• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONFLIK ANTAR PETANI DA (Studi Kasus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KONFLIK ANTAR PETANI DA (Studi Kasus"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

KONFLIK ANTAR PETANI DALAM PENGALOKASIAN AIR IRIGASI

(Studi Kasus: Kelurahan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

KONFLIK ANTAR PETANI DALAM PENGALOKASIAN AIR IRIGASI SAWAH PERTANIAN

Kelurahan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo Kota Padang))

ARTIKEL

Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Strata Satu (S1)

NOVIRA ANGGARAINI NIM: 11070151

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

PADANG 2015

KONFLIK ANTAR PETANI DALAM PENGALOKASIAN AIR IRIGASI Kelurahan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo

Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(2)
(3)

The Conflict among the Farmers in Allocating Irrigation Water for Rice Fields of Agricultural (A study in Surau Gadang Village, Sub-District Nanggalo, Padang)

Oleh :

Novira Anggraini1 Fachrina2 Rio Tutri3

* The Sosiology education student of STKIP PGRI Sumatera west.

** The Sosiology staff of sosiology education of STKIP PGRI Sumatera west

ABSTRACT

Irrigation is a place for distributing water especially for rice field of agricultural.

Actually, irrigation will facilitate the farmers in obtaining the water easily for their rice field in summer, however, the fact is not appropriate with that expectation; the irrigation do not facilitate the farmers in obtaining the water easily, but raises the new problem because of the impatience occur among the farmer in obtaining the water. This research will describe the forms of conflict, conflict cause factors, and effort for solving conflict in allocating irrigation water for rice field of agricultural in Surau Gadang village, Sub district Nanggalo, Padang.

This research is a qualitative research, and the type of this research is descriptive. The technique used in selecting the informants was purposive sampling and snowball sampling. The informants in this research were the head of P3A as the key informant, farmers involved in conflict, ninik mamak and head of RT 02, Surau Gadang village, Sub district Nanggalo, Padang.

The method in collecting the data consists of three ways: observation, depth interview, and documentation. The data analysis used was interactive model from Miles and Huberman.

The result of the research is that the conflict occurs in Surau Gadang village consist of close conflict and open conflict, which the farmers feel disappointed because of struggling in obtaining the water for managing their rice filed. Factors underlying the conflict are the location that far from irrigation, unevenly distributing the water, disagreement of interest and breaking the agreements by the farmers. In order to solve the conflict, the head of P3A carried out some effort as a solution for the farmers, they are advised the farmer who known steal the irrigation water, the farmers help each other in obtaining the water, and discussion conducted by public figure in Surau Gadang village for solving the conflict among the farmers.

1 Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat

2 Pembimbing I, staf pengajar Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat

3Pembimbing II, staf pengajar Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat

(4)

ABSTRAK

KONFLIK ANTAR PETANI DALAM PENGALOKASIAN AIR IRIGASI SAWAH PERTANIAN

( Studi di Kelurahan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo Kota Padang).

Irigasi merupakan wadah penyaluran air yang digunakan untuk pengairan air khususnya dalam pertanian. Dengan adanya irigasi mempermudah petani dalam kesulitan memperoleh air pada musim kemarau, namun kenyataannya adanya sumber irigasi tidak membuat petani merasa lebih mudah mengelola sawah tetapi malah menimbulkan masalah baru akibat adanya rasa ketidaksabaran dalam memperoleh air. Dalam penelitian ini mendeskripsikan bentuk-bentuk konflik, faktor penyebab konflik dan upaya penyelesaian konflik antar petani dalam pengalokasian air irigasi sawah pertanian di Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang.

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan tipe deskriptif. Teori yang digunakan adalah Struktural Konflik Lewis Coser yang dikenal dengan katup Penyelamat (Safety Velve). Teknik yang digunakan dalam pemilihan informan adalah purposive sampling. Informan dalam penelitian ini adalah ketua P3A sebagai informan kunci, petani yang terlibat konflik, ninik mamak dan ketua RT 02 Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang. Metode pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara : observasi, wawancara mendalam dan studi dokumen. Analisis data yang digunakan model analisis data interaktif dari Miles and Huberman.

Hasil penelitian adalah konflik yang terjadi di Kelurahan Surau Gadang berupa konflik tertutup dan konflik terbuka dimana petani merasa kecewa karena adanya perebutan memperoleh air dalam pengelolaan sawah. Adapun faktor yang melatarbelakangi konflik yang terjadi yaitu jauh dari sumber irigasi, pembagian air tidak merata, faktor pertentangan kepentingan dan dilanggarnya kesepakatan yang dilakukan. Agar konflik tidak meluas maka upaya yang dilakukan adalah ketua P3A memberikan solusi kepada petani dengan menasehati petani yang ketahuan mencuri air, petani saling tolong menolong terhadap petani lain yang kesulitan memperoleh air dan solusi yang dilakukan oleh tokoh masyarakat adalah musyawarah dalam penyelesaian konflik antar petani.

(5)

PENDAHULUAN

Irigasi merupakan bagian dari kegiatan pertanian khususnya perbaikan dalam sistem produksi padi. Secara umum pengertian Irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang pertanian, yang sejenisnya meliputi irigasi air permukaan, permukaan air bawah tanah, irigasi pompa dan irigasi tambak. kegiatan penyediaan, pengambilan, pembagian, pemberian, penggunaan dan pembuangannya untuk pertanian dengan menggunakan satu kesatuan saluran bangunan berupa jaringan irigasi (PP 2007 pasal 1). pengelolaan irigasi sebagai campur tangan manusia untuk memodifikasi agihan (pemberian) secara spatial temporal dari air yang terjadi dari saluran yang alami, cekungan-cekungan, jalur-jalur air dan untuk memanipulasi keseluruhan bagian air untuk memperbaiki produksi dan mendorong pertumbuhan tanaman seperti yang dikehendaki.

Irigasi diselenggarakan dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan air yang menyeluruh, terpadu dan berwawasan lingkungan, serta untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani. irigasi juga berfungsi untuk mempertahankan dan meningkatkan produktivitas lahan untuk mencapai hasil pertanian yang optimal tanpa mengabaikan kepentingan lain.

Pemakai air irigasi untuk keperluan lainnya dalam rangka pengelolaan irigasi pada satu atau sebagian daerah irigasi yang jaringan utamanya berfungsi multiguna, serta dibentuk atas dasar kebutuhan dan kepentingan bersama.

Seperti sektor pertanian maupun bidang lain yaitu peternak ikan, cuci motor dan kebutuhan rumah tangga.

Air irigasi bersumber di Gunuang Nago, Kelurahan Kuranji yang memiliki dua jalur yaitu jalur kanan dan jalur kiri.

Jalur kanan tempat pengaliran air irigasi ke sawah yang berada di kelurahan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo dan jalur kiri jalur tempat pengaliran air ke sawah yang berada di Kelurahan Gunuang Sariak.

Pembagian air irigasi dijadwalkan waktu pengeringan dan diberitahukan kepada pemakai selambat-lambatnya 2 (dua) Minggu sebelum pelaksanakan pengeringan. Untuk memperoleh air secara

adil per kelurahan dibagi jadwal satu hari penuh untuk di alirkan ke sawah petani setiap masing-masing kelurahan.

Berdasarkan survei awal tanggal 29/3/2015 di Kelurahan Surau Gadang, diperoleh informasi bahwa pengambilan air irigasi dikelurahan Surau Gadang dijadwalkan mulai dari jam 08.00 pagi sampai jam 08.00 pagi besoknya. Ternyata malamnya ada petani yang ingin mendapatkan air secara cepat dan banyak dengan menghambat saluran air irigasi yang mengalir disawah petani lain, sehingga ada petani yang sawahnya tidak mendapat air secara maksimal, petani saling menuduh dan menimbulkan perasaan kecewa, curiga dan rasa dendam antar petani sehingga menimbulkan masalah dan konflik antar petani. Konflik biasanya terjadi pada saat petani akan mengelola tanah yang banyak membutuhkan air ketika dibajak agar tanah yang di kelola mudah dan subur ketika ditanami padi.

Biasanya konflik terjadi antar petani yang berada jauh dari sumber irigasi dengan jarak 30 menit sampai ke lokasi, yaitu petani yang berada di Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang. Karena perebutan air sehingga terjadi konflik seperti perang mulut, tidak saling saling tegur sapa yang mengakibatkan hubungan antar petani tidak harmonis sehingga menimbulkan hubungan antar individu rusak, dan terjadi perselisihan paham antara petani,kelompok dan keluarga.

Studi ini menjadi sangat penting dan menarik untuk ditulis, karena irigasi dibangun untuk memenuhi kebutuhan air khususnya dalam pertanian, kenyataannya menimbulkan konflik dan menambah masalah baru dalam pertanian.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian ilmu sosial yang mengumpulkan dan menganalisis data berupa kata-kata (lisan maupun tulisan) dan perbuatan-perbuatan manusia serta peneliti berusaha tidak menghitung atau mengkuantifikasikan data kualitatif yang telah diperoleh dan dengan

(6)

demikian tidak menganalisis angka-angka (Afrizal, 2014 : 13).

Alasan peneliti memilih metode kualitatif karena metode ini mampu menggambarkan dan menjelaskan situasi dan gejala sosial dari konflik antar petani.

Gejala yang dimaksud meliputi bentuk- bentuk konflik antar petani, faktor penyebab dan upaya penyelesaian konflik antar petani dalam pengalokasian air irigasi sawah pertanian.

`Sedangkan tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus.

Menurut Maxfiled studi kasus adalah penelitian tentang studi subjek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalia (Nazir, 2011 : 57). Alasan pemilihan studi kasus terhadap penelitian ini adalah karena adanya kekhususan yang menarik untuk diteliti. Bertujuan untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang bentuk- bentuk konflik, akar penyebab konflik dan proses penyelesaian konflik Pengalokasian air irigasi yang belum terselesaikan walaupun upaya penyelesaiannya sudah dilakukan.

Analisis data dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo Kota Padang. Alasan penulis memilih lokasi ini karena masyarakat petani di daerah ini pengguna air irigasi pertanian jumlahnya cukup banyak sehingga pembagian air tidak merata menyebabkan tingkat persaingan untuk memperoleh air irigasi semakin meningkat.

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN Kelurahan Surau Gadang secara geografis terdapat di Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat yang memiliki luas wilayah Kelurahan Surau Gadang ± 360 hektar, keadaan alam dengan ketinggian 3,97 M dari pusat permukaan laut dengan jarak 1,5 KM ke pusat kecamatan dan 8 KM dari pusat pemerintahan kota Padang dan 8 KM dari pusat ibu kota Provinsi Sumatera Barat

Jumlah penduduk Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang 20.948 jiwa dengan luas wilayah ± 360 hektar. Jumlah Keluarga (KK) Tani 75 KK, pemilik lahan tidak penggarap 18

orang, pemilik lahan penggarap 24 orang buruh tani 15 orang dengan jumlah keseluruhan 75 orang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Konflik antar petani dalam pengalokasian airirigasi sawah pertanian terjadi di Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo Kota Padang dalam penelitian ini bentuk konflik yang terjadi adalah konflik tertutup dan konflik terbuka. Konflik tertutup sifatnya tersembunyi dan perlu diangkat kepermukaan agar bisa ditangani.

Kehidupan petani yang tampak stabil dan harmonis belum merupakan jaminan bahwa di dalamnya tidak terdapat permusuhan dan pertentangan. Hal ini juga terjadi pada kelompok tani bujang juaro yang terlibat konflik antar petani. Sebelum terjadinya konflik, hubungan antar petani terdapat persoalan namun sifatnya masih tersembunyi, karena petani yang berada di sekitar Kelurahan Surau Gadang merupakan Saudara, sehingga apabila terdapat kecurangan dalam memperoleh air, maka petani lain hanya sabar dalam menghadapi persoalan seperti ini, karena sama-sama membutuhkan air dalam kondisi kesulitan memperoleh air. Adapun bentuk konflik tertutup yang terjadi berupa tidak saling tegur sapa dan tumbuh rasa saling curiga.

konflik terbuka adalah situasi konflik sosial telah muncul kepermukaan yang berakar dalam dan sangat nyata. Konflik antar petani di Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang merupakan konflik terbuka karena diwujudkan dengan interaksi yang berisikan permusuhan disertai kekerasan yang tidak dapat terkendalikan akibat kecurangan dalam memperoleh air.

Petani yang terlibat konflik sebanyak 10 orang dimana kasusnya sama yaitu mengambil air secara diam- diam. Ketika ketahuan pelaku pencurian air maka petani tersebut dilaporkan ke ketua P3A kemudian ketua P3A memanggil petani tersebut melalui surat undangan. Kemudian dirapatkan secara bersama-sama yang dihadiri oleh ketua P3A dan petani yang terlibat konflik, panggilan

(7)

pertama petani dinasehati secara baik- baik oleh ketua P3A. Jika petani tersebut masih melakukan pelanggaran maka petani tersebut di laporkan ke ketua KAN. Jika masih juga melakukan pelanggaran maka petani tersebut dikeluarkan dari kelompok Tani Bujang Juaro Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang.

Petani saling berebut air untuk sawah mereka yang akan dibajak. Air dicari oleh petani ke sumbernya yaitu tabek Cangkiang, mulai dari tabek cangkiang di ikuti aliran air oleh petani yang memasukkan air agar air sampai ke sawah mereka. Jika air dibiarkan saja masuk, maka sawah tidak akan digenangi oleh air karena air di hambat oleh petani yang malas mencari air, ia hanya mengambil air di sawah yang sudah di genangi oleh air. Sehingga petani merasa kecewa dengan sikap petani seperti itu. Petani mengungkapkan kekecewaannya berupa Mengeluarkan ucapan-ucapan tertentu , perperangan mulut.

Irigasi Gunuang Nago berada di Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh Padang, memiliki dua jalur yaitu jalur kiri dan jalur kanan. Jalur kanan tempat pengaliran air irigasi menuju sawah pertanian yang ada di Kelurahan Surau Gadang sedangkan jalur kiri tempat pengaliran air sawah pertanian yang ada di kelurahan Gurun laweh.

Distribusi air dari Gunuang Nago ke irigasi Cangkiang mengalami kendala tidak terpenuhinya koata air yang dibutuhkan untuk mengaliri sawah- sawah yang berada di bagian hilir. Hal itu terjadi karena sebahagian air digunakan oleh penduduk yang berada di sekitar Gunuang Nago untuk peternakan ikan. Oleh karena itu beberapa petani mengalami kesulitan air untuk mengaliri sawah mereka yang menggunakan irigasi cangkiang.

Kurangnya debit yang dialirkan melalui irigasi cangkiang membuat petani menjadi khawatir tidak terpenuhinya air yang mengalir ke sawahnya mengakibatkan petani saling berebut air sehingga menimbulkan konflik antar mereka. Sebagian petani berlaku curang dengan menutup aliran saluran air petani lain dan mengarahkan ke sawahnya. Tidak jarang hal ini menjadi

pemicu pertengkaran diantara petani.

Adapun faktor penyebab terjadinya konflik adalah jauh dari sumber irigasi adanya pembuatan kolam ikan air deras, adanya permintaan perpanjangan waktu pengaliran air irigasi dan pelanggaran aturan yang telah disepakati.

Pihak yang terlibat dalam mengatasi konflik yaitu petani, ketua P3A dan tokoh masyarakat. Jika terdapat konflik antar petani maka diselesaikan dulu oleh petani yang bersangkutan dengan cara apabila ada petani lain yang kesulitan mendapatkan air hendaknya saling membantu, mematuhi aturan yang telah disepakati bersama-sama yaitu saling berbagi satu sama lainnya jika ada yang lebih dahulu memperoleh air.

Jika masalah masih berlanjut maka akan diselesaikan oleh ketua P3A dengan cara P3A memberikan jalan yang terbaik kepada petani yang sedang berkonflik dengan cara memberikan pengarahan kepada petani yaitu menasehati petani jika ada seorang petani yang memperoleh air maka bersabarlah bagi petani untuk menunggu air masuk ke sawah selanjutnya yang membutuhkan air, kemudian barulah dialihkan saluran air tersebut ke sawah kita agar semua kita memperoleh air dengan cara yang baik, dan saling mengerti antar petani, sehingga muncul tingkat solidaritas antar petani dengan cara saling bersabar dan saling mengerti.

Apabila masalah tidak terselesaikan oleh P3A barulah petani yang terl.ibat konflik diserahkan ke tokoh masyarakat yang berwenang di daerah tersebut dengan cara diundang seluruh anggota kelompok tani Bujang Juaro, anggota P3A dan petani yang terlibat konflik kemudian diadakan musyawarah secara terang-terangan apa penyebab munculnya pertengkaran antar petani. Disitulah semua puhak memberikan solusi yang terbaik agar petani sama-sama memperoleh air irigasi.

(8)

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pembahasan yang telah disampaikan bahwa konflik antar petani yang ada di kelurahan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo Kota Padang Bentuk –bentuk konflik yang terdapat di kelurahan Surau Gadang ada dua konflik tertutup dan konflik terbuka.

1. Konflik Tertutup 2. Konflik Terbuka

Irigasi Gunuang nago berada di Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh Padang, memiliki dua jalur yaitu jalur kiri dang jalur kanan. Jalur kiri tempat pengaliran air irigasi menuju sawah pertanian yang ada di Kelurahan Surau Gadang sedangkan jalur kanan tempat pengaliran air sawah pertanian yang ada di kelurahan Sungai Sapih. Adapun faktor munculnya konflik irigasi

1. Jauh Dari Sumber Irigasi 2. Pembagian Air Irigasi Tidak Rata 3. faktor-faktor pertentangan kepentingan.

4. Dilanggarnya Kesepakatan

Dalam pengambilan air irigasi yan digunakan untuk pertanian maka dibuatlah aturan atas kesepakatn bersama terdapat dalam Bab VIII pasal 22 tentang pelanggaran dan hukuman. Ketentuan-ketentuan jenis pelanggaran serta sifat dan bentuk pelanggaran itu, selain berpedoman kepada ketentuan tersebut pada peraturan pengairan yang ditetapkan dalam UU No. 11 tahun 1974 dan juga berpedoman kepada ketentuan diterapkan oleh perkumpulan itu sendiri.perincian jenis pelanggaran serta sifat dan bentuk hukuman-hukuman yang ditetapkan oleh perkumpulan ini.

a. Upaya yang dilakukan oleh ketua P3A

P3A memberikan jalan yang terbaik kepada petani yang sedang berkonflik dengan cara memberikan pengarahan kepada petani yaitu menasehati petani jika ada seorang petani yang memperoleh air maka bersabarlah bagi petani untuk menunggu air masuk ke sawah selajutnya yang membutuhkan air, kemudian barulah dialihkan saluran air tersebut ke sawah kita agar semua kita memperoleh air dengan cara yang baik, dan saling mengerti antar petani, sehingga muncul tingkat solidaritas

antar petani dengan cara saling bersabar dan saling mengerti.

b. Upaya yang dilakukan oleh petani Jika ada petani yang kesulitan memperoleh air hendaknya saling membantu, mematuhi aturan yang telah disepakati bersama-sama yaitu saling berbagi satu sama lainnya jika ada yang lebih dahulu memperoleh air dan saling membantu.

c. Upaya yang dilakukan oleh tokoh masyarakat

Konflik dapat diselesaikan dengan rasa kekeluargaan dan dilakukan musyawarah bersama.

Musyawarah . Dalam perspektif hukum adat, segala konflik yang terjadi dapat diselesaikan melalui mekanisme musyawarah dan mufakat para pihak

yang berkonflik dengan

mengedepankan nilai-nilai keadilan, sehingga konflik dapat dikendalikan dengan baik, sebagaimana pepatah adat mengatakan.

Dimato dipiciangkan Di dada dibusungkan

Di paruik nan usah di kampihkan Sifat adia dipakaikan

Kusuik bulu paruh menyelesaikan Kusuik banang di cari ujuang jo

pangka

Kusuik rambuik di cari sikek jo minyak

Kusuik sarang tampuo api yang manyalasaikan

Maksud dalam penyelesaian konflik antar petani meletakan kebenaran pada tingkat yang paling tinggi dengan menempatkan ketua P3A sebagai pelaksana dan kebenaran yang memposisikan musyawarah mufakat.

SARAN

1. Untuk masyarakat, jika terjadi konflik hendaknya segera diselesaikan dengan baik tanpa menggunakan kekerasan atau pertikaian

2. Untuk petani yang terlibat konflik, penyelesaian konflik dapat dilakukan dengan berbagai cara, jika terjadi konflik di masyarakat hendaknya

(9)

dipilih cara yang paling tepat dalam penyelesaiannya

3. Untuk mediator harus melakukan pendekatan dengan kelompok yang terlibat konflik. Agar dapat diketahui penyebab yang pasti terjadinya konflik sehingga dapat mengawal jalannya mediasi dengan baik

4. Untuk peneliti lanjutan, hasil penelitian ini hendaknya dapat dijadikan informasi tambahan untuk penelitian di bidang Sosiologi Konflik.

DAFTAR PUSTAKA

Afrizal. (2014). Metode Penelitian Kualitatif.

Jakarta : Rajawali Pers

Nazir, (2005). Metodologi Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia

.

Proyek NSIASP Bappeda Kota Padang. (2003).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 2001 tentang Irigasi.

Referensi

Dokumen terkait

konflik agraria yang terjadi di Desa Padang halaban dalam. perspektif HAM, dimana para petani yang lahannya

Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dengan judul “ Peran Imeum Mukim Dalam Menyelesaikan Konflik (Studi Kasus Konflik Antar

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penyebab terjadinya konflik antar warga di kelurahan Mancani pada umumnya dipicu oleh kenakalan remaja dan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa persepsi petani terhadap pelestarian pertanian sawah sistem subak di perkotaan di Subak Buaji,

Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah Bagaimana Proses pemberdayaan Masyarakat petani sawah dan adaptasi teknologi pertanian di Desa Mengkang, dengan

BERJUDUL “STUDI TENTANG KEKERASAN DAN FUNGSI KONFLIK (KASUS KONFLIK ANTAR KELOMPOK MASYARAKAT DI KABUPATEN PEKALONGAN)” ADALAH BENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH

Sebaran luas lahan petani padi sawah di Kelurahan Semarang Kota Bengkulu Tahun 2021 Persepsi Petani Terhadap Sifat Inovasi Teknologi PHT Padi Sawah Dengan Agensia Hayati Petani

Upaya Penyelesaian Konflik Batas Desa Antara Desa Petani Dengan Desa Simpang Padang Kabupaten Bengkalis Penyelesaian atau resolusi konflik merupakan suatu kondisi dimana pihak- pihak