TATA GUNA EVALUASI LAHAN LAPORAN FIELD TRIP
Disusun oleh:
Dien Marcella Kurniawati (20200210110)
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2023
A. PENDAHULUAN
Desa Guwosari merupakan bagian integral dari wilayah Kecamatan Pajangan Kabupaten Bantul. Desa Guwosari memiliki wilayah seluas 830.0110 Ha, yang wilayahnya berbatasan dengan :
- Sebelah Utara : Desa Bangunjiwo Kecamatan Kasihan - Sebelah Selatan : Desa Wijirejo Kecamatan Pandak - Sebelah Barat : Desa Sendangsari Kecamatan Pajangan
- Sebelah Timur : Desa Ringinharjo & Desa Bantul Kecamatan Bantul
Desa Guwosari secara topografis terletak pada ketinggian 25 m sampai 120 m dpl.
Terdiri dari bagian pegunungan dengan luas 581.000 Ha (70%) terletak di sebelah barat dan daerah dataran seluas 249.0110 Ha (30%) terletak di sebelah timur dan memanjang ke utara. Di Desa Guwosari, kemiringan medan berkisar antara 2% sampai >45%. Hampir 50% dari seluruh wilayah terdiri dari medan terjal dengan tingkat kesuburan yang relatif rendah. Sedang areal persawahan sebagian besar persawahan tadah hujan.. Sawah terdiri dari 45.5475 ha (5,5%) dari total area yang digunakan pada tahun 2007, bersama dengan lahan kering (403.1530 ha (48,9%), pekarangan (339.5250 ha (40,6%), dan penggunaan lainnya (39.6680 ha (5%).
Desa Guwosari memiliki empat sumber mata air, tiga diantaranya berada di dusun Watugedug dan Kedung (1 mata air). Tiga dari empat mata air tersebut terletak di monumen bersejarah Pangeran Diponegoro. Sungai Bedog mengalir melalui Desa Guwosari. Meski masih belum mencukupi kebutuhan irigasi, sungai ini merupakan sumber air untuk mengairi areal pertanian di Desa Guwosari. Secara geologis, Desa Guwosari terletak di Formasi Sentolo dan Formasi Yogyakarta. Regosol, Grumosol, dan Litosol merupakan beberapa jenis tanah yang terdapat di Desa Guwosari. Di Desa Guwosari, suhu harian berkisar antara 20 hingga 33 derajat Celcius, dengan curah hujan 200 hingga 3.000 milimeter. Komoditas unggulan seperti beras, jagung, kacang tanah, ubi kayu, kedelai, dan ubi jalar dihasilkan di lahan pertanian dan tegalan di Desa Guwosari. Ada juga berbagai jenis tanaman, termasuk jati, akasia, dan beberapa varietas obat.
B. HASIL PENGAMATAN
1. Alamat Semanjir, Jl. Watugedug, Guwosari, Kec.
Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55751
2. Koordinat GPS Ls: 07°52’06,3” T: 110°19’0,05”
3. Waktu Pengamatan 10:12 AM/ Kamis, 12 Januari 2023
4. Landuse Aktual Hutan
5. Keterangan
5.1. Kemiringan Lereng 44,4% (Kiblat: Timur ke Barat)
Kelas Kemiringan Lahan: Agak Curam (30-45%)
5.2. Pengamatan Sifat Tanah a. Kelas Tekstur: Sandy clay loam Tekstur tanah yang terdiri dad 20%
sampai 30% lempung kurang dad 28% debu dan 45% atau lebih pasir.
b. Struktur Tanah: Struktur Ikatan c. Pita: 3,5 cm
d. Kelas Struktur Tanah: Granuler sedang-kasar (gumpal membulat) e. Kriteria: Halus/kecil, Gumpal (5-
10 mm) 5.3. Permeabilitas Tanah a. 42 cm/jam
b. Kelas: >12,5 cm/jam (cepat) 5.4. Batuan di Permukaan
Tanah
Sedang, 3-5% luas area 38×38= 1444
1444:2= 722 cm 7,22%
5.5. Kedalaman Efektif Sedang, 50-90 cm
6. Kebanjiran a. Kedalamam Banjir: Tidak Ada
b. Frekuensi Banjir: Tidak Ada c. Kelas Banjir: Tidak pernah, dalam
waktu satu bulan tidak pernah
mengalami banjir untuk waktu 24 jam
7. Drainase Baik, tanah mempunyai perederan udara
baik, seluruh profil tanah dari atas sampai lapisan bawah berwarna terang seragam, tidak terdapat bercak-bercak
8. Kejadian erosi, longsor dan singkapan batuan induk
a. Erosi:
1. Tebal= 5-10 cm
2. Waktu= Kamis, 12 Januari 2023
3. Vegetasi= Singkong, Jagung, Jati
b. Batuan Singkapan 1. Lebar= 15-20%
2. Waktu= Kamis, 12 Januari 2023
3. Vegetasi= Singkong, Jagung, Jati
9. Faktor dan Pengolahan Tanah
9.1. Tanaman Dominan Agroforestri: Jagung, Singkong 9.2. Faktor Pengolahan Tanah Terasering dengan pengolahan tanah
minimum
10. Crown Cover a. Luas petak amatan: 10×10 m
b. Jumlah pohon: 26
c. Ratio jumlah pohon terhadap luas petak: 100
Jumlah pohon=100
26 = 3,85 / 4:1
d. Strata tajuk:
1. 1 strata: Akasia karva, Jati Jenis tajuk: A (Pohon)
2. 2 strata: Perdu, Semak, Gamal, Srikaya
Jenis tajuk: B (Perdu) 3. 3 strata: Srikaya, Kolonjono
Jenis tajuk: C (Semak)
11. Sketsa Lahan Amatan
C. PEMBAHASAN
Medan yang gersang dan berbatu disebut sebagai karst. Istilah "karst" sejak itu diterima untuk istilah "bentuk lahan yang disebabkan oleh proses pelarutan", meskipun pada awalnya tidak terkait dengan batugamping dan proses pelarutan. persyaratan pembentukan karst
1. Adanya batuan terlarut pada atau dekat permukaan; batugamping merupakan batuan yang paling tepat.
2. Terdapat celah atau pelapisan pada batuan.
3. Ada lembah yang lebih dalam dari permukaan batuan yang larut dan lebih rendah.
Agar proses pelarutan dapat terus berlangsung, maka diperlukan kemudahan untuk mengalirkan air tanah yang sudah mengandung efek pelarutan.
4. Curah hujan yang cukup harus turun di area tersebut untuk bertindak sebagai media pelarut.
Menurut Suharini dan Palangan (2009), bentuk lahan di lingkungan karst secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori:
1. bentuk lahan yang berhubungan dengan erosi;
2. Bentang alam yang tersisa; dan 3. Bentang alam sedimen
Macam-macam bentang alam karst:
1. Minor artinya tidak teramati di peta topografi/foto udara/citra satelit 2. Mayor artinya terlihat di peta topografi/foto udara/citra satelit
Faktor-faktor karstifikasi pengaruhnya terhadap proses pelarutan
Bahan organik mati dan bahan organik hidup adalah dua kategori di mana bahan organik tanah dapat dibagi. Akar tanaman, hewan penghuni tanah (meso dan fauna mikro), dan mikroorganisme biomassa (biomass mikroba) adalah contoh komponen bahan organik yang hidup. Sisa organik yang telah terdegradasi secara biologis dan kimia merupakan komponen mati dari bahan organik. Komponen bahan organik mati juga dapat dipisahkan menjadi produk atau bahan yang telah mengalami transformasi dan bahan yang tidak berubah atau kualitas morfologi bahan asli masih dapat dilihat (humus).
Area yang diamati memiliki kemiringan yang relatif curam, 44, seperti yang ditentukan oleh klinometer. Terdapat 3-5% batuan permukaan pada lahan tersebut, dan batuan ini memiliki kedalaman efektif dimana akar dapat tumbuh sedalam 50–90 cm. a lebih besar Pengolahan tanah akan menyebabkan lebih banyak gangguan semakin banyak batuan yang ada di permukaan. Jika pengelolaan lahan terganggu, akan banyak batuan permukaan yang mengganggu penanaman dan pertumbuhan akar tanaman. Metode budidaya tanaman agroforestri digunakan di lahan, serta campuran tanaman tahunan dan tanaman tahunan.
Akasia, jati, dan mahoni merupakan contoh tumbuhan yang sering terlihat dalam bentuk tumbuhan tahunan.
Mengenai tanaman tahunan seperti jagung dan singkong. sebelum tanam, tanaman yang sering ditanam seperti jagung dan singkong paling sedikit dilakukan pengolahan tanah
terlebih dahulu. Selain itu, area penanaman telah diubah menjadi terasering untuk mengurangi erosi permukaan dan erosi alur yang disebabkan oleh air yang mengalir. Saat menanam tanaman berkayu, Anda seringkali menyiapkan tanah terlebih dahulu. Buat lubang berukuran 1×1 meter dengan kedalaman 60–80 cm. Bahan organik segar akan ditambahkan ke dalam lubang berupa daun atau sisa tanaman lainnya, kemudian kompos dan tanah akan ditutup dengan kombinasi pupuk.
Sedikit bahan organik yang tersisa di tanah setelah diubah menjadi sampah organik segar yang dapat digunakan tanaman. Penambahan tumbuhan lain memiliki keuntungan memberikan komponen organik bagi tumbuhan yang akan diletakkan disana. Kompos yang ditambahkan ke tanah selain menggunakannya sebagai media dapat membantu penguraian bahan organik segar yang terkubur di bawahnya. Pupuk NPK juga ditambahkan pada lapisan di bagian atas agar tanaman yang akan ditanam nantinya dapat tumbuh dengan sehat. Setelah diamati, diketahui bahwa lahan di sekitarnya masih dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman. Tanaman musiman masih bisa ditanam di lahan selain tanaman tahunan.
Padahal, tanaman semusim yang dipilih juga harus tanaman yang cocok yang dapat bertahan hidup dalam kondisi yang lebih rendah dari tanah. Selain itu, persiapan lahan diperlukan, termasuk strategi yang tepat untuk mengelola tanah, membuat terasering di lahan miring, memastikan drainase yang baik, dan lainnya. Karena kurangnya bahan organik di dalam tanah, tanaman yang dibudidayakan di tanah juga membutuhkan lebih banyak pupuk. Hal ini dilakukan untuk mendorong pertumbuhan yang sehat dan berbuah pada tanaman yang dibudidayakan.
D. KESIMPULAN
Tanah Dusun Watu Gedug terdiri dari tuffa dan karst, yang memiliki sedikit bahan organik. Budidaya tanaman di lahan masih memungkinkan, namun kondisi penanamannya harus sesuai dengan lahan dan memungkinkan mereka beradaptasi dengannya. Hal ini dilakukan sebelum tanam dengan mengolah tanah dan menggunakan teknik penanaman dan cara pemeliharaan yang sesuai dengan jenis tanaman yang ditanam.
DAFTAR PUSTAKA
Hasil, J., Bidang, P., Dan, G., Di, C. S.-, Kabupaten, P. S., & Tengah, T. (2022). EINSTEIN (e-Journal).
Frisia, S., & Borsato, A. (2010). Chapter 6 Karst. Developments in Sedimentology, 61(C), 269–318. https://doi.org/10.1016/S0070-4571(09)06106-8
Nuraini, F., & Pramono, H. (2015). Kajian Karakteristik Dan Potensi Kawasan Karst Untuk Pengembangan Ekowisata Di Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul. Geomedia:
Majalah Ilmiah Dan Informasi Kegeografian, 11(1).
https://doi.org/10.21831/gm.v11i1.3576
Prasetyo, B. H., Suharta, N., & Yatno, D. E. (n.d.). Karakteristik Tanah-Tanah Bersifat Andik dari Bahan Piroklastis Masam di Dataran Tinggi Toba The Characteristic of Soils with Andic Properties Derived from Acid Pyroclastic Materials in Toba High Land. 1–14.
Rizalli Saidy, A. (2018). Bahan organik tanah: klasifikasi, fungsi dan metode studi.
Haryono, E., & Adji, T. (2017). Geomorfologi dan Hidrologi Karst: Bahab Ajar. 45.
Anonim. (2018). Topografi Karst ( Karst Topography ) definisi. E-Learning UPN Veteran Yogyakarta.
Yusuf, M. (2016). Melacak Jejak Islamisasi Pangeran Dipanegara di Kecamatan Pajangan Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. … : Jurnal Bahasa, Peradaban Dan Informasi Islam, 17(1).
http://ejournal.uin-suka.ac.id/adab/thaqafiyyat/article/view/1085%0Ahttp://ejournal.uin- suka.ac.id/adab/thaqafiyyat/article/viewFile/1085/754
LAMPIRAN