• Tidak ada hasil yang ditemukan

KTI NOVIA KARTIKA SARI.pdf - Repository Poltekkes Kaltim

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KTI NOVIA KARTIKA SARI.pdf - Repository Poltekkes Kaltim"

Copied!
159
0
0

Teks penuh

(1)

DI RUMAH SAKIT

OLEH :

NOVIA KARTIKA SARI NIM. PO7220117063

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN PRODI D-III KEPERAWATAN

SAMARINDA

2020

(2)

i

DI RUMAH SAKIT

Untuk memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan (Amd.Kep) Pada Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur

OLEH :

NOVIA KARTIKA SARI NIM. PO7220117063

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN PRODI D-III KEPERAWATAN

SAMARINDA

2020

(3)

ii

dan bukan merupakan jiplakan atau tiruan dari KTI orang lain untuk memperoleh gelar dari berbagai jenjang pendidikan di perguruan tinggi manapun, baik sebagian maupun keseluruhan. Jika terbukti bersalah, saya bersedia menerima sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

Balikpapan, 9 Mei 2020 Yang menyatakan

Novia Kartika Sari P07220117063

(4)
(5)
(6)

v A. Identitas Pribadi :

1. Nama Lengkap : Novia Kartika Sari

2. Tempat Tanggal Lahir : Balikpapan, 09 November 1998 3. Jenis Kelamin : Perempuan

4. Agama : Islam

5. Alamat : Jalan Mayjend Sutoyo RT.31 No.38-B 6. Email : [email protected]

B. Identitas Orang Tua :

1. Nama Ayah/Ibu : Suharno/Milah

2. Pekerjaan Ayah/Ibu : Wiraswasta/Ibu Rumah Tangga 3. Alamat : Jalan Mayjend Sutoyo RT.31 No.38-B C. Riwayat Pendidikan :

1. Tahun 2003-2005 : TK 10 Nopember

2. Tahun 2005-2011 : SD Negeri 007 Balikpapan Kota 3. Tahun 2011-2014 : SMP Negeri 2 Balikpapan 4. Tahun 2014-2017 : SMA Negeri 1 Balikpapan

5. Tahun 2017-2020 : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kalimantan Timur Prodi D-III Keperawatan Kelas Balikpapan

(7)

vi

H alaman P ersembahan

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT. karena telah melimpahkan berkah, rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas akhir kuliah saya yaitu Karya Tulis Ilmiah ini. Tidak lupa juga Shalawat dan salam saya limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Saya persembahkan karya sederhana ini untuk orang yang saya cintai dan sayangi….

Teruntuk Kedua Orang Tuaku, Mama dan Bapak terimakasih sudah berusaha dan bekerja keras untuk biayain Ifah kuliah selama tiga tahun ini, selalu memberikan Ifah semangat dan dukungan, selalu sabar menghadapi Ifah, selalu support Ifah kalo Ifah udah mulai capek ngerjain tugas kuliah Maaf kalau Ifah selama kuliah ini kadang masih suka main-main trus dapet nilai jelek. Terimakasih juga atas kasih dan sayangnya serta limpahan doa untuk Ifah, doain Ifah semoga bisa selalu membahagiakan mama sama bapak. Maaf kalo selama ini Ifah masih kayak anak kecil suka buat marah

Teruntuk Keluargaku, mba dyah dan mba yanti terimakasih sudah selalu semangatin aku dan doain aku dalam menyelesaikan tugas kuliahku ini, terimakasih juga atas semangatnya dalam menyusun rencana untuk datang ke wisudaku nanti walaupun gagal gara2 corona wkwk, terimakasih juga buat imay atas wifi rumahnya dan pinjaman hpnya untuk dipakai konsul video call pakai jitsi meet karena hpku gabisa buat download aplikasi itu wkwk. Teruntuk Nofan Satria terimakasih ya sayang sudah selalu doain aku, selalu kasih semangat untuk selesaikan tugas kuliahku walaupun aku selalu bilang capek capek dan capek, dan selalu dengerin keluh kesahku

(8)

vii

meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membantu membimbing saya dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

Teruntuk Dosen Keperawatan, Terimakasih telah membimbing saya dengan sabar dalam 3 tahun ini serta ilmu dan pengalaman berharga yang akan selalu berguna dikemudian hari.

Teruntuk Bubuhanku, Kapitalis Bersahaja (bella, bogel, ka ica, riska, ratu, selpi, tiara) terimakasih ya guyss udah buat hari-hariku berwarna, udah bikin rame kelas dan grup wa dengan bahas-bahas yang aneh2 mulai dari tugas, gossip, masalah percintaan sampai masalah perselingkuhan wkwk. Terimakasih atas kelakuan kalian yang selalu ada ada aja, Semoga persahabatan kita selalu terjalin sampai kita saling ngasih surat undangan nikah, punya anak dan punya cucu Amin...

Teruntuk Squad Anak Cantik, Tim Anak akhirnya kita udah pecah telor ya guys yippiiiee wkwk. Terimakasih atas pinjaman rumahnya buat ngumpul, makasih banget buat printernya Ani, Najah dan Bella. Makasih selalu kasih semangat antar satu sama lain, makasih udah bote di grup katanya belum selesai tapi pas konsul rata-rata udah sampe pembahasan evaluasi..itu yang membuat aku panas dan termotivasi buat cepat selesain KTI ini wkwk, makasih juga atas kepanikan kalian di grup soalnya aku suka kalo kalian panik wkwk, pokoknya kalian luar biasaaa...

Teruntuk Angkatan 6 Keperawatan Balikpapan, Terimakasih sudah menjadi bagian dari keluargaku, terimakasih atas kerjasama, canda dan tawa selama 3 tahun kuliah ini, yang sabar ya guys gara2 corona ini kita gaada wisuda huhu lulus jalur corona dan harus ukom dulu. Semoga Angkatan 6 sukses dan lulus ukom 100% Amiinn....

(9)

viii

berkat dan kasih karunia-Nya yang telah diberikan kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah (KTI) dalam rangka memenuhi persyaratan ujian akhir program Diploma III Keperawatan Politeknik Kesehatan Jurusan Keperawatan Kelas Balikpapan dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Klien Anak Dengan Bronkopneumonia Yang Dirawat Di Rumah Sakit”.

Dalam penyusunan KTI peneliti banyak mengalami kesulitan dan hambatan akan tetapi semuanya bisa dilalui berkat bantuan dari berbagai pihak. Dalam penyusunan KTI ini peneliti telah mendapakan bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak baik materil maupun moril. Oleh karena itu, pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:

1. H. Supriadi B., S.Kp., M.Kep selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Kaltim.

2. Hj. Umi Kalsum, S.Pd., M.Kes selaku Ketua Jurusan Politeknik Kesehatan Kemenkes Kaltim.

3. Ns. Andi Lis Arming Gandini, M.Kep selaku Ketua Prodi D-III Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Kaltim.

4. Ns. Grace Carol Sipasulta, M.Kep., Sp.Kep.Mat selaku Penanggung Jawab Prodi D-III Keperawatan Kelas Balikpapan Politeknik Kesehatan Kemenkes Kaltim.

5. Rus Andraini, A.Kp., MPH selaku Pembimbing I dalam penyelesaian KTI.

(10)

ix menyelesaikan Program dan KTI ini.

KTI ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu masukan, saran, serta kritik sangat diharapkan guna kesempurnaan KTI ini. Akhirnya hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita kembalikan semua urusan dan semoga dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi banyak pihak dan bernilai ibadah dihadapan Allah.

Balikpapan, 7 Mei 2020

Peneliti

(11)

x

Bronkopneumonia merupakan penyakit ISPA bagian bawah dari parenkim paru yang melibatkan bronkus atau bronkiolus yang berbentuk bercak-bercak (patchy distribution) yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda asing.

Menurut South East Asian Medical Information Centre (SEAMIC) bronkopneumonia merupakan penyebab kematian nomor 6 di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara rinci dan mendalami Asuhan Keperawatan pada klien anak dengan bronkopneumonia.

Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dalam bentuk review kasus untuk mengeksplorasi masalah asuhan keperawatan yang dilakukan pada dua klien anak dengan bronkopneumonia. Lokasi penelitian pada klien 1 dilakukan di RS Samarinda Medika Citra pada tanggal 12 April-15 April 2019 dan klien 2 dilakukan di ruang alamanda RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung pada tanggal 25 Oktober-27 Oktober 2017. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Hasil penelitian pada pengkajian klien 1 dan 2 ditemukan keluhan yang sama yaitu batuk berdahak, sesak dan demam. Pada kedua klien didapatkan diagnosa yang sama yaitu bersihan jalan nafas tidak efektif dan hipertermia.

Perbedaan diagnosa pada klien 1 yaitu risiko defisit nutrisi, risiko jatuh dan risiko infeksi sedangkan pada klien 2 yaitu ansietas. Evaluasi pada kedua klien yaitu semua masalah teratasi.

Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu kedua klien batuk berdahak, sesak dan demam, diagnosa keperawatan yang sama yaitu bersihan jalan nafas tidak efektif dan hipertermia. Hasil penelitian ini disarankan dapat meningkatkan mutu pelayanan dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien anak dengan bronkopneumonia secara spesifik dan komprehensif.

Kata Kunci : Bronkopneumonia, Asuhan, Keperawatan, Anak

(12)

xi Halaman Sampul Depan

Halaman Sampul Dalam dan Prasyarat ... i

Halaman Pernyataan... ii

Halaman Persetujuan ... iii

Halaman Pengesahan ... iv

Daftar Riwayat Hidup ... v

Halaman Persembahan ... vi

Kata Pengantar ... viii

Abstrak ... x

Daftar Isi... xi

Daftar Gambar ... xv

Daftar Bagan ... xvi

Daftar Tabel ... xvii

Daftar Lampiran ... xviii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 5

(13)

xii

2. Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan ... 6

3. Klasifikasi ... 12

4. Etiologi ... 12

5. Patofisiologi ... 13

6. Pathway Bronkopneumonia ... 16

7. Tanda dan Gejala ... 17

8. Pemeriksaan Penunjang……… . 17

9. Komplikasi ... 18

10. Penatalaksanaan ... 18

B. Asuhan Keperawatan Bronkopneumonia ... 20

1. Pengkajian Keperawatan ... 20

2. Diagnosa Keperawatan ... 22

3. Intervensi Keperawatan ... 27

4. Implementasi Keperawatan ... 36

5. Evaluasi Keperawatan ... 36

C. Konsep Keperawatan Anak……… 37

1. Pertumbuhan dan Perkembangan ... 37

2. Batasan Usia Anak ... 40

3. Falsafah Keperawatan Anak ... 41

4. Prinsip Keperawatan Anak……….. .. 44

(14)

xiii

A. Pendekatan/Desain Penelitian ... 56

B. Subyek Penelitian ... 56

C. Definisi Operasional ... 56

D. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 57

E. Prosedur Penelitian ... 57

F. Metode dan Instrument Pengmpulan Data ... 58

G. Keabsahan Data ... 58

H. Analisa Data ... 59

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 60

1. Gambaran Lokasi Penelitian ... 60

2. Hasil Asuhan Keperawatan ... 61

a. Pengkajian ... 61

1) Anamnesis ... 61

2) Pemeriksaan Fisik ... 67

3) Pemeriksaan Penunjang ... 72

b. Diagnosa Keperawatan... 73

c. Intervensi Keperawatan ... 77

d. Implementasi Keperawatan ... 83

e. Evaluasi Keperawatan ... 90

(15)

xiv

3. Intervensi Keperawatan ... 117 4. Implementasi Keperawatan ... 120 5. Evaluasi Keperawatan ... 123 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 125 B. Saran ... 126 DAFTAR PUSTAKA ... 128 LAMPIRAN – LAMPIRAN

(16)

xv

Gambar 2.1 Anatomi Sistem Pernapasan ... 7

(17)

xvi

Bagan 2.1 Pathway Bronkopneumonia ... 16

(18)

xvii

Tabel 4.1 Hasil Anamnesis Klien Anak dengan Bronkopneumonia ... 61

Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Fisik Klien Anak dengan Bronkopneumonia ... 67

Tabel 4.3 Skala Risiko Jatuh Humpty Dumpty ... 70

Tabel 4.4 Pemeriksaan Penunjang Klien Anak dengan Bronkopneumonia ... 72

Tabel 4.5 Diagnosa Keperawatan Klien Anak dengan Bronkopneumonia... 73

Tabel 4.6 Intervensi Keperawatan Klien Anak dengan Bronkopneumonia ... 77

Tabel 4.7 Implementasi Keperawatan Klien Anak dengan Bronkopneumonia .. 83

Tabel 4.8 Evaluasi Keperawatan Klien Anak dengan Bronkopneumonia ... 90

(19)

xviii

oleh Yoanita Chairunisa di RS Samarinda Medika Citra

Lampiran 2 Literatur Asuhan Keperawatan Anak dengan Bronkopneumonia oleh Niken Ariska di RSUD Dr. H. Abdoel Moeloek Bandar Lampung

Lampiran 3 Lembar Konsultasi Lampiran 4 Dokumentas

(20)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Anak merupakan generasi penerus bangsa. Agar tercapainya masa depan bangsa yang baik harus dipastikan tumbuh kembang dan kesehatan anak juga baik. Anak berada dalam suatu rentang pertumbuhan dan perkembangan, dimana pertumbuhan dan perkembangan akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak di masa yang akan datang.

Kesehatan seorang anak dimulai dari pola hidup yang sehat. Pola hidup sehat dapat diterapkan dari yang terkecil mulai dari menjaga kebersihan diri, lingkungan hingga pola makan yang sehat dan teratur (Praditya, 2016).

Menjaga kesehatan sangatlah penting untuk sistem imun karena dapat mencegah dan melawan zat asing yang membahayakan tubuh. Sistem imun yang melemah akan menyebabkan bakteri atau virus sangat mudah untuk menginfeksi tubuh sehingga dapat menimbulkan penyakit (Noya, 2019).

Penyakit infeksi yang sering diderita oleh anak yaitu diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), cacingan, demam berdarah dan penyakit lain (misalnya penyakit akibat gizi, penyakit bawaan, penyakit kulit, hingga kanker pada anak) (Salbiah, 2018).

Bronkopneumonia (pneumonia lobularis) merupakan penyakit ISPA bagian bawah dari parenkim paru yang melibatkan bronkus atau bronkiolus yang berbentuk bercak-bercak (patchy distribution) yang disebabkan oleh

(21)

bakteri, virus, jamur dan benda asing (Samuel, 2015). Faktor resiko yang dapat menyebabkan bronkopneumonia yaitu berat badan lahir rendah (BBLR), tidak mendapat imunisasi, tidak mendapat ASI yang adekuat, malnutrisi, defisiensi vitamin A, tingginya prevalens kolonisasi bakteri patogen di nasofaring, dan tingginya pajanan terhadap polusi udara baik polusi industri atau asap rokok (Roro & Noviana, 2018).

Menurut laporan World Health Organization (WHO), sekitar 800.000 hingga 2 juta anak meninggal dunia tiap tahun akibat bronkopneumonia.

Bahkan United Nations Children’s Fund (UNICEF) dan WHO menyebutkan bronkopneumonia sebagai kematian tertinggi anak balita, melebihi penyakit- penyakit lain seperti campak, malaria serta Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Pada tahun 2017 bronkopneumonia setidaknya membunuh 808.694 anak di bawah usia 5 tahun (WHO, 2019). Insiden bronkopneumonia di negara berkembang yaitu 30-45% per 1000 anak dibawah usia 5 tahun, 16- 22% per 1000 anak pada usia 5-9 tahun, dan 7-16% per 1000 anak pada anak yang lebih tua (Anggraini & Rahmanoe, 2015). Menurut South East Asian Medical Information Centre (SEAMIC) influenza dan bronkopneumonia merupakan penyebab kematian nomor 6 di Indonesia (Fadhila, 2015).

Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2018, lima provinsi yang mempunyai insiden bronkopneumonia balita tertinggi adalah DKI Jakarta (95,53%), Sulawesi Tengah (71,82%), Kalimantan Utara (70,91%), Banten (67,60%) dan Nusa Tenggara Barat (63,64%) (Kemenkes RI, 2018).

(22)

Kasus bronkopneumonia pada balita di provinsi Lampung pada tahun 2018 yaitu 2.373 kasus (<1 tahun), 5.698 kasus (1-4 tahun), 505 kasus bronkopneumonia berat dengan 254 kasus (<1 tahun) dan 251 kasus (1-4 tahun), jumlah keseluruhannya yaitu 8.576 kasus dengan persentase 46,65%

sedangkan untuk provinsi Kalimantan Timur yaitu 1.874 kasus (<1 tahun), 3.853 kasus (1-4 tahun), 133 kasus untuk bronkopneumonia berat dengan 53 kasus (<1 tahun) dan 80 kasus (1-4 tahun), jumlah keseluruhan yaitu 5.860 kasus dengan persentase 29,02% (Kemenkes RI, 2018).

Masalah keperawatan yang lazim muncul pada anak dengan bronkopneumonia adalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum; gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus kapiler, gangguan kapasitas pembawa oksigen darah, gangguan pengiriman oksigen; ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi, anoreksia yang berhubungan dengan toksin bakteri bau dan rasa sputum, distensi abdomen atau gas; intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi O2 untuk aktifitas sehari-hari; resiko ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan perubahan kadar elektrolit dalam serum (diare) (Nurarif

& Kusuma, 2015).

Pada masalah keperawatan diatas, penatalaksanaan yang dapat dilakukan oleh perawat pada pasien bronkopneumonia yaitu terapi suportif berupa pemberian O2 1 L/menit. Oksigen diberikan untuk mengatasi

(23)

hipoksemia, menurunkan usaha untuk bernapas, dan mengurangi kerja miokardium. Pemberian cairan N4D5 untuk kebutuhan cairan, antipiretik untuk mengatasi demam dan antibiotik untuk mikroorganisme penyebab penyakit (Pusponegoro et al., 2004).

Berdasarkan uraian diatas, peneliti merasa tertarik untuk melakukan studi kasus penelitian dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Klien Anak Dengan Bronkopneumonia Yang Dirawat Di Rumah Sakit”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah asuhan keperawatan pada klien anak dengan bronkopneumonia?”

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kasus bronkopneumonia pada klien anak secara rinci dan mendalam yang ditekankan pada aspek Asuhan Keperawatan dengan menggunakan metode proses keperawatan.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi hasil pengkajian pada klien anak dengan bronkopneumonia.

(24)

b. Mengidentifikasi diagnosis keperawatan pada klien anak dengan bronkopneumonia.

c. Mengidentifikasi perencanaan keperawatan pada klien anak dengan bronkopneumonia.

d. Mengidentifikasi intervensi keperawatan pada klien anak dengan bronkopneumonia.

e. Mengidentifikasi hasil evaluasi pada klien anak dengan bronkopneumonia.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah : 1. Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan tentang asuhan keperawatan pada klien anak dengan bronkopneumonia.

2. Tempat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan khususnya untuk perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien anak dengan bronkopneumonia.

3. Perkembangan Ilmu Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambahkan keluasan ilmu dan teknologi dalam bidang keperawatan saat melakukan asuhan keperawatan pada klien anak dengan bronkopneumonia.

(25)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Bronkopneumonia 1. Pengertian

Bronkopneumonia (pneumonia lobularis) merupakan salah satu bagian penyakit dari pneumonia, yaitu infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah dari parenkim paru yang melibatkan bronkus atau bronkiolus yang berbentuk bercak-bercak (patchy distribution) yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda asing yang ditandai dengan gejala demam tinggi, gelisah, dispnea, nafas cepat dan dangkal (terdengar adanya ronchi basah), muntah, diare, batuk kering dan produktif (Samuel, 2015).

Bronkopneumonia adalah peradangan parenkim paru yang di sebabkan oleh bakteri, virus, jamur, ataupun benda asing yang di tandai dengan gejala panas tinggi, gelisah, dipsnea, napas cepat dan dangkal, muntah, diare serta batuk kering dan produktif (Hidayat, 2013).

2. Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan

Organ yang berperan penting dalam proses respirasi adalah paru- paru/pulmo. System respirasi terdiri dari hidung/nasal, faring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus dan alveolus. Respirasi adalah pertukaran antara oksigen dan karbondioksida dalam paru-paru, tepatnya dalam alveolus (Utama, 2018).

(26)

Gambar 2.1

Anatomi Sistem Pernapasan Sumber: (Torwoto & Ayani, 2009) a. Rongga Hidung (Cavum Nasalis)

Udara dari luar akan masuk lewat rongga hidung (cavum nasalis).

Rongga hidung berlapis selaput lendir, di dalamnya terdapat kelenjar minyak (kelenjar sebasea) dan kelenjar keringat (kelenjar sudorifera).

Selaput lendir berfungsi menangkap benda asing yang masuk lewat saluran pernapasan. Selain itu, terdapat juga rambut pendek dan tebal yang berfungsi menyaring partikel kotoran yang masuk bersama udara.

Juga terdapat konka yang mempunyai banyak kapiler darah yang berfungsi menghangatkan udara yang masuk. Disebelah belakang rongga hidung terhubung dengan nasofaring melalui dua lubang yang disebut choanae. Pada permukaan rongga hidung terdapat rambut-rambut halus dan selaput lendir yang berfungsi untuk menyaring udara yang masuk ke dalam rongga hidung.

(27)

b. Faring

Udara dari rongga hidung masuk ke faring. Faring merupakan percabangan 2 saluran, yaitu saluran pernapasan (nasofarings) pada bagian depan dan saluran pencernaan (orofarings) pada bagian belakang.

Pada bagian belakang faring (posterior) terdapat laring (tekak) tempat terletaknya pita suara (pita vocalis). Masuknya udara melalui faring akan menyebabkan pita suara bergetar dan terdengar sebagai suara.

Fungsi utama faring adalah menyediakan saluran bagi udara yang keluar masuk dan juga sebagi jalan makanan dan minuman yang ditelan, faring juga menyediakan ruang dengung (resonansi) untuk suara percakapan.

c. Laring

Laring adalah saluran pernapasan yang membawa udara menuju ke trakea. Fungsi utama laring adalah untuk melindungi saluran pernapasan dibawahnya dengan cara menutup secara cepat pada stimulasi mekanik, sehingga mencegah masuknya benda asing ke dalam saluran napas. Laring mengandung pita suara (vocal cord).

Laring terdiri dari 1 tulang dan 3 tulang rawan (cartilago) yaitu Os. Hyoid, Cartilago Epiglotis, Cartilago Tiroid, dan Cartilago Cricoid.

d. Trakea

Trakea atau batang tenggorok merupakan lanjutan dari laring.

Trakea berfungsi sebagai tempat perlintasan udara setelah melewati

(28)

saluran pernapasan bagian atas, yang membawa udara bersih, hangat, dan lembab. Pada trakea terdapat sel-sel bersilia yang berguna untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan.

e. Bronkus dan Bronkiolus

Bronkus atau cabang tenggorok merupakan lanjutan dari trakea.

Terdapat dua bronkus, yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar daripada bronkus kiri, terdiri dari 6- 8 cincin dan mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang kanan, terdiri dari 9-12 cincin dan mempunyai 2 cabang.

Bronkus bercabang-cabang, cabang yang lebih kecil disebut bronkiolus (bronkioli). Udara yang masuk ke bronkus, akan diteruskan ke bronkiolus, untuk bisa menuju ke alveolus. Alveolus adalah kantung udara yang menjadi tempat pengolahan udara. Di organ ini, udara kotor atau karbondioksida sisa proses pernapasan, akan ditukar dengan oksigen bersih yang baru dihirup.

f. Paru-paru (Pulmo)

Paru-paru terletak di dalam rongga dada (mediasternum), dilindungi oleh struktur tulang selangka.

Paru-paru dibungkus oleh selaput yang bernama pleura. Pleura dibagi menjadi dua, yaitu:

(29)

1) Pleura visceral (selaput dada pembungkus), yaitu selaput paru yang langsung membungkus paru.

2) Pleura parietal, yaitu selaput yang melapisi rongga dada luar.

Antara kedua pleura ini terdapat rongga (kavum) yang disebut kavum pleura. Pada keadaan normal, kavum pleura ini hampa udara, sehingga paru-paru dapat berkembang kempis dan juga terdapat sedikit cairan (eksudat) yang berguna untuk meminyaki permukaan pleura, menghindari gesekan antara paru-paru dan dinding dada sewaktu ada gerakan bernapas.

Paru-paru berfungsi sebagai pertukaran oksigen dan karbon dioksida di dalam darah. Setelah membebaskan oksigen, sel-sel darah merah menangkap karbondioksida sebagai hasil metabolisme tubuh yang akan dibawa ke paru-paru. Di paru-paru karbondioksida dan uap air dilepaskan dan dikeluarkan dari paru-paru melalui hidung.

Mekanisme pernapasan dibedakan atas dua macam, yaitu : a. Pernapasan dada

Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antar tulang rusuk. Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut:

1) Fase Inspirasi

Fase ini berupa berkontaksinya otot antar tulang rusuk sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya akan oksigen masuk.

(30)

2) Fase Ekspirasi

Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot antar tulang rusuk ke posisi semula yang diikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbondioksida keluar.

b. Pernapasan Perut

Pernapasan perut merupakan pernapasan yang mekanismenya melibatkan aktifitas otot-otot diafragma yang membatasi rongga perut dan rongga dada.

Mekanisme pernapasan perut dapat dibedakan menjadi dua tahap, yaitu sebagai berikut:

1) Fase Inspirasi

Pada fase ini otot diafragma berkontraksi sehingga diafragma mendatar, akibatnya rongga dada membesar dan tekanan menjadi kecil sehingga udara luar masuk.

2) Fase Ekspirasi

Fase ekspirasi merupakan fase berelaksasinya otot diafragma (kembali ke posisi semula, mengembang) sehingga rongga dada mengecil dan tekanan menjadi lebih besar, akibatnya udara keluar dari paru-paru.

(31)

3. Klasifikasi

Berikut ini klasifikasi dari bronkopneumonia (Rahajoe & Nastini, 2010) :

a. Bronkopneumonia sangat berat : bila terjadi sianosis sentral dan anak tidak sanggup minum, maka anak harus dirawat di rumah sakit dan diberi antibiotik.

b. Bronkopneumonia berat : bila dijumpai retraksi tanpa sianosis dan masih sanggup minum, maka anak harus dirawat di rumah sakit dan diberi antibiotik.

c. Bronkopneumonia : bila tidak ada retraksi tetapi dijumpai pernafasan yang cepat yakni >60 x/menit pada anak usia kurang dari dua bulan; >50 x/menit pada anak usia 2 bulan-1 tahun; >40 x/menit pada anak usia 1-5 tahun.

d. Bukan bronkopneumonia : hanya batuk tanpa adanya gejala dan tanda seperti di atas, tidak perlu dirawat dan tidak perlu diberi antibiotik.

4. Etiologi

Secara umum bronkopneumonia diakibatkan penurunan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virulensi organisme patogen. Orang normal dan sehat mempunyai mekanisme pertahanan tubuh terhadap organ pernafasan yang terdiri atas: reflek glottis dan batuk, adanya lapisan mukus, gerakan silia yang menggerakkan kuman keluar dari organ, dan sekresi humoral setempat (Nurarif & Kusuma, 2015).

(32)

Timbulnya bronkopneumonia disebabkan oleh bakteri virus dan jamur, antara lain (Nurarif & Kusuma, 2015) :

a. Bakteri : Streptokokus, Stafilokokus, Haemopilus influenza, dan Klebsiela.

b. Virus : Legionella Pneumoniae.

c. Jamur/fungi : Aspergillus Spesies, Candida Albicans.

d. Aspirasi makanan, sekresi orofaringeal atau isi lambung ke dalam paru- paru.

e. Terjadi kongesti paru yang lama.

5. Patofisiologi

Sebagian besar penyebab dari bronkopneumonia ialah mikroorganisme (jamur, bakteri, virus) awalnya mikroorganisme masuk melalui percikan ludah (droplet) invasi ini dapat masuk kesaluran pernafasan atas dan menimbulkan reaksi imonologis dari tubuh. Reaksi ini menyebabkan peradangan, dimana ketika terjadi peradangan ini tubuh menyesuaikan diri maka timbulah gejala demam pada penderita.

Reaksi peradangan ini dapat menimbulkan sekret, semakin lama sekret semakin menumpuk di bronkus maka aliran bronkus menjadi semakin sempit dan pasien dapat merasa sesak. Tidak hanya terkumpul dibronkus lama-kelamaan sekret dapat sampai ke alveolus paru dan mengganggu sistem pertukaran gas di paru.

Tidak hanya menginfeksi saluran nafas, bakteri ini juga dapat menginfeksi saluran cerna ketika ia terbawa oleh darah. Bakteri ini dapat

(33)

membuat flora normal dalam usus menjadi agen patogen sehingga timbul masalah gastrointestinal.

Bila pertahanan tubuh tidak kuat maka mikroorganisme dapat melalui jalan nafas sampai ke alveoli yang menyebabkan radang pada dinding alveoli dan jaringan sekitarnya. Setelah itu mikroorganisme tiba di alveoli membentuk suatu proses peradangan yang meliputi empat stadium, yaitu (Wijayaningsih, 2013) :

a. Stadium (4-12 jam pertama/ kongesti)

Disebut hyperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini di tandai dengan peningkatan aliran darah dan permeabilitas mediator-mediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan. Mediator-mediator tersebut mencangkup histamine dan prostaglandin. Degranulasi sel mast juga mengaktifkan jalur komplemen.

Komplemen bekerja sama dengan histamine dan prostaglandin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan peningkatan permeabilitas kapiler paru. Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang interstisium sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus. Penimbunan cairan diantara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh oleh oksigen dan karbondioksida, sehingga mempengaruhi perpindahan gas dalam darah dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin.

(34)

b. Stadium II (48 jam berikutnya)

Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu (host) sebagai bagian dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya penumpukan leukosit, eritrosit, dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar, pada stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan bertambah sesak, stadium ini berlangsung sangat singkat yaitu selama 48 jam.

c. Stadium III (3-8 hari)

Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi daerah paru yang terinfekasi. Pada saat ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai diresorasi, lobus masih tetap padat karena berisi kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti.

d. Stadium IV (7-11 hari)

Disebut juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan peradangan mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali ke strukturnya semula.

(35)

6. Pathway Bronkopneumonia

Bagan 2.1

Pathway Bronkopneumonia Sumber: (Anggraeni, 2019; PPNI, 2017)

Anoreksia

Intake kurang

Diare

Resiko Ketidakseimbangan

Elektrolit (D.0037) Defisit Nutrisi

(D.0019) Akumulasi sekret di

bronkus

Peningkatan flora normal di usus

Eksudat masuk ke alveoli

Peningkatan peristaltik usus Mukus di bronkus

Bersihan Jalan Nafas Tidak

Efektif (D.0001)

Gangguan difusi gas Proses peradangan

Infeksi saluran pencernaan

Dilatasi pembuluh darah

Peradangan Virus, bakteri, jamur, dan benda asing

Invasi saluran pernapasan

Kuman berlebih di bronkus

Kuman terbawa ke saluran cerna

Infeksi saluran nafas bawah

Peningkatan suhu tubuh

Hipertermia (D.0130)

Bau mulut tidak

sedap Malabsorpsi Gangguan

Pertukaran Gas (D.0003)

Suplai O2

menurun

Hipoksia

Fatique

Intoleransi Aktivitas

(D.0056)

(36)

7. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala bronkopneumonia adalah sebagai berikut (Wijayaningsih, 2013) :

a. Biasanya didahului infeksi traktus respratori atas.

b. Demam (39oC-40oC) kadang-kadang disertai kejang karena demam tinggi

c. Anak sangat gelisah, yang dicetuskan oleh pernapasan dan batuk.

d. Pernapasan cepat dan dangkal disertai penapasan cuping hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut.

e. Kadang- kadang disertai muntah dan diare.

f. Adanya bunyi tambahan pernapasan seperti ronchi dan wheezing.

g. Rasa lelah akibat reaksi peradangan dan hipokisia apabila infeksinya serius.

h. Ventilasi mungkin berkurang akibat penimbunan mucus yang menyebabkan ateletaksis absorbs.

8. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang bronkopneumonia adalah sebagai berikut (Nurarif & Kusuma, 2015) :

a. Pemeriksaan laboratorium 1) Pemeriksaan darah 2) Pemeriksaan sputum 3) Analisa gas darah 4) Kultur darah

(37)

5) Sampel darah, sputum, dan urin b. Pemeriksaan radiologi

1) Rontgenogram thoraks 2) Laringoskopi/bronkoskopi 9. Komplikasi

Komplikasi bronkopneumonia adalah sebagai berikut (Wijayaningsih, 2013) :

a. Atelectalis, adalah pengembangan paru yang tidak sempurna atau kolaps paru akibat kurangnya mobilisasi refleks batuk hilang apabila penumpukan secret akibat berkurangnya daya kembang pau-paru terus terjadi dan penumpukan secret ini menyebabkan obstruksi bronkus instrinsic.

b. Empisema, adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura terdapat di suatu tempat atau seluruh rongga pleura.

c. Abses paru, adalah penumpukan pus (nanah) dalam paru yang meradang.

d. Infeksi sitemik.

e. Endocarditis, adalah peradangan pada katup endokardial.

f. Meningitis, adalah infeksi yang menyerang pada selaput otak.

10. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan yang dapat diberikan untuk bronkopneumonia adalah sebagai berikut (Nurarif & Kusuma, 2015) :

a. Menjaga kelancaran pernapasan dengan memberikan terapi oksigen 1-5 lpm.

(38)

b. Kebutuhan istirahat

Pasien ini sering hiperpireksia maka pasien perlu cukup istirahat, semua kebutuhan pasien harus ditolong di tempat tidur.

c. Kebutuhan nutrisi dan cairan

Pasien bronkopneumonia hampir selalu mengalami masukan makanan yang kurang. Suhu tubuh yang tinggi selama beberapa hari dan masukan cairan yang kurang dapat menyebabkan dehidrasi. Untuk mencegah dehidrasi dan kekurangan kalori dipasang infus dengan cairan glukosa 5% dan NaCl 0,9%.

d. Mengontrol suhu tubuh e. Pengobatan

Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi.

Akan tetapi, karena hal itu perlu waktu dan pasien perlu terapi secepatnya maka biasanya diberikan Penisilin ditambah dengan Cloramfenikol atau diberikan antibiotik yang mempunyai spectrum luas seperti Ampisilin.

Pengobatan ini diteruskan sampai bebas demam 4-5 hari. Karena sebagian besar pasien jatuh ke dalam asidosis metabolik akibat kurang makan dan hipoksia, maka dapat diberikan koreksi sesuai dengan hasil analisis gas darah arteri.

f. Pasien diposisikan untuk mendapatkan inspirasi maksimal yaitu semi fowler 45 derajat.

g. Pengobatan simtomatis, nebulizer, dan fisioterapi dada.

(39)

B. Asuhan Keperawatan pada Bronkopneumonia

Asuhan Keperawatan merupakan proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang diberikan secara langsung kepada klien/pasien di berbagai tatanan pelayanan kesehatan. Dilaksanakan berdasarkan kaidah- kaidah keperawatan sebagai suatu profesi yang berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan bersifat humanistik, dan berdasarkan pada kebutuhan objektif klien untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien serta dilandasi kode etik dan etika keperawatan dalam lingkup wewenang dan tanggung jawab keperawatan. Dalam proses keperawatan, asuhan keperawatan dibagi menjadi 5 tahap yaitu :

1. Pengkajian Keperawatan

Tahap pengkajian keperawatan merupakan pemikiran dasar dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu.

Pengkajian yang lengkap, akurat, sesuai kenyataan, kebenaran data sangat penting untuk merumuskan suatu diagnosa keperawatan dan dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan respon individu.

a. Keluhan Utama

Anak sangat gelisah karena sesak napas.

b. Riwayat Penyakit Sekarang

Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran pernapasan bagian atas selama beberapa hari. Suhu tubuh dapat naik sangat mendadak sampai 39o C-40o C dan kadang disertai kejang karena demam yang tinggi.

(40)

c. Riwayat Kesehatan Dahulu

Pernah menderita penyakit infeksi yang menyebabkan sistem imun menurun.

d. Riwayat Kesehatan Keluarga

Anggota keluarga lain yang menderita penyakit infeksi saluran pernapasan dapat menularkan kepada anggota keluarga yang lainnya.

e. Riwayat Kesehatan Lingkungan

Lingkungan pabrik atau banyak asap dan debu ataupun lingkungan dengan anggota keluarga perokok dapat menyebabkan penyakit pada pernapasan.

f. Imunisasi

Anak yang tidak mendapatkan imunisasi beresiko tinggi untuk mendapat penyakit infeksi saluran pernapasan atas atau bawah karena sistem pertahanan tubuh yang tidak cukup kuat untuk melawan infeksi sekunder.

g. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan h. Nutrisi

Riwayat gizi buruk atau meteorismus (malnutrisi energi protein = MEP).

i. Pemeriksaan fisik

Inspeksi: Adanya takipnea, dispnea, sianosis sirkumoral, pernafasan cuping hidung, distensi abdomen, batuk semula non produktif menjadi produktif, serta nyeri dada pada waktu menarik nafas dan tarikan dinding dada tampak jelas.

(41)

Palpasi: Hati mungkin membesar, fremitus raba mungkin meningkat pada sisi yang sakit dan nadi mengalami peningkatan.

Perkusi: Suara redup pada sisi yang sakit.

Auskultasi: Akan terdengar wheezing, terdengar adanya ronkhi basah.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respons klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang berlangsung aktual maupun potensial. Diagnosis keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi respons klien individu, keluarga dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan dengan kesehatan (PPNI, 2017).

Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada kasus bronkopneumonia yaitu (PPNI, 2017) :

a. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) 1) Definisi

Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten.

2) Penyebab Fisiologis :

a) Spasme jalan nafas b) Hipersekresi jalan nafas c) Benda Asing dalam jalan nafas d) Sekresi yang tertahan

(42)

e) Proses infeksi Situasional : a) Merokok aktif b) Merokok pasif c) Terpajan polutan 3) Gejala dan Tanda Mayor

Subyektif : - Obyektif :

a) Batuk tidak efektif atau tidak mampu batuk

b) Sputum berlebih/obstruksi di jalan napas/mekonium di jalan napas (pada neonatus)

c) Mengi, wheezing dan/ ronkhi kering 4) Gejala dan Tanda Minor

Subyektif : a) Dispnea b) Sulit bicara c) Ortopnea Obyektif : a) Gelisah b) Sianosis

c) Bunyi napas menurun d) Frekuensi napas berubah e) Pola napas berubah

(43)

b. Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) 1) Definisi

Kelebihan atau kekurangan oksigenisasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membrane alveolus-kapiler.

2) Penyebab

a) Perubahan membrane alveolus-kapiler 3) Gejala dan Tanda Mayor

Subyektif : a) Dispnea Obyektif :

a) PCO2 meningkat/menurun b) PCO2 menurun

c) Takikardia

d) pH arteri meningkat/menurun e) Bunyi nafas tambahan

4) Gejala dan Tanda Minor Subyektif :

a) Pusing

b) Penglihatan kabur Obyektif :

a) Sianosis b) Gelisah

c) Napas cuping hidung

(44)

d) Pola napas abnormal (cepat/lambat, regular/iraguler, dalam/dangkal)

e) Warna kulit abnormal (mis. pucat, kebiruan) f) Kesadaran menurun

c. Hipertermia (D.0130) 1) Definisi

Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal tubuh.

2) Penyebab

a) Proses penyakit (mis. infeksi) 3) Gejala dan Tanda Mayor

Subyektif : - Obyektif :

a) Suhu tubuh diatas nilai normal 4) Gejala dan Tanda Minor

Subyektif : - Obyektif : a) Kulit merah b) Kejang c) Takikardi d) Takipnea

e) Kulit terasa hangat

(45)

d. Defisit Nutrisi (D.0019) 1) Definisi

Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme.

2) Penyebab

a) Kurangnya asupan makanan 3) Gejala dan Tanda Mayor

Subjektif : - Objektif :

a) Berat badan menurun minimal 10% dibawah rentang ideal 4) Gejala dan Tanda Minor

Subjektif :

a) Nafsu makan menurun Objektif :

a) Bising usus hiperaktif b) Otak pengunyah lemah c) Otot menelan lemah d) Membran mukosa pucat e. Intoleransi Aktivitas (D.0056)

1) Definisi

Ketidakcukupan energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

2) Penyebab

a) Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen b) Kelemahan

(46)

3) Gejala dan Tanda Mayor Subyektif :

a) Mengeluh lelah Obyektif :

a) Frekuensi jantung meningkat >20% dari kondisi istirahat 4) Gejala dan Tanda Minor

Subyektif :

a) Dispnea saat/setelah aktivitas

b) Merasa tidak nyaman setelah beraktivitas c) Merasa lemah

Obyektif :

a) Tekanan darah berubah >20% dari kondisi istirahat b) Sianosis

f. Resiko Ketidakseimbangan Elektrolit (D.0037) 1) Definisi

Berisiko mengalami perubahan kadar serum elektrolit.

2) Faktor resiko

a) Ketidakseimbangan cairan (mis. dehidrasi dan intoksikasi air) b) Diare

3. Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan adalah gambaran atau tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah keperawatan yang dihadapi pasien.

(47)

Adapun intervensi dan luaran yang sesuai dengan penyakit bronkopneumonia adalah sebagai berikut (PPNI, 2018; PPNI, 2019) : a. Dx : Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan spasme jalan

napas, hipersekresi jalan nafas, benda asing dalam jalan nafas, sekresi yang tertahan dan proses infeksi.

1) Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan, maka bersihan jalan napas (L.01001) meningkat dengan kriteria hasil :

a) Batuk efektif

b) Produksi sputum menurun c) Wheezing menurun d) Dispnea menurun e) Sianosis menurum f) Gelisah menurun

g) Frekuensi napas membaik h) Pola napas membaik 2) Intervensi keperawatan :

Observasi :

a) Identifikasi kemampuan batuk b) Monitor adanya retensi sputum

c) Monitor tanda dan gejala infeksi saluran napas

d) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas) e) Auskultasi bunyi napas

(48)

Terapeutik :

a) Atur posisi semi fowler atau fowler b) Berikan minum hangat

c) Lakukan fisioterapi dada, jika perlu d) Berikan oksigen, jika perlu

Edukasi :

a) Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif b) Ajarkan teknik batuk efektif

c) Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah tarik napas dalam yang ke-3

Kolaborasi :

a) Kolaborasi pemberian bronkodilator, mukolitik atau ekspektoran, jika perlu

b. Dx : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus-kapiler.

1) Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan, maka pertukaran gas (L.01003) meningkat dengan kriteria hasil :

a) Tingkat kesadaran meningkat b) Dispnea menurun

c) Bunyi napas tambahan menurun d) Gelisah menurun

e) Napas cuping hidung menurun f) PCO2 membaik

(49)

g) PO2 membaik h) Takikardia menaik i) pH arteri membaik j) Pola napas membaik k) Warna kulit membaik 2) Intervensi keperawatan :

Observasi :

a) Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas

b) Monitor pola napas (seperti bradipnea, takipnea, hiperventilasi, kussmaul, cheyne-stokes, biot, ataksik)

c) Monitor adanya sumbatan jalan napas d) Auskultasi bunyi napas

e) Monitor saturasi oksigen f) Monitor nilai AGD

g) Monitor hasil x-ray thoraks h) Monitor kecepatan aliran oksigen

i) Monitor integritas mukosa hidung akibat pemasangan oksigen Terapeutik :

a) Berikan oksigen tambahan, jika perlu

b) Tetap berikan oksigen saat pasien ditransportasi Kolaborasi :

a) Kolaborasi penentuan dosis oksigen

b) Kolaborasi penggunaan oksigen saat aktivitas dan/atau tidur

(50)

c. Dx : Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (infeksi).

1) Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan, maka termoregulasi (L.14134) membaik dengan kriteria hasil :

a) Menggigil menurun b) Kulit merah menurun c) Kejang menurun d) Pucat menurun e) Takikardi menurun f) Takipnea menurun g) Bradikardi menurun h) Hipoksia menurun i) Suhu tubuh membaik j) Suhu kulit membaik k) Tekanan darah membaik 2) Intervensi keperawatan :

Observasi :

a) Identifikasi penyebab hipertermia b) Monitor tanda-tanda vital

c) Monitor suhu tubuh anak tiap dua jam, jika perlu d) Monitor intake dan output cairan

e) Monitor warna dan suhu kulit

f) Monitor komplikasi akibat hipertermia

(51)

Terapeutik :

a) Sediakan lingkungan yang dingin b) Longgarkan atau lepaskan pakaian c) Basahi dan kipasi permukaan tubuh

d) Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang adekuat e) Berikan cairan oral

f) Ganti linen setiap hari jika mengalami keringat berlebih

g) Lakukan pendinginan eksternal (mis. kompres dingin pada dahi, leher, dada, abdomen, aksila

Edukasi :

a) Anjurkan tirah baring

b) Anjurkan memperbanyak minum Kolaborasi :

a) Kolaborasi pemberian antipiretik, jika perlu b) Kolaborasi pemberisn antibiotik, jika perlu

d. Dx : Defisit nutrisi berhubungan dengan kurangnya asupan makanan.

1) Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan, maka status nutrisi (L.03030) membaik dengan kriteria hasil :

a) Porsi makanan yang dihabiskan meningkat

b) Verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi meningkat c) Perasaan cepat kenyang menurun

d) Berat badan membaik

e) Indeks massa tubuh (IMT) membaik

(52)

f) Frekuensi makan membaik g) Nafsu makan membaik h) Bising usus membaik i) Membran mukosa membaik 2) Intervensi keperawatan :

Observasi :

a) Identifikasi status nutrisi

b) Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik c) Monitor asupan makanan

d) Monitor berat badan Terapeutik :

a) Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi b) Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein

c) Berikan suplemen makanan, jika perlu

d) Hentikan pemberian makan melalui selang nasogastrik jika asupan oral dapat ditoleransi

e) Berikan makanan sesuai keinginan, jika memungkinkan Edukasi :

a) Anjurkan orang tua atau keluarga membantu memberi makan kepada pasien

Kolaborasi :

a) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrient yang dibutuhkan, jika perlu

(53)

b) Kolaborasi pemberian antiemetil sebelum makan, jika perlu e. Dx : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara

suplai dan kebutuhan oksigen dan kelemahan

1) Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan, maka toleransi aktivitas (L.05047) meningkat dengan kriteria hasil :

a) Frekuensi nadi meninngkat b) Saturasi oksigen meningkat

c) Kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat d) Keluhan lelah menurun

e) Dispnea saat aktivitas menurun f) Dispnea setelah aktivitas menurun g) Sianosis menurun

h) Warna kulit membaik i) Tekanan darah membaik j) Frekuensi napas membaik 2) Intervensi keperawatan :

Observasi :

a) Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas b) Monitor saturasi oksigen

c) Monitor tekanan darah, nadi dan pernapasan setelah melakukan aktivitas

Terapeutik :

a) Libatkan keluarga dalam aktivitas

(54)

b) Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus

c) Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan

Edukasi :

a) Anjurkan tirah baring

b) Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap

c) Anjurkan terlibat dalam aktivitas kelompok atau terapi, jika sesuai d) Berikan oksigen, sesuai indikasi

f. Dx : Resiko ketidakseimbangan elektrolit ditandai dengan ketidakseimbangan cairan, dan diare.

1) Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan, maka fungsi gastrointestinal (L.03019) membaik dan keseimbangan cairan (L.03020) meningkat dengan kriteria hasil :

a) Mual menurun b) Muntah menurun c) Dispepsia menurun d) Peristaltik usus membaik e) Asupan cairan meningkat f) Membrane mukosa membaik g) Turgor kulit membaik

2) Intervensi keperawatan : Observasi :

a) Identifikasi penyebab diare (mis. inflamasi gastrointestinal)

(55)

b) Monitor mual, muntah, dan diare c) Monitor status hidrasi

Terapeutik :

a) Catat intake-output dan hitung balance cairan 24 jam b) Berikan asupan cairan oral (mis. larutan garam gula, oralit) c) Berikan cairan intravena, jika perlu

Edukasi :

a) Anjurkan makanan porsi kecil dan sering secara bertahap Kolaborasi :

a) Kolaborasi pemberian obat antimotilitas (mis. loperamide, difenoksilat)

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi proses keperawatan terdiri rangkaian aktivitas keperawatan dari hari ke hari yang harus dilakukan dan didokumentasikan dengan cermat. Perawat melakukan pengawasan terhadap efektifitas intervensi yang dilakukan, bersamaan pula menilai perkembangan pasien terhadap pencapaian tujuan atau hasil yang diharapkan. Bagian dari pengumpulan data ini mempraksarai tahap evaluasi proses keperawatan.

Pada tahap ini, perawat harus melakukan melaksanakan tindakan keperawatan yang ada dalam rencana keperawatan. Tindakan dan respon pasien tersebut langsung dicatat dalam format tindakan keperawatan (Dinarti et al., 2013).

(56)

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan dicatat disesuaikan dengan setiap diagnosa keperawatan. Evaluasi untuk setiap diagnose keperawatan meliputi data subyektif (S) data obyektif (O), analisa permasalahan (A) klien berdasarkan S dan O, serta perencanaan ulang (P) berdasarkan hasil analisa data diatas.

Evaluasi ini disebut juga evaluasi proses.semua itu dicatat pada formulir catatan perkembangan (progress note) (Dinarti et al., 2013).

C. Konsep Keperawatan Anak

1. Pertumbuhan dan Perkembangan a. Pengertian

Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal ini yang membedakan anak dengan dewasa. Anak bukan dewasa kecil. Anak menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan usianya (Kemenkes RI, 2016).

Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat. Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan (Kemenkes RI, 2016).

(57)

Perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi.

Kesemua fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh (Kemenkes RI, 2016).

b. Ciri-Ciri Pertumbuhan

Pertumbuhan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (Yuliastati &

Nining, 2016) :

1) Perubahan proporsi tubuh yang dapat diamati pada masa bayi dan dewasa.

2) Hilangnya ciri-ciri lama dan timbulnya ciri-ciri baru. Perubahan ini ditandai dengan tanggalnya gigi susu dan timbulnya gigi permanen, hilangnya refleks primitif pada masa bayi, timbulnya tanda seks sekunder dan perubahan lainnya.

3) Kecepatan pertumbuhan tidak teratur. Hal ini ditandai dengan adanya masa-masa tertentu dimana pertumbuhan berlangsung cepat yang terjadi pada masa prenatal, bayi dan remaja (adolesen). Pertumbuhan berlangsung lambat pada masa pra sekolah dan masa sekolah.

c. Ciri-Ciri Perkembangan

Proses pertumbuhan dan perkembangan anak bersifat individual.

Pola perkembangan setiap anak mempunyai ciri-ciri yang sama, yaitu (Kemenkes RI, 2016) :

1) Perkembangan menimbulkan perubahan.

(58)

Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan. Setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Misalnya perkembangan intelegensia pada seorang anak akan menyertai pertumbuhan otak dan serabut saraf.

2) Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya.

Seorang anak tidak bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya. Contoh: seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia berdiri dan ia tidak bisa berdiri jika pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi anak terhambat. Perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena akan menentukan perkembangan selanjutnya.

3) Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda.

Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan juga mempunyai kecepatan yang berbeda-beda baik dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi organ. Kecepatan pertumbuhan dan perkembangan setiap anak juga berbeda-beda.

4) Pertumbuhan berkorelasi dengan perkembangan.

Pada saat pertumbuhan berlangsung, maka perkembanganpun mengikuti. Terjadi peningkatan kemampuan mental, memori, daya nalar, asosiasi dan lain-lain pada anak, sehingga pada anak sehat

(59)

seiring bertambahnya umur maka bertambah pula tinggi dan berat badannya begitupun kepandaiannya.

5) Perkembangan mempunyai pola yang tetap.

Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut hukum yang tetap, yaitu :

a) Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke arah kaudal/anggota tubuh (pola sefalokaudal).

b) Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerak kasar) lalu berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimodistal).

6) Perkembangan memiliki tahap yang berurutan.

Tahap perkembangan seorang anak mengikuti pola yang teratur dan berurutan. Tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak mampu berjalan dahulu sebelum bisa berdiri.

7) Perkembangan memiliki tahap yang berurutan.

Tahap perkembangan seorang anak mengikuti pola yang teratur dan berurutan. Tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak mampu berjalan dahulu sebelum bisa berdiri.

2. Batasan Usia Anak

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pasal 1 Ayat 1, Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Sedangkan menurut definisi WHO, batasan usia anak

(60)

adalah sejak anak di dalam kandungan sampai usia 19 tahun. Berdasarkan Konvensi Hak-hak Anak yang disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa yang dimaksud Anak adalah setiap orang yang berusia di bawah 18 tahun, kecuali berdasarkan undang-undang yang berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal (Soediono, 2014).

3. Falsafah Keperawatan Anak

Falsafah keperawatan anak merupakan suatu landasan berpikir dalam penerapan ilmu keperawatan anak. Landasan berpikir tersebut terdiri dari empat komponen, empat komponen tersebut sebagai berikut (Yuliastati

& Nining, 2016) : a. Manusia

Dalam keperawatan anak yang menjadi individu (klien) adalah anak yang diartikan sebagai seseorang yang usianya kurang dari 18 (delapan belas) tahun dalam masa tumbuh kembang, dengan kebutuhan khusus yaitu kebutuhan fisik, psikologis, sosial dan spiritual.

Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Dalam proses berkembang anak memiliki ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola koping dan perilaku sosial. Ciri fisik pada semua anak tidak mungkin pertumbuhan fisiknya sama, demikian pula pada perkembangan kognitif adakalanya cepat atau lambat. Perkembangan konsep diri sudah ada sejak bayi akan tetapi belum terbentuk sempurna dan akan mengalami perkembangan seiring bertambahnya usia anak. Pola koping juga sudah terbentuk sejak bayi di mana bayi akan menangis saat lapar.

(61)

Perilaku sosial anak juga mengalami perkembangan yang terbentuk mulai bayi seperti anak mau diajak orang lain. Sedangkan respons emosi terhadap penyakit bervariasi tergantung pada usia dan pencapaian tugas perkembangan anak, seperti pada bayi saat perpisahan dengan orang tua maka responsnya akan menangis, berteriak, menarik diri dan menyerah pada situasi yaitu diam.

Dalam memberikan pelayanan keperawatan anak selalu diutamakan, mengingat kemampuan dalam mengatasi masalah masih dalam proses kematangan yang berbeda dibanding orang dewasa karena struktur fisik anak dan dewasa berbeda mulai dari besarnya ukuran hingga aspek kematangan fisik. Proses fisiologis anak dengan dewasa mempunyai perbedaan dalam hal fungsi tubuh dimana orang dewasa cenderung sudah mencapai kematangan. Kemampuan berpikir anak dengan dewasa berbeda dimana fungsi otak dewasa sudah matang sedangkan anak masih dalam proses perkembangan. Demikian pula dalam hal tanggapan terhadap pengalaman masa lalu berbeda, pada anak cenderung kepada dampak psikologis yang apabila kurang mendukung maka akan berdampak pada tumbuh kembang anak sedangkan pada dewasa cenderung sudah mempunyai mekanisme koping yang baik dan matang.

b. Sehat-Sakit

Rentang sehat-sakit merupakan batasan yang dapat diberikan bantuan pelayanan keperawatan pada anak adalah suatu kondisi anak

(62)

berada dalam status kesehatan yang meliputi sejahtera, sehat optimal, sehat, sakit, sakit kronis dan meninggal. Rentang ini suatu alat ukur dalam menilai status kesehatan yang bersifat dinamis dalam setiap waktu.

Selama dalam batas rentang tersebut anak membutuhkan bantuan perawat baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti apabila anak dalam rentang sehat maka upaya perawat untuk meningkatkan derajat kesehatan sampai mencapai taraf kesejahteraan baik fisik, sosial maupun spiritual. Demikian sebaliknya apabila anak dalam kondisi kritis atau meninggal maka perawat selalu memberikan bantuan dan dukungan pada keluarga. Jadi batasan sehat secara umum dapat diartikan suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit dan kelemahan.

c. Lingkungan

Lingkungan dalam paradigma keperawatan anak yang dimaksud adalah lingkungan eksternal maupun internal yang berperan dalam perubahan status kesehatan anak. Lingkungan internal seperti anak lahir dengan kelainan bawaan maka di kemudian hari akan terjadi perubahan status kesehatan yang cenderung sakit, sedang lingkungan eksternal seperti gizi buruk, peran orang tua, saudara, teman sebaya dan masyarakat akan mempengaruhi status kesehatan anak.

d. Keperawatan

Komponen ini merupakan bentuk pelayanan keperawatan yang diberikan kepada anak dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan

(63)

secara optimal dengan melibatkan keluarga. Upaya tersebut dapat tercapai dengan keterlibatan langsung pada keluarga mengingat keluarga merupakan sistem terbuka yang anggotanya dapat dirawat secara efektif dan keluarga sangat berperan dalam menentukan keberhasilan asuhan keperawatan, di samping keluarga mempunyai peran sangat penting dalam perlindungan anak dan mempunyai peran memenuhi kebutuhan anak. Peran lainnya adalah mempertahankan kelangsungan hidup bagi anak dan keluarga, menjaga keselamatan anak dan mensejahterakan anak untuk mencapai masa depan anak yang lebih baik, melalui interaksi tersebut dalam terwujud kesejahteraan anak.

4. Prinsip Keperawatan Anak

Dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak tentu berbeda dibandingkan dengan orang dewasa. Banyak perbedaan-perbedaan yang diperhatikan dimana harus disesuaikan dengan usia anak serta pertumbuhan dan perkembangan karena perawatan yang tidak optimal akan berdampak tidak baik secara fisiologis maupun psikologis anak itu sendiri.

Prinsip keperawatan anak yaitu sebagai berikut (Yuliastati & Nining, 2016) :

a. Anak bukan miniatur orang dewasa tetapi sebagai individu yang unik, artinya bahwa tidak boleh memandang anak dari segi fisiknya saja melainkan sebagai individu yang unik yang mempunyai pola pertumbuhan dan perkembangan menuju proses kematangan.

(64)

b. Anak adalah sebagai individu yang unik dan mempunyai kebutuhan sesuai tahap perkembangannya. Sebagai individu yang unik, anak memiliki berbagai kebutuhan yang berbeda satu dengan yang lain sesuai tumbuh kembang. Kebutuhan fisiologis seperti nutrisi dan cairan, aktivitas, eliminasi, tidur dan lain-lain, sedangkan kebutuhan psikologis, social dan spiritual yang akan terlihat sesuai tumbuh kembangnya.

c. Pelayanan keperawatan anak berorientasi pada upaya pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan yang bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian pada anak mengingat anak adalah penerus generasi bangsa.

d. Keperawatan anak merupakan disiplin ilmu kesehatan yang berfokus pada kesejahteraan anak sehingga perawat bertanggung jawab secara komprehensif dalam memberikan asuhan keperawatan anak. Dalam mensejahterakan anak maka keperawatan selalu mengutamakan kepentingan anak dan upayanya tidak terlepas dari peran keluarga sehingga selalu melibatkan keluarga.

e. Praktik keperawatan anak mencakup kontrak dengan anak dan keluarga untuk mencegah, mengkaji, mengintervensi dan meningkatkan kesejahteraan hidup, dengan menggunakan proses keperawatan yang sesuai dengan aspek moral (etik) dan aspek atin (legal).

f. Tujuan keperawatan anak dan keluarga adalah untuk meningkatkan maturasi atau kematangan yang sehat bagi anak dan remaja sebagai makhluk biopsikososial dan spiritual dalam konteks keluarga dan

(65)

masyarakat. Upaya kematangan anak adalah dengan selalu memperhatikan lingkungan yang baik secara internal maupun eksternal dimana kematangan anak ditentukan oleh lingkungan yang baik.

g. Pada masa yang akan datang kecenderungan keperawatan anak berfokus pada ilmu tumbuh kembang, sebab ini yang akan mempelajari aspek kehidupan anak.

5. Peran Perawat Anak

Beberapa peran perawat antara lain (Yuliastati & Nining, 2016) : a. Sebagai pendidik

Perawat berperan sebagai pendidik, baik secara langsung dengan memberi penyuluhan/pendidikan kesehatan pada orang tua maupun secara tidak langsung dengan menolong orang tua/anak memahami pengobatan dan perawatan anaknya. Kebutuhan orang tua terhadap pendidikan kesehatan dapat mencakup pengertian dasar penyakit anaknya, perawatan anak selama dirawat di rumah sakit, serta perawatan lanjut untuk persiapan pulang ke rumah. Tiga domain yang dapat dirubah oleh perawat melalui pendidikan kesehatan adalah pengetahuan, keterampilan serta sikap keluarga dalam hal kesehatan khususnya perawatan anak sakit.

b. Sebagai konselor

Suatu waktu anak dan keluarganya mempunyai kebutuhan psikologis berupa dukungan/dorongan mental. Sebagai konselor, perawat dapat memberikan konseling keperawatan ketika anak dan keluarganya membutuhkan. Hal inilah yang membedakan layanan

(66)

konseling dengan pendidikan kesehatan. Dengan cara mendengarkan segala keluhan, melakukan sentuhan dan hadir secara fisik maka perawat dapat saling bertukar pikiran dan pendapat dengan orang tua tentang masalah anak dan keluarganya dan membantu mencarikan alternatif pemecahannya.

c. Melakukan koordinasi atau kolaborasi

Dengan pendekatan interdisiplin, perawat melakukan koordinasi dan kolaborasi dengan anggota tim kesehatan lain dengan tujuan terlaksananya asuhan yang holistik dan komprehensif. Perawat berada pada posisi kunci untuk menjadi koordinator pelayanan kesehatan karena 24 jam berada di samping pasien. Keluarga adalah mitra perawat, oleh karena itu kerjasama dengan keluarga juga harus terbina dengan baik tidak hanya saat perawat membutuhkan informasi dari keluarga saja, melainkan seluruh rangkaian proses perawatan anak harus melibatkan keluarga secara aktif.

d. Sebagai pembuat keputusan etik

Perawat dituntut untuk dapat berperan sebagai pembuat keputusan etik dengan berdasarkan pada nilai normal yang diyakini dengan penekanan pada hak pasien untuk mendapat otonomi, menghindari hal-hal yang merugikan pasien dan keuntungan asuhan keperawatan yaitu meningkatkan kesejahteraan pasien. Perawat juga harus terlibat dalam perumusan rencana pelayanan kesehatan di tingkat kebijakan. Perawat harus mempunyai suara untuk didengar oleh para

Gambar

Tabel  diatas  menjelaskan  mengenai  intervensi  yang  akan  diberikan pada klien 1 dan klien 2 selama masa perawatan sesuai dengan  diagnosa  keperawatan  yang  ditegakkan
Tabel di atas menjelaskan bahwa pada klien 1 dilakukan asuhan  keperawatan  selama  4  hari  di  rumah  sakit,  evaluasi  pada  klien  1

Referensi

Dokumen terkait

Observasi yang dilakukan pada anak dengan bronkopneumonia dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif adalah adanya dispneu, penurunan suara nafas,