LAPORAN PRAKTIKUM
EVALUASI GIZI DALAM PENGOLAHAN ACARA II
EVALUASI KADAR SIANIDA SINGKONG
Disusun oleh:
KELOMPOK 1C
Aziza Jasmine (H0919023)
Belinda Sonata (H0919025)
Diinah Salwa Kamiilah (H0919037) Muhammad Naufal Salman (H0919068) Salsabila Dhia Khairunnisa (H0919091)
PROGRAM STUDI ILMU TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2022
ACARA II
EVALUASI KADAR SIANIDA SINGKONG A. Metodologi
1. Alat a. Alu
b. Erlenmeyer c. Gelas beaker d. Gelas ukur e. Hair dryer f. Kertas saring g. Mortar h. Penangas air i. Penjepit j. Pipet tetes k. Timbangan 2. Bahan
a. Akuades b. Asam pikrat c. Asam tartrat d. Buah singkong e. Daun singkong
f. Natrium karbonat anhidrat g. Ubi jalar kuning
3. Cara kerja
3,5 mg KCN/10 ml akuades
Pengambilan 0; 0,2; 0,4; 0,6; 0,8; 1,2 ml
Penambahan hingga tanda tera pada labu takar (10 ml)
Pengambilan 5 ml
Pemasukan dalam tabung reaksi
Pemanasan
Pendinginan
Pengukuran absorbansi (520 nm) Akuades
5 ml alkali pikrat
Gambar 2.1 Diagram Alir Penentuan Kurva Standar KCN
4 gram sampel
Pemasukan pada gelas beaker
Penambahan
Pemasukan pada labu destilasi
Destilasi (di bawahnya diberi penampung KOH 2%)
Destilasi hingga volume KOH 2% mencapai 20 ml
Pengambilan 5 ml
Pemanasan 125 ml akuades
2,5 ml kloroform
5 ml alkali pikrat
Pendinginan
Absorbansi (520 nm) Gambar 2.2 Diagram Alir Perhitungan Berat HCN
B. Hasil dan Pembahasan
Glikosida sianogenik merupakan senyawa hidrokarbon yang terdapat pada bahan pangan nabati dan secara potensial sangat beracun sebab aktivitas enzim hidrolase pada glikosida dan mengeluarkan asam sianida (HCN). Glikosida sendiri adalah salah satu senyawa alkaloid yakni senyawa metabolit sekunder pada jaringan tumbuhan dan hewan yang mempunyai atom hidrogen. Glukosida sianogenik, yang terdiri dari glukosa, aseton dan HCN (Riyani dan tien, 2013). Sianogen pada dasarnya bersifat non toksik, tetapi proses hidrolisis oleh enzim yang terdapat dalam tanaman tersebut dapat menghasilkan sianida yang toksik. Spesies tanaman yang bernilai ekonomis tinggi digunaan sebagai pangan manusia dan mengandung glikosida sianogenik tinggi adalag singkong. Contohnya sianogen linamarin dan lotaustralin dalam singkong pahit dihidrolisis oleh enzim linamarase dan membentuk sianida yang toksik (Oluremi & Nwosu, 2002).
Asam sianida merupakan senyawa kimia yang mengandung gugus C = N yang terikat dengan atom hidrogen, atom C terikat tiga ke atom N.
Asam sianida memiliki sifat mudah menguap jika dipanaskan, larut air, dan titik lelehnya pada suhu 55ºC. Asam sianida (HCN) biasanya berbentuk gas, larutan, atau dalam bentuk garam-garam alkali. Sifat-sifat murninya antara lain, tidak berwarna, mudah menguap pada suhu kamar, dan memiliki bau yang khas. HCN mempunyai berat molekul yang ringan, sukar terionisasi, mudah berdifusi, dan cepat diserap melalui saluran cerna, paru-paru, dan kulit (Bidwai et al., 2015; Puspitaningrum, 2013).
Menurut FAO, batas aman konsumsi kadar asam sianida (HCN) adalah ≤ 10 ppm. Oleh karena itu, diperlukan pengolahan yang memadai sebelum dikonsumsi untuk dapat mengurangi ataupun menghilangkan sianida pada beberapa pangan nabati yang mengandung asam sianida tinggi. Salah satu pre-treatment yang dapat digunakan adalah dengan proses perendaman dalam sekam padi dan perebusan (Pramidha & Wulan, 2017). Sianida bersifat sangat letal karena dapat berdifusi dengan cepat
pada jaringan dan berikatan dengan organ target dalam beberapa detik.
Sianida dapat berikatan dan menginaktifkan beberapa enzim, terutama yang mengandung besi dalam bentuk Ferri (Fe3+) dan kobalt. Kombinasi kimia yang dihasilkan mengakibatkan hilangnya integritas struktural dan efektivitas enzim (Cahyawati, 2017).
Penyiapan alat dan bahan yang dibutuhkan
Penyiapan kertas saring kering ukuran 1 x 7 cm
Penyelupan kertas saring dalam larutan asam pikrat
Pengeringan kertas saring menggunakan hair dryer
Penghalusan bahan makanan yang akan diuji
Timbang 50 gr bahan yang dihaluskan
Masukkan bahan yang sudah dihaluskan dalam Erlenmeyer yang bertutup
Penambahan akuades 50 ml dan 5 ml Asam Tartrat 5% ke dalam erlenmeyer berisi bahan uji
Basahi kertas saring dengan larutan Na2CO3 8%
Gantungkan kertas tersebut pada mulut erlenmeyer dengan posisi dijepit antara mulut erlenmeyer dan tutup
Panaskan erlenmeyer di atas penangas air 50°C selama 15 menit
Amatilah perubahan warnanya
Gambar 2.3 Diagram Alir Uji Kualitatif Penentuan HCN
Prosedur uji kualitatif yang dilakukan pada video sudah sesuai dengan teori. Prinsip dari uji kualitatif sianida dengan menggunakan metode colorimetri adalah ion sianida berekasi dengan agen klorinasi yang membentuk klorida sianogen. Selanjutnya bereaki dengan 1,3-asama dimetilbarbiturik yang berubah menjadi larutan yang berwarna violet.
Konsentrasi sianida diukur secara kuantitatif dengan membandingkan hasil pengukuran dengan bidang warna pada cakram warna. Sementara itu, uji kualitatif sianida dilakukan dengan menempatkan 6 ml sampel singkong yang dilarutkan dalam aquades ke dalam tabung reaksi menggunakan pipet, kemudian ditambahkan 1 level microspon biru ke tutup yang berisi dalam reagen CN-1. dan kocok rata sampai semua reagen larut, lalu tambahkan 1 microspon hijau ke tutup reagen CN-2 dan kocok sampai semua reagen larut, lalu tambahkan 3 tetes reagen CN-3 ke di sebelah kanan tabung reaksi dan kocok sampai semua reagen larut, kemudian diamkan selama 5 menit dan akhiri dengan meletakkannya di atas untuk melihat perbandingan warnanya (Vernanda, 2019).
Penentuan HCN atau asam sianida atau hidrogen sianida berdasarkan Widyastuti (2022) diawali dengan persiapan alat dan bahan.
Alat yang diperlukan pada praktikum ini adalah gelas beaker, gelas ukur, erlenmeyer dengan tutup, kertas saring, cawan petri, penjepit kayu, dan penangas air. Bahan yang diperlukan adalah sampel berupa singkong dan daun singkong, serta menggunakan tiga reagen, yaitu asam tartrat 5%, natrium karbonat anhidrat 8%, dan asam pikrat jenuh. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyiapkan kertas saring kering berukuran 1 x 7 cm dan larutan asam pikrat dalam gelas beaker kecil. Kemudian celupkan kertas saring seluruhnya ke dalam larutan asam pikrat seperti yang ditunjukkan Gambar 2.4.
Gambar 2.4 Pencelupan kertas saring dalam larutan asam pikrat
Setelah itu keluarkan kertas saring dan letakkan diatas cawan petri.
Kemudian keringkan kertas saring. Setelah itu, siapkan sampel uji berupa daun singkong dan singkong. Setelah itu haluskan sampel yang akan diuji dan timbang sampel yang sudah dihaluskan tersebut sebanyak 50 gram.
Setelah ditimbang, masukkan bahan uji tersebut kedalam erlenmeyer tertutup. Tambahkan akuades sebanyak 50 mL dan asam tartrat 5%
sebanyak 5 mL ke dalam erlenmeyer berisi bahan uji. Setelah itu homogenkan larutan dengan cara diputar perlahan. Kemudian ambil kertas saring yang tadi sudah dicelupkan ke dalam asam pikrat jenuh dan sudah dikeringkan. Langkah berikutnya adalah membasahi kertas saring tersebut dengan larutan Na2CO3 8% menggunakan pipet seperti yang ditunjukkan Gambar 2.5. Berdasarkan Widiastuti, dkk. (2017), kadar Na2CO3 yang digunakan sama, yaitu 8%.
Gambar 2.5 Pembasahan kertas saring dengan larutan Na2CO3 5%
Langkah berikutnya adalah menggantungkan kertas pada mulut erlenmeyer dengan posisi dijepit antara mulut erlenmeyer dan tutup dengan penutup erlenmeyer seperti pada Gambar 2.6.
Gambar 2.6 Posisi penjepitan kertas saring di erlenmeyer
Langkah berikutnya adalah pemanasan erlenmeyer diatas penangas air bersuhu 50°C selama 15 menit. Caranya dengan menjepitkan erlenmeyer menggunakan penjepit kayu dan dipegang seperti pada Gambar 2.4. Pemilihan suhu dan lama waktu yang digunakan sama dengan yang digunakan oleh Widiastuti, dkk (2017). Kemudian amati perubahan warnanya. Apabila warna orange dari kertas saring yang dicelupkan pikrat berubah menjadi warna merah berarti pada sampel tersebut positif mengandung HCN. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Widiastuti, dkk (2017) yang mengatakan bahwa warna dari kertas saring akan berubah menjadi merah atau orange apabila di dalam sampel terkandung sianida.
Gambar 2.7 Pemanasan diatas penangas air Gambar 2.8 Hasil pengujian Bahan yang digunakan dalam video ada 3 reagen, yaitu asam tartrat 5%, natrium karbonat anhidrat 8%, dan asam pikrat jenuh. Berdasarkan Widyastuti, dkk (2017), penambahan asam tartrat 10% dilakukan dengan
tujuan untuk menghasilkan uap HCN. Uap HCN akan dihasilkan oleh hidrogen dari asam tartrat yang terkait dengan ion CN- dan ion larut air yang menghasilkan uap HCN. Penambahan Na2CO3 atau natrium karbonat anhidrat adalah untuk membentuk senyawa sianida yang stabil dan tidak mudah menguap (Widyastuti, dkk, 2017). Penggunaan asam pikrat untuk uji sianida kualitatif dikenal juga dengan nama metode kertas pikrat. Metode kertas pikrat didasarkan pada reaksi enzim yang mengkatalisis pelepasan gas HCN, yang bereaksi dengan asam pikrat pada strip tes kertas menghasilkan 2,6-dinitro-5-hidroksi-4-hidroksilamino-1,3 disiklobenzena menginduksi perubahan warna (Appenteng, dkk. 2021).
Uji kuantitatif dapat dilakukan dengan menggunakan analisis spektrofotometri UV-Vis. Prinsip kerja dari analisis ini adalah berdasarkan penyerapan cahaya atau energi radiasi oleh suatu larutan. Jumlah cahaya atau energi radiasi yang diserap memungkinkan pengukuran jumlah zat penyerap dalam larutan secara kuantitatif (Triyani, 1985). Langkah awal untuk menganalisis sampel menggunakan spektrofotometri UV-Vis adalah dengan membuat larutan standar untuk dibandingkan absorbansinya dengan sampel. Pada uji kadar sianida, pembuatan laritan standar atau larutan induk dapat dilakukan dengan pengambilan larutan induk sianida dengan pipet kemudian dititrasi dengan AgNO3 0,1 M sampai titik akhir atau dapat juga dilakukan dengan pengenceran yang kemudian dipanaskan (Arisanti dkk., 2013). Setelah itu, ditentukan panjang gelombang maksimum dari larutan standar untuk memperoleh panjang gelombang yang memberikan sensitivitas pengukuran tertinggi (Nagaraja et al., 2002).
Langkah selanjutnya adalah pembuatan kurva standar atau kurva baku dengan tujuan mengetahui hubungan antara konsentrasi larutan dengan nilai absorbansinya. Kurva baku yang baik nilai linieritas r ≥ 0,98.
Nilai r yang memenuhi syarat menunjukkan bahwa dengan adanya perubahan kadar maka akan mempengaruhi nilai absorbansi secara linier (Fatimah dkk., 2018). Berikutnya adalah pengujian sampel dengan mengukur absorbansinya. Sebelumnya dilakukan proses ekstraksi terlebih
dahulu. Ekstraksi dapat dilakukan dengan cara destilasi. Sampel ditimbang sebanyak kemudian dimasukkan ke dalam labu didih dan ditambahkan aquades. Alat destilasi dipasang dan dipanaskan dengan kecepatan destilasi sekitar 2-3 ml/menit. Kemudian destilat ditampung sampai kurang lebih 100 ml dan dibilas pendingin dengan aquadest (Julistiana, 2009). Setelah itu, dilakukan pengukuran absorbansi sampel yang sudah didestilasi dengan cara memasukkan ke dalam spektrofotometer dan diukur menggunakan panjang gelombang yang telah didapatkan pada perhitungan awal. Pembacaan absorbansi diulang sebanyak 6 kali untuk mengetahui bahwa alat spektrofotometer dapat berfungsi dengan baik (Fatimah dkk., 2018). Menurut Arisanti dkk (2018), setelah diperoleh hasil absorbansi, lalu hasil pembacaan dimasukkan ke dalam kurva kalibrasi dan hitung kadar sampel menggunakan rumus berikut:
Kadar sampel (mg/kg) = a x b c x fp Keterangan:
a = konsentrasi sampel dari alat spektrofotometer b = sampel uji yang didestilasi
c = berat sampel yang ditimbang d = faktor pengenceran
Pada penentuan uji kadar sianida digunakan beberapa bahan yaitu alkali pikrat, kloroform, dan KOH. Penambahan kloroform berguna sebagai pelarut alkaloid. Contonya adalah alkaloid pada umbi singkong yaitu HCN (Pritari, 2013). Kemudian penambahan KOH berfungsi untuk membuat suasana menjadi basa sehingga sianida dapat terdisosiasi dan dapat mempermudah proses selanjutnya (Nahdiyah, 2011). Selain itu juga terdapat reagen alkali pikrat yang akan membentuk senyawa kompleks berwarna kuning jingga jika bereaksi dengan bahan yiatu sianida.
Munculnya warna mennadai bahwa sianida sudah terlarut sehingga lebih mudah untuk diukur absorbansinya (Mamay dkk., 2020).
Tabel 2.1 Data Absorbansi Larutan KCN Standar 3,5 mg/10 mL Volume Larutan KCN
Standar (mL) Absorbansi (Å) Berat KCN (mg)
0 0,32 0,000
0,1 0,257 0,035
0,2 0,338 0,070
0,3 0,452 0,105
0,4 0,571 0,140
0,5 0,604 0,175
0,6 0,768 0,210
Sumber: Data Praktikum
Gambar 2.8 Kurva Hubungan Berat KCN Standar dengan Absorbansi Tabel 2.1 menunjukan data absorbansi larutan KCN Standar 3,5 mg/10 ml. Berdasarkan Tabel 2.1 tersebut, dapat diketahui bahwa semakin besar volume larutan KCN standar maka absorbansi juga akan semakin meningkat. Hasil tersebut sesuai dengan teori menurut hukum Lamberbeer, yaitu absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi, karena nilai b atau I dari 1 cm dapat diabaikan dan ᵋ merupakan konstanta (Gusnedi, 2013). Dengan demikian jika kosentrasi semakin tinggi, maka absorbansi yang dihasilkan semakin tinggi, begitupun sebaliknya jika konsentrasi semakin rendah absorbansi yang dihasilkan semakin rendah pula (Sujana dkk., 2020). Hal tersebut juga berlaku pada berat KCN,
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9
f(x) = 2.32 x + 0.23 R² = 0.91
Kurva Hubungan Berat KCN Standar dengan Absorbansi
Berat KCN
Absorbansi
semakin besar volume larutan KCN standar, maka berat KCN yang dihasilkan akan semakin meningkat.
Selanjutnya, dari hasil yang telah didapat pada Tabel 2.1 kemudian dibuat kurva standar KCN yang akan digunakan sebagai acuan perhitungan persamaan regresi untuk menghitung kadar HCN pada masing-masing sampel. Gambar 2.8 menunjukan hasil dari kurva yang telah dibuat dan diperoleh persamaan y = 2,3173x + 0,2295 dengan nilai R2 sebesar 0,9095. Nilai R2 yang diperoleh mendekati nilai 1 yang menunjukkan bahwa persamaan regresi tersebut adalah linear yang berarti bawa semakin tinggi nilai konsentrasi, maka semakin tinggi nilai absorbansinya (Sujana dkk., 2020).
Tabel 2.2 Kadar Sianida dalam Bahan Pangan
Sampel Berat
(g)
Absorbansi (Å)
Berat HCN (mg)
Kadar HCN (ppm)
Ubi jalar kuning mentah 4 0,438 0,090 89,975
Ubi jalar kuning rebus 4 0,294 0,028 27,834
Singkong mentah 4 0,627 0,172 171,536
Singkong rebus 4 0,472 0,105 104,648
Daun singkong mentah 4 0,489 0,112 111,984
Daun singkong rebus 4 0,238 0,004 3,668
Sumber: Data Praktikum
Berdasarkan Tabel 2.2 mengenai kadar sianida dalam bahan pangan, didapatkan data sebagai berikut. Sampel ubi jalar kuning mentah dengan absorbansi 0,438Å memiliki berat HCN 0,09 mg dan kadar HCN 89,975 ppm. Sampel ubi jalar kuning rebus dengan absorbansi 0,294Å memiliki berat HCN 0,028 mg dan kadar HCN 27,834 ppm. Sampel singkong mentah dengan absorbansi 0,627Å memiliki berat HCN 0,172 mg dan kadar HCN 171,536 ppm. Sampel singkong rebus dengan absorbansi 0,472Å memiliki berat HCN 0,105 mg dan kadar HCN 104,648 ppm. Sampel daun singkong mentah dengan absorbansi 0,489Å memiliki berat HCN 0,112 mg dan kadar HCN 111,984 ppm. Sampel daun singkong rebus dengan absorbansi 0,238Å memiliki berat HCN 0,004 mg dan kadar HCN 3,668 ppm.
Menurut Anggraini, dkk. (2021), kadar sianida untuk ubi kayu, termasuk ubi jalar kuning, berkisar antara 15-25 ppm. Terdapat perbedaan antara hasil perhitungan dan teori. Menurut Purwati, dkk (2016), kadar sianida singkong mentah berkisar antara 0,81-1,4 ppm, sedangkan kadar sianida singkong rebus berkisar antara 0,432 – 1,188 ppm. Perbedaan kadar HCN antara hasil perhitungan dan teori dapat berbeda sangat jauh, tetapi memiliki persamaan juga, yaitu sama-sama terjadi penurunan kadar HCN setelah proses perebusan. Tingginya kadar HCN pada praktikum bisa terjadi karena adanya perbedaan pemberian perlakuan berupa lama waktu perebusan. Selain itu, perbedaan jenis bahan (singkong atau ubi) yang digunakan juga dapat mempengaruhi karena beberapa jenis singkong memiliki kadar sianida sangat tinggi bahkan hingga mencapai 200 ppm pada jenis Ssp (Purwati, dkk. 2016). Menurut (Soetrisno dan Purawisastra, 1992), kadar sianida pada daun singkong mentah dapat mencapai 149,4 ppm, sedangkan pada daun singkong rebus dapat mencapai 109,2 ppm.
Hasil yang didapat dari perhitungan memiliki nilai yang tidak terlalu jauh untuk daun singkong mentah, sedangkan daun singkong rebus memiliki nilai yang sangat jauh. Hal ini dapat terjadi karena terdapat perbedaan pengaruh pemasakan. Alasan lain dari perbedaan tersebut adalah kadar sianida pada daun singkong dipengaruhi oleh umur singkong dan waktu pemetikan daun (Lumbantobing, dkk. 2019).
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, Negrita Rizki, Erwin Yuliadi, Kukuh Setiawan, dan M. Syamsoel Hadi. 2021. Karakterisasi Pertubuhan, Kandungan Pati, dan Kadar HCN Berbagai Klon Ubikayu (Manihot esculenta Crantz). Journal of Tropical Upland Resources, vol. 03(01): 45-53
Appenteng, Michael K., Ritter Krueger, Mitch C. Johnson, Harrison Ingold, Richard Bell, Andrew L. Thomas, and C. Michael Greenlief. 2021.
Cyanogenic Glycoside Analysis in American Elderberry. Molecules, vol.
26(5)
Arisanti, Dewi, Nur Qadri Rasyid dan Muh. Nasir. 2013. Analisis Kadar Sianida Pada Rebung Berdasarkan Volume Ukuran dari Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa. Ind.Journal. Chem. Res, 1(1) : 1-6.
Bidwai, A. K., Ahrendt, A. J., Sullivan, J. S., Vitello, L. B., & Erman, J. E.
(2015). pH dependence of cyanide and imidazole binding to the heme domains of Sinorhizobium meliloti and Bradyrhizobium japonicum FixL.
Journal of inorganic biochemistry, 153, 88-102.
Cahyawati, P. N. (2017). Keracunan Akut Sianida. WICAKSANA: Jurnal Lingkungan dan Pembangunan, 1(1), 80-87.
Fatimah, Siti Fatmawati, Vani Aisyah, Laela Hayu Nurani dan Citra Ariyani Edityaningrum. 2018. Validasi Metode Analisis Β-Karoten Dalam Ekstrak Etanol 96% Spirulina Maxima dengan Spektrofotometri Visibel.
Media Farmasi. 15(1): 1-13.
Gusnedi, R. 2013. Analisis Nilai Absorbansi dalam Penentuan Kadar Flavonoid untuk Berbagai Jenis Daun Tanaman Obat. Pillar of Physics, 2(10): 76–
83.
Julistiana, Ra Etika, 2009, Pengembangan dan validasi metode pengujian kadar sianida dalam limbah cair secara spektroskopi UV Vis., Skripsi, Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor.
Lumbantobing, Ria, Mery Napitupulu, dan Minarni Rama Jura. 2019. Analisis Kandungan Asam Sianida Dalam Singkong (Manihot esculenta) Berdasarkan Lama Penyimpanan. Jurnal Akademika Kimia, vol. 8(3):
180-183
Mamay, Gina Nafsa Mutmaina dan Muhammad Hadi Sulhan. 2020. Perbandingan Nilai Kreatinin Pada Pasien Hemodialisa Setelah Deproteinisasi Tca dan Asetonitril. Jurnal Teknologi Laboratorium Medis, 1(1) : 21-24.
Nagaraja, P., Kumar, M. S., Yathirajan, H. S. and Prakash, J. S. 2002. Novel Sensitive Spectrophotometric Method for the Trace Determination of Cyanide in Industria Effluent. The Japan Society for Analytical Chemistry. 18(1): 1027-1030.
Nahdhiyah, Nissa. 2011. Analisis Ion Sianida (CN- ) dan Timbal (Pb2+) secara Simultan dengan Metode Reverse Flow Injection Potentiometry. Skripsi.
Jurusan Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Universitas Jember. Jember.
Oluremi, I.O.A. & A. Nwosu, 2002. The effect of soaked cassava peel on weanling rabbits. J Food Technol Afr 7(1):12-15.
Pramitha, A. R., & Wulan, S. N. (2017). Detoksifikasi sianida umbi gadung (Dioscorea hispida Dennst.) dengan kombinasi perendaman dalam abu sekam dan perebusan. Jurnal Pangan dan Agroindustri, 5(2).
Pritari, Aulia Ratu. 2013. Uji Larvasidal Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L.) terhadap Larva Aedes aegypti (dalam Pelarut n-Heksana, Kloroform dan Metanol). Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Jember.
Purwati, Yeni, Anny Thuraidah, dan Dinna Rakhmina. 2016. Kadar Sianida Singkong Rebus dan Singkong Goreng. Medical Laboratory Technology Journal, vol. 2(2): 46-50
Riyani, Kapti dan Tien Setyaningtyas. (2013). “Fotodegradasi Sianida dalam Limbah Cair Tapioka”. Molekul 8(1): hal. 49-57.
Soetrisno, Uken S., dan Suryana Purawisastra. 1992. Pengaruh Pengukusan terhadap Kandungan Asam Sianida dalam Beberapa Bahan Makanan.
PGM, vol. 15: 117-120
Sujana, Dani., Yogi R. Nugraha, Dadang M. Hasyim, dan Zahara Farhan. 2020.
Identifikasi Kadar Sianida pada Biji Picung Mentah (Pangium edule Reinw) yang Berasal dari Cisewu Garut dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis. Jurnal Sains dan Teknologi Laboratorium Medik, 5(2): 1-7.
Triyati, Etty. 1985. Spektrofotometer Ultra-Violet dan Sinar Tampak Serta Aplikasinya Dalam Oseanologi. Oseana. 10(1): 39-47
Vernanda. 2019. Analisis Sianida Pada Ubi Racun (Manihot glaziovii) Pada Pemeriksaan Langsung Perendaman 2 Jam, 4 Jam, dan 8 Jam. Karya Tulis Ilmiah. Jurusan Analis Kesehatan. Poltekkes Medan. Medan.
Widyastuti, Vany, Erlin Ernawati, Vita Fatmadewi, Saraswati Anindyajati, dan Shaaliyah Novita Faradina. 2017. Analysis of Cyanide Content on Yams Using Spectrophotometry Methods. Indonesian Journal of Chemistry and Environment, vol. 1(1): 7-14
Widyastuti, Wrika Wahyu. 2022. Praktikum Penentuan HCN Kualitatif.
https://www.youtube.com/watch?v=au__GFEmXoM, diakses pada 07/06/2022 21.53
LAMPIRAN PERHITUNGAN 1. Berat KCN
Berat KCN = 3,5mg x volume larutan KCN standar(ml) 10ml
a. Berat KCN = 3,5mg x0(ml) 10ml
= 0 mg
b. Berat KCN = 3,5mg x0,1(ml) 10ml
= 0,035 mg
c. Berat KCN = 3,5mg x0,2(ml) 10ml
= 0,070 mg
d. Berat KCN = 3,5mg x0,3(ml) 10ml
= 0,105 mg
e. Berat KCN = 3,5mg x0,4(ml) 10ml
= 0,140 mg
f. Berat KCN = 3,5mg x0,5(ml) 10ml
= 0,175 mg
g. Berat KCN = 3,5mg x0,6(ml) 10ml
= 0,210 mg 2. Berat HCN (mg)
Berat HCN (mg) = (Nilai absorbansi−Nilai b) Nilai a
Persamaan regresi linear y = 2,3173x + 0,22955 Nilai a = 2,3173 Nilai b = 0,2295 a. Ubi jalar kuning mentah
Berat HCN (mg) = (0,438−0,2295) 2,3173
= 0,90 mg b. Ubi jalar kuning rebus
Berat HCN (mg) = (0,294−0,2295) 2,3173
= 0,028 mg c. Singkong mentah
Berat HCN (mg) = (0,627−0,2295) 2,3173
= 0,172 mg d. Singkong rebus
Berat HCN (mg) = (0,472−0,2295) 2,3173
= 0,105 mg e. Daun singkong mentah
Berat HCN (mg) = (0,489−0,2295) 2,3173
= 0,112 mg f. Daun singkong mentah
Berat HCN (mg) = (0,238−0,2295) 2,3173
= 0,004 mg 3. Kadar HCN (mg)
Kadar HCN (ppm) = (Kadar HCN(mg)x fp)
Berat sampel(g)x1000 x 106 a. Ubi jalar kuning mentah
Berat HCN (ppm) = (0,090(mg)x4)
4(g)x1000 x 106
= 89,975 ppm b. Ubi jalar kuning rebus
Berat HCN (ppm) = (0,028(mg)x4)
4(g)x1000 x 106
= 27,834 ppm c. Singkong mentah
Berat HCN (ppm) = (0,172(mg)x4)
4(g)x1000 x 106
= 171,536 ppm d. Singkong rebus
Berat HCN (ppm) = (0,105(mg)x4)
4(g)x1000 x 106
= 104,648 ppm e. Daun singkong mentah
Berat HCN (ppm) = (0,112(mg)x4)
4(g)x1000 x 106
= 111,984 ppm f. Daun singkong mentah
Berat HCN (ppm) = (0,004(mg)x4)
4(g)x1000 x 106
= 3,668 ppm