REVIEW BUKU
BERISLAM SECARA MODERAT
AJARAN DAN PRAKTIK MODERASI DALAM BERAGAMA Karya : Khoirul Anwar, M.Ag.
TUGAS MATA KULIAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Dosen : Drs. Daryono, M.S.I.
Oleh
Nama : Hanan Athaya Dafa NIM : B.231.21.0144
Progdi : Akuntansi Hari/Jam : Rabu/20.00 WIB
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEMARANG
2021
BAB 1
Konsep Moderasi Beragama Dalam Islam
“Moderasi beragama” merupakan istilah yang lahir dari keprihatinan para pemeluk agama dalam berbagai aksi kekerasan yang mengatasnamakan atau menggunakan dasar ajaran agama. Dari fenomena kekerasan atas nama agama, orang-orang yang memiliki pemahaman inklusif, rendah hati, dan komprehensif atas agamanya memandang bahwa beragama dengan melegalkan kekerasan bagian dari cara beragama yang salah dan keluar dari ajaran agama itu sendiri (ghuluww fi al-din). Dari sinilah kemudian muncul istilah perlunya “moderasi dalam beragama” yang berarti keharusan bijakana dalam berpikir, bersikap, dan bertindak dalam menjalankan ajaran agama.
Istilah moderasi beragama dengan arti kritik atas keberislaman yang ekstrim baru muncul belakangan, namun sebagaimana akan terlihat dalam tulisan dibawah ini dalam praktiknya moderasi beragama sudah dilakukan dan diserukan sejak masa Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya.
Pengertian Moderasi Beragama
Istilah moderasi beragama tersusun dari dua kata yaitu modernisasi dan beragama.
Istilah ini menunjukkan makna cara berpikir sikap dan praktik menjalankan ajaran agama yang tidak mengandung kekerasan serta menghindari sikap kasar dan berlebihan. Pengertian ini berdasarkan pada tiga hal. Pertama penggunaan kata moderasi dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Yang diartikan dengan pengurangan kekerasan dan penghindaran
keekstriman. Kedua penggunaan kata moderasi yang dalam bahasa Arab di istilahkan dengan wasat dan derivasi nya yang tersusun atas tiga yaitu wawu sin dan ta' di dalam Alquran dan hadis. Ketiga, prinsip ajaran Islam yang dalam tulisan ini akan dikaji dalam pembahasan prinsip moderasi beragama
Kata “moderat” yang menjadi asal dari kata moderasi dalam KBBI diartikan dengan
“selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem” dan “berkecenderungan kearah dimensi atau jalan tengah”. Penggunaan kata in dicontohkan dengan seseorang yang mempertimbangkan pandangan pihak lain. Misalnya dalam musyawarah atau diskusi, orang yang moderat adalah orang yang tidak memaksakan pendapatnya, melainkan orang yang mendengarkan dan mempertimbangkan pendapat orang lain.
Adapun definisi atau pengertian moderasi beragama menurut para ahli dijelaskan berikut ini:
Prof. M. Quraish Shihab (Guru Besar Bidang Tafsir Al-Qur’an)
Menurut Quraish Shihab, moderasi beragama dalam konteks Islam sebenarnya sulit
didefinisikan. Hal itu karena istilah moderasi baru muncul setelah maraknya aksi radikalism dan ekstremisme. Pengertian moderasi beragama yang paling mendekati dalam istilah Al- Qur’an yakni “wasathiyah”.
Wasath berarti pertengahan dari segala sesuatu. Kata ini juga berarti adil, baik, terbaik, paling utama. Hal ini diterangkan dalam surat Al-Baqarah ayat 143 (wa kadzalika ja’alanakum ummatan wasathan) yang dijadikan sebagai titik tolak moderasi beragama.
Prof. Komaruddin Hidayat (Guru Besar Bidang Filsafat Islam)
Menurut Komaruddin Hidayat, pengertian moderasi beragama muncul karena ada dua kutub ekstrem, yakni ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Ekstrem kanan terlalu terpaku pada teks dan cenderung mengabaikan konteks, sedangkan ekstrem kiri cenderung mengabaikan teks.
Maka, moderasi beragama berada di tengah-tengah dari dua kutub ekstrem tersebut, yakni menghargai teks tetapi mendialogkannya dengan realitas kekinian.
Dalam konteks Pendidikan Islam, moderasi ini berarti mengajarkan agama bukan hanya untuk membentuk individu yang saleh secara personal, tetapi juga mampu menjadikan paham agamanya sebagai instrumen untuk menghargai umat agama lain.
Prof. Azyumardi Azra (Guru Besar Sejarah Islam)
Menurut Azyumardi Azra, moderasi beragama di Indonesia yang sangat terlihat adalah umat Islam. Pengertian Moderasi beragama dalam konteks umat Islam kemudian disebut Islam Wasathiyah. Kondisi moderasi beragama di Indonesia saat ini sudah mapan dengan adanya Islam Wasathiyah. Artinya, dalam memahami agama tidak banyak masyarakat Indonesia yang ekstrem kanan ataupun yang ekstrem kiri.
Drs. Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama tahun 2014-2019)
Menurut Lukman Hakim Saifuddin, dalam istilah moderasi beragama harus dipahami bahwa yang dimoderasi bukan agamanya, melainkan cara kita beragama. Hal ini karena agama sudah pasti moderat.
Hanya saja ketika agama membumi, lalu hakikatnya menjadi sesuatu yang dipahami oleh manusia yang terbatas dan relatif. Agama kemudian melahirkan aneka ragam pemahaman dan penafsiran. Oleh karena itu, moderasi beragama merupakan keniscayaan untuk
menghindari penafsiran yang berlebihan dan paham keagamaan yang ekstrem, baik ekstrem kanan maupun kiri.
Dalam Alquran dan hadis kata wasat juga digunakan untuk menunjukkan makna sebagaimana penggunaan di dalam bahasanya (lughatan) yaitu tengah, utama, adil, dan baik.
Dalam QS Al Baqarah 143.
At-tabari (w.923 M) dalam karya tafsirnya, Jami Al bayan Fi tawil Alquran
menafsirkan kata wasatan dalam ayat di atas dengan mana “baik” (Al-khiyar) dan “adil” (Al adl). Yakni umat Islam dijadikan oleh Allah sebagai umat yang baik dan adil kedua makna ini, baik dan adil, pada dasarnya tidak berbeda karena adil bagian dari kebaikan titik begitu juga perbuatan yang baik sudah pasti mengandung keadilan di dalamnya. Ibnu Katsir menafsirkan wasatan dengan “yang terbaik” (al khiyar wa al-ajwad) dan adil. Makna adil berdasarkan pada hadis yang diceritakan Abu Sa'id Al khudri yang berisi nabi Muhammad SAW mengartikan kata wasatan dengan makna adil.
Menyikapi perbedaan para musafir yang sebagian memberikan makna wasat dengan arti “baik” (al-khiyar) dan sebagian lain menafsirkannya dengan “adil” (al-adl) Abu Ishaq Al- Zajaj (w. 923 M) menyatakan :
"Dua kata itu, baik dan adil berbeda dalam kata saja tetapi maknanya sama karena adil itu baik dan baik itu adil."
Kata wasat pernyataan ditengah badai pertama dan adil jika digunakan nabi Muhammad SAW dalam haditsnya. Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah suatu ketika Rasulullah SAW duduk bersama sahabat-sahabatnya Rasul saw membuat lima garis, dua garis biru di sebelah kanan, satu garis ditengah sama dua garis lagi berada di sebelah kiri titik sembari menunjuk kedua dari sebelah kanan dan kiri Rasulullah bersabda bahwa garis-garis tersebut menjadi jalan setan titik sedangkan untuk garis yang berada di tengah Rasulullah mengatakan ini jalan Allah lalu membaca surah Al an'am 153.
Kata ausat dalam hadis diatas memiliki arti baik, yakni Rasulullah SAW
mengumpamakan garis yang berada di tengah sebagai jalan kebenaran yang harus ditempuh
umat Islam. Dalam hadits lain diriwayatkan, nabi Muhammad SAW bersabda : "sebaik-baik perbuatan adalah yang sedang saja" (khairu Al-a'māl ausatuhā). Dalam hadis lain dikatakan:
"sebaik-baik perkara adalah yang paling tengah" (khairu al-umūr ausatuhā).
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kata wasat dalam arti bahasa maupun syariat (penggunaannya di dalam Alquran dan hadis) menunjukkan makna hal-hal yang baik, utama, adil dan bijaksana.
Lawan kata dari moderasi beragama adalah ekstrem atau dalam bahasa Arab disebut dengan ghuluww (melampaui batas), tasyaddud (keras), atau tatarrif (ekstrem). Dalam al- quran maupun hadis terdapat banyak larangan menjalankan agama dengan melampaui batas, seperti dalam QS An-Nisa 171.
Ayat tersebut menjelaskan tentang perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan larangan meampaui batas dalam beragama (ghuluww fi al-din) kepada orang-orang yang mneyakini Nabi Isa AS sebagai anak Allah. Ayat ini hendak menegaskan Isa bin Maryam memang mulia, namun cara memuliakannya tidak boleh dengan
menuhankannya atau melampaui batas hingga meyakininya sebagai anak Tuhan. Serupa dengan makna ayat diatas , dalam QS.Al-Maidah 77.
Kendati sasaran kedua ayat tersebut kepada Ahli Kitab, namun makna yang dikehendakinya umum, yaitu larangan melampaui batas dalam beragama. Maksud dari
“melampaui batas” (al-ghuluww) di sini dikatakan oleh Muhammad al-Tahir bin Asyur (w.
1973 M) dalam menafsirkan QS.Al-Maidah 77.
Lebih lanjut, Ibnu Asyur menegaskan, larangan berlebihan dalam beragama yang dikehendaki di sini maksudnya perbuatan yang bertentangan dengan kebenaran, sehingga aktivutas keagamaan yang dilakukannya menjadi kesalahan. Kenati demikian, .ada berlebihan dalam beragama yang diperbolehkan, yaitu berlebihan yang tidak sampai keluar dari perintah agama, seperti memuji perbuatan yang baik (al-sana ala al-amal al-salih), juga ada yang berlebihan yang hanya dihukumi makruh atau dibenci agama seperti berwudu membasuh anggota tubuh melebihi tiga kali basuhan.
Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Abdillah, Rasulullah SAW bersabda :
“Telah binasa orang-orang yang berlebihan.”
Rasulullah SAW menyampaikan perkataan tersebut sebanyak 3 kali. Menurut editor kitab hadis diatas, Muhammad Fuad ad Abd al-Baqi (w. 1968 M), makna al-
mutanatti’un adalah orang-orang yang keterlaluan, berlebihan, dan melampaui batas dalam perkataan maupun Tindakannya (al muta’ammiquna al-ghaluna al-mujawizuna al-hududa fi aqwalihim wa af’alihim).
Dengan demikian, menjalankan agama secara moderat atau tawassut bagian dari perintah agama itu sendiri. Sedangkan kebalikannya, yakni menjalankan agama dengan berlebihan, keras, tidak sambung, ekstrem merupakan larangan kera di dalam agama islam.
Prinsip Moderasi Beragama
Moderasi beragama yang meniscayakan mengandung kebaikan bagi semua umat manusia didalamnya terdapat prinsip yang menjadi standar dan pembeda dari cara-cara beragama lainnya yang melampaui batass atau ekstrem (ghuluww fi al-din). Prinsip ini dapat dikatakan sebagai ajaran universal Islam yang selalu relevan di sepanjang masa dan dimana saja.
Pertama : Kemanusiaan
Kemanusiaan, humanitarianisme, atau dalam Bahasa Arab disebut al-insaniyyah memiliki arti cukup luas, yakni rasa cinta kasih dan memperlakukan dengan baik kepada sesama manusia maupun agama, ras, budaya, suku, warna kulit, asal kebangsaan maupun jenis kelaminnya.
Dalam hadis diinformasikan ke mana ada perempuan masuk neraka sebab mengurung kucing tanpa diberi makan dan minum. Sebaliknya, ada perempuan masuk surga karena memberi minum kepada anjing yang kehausan.
Dalam hadits lain, nabi Muhammad SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah yang Maha mulia lagi aku mewajibkan berbuat baik dalam segala hal. Jika kalian hendak membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik jika kalian
hendak menyembelih binatang maka sembelihlah dengan cara yang baik titik tajam kan lah pisau kalian dan buatlah nyaman binatang sembelihan kalian.”
Beberapa hadits di atas menunjukkan bahwa dalam Islam binatang sekalipun memiliki hak untuk dimuliakan. Dalam hadis juga banyak informasi tentang praktik keberislaman nabi
Muhammad SAW yang sangat menjunjung tinggi kemanusiaan, yakni menghormati dan menghargai manusia tanpa melihat latar belakang agama warna kulit, suku, dan lain-lain.
Diceritakan suatu ketika nabi SAW sedang duduk bersama para sahabatnya. Lalu ada sekelompok orang menggotong jenazah untuk dimakamkan titik begitu jenazah itu lewat di hadapan nabi SAW nabi SAW bersama para sahabatnya berdiri sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Salah satu sahabat "nabi itu jenazah Yahudi" nabi SAW membalas : "bukankah Yahudi juga manusia (alaysat nafsan)?"
Penghormatan yang dilakukan nabi Muhammad SAW kepada jenazah Yahudi di atas berdasarkan pada ajaran Islam yang terdapat di dalam Alquran bahwa semua manusia memiliki hak yang sama untuk dihormati dan dihargai apapun suku dan agamanya kritik mengutamakan sisi kemanusiaan dalam berinteraksi dengan sesama manusia seperti praktik keberislaman nabi Muhammad SAW di atas menjadi prinsip terpenting bagi lahirnya sikap moderat dalam beragama.
Kedua : Persaudaraan
Dengan adanya kesadaran persaudaraan sesama manusia, maka moderasi beragama dapat terlaksana. Persaudaraan antar umat manusia ukhuwah insaniyah meniscayakan perdamaian abadi kemabukan konflik dan perang. Hukum asal hubungan antar manusia dalam Islam yaitu damai tidak adapun perang dilakukan semata-mata untuk mempertahankan diri dari orang-orang yang menyerang ketika tidak ada lagi cara yang bisa menghentikannya.
Itu pun dilakukan tidak boleh melampaui batas seperti tidak boleh membunuh orang yang menyerang terlebih dahulu ketika bisa dikalahkan dengan cara lain selain membunuh titik kalau terpaksa harus membunuh, maka tubuh orang yang sudah mati tidak boleh dimutilasi, karena tubuh manusia dalam Islam baik hidup maupun sudah mati sama-sama memiliki kemuliaan.
Dalam hadis diinformasikan, nabi Muhammad SAW bersabda, "orang Islam tidak boleh bermusuhan dengan saudaranya melebihi 3 hari. Ketika bertemu saudaranya tidak boleh saling berpaling tapi harus saling menyapa, dan yang paling baik adalah orang yang mengawali memberi sapaan atau salam."
Ketiga : Keadilan
Adil yang dimaksud disini yaitu memperlakukan manusia apapun agama, suku ras, dan jenis kelaminnya secara setara (al-musawah). Dalam QS.al-Maidah 8.
Ayat di atas secara tegas memberikan perintah berlaku adil kepada siapapun kamu meski kepada orang-orang yang sedang dibenci titik berbuat adil adalah kebaikan, dan berbuat baik adalah keadilan titik artinya, seseorang tidak boleh memperlakukan baik kepada penganut agama atau orang dari suku tertentu, tapi mendiskriminasi pemeluk agama atau suku lain.
At-thabari dalam menafsirkan ayat diatas menyatakan, ayat ini sebagai ajaran Islam yang memperbolehkan seseorang muslim berbuat baik, menyambung persaudaraan dan berlaku adil kepada semua penganut agama titik berbuat baik kepada non muslim hukumnya tidak haram, baik non muslim yang memiliki ikatan keluarga maupun bukan.
Tiga dasar ajaran Islam di atas, yakni kemanusiaan (al-insaniyyah), persaudaraan ( al- ukhuwwah) dan keadilan (al-adalah) menjadi prinsip dalam moderasi beragama. Tanpa adanya ketiganya, maka praktik keberislaman akan terjatuh ke dalam tindakan yang ekstrem atau berlebihan, keras, kasar, dan zalim dalam berinteraksi dengan sesama agama terlebih di dalam masyarakat yang beragama suku agama budaya dan bahasanya. Prinsip ini juga dapat menjadi standar dan pembeda antara menjalankan ajaran Islam secara moderat (tawassut) atau tidak (tasyaddud).
Moderasi beragama nabi Muhammad SAW dan sahabatnya
Diceritakan oleh Anas bin Malik suatu ketika ada tiga rombongan sahabat sowan atau bertamu kepada nabi Muhammad SAW setelah mereka sampai di kediaman yang ditempati istri nabi SAW mereka bertanya perihal ibadah atau cara Islam yang dilakukan nabi
Muhammad SAW, istri nabi memberikan jawaban sebagaimana yang ia saksikan setiap harinya.
Setelah mendengar jawaban dari istri nabi, 3 rombongan itu lalu saling berbisik mengatakan : "kita semua tidak seperti nabi Muhammad SAW yang semua dosanya sudah diampuni dan selalu terhindar dari salah dan dosa (ma'sum)." Kalau salah satu seorang dari rombongan itu ada yang bercerita kalau ia selalu melakukan salat di malam hari kemudian itu akan dilakukan selama-lamanya. Diantaranya lagi ada yang bercerita selalu berpuasa dan tidak pernah libur sehari pun tidak diantaranya lagi menceritakan kalau dirinya selalu menjadi perempuan yang tidak akan menikah selamanya.
Di tengah kerumunan para tamu yang bercerita perihal bagaimana ia menjalankan ajaran Islam, tiba-tiba nabi Muhammad SAW datang dan ternyata telah mendengar semua obrolannya. Kepada para tamu itu nabi SAW mengatakan :
"Kalian telah berbicara begini dan begitu. Ingat lah, demi Allah saya ini orang yang paling takut dan bertakwa kepada Allah daripada kalian. Akan tetapi saya berpuasa dan saya berbuka atau tidak berpuasa, saya salat dan saya beristirahat, saya juga menikah. Barang siapa yang tidak senang dengan cara beragamaku, maka ia bukan termasuk pengikutku."
Tiga rombongan sahabat yang pertama kepada nabi Muhammad SAW itu merupakan orang-orang yang gelisah akan diselesaikan dilakukannya pada masa sebelum Islam tidak karenanya ketika mereka masuk Islam merasa memiliki banyak dosa yang ingin segera menikah dengan melakukan ajaran Islam secara berlebihan seperti soal-soal pada malam hari puasa Ramadan tidak menikah selama lamanya. Ketika mendengar cerita dari istri nabi Muhammad SAW berisi ajaran Islam nabi Muhammad SAW yang tidak menghabiskan semua waktunya hanya untuk salat atau puasa, mereka memahami bahwa nabi yang selalu melakukan seperti itu karena sudah terbebas dari dosa. Ternyata dugaan mereka salah.
Dijelaskan oleh nabi Muhammad SAW sendiri bahwa beliau meski terbebas dari dosa, tapi apa yang dilakukan semata-mata menjalankan perintah agama, melakukan ibadah dengan tidak berlebihan, waktunya salat maka akan menunaikannya kemasan yang sehat maka akan istirahat.
Diinformasikan oleh Abu Qatadah suatu ketika nabi Muhammad SAW pernah bercerita bahwa beliau sedang mengimami salat. Nabi SAW membaca surah Alquran yang cukup panjang terdengar suara anak kecil menangis. Nabi segera mengurungkan niatnya dan menggantinya dengan suara pendek agar cepat selesai. Nabi SAW mengatakan : "Saya segera mempercepat salat karena saya tidak senang memberatkan ibu dari anak yang menangis itu."
Dua hadis di atas merupakan salah satu dari banyak contoh bagaimana nabi
Muhammad SAW mempraktikkan ajaran agama yang bersifat individual atau ibadah secara moderat (tassawut).
Bab 3
Moderasi dalam Hubungan Agama dan Budaya
Menurut Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, tantangan dalam moderasi beragama adalah pertama, pesatnya pemahaman dan pengalaman agama yang berlebihan, terlalu ekstrem, dan bertolak belakang dengan esensi ajaran agama. Kedua, munculnya tokoh yang mengklain kebenaran atau suatu tafsir agama dan memaksa orang lain yang berbeda untuk mengikuti pemahaman dengan cara paksaan ataupun kekerasan. Ketiga, pemahaman yang merongrong atau mengancam ikatan bangsa dan moral -- moral bangsa. Contoh dari permasalahan berikut, yaitu pengeboman gereja katedral di Makasar. Kejadian tersebut menyebabkan satu jamaat tewas dan sembilan orang jemaat luka -- luka. Selain itu, ritual atau tradisi di Indonesia yang terlalu kejawen, membuat banyak orang berspekulasi bahwa tradisi atau ritual ini merupakan penyimpangan dari ajaran Nabi Muhammad SAW. Padahal doa -- doa yang digunakan ritual tersebut merupakan doa yang selalu dipanjatkan kepada Allah SWT. Cara supaya terhindar dari pemahaman agama yang berlebihan adalah dengan cara selektif dalam memilih teman, kelompok agama, dan bersikap baik, saling tolong menolong, tingkatkan rasa toleransi antar umat agama maupun beragama. Dengan adanya penguatan moderasi beragama ini dapat membuat masyarakat indonesia lebih menghormati dan toleransi terhadap keragaman budaya di Indonesia. Yang mana menjadikan indonesia sebagai negara plural dan multicultural sebagai contoh untuk negara -- negara lain untuk selalu menghormati agama, budaya, maupun etnis yang ada.
Salah satu yang memicu lahirnya istilah Islam atau pemilihan bahan yaitu adanya dugaan terhadap praktik Islam yang tidak sesuai dengan agama nabi Muhammad SAW dan sahabatnya tidak bukan ini mengandaikan umat Islam yang tidak dipengaruhi oleh
kebudayaan setempat titik sedangkan praktik Islam nabi SAW dan sahabatnya dianggap berasal dari kebudayaan di mana agama Islam itu dipraktikkan titik persoalan tentang Islam dan Islam tidak murni jawabannya dapat diselesaikan melalui kajian hubungan antara agama dan budaya.
Pengertian Budaya
Istilah budaya atau kebudayaan dalam percakapan kesenian sering diartikan dengan sesuatu yang indah seperti candi, tarian, seni rupa, seni suara, kesusastraan, dan filsafat.
Pengertian ini memberikan pemahaman bahwa kebudayaan pada intinya adalah kreasi yang dimiliki keindahan dari manusia titik dalam kajian antropologi ilmu yang mengkaji tentang kebudayaan budaya didefinisikan dengan seluruh sistem gagasan dan rasa tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan belajar.
Setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan terkait pengertian kebudayaan dalam kajian antropologi yaitu dihasilkan manusia dan dimiliki dengan cara berbeda titik dihasilkan manusia artinya bahwa kebudayaan merupakan produk dari manusia. Hal ini berbeda dengan agama yang berasal dari Tuhan titik kebudayaan bersifat profan sedangkan agama memiliki sifat sakral. Dimiliki dengan cara belajar maksudnya manusia memiliki kebudayaan tertentu karena ia belajar titik belajar di sini artinya bukan semata-mata mempelajari kebudayaan tertentu di bangku sekolah atau yang lainnya melainkan sejak ia lahir orangtuanya dididik untuk memakai pakaianku memilih warna tertentu berdasarkan jenis kelamin kamu memakai alas kaki atau, dan lain-lain bagian dari proses belajar yang dilakukan seseorang.
Dalam bahasa Arab, kebudayaan disebut dengan saqofah, istilah yang secara bahasa salah satunya bermakna tepat dalam belajar. Sedangkan dalam penggunaan istilahnya
memiliki pengertian sebagaimana kebudayaan dalam kajian antropologi. Hanya saja ada yang memberikan pengertian secara ringkas, yaitu sejumlah pengetahuan kemasannya, dan teknik yang didapatkan melalui belajar. Dalam pengertian yang agak panjang saqofah didefinisikan dengan kemajuan dalam berpikir yang meliputi undang-undang, politik, sejarah, ahlak, jalan hidup dan yang lainnya.
Pengertian saqofah atau kebudayaan di dalamnya mencakup istilah yang sering muncul dalam diskursus hukum Islam yaitu adat dan urf. Kedua istilah ini dalam teori hukum Islam atau ilmu usul fiqih maknanya sama kamu yaitu kebiasaan yang berlaku di dalam masyarakat. Kebiasaan yang dapat berupa perbuatan Amali atau perkataan lafzi. Kebiasaan yang dimaksud bukan hukum akal seperti ada akibat karena ada sebab ada gerakan karena ada sesuatu yang membedakan dan seterusnya.
Sedangkan kebiasaan yang dimaksud dalam pengertian adat dan urf yaitu perilaku masyarakat yang dilakukan berulang kali hingga menjadi kebiasaan karenanya ada dan yang berlaku di dalam masyarakat tertentu bisa berbeda dengan kebiasaan atau adat dan urf yang ada di masyarakat lain.
Untuk memudahkan pemetaan ke dalam kebudayaan koentjaraningrat membagi kebudayaan menjadi 4 macam yaitu :
1. Kebudayaan dalam bentuk benda-benda fisik 2. Sistem tingkah laku dan tindakan yang berpola 3. Sistem gagasan
4. Sistem ideologis yang menjadi pusat atau inti dari ketiga wujud kebudayaan sebelumnya.
Budaya dalam pandangan Islam
Mengingat pentingnya kebudayaan bagi keberlangsungan agama kamu meski tidak semua kebudayaan dapat diterima, Islam sangat menghargai keberagaman budaya atau tradisi yang dimiliki masyarakat titik dalam berbagai riwayat diinformasikan ke nabi Muhammad SAW dalam memakai pakaian itu menciptakan pakaian yang berbeda dengan pakaian yang berkembang di dalam masyarakat yang tidak melakukan pengobatan aneka barang yang digunakan mulai dari sandal tempat minum kendaraan dan lain-lain sama sebagaimana kebudayaan yang berlaku di dalam masyarakat pada saat itu.
Kesimpulan dalam hubungan agama dan budaya dalam Islam itu ada 3 macam :
Pertama; perlawanan, yakni Islam menolak kebudayaan atau tradisi yang berkembang di dalam masyarakat seperti kebiasaan menyembah berhala karena bertentangan dengan tauhid.
Kedua; menerima dengan memodifikasi mengadopsi, dan mengadaptasi.
Ketiga; menciptakan kebudayaan baru, seperti orang-orang pulang atau beristirahat dari tempat bekerjanya ketika waktu sholat tiba buka puasa atau sore bersama pada bulan Ramadan membersihkan masjid dan lain-lainnya.
Jalan Tengah Agama dan Budaya
Melalui penjelasan di atas, sikap moderat dalam memandang hubungan agama dan budaya menjadi mudah dipahami titik Islam bukan bagian dari kebudayaan rumah tapi Islam juga tidak anti budaya titik Islam sebagai agama bersifat absolut dan universal, sejarah formulasinya bertalian erat dengan kebudayaan Arab pra Islam. Alquran menggunakan bahasa Arab proses penurunannya bertalian erat dengan kebudayaan dalam bidang puisi dan syair nabi Muhammad SAW sebagai penerimanya juga orang yang berbahasa dan
kebudayaan Arab.
Absolut dan universal Islam maksudnya ada di dalam kebenaran ajaran dan
kebudayaan yang digunakan di dalam formulasi atau pembentukan Islam awal yang berasal dari Wahyu. Kebudayaan Arab dijadikan media dalam perwujudan Wahyu menjadi bagian tak terpisahkan dari agama yakni orang islam dimana saja harus menggunakan kitab suci Alquran yang berbahasa Arab. Misalnya bacaan Alquran di dalam salat ketika seorang salat maka harus membaca QS Al Fatihah yang berbahasa Arab umat tidak boleh menggunakan terjemahannya.
Kesimpulan
Penjelasan di atas mengantarkan pada kesimpulan moderasi Islam dalam
memperlakukan kebudayaan yaitu dengan cara mengapresiasinya. Kebudayaan lokal diterima sepanjang tidak bertentangan dengan konsep ketuhanan kenabian dan kemanusiaan titik Islam tidak antipati terhadap budaya agama karena agama yang pertama kali diterima masyarakat Arab ini dari awal sudah berdialektika dengan kebudayaan setempat titik Dengan demikian, istilah Islam murni atau pemurnian tauhid dengan diartikan sebagai Islam yang terbebas dari berbagai kebudayaan lokal menjadi bermasalah.
Bab 5
Moderrasi dalam Syariat Pengertian syariat dan fiqih
Secara bahasa, syariat artinya sumber air. Sedangkan secara istilah yaitu agama yang disyariatkan Allah kepada hamba-hambanya. Para ulama menyebutkan, hukum Allah diberi nama syariat karena menyerupai sumber air, yaitu dapat menghidupkan jiwa dan akal sebagaimana sumber air dapat menghidupkan tubuh.
Abdul Karim dalam bukunya Madkhal li Dirasah al-Syari'ah al-islamiyah, menjelaskan bahwa istilah al-syariah Al-din Al-millah memiliki makna yang sama yaitu hukum yang diberikan Allah kepada para hamba-nya. Syariah disebut Din karena didalamnya mengandung perintah ketundukan dan kepatuhan kepada Allah. Syariat diberinama millah setiap syariat disampaikan kepada manusia.
Syariat dalam arti hukum-hukum Allah yang terdapat di dalam Alquran dan Sunnah tidak bisa terlepas dari pemahaman manusia yang memiliki konteks sosial historis berbeda- beda Syariah Allah tunggal, tapi pemahaman manusia terhadapnya berbeda-beda.
Isu penerapan syariat
Maksud dari istilah syariah yang digunakan sebagai umat Islam dalam gerakan politik yang mengusung penerapan syariat dalam kehidupan sosial ekonomi dan politik atau
bernegara, tidak lepas dari uraian pengertian syariat di atas, ya ini syariat dalam arti fiqih atau pemahaman atas hukum Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW titik Syariah di sini dipahami para pengusungnya dengan hudud yaitu memberlakukan hukum potong tangan bagi pencuri Komara jam atau disiksa dengan melempari batu bagi pezina, diberlakukannya hukuman qisas bagi pelaku pembunuhan atau pemukulan dan sejumlah pemahaman syariat atau fiqih lainnya seperti keharusan memakai penutup kepala atau hijab bagi perempuan melarang warung makan buka pada siang hari bulan Ramadhan hingga keharusan mengubah sistem negara dari demokrasi ke khilafah atau negara yang berdasarkan pada hukum-hukum Islam.
Isu Negara Islam
Negara Islam menurut kelompok ekstrem yaitu negara yang dipimpin oleh satu orang atau disebut khalifah dan undang-undangnya berdasarkan pada syariat dalam pengertiannya yang sangat tekstual, yakni diterapkannya hudud, qisas, dan yang lainnya.
Menurut al-jabiri, Islam tidak memiliki konsep tentang negara atau pemerintahan sebagaimana dikenal pada masa kontemporer. Hal ini dibuktikan dengan sejarah pada masa nabi Muhammad SAW Abu bakar Umar Utsman dan Ali bin Abi Thalib. Istilah negara sendiri yang dalam bahasa Arab disebut daulah, pada masa nabi SAW dan sahabatnya digunakan untuk makna perputaran harta atau perangko ya ini perpindahan harta dan perang dari satu keadaan-keadaan lainnya.
Kesimpulan
Syariat Islam yang menjadi iso perjuangan kelompok ekstrem menemukan
ketidakjelasan ketika dihadapkan pada kondisi nyata di lapangan titik pasalnya, jari adalah
arti semua hukum yang ada di dalam Alquran dan Sunnah berupa teks yang jumlahnya terbatas sementara realitas tidak terbatas.
Di sisi lain ngomong hukum-hukum yang terdapat di dalam Alquran jika dipahami tanpa menggunakan berbagai ilmu bantu, maka akan sulit dimengerti, bahkan jika dipaksakan maka akan menghasilkan kesimpulan kesimpulan yang melesat jauh dari tradisi keislaman itu sendiri titik karenanya, salah satu satu-satunya jalan yang untuk memahami hukum syariat yaitu ditafsirkan dengan tetap menjaga tujuan-tujuannya atau maqashid al-syariah yang berupa menciptakan kemaslahatan dan menolak bahwa bahaya atau kerusakan. Hasil penafsiran ini dinamakan dengan fiqih atau hukum
Bab 7
Toleransi dalam Beragama
Pengertian dan batasan toleransi dalam Islam
Toleransi atau dalam bahasa Arab disebut tasamuh secara bahasa berarti memberi dengan kemurahan hati(a'ta 'an karam wa Sakha). Sedangkan menurut bahasa ialah posisi pemikiran dan tindakan yang berdasarkan pada penerimaan terhadap pemikiran dan perbuatan yang dilakukan orang lain, baik itu tindakannya sesuai atau berbeda dengannya.
Dikatakan juga bahwa tasamuh ialah menghormati pendirian yang berbeda (ikhtiram mauqif al-mukhalif) atau menerima perbedaan dari Persikabo halus dalam berinteraksi dengan semua orang serta tidak membeda-bedakannya (Qabul Al mukhtalif wa al-layyin fi al-mu'amalah wa 'adam al-tamyizi baina al-nas).
Toleransi dalam beragama bukan membiarkan, memaafkan, atau tidak peduli terhadap orang lain yang memiliki keyakinan atau agama berbeda agama melainkan memberikan penghargaan terhadap nya dengan cara berlaku adil, yakni memberikan hak dan kewajiban orang lain sebagaimana seseorang memberikan hak dan kewajiban kepada dirinya sendiri (lahum ma lana wa 'alaihjm ma 'alaina).
Dalam Islam, hubungan antar manusia, apapun agama, suku, dan budayanya, hukum asalnya adalah damai atau al-salam. Perang dalam Islam dilakukan untuk mengembalikan kondisi sosial yang terjadi konflik ke dalam keadaan semula, yaitu damai. Islam
memerintahkan sebagai pemeluknya menjadi juru damai dalam setiap pertikaian atau perselisihan, baik yaitu pertikaian antar individu maupun kelompok.
Dalam hadits lain diriwayatkan, nabi Muhammad SAW bersabda : "paling utama utamanya sedekah adalah mendamaikan orang yang bermusuhan" (Inna afdal al-sadaqah islah zat al-bain). Toleransi dalam beragama bukan berarti membenarkan keyakinan atau agama yang berbeda, juga bukan mencampuradukkan paham atau keyakinan agama agama, melainkan menghargai orang lain untuk memeluk dan menjalankan agama yang berbeda dengannya.
Toleransi beragama menurut Islam maksudnya sikap seorang muslim dalam
menyikapi keberagaman agama dan keyakinan dengan cara menghargai dan memberikan hak kepada semua manusia untuk menjalankan ajaran agamanya sebagaimana kepada dirinya sendiri. Toleransi atau tasamuh yang berarti "sikap dalam menghadapi keberagaman" tidak ada kaitannya dengan membenarkan ajaran agama yang berbeda agama melainkan berkaitan dengan pemenuhan hak sesama manusia apapun agama dan keyakinannya.
Toleransi antar umat beragama
Toleransi sebagai ajaran Islam bersumber dari Alquran dan hadis. Melalui QS Al- uqman 14-15 ada dua hal yang hendak dijelaskan dalam tulisan ini. Pertama, perintah kedua orang tua wajib diikuti kecuali jika memerintahkan menyekutukan Tuhan. Hal ini
menegaskan bahwa beragama tidak boleh ada unsur paksaan sebagaimana dijelaskan dalam QS al-baqarah 256. Kedua, QS Luqman 14-15 dan beberapa ayat yang telah disebutkan
menegaskan bahwa perbedaan agama dan keyakinan tidak boleh menjadi penghalang seorang muslim untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada siapapun.
"Berbuat baik" dan "Berlaku adil" menjadi kerangka dasar dalam toleransi. Artinya, toleransi atau tasamuh adalah sikap yang dan cara pandang seorang muslim dalam
menghadapi keberagaman agama dan keyakinan berada di dalam kerangka perintah untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada siapapun.
Dalam hadits ada banyak sekali riwayat yang menginformasikan perihal keharusan umat Islam berbuat baik dan berlaku adil kepada umat agama lain. Salah satunya nabi Muhammad SAW bersabda:
"Ingatlah kamu barangsiapa mendholimi non muslim yang mengadakan perjanjian damai atau mengurangi hak nya atau membebani kewajiban diatas kesanggupannya atau mengambil
sesuatu darinya tanpa kerelaannya, maka saya akan menjadi orang yang mengalahkannya dengan membela non-muslim kelak di hari kiamat."
Perintah untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada siapapun yang dalam sejarah Islam awal digambarkan dengan larangan menzalimi kepada zummi atau mu'ahid yakni non muslim yang tidak memerangi umat Islam, juga disampaikan para sahabat pengganti nabi SAW atau al-khulafa al-rasyidin. Abu Bakar berpesan :
"Janganlah engkau membunuh seorangpun dari non muslim yang menjadi tanggung jawab Allah. (Jika engkau melakukannya) maka Allah akan menuntut ilmu sebab ia menjadi
tanggungannya. Allah akan menjatuhkanmu ke dalam api neraka."
Prinsip berbuat baik dan berlaku adil menjadi pondasi dalam membangun relasi antar umat beragama, bahkan antar umat manusia yang sekarang disebut dengan istilah "toleransi".
Semua riwayat di atas memberikan pemahaman bahwa toleransi beragama yang dilakukan nabi Muhammad SAW dan sahabatnya adalah memberikan hak kepada non muslim sebagaimana hak yang diberikan kepada umat Islam.
Kesimpulan
Toleransi beragama dalam Islam masuk kadal wilayah hubungan antar manusia atau muamalah yakni memberikan hak atas kebebasan menjalankan agama kepada pemeluk agama lain. Hal ini berdasarkan kerangka berpikir sebagai berikut:
Pertama, Alquran menegaskan bahwa yang memberikan petunjuk(hidayah) dalam arti penerimaannya bukan menjadi wilayah manusia, tapi bagian dari kekuasaan Tuhan.
Kedua, perbedaan yang terjadi diantara umat manusia termasuk didalamnya perbedaan agama, bagian dari fakta yang tidak bisa dihindari dalam sejarah umat manusia. Alquran dalam berbagai akhirnya mengakui atas keberagaman itu bahkan mempersilahkan manusia untuk menemukan keyakinannya masing-masing.
Ketiga manusia dengan segala perbedaannya memiliki hak yang sama untuk dimuliakan.
Islam.
Daftar Pustaka
Muhammad bin Jarir at-Tabari, jami al-Bayan fi Ta’wil al-qur’an, Beirut Mu’assahah al- Risalah cet.1 2000, vol III, hal 141-145.
Abu al-Fida isma’il ibn kasir, tafsir al-qur’an al-azim, Beirut : Dar Al-Kutub al-ilmiyah, cet.1, 1419, vol.I, hal 327
Abu Ishaq al-Zujaj, Ma’ani al-qur’an wa I’rabuh, Beirut : Alam al-Kutub, cet.1, 1988, vol.I, hal 219
Muhammad al-Tahir bin Asyur, Al-Tahir wa al-Tanwir, Tunisia : al-Dar al-Tunisiyyah li al- Nasyr, 1984, vol.VI, hal 290
Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, vol.VI, hal 290
https://www.kompasiana.com/rinidevita5245/61aec42c62a7047a3f6eae72/moderasi- beragama-dalam-keragaman-budaya-di-indonesia
https://iqra.id/moderasi-beragama-menurut-para-ahli-227476/