SKRIPSI
KORELASI ANTARA KETERSEDIAAN SUMBER BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK PADA
MATA PELAJARAN BAHASA ARAB DI KELAS X MADRASAH ALIYAH NEGERI PINRANG
Oleh
MUKARRAMA R NIM.15.1200.040
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PAREPARE
2020
ii SKRIPSI
KORELASI ANTARA KETERSEDIAAN SUMBER BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK PADA
MATA PELAJARAN BAHASA ARAB DI KELAS X MADRASAH ALIYAH NEGERI PINRANG
Oleh
MUKARRAMA R NIM.15.1200.040
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Pada Program Studi Pendidikan Bahasa Arab
Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Parepare
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PAREPARE
2020
iii
KORELASI ANTARA KETERSEDIAAN SUMBER BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK PADA
MATA PELAJARAN BAHASA ARAB DI KELAS X MADRASAH ALIYAH NEGERI PINRANG
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Bahasa Arab
Disusun dan diajukan oleh
MUKARRAMA.R NIM.15.1200.040
Kepada
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PAREPARE
2020
iv
v
vi
vii
KATA PENGANTAR
ِالله ِمْسِب ِمْيِحَّرلا ِنْٰحْ َّرلا
َئِ يَسَو اَنِسُفْ نَأ ِرْوُرُش ْنِم ِللهِبِ ُذْوُعَ نَو ، ُهُرِفْغَ تْسَنَو ُهُنْ يِعَتْسَنَو ُهُدَمَْنَ ،َِِّلِلّ َدْمَْلْا َّنِإ ،اَنِلاَمَْْأ ِِا
ْنَأ ُدَهْشَأ ،ُهَل َيِداَه َلََف ْلِلْضُي ْنَمَو ،ُهَل َّلِضُم َلََف ُالله ِدْهَ ي ْنَم َّنَأ ُدَهْشَأَو ُالله َّلَِإ َهَلِإ َلَ
،هُلْوُسَرَو ُهُدْبَْ اًدَّمَُمُ
ٍدَّمَُمُ َنَِدِ يَس ِلآ َىَلََْو ٍدَّمَُمُ َنَِدِ يَس ىَلَْ ِ لَص َّمُهَّللَا .
Segala puji bagi Allah swt yang telah mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya dan memberikan hidayah dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat merampungkan penulisan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar “Sarjana Pendidikan (S.Pd.) pada Fakultas Tarbiyah” Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare. Shalawat teriring salam senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad saw. Nabi sekaligus rasul yang diutus oleh Allah untuk menjadi panutan bagi seluruh insan.
Penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Ayahanda H. Rahmani dan Hj. Maraulang yang telah membesarkan, mendidik dan mendoakan dengan tulus. Kepada saudara Rifai, Jafar, Hasan, Kadir, Fadli, Jumriah, Herlina, Faisal, Mustika yang telah memberikan dukungan, bantuan dan motivasi, sehingga penulis mendapat kemudahan dalam menyelesaikan tugas akademik tepat pada waktu nya. Dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua Bapak/Ibu guru tercinta yang pernah mendidik sejak SD, SMP, dan SMA, hingga penulis sampai pada penyusunan skripsi.
Penulis juga telah menerima banyak bantuan dan bimbingan dari Ibu Dr.
Herdah, M.Pd. sebagai pembimbing utama serta H. Muh. Iqbal Hasanuddin, M.Ag.
viii
Sebagai pembimbing pendamping penulis. Penulis mengucapkan banyak terima kasih atas segala bantuan dan bimbingan beliau berdua yang telah diberikan selama dalam penulisan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga dan menghaturkan penghargaan kepada:
1. Dr. Ahmad Sultra Rustan, M.Si. Selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare.
2. Bapak Dr. H. Saepudin, M.Pd.I. Selaku Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare yang telah memberikan petunjuk dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Bapak Kaharuddin, S. Ag., M.Pd.I. Selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab yang telah memberikan dukungan dan bantuan nya. Dan juga selaku dosen penasehat akademik yang selama ini telah memberikan berbagai nasehat, motivasi, dukungan dan bantuan nya dalam menjalani aktivitas akademik.
4. Bapak dan Ibu dosen Pendidikan Bahasa Arab dan para staf yang selama ini telah memberikan berbagai ilmu dan kemudahan dalam proses dunia akademik maupun non akademik.
5. Pemerintah Kabupaten Pinrang beserta staf yang telah memberikan kesempatan dan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di kabupaten Pinrang.
6. Bapak kepala sekolah dan para guru beserta staf di Madrasah Aliyah Negeri Kabupaten Pinrang yang telah memberikan bantuan, kesempatan dan dukungan dalam penelitian ini.
ix
7. Para sahabat, Nur Fuadillah Humairah, Fatima, yang selama ini telah memberikan segenap bantuan, dukungan dan motivasi dalam penyelesaian skripsi ini.
8. Rekan-rekan seperjuangan angkatan 2015 di Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah. Terima kasih atas dukungan dan waktunya selama ini sudah menjadi teman sharing yang baik.
9. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelesaian skripsi ini, mohon maaf peneliti tidak bisa menyebutkan satu persatu.
Kata-kata tidak lah cukup untuk mengapresiasi bantuan mereka dalam penulisan skripsi ini. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan hidayah kepada mereka. Akhirnya, Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, peneliti dengan senang hati menerima kritik dan saran yang membangun.
x
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Mahasiswa yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama NIM
Tempat/Tgl Lahir Program Studi Fakultas Judul Skripsi
: : : : : :
Mukarrama R.
15..1200.040
Allecalimpo, 11 Desember 1996 Pendidikan Bahasa Arab
Tarbiyah
Korelasi antara ketersediaan sumber belajar dengan prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran bahasa Arab di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Pinrang
Menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa skripsi ini benar merupakan hasil karya saya sendiri. Apabila dikemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat atau dibuat oleh orang lain, sebagian atau seluruhnya, maka skripsi dan gelar yang di peroleh karenanya batal demi hukum.
xi
ABSTRAK
Mukarrama R, korelasi antara ketersediaan sumber belajar dengan prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran bahasa Arab di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Pinrang (Dibimbing oleh Herdah dan Muh.Iqbal Hasanuddin).
Penelitian ini mengkaji tentang korelasi antara ketersediaan sumber belajar dengan prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran bahasa Arab di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Pinrang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara ketersediaan sumber belajar dengan prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran bahasa Arab di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Pinrang.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan instrumen angket yang dibagikan kepada peserta didik di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Pinrang yang berisikan 30 item pertanyaan dari 15 Angket item pertanyaan tentang ketersediaan sumber belajar dan nilai raport untuk mengukur prestasi belajar peserta didik pada pembelajaran bahasa Arab:
1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Hasil analisis data deskriptif menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan Madrasah Aliyah Negeri Pinrang di kelas X dalam ketersediaan sumber belajar dikategorikan sedang berdasarkan hasil analisis data skor pada rumusan masalah pertama atau variabel ketersediaan sumber belajar (X). Skor total variabel ketersediaan sumber belajar yang diperoleh dari hasil penelitian adalah 9115, skor tertinggi variabel ini setiap responden 5 x 15 = 75 dan memiliki responden sebanyak 156 orang, maka skor kriterium adalah 75 x 156 = 11.700, maka ketersediaan sumber belajar adalah 9115: 11.700 = 0.7790 atau 77.90% dari kriterium yang ditetapkan. Jadi dapat disimpulkan bahwa ketersediaan sumber belajar termasuk kategori sedang.
2. Hasil analisis data deskriptif menunjukkan bahwa yang dilakukan Madrasah Aliyah Negeri Pinrang di kelas X dalam prestasi belajar peserta didik (Y) berada dalam kategori tinggi yaitu pada interval 80-89 dengan rata-rata prestasi belajar peserta didik adalah 84.80.
3. Terdapat korelasi antara ketersediaan sumber belajar dengan prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran bahasa Arab di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Pinrang. Menggunakan rumus korelasi product moment. Dengan hipotesis jika jika rxy ≥ rtabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima pada taraf signifikan α 5%. Untuk mengetahui ada pengaruh atau tidak ada pengaruh ketersedian sumber belajar dengan prestasi belajar peserta didik pada pembelajaran bahasa Arab di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Pinrang, maka telah diuji korelasi product moment. Berdasarkan hasil uji korelasi product moment tersebut, maka diperoleh rxy=744 ≥ rtabel=0,135 maka H0 ditolak dan Ha di terima. Bahwa tingkat mengetahui korelasi antara ketersediaan sumber belajar dengan prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran bahasa Arab di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Pinrang berada dalam kategori kuat.
Kata kunci: Ketersediaan sumber belajar, prestasi belajar peserta didik, bahasa Arab
xii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PENGAJUAN ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
HALAMAN PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING ... v
HALAMAN PENGESAHAN KOMISI PENGUJI ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... viii
ABSTRAK ... xi
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Kegunaan Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Teori ... 10
2.2 Tinjauan Hasil Penelitian Relevan ... 26
xiii
2.3 Bagan Kerangka Pikir ... 29
2.4 Hipotesis ... 30
2.5 Defenisi Operasional Variabel ... 30
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Desain Penelitian ... 32
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 33
3.3 Populasi dan Sampel ... 33
3.4 Teknik dan Isntrumen Pengumpulan Data ... 37
3.5 Uji Persyaratan Analisis Data... 39
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Hasil Penelitian ... 42
4.2 Pengujian Persyaratan Analisis Data ... 60
4.3 Pengujian Hipotesis ... 63
4.4 Pembahasan Hasil Penelitian ... 68
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 72
5.2 Saran ... 73
DAFTAR PUSTAKA ... 75 LAMPIRAN
xiv
DAFTAR TABEL
No Judul Tabel Hal.
3.1 Data Populasi kelas X MAN Pinrang 34
3.2 Data Sampel kelas X MAN Pinrang 36
3.3 Kisi-kisi instrumen variabel penelitian 38
3.4 Tingkat korelasi dan kekuatan hubungan 41
4.1 Hasil frekuensi X pertanyaan no.1 42
4.2 Hasil frekuensi X pertanyaan no.2 43
4.3 Hasil frekuensi X pertanyaan no.3 44
4.4 Hasil frekuensi X pertanyaan no.4 44
4.5 Hasil frekuensi X pertanyaan no.5 45
4.6 Hasil frekuensi X pertanyaan no.6 46
4.7 Hasil frekuensi X pertanyaan no.7 46
4.8 Hasil frekuensi X pertanyaan no.8 47
4.9 Hasil frekuensi X pertanyaan no.9 48
4.10 Hasil frekuensi X pertanyaan no.10 49
4.11 Hasil frekuensi X pertanyaan no.11 49
4.12 Hasil frekuensi X pertanyaan no.12 50
4.13 Hasil frekuensi X pertanyaan no.13 51
4.14 Hasil frekuensi X pertanyaan no.14 51
4.15 Hasil frekuensi X pertanyaan no.15 52
4.16 Hasil analisis deskriptif variabel X 53
4.17 Tabulasi variabel X (Ketersedian sumber belajar bahasa Arab) 53
4.18 Kriteria bentuk presentase 56
4.19 Hasil analisis deskriptif variabel Y 57
4.20 Tabulasi variabel Y (Prestasi belajar peserta didik) 57
4.21 Kriteria bentuk presentase 59
4.22 Hasil uji validitas instrument variabel X 60 4.23 Hasil uji reliabilitas instrument variabel X 62
4.24 Hasil uji normalitas variabel X 62
4.25 Uji hipotesis one sample statistic ketersediaan sumber belajar 63 4.26 Uji hipotesis one sample test ketersediaan sumber belajar 63 4.27 One semple statistic prestasi belajar peserta didik 64 4.28 One semple test prestasi belajar peserta didik 64
4.29 Tingkat korelasi dan kekuatan hubungan 66
4.30 Intepretasi nilai koefisien determinasi 67
xv
DAFTAR GAMBAR
No Judul Gambar Hal.
2.1 Bagan kerangka piker 29
3.1 Desain hubungan antara variable 32
4.1 Diagram batang ketersediaan sumber belajar bahasa Arab (X) 55 4.2 Diagram lingkaran ketersediaan sumber belajar bahasa Arab (X) 55 4.3 Diagram batang ketersediaan sumber belajar bahasa Arab (Y) 58 4.4 Diagram lingkaran ketersediaan sumber belajar bahasa Arab (Y) 58
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
No.
Lampiran
Judul Lampiran 1 Profil Madrasah Aliyah Negeri Pinrang 2 Nama-nama guru
3 Apsen siswa kelas X di Madrasah Aliyah Negeri Pinrang 4 Sarana dan prasarana
5 Angket
6 Nilai responden
7 Uji validitas variabel X 8 Tabulasi variabel X dan Y
9 Surat permohonan rekomendasi izin penelitian
10 Surat rekomendasi penelitia pemerintahan kabupaten Pinrang 11 Surat keterangan penelitian
12 Dokumentasi
13 Daftar Riwayat Hidup
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat di jadikan acuan atau referensi yang menghasilkan pengalaman belajar bagi peserta didik. Menurut istilah dipahami sebagai perangkat dan bahan (materi).
Association Educational communication and Technology (AECT) menjelaskan:
Sumber belajar mencakup apa aja yang dapat digunakan untuk membantu tiap orang untuk belajar dan menampilkan kompetensinya. Sumber belajar meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan. Sumber belajar yang beraneka ragam di sekitar lingkungan peserta didik belum di manfaatkan secara optimal dalam setiap kegiatan pembelajaran. Sebagian pendidik memiliki kecenderungan hanya memanfaatkan buku teks dan pendidik sebagai sumber belajar yang utama.
Dalam pemanfaatan sebagai sumber belajar, pendidik mempunyai tanggung jawab membantu peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar agar lebih mudah, lebih lancar, serta lebih terarah. Pemanfaatan sumber belajar menambah wawasan pengetahuan peserta didik.1
Sumber belajar tidak hanya terdapat pada proses pembelajaran di sekolah saja tetapi sumber belajar dapat diperoleh dari pengalaman yang kita alami selama membawa kita pada pengalaman dan menimbulkan belajar menujuh ke arah yang lebih baik.
Pesan dalam sumber belajar bahwa informasi yang di sampaikan oleh komponen yang lain, bisa berupa ide, fakta, konsep, prosedur, atau prinsip. Dalam konteks pembelajaran, pesan-pesan ini terkait dengan isi bidang studi yang ada dalam kurikulum.2
Adapun komunikasi dalam kehidupan manusia terasa sangat penting, karena dengan komunikasi dapat menjembatani segala bentuk ide yang akan disampaikan
1Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Cet. IX;
Jakarta: Fajar Interpratama Offset, 2012), h. 174.
2Ibadullah Malawi dan Ani Kadarwati, Pembelajaran Tematik, Konsep dan Aplikasi Cet. II;
Jawa Timur: CV AE Media Grafika, 2017), h. 117.
seseorang. Dalam setiap melakukan komunikasi unsur penting diantaranya adalah pesan, karena pesan disampaikan melalui media yang tepat, bahasa yang di mengerti, kata-kata sederhana dan sesuai dengan maksud, serta tujuan pesan itu akan disampaikan dan mudah dicerna oleh komunikan.
Sumber belajar berupa orang adalah semua yang terlibat dalam menyimpan dan menyampaikan pesan. Seperti Pendidik, peserta didik, dan nara sumber lain termasuk dalam kelompok.3
Pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan proses pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan. Sedangkan peserta didik merupakan anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran.
Bahan adalah disebut perangkat lunak. Bahan berfungsi menyimpan pesan sebelum di salurkan dengan menggunakan alat yang telah di rancang. Misalnya:
transparansi yang digunakan pada OHP, flash disk, CD, DVD, MMC, pada computer. Kadang-kadang juga menyajikan pesan tanpa bantuan alat, misalnya:, jurnal, buku teks dan sejenisnya.4
Dalam sumber belajar jurnal merupakan tulisan khusus yang memuat artikel suatu bidang ilmu tertentu, jurnal juga merupakan tulisan yang dikeluarkan oleh seorang yang berkompeten di bidangnya dan diterbitkan oleh suatu instansi atau lembaga. Sedangkan buku sebagai alat pendidikan menyediakan berbagai materi pembelajaran tertulis yang berkaitan dengan mata pelajaran tertentu. Dengan ketersediaan buku dapat mempermudah pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran, dan mempermudah peserta didik dalam memahami materi pembelajaran dan sekaligus dapat menambah ilmu pengetahuan yang dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Karena pentingnya fungsi buku bagi institusi pendidikan, dalam hal ini pendidik dan peserta didik, maka diperlukan jaminan atas ketersediaan buku,
3Ibadullah Malawi dan Ani Kadarwati, Pembelajaran Tematik, Konsep dan Aplikasi, h. 117.
4Ibadullah Malawi dan Ani Kadarwati, Pembelajaran Tematik, Konsep dan Aplikasi, h. 117.
salah satu upaya pemerintah untuk menjamin ketersediaan buku teks pelajaran yang bermutu sesuai Pasal 43 Ayat (5) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional pendidikann. Badan Standar Nasional Pendidikaan (BSNP) dan pusat perbukuan telah melakukan penilaiaan buku teks pelajaran pada satuan pendidikan sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas.5
Buku teks menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) adalah buku acuan wajib yang di gunakan satuan pendidikan dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas yang memuat pembelajar dalam rangka peningkatan mutu pendidikan yang disusun berdasarkan standar Nasional pendidikan yaitu penyusunan kebijakan teknis pengembangan kurikulum, metodologi pembelajaran, dan sumber pembelajaran lainnya.
Alat termasuk sumber belajar yang di sebut perangkat keras. Alat ini digunakan untuk menyalurkan pesan yang tersimpan dalam bahan. Misalnya: OHP, Tape recorder, LCD, computer, televise, dan sejenisnya.6
Alat ini dapat membantu kelancaran pekerjaan pendidik maupun peserta didik dalam proses pembelajaran, alat berperang sebagai perangsang belajar dan dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga siswa tidak menjadi bosan dalam meraih tujuan-tujuan belajar.
Teknik dalam sumber belajar adalah prosedur baku atau pedoman langkah-langkah dalam menyampaikan pesan, penggunaan bahan dan alat, penilaian alat, pemilihan latar. Penetapan orang untuk menyampaikan pesan. Misalnya: menggunakan computer dalam pembelajara terprogram dan ceramah.7
Computer dapat digunakan sebagai alat untuk menyampaikan informasi atau ide-ide yang terkandung dalam pembelajaran kepada peserta didik. Selain itu,
5Puskurbuk, Buku Sekolah Elektronik, (BSE), http://Puskurbuk.net/web/bse.html. diakses tanggal 15 Maret 2019.
6Ibadullah Malawi dan Ani Kadarwati, Pembelajaran Tematik, Konsep dan Aplikasi, h. 117.
7Ibadullah Malawi dan Ani Kadarwati, Pembelajaran Tematik, Konsep dan Aplikasi, h. 118.
computer dapat juga digunakan sebagai media yang memungkinkan peserta didik belajar secara mandiri dalam memahami suatu konsep. Dan ceramah merupakan sumber belajar yang bertujuan memberikan nasehat dan sementara ada audiens yang bertindak sebagai pendengar sepertihalnya pendidik sebagai yang memberikan nasehat sedangkan peserta didik sebagai audiens.
Latar adalah sumber belajar berupa lingkungan fisik: gedung kuliah, ruang belajar, laboratorium, studi, dan lingkungan non-fisik: sirkulasi udara, tata ruang, dan sejenisnya.8
Maka dapat disimpulkan ruangan yang berfungsi sebagai tempat untuk kegiatan tatap muka dalam proses pembelajaran, seperti gedung sekolah, kelas, dan leb bahasa.
Melalui pemanfaatan sumber belajar maka peserta didik tidak hanya mengetahui materi pelajaran saja, tetapi dapat mengetahui pula subtansi materi yang di pelajarinya. Namun pada kenyataannya, ketersediaan sumber belajar terutama buku masih bergantung kepada kehadiran pendidik. Jika pendidik tidak hadir, maka sumber belajar yang lain pun tidak dapat di manfaatkan oleh peserta didik karena belum tersedianya sumber belajar yang lain yang memadai dan tidak inisiatif dalam mencari sumber belajar yang lain jika buku digunakan tidak ada. Hal ini dapat di artikan bahwa peserta didik masih terbatas pada kehadiran pendidik sebagai sumber belajar.
Kehadiran pendidik secara mutlak diperlukan, disisi lain sebenarnya banyak sumber belajar di sekitar kehidupan peserta didik yang dapat di manfaatkan untuk pembelajaran.
Prestasi belajar merupakan pencerminan dari usaha belajar semakin baik usaha belajar seorang peserta didik, semakin baik pula prestasi belajarnya. Tujuan
8Ibadullah Malawi dan Ani Kadarwati, Pembelajaran Tematik, Konsep dan Aplikasi, h. 118.
pemebelajaran masing-masing mata pelajaran di setiap lembaga pendidikan, termasuk pembelajaran bahasa Arab di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Pinrang adalah tercapainya prestasi belajar yang tinggi yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku baik dari segi kognitif, efektif, maupun psikomotorik. Peserta didik dikatakan berhasil dalam belajar jika menyelesaikan serangkaian tes, baik tes formatif, tes sumatif, maupun tes keterampilan yang mencapai tingkat keberhasian rata-rata 60% dan setiap keberhasilan tersebut dihubungkan dengan standar kompetensi dasar yang ditetapkan oleh kurikulum, tingkat ketercapaian kompetensi ini ideal 75% sedangkan ketercapaian keterampilan vokasional atau praktik tergantung pada tingkat resiko dan tingkat kesulitan ditetapkan idealnya sebesar 75%.9
Dalam kaitannya dengan bahasa dapat di katakan bahwa bahasa adalah realitas yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tumbuh kembangnya manusia, realitas bahasa dalam kehidupan ini semakin menambah kuatnya eksistensi manusia sebagai makhluk berbudaya dan beragama, namun dalam konteks lain bahasa jika dijadikan alat propaganda, bahkan peperangan yang bisa membahayakan sesama jika pengguna bahasa tidak lagi melihat rambu-rambu agama dan kemanusian dalam penggunaannya.10
Maka bahasa adalah sebagai alat komunikasi dan penghubung dalam pergaulan manusia sehari-hari, baik antara individu dengan individu, individu dengan masyarakat dan masyarakat dengan bangsa tertentu. Yakni dengan mengkomunikasikan dan menyampaikan maksud tertentu dan mencurahkan suatu peranan tertentu dengan rasa senang atau duka dan dengan rasa sedih dan gembira
9Suaidinmath’s, “Kreteria dan Indikator Keberhasilan Pembelajaran”. Dalam https://suadinmath.wordpress.com diakses tanggal 14 Mei 2019.
10Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab (Cet. II; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), h.8.
kepada orang lain, agar dapat dipahami, dimengerti dan merasakan segala sesuatu yang ia alami.
Bahasa Arab memiliki keistimewaan dibandingkan dengan bahasa-bahasa yang lainnya karena telah menjadi bahasa agama islam, bahasa sumber ajaran islam, dan sumber kitab suci islam yang erat kaitannya dengan kaum muslimin. Karenannya sangat rasional jika di mana ada kaum muslimin disitu dipelajari bahasa Arab yang didukung pula dengan media bahasa Arab mereka lebih mudah memahami ajaran islam secara benar.11
Selain itu, bahasa Arab adalah bahasa yang memiliki kesatuan utuh dan kuat.
Kekuatan bahasa Arab di topang oleh standar yang kebebasannya dapat di pertanggung jawabkan sampai saat ini. Standar ini tidak lain adalah Al-Qur’an.
Sebagaimana firman Allah swt.dalam Q.S Asy-Syura’/42:7
Terjemahnya:
Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al-Qur’an dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnyaserta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam.12
Itulah sebab pentingnya mempelajari bahasa Arab. Sebagai alat mempelajari agama islam dari sumber yang asli yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Namun beberapa masalah yang sering di jumpai dalam pembelajaran bahasa Arab seperti mereka beranggapan dan telah tertanam pemikiran bahwa pembelajaran bahasa Arab itu sulit.
Sehingga antusiasme peserta didik pun sangat kurang dalam menyimak pembelajaran yang berlangsung, dengan rendahnya prestasi belajar peserta didik dalam belajar
11Azhar Arsyad, Bahasa dan Metode Pengajaranya (Cet. III; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h. 136.
12Al-Qur’an Al-Karim.
bahasa Arab memerlukan sumber belajar yang cocok dengan peserta didik dalam meningkatkan motivasi dan minat belajar peserta didik guna meningkatkan prestasi belajar.
Setelah melihat keadaan di Madrasah Aliyah Negeri Pinrang dengan ketersediaan sumber belajar yang cukup memadai dalam pembelajaran bahasa Arab, tetapi peserta didik belum bisa memanfaatkan sumber belajar tersebut secara mandiri tanpa adanya arahan dari pendidik dengan tersedianyaa sumber belajar menekankan kepada peserta didik untuk terus belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar mereka terutama dalam mata pelajaran bahasa Arab.
Atas dasar kondisi tersebut peneliti tertarik mengadakan penelitian dengan judul “Korelasi antara ketersediaan sumber belajar dengan prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran bahasa Arab di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Pinrang”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan Uraian di atas, maka batasan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimana ketersediaan sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Arab di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Pinrang?
1.2.2 Bagaimana prestasi belajar bahasa Arab peserta didik di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Pinrang setelah mengikuti pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan sumber pembelajaran?
1.2.3 Seberapa besar hubungan pemanfaatan sumber belajar bahasa Arab dengan prestasi belajar peserta didik di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Pinrang?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasrkan Rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah untuk:
1.3.1 Menjelaskan ketersediaan sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Arab di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Pinrang.
1.3.2 Mengetahui prestasi belajar bahasa Arab peserta didik di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Pinrang setelah mengikuti pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan sumber pembelajaran.
1.3.3 Mengetahui besar hubungan pemanfaatan sumber belajar bahasa Arab dengan prestasi belajar peserta didik di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Pinrang.
1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Secara Tioretis
Memperkaya khasanah ilmu pengetahuaan yang berhubungan dengan pemanfaatan sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, serta sebagai bahan pertimbangan dalam menggunakan sumber belajar guna meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Pinrang khususnya pada mata pelajaran bahasa Arab.
1.4.2 Secara Praktis
1. Bagi pendidik sebagai bahan masukan pentingnya faktor sumber belajar dalam meningkatkan prestasi belajar peserta didik.
2. Bagi peserta didik dalam penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan agar peserta didik selalu menggunakan sumber belajar sehingga akan membantu dalam pencapaian prestasi yang optimal, khususnya prestasi belajar bahasa Arab.
3. Bagi sekolah dalam penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan agar pihak sekolah secara keseluruhan memperhatikan sistem proses pembelajaran sehingga
prestasi belajar peserta didik dapat meningkat, termasuk didalamnya pemanfaatan sumber belajar yang tersedia di sekolah.
10
BAB II
TINJAUAAN PUSTAKA
2.1 Deskripsi Teori 2.1.1 Sumber Belajar
2.1.1.1 Pengertian Sumber Belajar
Sumber belajar terdapat dua kata yaitu sumber dan belajar. Sumber biasa dikenal dengan istiah asal, awal mula, dan bahan sedangkan belajar merupakan proses mencari pengalaman. Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk mempelajari bahan dan pengalaman belajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.13
Sumber belajar adalah guru dan bahan-bahan pelajaran atau bahan pengajaran baik buku-buku bacaan atau semacamnya. Dalam desain pengajaran yang bisa disusun pendidik terdapat salah satu komponen pengajaran yang dirancang berupa sumber belajar atau pengajaran yang umumnya diisi dengan buku-buku rujukan (buku bacaan wajib atau anjuran).14
Dari penjelasan di atas tujuan sumber belajar diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda dan orang yang mengandung informasi dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku.
2.1.1.2 Klafikasi Sumber Belajar
AECT (Association For Education Communication and Technology) mengklafikasikan sumber belajar menjadi 6 yaitu:
1. Pesan (ةيصوتلا), yaitu informasi yang ditransmisikan (diteruskan) oleh komponen lain dalam bentuk ide, fakta, arti dan data. Termasuk ke dalam kelompok pesan
13Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Cet. IX;
Jakarta: Fajar Interpratama Offset, 2012), h. 174-176.
14Ahmad Rohani dan Abu Ahmad, Pengelolaan Pengajaran (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1991), h. 152.
adalah semua bidang studi atau mata kuliah yang harus diajarkan kepada peserta didik.
2. Orang (ناسنا), yaitu manusia yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah, penyaji pesan. Dalam kelompok ini misanya seorang pendidik, dosen, tutor, peserta didik, tokoh masyarakat atau orang-orang lain yang mungkin berinteraksi dengan peserta didik.
3. Bahan (ةدام), yaitu perangkat lunak yang mengandung pesan untuk disajikan melalui penggunaaan alat ataupun oleh darinya. Berbagai program media termasuk kategori bahan, misalnya transparansi, slide, film strip, audio, video, buku, modul, majallah, bahan instruksional terprogram dan lain-lain.
4. Alat (ةللاا), yaitu perangkat keras yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan dalam bahan. Misalnya, proyektor, slide, overhead, video tape, pesawat radio, pesawat televise dan lain-lain.
5. Teknik (ةعانص), yaitu prosedur atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan bahan, peralatan, orang dan lingkungan untuk menyampaikan pesan. Contohnya instruksional terprogram, belajar sendiri, belajar tentang permainan simulasi, demonstrasi, ceramah, Tanya jawab dan lain-lain.
6. Lingkungan (ةئبلا), yaitu situasi sekitar di mana pesan disampaikan, lingkungan bisa bersifat fisik (gedung sekolah, kampus, perpustakaan, laboratorium, studio, auditorium, museum, taman) maupun lingkungan non fisik (suasana belajar, dan lain-lain).15
AECT (Association For Education Communication and Technology) mengklafikasikan Sumber belajar menjadi 6 bagian, terdiri dari pesan yang menjelaskan bahwa setiap pemberitahuan, kata atau komunikasi baik lisan maupun turtulis yang dikirim dari satu orang ke orang lain. Orang dalam sumber belajar termasuk pendidik dan peserta didik yang berinteraksi. Bahan artinya isi materi. Alat merupakan bagian dari bahan seperti isi materi dengan menggunakan video, lagu, dan power poin. Teknik yaitu metode atau cara menggunakan bahan dan alat sesuai dengan minat peserta didik agar mendapatkan motivasi untuk giat mengikuti proses pembelajaran. Lingkungan dalam belajar merupakan hal penting untuk menunjang kenyamanan peserta didik dan pendidik dalam proses pembelajaran.
15Ahmad Rohani, Media Instruksional Edukatif (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1997), h. 108.
2.1.1.3 Memilih Sumber Belajar
Untuk memilih sumber belajar yang baik, perlu memperhatikan beberapa kriteria sebagai berikut:
1. Ekonomis, yang berat bahwa hendaknya dalam memilih sumber belajar mempertimbangkan segi ekonomis dalam arti realita murah, yakni secara nominal uang atau biaya yang dikeluarkan hanya sedikit.
2. Praktis dan sederhana artinya tidak memerlukan pelayanaan dan pengadaan sampingan yang sulit dan langka. Sederhana artinya tidak memerlukan pelayanan khusus masyarakat keterampilan yang rumit dan kompleks.
3. Bersifat Fleksibel (luwes) artinta bahwa sumber belajar ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan instruksional dan dapat dipertahankan dalam berbagai situasi dan pengaruh.
4. Komponen-komponen sesuai dengan tujuan artinya Mungkin satu sumber belajar sangat ideal, akan tetapi salah satu, bahkan keseluruhan komponen ternyata justru menghambat instruksional.16
5. Dapat membantu efisien dan kemudahan pencapaian tujuan pengajaran atau belajar.
6. Memiliki nilai positif bagi proses aktifitas pengajaran khususnya peserta didik.
7. Sesuai dengan interaksi dan strategi pengajaran yang telah dirancang atau sedang dilaksanakan.17
Memilih sumber belajar tidak harus mahal hanya perlu disesuaikan dengan alokasi dana sesuai kebutuhan yang ingin digunakan. Praktis dan sederhana dalam sumber belajar harus mudah digunakan dan tidak membingunkan dalam artian alat yang digunakan harus sesuai kemampuan dan tidak sulit didapatkan. Bersifat fleksibel sumber belajar tidak harus mengikat pada suatu tujan atau materi pembelajaran tertentu akan tetapi lebih baik jika dapat dimanfaatkan dalam berbagai tujuan pembelajaran bahkan juga keperluan yang lain. Pemanfaatkan lingkungan sekitar yang tersedia sehingga mudah dicari dan didapatkan peserta didik juga dapat dengan mudah dimanfaatkan.
16Ahmad Rohani dan Abu Ahmad, Pengelolaan Pengajaran. h.156.
17Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran (Cet, II; Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), h. 166.
2.1.1.4 Fungsi Sumber Belajar
Fungsi sumber belajar dalam pembelajaran ialah memberikan kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan dan memperkaya peserta didik dengan menggunakan berbagai alat berupa buku, nara sumber dan tempat belajar.
Adapun menurut ahmad rohani tentang fungsi Sumber belajar yang dirancang mempunyai tujuan-tujuan instruksional tertentu. Karena itu, tujuan dan fungsi sumber belajar juga di pengaruhi oleh setiap jenis variabel sumber belajar yang digunakan. Sehingga sumber belajar yang dirancang, tujuan dan fungsinya akan lebih eksplisit, dipengaruhi oleh perancang (guru) sumber itu sendiri, serta sangat tergantung karakteristik pada masing-masing jenis sumber belajar yang digunakan.
Seorang ahli hukum yang berfungsi sebagai nara sumber akan membawa misi yang berhubungan dengan hukum serta mempunyai tujuan agar para penerima pesan dapat mengerti dan memahami hukum. Sehingga dapat dikatakan bahwa setiap sumber belajar selalu mempunyai tujuan baik secara implicit maupun eksplisit.18
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas sumber belajar berfungsi sebagai saluran komunikasi dalam berinteraksi dengan peserta didik pada kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu sumber belajar harus dikembangkan dan dirancang secara sistematis berdasarkan kebutuhan pembelajaran yang akan dilaksanakan dan juga berdasarkan pada karateristik peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut.
2.1.2 Prestasi Belajar Bahasa Arab 2.1.2.1 Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu proses perubahan kepribadian seseorang dimana perubahan tersebut dalam bentuk peningkatan kualitas perilaku, seperti peningkatan pengetahuan, keterampilan, daya pikir, pemahaman, sikap, dan berbagai kemampuan lainnya.
Menurut Dimyanti dan Mudjiono belajar merupakan proses mencari pengalaman yang membutuhkan proses yang komplekes. Belajar terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Sehingga proses belajar terjadi disadari ataupun tidak
18Ahmad Rohani, Media Instruksional Edukatif, h. 105.
disadari. Kejadian yang dialami oleh seorang individu membuat orang tersebut memiliki pengalaman-pengalaman yang akan diceritakan nantinya kepada orang lain.19
Ungkapan di atas menunjukkan bahwa belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, di mana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemugkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. Belajar juga merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap hasil belajar; seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.
Tujuan belajar penting bagi pendidik dan peserta didik sendiri. Dalam desain instruksional pendidik merumuskan tujuan instruksional khusus atau sasaran belajar peserta didik. Rumusan tersebut disesuaikan dengan perilaku yang hendaknya yang dapat dilakukan peserta didik.20
Tujuan belajar adalah kegiatan manusia yang sangat penting dan harus dilakukan selama hidup, karena melalui belajar dapat melakukan perbaikan dalam berbagai hal yang menyangkut kepentingan hidup. Dengan kata lain, tujuan belajar untuk memperoleh dan meningkatkan tingkah laku manusia dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, sikap positif, dan berbagai kemampuan lainnya.
Adapun prinsip-prinsip belajar, sebagai berikut;
1. Kematangan jasmani dan rohani adalah suatu prinsip utama belajar. Kematangan jasmani yaitu telah sampai pada batas minimal umur serta kondisi fisiknya telah cukup kuat untuk melakukan kegitan belajar. Kematang rohani artinya telah memiliki kemampuan secara psikologis untuk melakukan kegiatan belajar.
2. Memiliki kesiapan yakni dengan kemampuan yang cukup baik fisik, mental maupun perlengkapan belajar kesiapan fisik, mental maupun perlengkapan belajar kesiapan fisik berarti memiliki tenaga cukup dan kesehatan yang baik, sementara kesiapan mental, memiliki minat dan motivasi yang cukup untuk melakukan kegiatan belajar.
19Satrinawati, Media dan Sumber Belajar (Cet. I; Yogyakarta: Deepublish, 2018), h. 1.
20Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran (Cet. IV; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2009), h. 23.
3. Memahami tujuan adalah prinsip ini sangat penting dimiliki oleh orang belajar agar proses yang dilakukannya dapat cepat selesai dan berhasil. Belajar tanpa memahami tujuan dapat menimbulkan kebingunan pada orangnya hilang kegairahan, tidak sistematis, atau asal ada saja.
4. Memiliki kesungguhan belajar tanpa kesungguhan akan memperoleh hasil yang kurang memuaskan. Selain itu akan banyak waktu dan tenaga terbuang dengan percuma. Sebaliknya, belajar dengan sungguh-sungguh serta tekun akan memperoleh hasil yang maksimal dan penggunaan waktu yang lebih efektif.
5. Ulangan dan latihan suatu yang dipelajari perlu diulangi agar meresap dalam otak, sehingga dikuasai sepenuhnya dan sukar dilupakan. Sebaliknya belajar tanpa diulangi hasilnya akan kurang memuaskan. Bagaimanapun pintarnya seseorang harus mengulangi pelajrannya atau berlatih sendiri di rumah agar bahan-bahan yang dipelajari tambah meresap dalam otak sehingga tahan lama dalam ingatan.21
Oleh karena itu dapat dipahami bahwa prinsip belajar merupakan landasan berfikir, landasan berpijak, dan sumber motivasi agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik antara pendidik dengan peserta didik. Prinsip belajar dijadikan sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi peserta didik maupun pendidik dalam upaya mencapai hasil yang diinginkan.
2.1.2.2 Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar terdiri dari dua kata yakni prestasi dan belajar yang mempunyai arti yang berbeda untuk memahami tentang pengertian dari prestasi belajar. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata prestasi diartikan sebagai hasil yang dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya)22
Dalam bidang akademik, pada umumnya prestasi belajar Dinyatakan sebagai pengetahuan yang dicapai atau perolehan keterampilan selama pembelajaran di sekolah. Tujuan prestasi belajar adalah berupa knowledge, understanding, and skills peserta didik dalam satu waktu tertentu yang memprediksi performance dan kompetensi peserta didik dalam materi atau mata pelajaran yang dipelajari peserta didik dalam satu rentang waktu tertentu.23
21M Dalyono, Psikologi Pendidikan (Cet. III; Jakarta: PT. Rineka cipta, 2005), h. 51-54.
22Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta:
Balai Pustaka, 1996), h. 787.
23Tritjahjo Danny Seosilo, Teori dan Pendekatan Belajar Implikasinya dalam Pembelajaran (Yogyakarta: Ombak, 2015), h. 107.
Perlu dipahami bahwa keberhasilan dari proses pembelajaran yang dilakukan pendidik sebenarnya bukan hanya dalam bentuk pengetahuan belaka. Selain berupa perolehan pengetahuan, selama pembelajaran peserta didik dapat memperoleh (membentuk) konsep diri, perubahan sikap, dan kepribadian, serta keterampilan- keterampilan tertentu. Namun pada umumnya, prestasi belajar itu sendiri hanya di ukur dari pengetahuan yang dicapai peserta didik pada sejumlah mata pelajaran di sekolah. Bahkan, prestasi peserta didik cenderung hanya diukur dari hasil ujian sekolah maupun ujian nasional. Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa prestasi belajar peserta didik merupakan kompetensi yang terjadi pada peserta didik setelah melakukan kegiatan pembelajaran selama kurun waktu tertentu. Adapun yang terdapat dalam al-quran surah al-Baqarah ayat 1/31-33 yang berbunyi:
24
Terjamahan:
31. Dan dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
32. Mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana."
33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya aku
24Al-Qur’an Al-Karim.
mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"25
Maka dapat disimpulkan bahwa setiap peserta didik terlahir dengan kercerdasannya masing-masing, sehingga hasil yang dicapai sebagai perestasinya pun berbea-beda dalam proses belajar. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai peserta didik setelah ia melakukan perubahan belajar baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Dalam proses pembelajaran, prestasi belajar dapat diketahui melalui evaluasi belajar yang dilakukan pendidik kepada peserta didik melalui berbagai macam-macam evaluasi dari evaluasi ini dapat diketahui seberapa besar pemahaman peserta didik terhadap materi yang sudah diajarkan.
2.1.2.3 Indikator Prestasi Belajar
Indikator prestasi belajar merupakan tolak ukur pendidik untuk menilai hasil belajar peserta didik, oleh karena itu dalam penelitian ini prestasi belajar dipusatkan pada perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar.
Indikator prestasi belajar menurut Tritjahjo Danny Seosilo pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar peserta didik. Namun demikian, pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah itu, khususnya ranah rasa murid, sangat sulit. Hal ini disebabkan perubahan hasil belajar itu ada bersifat intangible (tidak dapat dirabah). Oleh karena itu, yang dapat dilakukan pendidik dalam hal ini adalah hanya mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan peubahan yang terjadi sebagai hasil belajar peserta didik, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun yang berdimeni karsa.26
Maka dari itu dapat dipahami bahwa indikator prestasi belajar peserta didik ditinjau dari aspek kognitif yang berkaitan dengan mengingat kembali suatu
25Al-Qur’an Al-Karim.
26Tritjahjo Danny Seosilo, Teori dan Pendekatan Belajar Implikasinya dalam Pembelajaran, h. 109.
pengetahuan untuk mengembangkan kemampuan intelektual, aspek afektif diartikan sebagai memiliki sikap tingkah laku ke arah pertumbuhan individu yang lebih baik dengan kesadaran dalam membentuk nilai tingkah lakunya, dan aspek psikomotorik yaitu hasil belajar diperoleh dengan adanya pengajaran yang bersifat keterampilan atau skill.
2.1.2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Belajar sebagai proses pada dasarnya melibatkan banyak hal dan komponen yang di sadari atau tidak akan berdampak terhadap proses dan hasil belajar itu sendiri, seperti faktor internal dan faktor eksternal.
1. Faktor internal (faktor dalam diri individu), meliputi keadaan atau kondisi jasmani dan rohani peserta didik, berupa:
1) intelegensi (ءاكذلا (
Menurut Garrett dalam Dalyono menyatakan bahwa:
“Intelligence, includes at least the abilities demanded in the solution of problems which require the comprehension and use of symbols”27
Maksudnya intelegensi setidaknya mencakup kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk pemecahan-pemecahan masalah-masalah yang memerlukan pengertian serta penggunaan symbol-simbol.28
Maka dapat disimpulka bahwa intelegensi merupakan kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah dengan cara yang baik, melalui sebuah pengertian dan pemahaman sehingga dapat dikatakan sebagai peserta didik berintelegensi.
Intelegensi merupakan faktor penentu berhasil tidaknya peserta didik di sekolah.
Walaupun begitu peserta didik yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi
27Dalyono, Psikologi Pendidikan (Cet, VI; Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 183.
28 Dalyono, Psikologi Pendidikan, h. 183.
belum pasti berhasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan karena belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, sedangkan intelegensi adalah salah satu faktor di antara faktor yang lain. Jika faktor lain itu bersifat menghambat atau berpengaruh negative terhadap belajar, akhirnya siswa gagal dalam belajarnya. Peserta didik yang mempunyai intelegensi yang normal dapat berhasil dengan baik dalam belajar, jika ia belajar dengan baik.
Dengan demikian, orang yang intelegensinya tinggi akan lebih cepat menyesuaikan diri dengan masalah baru yang dihadapi, bila dibandingkan dengan orang yang tidak cerdas.29
Berdasarkan definisi di atas tentang intelegensi dapat disimpulkan bahwa intelegensi adalah kemampuan yang di bawah sejak lahir yang dapat digunakan untuk menyusuaikan diri terhadap kebutuhan baru dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuan untuk menggunakan memori, pengetahuan, pengalaman, penilaian untuk menyelesaikan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
2) Sikap ( فقوم )
Sikap merupakan perilaku seseorang yang didalamnya ada perilaku yang baik dan perilaku yang tidak baik, yang dimana proses pembelajaran terdapat seorang pendidik sebagai contoh yang baik dalam berperilaku.
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons (response tendency) dengan cara yang relative tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negativ.
Untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya sikap negativ peserta didik seperti tersebut di atas, pendidik dituntut untuk terlebih dahulu menunjukkan sikap positif terhadap dirinya sendiri dan terhadap mata pelajaran yang menjadi vaknya. Dalam hal bersikap positif terhadap mata pelajaranya, seorang pendidik sangat dianjurkan untuk senantiasa mengharagai dan mencintai profesinya. Pendidik yang demikian tidak hanya menguasai bahan-bahan yang terdapat dalam bidang studinya, tetapi juga mampu menyakinkan kepada para peserta didik akan manfaat bidang studi itu bagi kehidupan mereka. Dengan menyakini manfaat bidang studi tertentu, peserta didik merasa membutuhkannya, dan dari perasaan butuh itulah diharapkan muncul sikap positif terhadap bidang studi tersebut sekaligus terhadap pendidik yang mengajarannya.30
29Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Cet. XIV; Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2008), h. 135.
30Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, h. 135.
Berdasarkan pengertian di atas dapat diketahui bahwa sikap adalah kecenderungan yang berasal dari dalam diri pendidik yang berhubungan dengan peserta didik yang dihadapinya dalam kehidupan di sekolah terdapat perbuatannya untuk bertindak dan memiliki perasaan juga pikiran dalam bertingkah laku saat sedang tidak menyukai atau menyukai sesuatu.
3) Bakat (ةكلملا)
Bakat adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dan tidak semua orang memiliki kemampuan seperti seseorang tersebut, tetapi dalam kemampuan tersebut harus selalu diasah agar mampu menjadi bakat karena tanpa mengasah kemampuan tersebut pasti akan hilang sendirnya bakat yang dia miliki.
Secara umum bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dengan demikian, sebetulnya setiap orang pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa bayak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Bakat akan dapat mempengaruhi tinggih rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu.31
Maka dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bakat merupakan kemampuan dasar seseorang untuk belajar dalam waktu yang sebentar dibandingkan dengan orang lain, namun hasilnya justru lebih baik dan merupakan potensi yang dimiliki seseorang sebagai bawaan sejak lahir.
4) Minat (ةبغر)
Minat merupakan kemauan sendiri dalam melakukan hal-hal, tanpa ada paksaan dan disuruh. Minat yang dilakukan sesuai dengan keinginan sendiri seperti halnya jika kita ingin belajar pasti itu keinginan kita sendiri karena kita yang menginginkan sendir untuk belajar.
31Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, h. 135-136.
Minat ialah suatu dorongan yang menyebabkan terikatnya perhatian individu pada objek tertentu seperti pekerjaan, pelajaran, benda, dan orang. Minat berhubungan dengan aspek kognitif, afektif, dan motorik dan merupak sumber motivasi untuk melakukan apa yang diinginkan. Minat berhubungan dengan sesuatu yang menguntungkan dan dapat menimbulkan kepuasan bagi dirinya.32
Minat merupakan suatu proses pengembangan dalam mencampurkan seluruh kemampunya yang ada untuk mengarahkan individu kepada suatu kegiatan yang diminatinya, seperti halnya peserta didik yang bersungguh-sungguh dalam belajar bahasa Arab pasti memiliki keinginan untuk mengetahui materi bahasa Arab sedangkan peserta didik yang kurang berminat pasti tidak ingin mengikuti pembelajaran bahasa Arab.
5) Motivasi (ثح)
Motivas adalah perubahan seseorang dalam melakukan sesuatu yang dulunya malas belajar menjadi rajin belajar karena adanya pengaruh dari lingkungan yang rajin belajar sehingga dia menjadi rajin belajar.
Motivasi adalah keadaan internal organisme baik manusia ataupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dan motivasi terbagi menjadi dua macam, yaitu: motivasi instrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri peserta didik sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar.
Termasuk dalam motivasi instrinsik peserta didik adalah perasaan menyenangkan materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan peserta didik yang bersangkutan. Adapun motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu peserta didk yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Pujian dan hadiah, tata tertip sekolah, suri teladan orang tua, guru dan seterusnya merupakan contoh-contoh konkret motivasi ekstrinsik yang dapat menolong peserta didik untuk belajar.33
Perlu disimpulkan bahwa motivasi adalah perubahan perilaku untuk melakukan kegiatan agar dapat mewujudkan sebuah tujuan pendidikan dalam pembelajaran bahasa Arab yang dimana peserta didik memiliki keinginan untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih dibandingkan yang lain. Dan inilah yang
32Yudrik Jahja, Psikologi Perkembang (Jakarta: Kencana, 2011), h. 63.
33Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, h. 137.
mendorong untuk mengikuti pembelajaran agar bisa mendapatkan hasil yang memuaskan untuk menggapai prestasi dengan adanya keinginan untuk belajar sehingga menimbilkan minat dan motivasi dalam mengikuti pembelajaran bahasa Arab.
2. Faktor eksternal (Faktor dari luar individu), meliputi kondisi lingkungan sekitar peserta didik, berupa:
1) Keluarga (ةلئاعلا)
Keluarga terdiri dari ayah, ibu, kakak, dan adik yang di mana di dalam isi rumah tersebut membawa dampak yang positif, tanpa adanya masalah dalam lingkungan keluarga dan membantu psikolog anak dalam belajar dengan baik.
Keluarga adalah ayah, ibu dan anak-anak serta family yang menjadi penghuni rumah. Faktor orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan anak dalam belajar. Tinggi rendahnya pendidikan orang tua, besar kecilnya penghasilan, cukup atau kurang perhatian orang tua, akrab atau tidaknya hubungan orang tua dengan anak-anak, tenang atau tidaknya situasi dalam rumah, semuanya itu turut mempengaruhi keberhasilan belajar.34
Berdasarkan dapat di simpulkan bahwa lingkungan keluarga mempengaruhi peserta didik dalam hal membentuk sikap disiplin meliputi perhatian dan kasih sayang orang tua, keutuhan orang tua, keharmonisan keluarga, dan sifat keteladanan, contohnya lingkungan keluarga merupakan media pertama dan utama yang secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap perilaku dalam perekembangan peserta didik, termasuk di dalamnya prestasi belajar peserta didik.
2) Sekolah ) ةسردملا (
Sekolah merupakan tempat menempuh pendidikan di dalamnya ada pendidik dan peserta didik saling berinterakasi yang dimana pendidik yang membantu peserta didik dalam belajar dengan baik dan peserta didik yang menerima pelajaran. Di dalam
34Dalyono, Psikologi Pendidikan (Cet. III; Jakarta: PT. Rineka cipta, 2005), h. 57-58.
sekolah memililiki pergaulan dengan sesama peserta didik yang di mana ada peserta didik yang tidak nakal dan adapun yang nakal.
Keadaan sekolah tempat belajar turut mempengaruhi tingkat keberhasilan belajar.
Kualitas pendidik, metode pengajarannya, kesesuaian kurikulum dengan kemampuan pesera didik, keadaan fasilitas atau perlengkapan di sekolah, keadaan ruangan, jumlah peserta didik per kelas, pelaksanaan tata tertib sekolah, dan sebagainya, semua ini turut mempengaruhi keberhasilan belajar peserta didik. Bila suatu sekolah kurang memperhatikan tata tertib, maka peserta didik kurang mematuhi perintah para pendidik dan akibatnya mereka tidak mau belajar sungguh-sungguh di sekolah maupun di rumah. Hal ini mengakibatkan prestasi belajar peserta didik menjadi rendah.35
Maka dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pembelajaran dapat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana belajar, misalnya ruang kelas yang terlalu sempit akan mempengaruhi kenyamanan peserta didik dalam belajar. Begitu pula dengan penataan ruangan kelas, kelas yang tidak ditata dengan rapi tanpa ada gambar yang memadai akan membuat peserta didik cepat lelah, bosan dan tidak bergairah dalam belajar.
3) Masyarakat) عمتجملا (
Masyarakat merupakan sekumpulan kelompok yang di mana dalam kelompok tersebut memiliki kepribadian yang berbeda-beda, ada yang baik dan ada yang tidak baik.
Keadaan masyarakat juga menentukan prestasi belajar. Bila di sekitar tempat tinggal keadaan masyarakatnya terdiri dari orang-orang yang berpendidikan, terutama anak-anaknya rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya baik, hal ini akan mendorong anak untuk untuk lebih giat belajar. Tetapi sebaliknya, apabila tinggal di lingkungan banyak anak-anak yang nakal, tidak bersekolah dan pengangguran, hal ini akan mengurangi semangat belajar atau dapat dikatakan tidak menunjang sehingga motivasi belajar berkurang.36
Maka dari itu kegiatan peserta didik dalam lingkungan masyarakat dapat berpengaruh terhadap perekembangan pribadinya untuk mencapai prestasi belajar yang baik, sebaiknya peserta didik dapat berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya
35Dalyono, Psikologi Pendidikan, h. 58-59.
36Dalyono, Psikologi Pendidikan, h. 60.
yang patut dipetik nilai-nilai postif agar dapat mendapatkan pengalaman yang dialami masyarakat sehingga banyak diperoleh ilmu yang berguna bagi kita sendiri.
Faktor-faktor di atas saling berinteraksi secara langsung dalam mempengaruhi prestasi belajar peserta didik, maka sangat diperlukan lingkungan yang baik dan kesiapan dalam diri peserta didik yang meliputi starategi, metode serta gaya belajar, agar dapat memberi pengaruh terhadap prestasi belajar yang akan dihasilkan.37
2.1.2.5 Evaluasi Berbagai Ranah Psikologi
Evaluasi prestasi belajar peserta didik pada dasarnya akan menyentuh tiga ranah psikologis, yaitu: ranah cipta (kognitif), ranah rasa (afektif), dan ranah karsa (psikomotorik).
1. Evaluasi Prestasi Kognitif
Evaluasi prestasi kognitif adalah kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut peserta didik untuk menghubungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajar untuk memecahkan masalah tersebut.
Mengukur keberhasilan peserta didik yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan. Yang meliputi pengamatan, ingatan, pemahaman, penerapan, analisis dan sintesis. Dengan kata lain berkenan dengan hasil belajar intelektual yang dimana evaluasi kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para pendidik di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para peserta didik dalam menguasai isi bahan pengajaran.38
Evaluasi prestasi kognitif ialah mengukur kemampuan peserta didik dengan menggunakan tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan, karena semakin banyaknya jumlah peserta didik di sekolah-sekolah, tes lisan dan perbuatan hampir tak pernah
37Muhibbin Syah, Dkk, Psikologi Pendidikan Teori dan Aplikasi dalam Proses Pembelajaran (Jogjakarta: Ar-Ruz Media, 2013), h. 126.
38Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Cet. XII; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), h. 23.
digunakan lagi. Adapun alasan lain mengapa tes lisan khususnya kurang mendapatkan perhatian karena sikap dan perilakunya yang subjektif dan kurang adil, sehingga soal yang diajukan pun tingkat kesukarannya berbeda antara satu dengan yang lainnya.
2. Evaluasi Prestasi Afektif
Evaluasi prestasi afektif adalah kemampuan di ukur dengan cara menerima (memperhatikan), merespon, menghargai, mengorganisasi, dan karakteristik suatu nilai.
Dalam merencanakan penyusunan instrument tes prestasi peserta didik yang berdimensi afektif (ranah rasa) jenis-jenis prestasi internalisasi dan karakterisasi mendapat perhatian khusus. Alasannya, karena kedua jenis prestasi ranah rasa itulah yang lebih banyak mengendalikan sikap dan perbuatan peserta didik.39
Maka pengukuran evaluasi prestasi afektif ialah pengubahan sikap seseorang memerlukan waktu yang relatif lama. Pertanyaan afektif tidak menuntut jawaban benar atau salah, tetapi jawaban khusus tentang dirinya mengenai minat, sikap dan internalisasi nilai.
3. Evaluasi Prestasi Psikomotor
Evaluasi prestasi psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuan bertindak peserta didik.
Cara yang dipandang tepat untuk mengevaluasi keberhasilan belajar yang berdimensi ranah psikomotorik (ranah karsa) adalah observasi. Observasi, dalam hal ini, dapat di artikan sebagai sejenis tes mengenai peristiwa, tingkah laku, atau fenomena lain, dengan pengamatan langsung.
Evaluasi prestasi psikomotorik ialah bentuk tes ini berupa petunjuk-petunjuk baik secara lisan atau tertulis, dapat berupa penyediaan situasi dimana peserta didik diminta untuk bereaksi baik dengan sengaja atau tidak.
39Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, Edisi Revisi (Cet. XI; Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h.
215.
Terdapat dua macam yang sangat popular dalam mengevaluasi tingkat keberhasilan atau prestasi belajar, yakni:
1) Penilaian Acuan Norma (Norm-Referenced Assessment)
Dalam penilaian yang menggunakan pendekatan PAN (Penilaian Acuan Norma), prestasi belajar seorang peserta didik diukur dengan cara membandingkannya dengan prestasi yang dicapai teman-teman sekelas atau sekelompoknya. Jadi, pemberian skor atau nilai peserta didik tersebut merujuk pada hasil perbandingan antara skor-skor yang diperoleh teman-teman sekelompoknya dengan skornya sendiri.40
2) Penilaian Acuan Kreteria (Criterion-Referenced Assessment)
Penilaian dengan pendekatan PAK (Penilaian Acuan Kriteria) merupakan proses pengukuran prestasi belajar dengan cara membandingkan pencapaian seorang peserta didik dengan berbagai perilaku ranah yang telah ditetapkan secara baik sebagai patokan absolute. Jadi, nilai atau keluhan seorang peserta didik ditentukan oleh penguasaannya atas materi pelajaran hingga batas yang