Komunikasi Efektif, Santun, Empatik, dan Simpatik
Disusun oleh:
1. Chasna Tsuroyya (K2217020) 2. Dina Julianti (K2217026) 3. Fernanda Gading (K2217036)
Pendidikan Bahasa Inggris
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
2018
A. Pengertian Menurut Ahli 1. Pengertian Komunikasi
Menurut Shanon dan Weaver (dalam Wiryanto 2004: 23), komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain, sengaja atau tidak sengaja dan tidak terbatas pada bentuk pada bentuk komunikasi verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni , dan teknologi.
Menurut Prof. Dr. Alo Liliweri (2003: 4), Komunikasi adalah pengalihan suatu pesan dari satu sumber kepada penerima agar dapat dipahami.
Berdasarkan definisi-definisi tentang komunikasi di atas, dapat di simpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan yang terjadi di dalam diri seseorang dan atau di antara dua atau lebih dengan tujuan tertentu.
Menurut Dedy Mulyana (2005: 68), untuk dapat berkomunikasi secara efektif kita perlu memahami aspek-aspek komunikasi, antara lain:
a. Komunikator.
Pengirim (sender) yang mengirim pesan kepada komunikan dengan menggunakan media tertentu. Unsur yang sangat berpengaruh dalam komunikasi, karena merupakan awal (sumber) terjadinya suatu komunikasi
b. Komunikan.
Penerima (receiver) yang menerima pesan dari komunikator, kemudian memahami, menerjemahkan dan akhirnya memberi respon.
c. Media.
Saluran (channel) yang digunakan untuk menyampaikan pesan sebagai sarana berkomunikasi. Berupa bahasa verbal maupun non verbal, wujudnya berupa ucapan, tulisan, gambar, bahasa tubuh, bahasa mesin, sandi dan lain sebagainya.
d. Pesan.
Isi komunikasi berupa pesan (message) yang disampaikan oleh Komunikator kepada Komunikan. Kejelasan pengiriman dan penerimaan pesan sangat berpengaruh terhadap kesinambungan komunikasi.
e. Tanggapan.
Merupakan dampak (effect) komunikasi sebagai respon atas penerimaan pesan.
Diimplentasikan dalam bentuk umpan balik (feed back) atau tindakan sesuai dengan pesan yang diterima.
2. Pengertian Komunikasi Efektif
Menurut Stewart L.Tubss – Sylvia Moss (dalam Dedy Mulyana: 2005: 69), komunikasi dikatakan efektif apabila orang berhasil menyampaiakan apa yang
dimaksudkannya atau komunikasi dinilai efektif apabila rangsangan yang disampaikan dan dimaksudkan oleh pengirim atau sumber, berkaitan erat dengan rangsangan yang ditangkap dan dipahami oleh penerima.
Menurut Stewart L. Tubbs dan Silvia Moss (2005: 69) ada 5 hal yang dapat dijadikan ukuran bagi komunikasi yang efektif, yaitu: pemahaman, kesenangan, mempengaruhi sikap, memperbaiki hubungan. Tindakan.
Penjelasan dari kutipan di atas adalah sebagai berikut:
a. Pemahaman
Arti pokok pemhaman adalah penerimaan yang cermat atas kandungan rangsangan seperti yang dimaksudkan oleh pengirim pesan. Dalam hal ini, komunikator dikatakan efektif apabila penerima memperoleh pemahaman yang cermat atas pesan yang disampaikannya (kadang- kadang komunikator menyampaikan pesan tanpa disengaja, yang juga dipahami dengan baik).
b. Kesenangan
Tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan maksud tertentu. Sebenarnya, tujuan mazhab analisis transaksional adalah sekadar berkomunikasi dengan orang lain untuk menimbulkan kesejahteraan bersama.
c. Mempengaruhi sikap
Tindakan mempengaruhi orang lain merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam berbagai situasi kita berusaha mempengaruhi sikap orang lain, dan berusaha agar orang lain memahami ucapan kita. Proses mengubah dan merumuskan kembali sikap, atau pengaruh sikap (attitude influence), berlangsung terus seumur hidup.
d. Memperbaiki hubungan
Sudah menjadi keyakinan umum bahwa bila seorang dapat memilih kata yang tepat, mempersiapkannya jauh sebelumnya, dan mengemukakannya dengan tepet pula, maka hasil komunikasi yang sempurna dapat dipastikan. Namun keefektifan komuikasi secara keseluruhan masih memerlukan suasana psikologis yang positif dan penuh kepercayaan.
Bila hubungan manusia dibayang-bayangi oleh ketidakpercayaan, maka pesan yang disampaikan oleh komunikator yang paling kompeten pun bisa saja berubah makna atau didiskreditkan.
e. Tindakan
Mendorong orang lain untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan yang kita inginkan, merupakan hasil yang paling sulit dicapai dalam komunikasi.
Selain itu, Jalaluddin dalam bukunya Psikologi Komunikasi menyebutkan bahwa komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya menimbulkan suatu tidakan. Ada lima aspek dalam komunikasi yang efektif, antara lain:
a. Kejelasan, maksudnya dalam mengemas informasi harus menggunakan bahasa yang jelas, sehingga mudah diterima dan dipahami oleh siswa
b. Ketepatan, terutama menyangkut penggunaan bahasa yang baik dan benar dan informasi yang disampaikan juga benar
c. Konteks atau situasi artinya informasi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan lingkungan dimana komunikasi terjadi,
d. Alur artinya bahasa dan informasi yang akan disajikan disusun dengan alur atau sistematika yang jelas sehingga pihak yang menerima informasi ( dalam hal ini siswa) cepat tanggap
e. Budaya, aspek ini tidak saja menyangkut bahasa dan informasi, tetapi juga berkaitan dengan tatakrama dan etika. Artinya dalam berkomunikasi harus menyesuaikan dengan budaya orang yang diajak berkomunikasi, baik dalam penggunaan bahasa verbal maupun nonverbal, agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi. (Kus Anjar Siswati1 dan Sudilah2 UPBJJ-Yogyakarta).
3. Komunikasi Empati
Menurut Zoll dan Enz (2012) empati dapat diartikan sebagai kemampuan dan kecenderungan seseorang (“observer”) untuk memahami apa yang orang lain (“target”) pikirkan dan rasakan pada situasi tertentu.
Mead dalam Eisenberg (2000) menyatakan bahwa empati merupakan kapasitas mengambil peran orang lain dan mengadopsi perspektif orang lain dihubungkan dengan diri sendiri. Para peneliti lain menyebut empati dengan mengacu kepada kemampuan kognitif untuk memahami kondisi mental dan emosional orang lain (Borke,1971, 1973; Deutsch &
Madle, 1975 dalam Eisenberg, 2000) atau insight sosial (Dymond, 1950 dalam Eisenberg, 2000).
Komunikasi empatik adalah komunikasi yang menunjukkan adanya saling pengertian antara komunikator dengan komunikan. Komunikasi ini menciptakan interaksi yang membuat satu pihak memahami sudut pandang pihak lainnya. Sebagai contoh, auditor meminta kerjasama dari auditan berupa penyediaan data secara lengkap. Setelah berkomunikasi, akhirnya auditan memahami kebutuhan auditor dan mengerti bahwa tanpa bantuannya, maka auditor akan mengalami kesulitan dalam penyelesaian tugas. Dalam kondisi ini, auditan telah berempati terhadap kebutuhan auditor.
Agar komunikasi empatik tercipta, maka komunikator harus memperlihatkan:
a. Ketertarikan terhadap sudut pandang komunikan. Sikap ini akan mendorong komunikan untuk lebih terbuka.
b. Sikap sabar untuk tidak memotong pembicaraan. Banyak informasi yang didapat jika komunikator bersabar untuk memeroleh penjelasan detail dari sudut pandang komunikan. Jika informasi yang diperoleh telah cukup dan komunikan hanya berputar-putar menjelaskan hal yang sama, maka komunikator perlu menyampaikan
kembali pengertian yang telah didapatnya dan menarik perhatian komunikan pada masalah berikutnya.
c. Sikap tenang, meskipun menangkap ungkapan emosi yang kuat. Beberapa sudut pandang bersifat sangat pribadi, sehingga saat mengungkapkannya keterlibatan emosi tidak dapat dihindari. Sebagai contoh, komunikan mengungkapkan kemarahannya saat menceritakan ketidaksetujuannya terhadap suatu keputusan rapat.
d. Bersikap bebas prasangka, atau tidak evaluatif, kecuali jika sangat diperlukan.
Untuk dapat memahami sudut pandang orang lain, kita hindari sikap evaluatif. Sikap evaluatif dapat membuat komunikan menyeleksi hal-hal yang perlu disampaikan dan tidak, dengan pertimbangan apakah sudut pandangnya akan diterima atau tidak, disetujui atau tidak, oleh komunikator.
Jika ini terjadi, maka kita tidak dapat mengerti sudut pandang komunikan dengan benar. Sikap evaluatif diperlukan ketika komunikan mendesak komunikator untuk menilai pandangan komunikan.
e. Sikap awas pada isyarat permintaan pilihan atau saran. Sikap ini memperlihatkan adanya dukungan atau bantuan yang bisa diharapkan komunikan dari komunikator.
Pemberian dukungan dan bantuan akan mengembangkan empati pada diri auditan, kesiapan untuk membalas dukungan dan bantuan yang diterimanya.
f. Sikap penuh pengertian. Sebagai contoh, komunikan mendesak untuk memperoleh persetujuan dari komunikator atas sudut pandangnya. Komunikator tidak setuju. Komunikator cukup menyatakan bahwa dia dapat mengerti sudut pandang tersebut, tidak perlu menyatakan persetujuan atau ketidaksetujuannya.
4.Komunikasi Simpati
Menurut KBBI simpati diartikan sebagai keikutsertaan seseorang dalam merasakan perasaan orang lain, seperti senang,sedih,susah,gembira,dan lain sebagainya.
Simpati juga adapat dikatakan sebagai proses seeorang tertarik terhadap orang lain dan merasakan apa yang orang lain alami.
Dalam melakukan komunikasi simpati apabila komunikan dapat merasakan pesan apa yang sedang disampaikan oleh komunikator dengan baik. Pada komunikasi simpatik komunikan hanya memposisikan diri sebagai pendengar dan ikut merasakan perasaan yang disampaikan oleh komunikator tetapi ia tidak menempatkan dirinya sama dengan apa yang dialami oleh komunikator. Hal ini lah yang menjadi perbedaan simpati dan empati.
Contoh komunikasi simpati yaitu;
- mengungkapkan rasa bela sungkawa kepada keluarga yang baru saja mendapat musibah seperti kecelakaan maupun meninggal dunia.
- mengucapkan selamat terhadap temn yang berulang tahun, wisuda, dan pernikahan.
5. Komunikasi Santun
Santun menurut KBBI (1990:78) adalah sikap halus dan baik (budi, bahasa, dan tingkah lakunya), sopan, sabar, dan tenang.
Guru merupakan sosok yang digugu dan ditiru, oleh karena itu setiap tindakan maupun perkataannya tentu menjadi sorotan orang-orang yang ada di sekelilingnya, tidak terkecuali oleh peserta didik yang setiap hari berinteraksi dengannya. Dalam kesehariannya berinteraksi dan berkomunikasi dengan peserta didik di dalam kelas, tidak hanya komunikasi yang efektif dan empatik saja yang harus dilaksanakan oleh seorang guru, tetapi juga berkomunikasi secara santun. Berbahasa santun dalam hal ini adalah adanya saling menghargai dan pengertian dalam berkomunikasi antara guru dengan peserta didik sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan secara maksimal. Dengan berjalannya proses belajar mengajar secara maksimal tentu pencapaian hasil belajar yang diperoleh peserta didik akan tercapai secara maksimal juga.
Dalam berbicara tidak diperkenankan dengan suara yang tinggi atau lantang, hal tersebut mencerminkan gambaran seseorang yang lembut dan halus. Dengan guru berkomunikasi secara santun terhadap siapa pun termasuk dengan peserta didik pula, maka akan tercermin kepribadiannya yang berwibawa dan santun. Hal tersebut dapat menjadikannya menjadi sosok yang dihormati oleh peserta didik sehingga materi pelajaran yang disampaikan oleh guru kepada peserta didik akan terserap secara maksimal.
Melihat berbagai penjelasan di atas menunjukkan bahwa guru harus berkomunikasi efektif, empatik, dan santun terhadap anak didiknya dalam proses pembelajaran. Bahasa yang empatik dan santun membuat suasana pembelajaran lebih harmonis. Guru tidak diperbolehkan menggunakan bahasa yang tidak mendidik, karena guru sebagaimana diungkapakan sebelumnya adalah sosok yang digugu dan ditiru. Oleh karena itu guru harus menjadi teladan. Sebagai teladan, komunikasi yang dibangun dalam proses pembelajaran adalah komunikasi simpatik dan persuasif.
C. Komunikasi Efektif, Santun, Empatik, dan Simpatik Guru dalam Pembelajaran Bahasa Inggris
Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran (Classroom Language):
1. Komunikasi pada tahap pembukaan/apersepsi 2. Komunikasi dalam menginstruksikan
3. Memuji dan memotivasi 4. Penguatan
5. Penutup
Penjelasan lebih lanjut komunikasi efektif dalam pembelajaran bahasa inggris, guru bisa menggunakan beberapa frasa seperti berikut:
A) Apersepsi
Good morning
Good afternoon
Hallo
Who is absent today?
Who is away today?
Let’s start B) Instruksi
Open your book
Look at exercise 1
Do exercise 1
Say it again
Are you ready ?
Whose turn is it ?
Have you finished ? C) Pujian dan Motivasi
Very good
That’s much better
Well done
Try again
It’s all right
Don’t worry D) Penutup
That’s all for today
Let’s stop now
Good bye
See you next week
Meet again tomorrow
Have a nice weekend
Metode Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran Bahasa Inggris:
1. Diskusi: membangkitkan daya penalaran peserta didik (bertanya, berkomentar, dan mengeluarkan pendapat)
2. Demonstrasi: merangsang peserta didik ikut berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
D. Manfaat komunikasi efektif, santun, simpatik dan empatik bagi guru bahasa inggris dan peserta didik?
1. Membantu Guru dan Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran.
Dalam pembelajaran, penting bagi guru dan peserta didik untuk menggunakan komunikasi yang efektif. Dengan menggunakan komunikasi yang efektif, guru akan lebih mudah dalam menjelaskan suatu materi. Begitu juga bagi peserta didik, jika guru menggunakan komunikasi yang efektif, maka peserta didik juga akan lebih mudah dalam memahami materi pembelajaran
2. Sebagai Contoh Pada Peserta Didik dalam Berkomunikasi
Dalam berkomunikasi seorang guru harus senantiasa menggunakan bahasa yang santun. Karena guru merupakan contoh teladan bagi peserta didiknya. Jadi peserta didik akan mencontoh apa yang dilakukan guru. jika guru berkomunikasi dengan bahasa yang santun, maka peserta didik juga akan menggunakan bahasa yang santun.
3. Guru Dapat Memahami Peserta Didik
Dalam proses pembelajaran akan terjadi proses komunikasi antara guru dan peserta didik. Di dalam proses ini guru akan dapat melihat dari sudut pandang peserta didik dan memahami kebutuhan peserta didik. Saat guru dapat memahami hal tersebut, guru dapat menentukan bagaimana cara yang tepat dalam menyampaikan materi pembelajaran berdasarkan sudut pandang peserta didik.
4. Memberikan Motivasi
Komunikasi berfungsi sebagai motivasi. Komunikasi dapat memperkuat motivasi peserta didik dalam pembelajaran dengan cara menjelaskan kepada peserta didik mengenai apa yang harus dipelajari, bagaimana cara mempelajarinya, dan apa tujuan yang ingin dicapai dari apa yang dipelajari tersebut. Dengan komunikasi yang baik dan efektif, guru berperan strategis untuk mengembangkan motivasi peserta didik dalam proses pembelajaran yang dilaluinya.
5.
Menciptakan Suasana yang NyamanBisa dilakukan dengan menunjukkan sikap terbuka terhadap pendapat siswa dan orang lain, sikap responsif, simpatik, menunjukkan sikap ramah, penuh pengertian dan sabar (Ali Imran, 1995). Dengan terjalinnya keterbukaan, masing-masing pihak merasa bebas bertindak, saling menjaga kejujuran dan saling berguna bagi pihak lain sehingga merasakan adanya suasana yang nyaman bagi guru dan peserta didik untuk belajar.
6.
Terciptanya Hubungan yang BaikSaat guru dapat mengimplementasikan komunikasi yang baik kepada peserta didik.
Maka akan tercipta hubungan yang baik antara keduanya. Hubungan ini dapat berupa rasa hormat (respect) antara peserta didik kepada guru atau juga bisa guru merasa dihormati karena adanya komunikasi yang baik dari peserta didik. Sehingga tercipta hubungan yang baik antara keduanya.
Sumber :
http://www.vedcmalang.com/pppptkboemlg/index.php/menuutama/edukasi/505-komunikasi- efektif-empatik-dan-persuasif
http://www.pendidikanutama.xyz/2017/05/fungsi-komunikasi-dalam-pembelajaran.html http://dwi-istanto.blogspot.com/2012/11/pentingnya-komunikasi-guru-dan-murid.html https://eprints.uny.ac.id/13013/2/BAB%20II.pdf
http://eprints.umk.ac.id/4368/3/laporan_penelitian_CBT.13-32.pdf http:// risonetoo.files.wordpress.com / 2016 / 09 / ppt-kk-g