• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum Tata Hutan kelompok 4

N/A
N/A
Rizqi Ramadhan

Academic year: 2025

Membagikan "Laporan Praktikum Tata Hutan kelompok 4"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM TATA HUTAN DI BKPH PARUNG PANJANG KPH BOGOR

Disusun oleh :

1 Maura Aurelia 41205425121023

2 Muhamad Rizqi Ramadhan 41205425121021

3 Muhammad Fachmi Husen Siknun 41205425121020

4 Inggit Putri Wijayani 41205425121017

FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS NUSA BANGSA

TAHUN 2024

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. karena berkat rahmat dan karunia-Nyalah, penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum yang berjudul “Laporan Praktikum Tata Hutan di BKPH Parungpanjang KPH Bogor”

Pelaksanaan praktikum tak lepas dari bantuan dan dukungan beberapa pihak, untuk itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dosen dan rekan sejawat. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih terdapat kekurangan dalam penulisannya karena terbatasnya kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Akhir kata penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat umumnya bagi penulis dan pembaca, khususnya bagi mahasiswa Universitas Nusa Bangsa.

Bogor, Juni 2024

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...2

DAFTAR ISI ...3

DAFTAR TABEL ...5

DAFTAR GAMBAR ...6

DAFTAR LAMPIRAN ...7

I. PENDAHULUAN ...8

1.1 Latar Belakang ...8

1.2 Tujuan Praktikum ...8

1.3 Manfaat Praktikum ...8

1.4 Alat dan Bahan ...8

II. TINJAUAN PUSTAKA ...9

2.1 Pengenalan Kelas Hutan ...9

2.2 Pengenalan Petak, Anak Petak dan Alur ...9

2.3 Pengenalan Pal Batas ...10

A. Pal batas kawasan hutan ...11

B. Pal batas enclave ...11

C. Pal batas tanah perusahaan ...12

D. Pal batas Lapangan ...12

E. Pal Hm ...12

III. HASIL PRAKTIKUM ...14

3.1 Pal Batas ...14

A. Pal B ...15

B. Pal Enclave (Pal E) ...15

C. Pal DK (Djawatan Kehutanan) ...15

D. Pal LDTI (Lapangan Dengan Tujuan Istimewa) ...15

E. Pal batas antar KPH ...16

1. Pal batas enclave (E) ...16

2. Pal B (B) ...16

3. Pal alur (A)...17

IV. KESIMPULAN DAN SARAN ...19

(4)

4.1 Kesimpulan ...19 4.2 Saran ...19 DAFTAR PUSTAKA ...20

(5)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Alat dan Bahan ...8

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Pal Batas Kawasan ...11

Gambar 2. Pal Batas Enclave ...11

Gambar 3. Contoh Pal Batas Tidak Terurus ...13

Gambar 4. Contoh Pal Batas Terurus ...13

Gambar 5. pal batas enclave ...16

Gambar 6. pal batas ...17

Gambar 7. Pal alur ...17

Gambar 7. sebelah kanan pal alur ...18

Gambar 8. Sebelah kiri pal alur ...18

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Tabel tallysheet praktikum tata hutan ... 21 Lampiran 2 Kegitan Lapangan praktikum tata hutan ... 22

(8)

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus yang selanjutnya disingkat KHDTK adalah kawasan hutan yang secara khusus diperuntukkan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan kehutanan, pendidikan dan pelatihan kehutanan serta religi dan budaya (Permenlhk No. P.15 Tahun 2018). Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.169/Menlhk/Setjen/PLA.0/2019, ditetapkan KHDTK Parungpanjang pada kawasan hutan produksi di Kecamatan Parungpanjang sebagai hutan penelitian dan pengembangan kehutanan. Ditunjuk sebagai pengelola adalah Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan (BP2TPTH). Areal KHDTK Parungpanjang semula merupakan wilayah kerja Perum Perhutani yang dipinjam pakai mengacu pada perjanjian kerjasama antara Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten dengan BP2TPTH untuk tujuan penelitian dan pengembangan kehutanan.

KHDTK Parungpanjang disamping sebagai sarana penelitian juga berfungsi sebagai tempat konservasi plasma nutfah terutama untuk jenis-jenis yang mendukung hutan rakyat, jenis-jenis eksotis, jenis andalan baik nasional maupun lokal serta tempat pelatihan dan obyek wisata ilmiah.

1.2 Tujuan Praktikum

Praktik Tata Hutan ini bertujuan untuk mengetahui kelas hutan, petak, anak petak dan alur serta berbagai bentuk pal batas di BKPH Parung Panjang.

1.3 Manfaat Praktikum

Manfaat yang diharapkan dari praktik ini adalah bisa menambah wawasan pengetahuan terkait dengan penggolongan kawasan hutan, petak/anak petak/alur serta pal batas yang ada di kawasan hutan.

1.4 Alat dan Bahan

Tabel 1. Alat dan Bahan

No Alat Kegunaan

1. Tallyshet Mencatat data dilapangan

2. Kamera Memfoto objek dilapangan

3. GPS Untuk mengetahui titik koordinat

(9)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengenalan Kelas Hutan

Kelas hutan adalah penggolongan kawasan hutan ke dalam kelas- kelas berdasarkan aspek dan tujuan tertentu. Aspek yang digunakan dalam pembagian kelas hutan yaitu kondisi fisik kawasan, kesesuaian lahan, lingkungan, dan vegetasi. Tujuan penggolongan kawasan hutan kedalam kelas-kelas adalah untuk menentukan tindakan silvikultur yang perlu dilakukan pada tiap kelas hutan. Dalam pengaturan kelestarian hutan memerlukan pemisahan hutan kedalam kelas hutan berdasarkan tujuan pengusahaannya. Kelas hutan di BKPH Parungpanjang KPH Bogor adalah kelas hutan jati.

2.2 Pengenalan Petak, Anak Petak dan Alur

Petak adalah wilayah kerja Resort Pemangkuan Hutan (RPH) yang dibuat untuk mempermudah kegiatan pengawasan lokasi, identifikasi lokasi yang terdiri dari anak petak dan alur. Anak petak pada umumnya menggunakan batas alam seperti sungai. Setiap petak dibatasi oleh alur yang terdiri dari alur induk dan anak alur. Alur induk memiliki lebar 5 (lima) meter yang berfungsi sebagai jalan pemeriksa dan jalan angkutan, sedangkan anak alur memiliki lebar 3 (tiga) meter tanpa pengeras jalan.

Alur-alur induk diberi tanda abjad seperti A, B, C, D dan seterusnya, sedangkan anak alur diberi tanda huruf abjad besar dan posisinya dibelakang huruf abjad alur induk, yaitu sebelah kiri di setiap alur yang dipancangkan pada pal-pal hektometer (Hm) dengan jarak 200 m dengan ketentuan apabila kondisi lapangan khusus atau jurang.

Pembagian atau pemisahan anak petak prinsipnya mengikuti bentuk lapangan dan idealnya batas alam. Kawasan yang tidak bisa dijadikan anak petak (untuk jati < 4 Ha dan rimba < 10 Ha) dipisahkan sebagai RANAP (memuat luas, jenis/tahun tanam, N/tahun tanam, N/Ha dan KBd). Penandaan batas anak petak (markir) yaitu sebagai berikut:

 Pada pohon ke pohon dengan jarak terlihat mata.

(10)

 Pada pohon pertama dan terakhir (di tepi alur/batas hutan), markiran diberi leter nomor petak dan huruf anak petak (AP).

 Pada setiap persimpangan garis PAP, markiran diberi leter huruf AP.

 Pada garis PAP berupa tegakan tua dan muda (berbeda kontas) jarak gelangan markir idealnya 25 meter atau kurang (jika ada belokan/terhalang bukit).

 Pada garis PAP berupa sungai atau jalan, markir hanya diawal dan diakhir.

 Jika tidak ada pohon, markiran dapat dibuat pada pohon terdekat dengan diberi verkliker ke batas AP yang sebenarnya atau pada patok kayu/batu.

Perbedaan jenis tegakan berdasarkan tegakan kelas umur (sesuai dengan kelas perusahaan) dan tanaman jenis kayu lain (4-10 ha) dan tanaman jenis kayu lain (minimal 1 Ha). Pada bentuk memanjang, diisyaratkan lebar minimal 100 m.

2.3 Pengenalan Pal Batas

Pal tanda batas hutan merupakan tanda batas kawasan hutan atau lahan yang dimiliki oleh Perum Perhutani. Dasar pembuatan pal batas diPerum Perhutani didasari oleh SK Direksi Perum Perhutani No.353/KPTS/Dir/85 tanggal 22 Mei 1985 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembuatan dan Penggunaan Pal Batas Hutan. Pemasangan pal batas dilakukan untuk memudahkan pengelolaan dan pengawasan di lapangan. Pal batas yang terdapat di Perum Perhutani pada umumnya memiliki dua macam, yaitu kapsul dengan tinggi 130 cm dan kerucut pada bagian ujung dengan tinggi 90 cm. Bentuk pal yang terdapat di BKPH Parungpanjang berbentuk seperti kapsul. Bagian tas diberi cat putih dan diberi tulisan B sebagai tanda batas serta terbuat dari bahan dasar beton atau batu. Pemasangan disesuaikan dengan keadaan lokasi yang berada di sepanjang alur. Berat pal B kurang lebih 30 kg. Jenis dan ukuran pal batas yang

(11)

ada di BKPH Parungpanjang tersaji pada Gambar1.

Pal batas yang terdapat di BKPH Parungpanjang terdiri dari:

A. Pal batas kawasan hutan

terdiri dari pal batas luar kawasan (pal B) dan

Gambar 1. Pal Batas Kawasan

B. Pal batas enclave

pal E (Gambar 2). Pal-pal tersebut berfungsi untuk memberi tanda batas tanah miliki Perum Perhutani dengan milik penduduk yang ada di tengah hutan.

Gambar 2. Pal Batas Enclave

(12)

C. Pal batas tanah perusahaan

(pal DK) yang berfungsi sebagai tanda rumah dinas, kantor dan sebagainya yang menunjukkan bahwa tanah tersebut miliki Perum Perhutani.

D. Pal batas Lapangan

Dengan Tujuan Istimewa (LDTI). Kategori pal batas yang termasuk LDTI antara lain:

1) Pal kuburan (KB) 2) Pal mata air (MA) 3) Pal cagar alam (CA) 4) Pal wana wisata (WW) 5) Pal tambang (TB) 6) Pal waduk (WD)

7) Pal petak yang diberi simbol P dan berfungsi sebagai batas antara petak satu dengan petak yang lainnya. Pal ini terletak di ujung alur serta di persimpangan alur untuk identitas nomor petak di lapangan.

E. Pal Hm

dipasang di sebelah kiri dan kanan jalan angkutan berfungsi untuk memberikan informasi jarak yang telah ditempuh oleh angkutan kayu.

Pal ini dipasang di sepanjang jalan dan jarak antar pal adalah 200 meter.

Pal-pal tersebut harus di tanam pada tempat- tempat yang kuat, tidak mudah longsor dan tidak mengganggu lalu lintas.

Pal-pal batas yang berada di BKPH Parungpanjang biasanya akan di cek kondisinya setiap 3 (tiga) bulan sekali. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa kondisi pal batas yang berada di lapangan.

Pemeriksaan pal batas dilaksanakan oleh Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH), kemudian bersama-sama dengan Asper/Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (KBKPH) untuk selanjutnya dilaporkan ke KPH.

(13)

Pemeriksaan ini dilakukan sebagai dasar penataan kawasan hutan.

Pal batas yang ditemukan dalam kondisi baik/hilang/rusak/pudar/dll (Gambar 3 dan 4) akan diberikan tanda pada pohon terdekat dengan menggunakan cat hitam disertai nomor pal tersebut.

Gambar 3. Contoh Pal Batas Tidak Terurus

Gambar 4. Contoh Pal Batas Terurus

(14)

III. HASIL PRAKTIKUM

Pal batas adalah suatu tanda batas tetap dengan ukuran tertentu yang terbuat dari bahan beton dengan rangka besi atau dari kayu yang dipasang sepanjang trayek batas untuk menyatakan batas fisik di lapangan dengan koordinat tertentu.

Pemasangan tanda batas diutamakan pada trayek batas kawasan hutan yang rawan perambahan dan areal yang berbatasan langsung dengan hak-hak pihak ketiga.

Pemasangan tanda batas sebagaimana dilakukan pada bagian kawasan hutan yang 1. Berbatasan langsung dengan permukiman

2. Berbatasan langsung dengan hak atas tanah pihak ketiga 3. Berbatasan langsung dengan areal izin kegiatan/usaha

4. Berbatasan langsung dengan jalan atau berpotongan dengan jalan 5. Enclave dalam kawasan hutan.

3.1 Pal Batas

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 339/Kpts-II/1990, pal batas dibuat dari bahan beton bertulang atau dari kayu kelas awet I/II dan bila pal batas tidak dapat dibuat dari tahan tersebut maka dapat digunakan tanda batas lainnya sesuai dengan keadaan lapang. Pada Perhutani, pal dibuat dari bahan beton berkerangka atau dari batu andesit, sesuai dengan Surat Keputusan Direksi Perum Perhutani Nomor 353/Kpts/DIR/1985. Pal beton digunakan pada kawasan hutan yang rawan atau sulit mendapat bahan pembuatan pal batu, sedangkan pal batu digunakan pada kawasan hutan yang tidak rawan dan mudah mendapatkan batu. Dengan perkembangan saat ini, pal kayu dan tanda batas gundukan tanah yang berbentuk kerucut terpancung tidak digunakan lagi. Pal batas digunakan untuk membatasi wilayah dengan bermacam-macam tujuan dengan ukuran-ukuran tertentu. Pada Perum Perhutani terdapat beberapa macam pal (SK. Direksi Perum Perhutani Nomor 353/Kpts/DIR/1985), antara lain :

Pal tanda batas hutan, yang terdiri dari :

(15)

A. Pal B

Digunakan untuk membatasi tanah desa dengan tanah Perwn Perhutani. Pal dipasang menghadap keluar kawasan hutan atau menghadap jalan umwn bila pal dipasang sepanjang jalan umum, dengan jarak antar pal berkisar antara 15 – 100m. Selama masih bisa terlihat dari pal lainnya dan pada setiap belokan dipasang sebuah pal. Pal berbentuk silinder, ujung membulat dan panjang 130 cm dengan diameter 12 cm. Berat pal 22-35 kilogram dan pal ditanam sedalam 70 cm.

B. Pal Enclave (Pal E)

Membatasi kawasan hutan dengan tanah milik (kawasan penduduk) yang berada dalam kawasan hutan. Bentuk dan ukuran sama dengan pal B, hanya letter pada pal yang berbeda. Pal enclave bertuliskan huruf E pada permukaan pal, sedangkan pal B bertuliskan huruf B pada permukaan pal.

Pemasangan diawali dari arah barat laut searah jarum jam mengelilingi tanah desa, dan pal dipasang menghadap ke tanah desa.

C. Pal DK (Djawatan Kehutanan)

Untuk membatasi tanah milik Perum Perhutani yang berada di luar kawasan hutan dibuat pal DK. Bentuk dan ukuran sama dengan pal B.

Pemasangan diawali pada arah barat laut searah jarum jam mengelilingi tanah milik kehutanan.

D. Pal LDTI (Lapangan Dengan Tujuan Istimewa)

Pal yang digunakan untuk membatasi areal bukan untuk produksi yang dimanfaatkan bagi tujuan lain, seperti Wana Wisata (WW), Kawasan Mata Air (MA), Cagar Alam (CA), Tambang (TB), Waduk (WD), Areal Pemakaman (KB) dan lain-lain. Pal ini dipasang mengelilingi areal LDTI ini.

(16)

E. Pal batas antar KPH

Pal ini membatasi wilayah antar KPH yang berdampingan, dengan bentuk dan ukuran sama den kehutanan B.

Dari hasil praktikum lapangan didapatkan bahwa dalam pembagian pal batas terdapat 3 jenis pal batas yang ada di KPH Parungpanjang Bogor yakni meliputi :

1. Pal batas enclave (E)

Membatasi kawasan hutan dengan tanah milik (kawasan penduduk) yang berada dalam kawasan hutan. Bentuk dan ukuran sama dengan pal B, hanya letter pada pal yang berbeda. Pal enclave bertuliskan huruf E pada permukaan pal

Pemasangan diawali dari arah barat laut searah jarum jam mengelilingi tanah desa, dan pal dipasang menghadap ke tanah desa.

Berdasarkan hasil observasi lapangan pal enclave di BKPH Parungpanjang Bogor berjumlah 29 patok yang berbatasan langsung dengan kebun milik warga. Vegetasi yang ada disekitar kawasan BKPH Parungpanjang Bogor yakni palawija.

Gambar 5. pal batas enclave 2. Pal B (B)

Digunakan untuk membatasi tanah desa dengan tanah Perwn Perhutani. Pal dipasang menghadap keluar kawasan hutan atau menghadap jalan umwn bila pal dipasang sepanjang jalan umum, dengan jarak antar pal berkisar antara 15 – 100m. selama masih bisa terlihat dari pal lainnya dan pada setiap belokan dipasang sebuah pal. Pal berbentuk silinder, ujung

(17)

membulat dan panjang 120 cm dengan diameter 12 cm. Berat pal 22-35 kilogram dan pal ditanam sedalam 80 cm dari permukaan tanah. Untuk pal batas diperbaiki setiap 10 tahun sekali.

Gambar 6. pal batas 3. Pal alur (A)

Pal Alur utama adalah tanda batas hutan antara KRPH dengan KRPH.

Pal alur ini biasanya diawali dengan hurup A,B,C,D,E....dan seterusnya yang kemudian diikuti dengan nomor. Untuk pal alur di BKPH Parungpanjang bogor berjumlah sebanyak 12 patok yang pembagian alurnya berbatasan langsung dengan jalan.

Gambar 7. Pal alur

(18)

Gambar 7. sebelah kanan pal alur

Gambar 8. Sebelah kiri pal alur

(19)

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Dari hasil observasi lapangan dapat disimpulkan bahwa tujuan dari adanya KHDTK BKPH Parungpanjang Bogor ialah untuk kegiatan produksi yang mana difokuskan sebagai kelas hutan jati. Pemasangan pal merupakan hal yang sangat terpenting dalam penyusunan dan patokan untuk para pengelola dalam menentukan potensi produksi hasil hutan.

Terdapat 3 pal yang ditemukan saat diadakannya praktikum yakni pal batas (B), pal alur (A), dan pal enclave (E). Oleh karena itu, inventarisasi sangat penting dilakukan sebagai pedoman dasar perencanaan hutan agar pengelolaan produksi hasil hutan bisa optimal.

4.2 Saran

Bagi pemandu kelompok diharapkan dapat menjelaskan secara rinci dan detail mengenai pal batas, pal enclave, pal alur yang kita temukan serta bisa memperkenalkan kepada kami pal-pal lainnya yang ada di BKPH Parungpanjang Bogor.

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah V, Berita Acara Tata Batas Kawasan Hutan Lindung Gunung Bukit Panti, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2011.

Dani, A. A. H., & Apriyanto, A. (2019). Penandaan Batas Area Perhutanan Sosial pada Desa Tombang Kecamatan Walenrang Kabupaten Luwu.

To Maega| Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2(1), 30-37.

Kementerian Kehutanan. 2014. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.25/Menhut-II/2014 Tanggal 8 Mei 2014 Tentang Panitia Tata Batas Kawasan Hutan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 617). Kementerian Kehutanan, Jakarta Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan

Kehutanan.

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.50/Menhut-II/2011 tentang Pengukuhan Kawasan Hutan.

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.44/Menhut-II/2012 tentang Pengukuhan Kawasan Hutan.

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor

P.93/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2016 tentang Panitia Tata Batas.

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : SK.320/MENLHKPKTL/KUH/PLA.2/2/2017 tentang Pembentukan Panitia Tata Batas Kawasan Hutan Kabupaten/Kota Lingkup Provinsi Kalimantan Selatan.

Kartodiharjo, Hariadi., Bramasto Nugroho dan Haryanto R. Putro. 2011.

Pembangunan Kesatuan Pengelolaan Hutan - Konsep, Peraturan Perundangan dan Implementasi. Ringkasan Barbara Lang.

Direktorat Wilayah Pengelolaan dan Penyiapan Penggunaan Kawasan Hutan, Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan, Kementrian Kehutanan, Jakarta.

(21)

Lampiran 1 Tabel tallysheet praktikum tata hutan

No X Y

Ketinggian (mdpl)

No PAL Bentuk PAL Kedudukan PAL

Cat PAL Keutuhan PAL Posisi PAL Vegetasi Sekitar PAL

Deskripsi Lokasi

RPH B Kapsul Balok Tegak Miring Ambruk Hilang/dll Jelas Pudar Hiang Utuh Pecah Patah Tetap Geser Tanggul Besi Semak

beluar Tidak

menutupi

1. -06,380 106,5231 80 cm ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ Berbatasan dengan kebun adat milik

warga

2. -06,382 106,5233 80 cm ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ Terletak di samping pal alur, dekat

portal

3. -0,6385 106,5235 80 cm ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ Terletak di belakang warung milik

warga 4.

5.

6.

7.

8.

(22)

Lampiran 2 Kegitan Lapangan praktikum tata hutan

(23)

Gambar

Gambar 1. Pal Batas Kawasan
Gambar 2.  Pal Batas Enclave
Gambar 4.  Contoh Pal Batas Terurus
Gambar 3. Contoh Pal Batas Tidak Terurus
+5

Referensi

Dokumen terkait

Hutan Jati&#34; yang disampaikan dalam Seminar Pengelolaan Hutan Lestari, sebuah seminar hasil kerjasama Badan EksekutifMahasiswa Fakultas Kehutanan IPB dan

Variabel Operasional dan Indikator Faktor yang Berpotensi Sebagai Pendorong Aktivitas Kemitraan Usahatani Tumpangsari Kopi di Kawasan Hutan Perum Perhutani Unit II-KPH

Penelitian ini akan menjawab permasalahan mengenai Fungsi Perum Perhutani KPH Surakarta dalam pengendalian kebakaran hutan di kawasan Gunung Lawu dan untuk mengetahui

Tanah pada vegetasi Hutan Tanaman Jati (Tectona Grandis Linn. F) (di RPH Sengguruh BKPH Sengguruh KPH Malang Perum Perhutani II Jawa Timur), Jurusan Kehutanan,

Sebagai Badan Usaha Milik Negara yang mendapat izin untuk usaha pemanfaatan hutan, maka Perum perhutani wajib bekerjasama dengan koperasi masyarakat setempat

Untuk mewujudkan besarnya potensi areal hutan Perum Perhutani tersebut sebagai areal produsen kedelai, telah dilaksanakan sosialisasi gelar teknologi budi daya kedelai di

Peningkatan permintaan kayu sengon diduga disebabkan oleh semakin berkurangnya pasokan kayu dari luar jawa, menurunnya produksi kayu dari kawasan hutan negara (Perum Perhutani)

Konflik Kepemilikan dan Status Hak Atas di Kawasan Hutan Perum Perhutani KPH Permasalahan kepemilikan atau penguasaan tanah antara masyarakat penduduk Dusun Kampung anyar Desa