• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum Pembuatan Sabun Cair Ecoenzyme untuk Ramah Lingkungan

N/A
N/A
hello.sabilla

Academic year: 2025

Membagikan "Laporan Praktikum Pembuatan Sabun Cair Ecoenzyme untuk Ramah Lingkungan"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

PRAKTIKUM LIQUID SOAP ECOENZYME

Untuk memenuhi ujian akhir semester mata kuliah sains terapan dan bioteknologi

Dosen pengampu : Faudina Permatasari, M.Pd.

Penulis :

Sabilla Rohmah (22184206008)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA FAKULTAS SOSIAL DAN HUMANIORA UNIVERSITAS BHINNEKA PGRI TULUNGAGUNG

2025

(2)

A. Latar Belakang

Permasalahan pencemaran lingkungan, terutama yang disebabkan oleh limbah rumah tangga dan penggunaan produk berbahan kimia sintetis, semakin mengkhawatirkan.

Salah satu sumber pencemar yang sering diabaikan adalah limbah deterjen dan sabun berbahan dasar kimia yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Zat-zat kimia yang terkandung dalam produk pembersih ini dapat mencemari air, tanah, dan berdampak buruk bagi organisme hidup.

Sebagai solusi alternatif, berkembang berbagai inovasi ramah lingkungan, salah satunya adalah ecoenzyme. Ecoenzyme merupakan hasil fermentasi limbah organik, seperti sisa buah dan sayur, dengan tambahan gula dan air. Cairan ini mengandung berbagai enzim dan mikroorganisme yang bermanfaat, serta bersifat biodegradable, sehingga lebih aman bagi lingkungan. Ecoenzyme memiliki banyak fungsi, termasuk sebagai pembersih alami, pengusir hama, hingga bahan dasar sabun cair.

Pembuatan sabun cair berbahan dasar ecoenzyme (ecoenzyme liquid soap) menjadi salah satu upaya pemanfaatan limbah organik rumah tangga untuk menghasilkan produk yang bermanfaat dan berwawasan lingkungan. Praktikum ini tidak hanya melatih keterampilan peserta dalam membuat produk ramah lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya daur ulang dan pengurangan limbah.

Melalui praktikum ini, peserta diharapkan dapat memahami proses fermentasi limbah organik menjadi ecoenzyme, serta mengaplikasikannya dalam pembuatan sabun cair yang aman, ekonomis, dan berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan ini juga mendukung pendidikan lingkungan hidup dan penerapan prinsip-prinsip sains dalam kehidupan sehari-hari.

B. Rumusan Masalah

Dari praktikum yang sudah dilakukan dapat merumuskan beberapa masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana proses pembuatan sabun cair (liquid soap) berbahan dasar ecoenzyme?

2. Apa saja bahan dan alat yang diperlukan dalam pembuatan ecoenzyme liquid soap?

3. Bagaimana pengaruh penggunaan ecoenzyme terhadap sifat fisik sabun cair yang dihasilkan (seperti warna, aroma, dan busa)?

(3)

4. Apa keunggulan dan kelemahan sabun cair berbahan dasar ecoenzyme dibandingkan sabun cair berbahan kimia sintetis?

C. Tujuan penulisan

1. Untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan sabun cair (liquid soap) berbahan dasar ecoenzyme.

2. Untuk mengetahui Apa saja bahan dan alat yang diperlukan dalam pembuatan ecoenzyme liquid soap.

3. Untuk mengetahui Bagaimana pengaruh penggunaan ecoenzyme terhadap sifat fisik sabun cair yang dihasilkan (seperti warna, aroma, dan busa.

4. Untuk mengetahui apa keunggulan dan kelemahan sabun cair berbahan dasar ecoenzyme dibandingkan sabun cair berbahan kimia sintetis.

D. Kajian Pustaka

a. Konsep Ecoenzyme

Ecoenzyme adalah cairan hasil fermentasi dari limbah organik seperti kulit buah dan sayur dengan penambahan gula (baik gula merah, gula pasir, atau molase) dan air dalam perbandingan tertentu, biasanya 3:1:10 (limbah organik : gula : air). Menurut Rosyidah (2019), selama proses fermentasi selama ±3 bulan, mikroorganisme memecah bahan organik menghasilkan enzim, asam asetat, dan alkohol, yang memiliki berbagai manfaat.

Cairan ecoenzyme dikenal memiliki kandungan asam organik dan enzim proteolitik yang dapat memecah protein dan lemak. Oleh karena itu, cairan ini sering dimanfaatkan sebagai pembersih serbaguna, penghilang bau, pupuk cair, bahkan pestisida alami. Kelebihan lainnya adalah sifatnya yang ramah lingkungan dan mudah terurai di alam, menjadikannya alternatif bagi produk-produk berbasis kimia sintetis.

b. Sabun Cair (Liquid Soap)

Sabun cair merupakan produk pembersih yang dibuat melalui proses saponifikasi, yaitu reaksi antara asam lemak (biasanya dari minyak nabati seperti minyak kelapa atau minyak zaitun) dan basa kuat seperti kalium hidroksida (KOH). Hasil dari reaksi ini adalah sabun dan gliserol, dengan sabun bertindak sebagai surfaktan yang mampu mengangkat kotoran dan minyak dari permukaan.

Menurut Fauziah (2020), sabun cair memiliki keunggulan dibandingkan sabun batang, terutama dari segi kebersihan dan kemudahan penggunaan. Di dalam sabun cair, dapat

(4)

ditambahkan bahan aktif tambahan seperti pewangi, pelembap, atau bahan antibakteri alami. Salah satu bahan tambahan yang potensial dan ramah lingkungan adalah ecoenzyme.

c. Pemanfaatan Ecoenzyme dalam Pembuatan Sabun Cair

Penambahan ecoenzyme dalam sabun cair bertujuan untuk memanfaatkan sifat enzimatik dan antimikroba dari cairan fermentasi tersebut. Menurut Wulandari et al.

(2021), ecoenzyme mampu meningkatkan efektivitas sabun dalam membersihkan noda serta memiliki efek antibakteri terhadap bakteri seperti Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.

Selain sebagai agen pembersih, ecoenzyme juga berfungsi sebagai bahan pewangi alami yang berasal dari buah-buahan yang digunakan dalam fermentasi. Hal ini mengurangi ketergantungan terhadap pewangi sintetis yang dapat menyebabkan iritasi kulit. Penggunaan ecoenzyme dalam sabun cair tidak hanya memberikan manfaat praktis, tetapi juga mendukung prinsip daur ulang dan pengelolaan limbah organik rumah tangga.

d. Praktikum Pembuatan Sabun Sebagai Sarana Edukasi Lingkungan

Praktikum adalah metode pembelajaran berbasis pengalaman langsung (experiential learning) yang sangat efektif dalam pendidikan IPA. Melalui praktikum, peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengembangkan keterampilan ilmiah seperti observasi, pengukuran, prediksi, dan evaluasi. Menurut Trianto (2010), praktikum juga dapat menumbuhkan sikap ilmiah dan kepedulian terhadap lingkungan.

Praktikum pembuatan ecoenzyme liquid soap merupakan kegiatan yang tidak hanya mengajarkan konsep kimia dan biologi, tetapi juga memberikan wawasan mengenai pengelolaan limbah, pentingnya produk ramah lingkungan, dan inovasi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, peserta didik dapat diajak untuk berpikir kritis, kreatif, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

E. Metode Penelitian

a) Waktu Dan Tempat

Hari/Tanggal : Senin, 19 Mei 2025 Pukul : 08.00 WIB s/d Selesai

Tempat : Lab Pondok Pesantren Raudlatul Musthofa

(5)

b) Alat dan bahan

Alat yang digunakan yaitu:

1. Wadah besar (ember plastic ukuran 10-20lt) - 1 buah 2. Panci atau ketel (kapasitas 2-3lt) – 1 buah

3. Sendok pengaduk/spatula Panjang (plastic/kayu) – 1 buah 4. Gelas ukur 250ml – 1 buah

5. Timbangan digital/manual – 1 buah 6. Corong plastic ukuran sedang – 1 buah

7. Botol/jerigen penyimpanan (kapasitas 1-5lt, sesuai kebutuhan) 8. Saringan kain halus atau plastic (opsional) – 1 buah

9. Sarung tangan plastic (opsional) – 1 pasang 10. Masker (opsional) – 1 buah

Bahan yang digunakan yaitu:

1. MES (sodium methyl ester sulfonate) 200gr 2. Garam dapur (NaCl) 150gr

3. Foam booster (LAS atau amphitol) 50ml 4. Parfum (aroma ocean dan lainnya) 50ml 5. Acoenzyme 1lt

6. Air panas 1,5lt 7. Air dingin 2lt

8. EDTA (opsional) kurang lebih 1gr (sepucuk sendok the) c) Prosedur kerja

1. Siapkan MES 200gr 2. Panaskan 1,5lt air

3. Larutkan MES 200gr dalam air panas diwadah yang berbeda 4. Aduk hingga merata

5. Siapkan foam booster 50ml

6. Masukka foam booster, lalu aduk hingga mengental 7. Pastikan hingga suhu ruang menggunakan thermometer 8. Tambahkan 2lt air dingin dan aduk hingga merata

9. Haluskan 100gr garam (NaCl) dan larutkan dengan air panas

(6)

10. Campurkan kedalam larutan MES dan aduk hingga mengental 11. Saring cairan ecoenzyme dan siapkan 1lt acoenzyme

12. Masukkan 1lt ecoenzyme lalu aduk dan diamkan selama 1-2 jam 13. Sisihkan sedikit untuk uji PH liquid soap

14. Tambahkan parfum (opsional) 15. Simpan dalam botol

F. Hasil pengamatan

Pada tahap awal sebelum penambahan parfum, sabun cair yang dihasilkan memiliki warna coklat kekuningan. Warna ini berasal dari cairan ecoenzyme yang digunakan, karena umumnya ecoenzyme dari limbah buah atau sayur akan menghasilkan warna alami dari proses fermentasi tersebut. Warna ini tidak mengalami perubahan yang berarti setelah parfum ditambahkan, karena parfum yang digunakan tidak memiliki pigmen atau pewarna yang dominan, sehingga tidak memengaruhi tampilan fisik sabun secara visual.

Dari segi aroma, sabun cair sebelum ditambahkan parfum memiliki bau yang cukup menyengat. Aroma ini merupakan ciri khas dari ecoenzyme hasil fermentasi organik, yang terkadang memiliki bau asam atau fermentasi yang kuat. Bagi sebagian orang, aroma ini mungkin terasa kurang nyaman untuk digunakan sebagai sabun pembersih, karena tidak mencerminkan wangi sabun pada umumnya. Namun setelah penambahan parfum, terjadi perubahan yang signifikan pada karakteristik aromanya. Sabun menjadi lebih harum dan menyenangkan, sehingga meningkatkan daya tarik produk secara keseluruhan. Parfum yang ditambahkan mampu menutupi bau menyengat dari ecoenzyme tanpa mengganggu stabilitas fisik larutan sabun.

Namun, perubahan paling mencolok terjadi pada busa yang dihasilkan. Sebelum parfum ditambahkan, sabun cair menunjukkan produksi busa yang banyak dan stabil. Hal ini menunjukkan bahwa kombinasi MES sebagai surfaktan utama, ditambah foam booster, bekerja secara efektif dalam menghasilkan busa. Akan tetapi, setelah parfum ditambahkan, jumlah busa yang dihasilkan justru menurun. Busa menjadi lebih sedikit dan cenderung cepat menghilang. Penurunan ini kemungkinan disebabkan oleh reaksi antara komponen parfum dengan surfaktan dalam larutan sabun. Beberapa jenis parfum diketahui memiliki sifat antifoaming, atau mengganggu kestabilan busa yang dihasilkan oleh surfaktan.

(7)

Meskipun demikian, secara fisik sabun masih tetap stabil dan tidak mengalami pemisahan fase antara air dan bahan aktif.

Dari segi kekentalan, sabun cair sebelum dan sesudah penambahan parfum tidak menunjukkan perubahan signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa parfum yang ditambahkan tidak memengaruhi viskositas atau ketebalan sabun cair secara umum.

Kekentalan yang dihasilkan sudah sesuai dengan standar sabun cair pada umumnya, yaitu tidak terlalu encer namun juga tidak terlalu kental.

Secara keseluruhan, sabun cair ecoenzyme yang dibuat melalui proses ini berhasil menunjukkan karakteristik fisik yang baik, dengan beberapa perubahan setelah penambahan parfum. Aroma menjadi lebih sedap dan dapat diterima pengguna, namun terjadi kompromi pada jumlah busa yang dihasilkan. Perubahan ini menjadi perhatian penting dalam formulasi akhir produk, karena meskipun busa bukan satu-satunya indikator efektivitas sabun, namun persepsi pengguna terhadap busa sering kali menjadi penentu kualitas sabun dalam praktik sehari-hari.

Parameter Sebelum penambahan parfum Setelah penambahan parfum Warna Coklat kekuningan (sesuai

warna ecoenzyme)

Tidak berubah signifikan Aroma Menyengat khas bau fermantasi

ecoenzyme

Aroma wangi, segar, dan lebih diterima

Busa Banyak dan stabil Berkurang, busa menjadi sedikit dan cepat hilang

Kekentalan Sedang Tidak mengalami perubahan signifikan

Stabilitas sabun

Cukup stabil, tidak terpisah Stabil

G. Pembahasan

Pembuatan sabun cair (liquid soap) berbahan dasar ecoenzyme merupakan salah satu bentuk inovasi dalam pengembangan produk pembersih yang ramah lingkungan.

Ecoenzyme sendiri adalah hasil fermentasi dari limbah organik, air, dan gula yang

(8)

menghasilkan cairan mengandung enzim, asam organik, dan senyawa bioaktif lainnya.

Komposisi ini menjadikan ecoenzyme potensial digunakan sebagai bahan tambahan dalam sabun cair, karena memiliki sifat antimikroba dan daya pembersih alami.

Dalam praktikum ini, sabun cair dibuat dengan mencampurkan beberapa bahan kimia dan alami, yaitu surfaktan MES (Methyl Ester Sulfonate), NaCl sebagai pengental, foam booster untuk memperkaya busa, EDTA sebagai pengikat logam berat, serta ecoenzyme, air panas dan dingin, dan parfum sebagai bahan pewangi. Komposisi ini bertujuan untuk menghasilkan sabun cair yang efektif sebagai pembersih, sekaligus aman dan lebih ramah lingkungan dibanding sabun berbahan dasar kimia sintetis sepenuhnya.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebelum penambahan parfum, sabun cair memiliki aroma khas ecoenzyme yang cukup menyengat, serta menghasilkan busa yang banyak dan stabil. Hal ini menunjukkan bahwa surfaktan dan foam booster bekerja secara optimal dalam membentuk busa. Aroma menyengat tersebut berasal dari proses fermentasi organik pada ecoenzyme, yang biasanya mengandung asam asetat atau senyawa volatil lainnya.

Setelah parfum ditambahkan, terjadi perubahan karakteristik produk. Aroma sabun menjadi lebih harum dan sedap, sehingga meningkatkan kenyamanan dan daya tarik bagi pengguna. Namun, penambahan parfum juga disertai dengan penurunan jumlah busa. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh reaksi antara komponen dalam parfum dengan molekul surfaktan, yang dapat menurunkan tegangan permukaan air dan mengganggu stabilitas busa. Meskipun busa menurun, fungsi pembersih sabun diperkirakan tetap bekerja dengan baik, karena busa bukan satu-satunya indikator efektivitas sabun.

Dari segi fisik, sabun cair yang dihasilkan memiliki warna yang khas dari ecoenzyme, yaitu coklat kekuningan, dan tidak mengalami perubahan signifikan setelah penambahan parfum. Kekentalan sabun juga stabil, menunjukkan bahwa sabun memiliki daya rekat dan viskositas yang sesuai untuk penggunaan sehari-hari.

Praktikum ini menunjukkan bahwa ecoenzyme dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam sabun cair, memberikan manfaat tambahan dari sisi ekologi dan kesehatan. Selain itu, kegiatan ini juga mengajarkan pentingnya pemanfaatan limbah organik rumah tangga dalam menghasilkan produk yang bermanfaat, serta menjadi bagian dari pendidikan lingkungan yang aplikatif.

(9)

H. Kesimpulan

Praktikum pembuatan sabun cair berbahan dasar ecoenzyme menunjukkan bahwa ecoenzyme dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan alami yang ramah lingkungan dalam formulasi sabun cair. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sabun sebelum penambahan parfum memiliki busa yang banyak dan stabil, namun beraroma menyengat khas fermentasi ecoenzyme. Setelah parfum ditambahkan, aroma menjadi lebih wangi dan menyenangkan, meskipun terjadi penurunan jumlah busa.

Komposisi bahan seperti MES sebagai surfaktan, NaCl sebagai pengental, foam booster, dan EDTA bekerja secara sinergis untuk menghasilkan sabun cair dengan viskositas yang sesuai dan stabil secara fisik. Penambahan ecoenzyme memberikan nilai tambah berupa fungsi pembersih alami dan potensi antimikroba, sekaligus mendukung prinsip daur ulang dan pengurangan limbah organik rumah tangga.

Dengan demikian, sabun cair berbahan dasar ecoenzyme dapat menjadi alternatif produk pembersih yang lebih ramah lingkungan dan dapat digunakan sebagai media pembelajaran kontekstual dalam pendidikan IPA.

I. Saran

Berdasarkan hasil praktikum dan pengamatan yang telah dilakukan, disarankan agar ke depan dilakukan pengujian lebih lanjut terhadap efektivitas sabun cair berbahan dasar ecoenzyme, khususnya dalam membersihkan berbagai jenis kotoran dan membunuh mikroorganisme. Hal ini penting untuk memastikan bahwa sabun tidak hanya aman digunakan, tetapi juga efektif secara fungsional. Selain itu, penggunaan parfum dalam formulasi sebaiknya disesuaikan dengan komposisi yang tepat agar dapat menutupi aroma menyengat dari ecoenzyme tanpa mengurangi jumlah busa secara signifikan. Pemilihan jenis parfum yang tidak memiliki efek antifoaming dapat menjadi salah satu solusi yang tepat. Dalam pengembangan lebih lanjut, uji kestabilan produk terhadap penyimpanan jangka panjang juga perlu dilakukan guna mengetahui apakah sabun tetap stabil dan tidak mengalami pemisahan fasa selama disimpan. Praktikum ini sangat baik jika diterapkan secara berkelanjutan dalam konteks pendidikan, terutama dalam pembelajaran berbasis proyek, karena tidak hanya memberikan pengalaman praktis kepada siswa, tetapi juga

(10)

menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya pengolahan limbah dan inovasi produk ramah lingkungan. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong terciptanya generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan melalui pendekatan ilmiah yang sederhana namun aplikatif.

J. Daftar Pustaka

Piyanti, N., & Sari, D. (2023). Eco-Enzyme dari Fermentasi Sampah Organik (Sampah Kulit Buah Jeruk Manis dan Rimpang). Jurnal Kireka, Universitas Setia Budi Surakarta.

Dewi, L. M., & Setyawan, A. (2023). Karakteristik Sabun Cair Antiseptik Berbahan Eko-Enzim. Proceeding Biology Education Conference, 20(1), 7–11.

Arfina, A. (2022). Pengaruh Penambahan Eco Enzyme terhadap Kualitas Sabun Cuci Piring Cair. Politeknik Negeri Tanah Laut.

Wathoni, M., Susanto, A., & Syahban, A. K. D. P. (2020). Pelatihan Pembuatan Sabun Ecoenzyme Berbahan Limbah Organik Rumah Tangga. Jurnal Nuansa Akademik, 7(1), 22–29.

Jadid, A., et al. (2023). Pembuatan Sabun Cair Antiseptik Berbahan Eko-Enzim.

Prosiding Seminar Nasional Biologi, 20(1), 7–11.

Setya, B., Verollino, M. F., Hanifah, N., Dwiyanti, E., & Putri, N. M. (2025). Peran Mahasiswa dalam Pendidikan Lingkungan: Pembuatan Sabun Cair Eco Enzyme dalam Meningkatkan Kesadaran Ekologis bagi Siswa SMA. Jurnal Pengabdian Masyarakat Waradin, 5(2), 89–97.

Sihite, I. F. (2021). Eco Enzyme dengan Kulit Buah dan Sayuran Beserta Manfaatnya untuk Kehidupan Manusia. Jurnal IKRA-ITH Teknologi, 5(1), 34–40.

Sulaeman, A., et al. (2020). Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Tangan Anti Bakteri Berbahan Dasar Eco Enzyme. Jurnal PS2PM, 3(1), 15–22.

Rasyid, M. (2022). Sabun Cair Eco Enzyme. Scribd.

Fauziah, N. (2020). Pembuatan Sabun Cair dari Minyak Jelantah dengan Penambahan Eco Enzyme. Jurnal Teknologi Kimia, 14(2), 45–52.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil minyak goreng bekas yang telah dimurnikan pada percobaan ini memilki kadar asam lemak bebas (FFA) 1,5613 % keseluruhannya dapat digunakan sebagai bahan pembuatan sabun

Limbah hasil sisa panen ini sebenarnya masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembuatan Pupuk Cair Organik (PCO) yang bisa digunakan sebagai pupuk cair

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK .

Pelatihan pembuatan pupuk organik cair dengan menggunakan bioaktivator dari limbah sayur merupakan salah satu solusi untuk mengatasi limbah sayur dan limbah keju (whey) yang selama

“ Pembuatan Sabun Cair Menggunakan Alkali Dari Kulit Coklat ( Theobroma cacao L. ) dengan Minyak Kelapa ” berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan di Departemen

Praktikum kimia yang tidak dapat diganti dengan menggunakan bahan kimia ramah lingkungan dapat ditanggulangi dengan menggunakan teknik micro scale, artinya pelaksanaan

Menentukan alat dan bahan yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kit praktikum kimia berwawasan lingkungan untuk menunjang laboratorium kimia ramah lingkungan.. a.Alat dan

Uji Stabilitas Busa Sabun Cair Ekoenzim KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengujian organoleptik, pH, viskositas, bobot jenis dan stabilitas busa, sediaan sabun cair cuci tangan berbasis