• Tidak ada hasil yang ditemukan

Klasifikasi Histologis Kanker Paru

N/A
N/A
Afifah Farras Hasalia

Academic year: 2025

Membagikan "Klasifikasi Histologis Kanker Paru"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

(2)

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

(3)

v

(4)

DAFTAR SINGKATAN

: : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : :

DAFTAR LAMPIRAN

(5)
(6)
(7)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana hasil Radiologi pada pasien yang dicurigai kanker paru di RSUD X?

2. Bagaimana hasil CT Scan Toraks dengan kontras pada pasien yang dicurigai kanker paru di RSUD X?

3. Bagaimana hasil uji Bronkoskopi pada pasien yang dicurigai kanker paru di RSUD X?

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

1. Menganalisis hasil Radiologi dan Bronkoskopi dalam mendiagnosis Kanker Paru di RSUD X untuk meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi Karakteristik responden berdasarkan usia dan jenis kelamin 2. Mengidentifikasi Karakteristik usia berdasarkan Hasil Radiologi dan

bronkoskopi

3. Mengidentifikasi Karakterisitik Jenis kelamin berdasarkan hasil Radiologi dan Bronkoskopi

4. Mengidentifikasi Hasil Radiologi (rontgen Toraks dan CT Scan ) dalam mendiagnosis Kanker Paru

5. Mengidentifikasi Hasil Bronkoskopi dalam mendiagnosis Kanker Paru 6. Mengevaluasi hasil patologi anatomi dari spesimen yang diambil melalui

bronkoskopi pada pasien yang dicurigai kanker paru di RSUD X.

1.4. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

a. Memberikan kontribusi ilmiah dalam pengembangan algoritma diagnosis kanker paru yang lebih akurat dan efisien.

(8)

b. Memperkaya literatur terkait Hasil Radiologis dan Bronkoskopi dalam diagnosis kanker Paru, khususnya dalam konteks populasi Indonesia\

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Institusi (RSUD X):

- Meningkatkan akurasi diagnosis kanker paru di RSUD X.

- Mengoptimalkan penggunaan modalitas diagnostik (CT Scan toraks , bronkoskopi, dan patologi anatomi) dalam penanganan pasien kanker paru.

- Meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan terkait diagnosis kanker Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan algoritma diagnosis kanker paru yang lebih akurat dan efisien, serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di tingkat rumah sakit daerah.

b. Bagi Tenaga Medis:

- Memberikan panduan dalam interpretasi hasil radiologis dan bronkoskopi dalam kaitannya dengan hasil patologi anatomi.

- Meningkatkan kepercayaan diri dalam pengambilan keputusan klinis terkait diagnosis kanker paru.

c. Bagi Pasien:

- Meningkatkan akurasi dan kecepatan diagnosis, sehingga dapat mempercepat inisiasi pengobatan yang tepat.

- Mengurangi risiko prosedur diagnostik yang tidak perlu atau berlebihan.

3. Manfaat bagi Penelitian Selanjutnya:

a. Menyediakan data dasar untuk pengembangan penelitian lebih lanjut terkait optimalisasi diagnosis kanker paru.

b. Membuka peluang untuk penelitian kolaboratif antara bidang radiologi, pulmonologi, dan patologi anatomi dalam penanganan kanker paru.

BAB II

(9)

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kanker Paru

2.1.1 Definisi dan Epidemiologi

Kanker paru adalah semua penyakit keganasan di paru, mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri (primer). Dalam pengertian klinik yang dimaksud dengan kanker paru primer adalah tumor ganas yang berasal dari epitel bronkus (karsinoma bronkus = bronchogenic carcinoma).1 Kanker paru merupakan kanker yang sulit dideteksi, tidak seperti kanker payudara yang dapat dideteksi dini dengan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) maupun kanker serviks yang dapat dideteksi dengan Papsmear. Hingga saat ini belum ada metode skrining untuk kanker paru pada masyarakat umum. 2

Kanker paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru, mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri (primer) maupun keganasan dari luar paru (metastasis). Dalam pengertian klinis yang dimaksud dengan kanker paru primer adalah tumor ganas yang berasal dari epitel bronkus (karsinoma bronkus). Kanker paru merupakan penyebab utama kematian akibat keganasan di dunia.3

Kanker paru-paru terus meningkat secara global dan merupakan penyebab kematian akibat kanker yang paling umum. Di Amerika Serikat, meskipun angka kejadian, kematian dan kelangsungan hidup kanker paru-paru menujukkan perbaikan, risiko perkembangan dan hasil akhir penyakit tetap bervariasi berdasarkan usia, jenis kelamin, ras dan status sosial ekonomi.4

2.1.2 Faktor Risiko

Faktor risiko merupakan sesuatu yang meningkatkan risiko terkena kanker paru, bisa karena perilaku, kondisi, atau substansi . Seperti umumnya kanker yang lain, penyebab yang pasti dari kanker paru belum diketahui, sebagian besar kanker paru-paru terjadi tanpa gejala. Kanker paru-paru merupakan penyakit dengan ciri khas adanya pertumbuhan sel yang tidak terkontrol pada jaringan paru-paru. Bila tidak dirawat, pertumbuhan sel ini dapat menyebar ke luar dari paru- paru. Jika tidak ditanggapi dengan serius, akan dipastikan penderita kanker paru semakin lama akan semakin bertambah. Faktor-faktor risiko yang mempengaruhi kanker

(10)

paru-paru adalah umur, jenis kelamin, konsumsi rokok, riwayat penyakit paru, riwayat keluarga, dan jenis pekerjaan.5

Seorang perokok aktif mempunyai risiko untuk terkena kanker paru-paru 20 kali lebih besar daripada perokok pasif atau bukan perokok. Selain rokok sebagai faktor risiko utama, faktor risiko kanker paru lainnya yaitu paparan lingkungan terhadap bahan kimia karsinogenik seperti polusi udara (asap bakaran dan asap kendaraan) termasuk secondhand dan thirdhand smoker yang terpapar asap rokok dari lingkungan sekitarnya. Selain itu, faktor genetik, asupan diet, dan infeksi saluran napas berperan dalam 10-15% kasus kanker paru.6

2.1.3 Patofisiologi

2.1.4 Klasifikasi Histologis

2.2. Diagnosis Kanker Paru 2.2.1. Gejala Klinis

Gejala klinis yang paling sering dialami pasien kanker paru primer adalah sesak napas (59,1%). Gejala klinis yang timbul merupakan manifestasi dari perkembangan kanker paru primer yang dapat menginvasi daerah sekitarnya sehingga dapat bervariasi antara pasien satu dengan yang lainnya.7

Manifestasi klinis yang dapat ditemukan antara lain sesak nafas, batuk, nyeri dada, nyeri tulang belakang, hemoptisis, anoreksia, penurunan berat badan yang signifikan, lemah badan, dan obstruksi vena cava. Pembagian praktis berdasarkan hasil histopatologik terdiri atas small cell lung cancer (SCLC) dan non small cell lung cancer (NSCLC) yang terbagi atas karsinoma sel skuamosa, adenokarsinoma, karsi- noma bronkoalveolar dan karsinoma sel besar.3

2.2.2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik mencakup tampilan umum (performance status) penderita yang menurun, penemuan abnormal terutama pada pemeriksaan fisik paru benjolan leher, ketiak atau dinding dada, tanda pembesaran hepar atau tanda

(11)

asites, nyeri ketok di tulang. Pada pemeriksaan fisik, tanda yang dapat ditemukan pada kanker paru dapat bervariasi tergantung pada letak, besar tumor dan penyebarannya. Pembesaran kelenjar getah bening (KGB) supraklavikula, leher dan aksila menandakan telah terjadi penyebaran ke KGB atau tumor di dinding dada, kepala atau lokasi lain juga menjadi petanda penyebaran. Sesak napas dengan temuan suara napas yang abnormal pada pemeriksaan fisik yang didapat jika terdapat massa yang besar, efusi pleura atau atelektasis. 1

Venektasi (pelebaran vena) di dinding dada dengan pembengkakan (edema) wajah, leher dan lengan berkaitan dengan bendungan pada vena kava superior (SVKS). Sindroma Horner sering terjadi pada tumor yang terletak si apeks (pancoast tumor). Thrombus pada vena ekstremitas ditandai dengan edema disertai nyeri pada anggota gerak dan gangguan sistem hemostatis (peningkatan kadar D-dimer) menjadi gejala telah terjadinya bendungan vena dalam (DVT).

Tanda- tanda patah tulang patologik dapat terjadi pada kanker yang bermetastasis ke tulang. Tanda-tanda gangguan neurologis akan didapat jika kanker sudah menyebar ke otak atau tulang belakang.1

2.2.3 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kanker paru antara lain pemeriksaan laboratorium, radiologi, trans thoracal biopsy (TTB), fine needle aspiration biopsy (FNAB), dan pemeriksaan histopatologik.3 Selain itu, adapaun pemeriksaan penunjang lainnya yang dibutuhkan dalam penegakkan diagnosis kanker paru adalah: 8

1. Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan radiologi seperti rontgen thorax dengan pengambilan gambar secara posteroanterior (PA) atau anteroposterior (AP) merupakan pemeriksaan utama yang harus dilakukan pada pasien yang dicurigai dengan kanker paru. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui lokasi tumor dan penuntun untuk melakukan tindakan selanjutnya (Kemenkes, 2023). Apabila pada rontgen thorax dicurigai adanya keganasan maka pemeriksaan dilanjutkan dengan computed tomography (CT)-scan thorax dengan kontras yang bertujuan untuk mengevaluasi lesi tersebut. CT-scan thorax merupakan

(12)

pemeriksaan yang dapat mendiagnosis dan menentukan stage dan segmen paru yang terlibat secara tepat .

2. Computed Tomography (CT)-scan

Pemeriksaan yang digunakan untuk membantu mendiagnosis kelainan pada paru. Indikasi CT-scan yaitu untuk menentukan stadium kanker paru, nodul paru, massa, penyakit paru infiltratif, pelebaran mediastinum, dan massa pada mediastinum. CT-scan merupakan modalitas untuk mendiagnosis dan mengevaluasi kecurigaan tumor pada paru . CT-scan dilakukan dari supraklavikula hingga suprarenal yang bertujuan untuk menilai tumor primer pada paru, tumor sentral dengan atelektasis, invasi dinding dada, mediastinum, dan keterlibatan kelenjar limfonodi regional untuk menilai adanya kemungkinan metastasis pada paru kontralateral, hepar, kelenjar adrenal, vertebra torakal, efusi pleura maupun efusi perikardium .Pemeriksaan ultrasonography (USG) pada abdomen dapat juga dilakukan untuk menentukan stage tumor paru ganas dan mengevaluasi metastasis pada intraabdomen. USG pada thorax dapat mengidentifikasi adanya efusi pleura dan menjadi marker untuk tindakan biopsi.

3. Pemeriksaan Endobrachial Ultrasound (EBUS)

Membantu penilaian kelenjar getah bening, mediastinal, hilus, intrapulmoner, penilaian lesi perifer, dan saluran pernapasan. Pada pemeriksaan ini dapat juga dilakukan untuk mendapatkan jaringan sitologi dan histopatologi pada kelenjar getah bening yang sedang dinilai pada CT- scan (Komite Penanggulangan Kanker Nasional, 2015). Pemeriksaan radiologi dapat menunjukkan gambaran paru meliputi lokasi dan gambaran nodul paru. Lokasi kanker paru dibedakan menjadi sentral dan perifer. Lokasi sentral menunjukkan lokasi tumor berada pada daerah bronkus, sedangkan lokasi perifer menunjukkan lokasi tumor berada pada daerah non-bronkus yaitu pada lobus superior, lobus medial, atau lobus inferior . Gambaran nodul pada paru dapat bersifat soliter dan multipel. Pada parenkim paru nodul soliter maupun multipel cenderung berada pada bagian perifer yang menyebar secara hematogen. Nodul multipel sering ditemukan secara bilateral, berbatas

(13)

tegas, dan ukuran yang beragam. Lobus medial dan lobus inferior lebih sering mengalami nodul multipel karena bagian ini mendapat aliran darah yang lebih besar. Pemeriksaan radiologi seperti rontgen thorax dapat mendeteksi lesi soliter maupun multipel pada bagian pleura, apeks, sudut kostofrenikus, dan menilai limfadenopati mediastinal. Pola radiologi juga dapat memperkiran asal tumor primer (Amin, 2014).

4. Pemeriksaaan Imunohistokimia (IHK)

Pemeriksaan ini dilakukan sebagai lanjutan dari pemeriksaan sitologi maupun histopatologi yang belum dapat menjelaskan diagnosis penyakit.

Pemeriksaan ini menggunakan prinsip reaksi antigen dan antibodi.

Pemeriksaan imunohistokimia dapat membantu penegakkan diagnostik maupun terapi target dan imunoterapi (Kemenkes, 2023).

2.3 Modalitas Diagnostik Kanker Paru 2.3.1 Pencitraan Radiologis

2.3.1.1 Rontgen Thorax

2.3.1.2 CT Scan Thorax (Gambar CT scan dg posisi axial, sagital , coronal menunjukan

tumor lateral , dan sentral disertakan dan narasi dl ) 2.2.3. Bronkoskopi

2.3.2.1 Teknik Bronkoskopi

2.3.2.2 Manuver Bronkoskopi (BAL, Aspirasi, Brushing, Forceps) 2.3.2.3 Metode Sampling Bronkoskopik

2.2.4. Pemeriksaan Patologi Anatomi 2.3.3.1 Jenis Spesimen

2.3.3.2 Teknik Pemeriksaan Histopatologi

2.3. Korelasi Temuan CT Toraks dengan kontras , Bronkoskopi, dan Patologi Anatomi

2.3.1. Hubungan Temuan Radiologis dengan Hasil Patologi Anatomi 2.3.2. Korelasi Hasil Bronkoskopi dengan Kepositivan Patologi Anatomi 2.3.3. Tingkat Kesesuaian antar Modalitas Diagnostik

2.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Akurasi Diagnosis Kanker Paru 2.4.1. Faktor Teknis

(14)

2.4.2. Faktor Pasien

2.4.3. Faktor Tenaga Medis

2.5. Perkembangan Terbaru dalam Diagnosis Kanker Paru 2.5.1. Teknik Bronkoskopi Terbaru

2.5.2. Biomarker Molekuler

2.6. Tantangan dan Peluang dalam Diagnosis Kanker Paru di Indonesia 2.6.1. Keterbatasan Sumber Daya

2.6.2. Faktor Sosial Ekonomi

2.6.3. Strategi Peningkatan Akurasi Diagnosis

\

BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Konseptual

Keterangan: Variabel terikat (Hasil PA )

Staging Kanker Paru (PA)

FOB

Suspek Kanker Paru

Laporan FOB CT Scan thorak dengan kontras

Masa Sentral Masa Perifer Masa Ekstralumen

Masa Intralumen

Aspirasi Brushing BAL Forceps (-)

(+)

(15)

Variabel bebas (CT Scan ,FOB) Variabel pengganggu (dari JK , usia)

Gambar 3. 1 Kerangka Konseptual

3.2. Hipotesis

3.2.1 Hipotesis mayor 3.2.2 Hipotesis minor

BAB IV

METODE PENELITIAN

1.1. Jenis/rancangan penelitian

4.2 Populasi, sampel dan teknik pengambilan sampel 4.2.1 Populasi Penelitian

4.2.2 Sampel Penelitian

Kriteria inklusi :

Kriteria eksklusi

4.2.3 Tekhnik pengambilan sampel 4.2.4 Besar sampel

4. 3 Variabel penelitian 4.3.1 Variabel bebas 4.3.2 Definisi Terikat 4.3.3 Variabel Penganggu 4.4 Definisi operasional 4.5 Instrumen Penelitian

4.6 Lokasi dan Waktu Penelitian

4.7 Prosedur pengambilan atau pengumpulan data

(16)

4.8 Alur Penelitian

4.9 Prosedur pengumpulan data 4.10 Analisis Data

4.11 Etika Penelitian

BAB V

HASIL PENELITIAN

5.1 Karakteristik responden berdasarkan usia dan jenis kelamin

5.2 Karakteristik usia berdasarkan Hasil Radiologi (CT Scan thorak dengan kontras) dan bronkoskopi

5.3 Karakterisitik Jenis kelamin berdasarkan hasil Radiologi dan Bronkoskopi 5.4 Hasil Radiologi (CT Scan thorak dengan kontras) dalam mendiagnosis

Kanker Paru

5.5 Mengidentifikasi Hasil Bronkoskopi dalam mendiagnosis Kanker Paru 5.6 Mengevaluasi Hasil patologi anatomi dari spesimen yang diambil melalui

bronkoskopi pada pasien yang dicurigai kanker paru di RSUD X.

(17)

BAB VI PEMBAHASAN

6.1 Mengidentifikasi Karakteristik responden berdasarkan usia dan jenis kelamin

6.2 Mengidentifikasi Karakteristik usia berdasarkan Hasil Radiologi (CT Scan thorak dengan kontras) dan bronkoskopi

6.3 Mengidentifikasi Karakterisitik Jenis kelamin berdasarkan hasil Radiologi dan Bronkoskopi

6.4 Mengidentifikasi Hasil Radiologi (CT Scan thorak dengan kontras ) dalam mendiagnosis Kanker Paru

6.5 Mengidentifikasi Hasil Bronkoskopi dalam mendiagnosis Kanker Paru 6.6 Mengevaluasi Hasil Patologi anatomi dari spesimen yang diambil melalui

bronkoskopi pada pasien yang dicurigai kanker paru di RSUD X

(18)

BAB VII PENUTUP 7.1 Kesimpulan

7.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

(19)

1. Komite Penanggulangan Kanker Nasional. Panduan Penatalaksanaan Kanker Paru. Kementeri Kesehat Republik Indones [Internet]. 2020; Available from:

http://kanker.kemkes.go.id/guidelines/PPKProstat.pdf

2. Sugiharto S, Simanjuntak RAP, Larissa O. Kanker Paru, Faktor Risiko Dan Pencegahannya. Pros SENAPENMAS. 2021;

3. Joseph J, Rotty LWA. Kanker Paru: Laporan Kasus. Med Scope J. 2020;2(1).

4. Yuhanah, Arisanty D, Supraptono B, Yuwono E, Meliana C. Epidemiologi Kanker. Vol. 7, Journal GEEJ. Jawa Tengah: CV Eureka Media Aksara; 2020.

5. Juwita, Amalita N, Dewi MP. Faktor-Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kanker Paru-Paru dengan Menggunakan Analisis Regresi Logistik. UNPjoMath.

2021;4(1):38–42.

6. Purnamawati P, Tandrian C, Sumbayak EM, Kertadjaja W. Tinjauan Pustaka:

Analisis Kejadian Kanker Paru Primer di Indonesia pada Tahun 2014-2019. J Kedokt Meditek. 2021;27(2).

7. Chairudin MR, Marhana IA, Erawati D. Profil Pasien Kanker Paru Primer yang Dirawat Inap dan Rawat Jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soetomo Surabaya. J Respirasi. 2020;5(3).

8. Wahdah AS. Hubungan Antara Lokasi Kanker Paru Berdasarkan Gambaran Rontgen Horax Dengan Jenis Kanker Paru di RSUD H.Abdul Moeloek Bandar Lampung. Vol. 2, Universitas Lampung. Lampung; 2020.

Referensi

Dokumen terkait

Karakteristik penderita kanker paru yang meninggal berdasarkan usia, jenis kelamin, suku/etnik, agama, status perkawinan, pekerjaan, tempat tinggal, keluhan utama,

Data yang diamati pada penelitian ini antara lain karakteristik responden (jenis kelamin, usia, pendapatan, pendidikan, dan lama berjualan) Variabel independen

Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai analisis hubungan jenis sel kanker paru dengan usia, jenis kelamin, dan paparan rokok.. Berdasarkan penelitian ini didapatkan lebih dari 90%

Pelaporan hasil penelitian dibagi ke dalam tiga bahasan utama, yaitu karakteristik pasien yang diuraikan menjadi jenis kelamin dan usia, derajat anemia pasien,

Pelaporan hasil penelitian dibagi ke dalam tiga bahasan utama, yaitu karakteristik pasien yang diuraikan menjadi jenis kelamin dan usia, derajat anemia pasien,

Data primer yang digunakan adalah data yang diperoleh dari responden terpilih sebagai sampel, yang meliputi: karakteristik responden (jenis kelamin, tingkat pendidikan,

3.5 Definisi Operasional...22 3.6 Prosedur Pengumpulan Data...24 3.7 Pengolahan Data dan Analisa Data...25 3.8 Penyajian Data...27 3.9 Etika Penelitian...27 BAB IV HASIL DAN

Hasil penelitian didapatkan karakteristik demografi responden dalam penelitian bahwa umur responden lebih banyak lansia akhir 52.10%, jenis kelamin mayoritas adalah lakilaki 93.80%,