LAPORAN PKP - PGSD PDGK4501
PENINGKATAN MINAT BACA SISWA MELALUI PENGAYAAN KOLEKSI BUKU DAN PENERAPAN METODE CERITA BERGAMBAR
KELAS III SD NEGERI USAPITOKO
DISUSUN OLEH :
Nama : Marni Sanita Tusi
NIM : 859274628
Program Studi : S1-PGSD
Pokjar : Mollo Selatan
Masa Registrasi : 2025.1
UNIVERSITAS TERBUKA UPBJJ UT KUPANG
TAHUN 2025.1
LEMBAR PENGESAHAN
HASIL PERBAIKAN PEMBELAJRAN PKP-PGSD/PDGK 4501
Laporan Pemantapan Kemampuan Profesional dengan judul “PENINGKATAN MINAT BACA SISWA MELALUI PENGAYAAN KOLEKSI BUKU DAN PENERAPAN METODE CERITA BERGAMBAR KELAS III SD NEGERI USAPITOKO”.
Disusun Oleh :
Nama : Marni Sanita Tusi
NIM : 859274628
Telah diterima dan disetujui oleh Supervisor Pembimbing untuk diajukan kepada Ketua Program Studi S1 PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
UNIVERSITAS TERBUKA Mengetahui
Pembimbing/Tutor
Harlen P.S.Selan S.Pd.,M.Pd
Supervisor 2
MIKSON A.R. OEMATAN S.Pd.SD,Gr NIP.19780317 202121 1 002
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Laporan Praktek Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP) yang saya susun sebagai syarat untuk memenuhi mata kuliah PKP pada Program Studi S1 PGSD Universitas Terbuka (UT) seluruhnya merupakan hasil kerja saya sendiri.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan laporan PKP yang saya kutip dari hasil karya orang telah dituliskan dalam sumbernya secara jelas dengan norma, kaidah dan etika penulisan karya ilmiah.
Apabila dikemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian laporan PKP ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiasi pada bagian-bagian tertentu, saya bersedia menerima sanksi, termasuk pencabutan gelar akademik yang saya sandang sesuai dengan perundang- undangan yang berlaku.
Soe,07 Mei 2025 Yang membuat pernyataan.
Marni Sanita Tusi NIM.859274628
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP) ini dengan baik sesuai dengan waktu yang telah direncanakan.
Laporan PKP ini berjudul “PENINGKATAN MINAT BACA SISWA MELALUI PENGAYAAN KOLEKSI BUKU DAN PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS III SDN USAPITOKO’’
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan PKP ini tidak akan dapat diselesaikan dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak.Oleh karena itu,penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan laporan ini.
Berkat bantuan dari berbagai pihak serta bimbingan dan motivasi yang diberikan,maka pada kesempatan ini dengan rasa hormat,ketulusan hati dan kerendahan hati,penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak HARLEN P. S. SELAN, S.Pd.,M.Pd selaku tutor mata kuliah PKP yang telah banyak memberikan bimbingan,arahan,dan saran kepada penulis selama menyusun laporan PKP ini.
2. Bapak CALVIN C.H. MAPLANI S.Pd.,Gr selaku Kepala Sekolah SD Negeri Usapitoko beserta staf pengajar yang telah banyak membantu.
3. Supervisor 2,Bapak MIKSON A.R. OEMATAN S.Pd.SD,Gr yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama proses praktek hingga penyusunan laporan PKP.
4. Orang Tuaku tercinta,Ayah EBENHAISER TUSI S.Pd dan Ibunda Oktofiana Anlik,yang telah membesarkan dan membimbing penulis serta memberi doa dan dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini.
5. Saudaraku tercinta ORY ADRIANA TUSI, NOVENTRIS Y.TUSI, KELVIN TUSI, yang telah memberi masukan dan dukungan kepada penulis.
6. Yang tercinta ANDRE EFENDI,yang telah memberikan semangat dan dukungan dalam setiap kesulitan dalam penulisan laporan ini.
7. Sahabat sekaligus teman seperjuangan yang telah memberikan semangat dan dorongan dalam setiap kesulitan penulisan laporan PKP ini.
8. Seluruh pihak yang ikut andil dalam penyusunan laporan PKP ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu,terimakasih atas dukungannya.
Penulis menyadari masih sangat banyak kekurangan baik isi maupun tata bahasa,oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan di masa mendatang.
DAFTAR ISI
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Kesediaan Menjadi Supervisor 2 dalam Pembimbingan PKP Lampiran 2 : Format Perencanaan Perbaikan Pembelajaran
Lampiran 3 : RPP Siklus 1
Lampiran 4 : Lembar Refleksi Supervisor 2 Lampiran 5 : RPP Siklus 2
Lampiran 6 : Lembar Observasi Guru Lampiran 7 : Lembar Observasi Siswa Lampiran 8 : Lembar Hasil Nilai Siklus 1 Lampiran 9 : Lembar Hasil Nilai Siklus 2 Lampiran 10 : Dokumentasi
ABSTRAK
Marni Sanita Tusi,(2025). PENINGKATAN MINAT BACA SISWA MELALUI PENGAYAAN KOLEKSI BUKU DAN PENERAPAN METODE CERITA BERGAMBAR KELAS III SD NEGERI USAPITOKO
Marni Sanita Tusi, lahir di Kabupaten Kota Soe, 14 Maret 2001. Bertempat tinggal di Soe, Kecamatan Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Penulis berprofesi sebagai pendidik semenjak tahun 2020. Saat ini penulis bertugas sebagai pendidik di SD Negeri Usapitoko dan mendapat Rombel kelas 3.
Pendidikan dasar memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan membaca sejak dini.
Berdasarkan hasil observasi di SD Negeri Usapitoko, ditemukan bahwa minat baca siswa kelas III masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan koleksi buku yang tersedia dan metode pembelajaran yang belum variatif.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca siswa kelas III SD Negeri Usapitoko melalui pengayaan koleksi buku dan penerapan metode bercerita bergambar. Permasalahan utama yang dihadapi adalah rendahnya minat baca siswa yang berdampak pada keterbatasan dalam memahami isi bacaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan tindakan kelas yang dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.
Pengayaan koleksi buku dilakukan dengan menyediakan berbagai bacaan menarik yang sesuai dengan tingkat usia siswa, sedangkan metode bercerita bergambar diterapkan untuk membangkitkan ketertarikan siswa terhadap isi cerita. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan minat baca siswa yang signifikan pada akhir siklus kedua. Siswa menjadi lebih aktif dalam kegiatan membaca dan menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti sesi bercerita. Dengan demikian, pengayaan koleksi buku dan metode bercerita bergambar terbukti efektif dalam meningkatkan minat baca siswa kelas III.
Kata Kunci : minat baca,pengayaan buku,bercerita bergambar,siswa sekolah dasar
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Minat baca merupakan salah satu aspek penting dalam proses pembelajaran yang berperan besar dalam membentuk karakter dan pengetahuan siswa. Membaca bukan sekadar aktivitas mengenali huruf dan kata, tetapi merupakan gerbang utama untuk memperoleh informasi, memperluas wawasan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan imajinatif. Di era informasi seperti saat ini, kemampuan membaca yang baik perlu ditanamkan sejak usia dini, khususnya di jenjang sekolah dasar, agar siswa mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara optimal.
Jean Piaget, seorang tokoh psikologi perkembangan, menyatakan bahwa anak usia sekolah dasar berada dalam tahap operasional konkret, di mana mereka mulai mampu berpikir logis terhadap hal-hal yang bersifat konkret dan nyata. Dalam tahap ini, anak sangat terbantu oleh media visual dan aktivitas langsung, seperti bercerita bergambar, yang dapat merangsang daya imajinasi, memperkuat pemahaman, serta menumbuhkan ketertarikan terhadap bacaan. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk menyediakan stimulus yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak, termasuk melalui buku bacaan bergambar dan metode pembelajaran yang interaktif.
Namun, berdasarkan observasi awal yang dilakukan di SD Negeri Usapitoko, khususnya pada siswa kelas III, ditemukan bahwa minat baca siswa masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari kurangnya antusiasme siswa dalam mengakses buku-buku yang tersedia di perpustakaan sekolah maupun dalam kegiatan pembelajaran membaca di kelas. Siswa lebih sering menunjukkan ketertarikan terhadap kegiatan bermain dibandingkan membaca. Bahkan, saat diberikan waktu membaca, banyak siswa yang tidak menggunakan waktu tersebut secara maksimal. Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius karena rendahnya minat baca dapat berdampak pada rendahnya pemahaman terhadap materi pelajaran dan hasil belajar secara umum.
Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab rendahnya minat baca siswa antara lain:
keterbatasan koleksi buku bacaan yang tersedia di sekolah, kurang bervariasinya media dan metode pembelajaran yang digunakan guru, serta belum optimalnya upaya guru dalam membangkitkan semangat membaca melalui pendekatan yang menyenangkan. Buku-buku yang tersedia di perpustakaan sekolah umumnya bersifat teks naratif tanpa ilustrasi menarik, sehingga kurang merangsang keingintahuan dan imajinasi siswa. Sementara itu, metode pembelajaran membaca yang digunakan di kelas cenderung monoton dan kurang interaktif.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dibutuhkan inovasi dalam pendekatan pembelajaran membaca yang mampu menarik perhatian siswa dan memicu minat mereka untuk membaca secara sukarela. Salah satu pendekatan yang dianggap efektif adalah dengan melakukan pengayaan koleksi buku bacaan yang sesuai dengan usia dan minat siswa, serta menerapkan metode bercerita bergambar.
Metode bercerita bergambar diyakini dapat memberikan stimulus visual dan emosional yang kuat kepada siswa, sehingga mampu menumbuhkan ketertarikan mereka terhadap isi cerita dan kegiatan
membaca secara keseluruhan. Selain itu, penyediaan buku-buku dengan gambar menarik dan alur cerita sederhana dapat menjadi jembatan untuk menanamkan kebiasaan membaca sejak dini.
Oleh karena itu, penting untuk melakukan tindakan pembelajaran yang dirancang secara sistematis guna meningkatkan minat baca siswa kelas III SD Negeri Usapitoko melalui strategi pengayaan koleksi buku bacaan dan penerapan metode bercerita bergambar. Dengan langkah tersebut diharapkan siswa menjadi lebih antusias dalam membaca dan mampu mengembangkan kebiasaan membaca yang berkelanjutan.
Menurut Ellis & Brewster (2014), bercerita (story telling) di kelas bahasa anak-anak merupakan strategi pedagogis yang memungkinkan guru “menyelenggarakan input linguistik yang kaya, berulang, dan bermakna” sambil tetap memelihara perhatian siswa melalui ilustrasi visual. Cerita bergambar dianggap memberi konteks konkret yang sesuai dengan karakteristik perkembangan kognitif anak usia 7-10 tahun sehingga membantu mereka menautkan kata, makna, dan gambar secara simultan.
Isbell et al. (2004) menekankan bahwa aktivitas membaca buku bergambar dengan cara bercerita mampu meningkatkan “story sense”, kosakata, serta motivasi intrinsik untuk membaca. Mereka menemukan bahwa anak yang terpapar sesi bercerita interaktif menunjukkan peningkatan ketertarikan memilih buku secara mandiri di perpustakaan kelas dibandingkan anak yang hanya membaca secara diam.Sementara itu, Wright (2013)—dalam buku Storytelling With Children—menyebut metode bercerita bergambar sebagai sarana “multimodal literacy”; kombinasi teks, ilustrasi, gerak, dan intonasi suara guru mendukung gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik sekaligus. Wright menegaskan bahwa gambar berperan sebagai “jangkar makna” yang membuat anak lebih mudah memahami alur dan pesan moral cerita.
Dengan demikian, pengayaan koleksi buku bergambar yang variatif serta penerapan metode bercerita bergambar selaras dengan rekomendasi para ahli literasi anak untuk menumbuhkan minat baca sekaligus keterampilan bahasa siswa sekolah dasar.Permasalahan rendahnya minat baca ini dapat dianalisis dari berbagai faktor. Pertama, koleksi buku yang tersedia kurang menarik, terutama dari sisi tampilan visual dan kesesuaian dengan usia siswa.
Banyak buku yang tersedia berisi teks panjang tanpa ilustrasi yang menggugah. Kedua, strategi pembelajaran membaca masih bersifat monoton, seperti membaca bersama atau membaca dalam hati tanpa pendampingan yang kreatif. Ketiga, kurangnya kegiatan literasi yang interaktif, seperti membaca cerita bergambar atau diskusi isi cerita secara lisan yang dapat memancing imajinasi siswa.dengan menyediakan buku bergambar, buku cerita anak yang menarik, dan buku tematik yang sesuai dengan usia siswa.
Menerapkan metode bercerita bergambar dalam kegiatan pembelajaran, yaitu guru membacakan cerita sambil menunjukkan gambar, ekspresi, dan intonasi yang menarik agar siswa terlibat secara emosional.Mengintegrasikan kegiatan literasi dalam pembelajaran harian, seperti pojok baca, jurnal membaca, atau sesi tanya jawab ringan setelah membaca.Alternatif-alternatif tersebut dipilih karena
sejalan dengan karakteristik perkembangan siswa kelas III yang masih berada pada tahap berpikir konkret, menyukai cerita, dan membutuhkan stimulus visual. Dengan pendekatan yang menyenangkan dan interaktif, diharapkan siswa merasa lebih antusias terhadap kegiatan membaca dan secara bertahap minat bacanya meningkat.
A. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana proses penerapan metode bercerita bergambar dalam meningkatkan minat baca siswa kelas III di SD Negeri Usapitoko?
2. Bagaimana pengayaan koleksi buku terhadap peningkatan minat baca siswa kelas III di SD Negeri Usapitoko?
3. Apakah penerapan metode bercerita bergambar dan pengayaan koleksi buku dapat secara efektif meningkatkan minat baca siswa kelas III di SD Negeri Usapitoko?
B. TUJUAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui peningkatan minat baca siswa kelas III di SD Negeri Usapitoko melalui pengayaan koleksi buku dan penerapan metode bercerita bergambar.
Sesuai dengan rumusan di atas, tujuan penelitian ini dijabarkan sebagai berikut:
a. Mendeskripsikan proses penerapan metode bercerita bergambar yang dapat meningkatkan minat baca siswa kelas III.
b. Menganalisis peningkatan minat baca siswa setelah diterapkannya metode bercerita bergambar dan pengayaan koleksi buku.
c. Mengetahui efektivitas strategi perbaikan pembelajaran melalui penyediaan bahan bacaan yang menarik dan visualisasi cerita dalam menumbuhkan motivasi membaca siswa.
C. MANFAAT PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN 1. Manfaat bagi penulis
a. Bagi penulis, penelitian ini menjadi pengalaman berharga dalam meningkatkan kompetensi profesional sebagai guru, khususnya dalam merancang strategi pembelajaran yang inovatif untuk meningkatkan minat baca siswa.
b. Penulis memperoleh wawasan dan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai pentingnya penyediaan bahan bacaan yang menarik serta penerapan metode bercerita bergambar dalam pembelajaran di sekolah dasar.
2. Manfaat bagi siswa
a. Meningkatkan minat dan kebiasaan membaca siswa melalui pengadaan koleksi buku yang bervariasi dan menarik.
b. Siswa dapat mengembangkan daya imajinasi, kreativitas, serta kemampuan memahami isi bacaan melalui metode bercerita bergambar.
c. Mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran yang menyenangkan.
3. Manfaat bagi sekolah
a. Memberikan kontribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran Bahasa Indonesia melalui pendekatan yang sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar.
b. Menjadi masukan bagi pihak sekolah dalam mengembangkan program literasi sekolah secara berkelanjutan.
4. Manfaat bagi pembaca
a. Memberikan referensi dan inspirasi bagi pembaca, khususnya praktisi pendidikan, dalam menerapkan metode pembelajaran kreatif untuk meningkatkan minat baca siswa.
b. Dapat dijadikan acuan dalam menyusun kegiatan literasi sekolah atau penelitian sejenis yang berfokus pada pengembangan keterampilan membaca sejak dini.
c. Memperkaya pengetahuan pembaca tentang pentingnya sinergi antara ketersediaan bahan bacaan dan metode pengajaran yang menarik.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. KAJIAN TEORI
Minat baca merupakan suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan kegiatan membaca dengan kesadaran dan keinginan sendiri. Minat tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi dibentuk oleh pengalaman, lingkungan, dan pembiasaan yang terus menerus. Menurut Slameto (2010:57), minat baca adalah rasa suka dan ketertarikan seseorang terhadap kegiatan membaca yang diwujudkan dalam kebiasaan atau tindakan nyata untuk membaca secara sukarela dan berulang.
Sementara itu, Crow & Crow (dalam Mulyasa, 2013) mengungkapkan bahwa minat merupakan suatu motif yang mendorong seseorang untuk bertindak. Bila seseorang memiliki minat terhadap suatu objek atau kegiatan, maka ia akan terdorong untuk mencurahkan perhatian dan melibatkan diri secara aktif. Dalam konteks pembelajaran, minat baca menjadi kunci utama dalam keberhasilan akademik siswa karena melalui membaca, siswa memperoleh informasi, memperkaya kosa kata, dan meningkatkan daya pikir.
Minat baca anak usia sekolah dasar tidak terbentuk secara alami, tetapi perlu ditumbuhkan melalui pendekatan yang tepat. Anak-anak umumnya lebih tertarik pada bacaan yang memuat gambar, warna, serta alur cerita yang menyenangkan. Oleh karena itu, media dan metode yang digunakan dalam kegiatan membaca harus disesuaikan dengan karakteristik perkembangan mereka.
Jean Piaget menyebutkan bahwa anak usia 7–11 tahun berada dalam tahap operasional konkret, yaitu tahap di mana anak mampu berpikir logis terhadap hal-hal yang konkret tetapi belum dapat berpikir secara abstrak (Papalia, Olds & Feldman, 2009). Dalam fase ini, anak cenderung menyukai kegiatan belajar yang bersifat visual, nyata, dan menyenangkan. Kegiatan membaca akan lebih bermakna jika dipadukan dengan gambar, cerita yang menarik, dan aktivitas diskusi sederhana.
Anak yang memiliki minat baca yang baik akan lebih mudah memahami pelajaran, memiliki kosakata yang lebih luas, serta lebih percaya diri dalam mengungkapkan pendapat. Hal ini ditegaskan oleh Anderson (2003) bahwa membaca tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk belajar, tetapi juga sebagai sarana membangun empati, imajinasi, dan nalar.
Metode bercerita merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang sudah digunakan sejak lama untuk menyampaikan pesan, nilai, dan informasi kepada anak-anak. Ketika digabungkan dengan media bergambar, metode ini menjadi semakin efektif dalam meningkatkan daya tarik dan pemahaman siswa. Menurut Wright (2013), cerita bergambar mampu membangun koneksi antara teks dan makna secara visual, sehingga membantu anak memahami isi cerita dengan lebih baik.
Bercerita bergambar juga mengembangkan kemampuan mendengar, berbicara, dan berpikir kritis siswa. Isbell et al. (2004) menyatakan bahwa anak-anak yang sering mengikuti kegiatan bercerita memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik, kosakata yang lebih luas, dan minat baca yang lebih
tinggi. Cerita dengan gambar menarik, ekspresi suara, serta interaksi selama bercerita mampu menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna bagi anak.
Selain metode, bahan bacaan juga sangat menentukan keberhasilan dalam menumbuhkan minat baca. Pengayaan koleksi buku yang relevan, menarik, dan sesuai dengan usia anak merupakan bentuk penyediaan lingkungan literasi yang baik. Menurut Tarigan (2008), koleksi buku yang lengkap, variatif, dan sesuai minat anak akan memudahkan mereka dalam memilih bacaan yang disenangi.
Buku cerita bergambar, fabel, komik edukatif, dan buku tematik interaktif sangat cocok untuk siswa kelas rendah karena mampu memadukan unsur hiburan dan edukasi.
Perpustakaan kelas dan pojok baca yang dilengkapi dengan buku-buku menarik akan menjadi sarana yang strategis untuk menumbuhkan kebiasaan membaca. Jika lingkungan belajar dipenuhi dengan bacaan yang menyenangkan, maka anak akan lebih termotivasi untuk membaca tanpa paksaan.
Minat baca yang tinggi berkorelasi positif dengan prestasi belajar siswa. Siswa yang memiliki kebiasaan membaca akan lebih mudah memahami materi pelajaran, menjawab soal dengan benar, serta mampu mengembangkan pengetahuan secara mandiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Supriyadi (2011) bahwa semakin tinggi minat baca siswa, maka semakin tinggi pula kemampuan mereka dalam menyerap dan mengolah informasi dalam pembelajaran.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa siswa yang gemar membaca memiliki prestasi akademik yang lebih baik karena mereka terbiasa menyimak, memahami, dan menganalisis teks secara mendalam. Oleh karena itu, peningkatan minat baca bukan hanya berdampak pada pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi juga pada semua mata pelajaran lain.
Terdapat 2 aspek yang dapat membantu siswa dalam pembelajaran di sekolah yaitu.
A. Motivasi Belajar
Motivasi belajar merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran. Menurut Deci dan Ryan (1985), motivasi belajar dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik berasal dari dalam diri siswa, seperti rasa ingin tahu dan kepuasan pribadi dalam belajar. Sementara itu, motivasi ekstrinsik berasal dari faktor luar, seperti penghargaan, pujian, atau nilai yang diberikan oleh guru.
Teori motivasi belajar yang dikemukakan oleh Maslow (1943) dalam hierarki kebutuhan menjelaskan bahwa kebutuhan dasar manusia harus dipenuhi sebelum mereka dapat mencapai kebutuhan yang lebih tinggi, termasuk kebutuhan untuk belajar. Dalam konteks pendidikan, jika siswa merasa aman dan diperhatikan, mereka akan lebih termotivasi untuk belajar. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan belajar yang positif sangat penting untuk meningkatkan motivasi siswa.
Selain itu, teori self-determination yang dikemukakan oleh Deci dan Ryan (2000) menekankan pentingnya otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial dalam memotivasi siswa. Ketika siswa merasa memiliki kontrol atas pembelajaran mereka, merasa kompeten dalam tugas yang diberikan, dan terhubung dengan teman-teman serta guru, mereka akan lebih termotivasi untuk belajar. Oleh karena itu, guru perlu menciptakan suasana yang mendukung ketiga aspek tersebut.
Faktor lain yang mempengaruhi motivasi belajar siswa adalah dukungan sosial dari orang tua dan teman sebaya. Menurut Wentzel (1998), dukungan emosional dan akademik dari orang tua dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Ketika siswa merasa didukung oleh orang tua mereka, mereka cenderung lebih percaya diri dan termotivasi untuk mencapai tujuan akademik.
Lingkungan belajar juga berperan penting dalam mempengaruhi motivasi siswa. Menurut Freiberg dan Stein (1999), lingkungan yang positif dan mendukung dapat meningkatkan motivasi siswa.
Sebaliknya, lingkungan yang negatif atau tidak mendukung dapat menurunkan motivasi dan minat siswa dalam belajar. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif untuk belajar.
Selain itu, minat dan relevansi materi pembelajaran juga mempengaruhi motivasi siswa. Menurut Schunk, Pintrich, dan Meece (2008), siswa akan lebih termotivasi untuk belajar jika mereka merasa bahwa materi yang diajarkan relevan dengan kehidupan mereka. Oleh karena itu, guru perlu mengaitkan materi pembelajaran dengan pengalaman nyata siswa agar mereka lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar.
Dalam konteks pembelajaran inovatif, motivasi belajar dapat ditingkatkan melalui penggunaan metode yang menarik dan relevan dengan kehidupan siswa. Pembelajaran berbasis proyek, misalnya, dapat meningkatkan motivasi siswa karena mereka terlibat langsung dalam kegiatan yang nyata dan bermanfaat. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pentingnya motivasi belajar juga diakui dalam Kurikulum 2013 yang menekankan pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Pendekatan ini mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi dalam proses belajar, sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar. Guru diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menantang agar siswa merasa termotivasi untuk belajar.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Pintrich dan Schunk (2002), ditemukan bahwa siswa yang memiliki motivasi tinggi cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa dan berusaha untuk meningkatkan motivasi tersebut melalui berbagai strategi pembelajaran.
Secara keseluruhan, motivasi belajar merupakan elemen kunci dalam proses pendidikan. Dengan memahami dan menerapkan teori-teori motivasi, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan mendorong siswa untuk mencapai potensi terbaik mereka.
Motivasi belajar merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran. Menurut Deci dan Ryan (1985), motivasi belajar dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik berasal dari dalam diri siswa, seperti rasa ingin tahu dan kepuasan pribadi dalam belajar. Sementara itu, motivasi ekstrinsik berasal dari faktor luar, seperti penghargaan, pujian, atau nilai yang diberikan oleh guru.
Teori motivasi belajar yang dikemukakan oleh Maslow (1943) dalam hierarki kebutuhan menjelaskan bahwa kebutuhan dasar manusia harus dipenuhi sebelum mereka dapat mencapai
kebutuhan yang lebih tinggi, termasuk kebutuhan untuk belajar. Dalam konteks pendidikan, jika siswa merasa aman dan diperhatikan, mereka akan lebih termotivasi untuk belajar. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan belajar yang positif sangat penting untuk meningkatkan motivasi siswa.
Selain itu, teori self-determination yang dikemukakan oleh Deci dan Ryan (2000) menekankan pentingnya otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial dalam memotivasi siswa. Ketika siswa merasa memiliki kontrol atas pembelajaran mereka, merasa kompeten dalam tugas yang diberikan, dan terhubung dengan teman-teman serta guru, mereka akan lebih termotivasi untuk belajar. Oleh karena itu, guru perlu menciptakan suasana yang mendukung ketiga aspek tersebut.
Faktor lain yang mempengaruhi motivasi belajar siswa adalah dukungan sosial dari orang tua dan teman sebaya. Menurut Wentzel (1998), dukungan emosional dan akademik dari orang tua dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Ketika siswa merasa didukung oleh orang tua mereka, mereka cenderung lebih percaya diri dan termotivasi untuk mencapai tujuan akademik.
Lingkungan belajar juga berperan penting dalam mempengaruhi motivasi siswa. Menurut Freiberg dan Stein (1999), lingkungan yang positif dan mendukung dapat meningkatkan motivasi siswa.
Sebaliknya, lingkungan yang negatif atau tidak mendukung dapat menurunkan motivasi dan minat siswa dalam belajar. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif untuk belajar.
Selain itu, minat dan relevansi materi pembelajaran juga mempengaruhi motivasi siswa. Menurut Schunk, Pintrich, dan Meece (2008), siswa akan lebih termotivasi untuk belajar jika mereka merasa bahwa materi yang diajarkan relevan dengan kehidupan mereka. Oleh karena itu, guru perlu mengaitkan materi pembelajaran dengan pengalaman nyata siswa agar mereka lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar.
Dalam konteks pembelajaran inovatif, motivasi belajar dapat ditingkatkan melalui penggunaan metode yang menarik dan relevan dengan kehidupan siswa. Pembelajaran berbasis proyek, misalnya, dapat meningkatkan motivasi siswa karena mereka terlibat langsung dalam kegiatan yang nyata dan bermanfaat. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pentingnya motivasi belajar juga diakui dalam Kurikulum 2013 yang menekankan pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Pendekatan ini mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi dalam proses belajar, sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar. Guru diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menantang agar siswa merasa termotivasi untuk belajar.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Pintrich dan Schunk (2002), ditemukan bahwa siswa yang memiliki motivasi tinggi cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa dan berusaha untuk meningkatkan motivasi tersebut melalui berbagai strategi pembelajaran.
Secara keseluruhan, motivasi belajar merupakan elemen kunci dalam proses pendidikan. Dengan memahami dan menerapkan teori-teori motivasi, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan mendorong siswa untuk mencapai potensi terbaik mereka.
B. METODE PEMBELAJARAN
Model pembelajaran inovatif adalah pendekatan yang dirancang untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar. Menurut Bruner (1966), pembelajaran yang efektif harus melibatkan siswa secara aktif dalam proses penemuan. Model pembelajaran inovatif berfokus pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi di antara siswa.
Salah satu model pembelajaran inovatif yang populer adalah pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning). Menurut Thomas (2000), pembelajaran berbasis proyek memungkinkan siswa untuk belajar melalui pengalaman nyata dengan menyelesaikan proyek yang relevan. Model ini mendorong siswa untuk bekerja sama dalam kelompok, merencanakan, dan melaksanakan proyek, sehingga meningkatkan keterampilan sosial dan komunikasi mereka.
Model pembelajaran kooperatif juga merupakan salah satu pendekatan inovatif yang efektif.
Johnson dan Johnson (1999) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif melibatkan siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk mencapai tujuan bersama. Dalam model ini, siswa saling membantu dan mendukung satu sama lain, yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar.
Penggunaan teknologi informasi dalam pembelajaran juga merupakan bagian dari model pembelajaran inovatif. Menurut Prensky (2001), generasi saat ini adalah generasi digital yang lebih nyaman menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, integrasi teknologi dalam pembelajaran dapat meningkatkan minat dan keterlibatan siswa. Contohnya, penggunaan aplikasi edukasi dan media pembelajaran digital dapat membuat proses belajar lebih menarik.
Model pembelajaran inovatif adalah pendekatan yang dirancang untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar. Menurut Bruner (1966), pembelajaran yang efektif harus melibatkan siswa secara aktif dalam proses penemuan. Model pembelajaran inovatif berfokus pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi di antara siswa.
Salah satu model pembelajaran inovatif yang populer adalah pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning). Menurut Thomas (2000), pembelajaran berbasis proyek memungkinkan siswa untuk belajar melalui pengalaman nyata dengan menyelesaikan proyek yang relevan. Model ini mendorong siswa untuk bekerja sama dalam kelompok, merencanakan, dan melaksanakan proyek, sehingga meningkatkan keterampilan sosial dan komunikasi mereka.
C. PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA YANG MAMPU MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA
Pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan berbahasa dan minat baca siswa. Menurut Nurgiyantoro (2013), pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya bertujuan untuk mengajarkan keterampilan berbahasa, tetapi juga untuk membangun minat baca yang tinggi di kalangan siswa. Minat baca yang baik akan berkontribusi pada penguasaan bahasa yang lebih baik dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap berbagai jenis teks.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan minat baca adalah melalui penggunaan bahan bacaan yang menarik dan relevan dengan kehidupan siswa. Menurut Guthrie dan Wigfield (2000), pemilihan teks yang sesuai dengan minat dan pengalaman siswa dapat meningkatkan motivasi mereka untuk membaca. Oleh karena itu, guru perlu memilih materi bacaan yang bervariasi, seperti cerita pendek, puisi, dan artikel yang menarik bagi siswa.
Teori konstruktivisme yang dikemukakan oleh Piaget (1976) juga dapat diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dalam pendekatan ini, siswa diajak untuk aktif berpartisipasi dalam proses belajar, termasuk dalam kegiatan membaca. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan dan berbagi pendapat tentang bacaan yang mereka baca, mereka akan lebih terlibat dan termotivasi untuk membaca lebih banyak.
Selain itu, penggunaan teknologi informasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia juga dapat meningkatkan minat baca siswa. Menurut Prensky (2001), generasi saat ini adalah generasi digital yang lebih nyaman menggunakan teknologi. Dengan memanfaatkan media digital, seperti e-book, blog, dan aplikasi membaca, siswa dapat mengakses berbagai jenis bacaan dengan lebih mudah dan menarik. Hal ini dapat membantu meningkatkan minat baca mereka.
Pembelajaran berbasis proyek juga dapat diterapkan dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan minat baca. Siswa dapat diajak untuk membuat proyek yang berkaitan dengan bacaan, seperti membuat buku cerita, presentasi tentang tema tertentu, atau bahkan menulis artikel. Dengan cara ini, siswa tidak hanya membaca, tetapi juga mengaplikasikan apa yang mereka baca dalam bentuk karya nyata.
Pentingnya menciptakan suasana kelas yang mendukung juga tidak dapat diabaikan. Menurut Freiberg dan Stein (1999), lingkungan belajar yang positif dapat meningkatkan minat baca siswa.
Guru perlu menciptakan suasana yang menyenangkan dan menantang, di mana siswa merasa nyaman untuk berbagi pendapat dan berdiskusi tentang bacaan yang mereka baca.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh McKenna dan Kear (1990), ditemukan bahwa siswa yang memiliki minat baca yang tinggi cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan minat baca siswa, seperti mengadakan kegiatan membaca bersama, lomba membaca, atau klub buku.
Secara keseluruhan, pembelajaran Bahasa Indonesia yang efektif harus mampu meningkatkan minat baca siswa. Dengan menerapkan berbagai pendekatan dan strategi yang sesuai, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan mendorong siswa untuk lebih aktif membaca.
Hal ini tidak hanya akan meningkatkan kemampuan berbahasa siswa, tetapi juga memperluas wawasan dan pengetahuan mereka
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PEMBELAJARAN
A. Subjek,Tempat,dan waktu Penelitian,Pihak yang Membantu 1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah peserta didik kelas III ( tiga )SD Negeri Usapitoko kecamatan Mollo,semester genap tahun ajaran 2024/2025,dengan jumlah peserta didik keseluruhan 15 orang yang terdiri dari 8 laki-laki dan 7 perempuan.
2. Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SD Negeri Usapitoko,Desa Fatukoko Kecamatan Mollo Barat Kabupaten Timor Tengah Selatan.Tempat tersebut dipilih sebagai tempat penelitian karena peneliti sebagai salah satu tenaga pendidik di sekolah itu.Sehingga peneliti dapat melakukan penelitian dengan efisien baik tenaga,dana maupun waktu.
3. Waktu Penelitian
Rentang Waktu Pelaksanaan Penelitian diadakan dalam waktu, mulai tanggal 29 April sampai 05 Mei 2025.
4. Pihak Yang Membantu
Pihak yang membantu dalam penelitian ini adalah teman sejawat,supervisor 2 dan dukungan dari pihak sekolah.
No Pelaksanaan Hari/Tanggal Kegiatan
1 Siklus 1 Selasa,29 April 2025 Pemberian Materi dan Tugas
2 Siklus 2 Senin,05 Mei 2025 Pemberian Materi dan Tugas
B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran 1. Karakteristik Siswa
Dalam pelaksanaan pelaksanaan pembelajaran di kelas,guru memperhatikan karakteristik peserta didik yaitu hal-hal baik yang mendukung maupun yang menjadi kendala dalam pelaksanaan pembelajaran sehingga pembelajaran lebih bermakna bagi siswa,adapun karakteristik siswa kelas IV SDN Usapitoko sebagai berikut:
a. Jumlah siswa 15 orang,yaitu 8 laki-laki dan 7 perempuan
b. Jarak tempat tinggal siswa dengan jarak tempuh ke sekolah berkisar 2 kilometer
c. Latar belakang sosial dari siswa sebagian besar dari ekonomi kalangan menengah kebawah d. Usia rata-rata siswa 10 tahun
2. Perencanaan,Pelaksanaan dan Pengamatan
Proses yang terjadi per siklus dan rencana perbaikan pembelajaran dalam siklus 3 untuk mata pelajaran IPAS.Hal-hal perlu disiapkan antara lain :
a. Membuat skenario pembelajaran,terdiri dari langkah-langkah dalam pembelajaran yang berkaitan dengan metode yang ditetapkan.
b. Mempersiapkan fasilitas yang diperlukan dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran termasuk mempersiapkan media pembelajaran yang digunakan.
c. Mempersiapkan perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian.
Pada tahap proses perbaikan pembelajaran,kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan skenario pembelajaran sesuai dengan yang telah direncanakan.Observasi dilakukan terhadap guru maupun terhadap siswa pada proses pembelajaran berlangsung.Khusus untuk mengobservasi guru dalam perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran digunakan Alat Lembar Penilaian Kemampuan Guru ( APKG ).
APKG 1 berkaitan dengan penelitian perencanaan pembelajaran (RPP) sedangkan APKG 2 berkaitan dengan penelitian pelaksanaan pembelajaran.Pengamatan kedua hal tersebut dilakukan oleh Supervisor 2.Tes /evaluasi siswa dilakukan di akhir setiap siklus pembelajaran pada setiap siklus akan diuraikan sebagai berikut :
Deskripsi Persiklus Siklus I
1. Rencana Perbaikan
Rencana perbaikan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial.
a. Materi :
b. Tujuan Pembelajaran :
c. Indikator :
d. Cara Mengatasinya :
2. Pelaksanaan Perbaikan Kegiatan Awal
a. Guru mengarahkan siswa untuk melakukan pembelajaran yang kondusif.
b. Menyiapkan fasilitas dan sumber belajar.
c. Mengajak siswa berdoa bersama,bernyanyi bersama 1 lagu yang berkaitan dengan materi yaitu “ Dua Mata Saya “
d. Menyampaikan tujuan pembelajaran Kegiatan Inti
a. Siswa menyimak penjelasan Guru mengenai Panca Indera
b. Guru mengajak siswa melakukan metode tanya jawab berkaitan dengan materi pembelajaran
c. Siswa diajak melakukan pengamatan langsung pada gambar panca indera yang ada pada papan tulis
d. Guru membagi siswa dalam 2 kelompok
e. Guru membagikan lembar LKPD untuk dikerjakan siswa secara berkelompok dan di presetasikan
f. Guru dan siswa membuat kesimupalan hasil belajar Kegiatan Akhir
a. Guru mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui daya serap anak b. Pemberian tindak lanjut yaitu dengan memberikan pekerjaan rumah bagi siswa 3. Refeleksi
Setelah melakukan hasil tes belajar siswa,lalu dianalisis melalui refleksi untuk dapat menarik kesimpulan.Hasil yang diperoleh pada kegiatan refleksi ini dijadikan sumber bagin tindakan selanjutnya,yaitu untuk memperbaiki,menyempurnakan dan menghilangkan kebiasaan yang kurang baik dalam pelaksanaan pembelajaran,sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan,yaitu untuk mrningkatkan kemampuan serta pemahaman siswa dalam pembelajaran :
Adapun hasil Refleksi yang di peroleh :
a. Guru sering mengkondisikan siswa kearah yang kondusif b. Guru Kurang dalam menjelaskan materi
c. Guru kurang mampu dalam memanejemen waktu Siklus II
1. Rencana Perbaikan
Rencana perbaikan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial.
a. Materi :
b. Tujuan Pembelajaran :
c. Indikator :
d. Cara Mengatasinya :
Kegiatan Awal
d. Guru mengarahkan siswa untuk melakukan pembelajaran yang kondusif.
e. Menyiapkan fasilitas dan sumber belajar.
f. Mengajak siswa berdoa bersama,bernyanyi bersama 1 lagu yang berkaitan dengan materi yaitu “ Dua Mata Saya “
g. Menyampaikan tujuan pembelajaran Kegiatan Inti
g. Siswa menyimak penjelasan Guru mengenai Panca Indera
h. Guru mengajak siswa melakukan metode tanya jawab berkaitan dengan materi pembelajaran
i. Siswa diajak melakukan pengamatan langsung pada gambar panca indera yang ada pada papan tulis
j. Guru membagi siswa dalam 2 kelompok
k. Guru membagikan lembar LKPD untuk dikerjakan siswa secara berkelompok dan di presetasikan
l. Guru dan siswa membuat kesimupalan hasil belajar Kegiatan Akhir
a. Guru mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui daya serap anak b. Pemberian tindak lanjut yaitu dengan memberikan pekerjaan rumah bagi siswa 4. Refeleksi
Setelah melakukan hasil tes belajar siswa,lalu dianalisis melalui refleksi untuk dapat menarik kesimpulan.Hasil yang diperoleh pada kegiatan refleksi ini dijadikan sumber bagin tindakan selanjutnya,yaitu untuk memperbaiki,menyempurnakan dan menghilangkan kebiasaan yang kurang baik dalam pelaksanaan pembelajaran,sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan,yaitu untuk mrningkatkan kemampuan serta pemahaman siswa dalam pembelajaran :
Adapun hasil Refleksi yang di peroleh :
a. Guru mampu mengkondidikan kelas kearah situasi belajar yang kondusif b. Guru mampu dalam menjelaskan materi
c. Guru mampu dalam memanejemen waktu C.Teknik Analisis Data
Pada penelitian ini,data analisis secara kualitatif dan juga kuantitatif.Instrumrn yang digunakan peneliti dalam penelitian tindakan kelas ada empat macam yaitu,Lembar pengamatan kinerja Guru Oleh supervisor 2 dan lembar observasi aktivitas siswa yang merupakan data kuantitatif.Dan lembar hasil evaluasi siswa yang merupakan data kuantitatif.
a. Lembar Pengamatan Kinerja Guru
Lembar ini adalah alat pengumpulan data dan merupakan sebuah format yang dimana berisikan indikator tentang keadaan yang menggambarkan kinerja guru kelas III SD pada saat berlangsungnya pelaksanaan perbaikan yaitu proses pembelajaran IPAS.Format Observasi kinerja Guru Oleh Supervisor 2 dapat dilihat pada lampiran.
b. Lembar Observasi Aktivitas Siswa
Lebar Observasi aktivitas siswa digunakan untuk mengumpulkan data tentang perilaku siswa selama proses pembelajaran.Aspek yang dinilai terdiri dari :
Aspek partisipasi siswa dalam pembelajaran,yaitu : a. Kehadiran siswa dalam mata pelajaran IPAS b. Keinginan siswa dalam belajar IPAS
Aspek keaktifan siswa selama mengikuti pembelajaran,yaitu :
a. Mengajukan pertanyaan dan komentar tentang materi yang dibahas
b. Memberikan tanggapan terhadap jawaban atau komentar terhadap pertanyaan Guru
c. Keterlibatan siswa secara langsung dalam kegiatan pembelajaran
Aspek motivasi siswa selama proses pembelajaran,indikator untuk aspek kerjasama adalah :
a. Tamapk antusias selama pembelajaran
b. Bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan
c. Menunjukan keberanian saat bertanya dan menjawab pertanyaan 2. Lembar Evaluasi Siswa
Setelah dilakukan penelitian diperoleh lembar evaluasi berupa LKPD yang dikerjakan oleh setiap siswa.setiap soal merupakan tujuan pembelajaran khusus yang di kerjakan oleh setiap kelompok pada LKPD masing-masing merupakan tujuan khusus yang harus di capai siswa.Tujuan dilaksanakannya evaluasi/tes adalah untuk memperoleh data mengenai tingkat keberhasilan siswa dalam memahami dan menguasai materi pelajaran yang dibahas Tes yang digunakan berupa tes isian singkat ( terlampir ).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penelitisn Perbaikan Pembelajaran
Penelitian ini dilaksanakan dalam satu siklus awal ( pra siklus ) dan 1 siklus perbaikan pembelajaran untuk mata pelajaran IPAS.Dan hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan hasil belajar yang dapat dicapai siswa.Demikian juga yang berkaitan dengan aktivitas siswa dan guru dalam proses pembelajaran.
Deskripsi Per Siklus 1. Pra Siklus
Pra siklus untuk mata pelajaran IPAS ini dilaksanakan pada hari Selasa, 29 April 2025.Dengan materi pokok tentang Panca Indera,siswa yang mengikuti pelajaran sebanyak 7 orang siswa,4 laki-laki dan 3 perempuan.Pada pra siklus ini penulis didampingi oleh supervisor 2.Penulis tidak memanejemen waktu dengan baik sehingga proses pembelajaran melewati waktu yang seharasnya 2x35 menit.
Pada pra siklus ini bisa dikatakan belum berhasil karena nilai rata-rata hasil evaluasi mencapai 68,33 dengan criteria ketuntasan minimal 65.Siswa memperoleh nilai dibawah KKM hanya sebanyak 4 Siswa.Sedangkan nilai diatas KKM hanya sebanyak 3 siswa.Dapat dikatakan bahwa ketuntasan nilai diatas KKM hanya mencapai 45% untuk mata pelajaran IPAS,sehingga Supervisor 2 mengusulkan untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran.
2. Perbaikan Siklus 1
Pada proses perbaikan pembelajaran siklus 1 dilakukan pada hari Senin 05 Mei 2025,dikarenakan padatnya jadwal ujian akhir kelas 6 sehingga siklus ke 1 baru di laksanakan setelah siklus pertama.Pada siklus 1 ini penulis melakukan proses kegiatan belajar mengajar di damping Supervisor 2.Dari pengalaman siklus pertama yang penulis ambil maka pelaksanaan pembelajaran siklus ke 1 ini jauh lebih baik dari pembelajran sebelumnya.
Penggunaan Metode yang sesuai dengan gaya belajar siswa yang tidak monoton dan mengapresiasi peserta didik membuat semangat dan memotivasi mereka dalam proses pembelajaran.Menurut Supervisor 2 dalam pembelajaran guru sudah mampu dalam penguasaan materi sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung sesuai dengan isi dari RPP yang digunakan.Guru juga mampu dalam mengkondidikan kelas sehingga suasana belajar berlangsung dengan tenang dan Guru juga sudah dapat memanejemen waktu dengan baik.Dengan pengunaan media bergambar dan juga pengayaan buku cerita bergambar berkaitan dengan panca indera siswa sangat terlihat antusias dan bersemangat,dan tampak tidak ada siswa yang merasa bosan atau jenuh.Siswa menjadi lebih aktif dan peran guru hanya sebagai pemandu atau fasilitator.Pembelajaran yang demikian dapat menambah pemahaman dan kemampuan siswa,terbukti setelah melakukan penelitian hasil eveluasi siswa secara keseluruhan sudah meningkat.
Peningkaytan hasil perbaikan pembelajaran pada siklus 1 pelajaran IPAS sangat pesat terhadap rat-rata evaluasi 86,67 siswa yang mendapat nilai dibawah KKM pun tidak ada siswa yang mendapat nilai diatas KKM mencapai 100%.
Hasil selengkapnya tentang kemampuan siswa menyerap materi pelajaran dari pra siklus,rencana perbaikan siklus 1 di sajikan dalam table berikut ini.
Tabel 2.4 Daftar Hasil Evaluasi Siswa
No Nama
Siswa
L/
P
Nilai
Pra siklus Siklus 1
1 Idon L 75 90
2 Joko L 63 85
3 Niko L 50 80
4 Junino L 48 70
5 Rento L 73 92
6 Falas L 80 100
7 Fitri P 85 100
8 Sufri P 78 100
9 Desi P 58 66
10 Aldi L 62 83
11 Mirza P 63 85
12 Maria P 82 100
13 Miaty P 62 79
14 Yungles L 63 78
15 Yuniati P 83 92
Jumlah 1025 1300
Nilai Rata-Rata 68,33 86,67
Nilai Tertinggi 85 100
Nilai Terendah 48 66
Presentase Ketuntasan 45% 100%
Presentase keluntasan = ( 13 / 15 ) x 100% = 86,67%
Tabel 3. Grafik Ketuntasan Belajar Siswa
B. Pembahasan hasil penelitian Perbaikan Pembelajaran
Pada tahap pra-siklus,pembelajaran IPAS di SD Negeri Usapitoko menggunakan pendekatan konvensional yang cenderung kurang menarik bagi siswa.Proses pembelajaran dilakukan dengan metode ceramah tanpa memanfaatkan media visual atau alat bantu yang relevan.Akibatnya,siswa hanya berperan sebagai pendengar pasif dan menunjukan keterlibatan yang sangat rendah selama proses belajar mengajar.Kondisi ini tercermin dari hasil evaluasi siswa,dimana rata-rata nilai siswa hanya mencapai 68,33 dengan tingkat ketuntasan 45%.Mayoritas siswa belum mampu mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM),yang menunjukan bahwa pendekatan pembelajaran tersebut kurang efektif dalam membantu siswa memahami materi tentang Panca Indera.
Setelah analisis pra-siklus dilakukan,perbaikan pembelajaran dilakukan pada siklus 1 demham menggunakan media gambar dan metode bercerita bergambar.Guru mulai memanfaatkan gambar-gambar yang relefan untuk membantu siswa memahami materi.Selain itu sesi pembelajaran dibuat lebih interaktif melalui kegiatan kelompok.Dalam kegiatan ini,siswa diajak berdiskusi,mengamati gambar,mengerjakan soal yang ada pada LKPD dan mempresentasikan hasil diskusi mereka.Metode ini tidak hanya membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran tetapi juga meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan.
Peningkatan yang signifikan terlihat setelah implementasi perbaikan pembelajaran pada siklus 1.Nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 86,67,dengan tingkaty ketuntasan mencapai 100%.Seluruh siswa berhasil melampaui criteria ketuntasan minimal,menunjukan efektivitas metode dan media yang digunakan.Suasana kelas juga menjadi lebih kondusif dan menyenangkan,dimana siswa terlihat antusias dan aktif berpartisipasi dalam setiap sesi pembelajaran.Guru juga mampuu mengelola waktu dan kelas dengan lebih baik dibandingkan pada tahap pra-siklus.Keberhasilan inimenunjukan bahwa pendekatan pembelajaran yang melibatkan visualisasi dan aktivitas kelompok dapat secara signifikan meningkatkan hasil belajar siswa,khususnya dalam pembelajaran IPAS.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT
A. Simpulan
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca siswa kelas III SD Negeri Usapitoko melalui pengayaan koleksi buku dan penerapan metode bercerita bergambar. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa strategi ini berhasil secara signifikan meningkatkan minat dan hasil belajar siswa. Nilai rata- rata siswa yang awalnya hanya 68,33 pada pra-siklus meningkat menjadi 86,67 pada Siklus 1, dengan tingkat ketuntasan mencapai 100%. Media bergambar dan metode bercerita bergambar terbukti mampu membuat pembelajaran menjadi lebih menarik, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru sebagai fasilitator memainkan peran penting dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif, sementara dukungan dari sekolah dalam menyediakan bahan bacaan yang relevan turut menjadi faktor pendukung keberhasilan perbaikan pembelajaran ini.
B. Saran
Berdasarkan simpulan di atas, beberapa langkah tindak lanjut disarankan untuk meningkatkan keberlanjutan dampak positif dari penelitian ini. Sekolah diharapkan dapat memperkaya koleksi buku di perpustakaan dengan menambahkan buku cerita bergambar dan bahan bacaan tematik lainnya yang menarik bagi siswa. Guru disarankan untuk mengintegrasikan metode bercerita bergambar dalam pembelajaran sehari-hari untuk meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Selain itu, pelatihan guru tentang inovasi pembelajaran perlu dilakukan secara berkala untuk meningkatkan kompetensi dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang efektif. Pemanfaatan teknologi, seperti aplikasi bercerita digital atau e-book, juga dapat dipertimbangkan untuk memperluas akses siswa terhadap bahan bacaan yang menarik. Penelitian serupa disarankan untuk dilakukan di jenjang kelas lain atau pada mata pelajaran yang berbeda guna menguji efektivitas metode ini dalam konteks yang lebih luas.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, R. C. (2003). Reading comprehension: The relationship between understanding and thinking. New York: Academic Press.
Ellis, G., & Brewster, J. (2014). Tell it again: The storytelling handbook for primary English language teachers. London: Penguin.
Isbell, R., Sobol, J., Lindauer, L., & Lowrance, A. (2004). The effects of storytelling and story reading on the oral language complexity and story comprehension of young children. Early Childhood Education Journal, 32(3), 157-163.
Jean Piaget. (1976). The development of thought: Equilibration of cognitive structures. New York:
Viking Press.
Mulyasa, E. (2013). Manajemen berbasis sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2009). A child's world: Infancy through adolescence (11th ed.). New York: McGraw-Hill.
Slameto. (2010). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Supriyadi. (2011). Pembelajaran efektif dan efisien di sekolah dasar. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Tarigan, H. G. (2008). Membaca sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung: Angkasa.
Wright, A. (2013). Storytelling with children. Oxford: Oxford University Press.
LAMPIRAN