• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN HASIL OBSERVASI LEMBAGA AMIL ZAKAT DANA KEMANUSIAAN DHUAFA (LAZ DKD) KABUPATEN MAGELANG

N/A
N/A
Ardy Setiawan

Academic year: 2024

Membagikan " LAPORAN HASIL OBSERVASI LEMBAGA AMIL ZAKAT DANA KEMANUSIAAN DHUAFA (LAZ DKD) KABUPATEN MAGELANG"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN HASIL OBSERVASI

LEMBAGA AMIL ZAKAT DANA KEMANUSIAAN DHUAFA (LAZ DKD) KABUPATEN MAGELANG

Disusun guna memenuhi tugas UAS dosen pengampu Dr. Agus Waluyo M. Ag.

Disusun oleh :

Ardy Setiawan (63020190168)

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SALATIGA

2023

(2)

A. RINGKASAN EKSEKUTIF

Dana Kemanusiaan Dhuafa (LAZ DKD) adalah lembaga amil zakat resmi yang mengelola zakat, infak, sedekah, wakaf dan dana sosial lainnya. Lembaga Amil Zakat Dana Kemanusiaan Dhuafa (yang selanjutnya disebut DKD ) Dhuafa (LAZ DKD) didirikan di Magelang pada tanggal 12 Juli 2004 oleh Badan Pengurus Yayasan Dana Kemanusiaa Dhuafa (DKD) melalui Akte Notaris Kun Setyowati, SH. No. 6 yang kemudian disahkan melalui SK Menkumham RI AHU-89.AH.01.04 tahun 2009. Kemudian diperbarui dengan Akta Notaris Arif Himawan, S.H.,M.M.Kn nomor 15 dan disahkan melalui SK Menkumham RI AHU-0000093-AH.01.05 tahun 2017. Saat ini LAZ DKD telah memiliki izin operasional sebagai LAZ tingkat kota/kabupaten untuk wilayah Magelang melalui SK Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Jawa Tengah No. 551 tahun 2018.

LAZ DKD merupakan lembaga nirlaba yang berfokus pada pengelolaan dana ummat berupa: zakat, infaq, wakaf dan dana sosial lain yang berasal dari perseorangan, lembaga, perusahaan ataupun instansi lainnya. LAZ DKD berkomitmen untuk mengurai permasalahan ummat melalui pengelolaan dana ummat secara amanah, transparan dan profesional yang diwujudkan dalam berbagai program sosial pemberdayaan dan pemandirian ummat secara bermartabat. LAZ DKD mempunyai kewajiban yaitu menghimpun dana sebesar Rp.3.000.000.000 setiap tahunnya.

Dalam mengelola dana ZISWAF tersebut, LAZ DKD membagi program- program ke dalam 8 bidang diantaranya, Sahabat Peduli, Sahabat Yatim, Sahabat Berdaya, Sahabat Sehat, Sahabat Juara, Sahabat Dakwah, Sahabat Qurban, dan Sahabat Ramadhan. LAZ DKD mempunyai visi menjadi Lembaga Amil Zakat terpercaya dalam membangun kemandirian ummat dan misi mengoptimalkan kualitas pengelolaan ZISWAF yang amanah, profesional, dan transparan. Pendayagunaan ZISWAF yang kreatif, inovatif, dan produktif, mengembangkan kemitraan dengan masyarakat, perusahaan, pemerintah, 9 dan LSM dalam maupun luar negeri serta memberikan pelayanan informasi, edukasi, dan advokasi kepada masyarakat penerima manfaat.

B. LATAR BELAKANG LEMBAGA DATA PERUSAHAAN

Nama Lembaga : LAZ DKD(Lembaga Amil Zakat Dana Kemanusiaan Dhuafa)

(3)

Alamat : Jl. Serayu Tim., Kedungsari, Kec. Magelang Utara, Kota Magelang, Jawa Tengah 59155.

E-mail : [email protected]

Nomor Telepphone : (0293) 313713

Website : www.lazdkd.org

Tanggal Pendirian : 12 Juli 2004

C. ANALISIS FAKTOR PENDUKUNG DAN PENHAMBAT LAZ DKD 1. Faktor Pendukung

a. Internal 1) Visi DKD

Sesuai dengan visi DKD yang bercita-cita mengusahakan lembaga amil zakat terpercaya dalam membangun kemandirian umat. Kepercayaan muzaki disini benar-benar DKD usahakan melalui profesionalitas dan kejelian dalam mengidentifikasi proses pemberian yang sesuai kepada penerima manfaat.

Sehingga dana yang terhimpun dari para muzaki tersalurkan secara benar dan terarah (obyektif).DKD juga berusaha untuk selalu melakukan proses tasharuf sesuai dengan standar operasional kerja DKD melalui alur pendayagunaan, sehingga pengurus wajib menaati peraturan yang telah dibuat.

2) Sumber Daya Manusia

Sebagian besar pengurus DKD telah menyelesaikan pendidikan strata satu atau Sarjana, artinya kemampuan sumber daya manusia terkait dengan perencanaan, operasional, pelaksanaan, evaluasi, hingga persoalan administratif tentu cukup memadai dan mendukung. Hal ini sangat berpengaruh terkait sumbangsih konsep-konsep program inovatif dan kreatif hingga menyikapi persoalan-persoalan yang dihadapi selama operasional.

3) Sarana dan Prasarana

Fasilitas berupa gedung hingga perlengkapan pendukung operasional DKD seperti komputer dan kendaraan transportasi tersedia cukup baik sehingga membantu proses kerja pengurus DKD Magelang.

4) Finansial

Dana yang terkumpul melalui program-program fundraising yang kreatif cukup banyak sehingga mampu menghasilkan program-program lending yang baik dan berdayaguna. Sehingga finansial cukup banyak

(4)

berperan dalam perkembangan serta keberlangsungan lembaga. Semakin banyak dana semakin banyak pula jumlah penerima manfaatnya.

b. Faktor Eksternal 1) Jumlah Umat Islam

Jumlah umat Islam yang banyak di Magelang dan sekitarnya menjadi pasar sekaligus peluang yang cukup baik untuk lembaga karitas seperti DKD.

Hal ini ditambah dengan jumlah masyarakat yang telah berada pada level mampu dan wajib zakat yang semakin berkembang dan menunjukkan trend positif baik segi ekonomi maupun kesadaran zakatnya.

2) Jumlah Lembaga Kompetitor

Banyaknya lembaga karitas kompetitor di Magelang khususnya dan Jawa Tengah umumnya menjadi motivasi DKD untuk terus berkomitmen menjadi sahabat dhuafa nomor satu yang professional dan memberikan program-program yang bermanfaat serta berdayaguna.

2. Penghambat a. Faktor Internal

1) Belum Banyak Pilot Project yang Dapat Dijadikan Rujukan

Pilot project yang dimaksud adalah lembaga-lembaga atau person yang sukses mengimplementasikan zakat dan wakaf secara produktif. Mayoritas pembagian zakat masih konvensional-konsumtif.

2) Minimnya Jumlah Pengelola LAZ DKD Magelang

Jumlah pengelola DKD yang terbatas menyebabkan intensitas kontrol atau pendampingan yang kurang terhadap penerima manfaat khususnya dengan kategori produktif.

3) Keluar Masuknya Pengelola LAZ DKD Magelang

Lembaga amil zakat seperti DKD yang basisnya lembaga swasta menjadikan pengelola kurang terikat tidak seperti halnya lembaga pemerintah seperti BAZDA (Badan Amil Zakat Daerah) atau BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) sehingga sangat mudah untuk pengelola atau pengurus keluar dan masuk lembaga. Pengelola yang keluar masuk mengakibatkan pemahaman lapangan terhadap penerima manfaat kurang efektif.

(5)

b. Faktor Eksternal

1) Mentalitas Mustahik

Mentalitas yang minim berefek pada perilaku yang tidak sesuai dengan perjanjian awal. Misalnya saja pada ternak produktif, banyak mustahik yang menjual ternaknya tanpa sepengetahuan DKD sebelum waktu jual yang disepakati. Modal usaha, ada yang bangkrut atau modal tersebut untuk kebutuhan lain selain dagang baik untuk membayar utang, memenuhi kehidupan konsumtif (makan) dan untuk membayar biaya pendidikan.

2) Budaya Serba Instan

Program pelatihan dengan waktu kursus yang lama berbulan-bulan tanpa digaji (meskipun sudah diberi uang transport), membuat banyak yang tidak mengikuti pelatihan hingga selesai. Budaya serba instan dan enggan berinvestasi waktu menjadi fenomena masyarakat saat ini.

3) Budaya Konsumtif

Mustahik atau penerima manfaat mayoritas ingin menerima dana zakat secara langsung dan memanfaatkan untuk hal-hal yang konsumtif menjadikan kendala penerapan zakat secara produktif.

D. ANALISIS MODEL PENGELOLAAN

Menurut UU No. 23 Tahun 2011 Pasal 17 tentang Pengelolaan Zakat, dinyatakan bahwa dalam pelaksanaan distribusi dan penggunaan zakat, masyarakat membentuk LAZ. Perlu dibedakan bahwa BAZ dibentuk oleh pemerintah, sementara LAZ dibentuk oleh masyarakat. Kedua jenis lembaga tersebut pada dasarnya memiliki fungsi untuk mengumpulkan, mendistribusikan, dan memanfaatkan zakat sesuai dengan prinsip syariah Islam. Oleh karena itu, organisasi pengelola zakat terbagi menjadi dua, yaitu BAZ (Badan Amil Zakat) dan LAZ (Lembaga Amil Zakat).

Lembaga Amil Zakat memiliki berbagai fungsi manajemen yang diterapkan dalam praktiknya, termasuk manajemen struktural, manajemen pengelolaan, manajemen operasional, dan lain-lain. Sebagai lembaga zakat, mereka mengikuti prinsip-prinsip yang menjadi panduan kerja mereka berdasarkan UU No. 23 Tahun 2011, yang meliputi:

1. Prinsip Syariat Islam.

Dalam menjalankan tugas dan fungsi mereka, Lembaga Pengelola harus mematuhi aturan-aturan yang ditetapkan dalam syariat Islam, baik dalam proses rekrutmen pegawai maupun dalam pendistribusian zakat.

(6)

2. Prinsip Amanah.

Pengelolaan zakat harus dilakukan oleh lembaga yang dapat dipercaya, sehingga masyarakat memiliki kepercayaan penuh terhadap integritas dan kejujuran lembaga tersebut.

3. Prinsip Kemanfaatan.

Lembaga Pengelola harus bertujuan untuk memberikan manfaat kepada mustahik (penerima zakat) agar zakat yang dikumpulkan dapat digunakan dengan efektif dan bermanfaat.

4. Prinsip Keadilan.

Dalam pendistribusian zakat, Lembaga Pengelola Zakat harus memastikan adanya keadilan, di mana zakat didistribusikan secara adil dan proporsional sesuai dengan kebutuhan dan hak-hak mustahik.

5. Prinsip Kepastian Hukum.

Dalam pengelolaan zakat, harus ada jaminan kepastian hukum bagi mustahik dan muzaki (pemberi zakat), sehingga semua proses terkait zakat dapat dilakukan dengan transparansi dan kejelasan.

6. Prinsip Terintegrasi.

Pengelolaan zakat harus dilakukan secara terintegrasi dan berjenjang, dengan tujuan meningkatkan efisiensi dalam pengumpulan, pendistribusian, dan pemanfaatan zakat.

7. Prinsip Akuntabilitas.

Pengelolaan zakat harus dapat dipertanggungjawabkan dan dapat diakses oleh masyarakat. Pertanggungjawaban merupakan kewajiban untuk memberikan penjelasan dan informasi mengenai setiap tindakan dan keputusan yang diambil, sehingga dapat disetujui, ditolak, atau dikenakan sanksi jika terdapat penyalahgunaan.

Jenis dana yang dikelola lembaga zakat ada berbagai jenis diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Sumber Dana Zakat.

Terdapat dua jenis dana zakat yang dikelola oleh lembaga zakat, yaitu dana zakat umum dan dana zakat khusus. Dana zakat umum adalah dana zakat yang diberikan oleh muzakki tanpa ada permintaan khusus. Sedangkan dana

(7)

zakat khusus adalah dana zakat yang diberikan oleh muzakki dengan permintaan tertentu.

2. Dana Infaq dan Sadaqah.

Ini adalah dana yang disumbangkan oleh para donatur kepada lembaga zakat. Infaq berarti mengeluarkan atau memberikan sebagian pendapatan untuk kepentingan yang diamanahkan oleh ajaran Islam. Jumlah infaq tidak ditentukan dan penggunaannya tidak ditentukan secara khusus, sehingga infaq memiliki sasaran yang luas untuk kepentingan umat.

3. Dana Wakaf.

Ini adalah dana yang secara khusus ditujukan untuk kepentingan wakaf.

4. Dana Pengelola.

Dana ini digunakan oleh lembaga zakat untuk membiayai kegiatan operasional, yang berasal dari hak amil dari dana amil, sebagian dana infaq atau sadaqah, serta sumber lain yang sesuai dengan prinsip syariat Islam dan tidak melanggar ketentuan.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa jika lembaga pegelola zakat mampu mengelola zakat yang ada secara efektif dan efisien maka dana-dana zakat akan tersalurkan dan memiliki nilai manfaat yang tinggi krpada mustaqik. Selain itu rasa percaya muzakki terhadap lembaga pengelola juga meningkat. Selain itu, seluruh organ pengelola zakat harus memahami dengan baik syariat Islam maupun seluk beluk zakat, sehingga pengelolaan zakat tetap berada dalam hukum dan sejalan dengan asas pengelolaan zakat.

Berdasarkan laporan keuangan tahun 2019 yang dipublikasikan LAZ DKD, sumber penerimaan dana zakat dan wakaf berasal dari zakat maal, zakat profesi, zakat fitrah & fidya serta penerimaan bagi hasil. Kemudian penyalurannya sesuai dengan ketentuan dan syarat yang berlaku untuk diserahkan kepada penerima.

Ada pula penerimaan dana dari Infaq/Sedekah Terikat dan Tidak Terikat yang disalurkan kembali kepada masyarakat yang berhak menerima dan membutuhkan guna kemaslahatan umat.

Berikut ini Rincian penerimaan dana ZIS yang dipublikasikan oleh LAZ DKD Kabupaten Magelang periode 2019:

(8)
(9)
(10)
(11)

E. KESIMPULAN

Dari hasil observasi mengenai lembaga pengelola zakat LAZ DKD Kabupaten Magelang, dapat disimpulkan bahwa Lembaga ini secara khusus mengelola dana ZISWAF melalui platform digital yaitu website www.lazdkd.org . Program yang ada di Lembaga ini sudah banyak, namun SDM, literasi masyarakat dan branding masih perlu ditingkatkan agar kesadaran masyarakat dan ketepatan penerima program menjadi lebih baik.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam skripsi yang berjudul tinjauan hukum Islam terhadap lembaga amil zakat (LAZ), penulis menjelaskan bahwa ditinjau dari ajaran hukum Islam mengenai amil zakat antara

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem laporan keuangan pada Lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa Republika; dan mengetahui apakah pelaporan keuangan Lembaga Zakat

LAZ RIZKI merupakan lembaga amil zakat yang lahir dari Jember. Bermula dari kesederhanaan berfikir dalam bingkai kemanusiaan, mengalir pada muara harapan

Pengaruh Penyaluran LAZ (Lembaga Amil Zakat) terhadap Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Kecil di Desa Sidogiri Studi Kasus... pada LAZ (Lembaga Amil Zakat)

Dalam skripsi yang berjudul tinjauan hukum Islam terhadap lembaga amil zakat (LAZ), penulis menjelaskan bahwa ditinjau dari ajaran hukum Islam mengenai amil zakat antara

Sementara itu, pengeloalaan dana umat seperti Zakat, Infaq, dan Sedekah yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa Kota Makassar sebagai wadah oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang

Pada hakekatnya zakat, infaq/sedekah maupun dana sosial lainnya yang diamanahkan melalui Lembaga Amil Zakat Swadaya Ummah didayagunakan untuk meningkatkan taraf hidup kaum

Dalam penghimpunan dana zakat dompet dhuafa memiliki strategi tidak jauh beda dengan lembaga amil zakat yang lainnya. Karena penghimpunan dana dalam sebuah lembaga