• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum Limnologi Kelompok 08

N/A
N/A
David REIVALDO

Academic year: 2025

Membagikan "Laporan Praktikum Limnologi Kelompok 08"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

PRAKTIKUM LIMNOLOGI

PENGUJIAN OKSIGEN TERLARUT (DISSOLVED OXYGEN)

Diajukan untuk memenuhi tugas Praktikum Limnologi

Oleh

Kelompok 8/Perikanan 2021 Aqsha Lazuardi S. 230110190054 Jeny Trysta A. 230110210003 Raihan Fadillah 230110210010 David Reivaldo M. 230110210027 Della Rena Alvetta 230110210035 Akmal Habib ** 230110210040 Elva Yenizar A. 230110210043

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN JATINAGOR

2021

(2)

ii

rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum mata kuliah “Limnologi” tepat pada waktu yang telah ditentukan.

Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Limnologi. Selain itu laporan praktikum ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang oksigen terlarut dalam perairan (dissolved oxygen) yang dapat berguna bagi pembaca dan juga penulis.

Tidak lupa penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada para asisten praktikum Limnologi karena telah memberikan arahan dan bimbingan sehingga laporan dapat disusun dengan baik.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini terdapat banyak kekurangan baik dari segi penyusunan, bahasa serta materi yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu, penulis membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan laporan praktikum di masa yang akan datang.

Terima Kasih.

Bandung, 18 November 2021

Penyusun

(3)

iii DAFTAR ISI

BAB Halaman

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ...v

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ...1

1.2 Tujuan Praktikum ...2

1.3 Manfaat Praktikum ...2

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kualitas Air ...3

2.2 Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen) ...4

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Oksigen Terlarut di Perairan 5 III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu...7

3.2 Alat dan Bahan...7

3.2.1 Alat Praktikum...7

3.2.2 Bahan Praktikum...8

3.3 Prosedur Praktikum...9

3.4 Rumus Perhitungan...9

IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil...10

4.1.1 Hasil Kelompok...10

4.1.2 Hasil Kelas...10

4.2 Pembahasan...13

V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan...15

5.2 Saran...15

DAFTAR PUSTAKA...16

LAMPIRAN...18

(4)

iv

1. Alat Praktikum... 7

2. Bahan Praktikum ... 8

3. Hasil Pengukuran DO seluruh kelompok ... 10

4. Hasil Pengukuran DO kelompok ... 10

5. Hasil Pengukuran DO kelas... 10

(5)

v

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

1. Prosedur Pengukuran DO ... 9

(6)

vi

1. Alat Praktikum... 19

2. Bahan Praktikum ... 20

3. Kegiatan Praktikum ... 20

4. Perhitungan ... 22

(7)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu kebutuhan manusia yang paling pokok adalah air. Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup di bumi ini.

Sekitar 90% tanaman dan mikrobia terdiri dari air. Kandungan yang terlarut dalam suatu perairan tentunya mempengaruhi aktivitas hidup suatu organisme yang ada di dalamnya seperti kelimpahan kandungan oksigen (O2) dalam perairan yang memudahkan organisme di dalamnya dapat melakukan proses respirasi.

Kualitas air secara luas dapat diartikan sebagai faktor fisika dan kimia yang mempengaruhi kehidupan ikan dan organisme perairan lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Kualitas suatu perairan secara umum dapat dilihat dari konsentrasi oksigen terlarut yang terkandung dalam perairan tersebut.

Batas konsentrasi minimum serta peran DO bagi ekosistem perairan mencerminkan kemampuan badan air dalam menyesuaikan diri dengan kehadiran beban pencemar.

Kehadiran oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) di dalam badan air sungai, merupakan indikator kesehatan (sanitasi) badan air sungai (Thomann, 1987).

Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau keperluan tertentu.

Kandungan oksigen terlarut (DO) merupakan salah satu parameter yang paling banyak mendapat perhatian karena mencerminkan kualitas air dan kesehatan suatu ekosistem perairan. Jumlah oksigen terlarut dalam air merupakan salah satu indikator yang baik untuk menentukan kualitas air dan kehidupan di dalam air (Mulia, 2005). Semakin tinggi kandungan DO semakin sehat kualitas perairan tersebut dan sebaliknya apabila nilai oksigen terlarut rendah berarti beban pencemarannya semakin meningkat. Pencemaran air adalah penambahan unsur atau organisme laut kedalam air, sehingga pemanfaatannya dapat terganggu termasuk makhluk hidup yang ada di dalamnya. Keadaan ini akan menyebabkan oksigen terlarut dalam air pada kondisi yang kritis atau merusak kadar kimia air.

(8)

Rusaknya kadar kimia air tersebut akan berpengaruh terhadap fungsi dari air itu sendiri.

1.2 Tujuan Praktikum

Tujuan dari dilaksanakannya praktikum limnologi yaitu untuk mengetahui teknis dalam pengujian salah satu parameter kualitas air, yaitu DO (Dissolved Oxygene).

1.3 Manfaat Praktikum

Manfaat dari dilaksanakannya praktikum limnologi yaitu untuk mengetahui cara menentukan kandungan dari oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) pada suatu perairan. Sehingga kita lebih memahami apakah kandungan DO dari suatu perairan tersebut sudah tinggi dan tercukupi atau masih rendah.

(9)

3 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kualitas Air

Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak, bahkan oleh bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh karena itu sumber daya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta makhluk hidup yang lain. Pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara bijaksana, dengan memperhitungkan generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Saat ini, masalah utama yang dihadapi oleh sumber daya air meliputi kuantitas air yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat dan kualitas air domestik yang semakin menurun.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Air adalah semua air yang terdapat pada di atas maupun di bawah permukaan tanah termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan dan air laut yang dimanfaat di darat. Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Kualitas Air, definisi kualitas Mutu Air adalah tingkat kondisi kualitas air yang menunjukkan kondisi cemar atau kondisi baik pada suatu sumber air dalam waktu tertentu dengan membandingkan dengan baku mutu air yang ditetapkan.

Tersedianya oksigen terlarut didalam air sangat menentukan kehidupan di perairan tersebut. Menurut PP No. 82 Tahun 2001, baku mutu kandungan DO disungai adalah 6 Mg/L. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001, mutu air atau kualitas air diklasifikasikan menjadi 4 kelas, yang terdiri dari :

1. Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegiatan tersebut;

(10)

2. Kelas dua, air yang di peruntukan dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanian, dan atau peruntukan lain yang mempersyarakan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;

3. Kelas tiga, air yang di peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertamanan, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratan mutu air yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;

4. Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertamanan dan atau peruntukann lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

2.2 Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen)

Oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) merupakan salah satu parameter mengenai kualitas air. Tersedianya oksigen terlarut di dalam air sangat menentukan kehidupan di perairan tersebut. Oksigen terlarut (DO) adalah jumlah oksigen terlarutt dalam air yang berasal dari fotosintesa dan absorbsi atmosfer/udara. Oksigen terlarut di suatu perairan sangat berperan dalam proses penyerapan makanan oleh mahluk hidup dalam air. Untuk mengetahui kualitas air dalam suatu perairan, dapat dilakukan dengan mengamati beberapa parameter kimia seperti oksigen terlarut (DO). Semakin banyak jumlah DO (Dissolved Oxygen) maka kualitas air semakin baik, jika kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi anaerobik yang mungkin saja terjadi. Satuan DO dinyatakan dalam persentase saturasi. Oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Di samping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal dari suatu proses difisi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut (Salmin 2000).

(11)

5

Pengukuran oksigen terlarut juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan dan mikroorganisme. Kemampuan air untuk membersihkan pencemaran juga ditentukan oleh banyaknya oksigen dalam air. Oksigen terlarut merupakan kebutuhan vital bagi kelangsungan hidup organisme suatu perairan. Oksigen terlarut diambil oleh organisme perairan, menurunnya kadar oksigen terlarut dapat mengurangi efisien pengambilan oksigen oleh biota laut, sehingga dapat menurunkan kemampuan untuk hidup normal dalam lingkungan hidupnya. Umumnya oksigen dijumpai di lapisan permukaan karena oksigen dari udara di dekatnya dapat secara langsung larut (berdifusi ke dalam air laut).

Fitoplankton dapat meningkatkan kadar oksigen terlarut pada siang hari, hal ini disebabkan oleh terlepasnya gas oksigen sebagai hasil fotosintesis. Pengolahan tentang kualitas air untuk kadar minimal oksigen terlarut dalam air minum adalah 7 mg/l O₂. Pemeriksaan oksigen terlarut dilakukan dengan metode iodometri cara winkler, dimana reaksi pembebasan iodium (yodometri) yang eqivalen dengan O₂ yang terdapat ada dalam air sumur dengan mengukur l2 larutan. Larutan baku biasanya digunakan Na₂S₂O₃ dan larutan pati untuk menentukan titik akhir titrasi sebagai indikator (amilum).

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Oksigen Terlarut dalam Perairan Kelarutan oksigen dalam air dapat dipengaruhi oleh suhu, tekanan parsial gas-gas yang ada di udara maupun yang ada di air, salinitas serta persenyawaan unsur-unsur mudah teroksidasi di dalam air. Kelarutan tersebut akan menurun apabila suhu dan salinitas meningkat, oksigen terlarut dalam suatu perairan juga akan menurun akibat pembusukan-pembusukan dan respirasi dari hewan dan tumbuhan yang kemudian diikuti dengan meningkatnya CO₂ bebas serta menurunnya pH (Nybakken 1992).

Oksigen (O₂) dalam suatu perairan tidak lepas dari pengaruh parameter lain seperti karbondioksida, alkainitas, suhu, pH, dan sebagainya. Di mana semakin tinggi kadar oksigen yang dibutuhkan, maka karbondioksida yang dilepaskan

(12)

sedikit. Hubungan antara kadar oksigen terkrut dengan suhu ditunjukkan bahwa semakin tinggi suhu, kelarutan oksigen semakin berkurang (Efendi 2003). Kadar oksigen (O₂) dalam perairan tawar akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurangnya kadar alkalinitas. Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi karena adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis.

Oksigen (O₂) terlarut dalam air secara ilmiah terjadi secara kesinambungan Organisme yang ada dalam air pertumbuhannya membutuhkan sumber energi seperti unsur karbon (C) yang diperoleh dan bahan organik yang berasal dari ganggang yang mati maupun oksigen dan udara. Dan apabila bahan organik dalam air menjadi berlebih sebagai akibat masuknya limbah aktivitas (seperti limbah organik dari industri), yang berarti suplai karbon (C) melimpah, menyebabkan kecepatan pertumbuhan organisme akan berlipat ganda (Putranto, 2009).

(13)

7 BAB III

BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Limnologi Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen) Dalam Perairan, dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 26 Oktober 2021, pukul 13.15 WIB sampai dengan selesai. Pengambilan sampel air dilakukan di kolam rektorat dan kemudian dilanjutkan pengamatan di Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat Praktikum

No Nama Alat Fungsi

1 Thermistor Sebagai sensor suhu/mengukur suhu

2 Gelas Erlenmeyer Sebagai tempat menampung sampel yang akan dititrasi

3 Gelas Ukur Sebagai alat untuk mengukur sample air

4 Buret Sebagai alat mengeluarkan larutan dengan

volume tertentu

5 Botol Winkler Sebagai wadah/media sample dalam percobaan

6 Pipet Tetes Memindahkan larutan skala kecil dari satu media ke media lain

Tabel 1. Alat Praktikum

(14)

3.2.2 Bahan Praktikum

Tabel 2. Bahan Praktikum

No Nama Bahan Fungsi

1 Sampel air kolam ke-8 Objek pengamatan

2 Larutan Indikator Amylum 1% Sebagai indikator dalam uji kelarutan oksigen

3 Larutan MnSO₄ 50% Mengikat oksigen dalam air sampel

4 Larutan Pereaksi O₂ (O₂-Reagent) Sebagai indikator titrasi 5 Larutan Na₂S₂O₃ 0,01 N (larutan

thiosulfat)

Sebagai indikator titrasi

6 Larutan 𝐇𝟐𝐒𝐎𝟒 pekat Mengurangi oksigen dalam air sampel

(15)

9

3.3 Prosedur Praktikum

Gambar 1. Prosedur Pengukuran Kecerahan Perairan

3.4 Rumus Perhitungan

Mg/l 𝐎𝟐 = 8000 𝑋 𝑚𝑙 Na₂S₂O₃ terpakai x Normalita Na₂S₂O₃ 50 𝑥 (𝑉−2)𝑉

Dimana ; 8000 = Berat molekul 𝐎𝟐 dalam 1000 ml.

50 = Banyaknya contoh air yang di titrasi.

V = Volume botol Winkler yang digunakan.

2 = Banyaknya air terbuang saat ditutup/equal dengan banyaknya penambahan 2 ml larutan 𝐇𝟐𝐒𝐎𝟒

Sampel berwarna biru dititrasi dengan larutan thiosulfat (Na₂S₂O₃) 0,01 N, hingga menjadi jernih. Dihitung larutan thiosulfat yang terpakai

50 ml sampel dimasukan kedalam gelas Erlenmeyer. Ditambahkan 3 tetes larutan amylum 1%

Didiamkan hingga larutan larutan dalam botol menjadi bening berwarna orange atau kuning

Sampel dengan endapan coklat sudah sempurna, ditambahkan 2ml larutan H2SO4pekat.

Dihomogen

Ditambahkan 1ml MnSO₄ 50% dan 1ml O₂ reagent pada sampel air. Tutup dan homogenkan

Sampel air dimasukkan ke botol winkler sampai penuh

(16)

10 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Hasil

Kolam 1 Kolam 2 Kolam 3 Kolam 4 Kolam 5 Kel.1 Kel.2 Kel.3 Kel.4 Kel.5 Kel.6 Kel.7 Kel.8 Kel.9 Kel.10 17,89

mg/l

16,26 mg/l

17,89 mg/l

16,26 mg/l

21,138 mg/l

17,89 mg/l

19,51 mg/l

19,51 mg/l

19,51 mg/l

14,634 mg/l Tabel 3. Hasil Perhitungan Setiap Kelompok.

2.1.1 Hasil Kelompok

Tabel 4. Hasil Perhitungan Kelompok 8.

Larutan Na₂S₂O₃ terpakai = 6 ml Normalita Na₂S₂O₃ = 0,02 Volume botol winkler = 125 Jawab :

Mg/l O2 = 8000 𝑋 6 x 0,02 50 𝑥 (125−2)

125

Mg/l O2 = 19,51 mg/l 2.1.2 Hasil Kelas

Tabel 5. Hasil Perhitungan Kelas.

Kel. 1 Larutan Na₂S₂O₃ terpakai = 5,5 ml Normalita Na₂S₂O₃ = 0,02 Volume botol winkler = 125 Jawab :

Mg/l O2 = 8000 𝑋 5,5x 0,02 50 𝑥 (125−2)125

Mg/l O2 = 17,89 mg/l

(17)

11

Kel. 2 Larutan Na₂S₂O₃ terpakai = 5 ml Normalita Na₂S₂O₃ = 0,02 Volume botol winkler = 125 Jawab :

Mg/l O2 = 8000 𝑋 5x 0,02 50 𝑥 (125−2)125

Mg/l O2 = 16,26 mg/l

Kel. 3 Larutan Na₂S₂O₃ terpakai = 5,5 ml Normalita Na₂S₂O₃ = 0,02 Volume botol winkler = 125 Jawab :

Mg/l O2 = 8000 𝑋 5,5x 0,02 50 𝑥 (125−2)

125

Mg/l O2 = 17,89 mg/l

Kel. 4 Larutan Na₂S₂O₃ terpakai = 5 ml Normalita Na₂S₂O₃ = 0,02 Volume botol winkler = 125 Jawab :

Mg/l O2 = 8000 𝑋 5x 0,02 50 𝑥 (125−2)

125

Mg/l O2 = 16,26 mg/l 𝐎𝟐

Kel. 5 Larutan Na₂S₂O₃ terpakai = 6,5 ml Normalita Na₂S₂O₃ = 0,02 Volume botol winkler = 125 Jawab :

Mg/l O2 = 8000 𝑋 6,5 x 0,02 50 𝑥 (125−2)

125

Mg/l O2 = 21,138 mg/l

(18)

Kel. 6 Larutan Na₂S₂O₃ terpakai = 5,5 ml Normalita Na₂S₂O₃ = 0,02 Volume botol winkler = 125 Jawab :

Mg/l O2 = 8000 𝑋 5,5x 0,02 50 𝑥 (125−2)125

Mg/l O2 = 17,89 mg/l

Kel. 7 Larutan Na₂S₂O₃ terpakai = 6 ml Normalita Na₂S₂O₃ = 0,02 Volume botol winkler = 125 Jawab :

Mg/l O2 = 8000 𝑋 6 x 0,02 50 𝑥 (125−2)125

Mg/l O2 = 19,51 mg/l

Kel. 9 Larutan Na₂S₂O₃ terpakai = 6 ml Normalita Na₂S₂O₃ = 0,02 Volume botol winkler = 125 Jawab :

Mg/l O2 = 8000 𝑋 6 x 0,02 50 𝑥 (125−2)125

Mg/l O2 = 19,51 mg/l

Kel. 10 Larutan Na₂S₂O₃ terpakai = 4,5 ml Normalita Na₂S₂O₃ = 0,02 Volume botol winkler = 125 Jawab :

Mg/l O2 = 8000 𝑋 4,5 x 0,02 50 𝑥 (125−2)125

Mg/l O2 = 14,634 mg/l

(19)

13

2.2 Pembahasan

Pada tabel 3 yaitu hasil pengamatan yang dilakukan setiap kelompok. Pada kolam bagian ke-1 pengambilan sampel air dilakukan oleh kelompok 1 dan 2.

Kelarutan oksigen yang terkandung berbeda yaitu secara berurut 17,89 mg/l dan 16,26 mg/l. Pada kolam bagian ke-2 pengambilan sampel air dilakukan oleh kelompok 3 dan 4. Kelarutan oksigen yang terkandung berbeda yaitu secara berurut 17,89 mg/l dan 16,26 mg/l. Pada kolam bagian ke-3 pengambilan sampel air dilakukan oleh kelompok 5 dan 6. Hasil pengamatan kelarutan oksigen yang terkandung berbeda yaitu secara berurut 21,138 mg/l dan 17,89 mg/l. Pada kolam bagian ke-4 pengambilan sampel air dilakukan oleh kelompok 7 dan 8. Hasil pengamatan oksigen yang terlarut dalam air adalah sama, yaitu 19,51 mg/l. Pada kolam bagian ke-5 pengambilan sampel air dilakukan oleh kelompok 9 dan 10.

Hasil pengamatan kelarutan oksigen yang terkandung berbeda yaitu secara berurut 19,51 mg/l dan 14,634 mg/l.

Pada tabel 4 yaitu hasil pengamatan yang dilakukan oleh kelompok 8 tepatnya kelompok kami, hasil pengamatan Oksigen yang terlarut dalam air menggunakan sampel air dari kolam rektorat bagian ke-4. Hasil menunjukkan bahwa oksigen yang terlarut yang terdapat di kolam rektorat sebesar 19,51 mg/l O2, pengambilan sampel dilakukan pada siang hari. Kelarutan oksigen yang terkandung cukup tinggi, hal ini dapat terjadi dikarenakan waktu pengambilan sampel terjadi pada siang hari ketika terjadi fotosintesis. Kualitas air sendiri dapat dikategorikan bagus ,dikarenakan semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus, hal ini dapat di lihat di mana masih ada biota air yang hidup di dalam kolam.

Hasil pengamatan Oksigen terlarut yang didapat cukup berbeda dari tiap kelompok. Hal ini tidak lepas dari faktor suhu dan juga ketinggian air yang berbeda- beda ataupun kesalahan peneliti (human error) saat penentuan titik akhir titrasi yang mempengaruhi nilai yang didapat. Meski begitu, hasil data kadar oksigen terlarut yang didapat pada setiap kelompok tergolong cukup tinggi. Jika dibandingkan dengan PP No. 82 Tahun 2001, baku mutu kandungan DO disungai

(20)

adalah 6 Mg/L, dan dapat dilihat dari hasil penelitian kandungan DO terbesar yaitu 21,138 mg/l dan terkecil 14,634 mg/l, yang berarti kandungan DO pada kolam rektorat cukup tinggi.

(21)

15 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

2.1 Kesimpulan

Hasil pengamatan Oksigen terlarut yang didapat cukup berbeda dari tiap kelompok. Hal ini tidak lepas dari faktor suhu dan juga ketinggian air yang berbeda- beda ataupun kesalahan peneliti (human error) saat penentuan titik akhir titrasi yang mempengaruhi nilai yang didapat. Meski begitu, hasil data kadar oksigen terlarut yang didapat pada setiap kelompok tergolong cukup tinggi. Jika dibandingkan dengan PP No. 82 Tahun 2001, baku mutu kandungan DO disungai adalah 6 mg/l, dan dapat dilihat dari hasil penelitian kandungan DO terbesar yaitu 21,138 mg/l dan terkecil 14,634 mg/l, hal ini dapat terjadi dikarenakan proses pengambilan sampel air terjadi pada siang hari ketika terjadi fotosintesis, sehingga jumlah oksigen terlarut cukup banyak. Dapat disimpulkan bahwa semakin banyak jumlah DO maka kualitas air semakin baik.

2.2 Saran

Saran kami untuk kegiatan praktikum limnologi selanjutnya yaitu diharapkan media untuk mahasiswa yang mengikuti kegiatan praktikum secara luring lebih ditingkatkan lagi terutama pada koneksi internet yang sebelumnya kurang stabil sehingga mahasiswa dapat melihat lebih jelas kegiatan selama praktikum berlangsung dengan baik.

(22)

16

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengolahan Sumberdaya Hayati Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius.

Hayati, M. (2016). Perbandingn Kadar Oksigen Terlarut Antara Air PDAM dengan Air Sumur. Surabaya. Vol 2(2) : 8-15.

Megawati, C. (2014). Sebaran Kualitas Perairan Ditinjau Dari Zat Hara, Oksigen Terlarut dan pH Perairan Selat Bali Bagian Selatan.

JURNAL OSEANOGRAFI. Vol 3(2) : 142-150.

Nybakken JW. 1992. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologi. PT.

Gramedia. Jakarta.

Puspitasari, A. (2017). PENGARUH PASANG DAN SURUT AIR LAUT TERHADAP KADAR ZAT ORGANIK DAN OKSIGEN TERLARUT PADA AIR SUMUR DI KELURAHAN TANJUNG MAS

SEMARANG. Sarjana / Sarjana Terapan (S1/D4), Universitas Muhammadiyah Semarang.

Putranto. 2009. Kesehatan Lingkungan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Indonesia, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Jakarta

Salmin. (2000). Kadar Oksigen Terlarut di Perairan Sungai Dadap, Goba, Muara Karang dan Teluk Banten. Dalam : Foraminifera Sebagai Bioindikator Pencemaran, Hasil Studi di Perairan Estuarin Sungai Dadap, Tangerang. P3O - LIPI hal 42 - 46.

(23)

17

Salmin. (2005). Oksigen Terlarut (DO) dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) sebagai Salah Satu Indikator untuk Menentukan Kualitas Perairan. Vol XXX 3 : 21-25.

Sugianti, Y. (2018). Respon Oksigen Terlarut Terhadap Pencemaran dan Pengaruhnya Terhadap Keberadaan Sumber Daya Ikan di Sungai Citarum. Jurnal Teknologi Lingkungan. Vol 19(2) : 203-212.

(24)

18

LAMPIRAN

(25)

19

Lampiran 1. Alat Praktikum

Gelas Erlenmeyer Pipet Tetes

Gelas Winkler Thermistor

Gelas Ukur Buret

(26)

Lampiran 2. Bahan Praktikum

Sampel air Larutan Indikator Amylum 1%

Larutan MnSO₄ 50% Larutan Pereaksi O₂

larutan thiosulfat Larutan H2SO4 pekat

Lampiran 3. Kegiatan Praktikum

Pengambilan Sampel Air Pengukuran suhu air dengan Thermistor

(27)

21

Penambahan 1ml Larutan MnSO₄ 50% dan O₂ regent

Penambahan 2ml Larutan H2SO4 pekat

Pemindahan 50 ml sampel ke dalam gelas Erlenmeyer

Penambahan Amylum 1%

Titrasi dengan larutan thiosulfat

(28)

Lampiran 4. Perhitungan

Referensi

Dokumen terkait

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FKIP) Universitas Padjadjaran (Un- pad) Bachrulhajat Koswara mengungkapkan, masih ba- nyak persoalan yang menun- tut R.e~!ian ~n riset

Duapuluh tiga, bulan November, tahun Duaribu tigabelas, Panitia Tender Pengadaan Peralatan Laboratorium Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK DAN BIOKIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU

dilanjutkan dengan analisis laboratorium. Pengamatan dan pengambilan sampel tanah di lakukan pada lokasi yang telah ditentukan berdasarkan peta kerja. Sampel tanah

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN.. FAKULTAS PERIKANAN DAN

Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Kampus Tembalang, Semarang 50275 Telp/Fax. Sampel sedimen yang diperoleh kemudian

Toko Sepia merupakan laboratorium Agribisnis Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas yang merupakan pusat pemasaran produk olahan dan hasil-hasil perikanan

Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Kampus Tembalang, Semarang 50275 Telp/Fax. Sampel sedimen yang diperoleh kemudian