• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KOMPETENSI VII

N/A
N/A
Irvan Amir

Academic year: 2024

Membagikan "LAPORAN KOMPETENSI VII"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KOMPETENSI VII

MANAJEMEN ALAT MESIN PERTANIAN DAN UPJA (USAHA PELAYANAN DAN JASA ALSINTAN)

Disusun oleh : Irvan Amir Ma’sum

NIM. 215039

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI WARGA SURAKARTA BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM

PERTANIAN

KEMENTERIAN PERTANIAN

2024

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

MAGANG DAN STUDI INDEPENDEN BERSERTIFIKAT PROGRAM PERTANIAN MODERN UNTUK KEDAULATAN

PANGAN NEGERI

KOMPETENSI IV

MESIN PANEN KOMBINASI

LAPORAN SUDAH DI PERTANGGUNGJAWABKAN KEPADA MENTOR DAN MITRA PADA TANGGAL …

Yang Melaporkan, Menyetujui, Mentor

Irvan Amir M Muhammad Rizma Fahrezi,

A.Md.P

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Uji Kompetensi 1 ini dengan baik. Penyusunan uji kompetensi ini dimaksudkan sebagai salah satu sarana untuk mengukur tingkat penguasaan materi dan keterampilan yang telah diajarkan selama proses pembelajaran. Laporan ini disusun dengan bantuan berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan banyak terimakasih sebesar-besarnya kepada

1) Bapak atau Ibu Penyuluh Pertanian Pertanian Lapangan Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah.

2) Kak Salsabila Khoirina Royani, S.Tr. Pt. selaku mentor untuk kecamatan Nguter 3) Kak Muhammad Rizma Fahrezi, A. Md. P selaku mentor bidang mekanisasi

pertanian modern Kecamatan Nguter, Tawangsari dan Weru.

4) Dan Kakak Kakak pendamping lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

5) Serta Teman Teman program magang kampus merdeka penempatan Kecamatan Nguter yang kami banggakan.

Kami menyadari bahwa penyusunan uji kompetensi ini tidak lepas dari kekurangan, baik dalam penyusunan soal maupun tata letak. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan uji kompetensi ini. Semoga uji kompetensi ini dapat bermanfaat bagi pengembangan pengetahuan dan keterampilan peserta didik.

Demikian kata pengantar ini kami sampaikan, semoga dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya.

Sukoharjo,6 Oktober 2024

(4)

Irvan Amir M

DAFTAR ISI

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 mesin tranplenter... 8

Gambar 2 daftar invetaris UPJA Tani Jaya...22

Gambar 6 survei lokasi UPJA Tani Jaya...28

Gambar 5 survei lokasi penebaran benih padi...28

Gambar 4 Transplanter AP6 kubota...28

Gambar 3 transplenter UPJA Tani Jaya...28

(6)

DAFTAR TABEL

Table 1 Efisiensi Alat Mesin Pertanian...14 Table 2 Contoh jadwal servis berkala traktor...18

(7)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Sumber makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia adalah beras, di samping beberapa sumber pangan lainnya seperti jagung, kedelai, dan ubi. Beras juga memegang peran penting dalam sektor perekonomian nasional karena sebagian masyarakat Indonesia adalah petani. Hal itu menyebabkan pemerintah selalu menjadikan pencapaian swasembeda pangan pokok sebagai salah satu target pembangunan (Tarigan, 2019). Indonesia sebagai negara agraris memiliki kekayaan alam yang besar, iklim dan cuaca yang mendukung proses pertanian maka pembangunan bidang pertanian perlu dikembangkan dengan memanfaatkan sumber daya alam dan penerapan mekanisasi pertanian sehingga dapat meningkatkan produksi beras sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat juga mewujudkan ketahanan pangan (Hartadi et al., 2016)

Harga jual beras di Indonesia lebih tinggi dibanding beras impor disebabkan oleh besarnya biaya upah karena jumlah tenaga kerja yang semakin berkurang.S ebagai upaya untuk mengatasi hal tersebut pemerintah meningkatkan mekanisasi pertanian dengan memberikan bantuan alsintan berupa mesin pengolahan lahan, tanam, panen, hingga mesin pascapanen dengan tujuan menghasilkan produksi secara optimal. Alat dan mesin pertanian akan dikelola oleh Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) dalam mengembangkan wilayah pertanian (Sukmana et al., 2017)

Usaha pelayanan jasa alat dan mesin pertanian (UPJA) merupakan lembaga ekonomi pedesaan yang berperan dalam pelayanan jasa dengan tujuan meningkatkan penggunaan alat dan mesin pertanian untuk mendapatkan keuntungan usaha bagi kelompok tani. Peran UPJA ditujukan untuk mengoptimalisasikan penggunaan alsintan kepada masyarakat pertanian di pedesaan, meningkatkan indeks pertanaman (IP) dalam satu satuan waktu pada luasan tertentu, mendukung pemanfaatan air irigasi bagi tanaman, mendukung pelayanan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT), meningkatkan produktivitas ternak, mempercepat dan meningkatkan mutu

(8)

pengolahan tanah, mengurangi kehilangan hasil panen, meningkatkan mutu dan pengolahan hasil serta meningkatkan efesiensi produksi, melestarikan fungsi lingkungan, mengatasi kekurangan tenaga kerja dan menciptakan lapangan kerja baru di pedesaan guna menarik minat tenaga kerja muda, menumbuh kembangakan kelembagaan bisnis yang terkait dengan pengembangan sistem agribisnis di pedesaan (25/Permentan/PL.130/5/2008 & TENTANG, 2008)

Pengembangan UPJA dipengaruhi oleh manajemen kelembagaan dalam proses perkembangan yang akan menunjang sistem usaha tani yang berdaya saing, manajemen memiliki peran penting dalam kegiatan usaha pelayanan jasa alat dan mesin pertanian, karena tanpa adanya manajemen dalam sebuah kelompok akan mempengaruhi baik dan buruk jalan program kelompok tersebut, manajemen ini bersifat meluas dan mengawasi semua elemen unsur atau input yang dibutuhkan organisasi untuk meningkatkan kinerja suatu organisasi (Sukmana et al., 2017).

Potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Sukoharjo dalam memproduksi beras sebagai bahan pangan pokok yang merupakan unsur tercapainya ketahanan pangan nasional, serta kendala yang dialami petani dalam pengolahan usaha tani untuk menghasilkan beras, hingga hadirnya Kelembagaan Usaha Pelayanan Jasa Alsintan yang dibuat pemerintah untuk memberikan pelayanan dan membantu masyarakat dalam proses pertanian lengkap denganpengembangan terhadap Kelembagaan Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait manajemen Kelembagaan UPJA dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah.

B. TUJUAN

Mahasiswa mampu menguasai teknik dan manajemen pengelolaan berbagai macam alat mesin pertanian lahan rawa dengan metode standar

(9)

BAB II DASAR TEORI

A. Definisi Manajemen Alat dan Mesin Pertanian

Gambar 1 mesin tranplenter

Manajemen dapat didefinisikan sebagai suatu proses untuk mengkoordinasikan sumber daya manusia, informasi, fisik dan finansial untuk mencapai tujuan organisasi. Sedangkan manajemen mesin pertanian merupakan bagian dari manajemen pertanian yang berurusan dengan proses optimasi penggunaan alat mesin pertanian dalam rangka memaksimumkan keuntungan atau meminimumkan biaya produksi per unit barang yang dihasilkan.

Manajemen mesin pertanian akan optimum bila kinerja ekonomi dari seluruh sistem mesin dapat memberikan nilai tambah terhadap produk dan proses melebihi dari biaya operasi yang dikeluarkan. Dalam manajemen mesin pertanian, kinerja ekonomi terdiri dari tiga komponen pokok yaitu:

a. Kinerja mesin b. Kinerja tenaga c. Kinerja operator

Pada manajemen mesin pertanian, sasaran utamanya adalah menghasilkan kinerja ekonomi yang optimum. Hal ini dapat dicapai melalui pengaturan dan kombinasi dari setiap mesin yang digunakan dalam suatu operasi. Kinerja tersebut mempunyai satuan dimensi berupa satuan jumlah per satuan waktu.

B. Peranan Alat dan Mesin Pertanian

Alat dan mesin pertanian dirancang sedemikian rupa, salah satunya guna

(10)

memudahkan pekerjaan petani dalam usahatani dan menjadikan kegiatan bertani tersebut sebagai kegiatan yang menyenangkan. Penerapan alat dan mesin pertanian diharapkan dapat memberikan keuntungan maksimum terhadap bisnis pertanian, dimana aplikasi mesin pertanian akan memberikan keuntungan antara lain:

a. Meningkatkan produktivitas lahan dan tenaga kerja b. Menjaga ketepatan waktu operasi

c. Perbaikan kondisi kerja

d. Meningkatkan pendapatan petani atau kalangan industri e. Meningkatkan keamanan kerja dan kebanggaan

petani atau kalangan industri f. Mengurangi kehilangan hasil g. Meningkatkan mutu produk

Selain keuntungan di atas, saat ini alat dan mesin pertanian dirancang sedemikan rupa dengan memerhatikan konsep “pertanian berkelanjutan”. Hal ini menunjukkan bahwa alat dan mesin pertanian yang dirancang adalah alat dan mesin yang ramah lingkungan, alat mesin yang mengolah limbah pertanian.

Begitu banyak penelitian-penelitian yang membuat alat/mesin pembuatan biogas, pembuatan bioethanol, alat/mesin pra panen maupun pasca panen yang memanfaatkan instrumen panel surya dan lain- lain.

C. Kapasitas Alat/Mesin Pertanian

Kinerja mesin pertanian biasanya dinyatakan dalam satuan jumlah per satuan waktu. Sebagai contoh untuk mesin pengolahan tanah dinyatakan dalam ha/jam, sedangkan untuk mesin penggiling dinyatakan dalam kg/jam. Kinerja mesin seperti ini sering disebut dengan kapasitas mesin.

Kapasitas, ketika dinyatakan hanya seperti luas per waktu biasanya tidak cukup menjadi indikator kinerja mesin yang sebenarnya terutama pada mesin pengolahan. Perbedaan dalam hasil panen dan kondisi panen dapat berarti bahwa satu mesin mungkin mempunyai kapasitas luas per waktu yang rendah tet api kapasitas massa per waktu tinggi ketika dibandingkan dengan mesin yang sama pada lahan yang berbeda. Perhitungan kapasitas mesin meliputi

(11)

pengukuran luas atau massa dan waktu. Ada 3 tipe kapasitas mesin yaitu:

1. Kapasitas lapang (ha/jam) 2. Kapasitas bahan (kg/jam)

3. Kapasitas throughput/throughput capacity (kg/jam), merupakan semua jumlah bahan yang masuk ke dalam mesin per satuan waktu, bahan tersebut misalnya: biji, tangkai, daun yang masuk ke mesin.

Salah satu contoh, suatu unit alat pemanen (combine harvester) beroperasi dengan kecepatan 1,5 m/dtk dan lebar pemotongan 5 m. Dalam waktu 1 menit 50 kg biji dikumpulkan dalam tank biji dan 60 kg bahan dibongkar dari bagian belakang mesin.

Maka:

Kapasitas lapang = 0,36 x 1,5 m/dtk x 5 m2, 7 ha/jam Kapasitas bahan = 50 kg/mnt = 3000 kg/jam Kapasitas throughput = 50 kg/mnt + 60 kg/mnt

=110 kg/mnt atau = 6,6 ton/jam

Kapasitas Lapang Teoritis (kapasitas potensial), merupakan laju kinerja yang dapat dicapai oleh mesin dengan menggunakan seluruh waktu yang tersedia dan seluruh kemampuan mesin yang ada. Kapasitas ini dapat dinyatakan dengan rumus:

KLT = 0,36 V. L Keterangan:

KLT = Kapasitas Lapang Teoritis (ha/jam) V = Kecepatan atau laju mesin (m/detik) L = Lebar kerja alat (m)

Kapasitas Lapang Efektif (kapasitas aktual), merupakan laju yang sebenarnya di lapang dan biasanya lebih kecil dari kapasitas teoritis, dapat dinyatakan dengan persamaan:

KLE = luas lahan(ha) total waktu kerja(jam)

(12)

Perhitungan kapasitas menggunakan rumus di atas dapat diterapkan untuk alat dan mesin pra panen serta panen. Untuk alat pasca panen, kapasitas sebaiknya dihitung sebagai kapasitas bahan. Namun, untuk beberapa alat dan mesin, penting untuk membedakan antara kapasitas bahan dan kapasitas throughput (juga dikenal sebagai laju).

Pada alat dan mesin pasca panen kapasitas bahan dapat dihitung dengan rumus:

C = jumlah material hasil(kg) total waktu kerja(jam)

Sedangkan kapasitas throughput (laju) dapat dihitung menggunakan rumus :

C = jumlah material yang akan diolah(kg) total waktu operasi alat(jam)

D. Waktu Hilang Pada Pengoperasian Alat Mesin Pertanian

Dalam konsep sederhana, efisiensi waktu adalah persentase yang menunjukkan perbandingan antara waktu efektif yang digunakan untuk operasi dengan total waktu yang diperlukan atau tersedia untuk operasi tersebut.

Sementara itu, waktu di luar operasi yang sebenarnya disebut sebagai waktu yang hilang atau terbuang.

Ada beberapa elemen waktu yang perlu diperhatikan saat menghitung kapasitas atau biaya mesin yang berkaitan dengan jenis usaha pertanian. Waktu ini melibatkan tenaga kerja dan berhubungan dengan operasi di lapangan, antara lain :

a. Waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan mesin di gudang atau garasi.

b. Waktu untuk perjalanan ke dan dari lapangan.

c. Waktu untuk menyiapkan mesin di lapangan sebelum dan setelah operasi.

(13)

d. Waktu untuk operasi (waktu lapang teoritis).

e. Waktu untuk berbelok.

f. Waktu untuk bongkar muat.

g. Waktu untuk penyetelan mesin.

h. Waktu untuk pemeliharaan.

i. Waktu untuk perbaikan.

j. Waktu yang dihabiskan oleh operator.

Tidak semua elemen waktu yang disebutkan di atas diperhitungkan dalam operasi mesin. Misalnya, waktu personal operator adalah variabel yang cukup besar dan biasanya tidak terkait dengan efisiensi operasi mesin, sehingga dianggap sebagai waktu yang terbuang. Hal yang sama berlaku untuk waktu pada poin 1, 2, dan 3. Sementara itu, elemen waktu 4-9 termasuk dalam efisiensi lapang.

Dalam menghitung kapasitas lapang efektif alat dan mesin, total waktu kerja alat dan mesin diperhitungkan, termasuk waktu operasi, waktu belok, dan waktu berhenti. Dengan demikian, waktu yang diperoleh mencerminkan waktu yang sebenarnya di lapangan (waktu aktual).

Waktu operasi dan waktu belok dipengaruhi oleh pola operasi atau lintasan alat dan mesin di lapangan. Terdapat beberapa jenis pola operasi di lapangan, dengan tiga pola dasar yaitu pola kontinyu, sirkuit, dan headland, yang menyebabkan perbedaan sudut pembelokan. Pola kontinyu menghasilkan pembelokan yang sangat tajam, kurang dari 90 derajat, sementara pola sirkuit menyebabkan pembelokan sekitar 90 derajat, dan pola headland memungkinkan pembelokan lebih dari 90 derajat, bahkan bisa mencapai 135 derajat. Dari ketiga pola ini, pola headland memberikan keleluasaan terbaik bagi alat dan mesin untuk melakukan pembelokan.

Selain itu, pola operasi alat dan mesin juga dapat memengaruhi jumlah lintasan saat pengoperasian. Jumlah lintasan tersebut berkaitan dengan lebar lahan dan lebar kerja efektif alat, seperti yang terlihat dalam persamaan berikut :

(14)

Jumlah lintasan (m) = lebar lahan(m) lebar kerja efektif alat(m)

Jumlah beloka = jumlah lintasan – 1

% waktu hilang = waktu belok(jam)+waktu berhenti(jam)

total waktu kerja(jam) x 100 %

A. Efisiensi Lapang dan Faktor yang Mempengaruhi

Efisiensi lapang adalah perbandingan antara kapasitas lapang efektif dan kapasitas lapang teoritis. Untuk beberapa mesin, efisiensi lapang tidak memiliki nilai yang konstan, melainkan bervariasi, seperti yang ditunjukkan dalam tabel berikut :

Table 1 Efisiensi Alat Mesin Pertanian

Jenis operasi Peralatan

Efisiensi Lapang ( % )

Kecepatan Operasi (km/jam) Pengolahan

tanah

Disk harrow 90 - 77 6 – 10

Moldboard plow 88 - 74 5 – 9

Row crop cultivato r

90 - 68 3 – 9

Alat tanam Row planter 78 - 60 7 – 10

Grain drill 80 - 65 4 – 9

Broadcaster 70 - 65 6 – 10

Sprayer Sprayer 65 - 55 7 - 10

.

Faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi lapang meliputi:

(15)

1. Kapasitas teoritis mesin 2. Kemampuan gerak mesin 3. Pola operasi di lapangan

4. Bentuk dan ukuran lahan tempat mesin beroperasi 5. Hasil pertanaman yang dikelola

6. Kondisi tanah dan tanaman 7. Keterbatasan sistem

Efisiensi dapat ditingkatkan, misalnya dengan meningkatkan kecepatan mesin;

namun, kecepatan yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan penurunan kualitas hasil. Beberapa faktor yang membatasi kecepatan mesin tersebut meliputi :

 Kelebihan beban pada komponen mesin.

 Ketidakmampuan operator dalam mengendalikan mesin.

 Hilangnya fungsi dan kerusakan pada struktur mesin.

 Perlunya penanganan hasil pertanian secara hati-hati.

Kemampuan gerak mesin di lapangan memengaruhi efisiensinya. Radius belok mesin adalah faktor penting yang berkontribusi pada waktu hilang di sudut lahan.

Radius belok (R) didefinisikan sebagai radius lingkaran di mana mesin pertanian dapat melakukan belokan terpendek. Beberapa mesin pertanian dan traktor modern memiliki radius yang relatif kecil untuk meningkatkan kapasitas lapangnya.

Efisiensi lapang cenderung menurun pada lahan kecil dengan bentuk yang tidak beraturan, namun ukuran lahan yang besar tidak selalu menjamin peningkatan efisiensi. Selain itu, hasil pertanian juga berpengaruh terhadap efisiensi, di mana hasil yang tinggi dapat mengurangi kecepatan atau gerak maju mesin.

B. Analisa Biaya Alat Mesin Pertanian

Untuk mengelola alsintan secara efektif dan efisien, penting untuk memahami biaya penggunaan alat dan mesin pertanian agar dapat dinilai apakah penggunaan

(16)

tersebut menguntungkan secara ekonomi. Secara umum, biaya mencakup pengeluaran untuk faktor-faktor produksi seperti pembelian material, upah tenaga kerja, sewa atau pembelian peralatan, serta jasa untuk keahlian manajemen.

Biaya mesin dan alat pertanian terdiri dari dua komponen, yaitu biaya tetap (fixed costs) dan biaya variabel (variable costs). Biaya tetap sering disebut biaya pemilikan (owning costs), sementara biaya variabel kadang disebut biaya operasi ( operating costs).

 Biaya Tetap

Biaya tetap adalah jenis biaya yang jumlahnya tetap selama satu periode kerja, tidak bergantung pada jumlah produk yang dihasilkan atau jam kerja alat/mesin. Meskipun peralatan atau mesin beroperasi pada waktu yang berbeda atau bahkan tidak digunakan sama sekali, biaya ini tetap ada dan harus diperhitungkan, serta besarnya relatif konstan. Dengan kata lain, biaya tetap merupakan pengeluaran yang harus diperhitungkan meskipun alat dan mesin tidak digunakan. Biaya ini bersifat independen terhadap penggunaan alat dan mesin. Beberapa biaya yang termasuk dalam kategori biaya tetap adalah:

1. Biaya penyusutan.

2. Biaya bunga modal dan asuransi.

3. Biaya pajak.

4. Biaya penyimpanan/Gudang

 Biaya Tidak Tetap

Biaya tidak tetap adalah biaya yang dikeluarkan saat alat atau mesin dioperasikan. Biaya ini biasanya bervariasi berdasarkan penggunaan alat/mesin dan sangat dipengaruhi oleh waktu (jam) operasional.

Perhitungan biaya tidak tetap dilakukan dalam satuan Rp/jam. Beberapa contoh biaya tidak tetap meliputi:

1. Biaya bahan bakar

(17)

2. Biaya pelumas (perawatan preventif) 3. Biaya perbaikan dan pemeliharaan 4. Biaya operator

5. Biaya khusus (misalnya, biaya ban untuk beberapa alat/mesin pertanian).

C. Perawatan dan Perbaikan Alat Mesin Pertanian

Tujuan perawatan alsintan adalah untuk memastikan bahwa alsintan selalu dalam kondisi optimal dan siap digunakan. Secara umum, perawatan alsintan memiliki beberapa tujuan utama, yaitu:

a. Membantu mengantisipasi kerusakan yang lebih serius.

b. Mengurangi waktu mesin tidak beroperasi.

c. Meningkatkan efektivitas kerja mesin dan pencapaian target.

d. Mencegah risiko kecelakaan dan masalah kesehatan.

Perawatan alsintan menjadi tanggung jawab operator dan manajer alsintan.

Manajer harus melatih dan mendidik operator untuk secara rutin melakukan perawatan pada alsintan yang menjadi tanggung jawab mereka. Perawatan yang harus dilakukan secara berkala meliputi pemeriksaan mesin sebelum dan sesudah penggunaan, pembersihan mesin, serta pemberian pelumas setelah mesin digunakan. Perawatan alsintan meliputi perawatan harian, perawatan berkala, dan overhaul. Perawatan harian meliputi :

a. Memeriksa semua level oli sebelum mesin dinyalakan.

b. Memeriksa air battery dan kabel-kabelnya.

c. Memeriksa air radiator.

d. Memeriksa rem.

e. Memeriksa kopling (jarak pedal).

f. Memeriksa sistem listrik dan lampu.

(18)

g. Memeriksa ketegangan tali kipas.

h. Memeriksa tekanan angin ban.

i. Memeriksa semua baut, terutama pada roda.

j. Memeriksa fungsi sistem hidrolik.

k. Memeriksa kebocoran oli.

l. Saat menghidupkan mesin, gunakan putaran rendah.

m. Membersihkan air cleaner.

n. Mengisi BBM sebaiknya dilakukan setelah mesin beroperasi (misalnya pada sore hari untuk menghindari ruang kosong di tangki bahan bakar, serta mengurangi risiko ledakan/kebakaran).

o. Membersihkan mesin setelah selesai beroperasi.

Perawatan berkala mesin ditentukan berdasarkan jam kerja mesin (hour machine/HM) dan umumnya mengikuti rekomendasi dari produsen. Pelaksanaan perawatan ini dapat dilakukan secara mandiri atau dengan bantuan pihak lain seperti vendor atau UPJA. Perawatan berkala meliputi :

a. Pemeriksaan rutin kondisi mesin.

b. Penggantian pelumas.

c. Penggantian suku cadang (belt, filter, dll).

Perbaikan alsintan dilakukan ketika terjadi kerusakan insidentil selama pengoperasian, serta faktor-faktor lain yang mengharuskan alsintan diperbaiki agar dapat berfungsi dengan baik, aman, dan mencegah kerusakan yang lebih serius.

Table 2 Contoh jadwal servis berkala traktor

No Deskripsi Jam Kerja (HM)

1 Oli mesin ( SAE 30/40) 250

2 Oli Hidrolik (SAE 10) 1000

3 Oil Filter 250

4 Fuel filter 500

5 Air Cleaner 1000

(19)

6 Hidrolik Oil Filter 1000

Overhaul alsintan dilakukan ketika alsintan telah mencapai waktu tertentu yang ditetapkan oleh pabrikan atau jika terjadi kerusakan serius yang dapat membahayakan keselamatan operator atau merusak komponen lain. Beberapa kategori overhaul meliputi:

a. Top Overhaul b. Engine Overhaul c. General Overhaul d. Undercarriage

D. Usaha Pelayanan dan Jasa Alat Mesin Pertanian

Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung peningkatan produksi pertanian, terutama dengan pertumbuhan populasi, penurunan kualitas lahan, serta rendahnya intensitas tanam dan kepemilikan alsintan secara individu. Penggunaan Alsintan sangat diperlukan untuk mempercepat dan meningkatkan kualitas pengolahan tanah, penyediaan air, serta meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas ternak. Selain itu, Alsintan juga membantu mengurangi kehilangan hasil, menjaga kesegaran produk, meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan komoditas pertanian, dan melestarikan fungsi lingkungan.

Strategi pengembangan alsintan untuk memanfaatkan inovasi dan teknologi mekanisasi pertanian melalui pengembangan sistem kelembagaan Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) memiliki beberapa pertimbangan :

a. Kemampuan petani dalam mengelola lahan pertanian terbatas (0,5 ha/MT);

b. Pengelolaan alsintan secara individu kurang efisien;

c. Tingkat pendidikan dan keterampilan petani yang rendah;

d. Kemampuan modal dalam usaha tani yang lemah; dan e. Pengelolaan usaha tani yang tidak efisien.

(20)

UPJA adalah lembaga ekonomi pedesaan yang berfokus pada pelayanan jasa untuk mengoptimalkan penggunaan alat dan mesin pertanian guna mencapai keuntungan, baik dalam kelompok tani maupun di luar gapoktan. Fungsi utama UPJA adalah melaksanakan kegiatan ekonomi melalui pelayanan jasa alsintan yang mencakup penyiapan lahan, pengolahan tanah, penyediaan air irigasi, penanaman, pemeliharaan, perlindungan tanaman termasuk pengendalian kebakaran, serta kegiatan panen, pasca panen, dan pengolahan hasil pertanian seperti pemanenan, perontokan, pengeringan, dan penggilingan padi. Selain itu, UPJA juga mendorong pengembangan produk untuk meningkatkan nilai tambah, memperluas pasar, meningkatkan daya saing, dan memperbaiki kesejahteraan petani.

Sistem pengembangan UPJA mencakup berbagai subsistem dari kelembagaan ekonomi yang berfungsi secara sinergis. Subsistem tersebut meliputi:

a. Pelayanan jasa alsintan melalui kelembagaan kelompok UPJA.

b. Penyediaan alsintan, suku cadang, dan layanan perbaikan dari lembaga produsen alsintan, usaha perbengkelan, dan pengrajin alsintan.

c. Pengguna jasa alsintan yang terdiri dari kelembagaan usaha tani, petani, kelompok tani, dan Perhimpunan Petani Pemakai Air (P3A).

d. Permodalan dan pendanaan yang disediakan oleh lembaga perbankan atau lembaga keuangan non-bank.

e. Pembinaan dan pengendalian yang dilakukan oleh aparatur pemerintah dan lembaga penyuluh.

Secara teknis, pengembangan UPJA di perdesaan ditujukan untuk:

a. Mengoptimalkan penggunaan alsintan dan mempercepat transfer teknologi alsintan kepada masyarakat pertanian.

b. Meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dalam satuan waktu tertentu pada area tertentu.

c. Mendukung pemanfaatan air irigasi untuk tanaman.

(21)

d. Mendukung layanan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

e. Meningkatkan produktivitas ternak.

f. Mempercepat dan meningkatkan kualitas pengolahan tanah, mengurangi kehilangan hasil panen, meningkatkan mutu pengolahan hasil, serta meningkatkan efisiensi produksi.

g. Melestarikan fungsi lingkungan.

h. Mengatasi kekurangan tenaga kerja dan menciptakan lapangan kerja baru di perdesaan untuk menarik minat tenaga kerja muda.

i. Mengembangkan kelembagaan bisnis yang terkait dengan sistem agribisnis di perdesaan.

Organisasi UPJA harus memiliki struktur organisasi yang lengkap, termasuk manajer, petugas administrasi, operator, dan tenaga teknis, yang disahkan oleh Bupati/Walikota, dalam hal ini oleh Kepala Dinas Pertanian.

UPJA yang beroperasi secara profesional harus memenuhi persyaratan berikut:

a. Memiliki organisasi lengkap dengan manajer, tenaga teknis operator, dan staf administrasi (umum dan keuangan).

b. Membangun kemitraan usaha antara kelompok tani atau gapoktan, perusahaan alsintan, bengkel/pengrajin untuk perawatan, perbaikan, penyediaan suku cadang, serta distributor alsintan dan suku cadang.

c. Memiliki jumlah dan jenis alsintan (hulu, on farm, dan hilir) yang dimanfaatkan secara optimal dan sesuai dengan skala ekonomi.

d. Mampu mengakses sumber pendanaan untuk alsintan.

e. Menyediakan pelatihan dan peningkatan kemampuan serta keterampilan teknis dan manajemen.

f. Mampu mengelola alsintan secara profesional dengan sumber daya manusia yang terlatih dan berorientasi pada keuntungan.

g. Memiliki badan hukum dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

h. Menyediakan pelayanan yang berkualitas baik dengan dukungan sarana penyimpanan alsintan dan kantor.

(22)

BAB III

PROSEDUR KERJA

Prosedur kerja pada kegiatan kompetensi ini adalah melaksanakan pengkajian penggunaan berbagai macam alsintan baik dari aspek teknis pengoperasian, perawatan dan perbaikan, pengelolaan sukucadang, hingga aspek pengelolaan UPJA sesuai dengan prosedur. Secara rinci penugasan terdiri dari beberapa sub bab sebagai berikut:

a. Manajemen perawatan harian dan berkala alsintan b. Manajemen pengelolaan pendapatan UPJA

c. Manajemen pengelolaan suku cadang alsintan d. Manajemen tenaga kerja

e. Sistem pemasaran, penyewaan, dan layanan lainnya f. Sistem pembukuan pendapatan, suku cadang,

pemasaran, tenaga kerja, dan pekerjaan

(23)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 2 daftar invetaris UPJA Tani Jaya

Ada pun hasil dan pembahasan sebagai berikut : a. Manajemen perawatan harian dan berkala alsintan :

 Manajemen perawatan harian alsintan tranplenter :

Setelah selesai digunakan minimal bersihkan/cuci panel-panel dari lumpur hingga bersih

Pastikan semua komponen berfungsi dengan baik,jika ada komponen yang tidak baik/kurang enak lakukan penyetelan atau perbaikan

Berikan pelumas bada bagian bagian pengerak agar lancar

 Manajemen perawatan berkala alsintan tranplenter

Pembersihan busi, filter udara, filter bensin, saringan udara dan karburator setiap 200 jam.

Pengantian oli mesin setiap 50 jam untuk kondisi pertama kali kemudian diganti setiap 300 jam.

Pengantian oli hidrolis setiap 600 jam.

(24)

Penyetelan dilakukan pada tuas gas (akselerasi), tali v-belt, tuas kopling, dan komponen lainnya. Sementara itu, pelumasan atau pemberian minyak gemuk (grease) dilakukan pada kotak pengatur penanam, lengan penanam, meja penanam, dan as pengatur penanaman, serta pada tali kopling, akselerasi, seal, dan komponen lainnya.

b. Manajemen pengelolaan pendapatan UPJA (Usaha Pelayanan dan Jasa Alat Mesin Pertanian).

Pengelolaan pendapatan UPJA (Usaha Pelayanan dan Jasa Alat Mesin Pertanian) dilakukan tidak dengan pembukuan karena didirikan UPJA TANI JAYA Didirikan karena adanya trnplenter tidak terpakai di BPP Nguter akhirnya di Kelola dan didirikan UPJA TANI JAYA

c. Manajemen pengelolaan suku cadang alsintan

Manajemen suku cadang alat mesin pertanian dapat dilakukan dengan mengelola layanan bisnis perbengkelan. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan layanan bisnis perbengkelan alat mesin pertanian :

a. Mengelola organisasi layanan bisnis perbengkelan alat mesin pertanian dengan struktur yang mencakup koordinator perbengkelan, teknisi, dan staf administrasi.

b. Melaksanakan tanggung jawab manajerial organisasi, termasuk perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan.

c. Berusaha meningkatkan pendapatan organisasi melalui aktivitas perbengkelan.

d. Manajemen tenaga kerja

Untuk manajemen tenaga untuk pembagian upah kerja atau penghasilan pekerja adalah pengelolaan bikin benih upah 100.000rb dilapangan sesuai bibit pergulung 10.0000,1mesin 2 orang dan upah 1gulung 3.000 rb dibagi ber 2 rata- rata perhari 150 gulung 450.000 rb dibagi 2

e. Sistem pemasaran, penyewaan, dan layanan lainnya

(25)

Sistem pemasaran sendiri dilakukan dengan cara pembuatan peasaran dari mulut ke mulut. Sementara untuk penyewaannya sendiri tergantung benih yang digunakan, biaya penyewaannya adalah 10 ribu pergulung.

f. Sistem pembukuan pendapatan, suku cadang, pemasaran, tenaga kerja, dan pekerjaan

Untuk sistem Sistem pembukuan pendapatan, suku cadang, pemasaran, tenaga kerja, dan pekerjaan sudah tidak ada karena dari awal terbentuknya UPJA TANI JAYA tidak dibuat sistem pembukuan

(26)

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. KESIMPULAN

Manajemen Usaha Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian (UPJA) sangat penting untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas di sektor pertanian. UPJA membantu petani mengakses peralatan modern tanpa harus memiliki sendiri, yang mengurangi biaya dan meningkatkan hasil pertanian.

Dalam pengelolaan UPJA, beberapa hal kunci yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan peralatan, pemeliharaan, manajemen keuangan yang baik, dan pelatihan sumber daya manusia agar layanan yang diberikan optimal. Namun, tantangan yang sering dihadapi UPJA adalah kurangnya pemeliharaan alat, kurangnya modal untuk membeli peralatan baru, serta kesulitan dalam mengakses pasar untuk memperluas layanan. Manajemen yang baik sangat penting agar operasional UPJA berjalan lancar dan memberikan dampak positif bagi petani.

B. REKOMENDASI

1. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia: Pengelola UPJA perlu mendapatkan pelatihan yang berkala mengenai perawatan alat, manajemen usaha, serta teknologi pertanian terbaru agar dapat memberikan pelayanan terbaik.

2. Perbaikan Sistem Manajemen Keuangan: Transparansi dan efisiensi dalam pengelolaan keuangan penting untuk keberlanjutan UPJA. Pencatatan keuangan yang baik serta akses terhadap modal dan pembiayaan harus diperkuat.

3. Kolaborasi dengan Pemerintah dan Lembaga Pendukung: Untuk mengatasi masalah modal dan pengembangan usaha, UPJA bisa bekerja sama dengan

(27)

pemerintah, koperasi, atau lembaga keuangan yang memberikan bantuan pembiayaan atau subsidi peralatan.

4. Pemeliharaan Alat yang Teratur: Agar alat dan mesin tetap dalam kondisi baik, perlu ada jadwal pemeliharaan berkala dan perbaikan yang teratur untuk memperpanjang umur peralatan serta menghindari kerusakan yang bisa mengganggu layanan.

5. Diversifikasi Layanan: UPJA sebaiknya tidak hanya fokus pada penyewaan alat, tetapi juga memberikan layanan konsultasi pertanian, pengolahan hasil pertanian, serta dukungan teknis lain yang relevan dengan kebutuhan petani.

Dengan manajemen yang baik dan berkelanjutan, UPJA dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani di daerah Nguter

(28)

PUSTAKA

25/Permentan/PL.130/5/2008, P. M. P. N., & TENTANG. (2008). PEDOMAN PENUMBUHAN DAN PENGEMBANGAN USAHA PELAYANAN JASA ALAT DAN MESIN PERTANI. تاينقتلا مسق

قر ا علا ، دادغب .دادغب ةعماج -مولعلا ةيلك - ةيئايحلاا دلجملا ,

49

)مولعلل ةيقر ا علا ةلجملا( .

Sukmana, R. I., Suminah, & Ihsaniyati, H. (2017). KINERJA USAHA PELAYANAN JASA ALSINTAN (UPJA) MENUJU PERTANIAN MODERN DI KABUPATEN SUKOHARJO REGENCY. Jurnal Agritexts, 41(1).

Tarigan, H. (2019). Mekanisasi Pertanian dan Pengembangan Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA). Forum Penelitian Agro Ekonomi, 36(2).

https://doi.org/10.21082/fae.v36n2.2018.117-128

Hartadi, M. A., Jamanie, F. dan Setiani, M. Y., 2016. Analisis Kinerja Usaha Pelayanan Jasa Alat Mesin Pertanian (UPJA) di Kabupaten Nunukan. Tugas Akhir Program Magister.

Jakarta:Universitas Terbuka.

MODUL_MSIB_TEKNOLOGI_MEKANISASI(J07.56] Rev 22 08 24

(29)

DOKUMENTASI

Gambar 6 survei lokasi UPJA Tani Jaya Gambar 5 survei lokasi penebaran benih

padi

Gambar 4 Transplanter AP6 kubota Gambar 3 transplenter UPJA Tani Jaya

Gambar

Gambar  1 mesin tranplenter
Table 1 Efisiensi Alat Mesin Pertanian
Table 2 Contoh jadwal servis berkala traktor
Gambar  2 daftar invetaris UPJA Tani Jaya
+3

Referensi

Dokumen terkait

Untuk membantu menjaga mutu hasil panen, diperlukan alat pengering terutama pada saat puncak panen musim penghujan. Alat tersebut dibutuhkan agar proses pengolahan

Pelatihan Pengolahan hasil panen dan wirausaha untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Masyarakat memiliki keterampilan dalam mengelola hasil panen lokal menjadi produk

1) Perbaikan mutu melalui perbaikan sistem off-farm dan on-farm. 2) Menekan susut panen dan pasca panen. 3) Penanganan pasca panen secara lebih baik. 4) Pengolahan hasil

Alat dan mesin panen yang sesuai dengan varietas padi akan memperkecil kemungkinan kehilangan hasil panen karena alat atau mesin yang digunakan sudah sesuai

difokuskan untuk mendorong penerapan penanganan pascapanen yang tepat sehingga dapat mengamankan potensi kehilangan hasil (susut) produksi pada saat panen/

Hasil panen dari ayam pedaging adalah daging ayam. Perencanaan panen pada ayam pedaging harus dilakukan dengan baik guna mengurangi resiko kematian akibat stres pada saat panen.

Tujuan penanganan pascapanen benih kedelai adalah menjaga viabilitas benih kedelai supaya tetap sama seperti pada waktu panen dan mengurangi kehilangan hasil pada semua

Pelatihan Pengolahan hasil panen dan wirausaha untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Masyarakat memiliki keterampilan dalam mengelola hasil panen lokal menjadi produk