MAKALAH SURVEI KONSUMSI PANGAN
“Konsep Survei Konsumsi Pangan”
Dosen Pengampu:
Rina Hasniyati, SKM, M.Kes
Disusun Oleh
Ratu Rachmania (222210828)
Sarjana Terapan Gizi dan Dietetika 2B Tahun Ajaran 2023/2024
Poltekkes Kemenkes Padang
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan hidayah-Nya. penulis da pat menyelesaikan tugas makalah Patologi Penyakit Infeksi yang berjudul "Konsep survei konsumsi pangan" dengan tepat waktu.
Makalah disusun untuk memenuhi tugas Mata kuliah Survei konsumsi pangan. Selain it u, makalah ini bertujuan menambah wawasan tentang Konsumsi pangan bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada ibu dosen mata kuliah Survei konsumsi pangan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu men yelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan kriti k yang membangun diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Padang, 17 Januari 2024
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... 2
DAFTAR ISI... 3
BAB I... 4
PENDAHULUAN...4
A. Latar Belakang... 4
B. Rumusan masalah... 4
C. Tujuan...5
BAB II...6
PEMBAHASAN... 6
A. Pengertian Survei konsumsi pangan...6
B. Tujuan Survei konsumsi pangan...7
C. Metode survei konsumsi pangan...8
D. Metode pengukuran konsumsi makanan berdasarkan sasaran...9
BAB III...14
PENUTUP...14
A. Kesimpulan... 14
B. Saran...15
DAFTAR PUSTAKA... 16
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tingkat kecukupan zat gizi individu maupun kelompok masyarakat dapat dipero leh melalui survei konsumsi pangan. Penilaian survei konsumsi pangan ada 2 macam, y aitu secara kualitatif dan kuantitatif. Penilaian ini dilakukan dengan estimasi makanan u ntuk menilai kandungan gizi dalam satuan penukar, dilanjutkan dengan menilai asupan makanan individu, keluarga dan institusi melalui berbagai metode sepert: food weighin g, food recall, foodrecord, food frequency questionnaire, dan dietary history.
Pada makalah ini akan dibahas tentang pengantar untuk memahami Survei Kons umsi Pangan (SKP), yang berisi tentang pengertian konsumsi pangan, tujuan survei kon sumsi pangan, sasaran survei konsumsi pangan dan juga dijelaskan berbagai metode dal am pelaksanaan survei konsumsi pangan.
Kompetensi ahli gizi adalah mampu menjelaskan pengertian, berbagai metode, t ujuan SKP. Kemampuan ini adalah kemampuan pengetahuan dan keterampilan dasar ba gi ahli gizi untuk memahami dan mampu melakukan SKP dengan tepat. Kemampuan m elakukan berbagai metode pengukuran SKP, adalah salah satu cara untuk memperkaya keterampilan praktis dalam penilaian konsumsi pangan. Ahli gizi yang menguasai bany ak metode SKP adalah ahli gizi yang berwawasan luas dan profesional, siap bekerja ses uai dengan tuntutan pekerjaannya.
B. Rumusan masalah
1. Menjelaskan pengertian survei konsumsi pangan 2. Tujuan survei konsumsi pangan
3. Metode survei konsumsi pangan (kualitatif dan kuantitatif)
4. Metode pengukuran konsumsi makanan berdasarkan sasaran (individu, rumah t angga, nasional)
C. Tujuan
1. Mengetahui apa itu survei konsumsi pangan
2. Mengetahui Tujuan survei konsumsi pangan
3. Memahami metode survei konsumsi pangan (kualitatif dan kuantitatif)
4. Memahami metode pengukuran konsumsi makanan berdasarkan sasaran (indivi du, rumah tangga, nasional)
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Survei konsumsi pangan
Survei konsumsi pangan adalah serangkaian kegiatan pengukuran konsumsi ma kanan pada individu, keluarga dan kelompok masyarakat dengan menggunakan metode pengukuran yang sistematis, menilai asupan zat gizi dan mengevaluasi asupan zat gizi s ebagai cara penilaian status gizi secara tidak langsung.
Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maup un tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi man usia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lainnya yang di gunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minu man (Kementan 2016), (Kemenkumham 2015).
Konsumsi pangan adalah banyanya makanan/minuman atau jumlah pangan yan g dikonsumsi sescorang atau sekelompok orang yang bertujuan untuk memenuhi kebutu han fisiologis, psikologis, dan sosiologis. Tujuan fisiologis adalah upaya untuk memenu hi keinginan makan (rasa lapar) atau untuk memperoleh zat-zat gizi yang diperlukan tub uh. Tujuan psikologis adalah untuk memenuhi kepuasan emosional atau selera. Tujuan s osiologis adalah untuk memelihara hubungan manusia dalam keluarga dan masyarakat (Suryono, 2007).
Pola Konsumsi adalah susunan makanan yang mencakup jenis dan jumlah baha n makanan rata-rata per orang per hari, yang umum dikonsumsi masyarakat dalam jangk a waktu tertentu. Jenis bahan pangan dibedakan menurut berbagai cara. Salah satu cara membedakan bahan pangan adalah berdasarkan sumbernya. Berdasarkan sumbernya ba han pangan dibedakan menjadi bahan pangan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayuran, dan buah-buahan. Jenis bahan makanan yang dikonsumsi idealnya memenuhi syarat ku alitas maupun kuantitas. Secara kualitas pangan yang dikonsumsi harus mampu memen uhi seluruh kebutuhan zat gizi. Bahan pangan yang dikonsumsi apabila telah mampu me nyediakan semua jenis zat gizi yang dibutuhkan maka ia disebut berkualitas. Fakta yang ada adalah bahwa tidak ada satu bahan makanan yang mampu memenuhi seluruh zat giz i. Atas alasan inilah maka perlu dilakukan penganekaragaman konsumsi pangan dan har
us berbasis makanan lokal. Banyak pertimbangan logis sederhana yang harus dipahami pada kebijakan pemerintah terkait penganekaragaman dan konsumsi makanan lokal. (K ementan 2016), (Mahfi et al. 2008), (Kementerian Pertanian 2014).
Dinamika konsumsi pangan yang berubah secara terus menerus sesuai dengan p erkembangan berbagai sektor termasuk sektor pendapatan adalah harus dipantau setiap periode waktu tertentu, Pemantauan ini dijelaskan sebagai salah cara untuk mendeteksi secara dini kemampuan sektor produksi untuk menjamin pasokan guna mengatasi gejol ak harga yang dapat memicu inflasi. Makanan adalah pemicu inflasi yang paling potensi l. lika inflasi nai karena kenaikan harga makanan pokok, maka ini dapat memicu lahirny a masalah gizi dan keschatan.
Perubahan itu layaknya dapat dimonitor melalui survei konsumsi pangan pendu duk secara berkala.
Berdasarkan kerangka berpikir demikian maka, survei konsumsi pangan pendud uk menjadi salah satu alasan penting dalam menelaah dinamika konsumsi pangan serta dampak penyerta bagi gizi dan kesehatan. Pengukuran konsumsi pangan adalah beraga ma sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Pengukuran konsumsi pangan dibedakan s alah satunya menurut individu, keluarga dan kelompok.
B. Tujuan Survei konsumsi pangan
Survei konsumsi pangan sebagai fungsi dari penilaian status gizi secara tidak langsun g bertujuan untuk memberikan informasi awal tentang kondisi asupan zat gizi individu, keluarga dan kelompok masyarakat saat ini dan masa lalu. Pada sisi ini diketahui bahwa informasi tentang kualitas dan kuantitas asupan zat gizi saat ini dan masa lalu adalah cer minan untuk status gizi masa yang akan datang. Konsumsi hari ini akan mempengaruhi kondisi keschatan dan gizi dimasa yang akan datang. Status asupan gizi saat ini yang dik etahui dari kuantitas dan kualitas
Kualitas makanan adalah gambaran umum yang makanan yang dikonsumsi berdasar kan ketersediaan semua sumber bahan makanan dan semua sumber zat gizi yang dibutu hkan tubuh. Secara kualitas maksudnya adalah ketersediaan semua zat gizi yang dibutu kan dari bahan makanan yang idealnya tersedia. Perbedaan dengan pendekatan kuantita s adalah pada jumlahnya. Jika secara kualitas hanya dilihat apakah semua zat gizi sudah tersedia sedangkan secara kuantitas melihat apakah semua zat gizi sudah memenuhi jum lahnya. Baik sudut pandang kuantitas maupun kualitas tidak dapat berdiri sendiri melain kan harus dilinat seperti dua sisi mata uang.
Mendeskripsikan status asupan gizi secara kualitas dan kuantitas inilah, maka diperlu kan metode penilaian konsumsi pangan yang tepat pada kondisi khusus dan kondisi um um. Kondisi khusus adalah tingkat individu dan kondisi umum adalah pada tingkat popu lasi.
C. Metode survei konsumsi pangan
Pengukuran konsumsi makanan adalah salah satu metode pengukuran status gizi secara tidak langsung dengan cara mengukur kualitas dan kuantitas makanan yang diko nsumsi baik tingkat individu, rumah tangga, dan masyarakat. Berdasarkan jenis data ya ng diperoleh, maka pengukuran konsumsi makanan menghasilkan dua jenis data konsu msi, yaitu bersifat kualitatif dan kuantitatif.
Metode Kualitatif Metode yang bersifat kualitatif biasanya untuk mengetahui fr ekuensi makan, frekuensi konsumsi menurut jenisbahan makanan dan menggali inform asi tentang kebiasaan makan (food habit) serta cara-cara memperoleh bahan makanan te rsebut.
Metode Kuantitatif Metode secara kuantitatif dimaksud untuk mengetahui jumla h makanan yang dikonsumsi sehingga dapat dihitung konsumsi zat gizi dengan menggu nakan daftar komposisi bahan makanan (DKBM) atau daftar yang diperlukan seperti da ftar URT (Ukuran Rumah Tangga), daftar konversi mentah masak (DKMM) dan daftar penyerapan minyak.
a. Metode Kualitatif Metode yang bersifat kualitatif biasanya untuk mengetah ui frekuensi makan, frekuensi konsumsi menurut jenisbahan makanan dan menggali informasi tentang kebiasaan makan (food habit) serta cara-cara m emperoleh bahan makanan tersebut. Macam macam metode kualitatif adalah: metode frekuensi makanan (food frequency), metode riwayat makan (dietary history), metode pendaftaran makanan (food list), metode telepon.
b. Metode Kuantitatif Metode secara kuantitatif dimaksud untuk mengetahui j umlah makanan yang dikonsumsi sehingga dapat dihitung konsumsi zat gizi dengan menggunakan daftar komposisi bahan makanan DKBM) atau daftar yang diperlukan seperti daftar URT(Ukuran Rumah Tangga), daftar konvers i mentah masak (DKMM) dan daftar penyerapan minyak. Macam macam metode kuantitatif adalah: metode recall 14 jam, perkiraan makanan (estimated food record), penimbangan makan (food weighing), metode
food account, metode inventaris (inventori method), pencatatan (hosehold food record).
D. Metode pengukuran konsumsi makanan berdasarkan sasaran
Pengukuran konsumsi makanan adalah salah satu metode pengukuran status gizi secara tidak langsung dengan cara mengukur kualitas dan kuantitas makanan yang diko nsumsi baik tingkat individu, rumah tangga, dan masyarakat. Berdasarkan jenis data ya ng diperoleh, maka pengukuran konsumsi makanan menghasilkan dua jenis data konsu msi, yaitu bersifat kualitatif dan kuantitatif.
Metode Kualitatif Metode yang bersifat kualitatif biasanya untuk mengetahui fr ekuensi makan, frekuensi konsumsi menurut jenisbahan makanan dan menggali inform asi tentang kebiasaan makan (food habit)serta cara-cara memperoleh bahan makanan ter sebut.
penilaian konsumsi pangan secara tidak langsung adalah neraca bahan makanan, dan pada skala rumah tangga dengan metode food account (pencatatan jumlah makanan). Pada sudut pandang lain yang merupakan penilaian konsumsi pangan pada sasaran secara langsung adalah fokus pada penilaian konsumsi masa yang akan datang (prospektif) dan fokus pada penilaian konsumsi masa kini dan masalalu.
Sasaran SKP adalah individu, keluarga dan kelompok. Pengukuran konsumsi pangan individu adalah subjek yang disurvei adalah individu tunggal dan hasilnya hanya dapat digunakan untuk menilai asupan gizi yang bersangkutan, tidak berlaku untuk anggota keluarga ataupun kelompoknya. Penilaian konsumsi gizi individu adalah berguna untuk memberikan edukasi asupan gizi yang tepat guna meningkatkan status gizi secara optimal.
a. Sasaran konsumsi individu
Sasaran konsumsi individu adalah hasilnya untuk individu yang bersangkutan d an bukan pada aspek prosesnya. Alasannya adalah semua metode SKP, prosesnya adala h selalu menggunakan subjek individu, meskipun hasilnya dapat digunakan untuk penil aian keluarga dan kelompok. Sekumpulan individu yang disurvei di tingkat rumah tang ga disebut sebagai sasaran keluarga tangga, sedangkan sekumpulan individu yang sama karakteristiknya disebut sasaran kelompok. Metode SKP individu adalah metode; recal konsumsi 24 jam (Food Recall 24 Hours), penimbangan makanan (Food Weighing), pen catatan makanan (food record), dan Riwayat Makanan (Dietary History).
1. recal konsumsi 24 jam (Food Recall 24 Hours)
Metode ingatan makanan (Food Recall 24 Jam) adalah metode SKP yang fokusnya pada kemampuan mengingat subjek terhadap seluruh makanan dan minuman yang telah dikonsumsinya selama 24 jam terakhir.
Kemampuan mengingat adalah menjadi kunci pokok pada metode ini, Subjek dengan kemampuan mengingat lemah sebaiknya tidak menggunakan metode ini, karena hasilnya tidak akan menggambarkan konsumsi aktualnya. Subjek dengan kemampuan mengingat lemah antara lain adalah lanjut usia, dan anak di bawah umur. Khusus untuk lanjut usia sebaiknya dihindari penggunaan metode ini pada mereka yang memasuki phase amnesia karena faktor usia sedangkan pada anak di bawah umur biasanya di bawah 8 tahun atau di bawah 13 tahun. Usia antara 9-13 tahun sebaiknya metode ini harus didampingi orang ibunya (Charlebois 2011).
Metode ingatan makanan (food recal 24 hours) adalah dapat dilakukan di semua setting lokasi survei baik di tingkat rumah tangga maupun masyarakat dan rumah sakit atau instansi. Metode ini sangat memungkinkan untuk dilakukan setiap saat apabila dibutukan informasi yang bersifat segera. Metode ini juga dilakukan untuk tujuan penapisan (skrining) asupan gizi individu.
Metode ini dilakukan dengan alat bantu minimal yaitu hanya menggunakan foto makanan sudah dapat digunakan. Secara institusi ataupun secara individu. Beberapa metode SKP tidak dapat dilakukan ditingkat komunitas tetapi dengan metode ini keterbatasan itu dapat diatasi karena metode ini sangat luwes. Kesederhanaan metode ini memerlukan cara yang tepat untuk mengurangi kesalahan.
2. Metode penimbangan makanan (food weighing)
Metode penimbangan makanan adalah metode SKP yang fokusnya pada penimbangan makanan dan minuman terhadap subjek, yang akan dan sisa yang telah dikonsumsi dalam sekali makan. Penimbangan makanan dan minuman adalah dalam bentuk makanan siap konsumsi. Makanan yang ditimbang adalah makanan yang akan dimakan dan juga sisa makanan yang mash tersisa. Jumlah makanan yang dikonsumsi adalah selish antara berat makanan awal dikurangi berat makanan sisa.
Metode penimbangan makanan, dapat dilakukan pada instalasi penyelenggara makanan yang terintegrasi dengan pelayanan makanan.
Pelayanan makanan yang terintegrasi adalah pelayanan makanan yang memadukan distribusi makanan dan ruang makan, seperti di rumah sakit. Makanan di produksi di instalasi gizi dan distribusikan ke seluruh pasien dalam satu unit pengelola. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam prosedur penimbangan makanan. Jika makanan diproduksi dari luar dan dikonsumsi dalam rumah sakit maka, akan sulit untuk melakukan penimbangan makanan. Kondisi dimana ruang distribusi dan konsumsi agak terpisah maka penimbangan sulit dilakukan. Penimbangan dilakukan.
Metode penimbangan makanan tidak dapat dilakukan di masyarakat, dengan alasan waktu makan dapat tidak seragam antar rumah tangga. Kesulitan yang dialami oleh enumerator adalah dalam hal pengumpulan data secara efektif. Metode ini memerlukan persiapan yang sempurna dengan subjek.
3. Metode pencatatan makan (food Record)
Metode pencatatan makanan (Food Record) adalah metode yang difokuskan pada proses pencatatan aktif oleh subjek terhadap seluruh makanan dan minuman yang telah dikonsumsi selama periode waktu tertentu. Pencatatan adalah fokus yang harus menjadi perhatian karena sumber kesalahannya juga adalah pada proses pencatatan yang tidak sempurna. Jika pencatatan dilakukan dengan sempurna maka hasil metode ini adalah sangat baik (Cheng et al. 2012).
Metode pencatatan ini dapat dilakukan di rumah tangga ataupun di institusi. Syarat umum pencacatan adalah literasi subjek harus baik.
Konsistensi dalam proses pencatatan juga menjadi aspek yang harus ditekankan agar informasi terhadap makanan dan minuman akurat dan dapat memberikan informasi jumlah makanan yang dikonsumsi secara tepat. Literasi merupakan syarat utama sehingga pada subjek dengan kemampuan baca tulis tidak ada tidak dapat dilakukan. Pencacatan hanya dapat dilakukan oleh subjek yang diukur dan tidak dapat dilakukan oleh orang lain, karena alasan tidak efisien (Roy et al. 1997).
4. Metode riwayat makanan
Metode Riwayat Makanan adalah metode yang difokuskan pada penelusuran informasi riwayat makan subjek. Riwayat makanan
meliputi kebiasaan makan subjek. Bukti telusur atas kebiasaan makan subjek adalah selalu dapat diketahui setelah pengamatan selama satu bulan. Semakin lama pengamatan maka akan semakin jelas terlihat kebiasaan makan
b. Sasaran konsumsi Rumah tangga
Cara melakukan survei konsumsi makanan pada tingkat rumah tangga dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu:
1. Metode Pencatatan (Food Account): Metode ini melibatkan mencatat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu, seperti 24 jam
2. Metode Recall 24 Jam:
Metode ini melibatkan wawancara untuk mengingat dan mencatat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi dalam 24 jam terakhir.
3. Metode Perkiraan Makanan (Estimated Food Records):
Metode ini melibatkan menghitung jumlah makanan yang dikonsumsi responden
4. Metode Penimbangan Makanan (Food Weighing):
Metode ini melibatkan penimbangan makanan yang dikonsumsi.
5. Metode Inventaris (Inventory Method):
Metode ini melibatkan mencatat semua makanan yang ada di rumah tangga.
6. Metode Food Frequency Questionnaire (FFQ):
Metode ini digunakan untuk menilai frekuensi konsumsi makanan selama periode waktu tertentu, seperti periode bulanan atau tahunan.
Semua metode ini digunakan untuk mengetahui kebiasaan makan, menghitung jumlah makanan yang dikonsumsi, menentukan tingkat kecukupan konsumsi individu, keluarga, atau kelompok masyarakat, dan menjadi dasar perencanaan program gizi, pendidikan gizi, menentukan pedoman kecukupan makanan, menyusun menu bergizi dengan biaya rendah, dan menentukan perundang-undangan yang berkenaan dengan makanan, kesehatan, dan gizi masyarakat
c. Sasaran konsumsi nasional
Metode survei konsumsi makanan pada tingkat nasional dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan dan teknik. Beberapa metode yang umum digunakan termasuk food weighing, food record,
24-hour recall, dan food frequency questionnaire. Food weighing melibatkan penimbangan makanan yang dikonsumsi, sedangkan food record mencatat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu. 24-hour recall melibatkan wawancara untuk mengingat dan mencatat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi dalam 24 jam terakhir. Sementara itu, food frequency questionnaire digunakan untuk menilai frekuensi konsumsi makanan selama periode waktu tertentu. Metode-metode ini digunakan untuk mengevaluasi asupan zat gizi dan menentukan status gizi masyarakat secara tidak langsung.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Pengertian survei konsumsi pangan adalah serangkaian kegiatan pengukuran ko nsumsi makanan pada individu, keluarga dan kelompok masyarakat dengan menggunak an metode pengukuran yang sistematis, menilai asupan zat gizi dan mengevaluasi asupa n zat gizi sebagai cara penilaian status gizi secara tidak langsung. Dinamika konsumsi p angan yang berubah secara terus menerus sesuai dengan perkembangan berbagai sektor termasuk sektor pendapatan adalah harus dipantau setiap periode waktu tertentu, Peman tauan ini dijelaskan sebagai salah cara untuk mendeteksi secara dini kemampuan sektor produksi untuk menjamin pasokan guna mengatasi gejolak harga yang dapat memicu in flasi. Berdasarkan kerangka berpikir demikian maka, survei konsumsi pangan pendudu k menjadi salah satu alasan penting dalam menelaah dinamika konsumsi pangan serta d ampak penyerta bagi gizi dan kesehatan. Pengukuran konsumsi pangan adalah beragam a sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Pengukuran konsumsi pangan dibedakan sala h satunya menurut individu, keluarga dan kelompok.
Survei konsumsi pangan sebagai fungsi dari penilaian status gizi secara tidak langsung bertujuan untuk memberikan informasi awal tentang kondisi asupan zat gizi individu, k eluarga dan kelompok masyarakat saat ini dan masa lalu. Sasaran SKP dapat diketahui b erdasarkan tujuan penilaian SKP. Tujuan yang berkaitan dengan Survey Konsumsi Pang an pada dasarnya dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu secara tidak langsung (Indir ect/ecological) dan langsung (direct). Berdasarkan sasaran dari survey konsumsi panga n maka ruang lingkup dari survey konsumsi pangan itu adalah masyarakat baik individu keluarga dan kelompok. Konsumsi pangan individu, keluarga dan kelompok memiliki dinamika yang berbeda beda. Perbedaan dinamika ini berimplikasi pada keseimbangan asupan gizi baik secara mikro maupun makro.
Survey konsumsi pangan selain untuk menilai asupan gizi pada satu titik waktu tetapi ju ga dapat digunakan untuk menganalisis kecenderungan perubahan dari waktu ke waktu
B. Saran
Tentunya terhadap penulis sudah menyadari jika dalam penyusunan makalahdi atas masih banyak ada kesalahan serta jauh dari kata sempurna.Adapun nantinya penulis akan segera melakukan perbaikan susunan makalah itu dengan menggunakan pedoman dari beberapa sumber dan kritik yang bisa membangun dari para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Sirajudin, dkk 2018. Survey Konsumsi Pangan. Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber daya Manusia Kesehatan:Bahan Ajar Gizi.
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta Suryani, Desri. 2023. Bahan ajar survei konsumsi pangan. jawa tengah: eureka media aksara.