LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
Makalah
Disusun untuk memenuhi tugas
mata kuliah Akuntansi Keuangan III yang dibina oleh Ibu Mirza Maulinarhadi
Oleh:
Rosyida Maulina (135030201111183) Klara Noviantika S (135030207111103)
Tri solichach Y.M (135030200111103) Rizky Novarinda (135030200111124)
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI JURUSAN ILMU ADMINISTRASI BISNIS
Dovember 2014
BAB I PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Konsep akuntansi penggabungan usaha, yang terdapat pada APB Opinion No. 16, secara jelas meliputi penggabungan dengan satu atau lebih perusahaan menjadi anak perusahaan ketika suatu perusahaan lain (disebut sebagai induk perusahaan) memperoleh pengendalian kepemilikan terhadap anak perusahaan tersebut. Pada umumnya hubungan entitas induk-anak ini muncul melalui adanya akuisisi saham. Biasanya, pengendalian kepemilikan pada perusahaan lain diperoleh secara langsung dengan memperoleh hak mayoritas (lebih dari 50%) atas saham berhak suara.
Penggabungan usaha yang terjadi karena pengendalian, tidak menyatukan semua operasi entita-entitas yang tergabung, melainkan masing-masing entitas tetap beroperasi secara terpisah, hanya saja berada dalam satu pengendali yang sama. Pencatatan laporan keuangan yang ada pada perusahaan yang menerapkan hubungan entitas induk-anak jelas berbeda dengan perusahaan yang tidak sedang menjalankan bentuk penggabungan usaha semacam itu. Di dalam PSAK telah diatur bahwa perusahaan dalam hubungan entitas induk- anak harus membuat laporan keuangan gabungan, atau biasa disebut laporan keuangan konsolidasi. Laporan ini terdiri dari neraca konsolidasi, laporan laba rugi konsolidasi, laporan saldo laba konsolidasi, dan laporan arus kas konsolidasi.
Di dalam makalah ini, penulis ingin mempertajam penjelasan pada konsep laporan keuangan konsolidasi itu sendiri, serta memberikan contoh neraca konsolidasi, laporan laba rugi konsolidasi, dan laporan saldo laba konsolidasi. Laporan arus kas konsolidasi tidak dijelaskan pada penulisan makalah ini.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Apakah definisi dari laporan keuangan konsolidasi?
2. Apakah kegunaan adanya laporan keuangan konsolidasi?
3. Apakah keterbatasan laporan keuangan konsolidasi?
4. Bagaimanakah prinsip substance over form dan laporan konsolidasi?
5. Bagaimanakah prosedur laporan keuangan konsolidasi?
6. Bagaimanakah laporan laba rugi konsolidasi?
7. Bagaimanakah konsolidasi entitas bertujuan khusus (EBK)?
TUJUAN PEMBAHASAN
Pembahasan materi ini bertujuan agar:
1. Mengetahui definisi dari laporan keuangan konsolidasi.
2. Mengetahui kegunaan adanya laporan keuangan konsolidasi.
3. Mengetahui keterbatasan laporan keuangan konsolidasi.
4. Mengetahui prinsip substance over form dan laporan konsolidasi.
5. Mengetahui prosedur laporan keuangan konsolidasi.
6. Mengetahui laporan laba rugi konsolidasi.
8. Mengetahui konsolidasi entitas bertujuan khusus (EBK)?
BAB II PEMBAHASAN
DEFINISI LAPORAN KONSOLIDASI
Saat ini, hampir semua perusahaan besar membuat laporan keuangan konsolidasi.
Walaupun orang sering mengira bahwa perusahaan-perusahaan raksasa merupakan perusahaan tunggal, pengamatan lebih dekat mengungkapkan bahwa tiap perusahaan sebenarnya terdiri dari perusahaan-perusahaan yang terpisah. Contohnya PT Media Nusantara Citra memiliki banyak anak perusahaan diantaranya: Jaringan Televisi (RCTI, TPI, Global TV), Jaringan Radio (Trijaya, Radio Dangdut TPI, ARG Global, Women Radio), dan Surat Kabar (Koran Seputar Indonesia-Sindo).
Laporan Keuangan Konsolidasi merupakan syarat yang diberikan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) untuk menyajikan posisi keuangan dan hasil operasi untuk Induk Perusahaan (entitas pengendali) dari satu atau lebih Anak Perusahaan (entitas yang dikendalikan) seakan-akan entitas-entitas tersebut merupakan satu entitas perusahaan.
Laporan keuangan konsolidasi ini wajib disusun oleh entitas induk atau pengendali tertinggi dalam suatu kelompok usaha dimana induk perusahaan memiliki banyak anak perusahaan bahkan anak perusahaan juga mungkin memiliki anak lain.
Pada dasarnya, laporan konsolidasi adalah laporan asumsi yang memandang makna ekonomi suatu entitas. Secara hukum, entitas induk dan entitas anak adalah entitas-entitas yang berbeda, bahkan undang-undang anti trust mensyaratkan arm’s lengt transaction diantara entitas-entitas yang berafiliasi (hubungan istimewa antara antara perusahaan pengendali dan atau perusahaan yang dikendalikan). Syarat ini berarti entitas induk tidak diperkenankan membedakan harga beli atau jual kepada atau dari entitas anak dan perusahaan lain yang tidak berafiliasi.
Berdasarkn PSAK 4, perusahaan yang mengendalikan perusahaan lain (Perusahaan Induk), diwajibkan untuk menyusun laporan keuangan konsolidasi. Perusahaan induk tidak hanya menyusun Laporan Individunya karena hanya satu laporan yang berlaku secara umum yaitu Laporan Konsolidasi. Tetapi laporan individu masih bisa dibuat namun dalam taraf sebagai tambahan infomasi.
PRINSIP SUBSTANCE OVER FORM DAN LAPORAN KONSOLIDASI
PSAK 4 revisi 2009 menyatakan bahwa pengendalian atas entitas lain merupakan acuan apakah suatu entitas diwajibkan menyusun laporan konsolidasi. Pada umumnya pengendalian atau perusahaan lain ditandai atas kepemilikan lebih dari 50% saham perusahaan lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun di beberapa kasus dijumpai bahwa ada kepemilikan dibawah 50% sudah mengendalikan perusahaan lain namun di kasus lain malah sebaliknya. Ini terjadi jika perusahaan tersebut:
Memiliki kekuasaan yang melebihi setengah hak suara sesuai dengan perjanjian dengan investor lain.
Memiliki kekuasaan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasional entitas berdasarkan anggaran dasar atau perjanjian.
Memiliki kekusaan untuk menunjuk atau mengganti sebagian besa dewan direksi atau dewan komisaris atau organ pengatur setara dan mengendalikan entitas melaui dewan atau organ tersebut.
Memiliki kekuasaan untuk memberikan suara mayoritas pada rapat dewan direksi atau dewan komisaris atau organ pengatur setara dan mengendalikan entitas melaui dewan atau organ tersebut.
Sebaliknya peusahaan dengan kepemilikan diatas 50% namun tidak memiliki pengendalian dikarenakan:
Kepemilikan dimaksudkan untuk sementara atau akan dialihkan dalam jangka pendek.
Entitas anak dibatasi oleh restriksi jangka panjang sehingga sangat mempengaruhi kemampuannya dalam mentransfer dana kepada entitas induk. Dengan demikian, bahwa kepemilikan saham tidak menjadi patokan munculnya kewajiban pembuatan laporan konsolidasi. Hal ini terjadi karena PSAK berpacu pada prinsip Substance over form yaitu lebih mengutamakan makna ekonomi transaksi atau kondisi dibanding dengan bentuk hukumnya.
Hak Suara dan Pengendalian
PSAK 4 lebih mengacu pada hak suara dalam menentukan pengendalian. Dalam PT hak suara berasal dari kepemilikan saham biasa. Dengan pengertian lain, pengendalian timbul atas kepemilikan entitas anak yang berbentuk (PT) karena terlihat dari istilah ‘Hak Minoritas’
yang berarti pemegang saham yang lebih kecil.
Hak suara tidak sama dengan kepemilikan saham biasa, walaupun kepemilikan saham biasa suatu entitas memberikan hak suara atas entitas tersebut. Hak suara diidentifikasikan dari kekuasaan mengatur kebijakan keuangan dan operasional entitas lain. Dalam pengertian lebih jauh, hak suara dapat timbul dengan kepemilikan yang tidak signifikan atau bahkan tanpa kepemilikan atau tanpa penempatan modal sama sekali pada entitas lain. Suatu entitas mungkin tidak memiliki modal dalam Entitas Bertujuan Khusus (EBK), tetapi entiitas tersebut dapat saja memenuhi persyaratan yang menimbulkan kewajiban menyusun laporan konsolidasi jika secara substansi terdapat pengendalian atas EBK tersebut. Hal ini dapat terjadi jika:
Secara substansi, kegiatan EBK dijalankan untuk mewakili entitas sesuai dengan kebutuhan khususnya.
Secara Substansi, entitas mempunyai kekuasaan dalam pengambilan keputusan untuk memperoleh sebagian besar manfaat dari kegiatan EBK.
Secara substansi, entitas mempunyai hak untuk memperoleh sebagian besar manfaat EBK, tetapi juga menanggung risiko dari aktivitas EBK.
Secara substansi, entitas memperoleh mayoitas hak residu dan menanggung risiko kepemilikan yang terkait dengan EBK atau asetnya untuk mempeoleh manfaat dari aktivitas EBK yang bersangkutan.
KEGUNAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
Laporan keuangan konsolidasi sering kali merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan gambaran yang jelas dari total sumberdaya perusahaan hasil gabungan yang berada dibawah kendali induk perusahaan dan hasil pengelolaan sumberdaya tersebut. Ketika anak perusahaan menghasilkan laba, laba tersebut akan diakui oleh induk perusahaan, dan sebaliknya induk perusahaan tidak dapat menghindari kerugian dari anak perusahaan yang tidak menghasilkan keuntungan.dengan melihat laporan keuangan konsolidasi pemilik dan pemilik potensian lebih mampu untuk menentukan efisiensi dari manajemen dalam memanfaatkan sumberdaya yang berada dalam kendalinya.
Keditur jangka penjang dari induk perusahaan juga memperhatikan kegunaan laporan keuangan konsolidasi karena pengaruh operasional anak perusahaan terhadap kesehatan keseluruhan perusahaan dan masa depan induk perusahaan, relevan untuk pengambilan keputusan keditur. Manajemen induk perusahaan mempunyai kepentingan yang berkelanjutan untuk informasi terkini baik mengenai operasi gabungan dari entitas konsolidasi dan juga mengenai perusahaan-perusahaan individual yang membentuk entitas konsolidasi.
KETERBATASAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
Beberapa keterbatasan terpenting dari laporan keuangan konsolidasi adalah sebagai berikut:
1. Karena hasil operasi dan posisi keuangan dari masing-masing perusahaan yang dimasukan dalam laporan konsolidasi tidak diungkapkan kinerja atau posisi buruk dari satu atau lebih perusahaan dapat disembunyikan oleh kinerja yang baik dari perusahaan lainnya.
2. Tidak semua saldo laba konsolidasi tersedia untuk dividen induk perusahaan karena sebagian dapat mencerminkan bagian induk perusahaan atas laba anak perusahaan yang belum dibagikan.
3. Karena rasio-rasio keuangan berdasarkan laporan keuangan konsolidasi dihitung berdasarkan informasi gabungan, rasio-rasio tersebut tidak mewakili perusahaan manapun yang dikonsolidasi, termasuk induk perusahaan.
4. Akun-akun yang sama dari perusahaan-perusahaan yang berbeda digabungkan dalam konsolidasi, bisa jadi tidak seluruhnya dapat diperbandingkan.
5. Informasi tambahan tentang masing-masing perusahaan atau kelompok perusahaan yang termasuk dalam konsolidasi sering diperlukan untuk penyajian wajar, tetapi
pengungkapan tersebut dapat menyebabkan catatan atas laporan keuangan menjadi sangat banyak.
PROSEDUR KONSOLIDASI Periode Laporan Konsolidasi
Laporan konsolidasi merupakan kewajiban yang ada pada saat pengendalian telah terjadi. Laporan keuangan konsolidasi disusun atas dasar satu tahun atau 12 bulan, yakni per 1 Januari – 31 Desember tiap tahun. Apabila akuisisi saham entitas anak terjadi pada awal tahun, maka penyusunan laporan keuangan konsolidasi tidak akan bermasalah. Akan tetapi bila akuisisi saham entitas anak terjadi bukan di awal atau di akhir tahun, akan timbul masalah penyusunan laporan keuangan konsolidasi pada akhir tahun pertama setelah terjadi hubungan entitas induk-anak, karena aturan periode laporan keuangan konsolidasi 1 Januari hingga 31 Desember tiap tahun.
Kewajiban penyusunan laporan keuangan konsolidasi muncul sejak terjadinya hubungan entitas induk-entitas anak. Laporan keuangan konsolidasi terdiri dari:
Laba-rugi konsolidasi
Neraca konsolidasi
Laba ditahan konsolidasi
Arus kas konsolidasi
Pada tanggal akuisisi hanya neraca konsolidasi yang disusun, sementara laba-rugi entitas anak menjadi hak entitas induk pada periode setelah akuisisi. Laporan laba-rugi dan laporan konsolidasi entitas anak lainnya dikonsolidasi pada periode setelah akuisisi.
Transaksi Antarperusahaan
Laporan konsolidasi menggambarkan kesatuan entitas induk dan entitas anak yang dalam operasi sehari-harinya adalah entitas terpiah. Pengendalian entitas induk atas entitas anak menyebabkan operasi entitas anak dipengaruhi oleh entitas induk dalam banyak hal.
Dengan demikian, akan banyak terjadi transaksi bisinis di antara kedua entitas tersebut.
Dalam pembahasan selanjutnya, setiap transaksi yang dilakukan entitas induk pada anak atau sebaliknya, atau transaksi yang dilakukan satu entitas anak dengan entitas anak lain dalam hubungan entitas induk-anak, disebut dengan transaksi antarperusahaan, demikian pula transaksi utang-piutang antarperusahaan.
Transaksi antarperusahaan menimbulkan keterkaitan akun-akun dalam laporan keuangan entitas induk dan anak. Transaksi penjualan barang dagang entitas induk pada anak akan menyebabkan akun “penjualan” entitas induk dan akun “pembelian” entitas anak saling terkait. Transaksi utang-piutang antarperusahaan menyebabkan akun “utang” dan akun
“piutang” saling terkait di antara kedua entitas. Untuk pembahasan selanjutnya, digunakan
istilah “akun antarperusahaan” atas setiap akun entitas induk dan entitas anak atau akun entitas anak dengan entitas anak lain dalam hubungan induk-anak.
Transaksi antar perusahaan tidak dipandang sebagai transaksi dalam penyusunan laporan konsolidasi. Laporan konsolidasi memandang entitas induk dan entitas anak adalah satu, sehingga bila entitas induk melakukan transaksi dengan anak, hal itu melakukan transaksi dengan diri sendiri. Transaksi antar perusahaan merupakan transaksi internal dari sudut pandang konsolidasi. Apabila entitas induk menjual aset kepada entitas anak, maka dari sudut pandang konsolidasi ini sama artinya dengan entitas induk menjual aset pada diri sendiri, karena entitas induk dan entitas anak adalah satu. Laporan keuangan konsolidasi tidak mengakui transaksi seperti ini, dan menganggap penjualan tersebut semata-mata sebagai pemindahan (transfer) aset saja. Karena itu, dalam penyusunan kertas kerja konsolidasi transaksi-transaksi seperti ini harus dieliminasi. Konsolidasi hanya mengakui transaksi dengan pihak-pihak diluar hubungan induk-anak. Entitas lain di luar entitas induk- anak selanjutnya disebut sebagai pihak eksternal.
Kepentingan Nonpengendali
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa laporan konsolidasi akan menjadi kewajiban suatu entitas manakala entitas tersebut memiliki hak pengendalian dalam entitas lain.
Kepemilikan suara di atas 50% merupakan salah satu ciri adanya pengendalian yang mewajibkan entitas induk menyusun laporan keuangan konsolidasi. Apabila entitas anak berbentuk perseroan terbatas (PT), kepemilikan saham menjadi indikasi hak suara.
Kepemilikan 100% saham entitas anak dalam kondisi normal akan memberikan hak pengendalian penuh bagi entitas induk. Meskipun kepemilikan entitas induk atas saham biasa entitas anak kurang dari 100%, entitas induk tetap memiliki hak pengendalian atas entitas anak jika terdapat pemilik lain dalam entitas anak yang harus diberikan haknya. Inilah yang disebut kepentingan nonpengendali yang dilindungi oleh UU No.40 tahun 2007 menyebut kepentingan Nonpengendali dengan istilah Pemilik Saham Minoritas. Pemilik saham minoritas diberi diberi hak menjual sahamnya dengan harga yang wajar apabila tidak menyetujui penggabungan, peleburan atau pengambilalihan yang dilakukan.
PSAK 4 Revisi 2009 mendefinisikan Kepentingan Nonpengendali sebagai ekuitas entitas anak yang tidak dapat diatribusikan secara langsung maupun tidak langsung pada entitas induk. Kepentingan Nonpengendali akan berubah seiring dengan perubahan ekuitas anak yang disebabkan pengumuman laba dan deviden oleh entitas anak. PSAK 4 revisi 2009 mensyaratkan kepentingan nonpengendali atas laba-rugi entitas anak yang dikonsolidasi selama periode pelaporan diidentifikasikan secara terpisah dalam laporan konsolidasi.
Kepentingan nonpengendali atas aset neto (ekuitas) terdiri dari:
1. Jumlah kepentingan nonpengendali pada tanggal penggabungan usaha awal.
2. Bagian kepentingan nonpengendali atas perubahan ekuitas sejak tanggal penggabungan usaha.
Kepentingan Nonpengendali disajikan di bagian ekuitas dalam laporan posisi keuangan konsolidasi, terpisah dari ekuitas pemilik entitas induk.
Sebagai contoh, PT A mengakuisisi saham biasa PT B pada harga yang sama dengan nilai bukunya pada tanggal 31 Desember 2011. Kekayaan pemegang saham PT B saat itu terdiri dari:
Modal saham biasa Rp 7.500.000
Laba ditahan Rp 5.000.000
Total kekayaan pemegang saham Rp 12.500.000
Apabila akuisisi dilakukan atas seluruh saham PT B (100%), maka PT A memiliki pengendalian penuh atas PT B. Hal itu juga berarti bahwa tidak ada Kepentingan Nonpengendali dalam PT B.
Apabila PT A mengakuisisi 90% saham PT B, sekalipun PT A mengendalikan PT B tetapi terdapat 10% pemegang saham dalam PT B yang tidak diakuisisi oleh PT A. Kekayaan PT B yang dimiliki PT A akibat akuisisi tersebut adalah 90% dari total kekayaan PT B atau 90% x Rp 12.500.000 = Rp 11.250.000. Jadi kekayaan Kepentingan Nonpengendali adalah 10% x Rp 12.500.000 = Rp 1.250.000.
Misalkan pada periode 2012 PT B mengumumkan laba sebesar Rp 5.000.000, sementara deviden diumumkan pada tanggal 31 Desember 2012 sebesar Rp 3.000.000.
Pengumuman laba akan menambah kekayaan entitas induk sebesar 90% dari laba tersebut, yakni Rp 4.500.000. Sedangkan 10% dari laba tersebut menjadi laba Kepentingan Nonpengendali, yakni Rp 500.000. Deviden yang diumumkan PT B juga dialokasikan sebesar 10% untuk Kepentingan Nonpengendali yang mengurangi kekayaan Kepentingan Nonpengendali sebesar 10% x Rp 3.000.000 = Rp 300.000. Dengan demikian, perhitungan Kepentingan Nonpengendali pada akhir tahun 2012 adalah sebagai berikut:
Kepentingan Nonpengendali 31 Des 2011 Rp 1.250.000 Laba kepentingan nonpengendali tahun 2012 Rp 500.000
Deviden (Rp 300.000)
Kekayaan kepentingan nonpengendali 31 Des 2012 Rp 1.450.000
Dalam laporan keuangan konsolidasi PT A dan entitas anak (PT B) per 31 Desember 2012, kepentingan nonpengendali disajikan sebesar Rp 1.450.000. Dengan demikian, terjadi kenaikan kekayaan kepentingan nonpengendali di akhir periode 2012 sebesar Rp 200.000 yang berasal dari laba dan deviden untuk kepentingan nonpengendali.
Perhitungan Laporan Keuangan Konsolidasi dengan Adanya Kepentingan Nonpengendali
Praktik Saat Ini
Prosedur yang saat ini digunakan dalam praktik tidak hanya merupakan pendekatan induk perusahaan, tapi juga termasuk pendekatan entitas. Jumlah dari aset neto anak perusahaan
yang diakui di neraca konsolidasi pada tanggal akusisi pada praktiknya sama dengan pendekatan induk perusahaan. Penentuan laba netopada praktiknya mengikuti pendekatan induk perusahaan, kecuali perlakuan transaksiantarperusahaan yang umumnya konsisten dengan pendekatan entitas.
Pendapatan, Beban, dan Laba Neto Anak Perusahaan
Elemen Teori
Bagian Bagian Bagian Bagian Bagian Bagian Induk Non Induk Non- Induk Non- Perusahaan Pengendali Perusahaan Pengendali Perusahaan Pengendali
Bagian yang termasuk dalam laporan keuangan konsolidasi
Praktik di Masa Depan
Di masa depan, ada kemungkinan perubahan menuju pendekatan entitas, dimana mengharuskan perhitungan laba neto konsolidasi untuk entitas konsolidasi secara keseluruhan dan mengalokasikan laba tersebut Antara kepemilikan pengendali dan non pengendali. Maka laporan laba rugi konsolidasi akan disajikan sebagai berikut :
Pendapatan
Beban
Laba Neto
Pendapatan Rp 1.800.000.000 Beban (800.000.000) Laba Neto Konsolidasi Rp 1.000.000.000 Dikurangi : Laba Neto Konsolidasi yang
disistribusika ke kepemilika
nonpengendali (75.000.000) Laba neto konsolidasi yang didistribusikan
Ke kepemilikan pengendali Rp 925.000.000
Walaupun bentuk penyajiannya masih berfokus pada kepemilian pengendali, namun penyajian ini memperlakukan bagian laba untuk kepemilikan nonpengendali.
Praktek Saat Ini Pendekatan Entitas
Saat neto Rp 2.580.000.000 Rp 2.600.000.000
Goodwill Rp 70.000.000 Rp 87.500.000
Berdasarkan praktik saat ini, jumlah yang dialokasikan ke aset neto entitas konsolidasi adalah nilai buku induk perusahaan (Rp2.000.000.000) ditambah nilai buku penuh aset neto anak perusahaan (Rp500.000.000) ditambah bagian induk perusahaan atas kenaikan nilai aset neto anak perusahaan (RplOO.000.000 x 0,80). Goodwill dalam praktik saat ini dihitung sebagai selisih antara harga beli (Rp550.000.000) yang lebih besar dari bagian induk perusahaan atas nilai wajar aset neto anak perusahaan pada tanggal penggabungan usaha (Rp600.000.000 x 0,80). Goodwill sebesar Rp87.500.000 dihitung dari perbedaan antara nilai wajar keseluruhan PT Sarden (Rp687.500.000) dan nilai wajar aset netonya (Rp600.000.000).
Akuisisi Hak Minoritas
APB Opinion No.16 tidak memperkenankan menggunakan metode penyatuan untuk akusisi saham yang dimiliki oleh hak minoritas. Jika PT A memperoleh sisa saham beredar PT B (10% yang dimiliki oleh hak minoritas) setelah pelaksanaan penggabungan usaha, maka akuisisi tersebut tidak dikategorikan sebagai suatu penyatuan kepemilikan, bahkan jika transaksi tersebut dilaksanakan melalui pertukaran saham. Meskipun bukan merupakan penggabungan usaha, akuisisi saham tambahan tersebut dicatat berdasarkan metode pembelian, dan transaksi tersebut dicatat pada nilai wajarnya. Hasilnya adalah revaluasi 10%
aktiva bersih PT B.
NERACA KONSOLIDASI ATAS ENTITAS ANAK YANG DIKUASAI KURANG DARI 100%
Misalkan entitas induk membeli 90% saham entitas anak pada harga yang sesuai dengan nilai bukunya.Jadi,kekayaan entitas anak yang dibeli entitas induk adalah 90% x 12 500 000 = Rp 11 250 000 .Karena itu,nilai investasi adalah Rp 11 250 000 atau sebesar nilai buku yang diterima. Peraga 3-4 menyajikan pengkonsolidasian akun-akun.
Peraga 3-4 Penyusunan Laporan Konsolidasi – Kepentingan Nonpengendali (dalam ribuan)
Keterangan Konsolidasi
Kas Kas induk Rp 2000+kas anak Rp1000 Rp 3000
Piutang usaha 4000 + 2000 – 3000(eliminasi No 1) 3000
Persediaan 6750 + 3000 9750
Investasi dalam saham entitas
anak 11250 -11 250 (eliminasi No 2) -
Bangunan dan Peralatan (net) 7 000 + 6000 13000
Tanah 9000+9000 18000
Total Asset Rp 46 750
Utang usaha 5000+3500-3000(eliminasi No 1) Rp 5500
Utang Jangka Panjang 10 000 + 5000 15000
Modal saham 15000+7500-7500(eliminasi No 2) 15000
Laba ditahan 10000+5000-5000(eliminasi No 2) 10000
Kepentingan Nonpengendali 1250
Total passiva / kewajiban Rp 46750
Jurnal eliminasi dalam penyusunan neraca konsolidasi tersebut adalah : 1. Jurnal eliminasi Utang Usaha dan Piutang Usaha
Jurnal ini mengeliminasi seluruh utang piutang antarperusahaan tanpa memandang persentase kepemilikan,tetapi didasarkan pada adanya pengendalian yang memandang entitas induk dan entitas anak adalah satu.Jurnalnya adalah sebagai berikut :
Utang usaha Rp 3 000 000
Piutang usaha Rp 3 000 000
2. Jurnal Eliminasi Akun Investasi Entitas Induk dan Kekayaan Entitas Anak
Penguasaan entitas induk atas kekayaan entitas anak melalui investasi tersebut adalah 90%,sehingga jumlah kekayaan entitas anak yang dimiliki entitas induk 90% x Rp 12 500 = Rp 11 250.Jadi ,eliminasi dilakukan sebesar jumlah tersebut dengan “mendebet”
kekayaan entitas anak yang meliputi akun “modal saham “ dan “laba ditahan” dari unsur-unsur kekayaan entitas anak sebesar 90% dan “mengkredit” akun “investasi”
dalam saham “anak” milik entitas induk dengan jurnal berikut : Modal saham (90% x Rp 7,5 juta) Rp 6 750 000 Laba Ditahan (90% x Rp 5 juta ) Rp 4 500 000
Investasi dalam saham entitas anak Rp 11 250 000
Jurnal tersebut mengeliminasi 90% kekayaan entitas anak atas investasi entitas induk karena entitas anak hanya dikuasai sebesar 90% sehingga hanya ada 10% pemegang
saham nonpengendali dalam PT B.Jumlah kepentingan nonpengendali ini adalah 10% x Rp 12,5 juta = Rp 1.250.000
Jurnal eliminasi dapat dibuat sebagai berikut :
Modal saham Rp 7 500 000
Laba Ditahan Rp 5 000 000
Investasi dalam saham entitas anak Rp 11 250 000 Kepentingan Nonpengendali Rp 1 250 000
Neraca konsolidasi PT A dan PT B per 31 Desember 2011 disajikan pada peraga 3-5 Laporan konsolidasi pada dasarnya disusun berdasarkan prinsip yang telah dijelaskan sebelumnya,tetapi jika bagan akun perusahaan sedemikian kompleks dan akun
antarperusahaan semakin banyak,cara-cara seperti itu akan menimbulkan resiko human error yang cukup besar.
Peraga 3-5 Neraca Konsolidasi
PT A dan anak PT B Neraca Konsolidasi
Per 31 Desember 2011 (dalam ribuan)
Aktiva Passiva/Kewajiban
Kas Rp3000 Utang usaha Rp 5500 Piutang usaha 3000 Utang Jangka Panjang 15 000 Persediaan 9750 Modal saham 15 000 Bangunan dan Peralatan 13000 Laba ditahan 10 000 Tanah 18000 Kepentingan Nonpengendali 1250 Total aset Rp 467500 Total Passiva/ Kewajiban Rp 46 750
PROSEDUR LAPORAN KONSOLIDASI
Laporan konsolidasi disusun dengan menggabungkanlaporan keuangan entitas induk dan laporan keuangan entitas anak. Dan adapun prosedur laporan keuangan sebagai berikut :
Laporan Konsolidasi = Laporan Entitas Induk + Laporan Entitas Anak – Akun Antar Perusahaan contoh laporan keuangan PT A dan entitas anak PT B yang dikuasai 100 % per 31 Desember 2011, Penyusunan laporan konsolidasi akan lebih akurat apabila akun antar perusahaan diperhitungkan lebih dahuluPT B yang tebih akurat apabila akun antarperusahaan
diperhitungkan terlebih dahulu kemudian dilakukan konsolidasi akun-akun laporan keuangan entitas induk dan entitas anak.
Neraca
Neraca PT A dan PT B Per 31/12/2011 (dalam ribuan)
Keterangan PT A PT B Kas 750 1.000 Piutang Usaha 4.000 2.000 Persediaan 6.750 3.000 Investasi dalam saham entitas anak 12.500
Bangunan dan peralatan (net) 7.000 6.000 Tanah 9000 9000 Total Aset 40.000 21.000 Utang usaha 5.000 3500 Utang jangka panjang 10.000 5.000 Modal saham 15.000 7.500 Laba ditahan 10.000 5.000 Total pasiva/kewajiban Rp 40.000 Rp 21.000 Keterangan :
a. PT A memiliki piutang usaha sebesarr Rp 3.000.000 pada PT B.
b. Nilai investasi PT A sama dengan kekayaan PT B yang diperoleh.
Akun Investasi Entitas Induk dan Akun Kekayaan Entitas Anak
Investasi entitas induk dalam saham entitas anak mengakibatkan akun "investasi dalam saham entilas anak" milik entitas induk berkaitan dengan akun "modal
saham/kekayaan pemegang saham” entitas anak. Saldo normal akun "investasi" adalah
"debet" sehingga akun teresebut dieiiminasi dengan "mengkredit". Dalam perusahaan yang berbentuk perseroan Terbatas, kekayaan pemegang saham terdiri dari modal saham dan laba untuk pemegang saham. yakni laba ditahan (retained earning). Modal saham dalam neraca harus disajikan pada nilai nominalnya. Apabila pada penjualan perdana harga saham yang dijual ditetapkan di atas nilai nominalnya, maka selisih harga jual dengan nilai nominal disajikan dalam akun "agio saham". Jadi. kekayaan pemegang saham melibatkan akun-akun;
-Modal Saham -Agio Saham -laba Ditahan
Penguasaan entitas induk atas kekayaan entitas anak dalam investasi tersebut adalah 100%, sehingga seluruh kekayaan pemegang saham PT B dimiliki oleh PT A. Eliminasi dilakukan sebesar jumlah tersebut dengan “mendebet” komponenkekayaan entitas anak dan
“mengkredit”akun ‘investasi dalam saham entitas anak milik entitas induk. Jurnalnya adalah :
Modal saham Rp 7.500.000
Laba Ditahan Rp5.000.000
Investasi dalam sahamentitas anak Rp12.500.000
Berdasarkan jurnal eliminasi akun-akun neraca konsolidasi dihitung seperti dibawah ini :
Keterangan Konsolidasi
Kas Kas induk Rp 750 + kas anak Rp 1.000 Rp 1750
Piutang Usaha 4.000+2000-3000 (eliminasi) Rp2.000
Persediaan 6.750 + 3000 Rp 9750
Investasi dalaam saham 12.500 – 12.500
Bangunan dan Peralatan 7.000 + 6.000 Rp 13.000
Tanah 9.000 + 9.000 Rp 18.000
Total aset Rp 45.000
Utang Usaha 5.000 + 3.500- 3.000 (eliminasi utang) Rp 5.500
Utang Jangka Panjang 10.000 + 5.000 RP 15.000
Modal Saham 15.000 + 7.500 – 7.500 Rp 15.000
Laba Ditahan 10.000 +5.000 – 5.000 Rp 10.000
Total Pasiva/kewajiban Rp 45.500
Akun-akun keuangan yang telah dikonsolidasikan tersaji dalam bentuk laporan keuangan konsolidasi seperti dibawah ini :
PT A dan Entitas Anak PT B Neraca Konsolidasi Per 31 Desember 2011
Aktiva Kewajiban dan modal
Kas Rp 1.750 Utang Usaha Rp 5.500
Piutang usaha Rp 3.000 Utang Jangka Panjang 15.000
Persediaan Rp 9.750 Modal Saham 15.000
Bangunan dan Peralatan Rp13.000 Laba Ditahan 10.000
Tanah Rp 18.000
Total aset Rp 45.500 Total Pasiva Rp 45.500
KONSOLIDASI ENTITAS BERTUJUAN KHUSUS (EBK)
ISAK 7 lahir setelah kasus Enron terkuak.Salah satu kesalahan yang dilakukan manajemen Enron adalah membentuk Entitas Bertujuan Khusus (Special Purpose Entities=
SPE) yang tidak dikonsolidasikan atau off balance sheet dan dari sanalah kejahatan dilakukan.Dalam kasus Enron ,banyak juga pihak yang tidak hanya menyalahkan manajemen Enron,tetapi juga security Exchange yang tidak mewajibkan Enron menyusun laporan konsolidasi atas SPE tersebut.
Dari peristiwa Enron ini.Dewan Standar Akuntansi Internasional (IASB) meinterpretasikan kewajiban penyusunan laporan konsolidasi.Di Indonesia,hasil adopsian tersebut diterbitkan dalam bentuk interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) 7 yang direvisi kembali pada tahun 2009 berdasarkan revisian kembali IASB.ISAK 7 mendefinisikan bahwa suatu EBK dapat berbentuk perusahaan,firma atau bahkan entitas yang tidak berbentuk hukum.EBK umumnya dibentuk dengan ketentuan kontraktual.jika secara substansi suatu entitas mengendalikan EBK walaupun tidak menempatkan modal dalam EBK tersebut ,entitas itu diwajibkan menyusun laporan konsolidasi.
Laporan konsolidasi itu harus disusun sesuai dengan PSAK 4 seperti prosedur konsolidasi yang telah dijelaskan di atas . Jika tidak ada kepemilikan dalam EBK,seluruh ekuitas pemilik EBK disajikan sebagai kepentingan nonpengendali pada sisi ekuitas neraca konsolidasi.Jika terdapat penempatan modal atau investasi entitas dalam EBK investasi tersebut dieliminasi dengan ekuitas EBK.Bila tidak semua ekuitas EBK dimiliki entitas induk,maka terdapat kepentingan Nonpengendali.
Misalkan PT A tidak memiliki hak suara dalam PT B,tetapi memiliki hak pengendalian atas PT B berdasarkan kontrak.Neraca PT A dan PT B per 31/12/2011 disajikan dalam peraga 3.6.Neraca tersebut memperlihatkan bahwa PT A tidak memiliki investasi dalam saham PT B, sehingga tidak memiliki hak suara atas PT B .Berdasarkan ISAK 7 revisi 2009,PT A juga diwajibkan menyusun laporan konsolidasi karena memiliki hak pengendalian atas PT B walaupun tidak memiliki hak suara.
Neraca PT A dan PT B per 31/12/2011 Pengendalian dengan kontrak
Keterangan (dalam ribuan) PT A PT B
Kas 13 250 1000
Piutang usaha 4000 2000
Persediaan 6750 3000
Bangunan dan Peralatan (net ) 7000 6000
Tanah 9000 9000
Total Aset Rp 40 000 Rp 21000
Utang Usaha 5000 3500
Utang Jangka Panjang 10 000 5000
Modal Saham 15000 7500
Laba Ditahan 10 000 5000
Total Pasiva/kewajiban Rp 40 000 Rp 21000
Prosedur konsolidasi tetap dilakukan sesuai dengan PSAK 4 revisi 2009, yaitu mengeliminasi akun antarperusahaan dan menyajikan saldo kepentingan nonpengendali pada sisi liabilitas/kewajiban di neraca konsolidasi.Akan tetapi,karena PT A tidak memiliki saham PT B seluruh kekayaan pemegang saham PT B disajikan sebagai kepentingan nonpengendali. Jurnal eliminasi dalam laporan konsolidasi akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Eliminasi Utang Piutang usaha sebesar Rp 3 juta
Utang usaha Rp 3 000 000
Piutang usaha Rp 3 000 000
2.Reklasifikasi kekayaan pemegang saham menjadi kepentingan nonpengendali
Modal saham Rp 7 500 000
Laba ditahan 5 000 000
Kepentingan Nonpengendali Rp 12 500 000
Prosedur Penyusunan Neraca Konsolidasi
Keterangan Konsolidasi
Kas Kas induk Rp 13 250 + kas anak Rp
1000
Rp 14 250 Piutang usaha 4000 + 2000 – 3000(eliminasi No 1) 3000
Persediaan 6750 + 3000 9750
Bangunan dan Peralatan(net) 7000 + 6000 13000
Tanah 9000 + 9000 18000
Total aset Rp 58 000
Utang usaha 5000 + 3 500 - 3000 (eliminasi no 1) 5 500
Utang Jangka Panjang 10 000 + 5000 15 000
Modal Saham 15 000 + 7500 - 7 500 (eliminasi no 2 ) 15 000 Laba Ditahan 10 000 + 5000 - 5000(eliminasi no 2) 10 000
Kepentingan Nonpengendali 7500 + 5000 12 500
Total Passiva / Kewajiban Rp 58 000
BAB III PENUTUP KESIMPULAN
Laporan keuangan konsolidasi biasanya diperlukan untuk penyajian yang wajar posisi keuangan dan hasil-hasil operasi dari suatu induk perusahaan dan anak-anak perusahaannya.
Laporan keuangan konsolidasi bukan hanya merupakan merupakan penjumlahan akun-akun
laporan keuangan induk perusahaan dan anak perusahaan. Jumlah resiprokal dieliminasi, dan hanya jumlah-jumlah yang non resiprokal yang digabung dan dimasukkan dalam laporan konsolidasi. Akun investasi pada anak perusahaan dan ekuitas pemegang saham anak perusahaan dieliminasi dalam penyiapan laporan keuangan konsolidasi karena akun-akun tersebut resiprokal, keduanya mewakili aktiva bersih anak perusahaan. Transaksi-transaksi penjualan, peminjaman dan leasing antara induk perusahaan dan anak perusahaan juga mengakibatkan jumlah-jumlah resiprokal yang harus dieliminasi dalam proses konsolidasi.
Metode penyatuan kepemilikan digunakan untuk penggabungan dengan cara pertukaran saham. Jika perusahaan-perusahaan yang bergabung tetap beroperasi sebagai entitas-entitas hukum yang terpisah, perusahaan-perusahaan tersebut dipertanggungjawabkan sesuai dengan prosedur induk-anak dengan amandemen berikut ini:
1. Induk perusahaan mencatat investasi pada anak perusahaan pada nilai bukunya.
Saham yang diterbitkan dikreditkan sebesar nilai nominal saham yang diterbitkan, saldo laba digabung jika memungkinkan, dan tambahan modal disetor ditambahkan/dikurangi untuk mencatat perbedaan antara nilai nominal saham yang diterbitkan dan modal disetor perusahaan yang bergabung lainnya.
2. Maksimum saldo laba yang dapat digabung dengan saldo laba induk perusahaan sama dengan presentase kepemilikan induk dikalikan dengan saldo laba anak perusahaan.
3. Penghasilan perusahaan-perusahaan yang bergabung pada tahun dilaksanakannya penggabungan disatukan seluruhnya.
SARAN
Dengan penulisan makalah ini, penulis berharap mahasiswa dan masyarakat dapat lebih memahami dan menerapkan pembuatan laporan keuangan konsolidasi yang baik dan benar sesuai dengan aturan yang berlaku. Dengan demikian, tidak akan terjadi kerancuan dalam pencatatan laporan keuangan yang dikonsolidasikan.
DAFTAR PUSTAKA
Beams, Floyd A, John A. Brozovsky, dan Craig D. Shoulders. 2000. Akuntansi Lanjutan Edisi Tujuh. Terjemahan oleh Kaharudin. 2002. Jakarta: PT Prehallindo.
Baker, Richard E. Valdean C. Lembke, dan Thomas E. King. 2010. Akuntansi Keuangan
Lanjutan (Perspektif Indonesia). Terjemahan oleh Amir A. Yusuf, Sylvia Veronica, Etty R. Wulandari dan Dwi Martani. 2013. Jakarta: Salemba empat
Karyawati, Golrida. 2011. Akuntansi Keuangan Lanjutan Edisi IFRS. Jakarta: Erlangga.