• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Dasar Bimbingan Konseling untuk kepentingan pembelajaran

N/A
N/A
Aoi Yamaken

Academic year: 2023

Membagikan " Konsep Dasar Bimbingan Konseling untuk kepentingan pembelajaran"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Judul Makalah : Konsep Dasar Bimbingan Konseling untuk kepentingan pembelajaran

Rangkuman buku :

Buku 1 : Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan (Achmad Juntika Nurihsan , 2006)

a. Latar belakang diperlukannya bimbingan dan konseling

Kebutuhan akan bimbingan dan konseling sangat dipengaruhi oleh faktor filosofis,psikologis,sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi,demokratisasi dalam pendidikan , serta perluasan program pendidikan.

Faktor filosofis : Berkaitan dengan pandangan tentang hakikat manusia , salah satu aliran filsafat yang berpengaruh besar terhadap kebutuhan bimbingan dan konseling adalah filsafat humanisme, aliran filsafat humanisme ini memiliki pandangan, bahwa manusia memiliki potensi untuk dikembangkan seoptimal mungkin.

Faktor Psikologis : Berkaitan erat dengan proses perkembangan manusia yang sifatnya unik dan berbeda dengan setiap individu. Bimbingan diperlukan untuk membantu setiap individu mencapai perkembangan sehat di dalam lingkungannya.

Sosial Budaya : Dalam hal ini bimbingan dan konseling membantu individu memelihara, menginternalisasi, memperhaus dan memaknai nilai sebagai landasan dan arah pengembangan diri.

Ilmu pengetahuan dan teknologi : Dibutuhkannya bantuan dari pembimbing agar siswa dapat menyesuaikan minat dan kemampuan mereka terhadap kesempatan dunia kerja yang selalu berubah dan meluas.

Demokratisasi dalam Pendidikan : Semua orang dari latar belakang yang berbeda memiliki kesempatan sama untuk memperoleh pendidikan. Semakin beragamnya asal-usul dan latar belakang nya menimbulkan bertumpuknya masalah yang dihadapi dalam suatu lingkungan tersebut. Dalam keadaan seperti ini , pelayanan bimbingan merupakan salah satu cara untuk menanggulangi masalah tersebut.

Perluasan program pendidikan : Bimbingan diperlukan untuk memilih kelanjutan sekolah yang paling tepat,serta menilai kemampuan siswa yang bersangkutan, mungkinkah dia melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

b. Konsep bimbingan dan konseling.

1. Pengertian bimbingan

Bimbingan merupakan upaya pembimbing untuk membantu mengoptimalkan individu.

Menurut Donald G. Mortensen dan Alan M, Schmuller (1976) dalam buku (Nurihsan, 2006) bimbingan didefinisikan sebagai bagian dari keseluruhan program pendidikan yang membantu menyediakan kesempatan pribadi dan pelayanan staf khusus dimana setiap individu dapat dikembangkan secara maksimal kemampuan dan kapasitasnya dalam hal ide demokrasi.

Model bimbingan yang berkembang saat ini adalah bimbingan perkembangan .Bimbingan perkembangan di lingkungan pendidikan merupakan pemberian bantuan kepada seluruh peserta didik yang dilakukan secara berkesinambungan agar mereka dapat memahami dirinya , lingkungan, dan tugas-tugasnya sehingga mereka sanggup mengarahkan diri , menyesuaikan diri, serta bertindak wajar sesuai dengan keadan dan tuntutan lembaga

(2)

pendidikan, keadaan keluarga, masyarakat, dan lingkungan kerja yang akan dimasukinya kelak.

2. Konsep Konseling

Definisi Konseling menurut Shertzer dan Stone (1980) dalam (Nurihsan, 2006) konseling adalah proses interaksi yang memfasilitasi individu dalam memperoleh pemahaman yang berarti tentang diri dan lingkungannya dan menghasilkan pembentukan dan/atau klarifikasi tujuan dan nilai-nilai perilaku masa depan.

Definisi lain dikemukakan dalam (Nurihsan, 2006) yang mengatakan bahwa konseling adalah upaya yang membantu indivisu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya,mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.

c. Ragam Pendekatan Bimbingan 1. Pendekatan Krisis

Pendekatan krisis disebut juga pendekatan kuratif merupakan upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami krisis atau masalah . Bimbingan ini bertujuan mengatasi krisis atau masalah-masalah yang dialami individu.

2. Pendekatan Remedial

Pendekatan remedial merupakan pendekatan bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kelemahan atau kekurangan.Tujuan bimbingan ini adalah untuk memperbaiki kekurangan/kelemahan yang dialami individu.

3. Pendekatan Preventif

Pendekatan Preventif merupakan pendekatan yang diarahkan pada antisipasi masalah- masalah umum individu,mencegah jangan sampai masalah tersebut menimpa individu.

4. Pendekatan Perkembangan

Pendekatan perkembangan menekankan pada pengembangan potensi dan kekuatan yang ada pada individu secara optimal.

Nurihsan, A. J. (2006). Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan (Susana Anna, Ed.). PT Refika Aditama.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pendapat Tohirin (2007) bahwa layanan konseling kelompok merupakan upaya pembimbing atau konselor dalam membantu memecahkan masalah-masalah pribadi

Pemahaman konselor terhadap klien dipergunakan oleh konselor baik untuk secara langsung membantu klien dalam pelayanan bimbingan dan konseling lebih lanjut, maupun

Supervisi bimbingan konseling adalah upaya untuk mendorong, mengkoordinasikan dan menuntun pertumbuhan petugas bimbingan konseling atau konselor secara

Dalam upaya membantu peserta didik di sekolah menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan maka layanan bimbingan dan konseling di sekolah

Kedua, prinsip yang berkaitan dengan pengembangan program bimbingan dikemukakan oleh Gysbers dan Henderson (1988), mengemukakan tujuh prinsip pengembangan program bimbingan

Bimbingan dan konseling merupakan salah satu bentuk hubungan yang bersifat membantu. Makna bantuan disini yaitu sebagai upaya untuk membantu orang lain agar ia mampu tumbuh kearah

Konseling individual adalah proses belajar melalui hubungan khusus secara pribadi dalam wawancara antara seorang konselor dan seorang

Dokumen ini membahas tentang proses pengidentifikasi kebutuhan dan penyusunan instrumen untuk mengetahui kebutuhan siswa dalam program Bimbingan dan