• Tidak ada hasil yang ditemukan

konsep pendidikan karakter

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "konsep pendidikan karakter"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Data survei mengenai seks bebas di kalangan remaja Indonesia menunjukkan bahwa 63% remaja Indonesia berpartisipasi dalam seks bebas.4 Menurut Theodore Roosevelt, mendidik seseorang untuk berpikir rasional saja tanpa disertai pendidikan moral berarti ancaman bagi masyarakat dalam menciptakan kehidupan. 5. Seperti yang dikatakan Theodore Roosevelt, pendidikan tidak hanya memberikan cara berpikir saja, namun pendidikan yang lebih dari itu yaitu pendidikan moral harus diajarkan oleh remaja masa kini.Di Indonesia sendiri, pendidikan karakter bukan lagi sebuah wacana baru dikalangan pendidik. , seperti yang telah terbukti. oleh tokoh-tokoh besar yang memperjuangkan makna Pentingnya karakter bagi generasi muda dapat dilihat pada lagu kebangsaan Indonesia “Indonesia Raya” pada syairnya yang berpesan “membangun jiwa” dan kemudian pada syair berikutnya. 4 Dharma Kesuma, Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktek di Sekolah, dkk. (Bandung: Melawan Rosdakarya, 2013), 2.

Namun kesadaran dan penerapan pendidikan karakter sendiri belum banyak mendapat perhatian di kalangan remaja saat ini. 6 Dharma Kesuma, Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktek di Sekolah, dkk (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), 3. Oleh karena itu, nampaknya pendidikan karakter yang selama ini dibahas harus diterapkan di sekolah, keluarga dan lingkungan hidup, masyarakat.

Thomas Lickona dianggap sebagai pendukungnya, apalagi ketika ia menulis buku berjudul “The Return of Character”, disusul dengan bukunya yang berjudul “Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility”, melalui karya-karyanya ia Lickona the dunia sadar akan pentingnya pendidikan karakter. Oleh karena itu, penulis ingin menganalisis pemikiran Thomas Lickona yang membahas tentang pendidikan karakter, dalam buku terjemahan Abdu Juma Wamaungo yang berjudul “Konsep Pendidikan Karakter (Studi Analitik Pemikiran Thomas Lickona dalam Buku Trans.

Fokus Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Definisi Istilah

Pendidikan merupakan upaya sadar yang dilakukan pendidik terhadap peserta didik untuk membentuk kepribadian anak. Dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 1 ayat (1) disebutkan bahwa pendidikan adalah upaya sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. . pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan yang diperlukan bagi diri, masyarakat, bangsa dan negara 15 Pengertian pendidikan adalah sebagai suatu usaha atau proses untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap individu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, budi pekerti berarti sifat-sifat kejiwaan, moral, atau perilaku yang membedakan seseorang dengan orang lain; karakter; karakter.

Yang dimaksud dengan karakter adalah sifat dan watak seseorang yang dapat membedakan individu yang satu dengan individu yang lain. Jadi pengertian pendidikan karakter adalah suatu proses upaya menggali seluruh potensi diri seseorang untuk menjadi manusia sukses baik di dunia maupun di akhirat.

Metode Penelitian

Sumber data adalah subjek dari mana data tersebut diperoleh.19 Karena penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, maka cara pengumpulan datanya adalah dengan mencari dan mengkaji literatur atau bahan pustaka, baik primer maupun sekunder. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumenter, yaitu pengumpulan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan Thomas Lickona serta dokumen-dokumen yang berkaitan erat dengan pendidikan karakter. Data yang diperoleh disusun dalam kategori-kategori, diuraikan dalam satuan-satuan, disintesis, disusun dalam pola, diseleksi apa yang penting dan apa yang akan dipelajari, serta ditarik kesimpulan agar mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain.

Analisis isi merupakan analisis ilmiah terhadap isi pesan suatu komunikasi, yang melibatkan upaya untuk mengklasifikasikan data yang digunakan dalam komunikasi tersebut, menggunakan kriteria sebagai dasar klasifikasi, dan menggunakan teknik analisis tertentu sebagai pembuat prediksi. Menentukan ciri-ciri pesan berarti pesan dari konsep pendidikan karakter yang digagas oleh Thomas Lickona. Penelitian dilakukan secara sistematis, yaitu tidak hanya melihat pemikiran Thomas Lickona saja, tetapi juga pemikiran para ahli pendidikan lainnya.

Langkah terakhir dari penelitian ini adalah menarik kesimpulan sementara, karena penulis berharap agar penelitian ini dapat diteruskan oleh peneliti lain, mengingat masih terbuka kemungkinan bagi Thomas Lickona untuk memunculkan ide-ide baru mengenai fokus penelitian ini. Ketika konsep pendidikan karakter Thomas Lickona dijelaskan, maka berlakulah implikasi pendidikan karakter Thomas Lickona.

Sistematika Pembahasan

Penelitian-penelitian terdahulu memberikan landasan bahwa penelitian pendidikan karakter Thomas Lickona belum pernah dilakukan. Biografi Thomas Lickona, meliputi: Latar Belakang Keluarga; Persiapan pendidikan; Bekerja; dan Pemikiran Thomas Lickona. BAB EMPAT Penjelasan pada BAB IV menguraikan konsep pendidikan karakter Thomas Lickona dan kemudian implikasi pendidikan karakter dari pemikiran Thomas Lickona.

KAJIAN PUSTAKA

Penelitian Terdahulu

Kesimpulan dari skripsi ini adalah konsep pendidikan Islam menurut konsep pendidikan Islam Kh. Ahmad Dahlan meliputi: 1) pendidikan karakter, mencakup siswa memikirkan kemajuan; ..mahasiswa militan melawan muhammadiyah; siswa yang menentang tradisi campuran; dan penentang takhayul. Perbandingan Pendidikan Karakter Dalam Sudut Pandang Imam Abu Hamid Al-Ghazali dan Kyai Haji Hasyim Asy'ari karya A'yunin Nadifah dari Fakultas Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember. Kesimpulan dari skripsi ini terletak pada konsep karakter yang harus dimiliki oleh guru dan siswa.

Konsep pendidikan karakter dari sudut pandang Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya' Ulum al-Din Juz 1. Imam Abu Hamid Al-Ghazali menjelaskan tentang karakter pendidik yang meliputi hakikat pendidikan dan karakter yang harus dimiliki. . Konsep pendidikan karakter dari sudut pandang Kyai Haji Hasyimn Asy’ari dalam kitab Adab al-’Alim wa al-Muta’allim.

Menjelaskan karakter pendidik meliputi; hakikat pendidik, watak pendidik, karakter yang harus dimiliki pendidik dan upaya yang dilakukan pendidik untuk menjadi pendidik profesional, serta strategi dalam mengajar. Persamaan dan perbedaan konsep pendidikan karakter perspektif Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam Kitab Ihya' Ulum.

Kajian Teori

  • Pengertian Pendidikan Karakter
  • Fungsi Pendidikan Karakter
  • Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter
  • Strategi Pendidikan Karakter
  • Nilai-nilai dalam Pendidikan Karakter
  • Landasan-ladasan Pendidikan Karakter di Indonesia

Satu pihak mengatakan bahwa pendidikan nilai harus diajarkan kepada anak, di sisi lain ada pula yang berpendapat bahwa “nilai-nilai yang berlaku di mana” harus diajarkan. Setelah Anda memahami pengertian pendidikan secara umum, selanjutnya yang perlu Anda ketahui adalah hakikat karakter sehingga Anda dapat menemukan pemahaman yang komprehensif tentang pendidikan karakter. Beberapa tokoh juga mendefinisikan pendidikan karakter, antara lain Thomas Lickona, menurut Thomas pendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan karakter yang hasilnya dapat dilihat dari tindakan nyata seseorang yaitu perilaku baik, jujur, tanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan lain sebagainya.8 Pendidikan karakter menurut Lickona mengandung tiga unsur pokok, yaitu pengetahuan tentang yang baik (to know good), mencintai yang baik (to wish good) dan berbuat baik (do good). Ketiga unsur ini menurut Thomas Lickona harus dimiliki oleh seseorang untuk mengetahui bahwa orang tersebut mempunyai akhlak yang baik, yaitu mengetahui hal-hal yang baik, menginginkan hal-hal yang baik dan melakukan hal-hal yang baik tersebut.

Seperti yang dipikirkan Thomas, Aristoteles mengartikan pendidikan karakter berkaitan erat dengan kebiasaan, yang seringkali diwujudkan dalam perilaku. Menurut Ramli (2003), pendidikan karakter mempunyai hakikat dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Menurut Elkind dan Sweet (2004), pendidikan karakter adalah upaya yang disengaja untuk membantu memahami orang, keprihatinan, dan nilai-nilai etika/moral yang mendasarinya.11.

Sedangkan menurut pencetus pendidikan karakter yang pertama, F.W Foerster, pendidikan karakter adalah seperangkat nilai-nilai yang sudah menjadi kebiasaan sehingga menjadi permanen dalam diri seseorang, misalnya kerja keras, pantang menyerah, kejujuran, kesederhanaan. , dll. 12. 14 Salahudin dan Irwanto Alkrienciehie, Pendidikan Karakter: Pendidikan Berbasis Agama dan Kebudayaan Nasional (Bandung: Pustaka Setia, 2013), 43. Pendidikan karakter di sekolah akan terlaksana dengan lancar apabila guru dalam pelaksanaannya menyadari beberapa prinsip dari pendidikan karakter.

Berfungsinya seluruh personel sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab terhadap pendidikan karakter dan setia pada nilai-nilai dasar yang sama; Tahapan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa cinta dan kebutuhan akan nilai-nilai akhlak yang luhur. Landasan pendidikan karakter dijadikan acuan, agar pendidikan karakter yang diajarkan tidak menyimpang dari jati diri bangsa dan bangsa Indonesia.

Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa pendidikan karakter di Indonesia didasarkan pada sembilan pilar dasar karakter, antara lain: 17. Dengan demikian, agama merupakan landasan pertama dan utama dalam pengembangan pendidikan karakter di Indonesia. Dalam rangka mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang baik, yaitu warga negara yang mempunyai kemampuan, kemauan dan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara Indonesia, oleh karena itu perlu adanya landasan Pancasila sebagai ruh dalam setiap penerapannya.

BIOGRAFI THOMAS LICKONA

Riwayat Hidup

Corak Pemikiran

Karya-karya Thomas Lickona

PENDIDIKAN KARAKTER DAN IMPLIKASI PADA ZAMAN

Komponen Pendidikan Karakter

Implikasi pendidikan karakter menurut Thomas Lickona pada

PENUTUP

Kesimpulan

Dari hasil penelitian tentang “Konsep Pendidikan Karakter (Studi Analitik Pemikiran Thomas Lickona dalam Buku Terjemahan Abdu Juma Wamaungo “Educating for Character: Mendidik untuk Membentuk Karakter”) dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter baik jika terdiri dari terdapat tiga bagian yang sangat koheren yaitu (1) pengetahuan moral, (2) perasaan moral, dan (3) perilaku moral.Keberadaan karya-karya Thomas Lickona tentang pendidikan karakter telah meyakinkan dan menyadarkan dunia akan pentingnya pengajaran nilai-nilai. pendidikan, terlihat dari banyaknya sekolah yang mulai menerapkan pendidikan karakter dengan mengajarkan dua nilai yang sangat penting yaitu rasa hormat dan tanggung jawab. Selain sekolah, lingkungan keluarga juga memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap tumbuhnya karakter yang kuat, dan Dalam keluarga, pendidikan nilai dilihat dari kualitas pengasuhan orang tua terhadap anak, dan terakhir yaitu faktor masyarakat, masyarakat diharapkan mendukung dan bekerjasama membangun karakter nilai dengan menjalin hubungan, kerjasama antar masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman. , menciptakan lingkungan yang damai dan nyaman.

Saran-saran

Pembentukan Karakter pada Anak Usia Dini: Panduan Orang Tua dan Guru dalam Membangun Kemandirian dan Disiplin pada Anak Usia Dini. EP PENDIDIKAN KARAKTER (KAJIHAN ANALISIS PIKIRAN THOMAS NA DALAM BUKU TERJ. ABDU JUMA WAMAUNGO “PENDIDIKAN KARAKTER: PENDIDIKAN UNTUK MEMBENTUK KARAKTER”).

Referensi

Dokumen terkait

Bagi para remaja, kesadaran akan bahaya dari seks bebas harus ditanamkan dengan baik sehingga dapat mengontrol diri untuk tidak menlakukan perbuatan seks

Pendidikan karakter mempunyai tugas yang penting untuk mendidik seseorang. Pendidikan karakter religius dan disiplin, diharapkan dapat mendidik siswa agar memiliki

signifikan antara pendidikan seks dalam keluarga dengan perilaku seks bebas

Benar telah menyelesaikan studi Tugas Akhir yang berjudul “Perancangan Media Kampanye Bahaya Seks Bebas Bagi Kalangan Remaja di Kota

Terselesaikannya penelitian skripsi ini dengan Judul: Rasionalitas Seks Bebas Di Kalangan Remaja Pedesaan (Di Desa Sumberrejo, Candipurro- Lumajang) Terselesaikannya

Sebagai masukan bagi Departeman Pendidikan untuk melakukan peningkatan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan upaya pencegahan seks bebas terhadap kalangan remaja.

Bahkan, tidak di kalangan remaja saja, secara umum bangsa Indonesia dihadapkan pada berbagai problem kebangsaan yang tidak mencerminkan karakter bangsa Indonesia, seperti budaya

Ada dua dampak yang ditimbulkan dari perilaku seks di kalangan remaja yaitu kehamilan dan penyakit menular seksual. Seperti kita ketahui bahwa banyak dampak buruk dari seks bebas