat apakah keterangan dari saksi mahkota dibutuhkan.

Hasil dari penelitian tersebut yaitu, Keterangan saksi mahkota dibutuhkan untuk mengungkapkan suatu fakta hukum dipersidangan. Segingga dengan adanya saksi mahkota tersebut dapat membuat terang suatu tindak pidana yang mana telah didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum dalam mencari kebenaran materil timdak pidana tersebut. Saksi Mahkota tersebut dapat dijadikan pertimbangan oleh Hakim untuk menjatuhkan pidana terhadap terdakwa.

Penelitian tersebut memiliki keterkaitan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis. Penelitian yang dilakukan oleh Alvia Tiar Ratnani dan penulis sama s ama membahas mengenai keterangan saksi yang digunakan sebagai pembuktian da lam suatu tindak pidana. Adapun perbedaan di antara kedua penelitian ini yaitu dil ihat dari subjeknya, penelitian yang dilakukan oleh Alvia Tiar Ratnani membahas mengenai saksi mahkota, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh penulis memba has mengenai saksi a de charge (saksi yang meringankan). Selain itu jika dilihat da ri objeknya, penelitian yang dilakukan oleh Alvia Tiar Ratnani membahas menge nai tindak pidana secara umum, sedangkan yang dilakukan oleh penulis, membaha s mengenai tindak pidana kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia.

(25)

Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Eka Haryanti (Skripsi, Universitas I slam Negeri Alauddin Makassar Tahun 2018) yang berjudul “Pertimbangan Hukum Hakim DalamMemutus Tindak Pidana Lalu Lintas (Studi Kasus Lakalanta s Putusan No.58/Pid.Sus/2016/Pn-Snj) Di Pengadilan Negeri Sinjai)”. Penelitian te rsebut membahas mengenai bagaimana dasar pertimbangan hukum hakim dalam memutuskan perkara lakalantas dan bagaimanakah bentuk pertimbangan penerap an oleh hakim dalam perkara lakalantas di wilayah hukum pengadilan negeri sinjai .

Hasil dari penelitian tersebut yaitu, dalam Putusan No.58/Pidsus/2016/Pn/Snj. Proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh M ajelis Hakim dengan mempertimbangkan dan memperhatikan Pasal 310 Ayat (4) Undang-undang RI Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dang Angkutan jal an dan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana. Ada pun pertimbangan yang lain adalah melihat dari segi pembuktian, yang dalam hal ini pembuktian yang digunakan yaitu keterangan saksi, barang bukti, surat visum et repertum dan keterangan terdakwa.

Selanjutnya, antara penelitian yang dilakukan oleh Eka Haryanti dan yang dilakukan oleh penulis memiliki keterkaitan. Kedua penelitian ini sama sama memb ahas mengenai pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana kepada pelaku tind ak pidana kecelakaan lau lintas. Namun terdapat perbedaan di antara kedua penelit ian ini, penelitian yang dilakukan oleh Eka Haryanti membahas mengenai pertimba ngan hukum hakim dalam memutus tindak pidana lalu lintas. Jadi, pertimbangan d alam hal ini mencakup secara keseluruhan. Sementara dalam penelitianyang dilaku kan oleh penulis, lebih menitikberatkan pada pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa berdasarkan keterangan saksi a de charge d alam kasus kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia.

Berdasarkan penelitian terdahulu sebagaimana disebutkan di atas, sudah jel as bahwa masalah yang dirumuskan oleh penulis berbeda dengan rumusan masalah yang tertera dalam penelitian terdahulu tersebut penelitian penulis merumuskan masalah mengenai bagaimana kekuatan keterangan saksi a de charge sebagai alat

(26)

bukti terhadap kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meningga l dunia dan bagaimana pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap te rdakwa berdasarkan keterangan saksi a de charge dalam kasus kecelakaan lalu l intas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia. Selin itu fokus dari pen elitian yang dilakukan penulis adalah mengenai keterangan saksi a de charge se bagai alat bukti terhadap kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia (studi kasus : putusan no.85/pid.sus/2021/pn.pbg). Sehingga, h asil penelitian yang dilakukan oleh penulis akan berbeda dengan penelitian terda hulu sebagaimana disebutkan di atas, serta akan menghasilkan suatu penelitian y ang baru.

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Teori Sistem Pembuktian

Menurut Rozi dalam jurnalnya yang berjudul “Sistem Pembuktian Dalam P roses Persidangan Pada Perkara Tindak Pidana”, menyebutkan bahwa Sistem pembuktian adalah pengaturan tentang macam-macam alat bukti yang boleh diperg unakan, penguraian alat bukti, dan dengan cara-cara bagaimana alat-alat bukti itu dipergunakan serta dengan cara bagaimana hakim harus membentuk keyakinannya di depan sidang pengadilan. (Rozi, 2019) Sedangkan menurut Bambang Poernomo menyatakan bahwa system pembuktian adalah keseluruhan aturan hukum atau pera turan undang-undang mengenai kegiatan untuk rekonstruksi suatu kenyataan yang benar dari setiap kejadian masa lalu yang relevan dengan persangkaan terhadap ora ng yang diduga melakukan perbuatan pidana dan pengesahan setiap sarana bukti menurut ketentuan hukum yang berlaku untuk kepantingan pengadilan dalam perk ara pidana. (Timomor & Pangalila, 2022)

Pengertian lain yang disebutkan oleh Lili Rosita bahwa Sistem pembuktian merupakan pengaturan tentang macam-macam alat bukti yang boleh dipergunakan, penguraian alat bukti dan cara-cara bagaimana alat bukti itu dipergunakan dan deng an cara bagaimana hakim harus membentuk keyakinannya. (Ante, 2013)

(27)

Menurut Hamzah dalam bukunya yang berjudul “Hukum Acara Pidana Indo nesia” menyebutkan bahwa terdapat empat macam system pembuktian, yaitu : (Hamzah, 2016)

1. Sistem Atau Teori Pembuktian Berdasarkan Undang-Undang Secara Posit if (Positief Wettelijke Bewijs Theorie)

Sistem pembuktian berdasarkan undang undang secara positif merupak an sistem pembuktian yang mana pembuktian didasarkan hanya kepana undang undang. Ketika suatu perkara pidana sudah dapat dibuktikan dengan a lat bukti sebagaimana disebutkan dalam undang undang, makan keyakinan ha kim tidak berlaku. Sistem pembuktian ini disebut juga dengan pembuktian formal (formale bewijstheorie) . Telah dikatakan bahwa sistem pembuktian positif ini menitikberatkan kepada alat bukti yang sah sebagaimana tercantum dalam undang undang. Hal ini menjadikan hakim dalam memutus suatu perk ara harus lebih melihat kepada alat bukti yg tercantum dalam undang undang tersebut. Sehingga keyakinan hakim tidak digunakan. Seperti ketika dalam su atu perkara, terdapat alat bukti berupa saksi, yang mana saksi tersebut memen uhi syarat dalam undang undang sebagai suatu alat bukti yang sah. Jadi, walaupun hakim berkeyakinan terdakwa tidak melakukan kesalahan, tetapi be rdasarkan alat bukti tersebut, hakim harus memutuskan bahwa terdakwa bersa lah. Sebaliknya apabila alat bukti yang digunakan tidak sesuai dengan yang te rcantum dalam undang undang, walaupun hakim berkeyakinan bahwa terdakwa bersalah, maka hakim harus memutus bahwa terdakwa tidak bersalah.

2. Sistem Atau Teori Pembuktian Berdasar Keyakinan Hakim Melulu atau Semata

Sistem atau teori pembuktian berdasarkan hakim melulu merupakan sua tu teori pembuktian yang mendasarkan kepada keyakinan hakim. Hakim dibe ri kebebasan dalam menelaah suatu perkara hukum, sehingga sulit untuk diawasi. Berdasarkan teori ini, cukuplah dengan keyakinan hakim untuk

(28)

membuktikan suatu perkara, tanpa terikat dengan peraturan perundang- undangan.

3. Sistem Atau Teori Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Atas Alasan Yang Logis (La Conviction Rais Onnee) .

Sistem atau teori pembuktian berdasarkan keyakinan hakim atas alasan yang logis merupakan sistem pembuktian dimana hakim memiliki kebebasan untuk memutuskan atau memidanakan terdakwa sesuai dengan keyakinan hakim serta dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan mengenai pembuktian. Sistem pembuktian ini hakim diberi kebebasan dalam hal keyakinannya yang terlalu besar, sehingga sulit untuk diawasi.

4. Teori Pembuktian Berdasarkan Undang Undang Secara Negatif (Negatief Wett elijk)

Teori pembuktian berdasarkan undang undang secara negatif (Negatief Wettelijk) merupakan suatu sistem pembuktian dimana pembuktian didasarkan pada peraturan perundang-undangan, sekuranb sekurangnya dengan dua alat b ukti yang sah, serta keyakinan hakim. Pada sistem ini, keyakinan hakim didas arkan pada peraturan perundang-undangan serta dua alat bukti yang sah ters ebut, karena hakim tidak boleh memidanakan seorang terdakwa sekurang kura ngnya dengan dua alat bukti yang sah sesuai peraturan perundang-undangan.

Selain itu, menurut Sumaryanto, Menyebutkan bahwa selain ke empat maca m pembuktian yang telah disebutkan di atas, terdapat juga sistem pembuktian yang lain, yaitu pembuktian terbalik. Sistem pembuktian terbalik merupakan siste m pembuktian dimana Terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana setelah diperkenankan hakim, namun hal ini tidak bersifat imperatif artinya apabila terdakwa tidak mempergunakan kesempatan ini justru memperkuat dugaan jaksa penuntut umum. (Timomor & Pangalila, 2022)

Kemudian, terdapat pula suatu sistem atau teori pembuktian yang lain, yait u sistem pembuktian bebas. Menurut teori ini, alat-alat dan cara pembuktian tidak ditentukan atau terikat dalam undang-undang tetapi teori ini mengakui adanya alat- alat bukti dan cara pembuktian, namun hakum dapat menentukan alat-alat bukti da

(29)

n cara pembuktian yang tidak diatur dalam undang - undang. Jadi dasar putusan ha kim bergantung atas keyakinan dan pendapatnya sendiri atau subjektif. (Timomor

& Pangalila, 2022)

Jadi perbedaan antara teori ini dengan teori pembuktian berdasar keyakinan hakim semata, yaitu pada teori pembuktian bebas masih diakui adanya alat-alat bukti dan cara pembuktian menurut undang-undang, tetapi teori pembuktian berd asar keyakinan hakim semata tidak mengakui adanya alat-alat bukti dan cara pe mbuktian sebagaimana diatur dalam undang - undang.

Teori sistem pembuktian memiliki keterkaitan dengan penelitian yang dilak ukan oleh penulis. Penelitian penulis membahas mengenai kekuatan dari suatu pembuktian, khususnya mengenai kekuatan dari keterangan saksi a de charge.

Hal ini, dapat diukur melalui aturan hukum yang mengatur mengenai alat bukti yan g sah. Selain itu keyakinan hakim untuk menilai suatu alat bukti juga bisa dijadikan tolak ukur untuk mengetahui kekuatan suatu alat bukti, khususnya saksi a de charg e. Beberapa cara untuk mengukur kekuatan keterangan saksi a de charge tersebut, akan menghasilkan kekuatan yang objektif dan subjektif. Jadi, dengan adanya syste m pembuktian, akan menjadikan suatu kekuatan yang pasti terhadap suatu alat bukti yang diajukan oleh terdakwa tindak pidana kecelakaan lalu lintas yang meng akibatkan orang lain meninggal dunia.

2.2.2 Teori Kemanfaatan Hukum

Gustav Radbruch, seorang filsuf hukum Jerman mengajarkan konsep tiga ide unsur dasar hukum yang oleh sebagian pakar sebagai tiga tujuan hukum. D engan perkataan lain, Tujuan hukum adalah keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Jadi, Kemanfaatan Hukum merupakan salah satu tujuan dari hukum. Dima na dengan adanya hukum,di tujukan untuk memberi manfaat pada masyarakat agar masyarakat bahagia dan sejahtera. Bekerjanya hukum dimasyarakat efektif atau tid ak dapat dinilai dari nilai kemanfaatan. Hukum berfungsi sebagai alat untuk memotret fenomena masyarakat atau realitasosial, Hukum dapat berperan dalam memberi manfaat atau berdaya guna (utility) bagi masyarakat. Penganut aliran utili tas menganggap bahwa tujuan hukum sematamata untuk memberikan kemanfaatan

(30)

atau kebahagiaan yang sebesar-besarnya bagi sebanyak- banyaknya/warga masyar akat. (Julyano & Sulistyawan, 2019)

Menurut Moho menerangkan bahwa terdapat tiga tujuan dari hukum, yaitu kepastian hukum, keadilan hukum, dan kemanfaatan hukum. Kemanfaatan dalam p enegakan hukum merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dalam mengukur keberhasilan penegakan hukum di Indonesia. (Moho, 2019) Menurut aliran Utilitari anisme,penegakan hukum mempunyai tujuan berdasarkan manfaat tertentu (teori manfaat atau teori tujuan), dan bukan hanya sekedar membalas perbuatan pembuat pidana, bukanlah sekedar untuk melakukan pembalasan atau pengimbalan kepada orang yang melakukan tindak pidana, tetapi mempunyai tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat. Kemanfaatan disini diartikan sebagai kebahagiaan (happiness).

Hukum yang baik adalah hukum yang memberikan kebahagiaan bagi banyak orang.

Semenmtara Sudikno Mertokusumo, yang dimaksud dengan kemanfaatan h ukum ialah asasnya setelah dipertimbangkan, keabsahan (rechmatigheid) tindakannya, kemudian dipertimbangkan manfaatnya (doelmatigheid). Disisi lain, J eremy Bentham menjelaskan hukum yang benar apabila dapat memberikan suatu k ebahagiaan bagi sebagian terbesar dari masyarakat dimana hukum itu berada (the g reatest happiness of the greatest number). Nilai kemanfaatan yang terdapat pada individu yang melahirkan kebahagiaan individual (happiness of individual) maupun masyarakat (happiness of community). Tujuan hukum sendiri diharapkan d apat memberikan kemanfaatan serta kebahagiaan bagi masyarakat sebanyak-banya knya dan sarana untuk bisa mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.

(Wicaksono, 2020)

Kemanfaatan hukum sangat penting, karena masyarakat mengharapkan manfaat dalam pelaksanaan atau penegakan hukum sesuai dengan tujuannya.

Hukum adalah untuk manusia, maka pelaksanaan hukum atau penegakan hukum h arus memberi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat jangan sampai justru karena hukumnya dilaksanakan atau ditegakkan timbul keresahan di dalam masyarakat.

(Sulardi & Wardoyo, 2015)

(31)

Teori kemanfaatan hukum memiliki keterkaitan dengan penelitian yang dila kukan oleh penulis. Hal ini karena keterangan saksi a de charge (saksi yang meringankan terdakwa) sudah secara jelas disebutkan dalam peraturan perundang - undangan. Kemudian bagaimana pelaksanaan dari ketentuan mengenai saksi a de c harge tersebut dapat sesuai dengan tujuan dari hukum itu sendiri, khususnya meng enai kemanfaatan dari hak terdakwa dalam mengajukan saksi a de charge. Apabi la kemanfaatan hukum tersebut dapat dirasakan oleh terdakwa, maka hal ini ak an berpengaruh terhadap kualitas kekuatan dari saksi a de charge itu sendiri, khususnya mengenai saksi a de charge yang diajukan oleh terdakwa tindak pidana kecelakaan lalu lintas yang mngakibatkan orang lain meninggal dunia.

Kemudian, kemanfaatan hukum ini khususnya mengenai pengajuan saksi a de charge juga sangat erat kaitannya dengan hakim dalam mempertimbangkan kete rangan saksi ini untuk memberi putusan terhadap terdakwa. Sebab pertimbangan h akim untuk sesuatu yang meringankan terdakwa, tidak hanya melihat dari keterang an saksi a de charge. Sehingga hal ini juga akan memengaruhi tingkat kemanfaatan saksi a de charge, khususnya yang diajukan oleh terdakwa tindak pidana kecelakaa n lalu lintas yang mngakibatkan orang lain meninggal dunia.

Tanpa adanya kemanfaatan dari suatu hukum, khususnya mengenai pengaju an saksi a de charge, tentunmya akan berdampak buruk bagi hukum itu sendiri. Ka rena tujuan hukum tidak tercapai. Selain itu juga akan berdampak buruk bagi pelaku tindak pidana yg mengajukan saksi a de charge, karena ia memiliki hak untuk mengajukan saksi a de charge, namun kemanfaatan tersebut tidak ada.

2.3 Landasan Konseptual 2.3.1 Hukum Acara Pidana A. Pengertian Hukum Acara Pidana

Mengenai hukum acara pidana sendiri, di Indonesia diatur dalam Undang- Undang No. 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana . Menurut Moeljatno, Hukum Acara Pidana merupakan bagian dari keseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara yang memberikan dasar-dasar dan aturan aturan yang menentukan de ngan cara danprosedur macam apa ancaman pidana yang ada pada suatu perbuatan

(32)

pidana dapatdilaksanakan apabila ada sangkaan bahwa orang telah melakukan del ik tersebut. (Purwoleksono, 2015)

Sedangkan menurut Van Bemellen, hukum acara pidana yaitu kumpulan ke tetapan hukum yang mengatur negara terhadap adanya dugaan terjadinya pelangga ran pidana, dan untuk mencari kebenaran melalui alat- alatnya dengan cara diperiksa di persidangan dan diputus oleh hakim dengan menjalankan putusan terse but. (Rahmad, 2019)

B. Tahap – Tahap Dalam Hukum Acara Pidana

Secara garis besar, tahap–tahap dalam hukum acara pidana dibedakan menj adi 3 (tiga) bagian, yaitu : penyelidikan, penuntutan, dan persidangan. Tahap tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses acara pidana yang kemudian dihasilkan suatu penjatuhan pidana oleh hakim. Hal ini dila kukan oleh penegak hukum yang berbeda beda, penyelidikan dilakukan oleh kepol isian, penuntutan dilakukan oleh kejaksaan, dan persidangan dilakukan oleh penga dilan.

a. Penyelidikan dan Penyidikan

Menurut Pasal 1 angka 5 KUHAP, disebutkan bahwa Penyelidikan adal ah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu perist iwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Proses p enyelidikan lebih dikategorikan sebagai tindakan pengusutan sebagai usaha menca ri dan menemukan jejak berupa keterangan dan bukti-bukti sesuatu peristiwa yang diduga merupakan tindak pidana. (Suyanto, 2018)

Penyelidikan dilakukan oleh seorang penyelidik, sebagaimana disebutkan dalam pasal 1 angka 4 KUHAP Penyelidik adalah pejabat polisi negara Republik I ndonesia yang diberi wewenang olehundang- undang ini untuk melakukan penyeli dikan. Selain itu disebutkan juga dalam Pasal 4 KUHAP yang menyebutkan bahwa Penyelidik adalah setiap pejabat polisi negara Republik Indonesia. Adapun wewen ang dari seorang penyelidik menurut Pasal 1 ayat (5) KUHAP yaitu:

(33)

- menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana;

- mencari keterangan dan barangbukti;

- menyuruh berhenti seorang yang dicurigai dan menanyakan serta meme riksa tanda pengenaldiri;

- mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

Selain yang telah disebutkan tersebut di atas, atas perintah penyidik seorang penyelidik juga dapat melakukan tindakan lain sebagaimana disebutkan dalam Pa sal 5 ayat (1) huruf b, yaitu :

- penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan penah anan;

- pemeriksaan dan penyitaan surat;

- mengambil sidik jari dan memotret seorang;

- membawa dan menghadapkan seorang pada penyidik.

Apabila tindakan sebagaimana tersebut di atas telah selesai dilakukan ol eh Penyelidik, maka penyelidik membuat dan menyampaikan laporan penyelidikan kepada penyidik, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 5 ayat (2) KUHAP.

Menurut Pasa l1 angka 2 KUHAP disebutkan bahwa Penyidikan adalah ser angkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut carayang diatur dalam undang -undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangk anya.

Penyidikan ini dilakukan oleh seorang Penyidik. Berdasarkan Pasal 1 ang ka 1 KUHAP, dijelaskan bahwa Penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan.

Penyidik mempunyai wewenang sebagaimana disebutkan dalam Pasal 7 ay at (1) KUHAP diantaranya yaitu :

(34)

- menerima-laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana; melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian;

- menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka ;melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan;

- melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;

- mengambil sidik jari dan memotret seorang;

- memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau s aksi;

- mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan p emeriksaan perkara;

- mengadakan penghentian penyidikan;

- mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

Pada proses penyidikan ini, penyidik membuat berita acara untuk setiap tin dakan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 75 ayat (1) KUHAP, yaitu : pemeriksa an tersangka, penangkapan, penahanan, penggeledahan, pemasukan rumah, penyit aan benda, pemeriksaan surat, pemeriksaan saksi, pemeriksaan di tempat kejadian, pelaksanaan penetapan dan putusan pengadilan, pelaksanaan tindakan lain sesuai dengan ketentuan dalam undang – undang ini.

Kemudian berkas perkara tersebut oleh penyidik diserahkan kepada penun tut umum sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 8 ayat (2) KUHAP. Penyerahan ke pada penuntut umum pada tahap pertama ini hanya berkas perkaranya saja. Apabil a penyidikan sudah dianggap selesai, penyidik menyerahkan tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti kepada penuntut umum. Hal ini sebagaimana dijelaska n dalam Pasal 8 ayat (3) KUHAP.

b. Penuntutan

Berdasarkan pasal 1 angka 7 Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, dijelaskan bahwa Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang

(35)

dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di siding pengadilan.

Penuntutan ini dilakukan oleh penuntut umum. Berdasarkan Pasal 1 angka 6 huruf b, dijelaskan bahwa Penuntut umum adalah jaksa yang diberi wewenang o leh undang-undang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.

Sebelum dilakukan penuntutan, perlu dilakukan adanya pra- penuntutan. P ra penuntutan ini secara tidak langsung disebutkan dalam Pasal 14 huruf b KUHA P bahwa salah satu wewenang penuntut umum yaitu mengadakan prapenuntutan apabila ada kekurangan pada penyidikan dengan memperhatikan ketentuan Pasal 110 ayat (3) dan ayat (4), dengan memberi petunjuk dalam rangka penyempurnaan penyidikan dari penyidik. Jadi, pra-penuntutan ini dilakukan oleh penuntut umum karena menganggap bahwa hasil dari penyidikan kurang lengkap.

Melihat ketentuan dalam pasal 110 ayat (3) KUHAP, yang menerangkan b ahwa penyidik wajib melakukan penyidikan tambahan untuk melengkapi hasil pen yidikan sesuai petunjuk penuntut umum apabila penuntut umum mengembalikan h asil penyidikan kepadap penyidik.

Kemudian, jangka waktu penuntut umum untuk mengembalikan hasil penyididkan ke penyidik yaitu selama 14 hari sejak hasil penyidikan diserahkan ke penuntut umum. Jika dalam jangka waktu tersebut hasil penyidikan tidak dikemba likan, maka proses penyidikan dianggap telah selesai. Ketentuan tersebut secara jel as disebutkan dalam Pasal 110 ayat (4) KUHAP.

Setelah hasil penyididkan dianggap sudah lengkap, maka penuntut umum h arus dengan segera menentukan apakah berkas perkara tersebut sudah memenuhi p ersyaratan untuk dilimpahkan ke pengadilan. Jika penuntut umum telah berpendap at bahwa hasil dari penyidikan dapat dilakukan penuntutan, dengan segera mungk in penuntut umum membuat suart dakwaan. Hal sebagaimana diatur dalam pasal 139 dan 140 KUHAP. Hal ini penting karena surat dakwaan merupakan bagian ya

(36)

ng fundamental dalam hukum acara pidana, sebab berdasarkan surat dakwaan sese orang akan diperiksa, diadili di muka sidang pengadilan. (Purwoleksono, 2015) c. Persidangan

Setelah proses penuntutan telah selesai, proses dalam hukum acara pidana s elanjutnya adalah persidangan. Terdapat beberapa jenis persidangan atau acara pemeriksaan perkara dalam hukum acara pidana, diantaranya yaitu :

1. Acara Pemeriksaan Biasa

Menurut Efendi, acara pemeriksaan biasa merupakan proses acara yang ter utama dalam acara pidana, biasanya perkara yang dilakukan dengan acara biasa in i merupakan perkara pidana dengan pidana 5 tahun atau lebih atau perkara pidana yang membutuhkan pembuktian yang cermat dan teliti. (Rizal, 2021) Acara pemer iksaan biasa diatur dalam Pasal 152-202 KUHAP yaitu tindak pidana yang diperiksa dengan acara pemeriksaan biasa adalah tindak pidana yang pembuktia nnya mudah serta penerapan hukumnya tidak mudah serta melawan hukumnya tidak sederhana. (Rahmad, 2019)

2. Acara Pemeriksaan Singkat

Pemeriksaan acara singkat merupakan pemeriksaan sebagaimana yang diatur dalam pasal 203 ayat (1) KUHAP yang menyatakan bahwa Yang diperiksa menurut acara pemeriksaan singkatialah perkara kejahatan atau pelanggaran yang tidak termasuk ketentuan Pasal 205 dan yang menurut penuntut umum pembuktian serta penerapan hukumnya mudah dan sifatnya sederhana.

3 Acara Pemeriksaan Cepat

Pemeriksaan acara cepat ini dibagi menjadi dua, yaitu untuk tindak pidana ringan dan pelanggaran lalu lintas. Untuk acara tindak pidana ringan dijelaskan Se bagaimana dalam pasal 205 ayat (1) KUHAP yang berbunyi Yang diperiksa menurut acara pemeriksana tindak pidana ringan ialah perkara yang diancam de ngan pidana penjara atau kurungan paling lama tiga bulan dan atau denda seban yak-banyaknya tujuh ribu lima ratus rupiah dan penghinaan ringan kecuali yang

(37)

ditentukan dalam Paragraf 2 Bagian ini. Sementara acara pidana mengenai peangg aran lalu lintas dijelaskan sebagaimana Pasal 211 KUHAP yang menyebutkan bah wa Yang diperiksa menurut acara pemeriksaan pada Paragraf ini ialah perkara pelanggaran tertentu terhadap peraturan perundang-undangan lalu lintas jalan.

Andi Hamzah, mengatakan bahwa secara umum urutan persidangan dalam hukum acara pidana yaitu : (Hamzah, 2016)

a. Sidang dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum (kecuali perkara tertentu dinyatakan tertutup untuk umum);

b. Penuntut Umum diperintahkan untuk menghadapkan terdakwa ke d epan persidangan dalam keadaan bebas;

c. Terdakwa ditanyakan identitasnya dan ditanya apakah sudah meneri ma salinan surat dakwaan;

d. Terdakwa ditanya pula apakah dalam keadaan sehat dan bersedia untuk diperiksa di depan persidangan (kalau bersedia siding dila njutkan);

e. Terdakwa ditanyakan apakah akan didampingi oleh Penasihat Hukum (apabila didampingi apakah akan membawa sendiri, kalau tidak membawa sendiri akan ditunjuk PH oleh Majelis Hakim dalam hal terdakwa diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih/P asal 56 KUHAP ayat (1);

f. Dilanjutkan pembacaan surat dakwaan;

g. Atas pembacaan surat dakwaan tadi terdakwa (PH) ditanya akan mengajukan eksepsi atautidak;

h. Dalam terdakwa/PH mengajukan eksepsi maka diberi kesempat an dan siding ditunda;

i. Apabila ada eksepsi dilanjutkan tanggapan JPU atas eksepsi (replik);

j. Selanjutnya dibacakan putusan sela oleh Majelis Hakim;

k. Apabila eksepsi ditolak dilanjutkan pemeriksaan pokok perkara (pembuktian) l. Pemeriksaan saksi-saksi yang diajukan oleh PU (dim ulai dari saksi korban);

(38)

l. Dilanjutkan saksi lainnya;

m. Apabila ada saksi yang meringankan diperiksa n. Pemeriksaan terhadap terdakwa;

o. Tuntutan (requisitoir);

p. Pembelaan(pledoi)

q. Replik dari PenuntutUmum;

r. Duplik

s. Putusan oleh Majelis Hakim 2.3.2 Barang Bukti dan Alat Bukti

Pembuktian dalam hukum acara pidana merupakan bagian yang fundamental atau penting, karena bertujuan untuk membuktikan kebenaran secara materil, yaitu kejadian yang sesungguhnya terjadi. Sehingga hakim dalam mencari kebenaran materil ini harus membuktikan peristiwa yang terjadi / beyond reasonable doubt. (Lubis, 2020) Pengertian lain menyebutkan bahwa pembuktian adalah ketentuan- ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-ca ra yang dibenarkan undang-undang untuk membuktikan kesalahan yang didakwak an kepada terdakwa, sehingga dapat membuktikan bersalah tidaknya seseorang melakukan tindak pidana. (Nirboyo et al., 2021)

Pembuktian ini sangan erat kaitannya dengan barang bukti dan alat bukti, k arena dengan keduanya dapat membantu hakim untuk membuktikan kebenaransua tu peristiwa pidana. Mengenai barang bukti itu sendiri diatur dalam Pasal 39 ayat (1) yang menyebutkan bahwa sesuatu yang dapat dikenakan penyitaan yaitu:

a. benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana.

b. benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan t indak pidana atau untuk mempersiapkannya.

c. benda yang dipergunakan untuk menghalang-halangi penyidikan tindak pidana.

d. benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindakpidana.

(39)

e. Benda lain yang mempunyai hubungan lansung dengan tindak pidana yang dilakukan.

Selanjutnya yaitu alat bukti, alat bukti dalam hukum acara pidana juga sang at fundamental. Hal ini karena berkaitan dengan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa. Seorang hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada terdakwa kecuali sekurang–kurang dua alat bukti yang sah.Sehingga dengan alat bukti tersebut memperoleh keyakinan hakim bahwa suatu tindak pidana benar-ben ar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya, sebagaimana tela h dijelaskan dalam Pasal 183 KUHAP.

Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa alat bukti yang digunakan hakim untuk menjatuhkan pidana terhadap terdakwa harus alat bukti yang sah.

Adapun yang dapat dijadikan alat bukti yang sah sebagaimana disebutkan dalam P asal 184 KUHAP yaitu:

a. Keterangan saksi b. keterangan ahli c. surat

d. petunjuk

e. keterangan terdakwa.

2.3.3 Keterangan Saksi

Salah satu alat bukti yang sering digunakan oleh jaksa penuntut umum dan t erdakwa dalam membuktikan suatu perkara pidana adalah keterangan saksi. Ketera ngan saksi sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 angka 27 KUHAP menerangkan bahwa keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang b erupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri,ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu. Keterangan saksi tersebut diperoleh dari seorang saksi. Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia

(40)

dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri. Hal tersebut berdasarkan Pasa l 1 angka 26 KUHAP.

Saksi sendiri terdari dari beberapa macam, secara umum saksi dibedakan menjadi 2 (dua) sebagaimana dijelaskan dalam KUHAP, yaitu saksi biasa dan saksi ahli. Saksi biasa adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepe ntingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri (Pasal 1 angka 26 KUHAP). Se dangkan saksi ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki k eahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perka ra pidana guna kepentingan pemeriksaan (Pasal 1 angka 28 KUHAP).

Selain yang telah disebutkan tersebut diatas, saksi juga dibedakan berdasar kan status dalam tindak pidana yaitu : (Remincel, 2019)

a. Saksi A DeCharge

Saksi A De Charge merupakan saksi yang diajukan Terdakwa, dengan hara pan dapat memberikan keterangan yang menguntungakan atau meringankan bagi dirinya sendiri. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Pasal 65 KUHAP yang berb unyi:

Tersangka atau terdakwa berhak untuk mengusahakan dan mengajukan sa ksi dan atau seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi dirinya.

Selain itu, disebutkan juga dalam Pasal 116 ayat (3) KUHAP yang berbuny i:

Dalam pemeriksaan tersangka ditanya apakah ia menghendaki didengarny a saksi yang dapat menguntungkan baginya dan bilamana ada maka hal itu dicatat dalam berita acara.

b. Saksi A Charge (Saksi yang memberatkan terdakwa)

(41)

Saksi A Charge adalah saksi yang memberatkan terdakwa. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 160ayat (1) KUHAP yang berbunyi;

a. Saksi dipanggil ke dalam ruang siding seorang demi seorang menurut urutan yang dipandang sebaik-baiknya oleh hakim ketua sidang setelah mendengar pendapat penuntut umum, terdakwa atau p enasihathukum;

b. Yang pertama-tama didengar keterangannya adalah korban yang menjadisaksi;

c. Dalam hal ada saksi baik yang menguntungkan maupun yang membe ratkan terdakwa yang tercantum dalam surat pelimpahan perkara dan atau yang diminta oleh terdakwa atau penasihat hukum atau pe nuntut umum selama berlangsungnya sidang atau sebelum dijatuhkannyaputusan, hakim ketua sidang wajib mendengar keterangan saksi tersebut

c. Saksi De Auditu

Saksi De Auditu adalah saksi yang bukan menyaksikan dan mengalami sendiri, tetapi hanya mendengar dari orang lain. Saksi ini hanya untuk memperkua t keterangan saksi dari korban.

d. Saksi Mahkota

Saksi mahkota adalah saksi yang diambil dari salah seorang tersangka/ter dakwa dan kepadanya diberikan suatu mahkota.

Agar keterangan saksi dapat sha untuk dijadikan sebagai alat bukti, maka s eorang saksi harus memenuhi beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Adapun p ersyaratan menjadi saksi ada 2, yaitu: (Lubis, 2020)

a. Syarat Formil

Syarat formil ini menyaratkan bahwa seorang saksi dalam memberikan ket erangannya harus terlebih dahulu mengucapkan sumpah sesuai dengan agamanya masing -masing dan bahwa ia akan memberikan keterangan sebenarnya dan tidak

(42)

lain dari pada yang sebenarnya. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam Pa sal 160 ayat (3) KUHAP).

Terdapat pengecualian mengenai keharusan sumpah yang diucapkan oleh s aksi. Sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 185 ayat (7) yang menyatakan ba hwa Keterangan dari saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu dengan yang lain, tidak merupakan alat bukti, namun apabila keterangan itu sesuai dengan keterangan dari saksi yang disumpah dapat dipergunakan sebagai tambahan alat bukti sah yanglain.

b. Syarat Materil

Syarat materil ini menyaratkan bahwa seorang saksi dapat diambil keterang annya apabila memenuhi syarat sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 1 an gka 26 KUHAP, yang menerangkan bahwa seorang saksi dalam memberi keterang annya harus berdasarkan mengenai apa yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri.

Keterangan saksi dapat menjadi alat bukti yang sah apabila apa yang s aksi yatakan dinyatakan di siding pengadilan. Hal ini sebagaimana disebutkan dala m Pasal 185 ayat (1) KUHAP. Namun, tidak semua orang dapat dijadikan sebagai saksi untuk diambil keterangannya. Sebagaimana Pasal 168 KUHAP menyebutkan bahwa:

“Kecual iditentukan lain dalam undang-undang ini, maka tidak dapat didengar ke terangannya dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi:

a. Keluarga sedarah atau semanda dalam garis lurus ke atas atau kebawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama- sama sebagai terdakwa;

b. saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena parkawinan dan anak-anak saudara terdakwa sampai derajatketiga;

(43)

c. suami atau isteri terdakwa maupun sudah bercerai atau yang bersam a- sama sebagai terdakwa”

Sedangkan berdasarkan Pasal 170 ayat (1) KUHAP ditentukan bahwa mere ka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk memberikan keterangan. N amun alasan untuk dibebaskan dari kewajiban memeberikan keterangan, hakim lah yang menentukan sah atau tidaknya alasan untuk permintaan alasan tersebut. Hal i ni sebagaimana Pasal 170 ayat (2) KUHAP.

2.3.4 Kecelakaan Lalu Lintas

Menurut Pasal 1 angka 24 UU No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan disebutkan bahwa Kecelakaan Lalu Lintas adalah suatu peristiwa di Jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan Kendaraan dengan atau tanpa Pengguna Jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau ke rugian harta benda.

Penjatuhan pidana dapat dikenakan terhadap pelaku kecelakaan lalu lintas.

Hal ini karena kecelakaan lalu lintas dapat mengakibatkan korban terhadap manusia ataupun kerugian harta benda. Terdapat beberapa penjatuhan pidana yang dapat dikenakan terhadap pelaku kecelakaan lalu lintas berdasarkan UU No.

22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Adapun penjatuhan pidan anya ditentukan dalam Pasal 310 dan 311 UU No. 22 Tahun 2009 Tentang La lu Lintas dan Angkutan Jalan.

Pasal 310

(1) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena ke lalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu jutarupiah).

(44)

(2) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena ke lalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban lu ka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah).

(3) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena ke lalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban lu ka berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).

(4) Dalam hal kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).

Pasal 311

(1) Setiap orang yang dengan sengaja mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan cara atau keadaan yang membahayakan bagi nyawa atau barang dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah).

(2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakiba tkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), pelaku dip idana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp4.000.000,00 (empat jutarupiah).

(3) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakiba tkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan dan kerusak an Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal

(45)

229 ayat (3), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak Rp8.000.000,00 (delapan jutarupiah).

(4) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka berat se bagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), pelaku dipidana den gan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda palin g banyak Rp20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah).

(5) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) mengakiba tkan orang lain meninggal dunia, pelaku dipidana dengan pidana pe njara paling lama 12 (dua belas) tahun atau denda paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah)

(46)

2.4 Kerangka Berfikir

Bagan BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN.1 Kerangka Berfikir

(47)

3BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan suatu cara untuk mendapatkan data secara ilmiah dengan tujuan dan kegunaan tertentu. (Sugiyono, 2015) “Data” dalam hal ini hal ini harus valid dan dapat diujji keabsahan dan kredibilitasnya. Kemudian data tersebut harus dilakukan “secara ilmiah”, artinya penelitian disandarkan pada keilmuan yang rasional, empiris dan sistematis. Selanjutnya, tujuan dari suatu penelitian sangat erat kaitannya dengan adanya suatu penemuan, pembuktian, dan pengembangan. Pada dasarnya penemuan dalam hal ini yaitu bahwa suatu penelitian yang dilakukan merupakan suatu penelitian yang menghasilkan data data yang baru, yang dapat dibuktikan kebenaranyya.

Adapun mengenai metode penelitian yang penulis gunakan untuk membahas mengenai keterangan saksi a de charge sebagai alat bukti terhadap kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia adalah sebagai berikut :

3.1 Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan penelitian kualitatif adalah penelitian yang menitik beratkan kegiatan penelitian ilmiahnya dengan jalan penguraian dan pemahaman terhadap gelaja-gelaja sosial yang diamatinya. Pemahaman bukan saja dari sudut pandang peneliti tetapi lebih mementingkan gelaja dan fakta yang diamati berdasarkan sudut pandang subjek yang diteliti. (Ahyar et al., 2020)

Pengertian lain mengatakan bahwa pendekatan kualitatif merupakan penelitian yang menekankan pada masalah-masalah dalam kehidupan sosial berdasarkan kondisi realitas, kompleks dan rinci yang ada di lapangan.

(Erwinsyahbana & Ramlan, 2016) Jadi, dapat dikatakan bahwa pendekatan kualitatif merupakan suatu pendekatan dalam penelitian yang menitikberatkan pada permasalahan atau fakta sosial yang ada di lapangan / masyarakat.

Gambar

Tabel BAB I PENDAHULUAN.1 Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas
Tabel BAB I PENDAHULUAN.2 Putusan Pengadilan Negeri Purbalingga Kasus Kecelakaan Lalu Lintas Tahun 2017 - 2021.
Tabel BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.3 Keterangan saksi a de charge tentang hubungan kekeluargaan
Tabel BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.4 keterangan saksi a de charge tentang sesuatu yang dilihat, didengar, dan dialami
+6

Referensi

Dokumen terkait

PERLINDUNGAN HUKUM OLEH POLISI TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU DALAM KECELAKAAN LALU LINTAS YANG MENGAKIBATKAN

Skripsi ini membahas tentang bagaimanakah penerapan hukum pembuktian dalam hukum acara pidana, bagaimanakah kedudukan keterangan saksi sebgaai alat bukti dalam KUHAP, dan

Saksi a charge atau saksi yang memberatkan dalam hal ini termasuk saksi korban merupakan salah satu alat bukti yang utama di dalam pembuktian peradilan pidana.

Perbuatan pidana yang dilakukan oleh anak tersebut adalah kecelakaan lalu lintas, belum memenuhi syarat untuk mengemudikan kendaraan bermotor serta mengakibatkan

Bahwa karena nilai dan kekuatan keterangan saksi sebagai salah satu alat bukti utama mempunyai peranan dalam mengungkap terjadinya suatu tindak pidana, maka

Oleh karena itu, supaya tidak menimbulkan pro dan kontra di masa yang akan datang, maka regulasi mengenai keterangan saksi melalui teleconference sebagai alat bukti dalam

Sumaryanto, Penyidik kecelakaan Lalu lintas Kepolisian Kota Besar Yogyakarta yang telah meluangkan waktunya untuk menjadi Nara Sumber dalam penelitian dan telah

1) Pengaturan alat bukti dalam hukum positif diatur pada Pasal 184 Undang- Undang Nomor 8 tahun 1981 Tentang Kitab Hukum Acara Pidana yaitu keterangan saksi, keterangan