• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jangan Membuat Bisnis Lagi! Data yang Menekankan Inovasi dalam Bisnis

N/A
N/A
Afifah Arin

Academic year: 2024

Membagikan "Jangan Membuat Bisnis Lagi! Data yang Menekankan Inovasi dalam Bisnis"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Entrepreneur, Jangan Membuat Bisnis Lagi!

Posted on 9 Agustus 2023 | 4 Komentar

Mungkin Anda pernah mendengar nasihat ini: Tugas entrepreneur adalah membuat bisnis baru. Disampaikan dengan penuh semangat. Khas anak muda. Dengan heroisme berhias nasionalisme. Berhias semangat keumatan. Anda pernah mendengar?

Nah, kali ini mari kita kupas nasihat itu dengan data. Tentu saja data korporasi. Mari kita bandingkan dua perusahaan. Alat ukurnya kita ambil dari 4 besaran yang biasa digunakan untuk membandingkan perusahaan di berbagai negara. Laba, omzet, aset dan nilai pasar. Empat besaran itulah yang tiap tahun digunakan oleh Forbes untuk membandingkan perusahaan tanpa melihat apa pun industrinya. Dua ribu perusahaan dengan skor laba, omzet, aset dan nilai pasar tertinggi tiap tahun ditampilkan sebagai Forbes 2000. Dengan kata lain, kalau kita berbicara dari 4 besaran itu, perbedaan industri sudah tidak penting. Semua perusahaan dipandang sama. Anda dapat membaca link ini untuk mengetahuinya lebih lanjut. Dari 4 besaran itu kita pilih satu yang bisa disebut merangkum dari 3 variabel yang lain yaitu nilai pasar.

Nah atas dasar itu saya ambil dua perusahaan. Satu perusahaan yang menganut nasihat di atas. Dalam kerangka corporate life cycle, perusahaan ini disebut sebagai multiple RPD (revenue and profit driver). Perusahaan yang berbisnis bermacam-macam pada berbagai industri. Selesai membuat bisnis A dilanjut B, lanjut C, lanjut D…. dan seterusnya.

Siapa perusahaan yang seperti itu? Mari kita gunakan PT Japfa Comfeed Indonesia. Berikut ini Sejarah Japfa yang saya kutip dari laman resmi Bursa Efek Indonesia:

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk didirikan pada 18 Januari 1971 sebagai sebuah perusahaan yang memproduksi pelet kopra dengan nama PT Java Pelletizing Factory (Japfa). Seiring berjalannya waktu, JPFA terus berkembang dan berekspansi ke berbagai sektor bisnis, seperti pakan ternak dan pembibitan ayam.

Japfa menjadi pemegang hak eksklusif untuk menjual serta mendistribusikan bibit ayam galur Indian River dari Aviagen. Perjalanan Japfa dalam dunia saham dimulai ketika perusahaan tersebut melakukan Initial Public Offering (IPO) atau Penawaran Saham Perdana dengan kode emiten JPFA pada 23 Oktober 1989.

Sukses melantai di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya, perusahaan ini lalu mengambil alih beberapa aset perusahaan, seperti PT Comfeed Indonesia, PT Suri Tani Pemuka, PT Ometraco Satwafeed, dan PT Indopell Raya pada 1990. Proses ekspansi tersebut terus berlangsung hingga pada 1992, Japfa mengakuisisi PT Multibreeder Adirama Indonesia dan PT Ciomas Adisatwa yang bergerak di bidang pembibitan dan pemrosesan ayam, dan juga PT Suri Tani Pemuka yang bergerak di bidang budidaya dan pemrosesan udang

Sejarah tersebut menggambarkan dengan jelas bahwa Japfa adalah sebuah perusahaan multiple RPD. Memang antara RPD satu dengan lainnya masih terkait. Tetapi tetap berbeda-beda. Sebagaimana di laman resmi perusahaan, bisnisnya bisa dikelompokkan menjadi 3 bidang yaitu poultry, aquaculture dan beef cuttle. Poultry terdiri dari pakan ternak ayam, DOC ayam broiler/layer dan pullets, consumer and technical services, pencegahan penyakit, perlengkapan peternakan, ayam broiler komersial dan produk karkas ayam.

Kelompok aquaculture terdiri dari aqua feed, breeding, consumer and technical services, tilapia, eel, dan seafood. Kelompok beef dan cattle terdiri dari penggemukan sapi, rumah potong, dan daging sapi.

Mari kita lihat kinerjanya. Data nilai pasar yang masih ditampilkan oleh Google paling awal adalah tahun 2005. Nilai pasar per lembar saham adalah Rp 43. Hari ini nilai pasar per lembar saham adalah Rp 1 295. Artinya, dalam rentang waktu 18 tahun rata-rata pertumbuhan yang diukur dengan metode CAGR (compounded annual growth rate) adalah 20,82%. Artinya,

(2)

misalkan Anda menjadi investor (pemegang saham) Japfa tahun 2005 dengan nilai investasi Rp 100 juta, tahun 2006 akan tumbuh nilainya sebesar 20,82% menjadi 120,82 juta. Tahun berikutnya akan tumbuh lagi 20,82% menjadi Rp 145,97 dan seterusnya. Tiap tahun tumbuh 20,82%. Dengan pertumbuhan tiap tahun seperti itu maka nilai investasi Anda tahun 2023 ini adalah Rp 3,64 miliar.

Bagus atau tidak pertumbuhan seperti itu? Mari kita lihat perusahaan pembandingnya.

Kita pilih perusahaan yang bisnisnya satu bidang alias single RPD. Perusahaan yang tidak menganut nasihat para motivator di atas. Perusahaan yang tidak pernah membuat bisnis lagi setelah mendirikan satu bisnis. Kita pilih PT Sumber Alfaria Trijaya. Bisnisnya adalah membuat gerai-gerai minimarket dengan merek Alfamart, Alfamidi dan Alfa Express. Gerai pertama didirikan tahun 1999 hingga hari ini kerjanya terus menerus mendirikan gerai.

Data nilai pasar yang masih tersedia di Google terlama adalah tahun 2009 dengan nilai Rp 40 per lembar saham. Hari ini nilainya adalah Rp 2780. Dengan demikian selama 14 tahun terakhir diukur dengan CAGR perusahaan ini tumbuh rata-rata 35,38%. Sebagai gambaran jika Anda menjadi investor perusahaan ini pada tahun 2009 dengan uang Rp 100 juta, tahun 2010 nilai investasi Anda naik 35,38% menjadi Rp 135,38 juta. Tahun berikutnya naik lagi 35,38%

menjadi Rp 183,28 juta. Jika ini diteruskan dengan pertumbuhan tahunan yang sama maka tahun 2023 ini nilai investasi Anda menjadi Rp 9,40 miliar.

&&&

Pembaca yang baik, jelas perbedaan kinerja pertumbuhan dua perusahaan itu. Japfa yang multiple RPD kalah jauh pertumbuhannya dibanding Alfamart yang single RPD. Investor akan merasakan bedanya. Demikian juga pendiri kedua perusahaan. Itulah mengapa Djoko Susanto, pendiri Alfamart, menjadi orang terkaya ke-10 menurut Forbes tahun ini. Sementara mendiang Handojo Santosa atau ahli warisnya jauh tertinggal.

Sebagai entrepreneur pendiri perusahaan, Joko melalui PT Sigmantara Alfindo memegang sekitar 53% alias sekitar 22 miliar lembar saham Alfamart. Dengan nilai pasar Rp 2780 maka hari ini nilai aset Djoko adalah Rp 61,1 triliun. Sementara itu sebagai entreperenur pendiri perusahaan keluarga Handojo melalui Japfa LTD memegang 55% saham Japfa dengan nilai aset hari ini Rp 8,3 triliun.

Nah, dari dua contoh tersebut, sudah saatnya Anda para entrepreneur memperbaiki cara pandang. Memperbaiki mindset. Tugas seorang entrepreneur bukanlah terus membuka bisnis baru. Tapi mendirikan satu bisnis dan terus mengembangkannya menapaki 8 langkah dalam corporate life cycle untuk menjadi korporasi sejati yang bernilai tinggi. Ingat bahwa bisnis itu adalah tentang menciptakan nilai. Creating value. Ukuran teknisnya adalah market value atau nilai pasar atau yang secara singkat disebut value alias nilai. Anda siap?

Artikel ke-411 karya Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya pada tanggal 9 Agustus 2023

(3)

Sejarah Korporasi: Ilmu Wajib Para Founder CEO Entrepreneur Posted on 24 September 2020 | 31 Komentar

Entrepreneur dalam era korporasi artinya adalah para pendiri dan direktur utama perusahaan yang didirikannya. Para founder dan CEO. Orang yang dengan inovasi dan keberaniannya mendirikan sebuah perusahaan. Lalu bekerja keras membanting tulang sebagai CEO untuk memastikan perusahaan yang didirikannya eksis membesar memberi manfaat kepada masyarakat luas tanpa sekat suku, agama atau bangsa. Maka, seorang entrepreneur bukan sekedar berjualan. Tidak sekedar berdagang. Tidak sekedar mencari kekayaan.

Maka, dibutuhkan ilmu yang cukup. Ilmu apa? Tentu saja ilmu yang berhubungan dengan korporasi. Ilmu hukum, akuntansi, pajak, marketing, SDM, manajemen risiko, manajemen produksi, internet marketing, dasar-dasar ekonomi makro, dan masih banyak lagi. Banyak buku ataupun tulisan tentang ilmu-ilmu itu. Tinggal dibaca dan praktekkan dalam mengelola korporasi.

Tapi ada satu ilmu super penting yang dilupakan: sejarah korporasi. Pendiri perusahaan itu kedudukannya seperti seorang pendiri negara. Seperti Bung Karno dan Bung Hatta. Tidak ada pendiri negara yang tidak getol belajar sejarah. Tentu saja sejarah negara. Maka, mestinya tidak ada pendiri korporasi yang tidak getol belajar sejarah korporasi. Sejarah negara berfungsi sebagai referensi dan benchmark dalam mendirikan dan mengelola sebuah negara. Sejarah korporasi berfungsi sebagai referensi dan benchmark dalam mendirikan dan mengelola sebuah korporasi.

Sejarah adalah studi tentang masa lalu. Selama ini obyeknya bisa dikatakan selalu institusi negara. Bahkan studi tentang masa lalu seseorang atau individu diberi sebutan sendiri. Biografi.

Obyek sejarah yang hanya berupa institusi negara itu tidak terpisahkan dari peran sentral negara dalam kehidupan masa lalu. Tetapi peran itu terus berkurang dari waktu ke waktu. Dahulu penanda sejarah adalah hasil karya negara. Piramida di Mesir atau Borobudur di Indonesia misalnya. Tapi kini komputer, internet, media sosial, mobil dan penanda-penanda sejarah lain merupakan hasil karya korporasi.

Nah, bicara sejarah adalah bicara penanda sejarah. Bicara penanda sejarah modern mestinya adalah bicara korporasi. Tapi malang sekali, sejarah korporasi sebagai kreator penanda sejarah tidak diajarkan di sekolah. Bahkan pelajaran sejarah keseluruhan pun ada wacana untuk dihapus. Haruskah kita buta sejarah? Haruskah kita tetap buta sejarah korporasi?

Selama ini kita sudah buta sejarah korporasi. Akibatnya sangat fatal. Paling tidak ada lima akibat buta sejarah korporasi. Pertama, karena sejarah korporasi tidak diajarkan di sekolah-sekolah, kita jadi tidak sadar bahwa penanda sejarah era modern yang sekarang kita nikmati adalah hasil kaya korporasi. Tidak sadar bawa korporasi memiliki peran luar biasa besar dalam kehidupan kita.

Tulisan ini tidak bisa Anda baca tanpa peran korporasi.

Akibat kedua, di negeri kita tidak terbentuk korporasi besar yang mampu membuat penanda sejarah. Mobil, gadged, laptop, android, googlemap, pesawat terbang, alat berat, bahkan produk lifestyle seperti McDonald, KFC, Starbucks dan sebagainya diproduksi oleh orang lain. Kita hanya menjadi bangsa konsumen. Tidak tahu bahwa bangsa produsen itu terbentuk melalui korporasi. Tidak faham bagaimana membentuk korporasi besar sampai pada stage ke 8 pada corporate life cycle .

Ketiga, sulitnya terjadi merger dan akuisisi. Padahal kalau mempelajari sejarahnya, korporasi besar seperti Unilever atau Danone misalnya adalah hasil dari proses merger dan akuisisi panjang berbagai perusahaan.

Merger dan akuisisi sulit dilakukan di negeri ini karena ketidakmampuan membedakan antara aset korporasi dengan aset pemegang saham. Apa yang terjadi pada saat debat kandidat presiden tahun 2019 lalu bisa menjadi gambaran. Saat itu Capres Jokowi menyatakan bahwa

(4)

Capres Prabowo memiliki lahan seluas 220 ribu hektar di Kalimantan Timur dan 120 ribu hektar di Aceh Tengah. Pernyataan ini terjadi tentu karena Capres Jokowi tidak membedakan antara aset Capres Prabowo sebagai pemegang saham dengan aset perusahan yang sahamnya dipegang oleh Capres Prabowo. Sebuah pernyataan yang tidak sesuai dengan undang-Undang PT.

Dalam debat itu capres Prabowo menanggapi bahwa memang benar ia memiliki aset ini tetapi sewaktu waktu akan mengembalikan lahan ini kepada negara jika negara membutuhkan.

Jawaban ini juga menunjukkan bahwa Capres Prabowo juga tidak membedakan antara aset dirinya sebagai pribadi dan aset perusahaan yang sahamnya dipegang sebagai badan hukum PT.

Sebuah tanggapan yang juga tidak sesuai dengan Undang Undang PT

Jika Capres Prabowo mengikuti Undang Undang PT, tanggapannya kurang lebih akan begini “Pak Jokowi sekarang kan masih Presiden. Silahkan Bapak cek kepada kepala BPN atau kepada Dirjen Pajak karena tanah yang Bapak Maksud sudah bersertifikat BPN dan semua sudah dilaporkan dalam SPT. Dan saya jamin, pernyataan Bapak itu salah total. Saya sama sekali tidak memiliki tanah itu”

Setelah debat itu, Wapres JK menanggapi bahwa memang benar Prabowo memiliki lahan itu. Tetapi proses kepemilikannya dilakukan secara legal formal dan sah. Proses kepemilikan itu berada dalam koordinasi nya dalam pemerintahan. Tanggapan Wapres JK ini juga setali tiga uang.

Tidak sesuai dengan Undang-Undang PT. Tidak mampu bisa membedakan antara aset korporasi dengan aset para pemegang sahamnya.

Merger dan akuisisi akan mudah jika masyarakat bisa membedakan aset korporasi dengan aset pemegang sahamnya. Merger dan akuisisi sama sekali tidak mengurangi aset pemegang saham yang berupa lembaran saham dengan nilai pasarnya. Yang terjadi justru ada efisiensi dan nilai tambah dari hasil merger dan akuisisi sehingga nilai dan hak laba atau ROI bagi si pemegang saham justru meningkat.

Merger dan akuisisi adalah cara konsolidasi kekuatan ekonomi nasional. Jika belajar dan menghayati sejarah Unilever misalnya, Infofood, Indofood CPB, Mayora, Ultrajaya, Grup Orang Tua, dan Wings misalnya akan merger menjadi sebuah perusahaan FMCG besar dan berekspansi ke berbagai negara. Seperti Unilever. Jika mempelajari sejarah Citibank misalnya, Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, BCA, dan semua bank akan merger menjadi satu bank nasional yang asetnya sekitar Rp 8 ribu triliun. Dan sebagainya.

Keempat, tidak muncul masyarakat berbudaya investasi alias investing society. Adanya justru masyarakat berbudaya utang. Jika punya iddle money diutangkan melalui deposito dan tabungan perbankan. Jika butuh uang untuk ekspansi usaha utang. Akibatnya bunga bank pun selangit.

Dalam investing society, investment company lebih berkembang dari pada bank komersial. Seperti di USA yang aset investment company terbesarnya yaitu BlackRock adalah senilai USD 7,4 triliun alias sekitar Rp 110 ribu triliun. Jauh lebih besar dari aset Citibank misalnya yang hanya sekitar Rp 12 ribu triliun. Bandingkan dengan investment company terkemuka di negeri ini yaitu Saratoga yang sekitar Rp 24 triliun. Jauh lebih kecil dari aset Bank Mandiri misalnya yang lebih dari Rp 1300 triliun. Investing society adalah darah bagi munculnya korporasi penanda sejarah.

Kelima, tercerabutnya riset dari korporasi sebagai akarnya. Ketika mempelajari Thomas Edison misalnya, anak anak kita tidak pernah tahu bahwa temuan bola lampu listrik itu adalah bagian dari riset General Electric. Posisi Edison adalah founder dan CEO General Electric, perusahaan yang juga memiliki pabrik di Indonesia.

Mestinya, anak anak belajar tentang sejarah General Electric. Belajar tentang bagaimana Thomas Edison mendirikannya. Belajar tentang bagaimana Generals Electric membangun lab dan kapasitas riset beserta sumber pembiayaannya. Anak-anak SMA yang sudah ada mata pelajaran akuntansi mempelajari sejarah General Electric sampai pada bab laporan keuangan perusahaan teknologi terkemuka hingga saat ini itu.

Saat waktunya wisata, anak anak dibimbing oleh para guru mengunjungi pabrik General Electric di Surabaya sebagai sebuah situs sejarah lintas abad yang masih berproduksi. Jadilah anak anak-akan belajar membangun korporasi besar seperti General Electric.

&&&

(5)

Itulah lima akibat buta sejarah korporasi. Sangat merugikan. Membuat kita lemah di ekonomi. Menjadi bangsa konsumen. Menjadi bangsa penonton. Menjadi bangsa pembantu rumah tangga di berbagai negara. Maka, pelajaran sejarah sangat dibutuhkan oleh para pendiri perusahaan. Juga oleh masyarakat luas. Karena pendiri perusahaan tidak bisa bekerja sendiri.

Butuh enam pilar untuk membangun ekosistem yang mendukung tumbuhnya korporasi penanda sejarah.

Barang siapa ingin sukses di dunia, capailah dengan ilmu. Barang siapa ingin sukses akhirat, capailah dengan ilmu. Barang siapa ingin sukses keduanya, capailah dengan ilmu.

SNF Consulting telah merumuskan konsep Corporate Life Cycle sebagai hasil pembelajaran sejarah korporasi. Silakan palajarinya dengan serius. SNF Consulting juga telah menyediakan KELAS KORPORATISASI bagi para entrepreneur, founder, CEO, direksi, komisaris dan pemegang saham. Pastikan Anda sudah belajar sejarah korporasi secara serius.

Korporatisasi:

(6)

Asal Muasal & Peran Posted on 16 Maret 2020 | 88 Komentar

Kepada saya ada sebuah pertanyaan menarik. Yang menanyakan adalah kawan-kawan online maupun offline. Pertanyaannya: dari mana asal muasal istilah korporatisasi? Penjelasan atas pertanyaan itu bermula dari antusiasme saya terhadap riset dan penulisan sejak remaja.

Saat SMA saya rajin mengikuti kegiatan karya ilmiah remaja. Kala itu saya pernah menghasilkan karya berupa alat mekanik untuk memudahkan proses produksi brem yang dilakukan oleh ayah ibu dan warga desa Kaliabu, kecamatan Mejayan, Caruban, Madiun. Teknologi sederhana yang meningkatkan efisiensi kerja. Saya sampai mempresentasikannya di lomba pelajar teladan tingkat Jawa Timur, mewakili Kabupaten Madiun. Saat SMA saya juga aktif menjadi pimpinan redaksi majalah sekolah bernama Kiprah. Majalah yang proposal pendirian saya buat dan tandatangani.

Majalah yang sampai saat ini masih eksis. Kebiasaan meneliti dan menulis tidak pernah berhenti sampai kuliah dan hingga detik ini.

Logo sebuah resto klien SNF Consulting di Osh, Kyrgyzstan. Visi SNF Consulting adalah hadir di berbagai negara

Saat kuliah di Teknik Mesin ITS, aktivitas menulis dan meneliti tidak pernah berhenti. Ada sesuatu yang sangat membuat galau ketika itu. Tulisan-tulisan yang saya kirim ke media massa banyak yang ditolak. Dan dari sekian penolakan, alasan terbanyak adalah karena ketidaksesuaian antara materi tulisan dengan latar belakang akademis. Kuliah teknik mesin, menulis fenomena sosial manajerial.

Sempat akan memutuskan untuk pindah kuliah ke Unair. Tetapi dicegah oleh dosen wali dengan alasan yang sangat masuk akal. Argumentasinya, saya akan rugi waktu dan biaya jika pindah kuliah. Orang tua juga akan kecewa. Lebih baik selesaikan kuliah di teknik mesin. Setelah lulus segera kuliah S2 di bidang manajemen. Dan akhirnya saya kuliah di Magister Manajemen Unair sekitar tiga bulan setelah lulus ITS.

Saat kuliah di Unair saya mengalami kegalauan tingkat dewa lagi. Membaca tesis kakak- kakak kelas, hampir 100% isinya adalah statistik. Membuat model matematis sebuah fenomena manajemen lalu mengujinya dengan alat statistik. Jiwa saya berontak. “Kalau hanya untuk belajar statistik matematik, rugi saya bayar empat puluh juta-an disini. Di ITS tiap hari belajar model matematika yang jauh lebih rumit”. Masih segar diingatan bagaimana panasnya otak mempelajari transformasi Laplace misalnya.

Nah, atas pemberontakan itu kemudian saya serius belajar tentang metodologi. Buku-buku metodologi yang ada saya lahap habis. Sampailah saya menemukan sebuah konsep metode penelitian yang menantang: studi kasus dan etnografi. Metode studi sosial yang sangat merangsang saya yang memang sejak remaja hobi penelitian dan menulis.

Gambarannya adalah seperti seorang peneliti yang mempelajari sebuah suku terasing dengan bekal pengetahuan nol. Tidak paham bahasanya. Juga tidak ada teori maupun tulisan apapun tentang suku terasing itu. Langsung masuk dan tinggal berbaur dengan warga suku.

Belajar bahasa dari nol. Belajar budayanya dari nol. Beberapa tahun kemudian, si peneliti mampu berkomunikasi dengan bahasa suku terasing tersebut. Bahkan menulis kamus tentang bahasa itu.

Juga menulis berbagai artikel dan buku tentang budaya dan kehidupan suku itu. Inilah menantangnya penelitian sosial. Penelitian studi kasus. Penelitian etnografi. Saya menerapkan metode itu untuk meneliti “suku terasing” berupa perusahaan-perusahaan. Itulah kegiatan sehari-hari saya sejak melakukan riset untuk tesis tahun 2000 sampai saat ini. Tidak pernah berhenti.

Ada sebuah proses manajerial berbasis ekuitas yang telah dilakukan perusahaan- perusahaan Barat sejak lebih dari dua abad lalu. Jepang menyusulnya sejak sekitar seabad lalu.

(7)

Korea sejak sekitar setengah abad lalu. Hasilnya adalah perusahaan yang menguasai pasar dunia.

Unilever, JP Morgan Chase, McDonald’s, Boeing, Airbus, Ford, Volkswagen, Google, Microsoft, Toyota, Samsung, Hyundai adalah beberapa contohnya. SNF Consulting menelitinya dengan serius dan kemudian menyebut proses itu sebagai korporatisasi.

Jadi, korporatisasi adalah hasil riset SNF Consulting terhadap berbagai perusahaan di berbagai negara. Sebagian besar adalah perusahaan yang telah berusia lintas abad. Sebagian lagi adalah perusahaan-perusahaan baru yang dalam kecepatan tinggi berhasil tampil dan menguasai pasar berbagai negara. Sebagian dari proses riset tersebut bisa diikuti pada koran gadget Sarapan Pagi yang hari ini telah mencapai edisi ke-1717. juga sudah ada 11 buku yang terbit.

Itulah asal usul korporatisasi. Bukan dari text book manajemen yang saya pernah pelajari ketika mengambil S2 manajemen. Bukan juga dari buku-buku terbaru yang sekarang dipelajari para mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis di berbagai jenjang akademis. Mengapa tidak ada?

Karena di Barat sebagai kiblat manajemen dunia, korporatisasi sudah dimulai lebih dari dua abad lalu. Kini sudah tuntas. Tidak perlu lagi dibahas di text book.

Dalam terminologi riset etnografi, korporatisasi adalah sebuah tema etnografis. Sebuah tema besar riset. Saya dan team SNF Consulting terus memperdalamnya tanpa henti. Muncullah beberapa konsep penjelasan tentang tema besar seperti kurva korporatisasi, gergaji korporatisasi, revenue and profit driver, penurunan cost of capital, langkah-langkah teknis korporatisasi, valuasi perusahaan menggunakan konsep korporatisasi, ekonomi berjamaah dengan korporatisasi, wakaf berbasis ekuitas, merger dan akuisisi berbasis konsep korporatisasi, korporatisasi terpaksa, dan masih banyak lagi. Yang terakhir adalah konsep dekorporatisasi yang muncul karena respon perusahaan-perusahaan terhadap penyebaran wabah corona.

Salah satu pendukung terus berkembangnya konsep korporatisasi adalah karena aktivitas sehari-hari di SNF Consulting berupa meeting dengan para direksi berbagai perusahaan berbagai bidang. Direksi perusahaan klien. Di meja meeting inilah berbagai kasus menarik akan memicu riset lebih lanjut untuk memunculkan konsep lebih mendalam tentang korporatisasi. Menjadikan konsep korporatisasi langsung berinteraksi dengan eksekusi di lapangan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahan berbagai bidang yang menjadi klien SNF Consulting. Klop dengan karakter riset studi kasus dan etnografi yang tidak pernah ada kata henti.

$$$

Sampai kapan saya akan menulis dan meneliti? Saya sudah memilihnya menjadi medan juang. Medan juang untuk menguatkan ekonomi umat dan bangsa. Dalam terminologi agama yang saya yakini ini adalah sebuah jihad. Jihad iqtisadi. Perjuangan ekonomi. Berjuang sampai detak jantung terakhir. Bangsa dan umat ini tidak akan menang sampai muncul perusahaan- perusahaan besar yang menguasai pasar berbagai negara. Paling tidak 150 negara. Di dunia ini ada sekitar 250 negara. Perusahaan seperti inilah yang mampu merekatkan masyarakat dari berbagai etnis dan agama di negeri ini dan di berbagai negara.

Korporatisasi adalah jawaban terhadap semangat mengurangi atau bahkan meninggalkan utang. Jawaban terhadap semangat meninggalkan riba. Tetap dengan pertumbuhan pesat.

Perusahaan bisa berekspansi dengan investasi lebih dari 5x laba tanpa utang tanpa riba.

Korporatisasi adalah syirkah berbasis ekuitas dengan legalitas dan manajemen modern.

Ekonomi berjamaah.

Dalam agama yang saya yakini, korporatisasi adalah pelaksanaan ekonomi berjamaah berbasis full profit and lost share dengan tata kelola dan manajemen modern. Korporatisasi juga merupakan syirkah yang berbasis ekuitas tanpa batas waktu. Berbeda dengan syirkah yang selama ini banyak dilakukan oleh para pelaku bisnis yang berbasis liabilitas dan berbatas waktu.

Dalam kondisi memasyarakatnya korporatisasi, investment banking akan tumbuh

(8)

subur. Investment company tumbuh subur. Commercial banking makin berperan tetapi bergeser fungsinya sebagai sarana transaksi. Fee based income.

Korporatisasi adalah syirkah berbasis ekuitas tanpa batas waktu. Berbeda dengan syirkah yang selama ini banyak dilakukan oleh para pelaku bisnis yang berskema liabilitas dan berbatas waktu.

Jika korporatisasi telah menjadi arus utama bisnis sebagaimana yang terjadi di barat, Jepang atau Korea misalnya, biaya modal akan turun drastis. Per tahun hanya 2-3% saja. Bandingkan dengan bunga pinjaman bank (commercial banking) yang saat ini sekitar 10% bahkan lebih. Dunia bisnis pun akan tumbuh pesat. Akan banyak perusahan-perusahaan dari bangsa ini yang menguasai pasar dunia. Seperti Airbus, Boeing, Google. Toyota, Microsoft dan sebagainya. Kita bisa!

Allahuakbar! Merdeka!

Tidak Ada Bisnis 100% Aman

Posted on 31 Agustus 2023 | Tinggalkan komentar

(9)

“Ini koperku kondisi terkunci dan aku lupa nomor kuncinya. Tolong bereskan ya. Kamu kan calon insinyur mesin”. Begitu kurang lebih yang disampaikan Pak Rohim pada tahun 90-an saat saya menjadi mahasiswa Teknik Mesin ITS. Saya sanggupi tantangan beliau. Saya pun membawa koper itu ke rumah kontrakan.

Yang menarik, itu adalah kesempatan saya pertama memegang koper. Di kampung halaman saya tidak ada orang punya koper. Kalaupun bepergian yang digunakan untuk mengemasi barang bawaan bukan koper. Mereka memakai tas seadanya. Koper terlalu mewah bagi warga kampung halaman saya ketika itu.

Di rumah kontrakan saya pelajari kunci koper itu. ketika itu tidak ada internet.

Jadi saya hanya mempelajarinya berdasarkan ilmu mekanik dasar dari kampus plus naluri teknik yang memang saya punya sejak di kampung halaman. Misalnya saja saya pernah merancang sebuah alat untuk keperluan produksi makanan tradional brem Madiun. Alat itu pernah saya demonstrasikan di lomba dan mengantarkan saya menjadi pelajar teladan tingkat kabupaten Madiun.

Modal utamanya satu: yakin bisa. Saya mulai mencoba memutar satu demi satu roda angka pengunci koper. Saya dengarkan suaranya. Saya rasakan gerakannya. Terus saya pelajari dengan mencoba ini dan itu. Dan akhirnya, koper itu pun berhasil dibuka tanpa merusakkan kuncinya. Saya bisa menemukan nomor sandinya. Dengan hati berbunga-bunga saya kembalikan koper ke Pak Rohim, kini sudah almarhum, allahummarhamhu. Berbunga- bunga karena berhasil menyelesaikan tantangan bagi seorang calon insinyur mesin.

&&&

Itu adalah pengalaman pertama menemukan nomor sandi kunci yang terlupa.

Setelah itu tidak sekali dua kali saya dimintai tolong kasus serupa. Juga bukan hanya nomor sandi kunci koper. Tetapi juga kunci-kunci lain seperti kunci sepeda berbentuk rantai yang juga menggunakan pengaman sandi angka.

Dan, saya senang sekali karena sampai saat ini belum pernah gagal ketika dimintai tolong keluarga, kawan atau siapa pun yang lupa kunci bersandi angkanya. Termasuk kunci sepeda bapak ibu mertua beberapa hari lalu yang menginspirasi saya menulis artikel ini. Modal utamanya satu: keyakinan bahwa tidak ada alat pengaman yang sempurna. Selalu ada celah.

Tantangannya adalah bagaimana menemukan celah itu.

&&&

Ada dua pelajaran penting dari pengalaman saya menemukan nomor sandi kunci koper yang terlupa. Pelajaran pertama adalah tentang mitigasi risiko. Di dunia bisnis, keamanan terhadap risiko adalah faktor krusial. Setiap perusahaan menghadapi banyak risiko. Dan setiap risiko perlu dimitigasi.

Perlu diamankan. Dan setiap pengamanan selalu mengandung celah. Ketika sebuah celah telah ditemukan lalu diantisipasi dengan pengamanan yang lebih baik, maka akan muncul celah berikutnya. Tidak pernah ada pengamanan yang sempurna. Itulah mengapa perusahaan ternama sekelas Revlon misalnya pun masuk dalam putusan kepailitan oleh pengadilan.

Tidak ada kunci pemgaman yang bebas dari kelemahan

(10)

Tugas manajemen sebuah perusahaan adalah terus mengidentifikasi risiko dan kemudian memitigasi risiko itu dengan baik. Membuat pengamanan yang cukup. Menyiapkan diri jika sewaktu-waktu risiko itu terjadi. Contoh risiko yang belakangan ini sering menjadi isu penting adalah disrupsi. Sebuah perusahaan bisa dihabisi di pasar karena munculnya teknologi atau inovasi baru yang disruptif. Contohnya adalah munculnya teknologi e-mail yang menghabisi bisnis telegram dari Western Union . Dengan kesiapan yang bagus kini Western Union bertransformasi menjadi perusahaan remitansi terbesar dunia. Memanfaatkan jaringan telegram yang telah kokoh di lebih dari 200 negara. Jaringan inilah rahasia sukses Western Union menghadapi disrupsi.

Contoh lain adalah Fuji film yang menghadapi disrupsi karena munculnya teknologi fotografi digital. Fuji image plaza yang dulu menjamur kemudian semua lenyap. Tapi Fuji kini tetap jaya. Kini nilai pasarnya JPY 3.57 triliun alias Rp 372 triliun. Kuncinya adalah menggunakan core competence di bidang imaging untuk masuk ke bisnis fotografi medis.

Pelajaran kedua adalah tentang saat Anda terkunci dalam sebuah masalah yang luar biasa pelik. Jangan menyerah, kunci sepelik apapun pasti ada kelemahannya. Yakini. Hadapi dengan tenang. Pelajari segala sesuatunya sampai Anda menemukan “nomor sandi”nya. Persis seperti pengalaman saya dimintai bantuan kawan dan keluarga untuk membuka kunci yang lupa nomor sandinya. Selalu ada kelemahan di setiap kunci apapun.

Artikel ke-417 karya Iman Supriyono ini ditulis pada tanggal 31 Agustus 2023 di dalam kabin pesawat Boeing 737 ER dalam penerbangan Surabaya Jakarta,

(11)

Mengapa Crowdfunding Bermasalah?

Posted on 22 Agustus 2023 | 1 Komentar

Kredit Macet 70%, TaniHub Dulu Disebut Jokowi Kini Menyerah. Ini adalah judul berita di cnbcindonesia.com yang diunggah pada tanggal 9 Juni 2023. Menarik. Sebuah perusahaan start up yang digadang-gadang bisa berkembang menjadi korporasi besar ternyata bermasalah. Dan masalahnya cukup akut. Bahkan penyelenggara crowdfunding berskema utang-piutang ini sampai digugat pailit.

Crowdfunding Santara Kena Sanksi OJK, Mardigu: Kami akan Delisting Banyak Penerbit. Yang ini adalah judul berita bisnis.com yang diunggah pada tanggal 9 Januari 2023. Ini juga menarik.

Santara yang juga digadang-gadang menjadi solusi pendanaan pelaku bisnis ternyata juga menyimpan masalah. Baru saja saya coba akses web resmi perusahaan equity crowdfunding ini.

Tampaknya sudah lama tidak ada update.

Mengapa crowdfunding bermasalah? Saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin Setidaknya ada empat penjelasan mengapa crowdfunding bermasalah.

Yang pertama adalah bahwa perusahaan yang didanai ukurannya masih terlalu kecil.

Perusahaan yang ukurannya masih terlalu kecil ini cenderung tidak stabil. Dalam kerangka corporate life cycle masih belum sampai pada tahap menemukan revenue and profit driver (RPD ) . Perusahaan seperti ini belum memiliki kemampuan yang aman untuk digelontor modal. Baik modal dengan skema utang maupun skema ekuitas. Belum layak scale up . Jika dipaksakan, scale up pada perusahaan seperti ini adalah langkah memfotokopi kegagalan.

Kedua, sebuah perusahaan dengan market value kecil masuk lantai bursa itu ibarat perahu sampan berlayar di samudera Atlantik yang ombaknya setinggi 1o meter. Bahaya. Tanihub maupun Santara bisa disebut lantai bursa mini. Sedangkan yang di BEI saja sebagai lantai bursa bukan mini banyak masalah. Apalagi yang mini. Baca tulisan saya tentang bahaya IPO UKM . Perusahaan baru aman masuk lantai bursa jika market valuenya minimal sekitar Rp 10 triliun. Baca juga tulisan saya tentang perampok budiman

Penjelasan ketiga adalah tentang risiko. Narasinya, misalkan Anda memiliki uang Rp 100 juta dan Anda investasikan melalui deposito bank umum, katakan bank BRI. Oleh BRI uang Anda dijadikan satu kesatuan dengan aset seluruh deposan dan penabung lain bersama dengan ekuitas bank sehingga total menjadi Rp 1600 triliun lebih. Setelah menjadi satu kesatuan, uang itu kemudian dipinjamkan kepada lebih dari 30 juta debitur bank pelat merah itu. Di antara dana pada puluhan ribu debitur itu ada 2% lebih yang bermasalah. Tapi uang Anda tetap aman karena setiap kredit bermasalah sudah disiapkan cadangan dananya di awal sebagai PPAP (pencadangan penghapusan aktiva produktif). Dengan kata lain, setiap kreditur bermasalah sudah ditanggulangi

(12)

di depan secara statistik dengan margin of error yang rendah sebagaimana dalam konsep RPD.

Maka, uang Rp 100 juta Anda dijamin aman. Ini yang tidak terjadi pada platform crowdfunding.

Uang para investor langsung dimasukkan pada sebuah perusahaan. Tidak ada penyatuan dana seluruh investor seperti di bank. Tidak ada penyebaran dana kepada puluhan ribu perusahaan seperti BRI. Tidak ada pencadangan seperti PPAP. Risikonya sangat-sangat tinggi. Jadi gagal bayar pada Tanihub itu sudah merupakan sesuatu yang logis. Sesuatu yang sunnatullah dalam terminologi bahasa arab.

Keempat, dengan risiko tinggi, maka secara alami para investor akan minta ROI (return on ivesment) yang super tinggi. Bayak investor yang minta 3 tahun balik modal alias ROI 33%. Tinggi sekali. ROI bagi investor adalah cost of capital bagi perusahaan yang menerimanya. Cost of capital sebuah korporasi sejati hanya 2-3% (per tahun). Perusahaan mau menerima dana dengan cost of capital tinggi kemungkinan besar karena tidak ada alternatif yang lain. Ini membentuk sebuah lingkaran setan yang membahayakan perusahaan. Seperti orang haus yang minum air laut.

Itulah empat masalah besar crowdfunding. Lalu, tidak adakah solusi? Jangan kuatir. Selalu ada solusi untuk setiap masalah apapun. Pelajari ilmunya dengan baik. Pendanaan itu adalah langkah keenam dalam siklus hidup perusahaan. Perusahaan itu seperti mahluk hidup yang juga memiliki siklus hidup. Jangan tiba-tiba mengambil langkah keenam. Ikuti tahap tahapnya dari langkah pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima. Setelah itu baru pendanaan sebagai langkah keenam. Pelajari baik-baik tahapan-tahapannya. Itulah yang akan menjamin keunggulan perusahaan dari generasi ke generasi. Menjadi sebuah korporasi sejati. Itulah yang akan menjamin keamanan dana investor. Bisa!

Artikel ke-415 karya Iman Supriyono ini ditulis di atas gerbong kereta api Blambangan Ekspres dalam perjalanan dari Semarang ke Surabaya pada tanggal 22 Agustus 2022

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini diperoleh simpulan bahwa lingkungan bisnis memiliki pengaruh yang kuat terhadap organisasi perusahaan, terlebih kondisi saat dunia bisnis sudah

Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi Perusahaan Konsultan Bisnis & Manajemen “Safir Senduk & Rekan” akan pentingnya

Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh sistem pengendalian manajemen terhadap kinerja perusahaan : strategi bisnis dan inovasi sebagai variabel intervening..

Semakin pentingnya promosi dalam dunia bisnis ini, sehingga salah satu kekuatan perusahaan terletak pada seberapa menariknya promosi tersebut sehingga konsumen merasa tertarik yang

Dokumen ini merupakan tugas mata kuliah Pengantar Hukum Bisnis yang membahas tentang perusahaan go public, pasar modal, anti monopoli dan persaingan curang, serta penanaman modal