LAPORAN KEGIATAN PRAKTIKUM PRAKTIK KERJA LAPANG
"TEKNOLOGI AGROINDUSTRI"
OLEH : KELOMPOK 2 (s3)
1. Annisa Ella Maharani (22024010029) 2. Tsabina Harfiani (22024010030) 3. Linda Marta Kusuma (22024010045) 4. Caroline Atagoran (22024011230)
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
ii
ii
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL "VETERAN" JAWA TIMUR SURABAYA
2024
LEMBAR PENGESAHAN
"PROSES PRODUKSI DAN QC PADA PABRIK TEH WONOSARI MALANG"
Oleh : 1. ANNISA ELLA MAHARANI 2. TSABINA HARFIANI 3. LINDA MARTA KUSUMA 4. CAROLINE ATAGORAN
(22024010029) (22024010030) (22024010045) (22024011230)
Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti praktikum Teknologi Agroindustri
Menyetujui, DOSEN PEMBIMBING
Fatchur Rozci, S. Agr., M. Agr
iii
NIP. 199506072022031010
iv KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, taufik serta hidayah-Nya sehingga Laporan Kegiatan Praktik Kerja Lapang ini dengan judul "Proses Produksi Dan Qc Pada Pabrik Teh Wonosari Malang". Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program Praktik Kerja Lapang yang telah dilaksanakan di PT.
Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII). Selama menjalani Praktik Kerja Lapang di PTPN XII, penulis memperoleh banyak pengalaman serta wawasan berharga mengenai proses produksi dan quality control yang digunakan dalam industri agribisnis, khususnya pada komoditas teh. Berkat bimbingan dari berbagai pihak di PTPN XII dan dukungan dari institusi pendidikan, penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik. Penulis berharap laporan ini dapat memberikan manfaat, baik bagi perusahaan sebagai evaluasi tambahan, maupun bagi pembaca sebagai referensi.
Penulis menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan selama kegiatan ini, antara lain :
1. Bapak dan ibu pembimbing lapang di PTPN XII yang telah memberikan arahan serta bimbingan selama pelaksanaan PKL.
2. Bapak Fatchur Rosci, S. Agr., M. Agr selaku pembimbing praktikum yang telah membimbing dalam penyusunan laporan ini.
3. Seluruh orang tua anggota kelompok 2 yang turut serta mendoakan kelancaran kegiatan praktik kerja lapang dan penyusunan Laporan Praktik Kerja Lapang.
4. Seluruh rekan-rekan kelompok 2 golongan S3 yang telah turut serta dalam penyusunan Laporan Praktik Kerja Lapang.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan selanjutnya. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dalam mendukung perkembangan sektor agribisnis di Indonesia.
Surabaya, 25 Oktober 2024
v
Penulis
vi DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR LAMPIRAN vi
BAB I PENDAHULUAN 5
1.1 Latar Belakang 5
1.2 Rumusan Masalah 6
1.3 Tujuan 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7
2.1 Sejarah PTPN XII 7
2.2 Proses Produksi 8
2.2.1 Teknologi Produksi 8
2.2.2 Standar Operasional Prosedur (SOP) 9
2.3 Quality Control (QC) 10
2.3.1 Metode QC 10
2.3.2 Sistem Manajemen Mutu 11
2.4 Hubungan Antara Proses Produksi dan QC 11
2.5 Tantangan Dalam Proses Produksi dan QC 12
BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 13
3.1 Waktu dan Tempat 13
3.2 Metode Analisis 13
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 14
4.1 Gambaran Umum Perusahaan 14
4.2 Penanganan Teh 14
4.2.1 Penanganan Pemetikan Teh Putih 14
4.2.2 Penanganan Pemetikan Teh Hitam 15
4.2.3 Peningkatan Kualitas Melalui Pengendalian Mutu dan Pelatihan 15
4.3 Analisis Manajemen Produksi 15
4.3.1 Perencanaan Produksi 16
4.3.2 Pengelolaan Sumber Daya 16
4.3.3 Pengendalian Mutu 16
4.3.4 Distribusi dan Pemasaran Produk 16
4.4 Kendala 16
4.4.1 Kendala Iklim 17
4.4.2 Kendala Hama dan Penyakit Tanaman 17
4.4.3 Kendala Sumber Daya Manusia (SDM) 17
4.5 Alih Fungsi Limbah 18
4.5.1 Pengelolaan Limbah Padat 18
4.5.2 Pengelolaan Limbah Cair 18
BAB V PENUTUP 19
5.1 Kesimpulan 19
DAFTAR PUSTAKA 22
LAMPIRAN 23
VI DAFTAR LAMPIRAN
Gambar Keterangan Hal
Gambar 1 Pengumpulan Daun Teh Kering Menuju Alat Pemisah 23
Gambar 2 Alat Pemisah Daun, Ranting Dan Kerikil 23
Gambar 3 Kawasan Kebun Teh PT. Perkebunan Nusantara I 23
Gambar 4 Alur Proses Pengolahan Teh Hitam CTC 24
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Studi lapangan merupakan salah satu bentuk pembelajaran outdoor dimana terjadi kegiatan observasi untuk mengungkap fakta–fakta guna memperoleh data langsung dilapangan. Selain itu, dapat memeberikan deskripsi, eksplanasi, prediksi, inovasi dan juga pengembangan pendidikan. Dapat dipahami pula bahwa dengan membawa mahasiswa kelapangan untuk melakukan studi lapangan atau belajar dimasyarakat, sangat membantu mahasiswa untuk menambah pengetahuan khususnya penomene-penomena ataupun masalahmasalah yang ada dalam kehidupan masyarakat, dengan ini pula ketika mahsiswa melakukan studi lapangan baik secara observasi maupun wawancara mahasiswa secara langsung memenukan sustu informasi dari masyarakat yang merupakan informan atau responden yang dengan mudahnya pula dapat dicerna oleh mahasiswa.
Dalam konteks pendidikan pertanian, studi lapang menjadi sarana penting dalam mengeksplorasi berbagai aspek praktik pertanian, mulai dari budidaya tanaman, manajemen lahan, hingga pengelolaan agrowisata. Salah satu lokasi yang ideal untuk kegiatan ini adalah Agrowisata Kebun Teh Wonosari, yang menawarkan berbagai macam pengetahuan dan wawasan di bidang pertanian dan pariwisata. Agrowisata Kebun Teh Wonosari, yang terletak di lereng Gunung Arjuno, Jawa Timur, merupakan salah satu destinasi agrowisata terkenal yang mengombinasikan aspek pertanian dengan pariwisata. Dengan luas perkebunan mencapai ratusan hektar, Kebun Teh Wonosari tidak hanya menghasilkan produk teh berkualitas, tetapi juga menyediakan berbagai fasilitas wisata edukatif seperti tur kebun teh, pelatihan budidaya tanaman teh, serta pengenalan proses pengolahan teh.
Dalam kegiatan studi lapang ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya mendapatkan pengetahuan teknis mengenai budidaya tanaman teh, tetapi juga memahami lebih jauh konsep pengembangan agrowisata yang berkelanjutan. Melalui pengamatan langsung dan diskusi dengan para pengelola kebun, mahasiswa dapat memperoleh wawasan tentang tantangan dan peluang yang dihadapi dalam mengelola perkebunan teh sekaligus mengembangkan aspek pariwisatanya. Kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan analitis mereka dengan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengelolaan kebun teh, baik dari aspek teknis maupun manajerial.
8 1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara penangan teh yang benar?
2. Bagaimana analisis manajemen produksi kebun teh wonosari?
3. Apa saja kendala yang dihadapi PT Perkebunan Nusantara I dalam mengelola kebun teh?
4. Bagaimana alih fungsi limbah yang dihasilkan dari kegiatan produksi PT Perkebunan Nusantara I dalam mengelola kebun teh?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui cara penangan teh yang benar?
2. Untuk menganalisis manajemen produksi kebun teh wonosari?
3. Untuk mengetahui apa saja kendala yang dihadapi PT Perkebunan Nusantara I dalam mengelola kebun teh?
4. Untuk mngetahui alih fungsi limbah yang dihasilkan dari kegiatan produksi PT Perkebunan Nusantara I dalam mengelola kebun teh?
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sejarah PTPN XII
PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII) merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor perkebunan yang berperan penting dalam pengembangan komoditas perkebunan di Indonesia, terutama di Jawa Timur. PTPN XII didirikan sebagai hasil dari penggabungan beberapa perusahaan perkebunan Belanda yang dinasionalisasi setelah Indonesia merdeka. Pada tahun 1996, sebagai bagian dari restrukturisasi BUMN, PTPN XII dibentuk secara khusus untuk mengelola perkebunan di wilayah Jawa Timur (Prasetyo, 2020). PTPN XII memiliki sejarah panjang dalam mengembangkan perkebunan tanaman komersial, terutama kopi, teh, kakao, dan karet, yang telah menjadi komoditas utama untuk pasar domestik dan ekspor (Sutopo et al., 2021). PTPN XII berperan penting dalam sektor perkebunan Jawa Timur, terutama dalam mendorong pengembangan ekonomi lokal melalui optimalisasi lahan perkebunan di berbagai daerah, termasuk Malang.
Perusahaan ini memfokuskan produksi pada tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti kopi dan kakao, yang memiliki pangsa pasar global yang stabil. Selain sebagai produsen, PTPN XII juga berperan sebagai pelopor dalam penelitian dan pengembangan tanaman perkebunan untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kualitas komoditas ekspor (Setiawan et al., 2019). Jenis-jenis komoditas utama yang dikelola oleh PTPN XII mencakup kopi, teh, kakao, dan karet. Kopi, khususnya kopi arabika dan robusta, merupakan komoditas unggulan yang diproduksi di perkebunan PTPN XII di kawasan Malang, Jember, dan Bondowoso. Kakao juga menjadi salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan dengan metode pertanian berkelanjutan untuk menjaga kualitas dan kuantitas produksi (Fauzi & Kurniawan, 2022). Selain itu, karet dan teh dari perkebunan PTPN XII juga diekspor ke beberapa negara, menambah devisa negara dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global (Purnomo et al., 2020).
Perkebunan PTPN XII di Malang memiliki peran signifikan dalam mendukung ekonomi lokal dan nasional. Wilayah ini menjadi salah satu pusat produksi utama kopi dan teh berkualitas tinggi yang diekspor ke berbagai negara. Keberadaan perkebunan ini telah menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar dan menjadi sumber penghidupan utama bagi banyak petani lokal. Di samping itu, perkebunan di Malang juga menjadi destinasi wisata agro yang mendukung industri pariwisata lokal, yang dikenal sebagai wisata
10 dan kontribusinya terhadap ekonomi lokal mencerminkan peran PTPN XII dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Kontribusi ini bukan hanya dalam bentuk ekonomi, tetapi juga dalam peningkatan keterampilan dan pengetahuan petani mengenai praktik perkebunan yang berkelanjutan dan produktif (Widjaja et al., 2023). PTPN XII terus berupaya memperbaiki proses produksinya dengan menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan lahan dan produksi, yang juga berdampak pada peningkatan daya saing produk perkebunan Indonesia di pasar global.
2.2 Proses Produksi
Setiap proses produksi umumnya terbagi menjadi beberapa tahapan, mulai dari persiapan bahan baku hingga tahap akhir pengemasan. Menurut Hartono (2020), tahapan produksi yang baik dapat memastikan bahwa setiap elemen produksi bekerja secara optimal dalam menghasilkan produk berkualitas. Tahapan ini meliputi:
a. Pemilihan dan persiapan bahan baku adalah langkah awal yang sangat penting. Bahan baku yang berkualitas tinggi memastikan bahwa produk akhir juga akan memiliki standar kualitas yang diinginkan. Persiapan ini biasanya melibatkan inspeksi bahan baku untuk memastikan kebersihan, kesesuaian ukuran, dan kelayakan lainnya.
b. Proses produksi, di mana bahan baku diubah menjadi produk setengah jadi atau produk akhir melalui berbagai teknik dan metode sesuai kebutuhan. Pada tahap ini, parameter- parameter kualitas seperti suhu, tekanan, atau waktu pemrosesan harus dikontrol dengan cermat agar konsistensi dan kualitas produk terjaga (Hartono, 2020).
c. Pengemasan, di mana produk dipersiapkan untuk didistribusikan. Pengemasan yang tepat tidak hanya melindungi produk dari kerusakan selama transportasi tetapi juga memperpanjang umur simpan dan menjaga kualitas produk hingga mencapai konsumen akhir.
Proses produksi yang dirancang dengan baik dan tahapan yang terstruktur dengan tepat memungkinkan perusahaan menjaga kualitas dan efisiensi produksi secara keseluruhan (Hartono, 2020).
2.2.1 Teknologi Produksi
Penggunaan teknologi yang modern dalam proses produksi telah menjadi faktor penting dalam industri untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Prasetyo dan Ardiansyah (2021) mencatat bahwa otomatisasi dan mesin berteknologi tinggi membantu mempercepat proses produksi dan mengurangi kemungkinan kesalahan manusia. Beberapa keuntungan dari penggunaan teknologi dalam produksi adalah perusahaan dapat
memproduksi lebih banyak produk dalam waktu yang lebih singkat. Mesin dan robot dapat bekerja secara kontinu tanpa lelah, yang meningkatkan kapasitas produksi dan memungkinkan proses berlangsung lebih efisien.
Teknologi canggih dapat membantu mencapai tingkat presisi yang tinggi, yang berdampak langsung pada konsistensi produk akhir. Setiap unit produk yang dihasilkan akan memiliki kualitas yang seragam karena kontrol yang ketat terhadap variabel produksi (Prasetyo & Ardiansyah, 2021). Perusahaan dapat mengurangi biaya tenaga kerja, bahan baku yang terbuang, dan waktu siklus produksi. Otomatisasi dan kontrol mesin juga memungkinkan pengurangan jumlah pekerja pada proses-proses tertentu, sehingga dapat menekan biaya operasional. Penggunaan teknologi ini juga memungkinkan perusahaan untuk lebih fleksibel dalam merespons permintaan pasar dan meminimalisasi dampak produksi terhadap lingkungan. Dengan demikian, teknologi produksi menjadi bagian penting dari strategi untuk mempertahankan daya saing perusahaan (Prasetyo & Ardiansyah, 2021).
2.2.2 Standar Operasional Prosedur (SOP)
Standar Operasional Prosedur (SOP) merupakan pedoman yang menjelaskan langkah-langkah yang harus diikuti dalam setiap tahapan proses produksi. SOP yang jelas membantu menjaga kualitas produk, keamanan pekerja, dan efisiensi proses produksi.
Menurut Kusuma (2022), penerapan SOP berbasis Good Manufacturing Practices (GMP) membantu perusahaan meminimalisasi variabilitas dalam proses produksi, sehingga produk yang dihasilkan sesuai dengan standar kualitas yang telah ditetapkan. Penerapan SOP sendiri memiliki beberapa manfaat yaitu seperti membantu memastikan bahwa setiap langkah dalam proses produksi dilakukan dengan cara yang sama setiap waktu, sehingga produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang seragam. Hal ini penting untuk membangun kepercayaan konsumen terhadap merek dan produk perusahaan (Kusuma, 2022).
SOP yang mencakup prosedur keselamatan kerja, risiko kecelakaan di lingkungan produksi dapat diminimalisasi. GMP, misalnya, mencakup pedoman untuk kebersihan tempat kerja, pemeliharaan peralatan, dan pelatihan pekerja agar mereka mampu bekerja dengan aman. SOP yang baik membantu pekerja memahami prosedur yang tepat dalam menjalankan tugasnya, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk pelatihan dapat dikurangi. Selain itu, SOP yang efektif dapat membantu mengidentifikasi dan memperbaiki potensi masalah sebelum menjadi serius. Penerapan SOP di seluruh rantai produksi juga memungkinkan perusahaan untuk lebih mudah menjalani audit dan sertifikasi yang diperlukan untuk pasar internasional, yang sering kali mengharuskan kepatuhan terhadap standar kualitas dan keselamatan
12 2.3 Quality Control (QC)
Quality Control (QC) merupakan komponen penting dalam proses produksi yang bertujuan untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan. QC tidak hanya berfokus pada inspeksi produk akhir tetapi juga mencakup semua tahapan dari awal proses produksi, mulai dari pengujian bahan baku hingga pemantauan selama proses produksi. Tinjauan pustaka ini merangkum aspek-aspek utama dalam QC, termasuk tahapan, metode yang digunakan, dan penerapan sistem manajemen mutu. Tahapan Quality Control adalah langkah-langkah yang dilakukan untuk memastikan produk akhir sesuai dengan spesifikasi dan standar yang ditetapkan.
Menurut Susanto (2021) menjelaskan bahwa tahapan QC meliputi beberapa komponen yaitu Sebelum bahan baku digunakan dalam proses produksi, mereka harus diuji untuk memastikan bahwa mereka memenuhi spesifikasi teknis dan kualitas yang diperlukan.
Pengujian ini penting untuk mencegah cacat pada produk akhir yang mungkin disebabkan oleh bahan yang tidak sesuai. Selama proses produksi, penting untuk memantau variabel- variabel yang dapat mempengaruhi kualitas produk. Pemantauan ini dapat dilakukan melalui pengukuran reguler dan analisis data untuk mengidentifikasi potensi masalah sebelum mereka menjadi cacat produk. Proses ini juga membantu memastikan bahwa semua prosedur diikuti sesuai dengan SOP (Standard Operating Procedure). Setelah produk selesai diproduksi, tahap terakhir dari QC adalah melakukan inspeksi akhir. Ini mencakup pemeriksaan visual dan pengujian untuk memastikan bahwa produk memenuhi standar kualitas dan tidak ada cacat yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan. Dengan melaksanakan tahapan QC secara menyeluruh, perusahaan dapat mengurangi risiko cacat produk dan meningkatkan kepuasan pelanggan (Susanto, 2021).
2.3.1 Metode QC
Metode yang digunakan dalam QC untuk mendeteksi dan mengidentifikasi cacat pada produk. Wijaya dan Mulyadi (2019) menyebutkan beberapa metode yang umum digunakan dalam praktik QC yaitu seperti inspeksi visual yang mana metode ini merupakan metode paling dasar yang dilakukan oleh operator atau inspector untuk mendeteksi cacat yang jelas terlihat pada produk. Meskipun sederhana, metode ini dapat sangat efektif dalam mendeteksi cacat yang mencolok. Kemudian pengujian fisik, Pengujian ini melibatkan pengukuran parameter fisik produk, seperti ukuran, berat, dan ketahanan. Pengujian fisik membantu memastikan bahwa produk memenuhi spesifikasi teknis yang diperlukan. Statistical Process Control (SPC), Metode statistik ini digunakan untuk menganalisis data dari proses produksi
untuk mengidentifikasi variasi dan penyebab masalah. SPC membantu perusahaan dalam mengontrol proses secara proaktif, memungkinkan mereka untuk mendeteksi ketidaksesuaian sebelum menjadi masalah serius (Wijaya & Mulyadi, 2019).
2.3.2 Sistem Manajemen Mutu
Penerapan sistem manajemen mutu, seperti ISO 9001, merupakan langkah penting dalam mengembangkan proses QC yang lebih terstruktur dan terdokumentasi. engan mengikuti standar internasional seperti ISO 9001, perusahaan dapat memastikan bahwa proses QC memiliki pedoman yang jelas dan dapat diikuti oleh semua karyawan. Hal ini mencakup dokumentasi prosedur, catatan pengujian, dan pelatihan karyawan. Salah satu prinsip utama dari sistem manajemen mutu adalah fokus pada perbaikan berkelanjutan.
Melalui evaluasi berkala dan umpan balik dari proses QC, perusahaan dapat mengidentifikasi area untuk perbaikan dan implementasi tindakan korektif untuk meningkatkan kualitas produk.
perusahaan dapat lebih responsif terhadap kebutuhan dan harapan pelanggan. Peningkatan kualitas produk dan layanan akan berdampak positif pada reputasi dan kepercayaan konsumen terhadap merek.
2.4 Hubungan Antara Proses Produksi dan QC
Integrasi yang baik antara proses produksi dan QC dapat meningkatkan efisiensi serta mengurangi tingkat produk cacat. Menurut Putra et al. (2022), pendekatan yang holistik dalam menghubungkan proses produksi dengan QC memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan deteksi dini masalah kualitas, mengurangi waktu dan biaya perbaikan serta dapat meningkatkan kepuasan pelanggan. Teknologi QC memainkan peran yang semakin penting dalam meningkatkan efisiensi proses produksi. Sutrisno dan Rahardjo (2021) menjelaskan bahwa penerapan teknologi seperti sistem sensor otomatis dan machine learning dapat membawa dampak positif yang signifikan dalam proses QC seperti dengan menggunakan teknologi sensor otomatis, perusahaan dapat memantau kualitas produk secara real-time. Sensor dapat mendeteksi cacat dengan akurasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan inspeksi manual, sehingga memungkinkan penanganan masalah lebih cepat dan tepat. Teknologi machine learning dapat menganalisis data dari proses produksi untuk mengidentifikasi pola yang menunjukkan potensi masalah kualitas. Dengan demikian, perusahaan dapat melakukan perbaikan proaktif sebelum cacat produk terjadi, yang pada gilirannya meningkatkan kualitas produk secara keseluruhan. Perusahaan dapat mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual dan mempercepat proses inspeksi.
14 produksi berjalan lebih lancar. Penggunaan teknologi dalam QC mendukung pendekatan berbasis data yang dapat mempercepat pengambilan keputusan dalam proses produksi.
2.5 Tantangan Dalam Proses Produksi dan QC
Salah satu tantangan utama dalam proses QC adalah keterbatasan sumber daya dan teknologi. Arief dan Saputra (2020) menjelaskan bahwa kendala ini dapat mengakibatkan produk yang dihasilkan tidak memenuhi standar kualitas yang diinginkan. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pengawasan kualitas meliputi keterbatasan Sumber Daya dan keterbatasan teknologi, sehingga dalam mengatasi kendala ataupun tantangan ini perusahaan perlu meningkatkan pelatihan karyawan dan berinvestasi dalam teknologi baru.
Pelatihan yang lebih baik dapat mempersiapkan staf untuk melaksanakan proses QC dengan lebih efisien, sementara investasi dalam teknologi canggih dapat meningkatkan kemampuan deteksi masalah secara real-time. Dengan meningkatkan sumber daya dan teknologi, perusahaan dapat mengoptimalkan pengawasan kualitas dan meminimalkan risiko produk cacat (Arief & Saputra, 2020).
BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Lapang Teknologi Agribisnis (THP) yang dilaksanakan pada hari Kamis, 24 Oktober 2024 pukul 09.00-12.00 WIB yang bertempat di Wisata Agro Wonosari (WAW).
3.2 Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan yaitu triangulasi metode. Triangulasi metode dilakukan dengan cara membandingkan informasi atau data dengan cara berbeda. Adapun metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi dan survei untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.
Menurut Miles dan Huberman, proses analisis data dalam penelitian kualitatif mencakup tiga langkah utama. Pertama adalah reduksi data, di mana peneliti meringkas, memilih, dan memilah informasi penting untuk mengidentifikasi tema atau pola. Langkah berikutnya adalah penyajian data yang biasanya dilakukan dalam bentuk teks naratif agar mudah dipahami. Terakhir, menarik kesimpulan atau melakukan verifikasi berdasarkan data yang telah dianalisis melalui reduksi dan penyajian ini, guna memperoleh pemahaman yang lebih mendalam (Sugiyono, 2017).
16 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perusahaan
PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Regional 5, sebelumnya dikenal sebagai PT Perkebunan Nusantara XII, adalah perusahaan yang bergerak dalam sektor agribisnis dengan fokus utama pada budidaya teh. Perusahaan ini mengelola Kebun Teh Wonosari di Malang, Jawa Timur, yang berada di lereng Gunung Arjuno pada ketinggian 950 hingga 1.250 meter di atas permukaan laut, dengan suhu udara berkisar antara 19–26 derajat Celsius. Kebun Teh Wonosari memiliki sejarah panjang sejak didirikan pada tahun 1910 oleh perusahaan Belanda NV Culture Maatschappij. Selama masa kolonial Jepang, sebagian besar lahan kebun teh dialihkan untuk menanam tanaman pangan seperti kentang dan singkong.
Setelah Indonesia merdeka, kebun ini dinasionalisasi dan saat ini berada di bawah pengelolaan PTPN I Regional 5.
Perusahaan ini tidak hanya berfokus produksi teh, Melainkan PTPN I Regional 5 mengembangkan Kebun Teh Wonosari sebagai destinasi agrowisata. Para pengunjung dapat menikmati keindahan hamparan kebun teh, berpartisipasi dalam tur proses pengolahan teh, serta menikmati fasilitas rekreasi yang tersedia, termasuk kolam renang, jalur sepeda, dan area perkemahan. Produk teh yang dihasilkan oleh Kebun Teh Wonosari, dipasarkan dengan merek "Rollaas," dan telah menembus pasar internasional, khususnya di Timur Tengah dan Eropa, berkat kualitasnya yang unggul. Melalui kombinasi produksi teh berkualitas dan pengembangan agrowisata, PTPN I Regional 5 berkomitmen untuk meningkatkan kinerja perusahaan serta kontribusinya terhadap perekonomian daerah dan nasional.
4.2 Penanganan Teh
PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Regional 5, dalam pengelolaan teh putih dan teh hitam di Kebun Teh Wonosari, menerapkan berbagai metode penanganan khusus untuk menjaga kualitas serta karakteristik dari kedua jenis teh tersebut. Berikut adalah langkah- langkah penanganan yang dilakukan perusahaan:
4.2.1 Penanganan Pemetikan Teh Putih
Penjagaan Untuk menjaga kualitas teh putih, PTPN I menerapkan pemetikan selektif yang ketat hanya pada pucuk daun muda atau "silver tips." Proses pemetikan dilakukan pada pagi hari untuk menjaga kelembutan dan kandungan antioksidan daun, serta mencegah paparan sinar matahari yang berlebihan. Perusahaan juga membekali tenaga pemetik
dengan pelatihan khusus mengenai cara pemetikan daun yang tepat, agar kualitas premium teh putih tetap terjaga. Proses pemetikan manual ini memerlukan ketelitian tinggi, dan dengan demikian, tenaga kerja terampil menjadi prioritas perusahaan untuk mengoptimalkan kualitas teh putih.
PTPN I memastikan bahwa daun teh putih yang telah dipetik mengalami penanganan minimal untuk mempertahankan kandungan alami dan antioksidan. Daun teh putih dikeringkan tanpa melalui proses pelayuan atau penggulungan, sehingga tidak ada proses oksidasi yang signifikan. Untuk menjaga kesegaran, PTPN I menggunakan teknologi pengeringan yang mampu mengatur suhu secara optimal, yang penting untuk mempertahankan rasa dan aroma lembut khas teh putih.
4.2.2 Penanganan Pemetikan Teh Hitam
Dalam produksi teh hitam, PTPN I melaksanakan pemetikan secara berkala dengan memilih daun-daun yang lebih matang. Proses pelayuan, penggulungan, dan oksidasi dilakukan untuk meningkatkan aroma dan memberikan warna serta rasa yang khas pada teh hitam. Perusahaan memastikan bahwa setiap tahap dilakukan secara hati-hati, terutama selama oksidasi yang membutuhkan kontrol suhu dan kelembaban yang tepat untuk menghasilkan cita rasa yang kuat. Setelah oksidasi selesai, daun dikeringkan secara terkontrol untuk mengakhiri reaksi kimia, menjaga kualitas teh hitam tetap konsisten.
4.2.3 Peningkatan Kualitas Melalui Pengendalian Mutu dan Pelatihan
PTPN I juga fokus pada pengendalian mutu ketat selama proses pengolahan teh, baik putih maupun hitam, dengan pemeriksaan rutin pada setiap tahap produksi. Para pekerja diberi pelatihan berkala untuk memahami standar kualitas yang harus dipenuhi dalam setiap proses, dari pemetikan hingga pengemasan akhir. Upaya ini dilakukan untuk mempertahankan kualitas dan konsistensi produk, yang menjadi ciri khas teh dari Kebun Wonosari.
4.3 Analisis Manajemen Produksi
Manajemen produksi di Kebun Teh Wonosari yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Regional 5 merupakan aspek penting dalam pencapaian efisiensi dan efektivitas proses produksi teh berkualitas tinggi. Manajemen ini berperan penting dalam memastikan bahwa setiap proses mendukung stabilitas produksi dan daya saing produk di pasar domestik maupun internasional (Sutrisno, 2021). Tahapan dalam manajemen produksi ini meliputi perencanaan produksi, pengelolaan sumber daya, pengendalian mutu, dan
18 4.3.1 Perencanaan Produksi
Perencanaan produksi di PTPN I Regional 5 berfokus pada penentuan target produksi berdasarkan permintaan pasar dan kapasitas produksi kebun. Perusahaan melakukan proyeksi kebutuhan tahunan serta evaluasi kondisi lingkungan dan sumber daya untuk mengantisipasi perubahan iklim atau gangguan lain yang dapat mempengaruhi hasil panen.
4.3.2 Pengelolaan Sumber Daya
Pengelolaan sumber daya di Kebun Teh Wonosari melibatkan optimalisasi tenaga kerja, penggunaan mesin dan teknologi, serta pemanfaatan lahan secara efektif. Penggunaan sistem rotasi tenaga kerja dan pembagian tugas berbasis kompetensi merupakan strategi untuk menjaga produktivitas. Selain itu, penerapan teknologi pemrosesan modern di fasilitas pengolahan teh bertujuan meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan kualitas produk.
4.3.3 Pengendalian Mutu
Pengendalian mutu menjadi bagian esensial dalam proses produksi di PTPN I. Setiap tahapan, mulai dari pemetikan daun teh, pengeringan, hingga pengemasan, diawasi dengan ketat untuk memastikan standar mutu yang sesuai dengan spesifikasi pasar internasional.
Prosedur quality control yang diterapkan meliputi inspeksi berkala dan uji kualitas untuk menjamin aroma, warna, dan cita rasa produk sesuai dengan standar industri.
4.3.4 Distribusi dan Pemasaran Produk
Distribusi produk teh merek "Rollaas" dari Kebun Teh Wonosari diarahkan ke berbagai pasar, terutama kawasan Timur Tengah dan Eropa. Strategi pemasaran PTPN I mencakup ekspansi jaringan distribusi dan peningkatan branding produk melalui promosi di pasar internasional. Diversifikasi saluran distribusi serta penggunaan media digital juga dilakukan untuk memperluas jangkauan konsumen dan memperkuat posisi merek di pasar global.
4.4 Kendala
PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Regional 5 yang mengelola Kebun Teh Wonosari di Malang menghadapi berbagai kendala dalam proses produksi dan pemeliharaan kebunnya. Sebagai perusahaan agribisnis yang bergantung pada hasil pertanian, PTPN I sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan operasional yang kompleks. Kendala utama yang dihadapi mencakup perubahan iklim yang tidak menentu, serangan hama dan penyakit tanaman, serta keterbatasan sumber daya manusia terampil. Masing-masing kendala ini tidak hanya berdampak pada kualitas dan kuantitas hasil produksi tetapi juga pada keberlanjutan usaha secara keseluruhan. Analisis terhadap kendala-kendala ini memberikan gambaran mengenai tantangan yang perlu diatasi oleh PTPN I guna menjaga stabilitas produksi dan
daya saing perusahaan di pasar teh nasional maupun internasional.
4.4.1 Kendala Iklim
Perubahan iklim yang tidak menentu menjadi salah satu kendala utama bagi PT Perkebunan Nusantara I dalam mengelola Kebun Teh Wonosari. Ketergantungan terhadap kondisi cuaca, seperti musim hujan yang berkepanjangan atau suhu ekstrem, sering kali memengaruhi kesehatan tanaman dan hasil panen. Curah hujan yang tinggi meningkatkan kelembaban, yang dapat memicu pertumbuhan jamur dan mikroorganisme yang merugikan.
Kondisi ini tidak hanya menurunkan kualitas daun teh tetapi juga memengaruhi jumlah produksi, sehingga diperlukan upaya adaptasi iklim yang lebih efektif, seperti sistem irigasi dan manajemen drainase yang baik untuk mengurangi dampak lingkungan pada produktivitas (Sutrisno, 2021).
4.4.2 Kendala Hama dan Penyakit Tanaman
Hama dan penyakit tanaman menjadi ancaman besar terhadap produktivitas teh di Kebun Wonosari. Hama seperti kutu daun dan tungau, serta penyakit jamur yang menyerang daun dan batang tanaman, dapat menurunkan kualitas serta hasil panen secara signifikan.
Pengendalian hama memerlukan biaya tambahan dan penerapan teknologi yang memadai, namun, penggunaan pestisida yang berlebihan berpotensi merusak kualitas tanah dan tanaman dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pengendalian hama yang lebih berkelanjutan seperti pengendalian biologi dan rotasi tanaman diperlukan untuk menjaga kesehatan tanaman dan kelestarian lingkungan (Gunawan, 2020).
4.4.3 Kendala Sumber Daya Manusia (SDM)
Keterbatasan tenaga kerja terampil menjadi tantangan dalam mencapai efisiensi produksi di Kebun Teh Wonosari. Masalah ini disebabkan oleh kurangnya pelatihan berkelanjutan bagi tenaga kerja, yang berdampak pada kurangnya pemahaman tentang teknik pertanian modern dan metode pengendalian hama yang efektif. Selain itu, tingkat rotasi pekerja yang tinggi, yang dipengaruhi oleh faktor kesejahteraan dan kondisi kerja, menyebabkan ketidakstabilan dalam tenaga kerja harian. Tingginya rotasi ini mengganggu proses produksi yang membutuhkan konsistensi, sehingga peningkatan pelatihan dan program pengembangan karir bagi pekerja kebun sangat diperlukan untuk meningkatkan stabilitas produksi dan kualitas produk (Wulandari, 2020).
4.5 Alih Fungsi Limbah
PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Regional 5 mengimplementasikan sistem
20 dari operasionalnya. Pengelolaan limbah di PTPN I mencakup beberapa aspek penting yang berfokus pada limbah padat dan cair, serta penerapan prinsip ekonomi sirkular.
4.5.1 Pengelolaan Limbah Padat
Limbah padat yang dihasilkan dari proses produksi teh, termasuk sisa daun dan batang, dikelola melalui metode daur ulang dan konversi menjadi pupuk organik. Proses pengomposan dilakukan untuk menguraikan limbah padat menjadi bahan yang kaya nutrisi, yang selanjutnya digunakan sebagai pupuk untuk meningkatkan kesuburan tanah. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan kualitas tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman yang lebih sehat (Suhartini et al., 2020). Dengan demikian, PTPN I tidak hanya mengurangi volume limbah yang dibuang, tetapi juga berkontribusi terhadap keberlanjutan pertanian.
4.5.2 Pengelolaan Limbah Cair
Limbah cair yang dihasilkan dari proses pengolahan teh, yang berpotensi mengandung bahan pencemar, dikelola melalui teknologi pengolahan limbah yang efisien.
PTPN I menerapkan proses filtrasi dan bioremediasi untuk mengurangi kontaminasi sebelum limbah cair dibuang ke lingkungan. Penggunaan mikroorganisme dalam bioremediasi terbukti efektif dalam menguraikan bahan organik berbahaya, sehingga mengurangi dampak negatif terhadap ekosistem (Ali et al., 2019). Langkah ini penting untuk menjaga kualitas air dan mencegah pencemaran yang dapat merugikan lingkungan sekitar.
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan Hasil dan Pembahasan maka dapat di tarik beberapa inti dari hal Tersebut maka bisa di simpulkan Sebagai Berikut:
1. Kualitas Produk Terjaga PTPN I berhasil menjaga kualitas teh putih dan teh hitam melalui pemetikan selektif dan penanganan pascapanen yang ketat.
2. Tantangan Perubahan Iklim Perubahan iklim menjadi kendala utama yang mempengaruhi hasil panen, sehingga perlu penerapan sistem irigasi dan manajemen drainase yang lebih baik.
3. Ancaman Hama dan Penyakit Serangan hama dan penyakit tanaman memerlukan pengendalian berkelanjutan dan praktik pertanian ramah lingkungan untuk melindungi produktivitas.
4. Pentingnya Sumber Daya Manusia Keterbatasan tenaga kerja terampil menghambat efisiensi produksi, sehingga perlu adanya pelatihan dan pengembangan karir bagi pekerja.
5. Pengelolaan Limbah Berkelanjutan PTPN I menerapkan sistem pengelolaan limbah yang efektif, termasuk pengolahan limbah padat menjadi pupuk organik dan pengolahan limbah cair untuk mengurangi dampak lingkungan.
22 DAFTAR PUSTAKA
Arief, M., & Saputra, R. (2020). Kendala dalam Pengawasan Kualitas dan Solusinya dalam Proses Produksi. Jurnal Manajemen Mutu, 12(3), 201-214.
Gunawan, A. (2020). Manajemen Produksi Teh pada PT Perkebunan Nusantara I. Malang:
Universitas Brawijaya.
Hartono, T. (2020). Manajemen Produksi dan Pengendalian Kualitas dalam Industri. Jurnal Teknologi Industri, 11(2), 45-58.
Kusuma, S. (2022). Pentingnya Standar Operasional Prosedur dalam Produksi Berkualitas. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 7(1), 59-70.
Prasetyo, R., & Ardiansyah, D. (2021). Penerapan Teknologi dalam Proses Produksi untuk Efisiensi dan Kualitas. Jurnal Manajemen Produksi, 9(3), 73-85.
Putra, R., Surya, A., & Sari, D. (2022). Integrasi Proses Produksi dan Quality Control dalam Meningkatkan Efisiensi dan Kualitas Produk. Jurnal Manajemen dan Bisnis, 10(1), 15-25.
Rahman, H., & Dewi, M. (2023). Manajemen Mutu dalam Proses Produksi: Implementasi ISO 9001. Jurnal Pengembangan Industri, 8(2), 21-33.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung : Penerbit Alfabeta Bandung.
Susanto, A. (2021). Pengendalian Kualitas Produk dalam Industri Manufaktur. Jurnal Manajemen Kualitas, 6(4), 33-47.
Sutrisno, D. (2021). Optimalisasi Mutu dan Efisiensi dalam Produksi Teh: Studi Kasus PTPN XII Kebun Wonosari. Surabaya: Jurnal Agribisnis Nusantara.
Sutrisno, E., & Rahardjo, S. (2021). Penggunaan Teknologi dalam Quality Control untuk Meningkatkan Kualitas dan Efisiensi Produksi. Jurnal Teknologi dan Rekayasa, 6(2), 45- 60.
Wijaya, A., & Mulyadi, F. (2019). Aplikasi Statistical Process Control dalam Pengendalian Kualitas. Jurnal Teknologi dan Rekayasa, 5(3), 123-135.
Wulandari, S. (2020). Strategi Distribusi dan Pemasaran Produk Teh Indonesia di Pasar Internasional. Jakarta: Jurnal Ekspor Produk Agribisnis.
LAMPIRAN
Gambar 1. Pengumpulan daun teh yang telah dikeringkan menuju alat pemisah
Gambar 2. Pemisahan daun, ranting dan kerikil
24 Gambar 3. Kebun teh PT. Nusantara Perkebunan I
Gambar 4. Alur proses pengolahan teh hitam CTC