• Tidak ada hasil yang ditemukan

Klausul Arbitrase

N/A
N/A
aqdam hanz

Academic year: 2025

Membagikan "Klausul Arbitrase"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Klausul Arbitrase

A. Pengertian Klausul Arbitrase

Penyelesaian kasus perdata melalui pengadilan umum bisa membutuhkan waktu lama. Apalagi kalau putusan Pengadilan Negeri dianggap belum memuaskan.

Pihak yang bersengketa dapat mengajukan banding dan mengikuti sidang lagi.

Hal yang sama bisa terjadi lagi sampai tingkat kasasi di Mahkamah Agung.

Kalau ini terjadi, biaya untuk jasa tim hukum yang harus dikeluarkan pun menjadi sangat besar. banyak perusahaan memilih untuk menghindari keterlibatan dalam proses hukum perdata, baik menggugat atau digugat. Alternatif cara penyelesaian sengketa melalui arbitrase pun dipilih. Agar cara ini bisa dilakukan, dibutuhkan klausula arbitrase, sebuah kesepakatan bahwa sengketa akan diselesaikan melalui arbitrase.

Klausul sebenarnya dapat dibuat sebelum dan sesudah muncul perselisihan.

Karena itu, terdapat dua bentuk klausul arbitrase berdasarkan waktu pembuatannya, yaitu sebagai berikut:

1. Pactum de Compromittendo

Klausul ini dibuat sebelum munculnya sengketa dan menyatakan bahwa apabila di kemudian hari muncul perselisihan di antara pihak-pihak yang melakukan perjanjian, penyelesaiannya adalah melalui arbitrase.

Misalnya, dua perusahaan memutuskan bekerja sama. Klausul arbitrase dapat ditulis apabila kedua pihak telah sepakat. Penulisannya sendiri bisa digabung dalam perjanjian kerja sama mereka atau sengaja dipisah dalam akta khusus. Klausul ini bisa diterapkan di Indonesia, terbukti dengan adanya hukum formal yang menyebutkannya, yaitu UU Nomor 30 Tahun 1999.

2. Akta Kompromis

Akta kompromis merupakan bentuk klausula arbitrase yang dibuat setelah muncul sengketa. Pihak yang terlibat harus membuat perjanjian tertulis bahwa sengketa di antara mereka akan diselesaikan melalui arbitrase. Perbedaan

(2)

mendasar akta kompromis ini dengan pactum de compromitendo adalah waktu pembuatannya saja.

B. Alasan Membuat Klausul Arbitrase 1. Menghindari Proses Litigasi

Ketika dalam suatu perjanjian disebutkan klausul arbitrase, pihak-pihak dalam perjanjian terikat kepada klausul tersebut. Apabila di kemudian hari muncul perselisihan, pihak yang terlibat tidak perlu menghadapi proses litigasi. Tidak ada soal menggugat atau digugat secara hukum perdata di hadapan pengadilan umum, melainkan di sidang arbitrase.

2. Menjadi Bukti kesepakatan Akan Arbitrase

Kalau klausula arbitrase dibuat setelah muncul sengketa, klausul ini berperan sebagai bukti formal bahwa pihak yang bersengketa telah sepakat untuk melakukan penyelesaian melalui arbitrase. Kesepakatan ini penting agar permohonan arbitrase bisa dikabulkan oleh lembaga arbitrase yang ditunjuk.

3. Menyelesaikan Sengketa Dengan Cepat

Klausul tak hanya memuat komitmen untuk melakukan penyelesaian sengketa melalui jalur non-litigasi, tetapi bisa juga informasi lebih mendetail. Misalnya, siapa penyelenggara arbitrase (institusi atau ad-hoc), tempat dan bahasa yang digunakan, ruang lingkup, prosedur arbitrase, dan lainnya. Cara penyelesaian ditulis sejak jauh- jauh hari, sengketa yang kemudian muncul langsung dapat dicari pemecahannya.

Proses arbitrase bisa dilakukan dengan cepat. Apalagi berlaku juga ketentuan bahwa hasil arbitrase adalah keputusan tingkat pertama dan terakhir. Begitu keputusan dibuat, masalah yang sama dianggap selesai; konsekuensi keputusan pun harus dilakukan

Hal ini tentunya berbeda dengan pengadilan umum yang memungkinkan pihak yang bersengketa melakukan banding dan kasasi.Alasan-alasan itulah yang membuat banyak perusahaan membuat klausula arbitrase bahkan sebelum sengketa muncul.

C. Filosofi Lahirnya Klausula Arbitrase

(3)

Para pihak yang membuat perjanjian dapat secara bebas dan seimbang menentukan apa saja yang akan dimuat dalam perjanjian yang mengikat mereka.

Dalam perjanjian dapat dimasukkan pula klausula arbitrase, yaitu klausula penyelesaian sengketa melalui arbitrase. Klausula semacam itu dibuat untuk mengatasi sengketa atau konflik yang mungkin terjadi.

menurut UU No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Perjanjian arbitrase adalah suatu kesepakatan berupa klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis dan dibuat para pihak sebelum timbulnya sengketa, atau suatu perjanjian arbitrase tersendiri yang di buat para pihak setelah timbul sengketa.

filosofi yang mendasari klausula arbitrase, yakni pilihan bebas para pihak yang akan berjanji (free will and liberty). Para pihak secara terpisah punya otonomi untuk melakukan perjanjian dan mengusulkan klausula arbitrase sebagai jalan keluar jika terjadi sengketa. “Kehendak bebas para pihak adalah filosofi yang penting,”

Kehendak para pihak itu tidak dapat dipisahkan dari asas kebebasan berkontrak. Asas ini mengandung pengertian ada kebebasan untuk sepakat mengatur tentang apa saja dan dengan siapa saja. Ini adalah bagian dari hak-hak kebebasan manusia. Kebebasan sangat penting baik untuk pengembangan diri maupun dalam hubungan seseorang denga orang lain dalam masyarakat, sehingga kebebasan berkontrak itu sering dipandang sebagai hak asasi manusia.

Terdapat juga dua konsep yang saling bertailan dalam kebebasan berkontrak.

Pertama, berbasis pada mutual agreement. Kedua, free choice yang tak bisa dihalangi (unhampered) oleh siapapun baik lembaga pemerintah atau legislatif. Dalam praktik perjanjian dikenal konsep party autonomy, yang bermakna para pihak dapat dengan bebas menentukan prosedur acara arbitrase yang mereka kehendaki dan menentukan hukum yang berlaku.

(4)

Konsep lain yang relevan adalah separability. Konsep ini mengandung arti bahwa suatu klausula arbitrase berdiri sendiri dan terpisah dari perjanjian pokok.

Dengan konsep ini, batalnya perjanjian pokok tidak mempengaruhi keabsahan klausula arbitrase.

Konsep separability itu antara lain dapat dibaca dalam Pasal 16 ayat (1) UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbkitration 1985. “The arbitral tribunal may rule on its own jurisdictions with respect to the existence of valisity of the arbitration agreement. For that purpose, an arbitration clause which forms part of a contract shalla be treated as an agreement independent of the other terms of the contract. A decision by the arbitral tribunal that the contract is null and avoid shall not entail ipso jure the invalidity of the arbitration clause”.

“Majelis arbitrase dapat memutuskan yurisdiksinya sendiri sehubungan dengan keabsahan perjanjian arbitrase. Untuk tujuan tersebut, klausul arbitrase yang merupakan bagian dari suatu kontrak harus diperlakukan sebagai suatu perjanjian yang independen dari ketentuan-ketentuan lain dalam kontrak. Keputusan oleh majelis arbitrase bahwa kontrak batal dan dihindari tidak berarti ipso jure ketidakabsahan klausul arbitrase.”

Jika para pihak sudah menyepakati sengketa diselesaikan melalui arbitrase, maka dalam perjanjian harus ada klausula arbitrase tersebut. Ada beberapa hal yang harus ditegaskan dalam klausula arbitrase. kapan pemberian kewenangan kepada forum arbitrase mulai mengikat. Ini berkaitan dengan mulai mengikatnya yurisdiksi arbitrase.  memastikan sengketa apa saja yang disepakati akan diselesaikan melalui arbitrase, apakah semuanya atau hanya hal-hal tertentu. memastikan apakah arbitrase yang dipilih bersifat ad hoc atau melalui institusi arbitrase yang sudah ada.

menyepakati dimana arbitrase tersebut dilaksanakan. menyepakati jumlah arbiter apakah tunggal atau majelis, dan bagaimana mekanisme penunjukan arbiter.

bagaimana sifat putusan arbitrase berlaku bagi para pihak. isi klausula arbitrase juga meliputi hukum yang berlaku, bahasa yang dipergunakan, dan prosedur penunjukan arbiter.

Referensi

Dokumen terkait

Kewenangan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) akan dapat dilihat bila mana para pihak yang bersengketa memilih penyelesaian sengketa mereka melalui lembaga arbitrase,

Suatu putusan arbitrase dapat dikatakan mengikat para pihak yang bersengketa jika dalam klausul perjanjian yang mengikat kedua belah pihak terdapat ketentuan yang

arbitrase bagi para pihak yang bersengketa pada Badan Penyelesaian Sengketa. Konsumen

Perjanjian arbitrase dalam asuransi adalah suatu kesepakatan tertulis berupa klausula arbitrase yang telah dibuat dan dicantumkan dalam kontrak asuransi pada saat kontrak

Forum arbitrase memiliki kewenangan untuk menyelesaikan sengketa bisnis hanya bila para pihak yang tersangkut dalam hubungan bisnis menetapkan pilihan melalui format klausula

Bentuk UNCITRAL ini merupakan hukum formil bagi para pihak yang telah membuat klausul arbitrase dalam Kontrak Karya, baik menyerahkan persoalan yang akan

Perjanjian arbitrase dalam asuransi adalah suatu kesepakatan tertulis berupa klausula arbitrase yang telah dibuat dan dicantumkan dalam kontrak asuransi pada saat kontrak

Dengan demikian, pengadilan tidak dapat berperan ketika para pihak yang bersengketa memilih arbitrase permanen, ujar Hikmahanto Penjelasan Pasal 34 Ayat 2 Ayat ini memberikan