• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN RESIDENSI KMB1 DIABETES MELITUS

N/A
N/A
Junita Upn

Academic year: 2025

Membagikan "LAPORAN RESIDENSI KMB1 DIABETES MELITUS"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELITUS

DENGAN PENDEKATAN TEORI SELF CARE DOROTHEA E. OREM DI RUANGAN RAWAT AMBUN SURI LT.3

RSUD DR. ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI

LAPORAN RESIDENSI KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Oleh :

Ns. ANDI BATAVIA, S. Kep NIM:23100461401002 JUNITA I.L.SIBORO, S.Kep, Ners NIM:23100461401009

PROGRAM PASCASARJANA

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN UNIVERSITAS PRIMA NUSANTARA BUKITTINGGI

TAHUN 2025

(2)

Pada tahun 2023, sekitar 537 juta orang dewasa (usia 20-79 tahun) hidup dengan diabetes, dan angka ini diproyeksikan mencapai 783 juta pada tahun 2045

International Diabetes Feder- ation (IDF)

• tercatat total 2.103 kasus diabetes meli- tus

• 49.6% (1.044 kasus) TANPA KOMP- LIKASI

• 34.9% (734 kasus) telah mengalami komplikasi oftalmikkomplikasi neurologis 5.4% (114 kasus

• sirkulasi perifer 4.5% (95 kasus)

• komplikasi ginjal 4.3% (91 kasus)

RSAM -BUKITTINGGI

Peningkatan dari 6.2% pada Tahun 2018 menjadi 7.1% pada tahun 2022

INDONESIA

Pada tahun 2023, 214 kasus DM dari 2.416 →dengan rata-rata 17.8 kasus per bulan (8.86%).

2024,pasien Diabetes 213 kasus DM dari 2.151 →peningkatan proporsi menjadi 9.9%.

AMBUN SURI LT3. RSAM

PREVALENSI

(3)

KONSEP DIABETES MELITUS

MANIFESTASI KLINIS

 Poliuri (Sering Buang Air Kecil)

 Polidipsi (Haus Berlebihan

 Polifagi (Lapar Berlebihan)

Klasifikasi Diabetes

 Diabetes Melitus Tipe I

 Diabetes Melitus Tipe II

 Diabetes Melitus Gestasional

 Diabetes Melitus Tipe Lainnya

DEFENISI

Penyakit gangguan metabolik yang terjadi secara kronis atau

menahun karena tubuh tidak mempunyai hormon insulin yang cukup akibat gangguan pada sekresi insulin, hormon insulin yang

tidak bekerja sebagaimana mestinya atau keduanya (Kemenkes RI,2018)

(4)

01 EDUKASI

02

PERENCANAAN MAKAN

03 OBAT-OBATAN

04

LATIHAN JASMANI/

OLAH RAGA

Penatalaksanaan DM

(5)

KONSEP TEORI OREM

S E L F C A R E • ke g ia ta n in d iv id u u n - tu k m ela ku ka n us a ha m em pe rta - ha nk a n hid u p, ke - se h ata n da n k e se - ja h te r- aa an n ya .

S E L F C A R E D E F I C IT • te or i k ep e r- aw at an y an g m en je la sk an ko nd is i k e tik a ke bu tu ha n pe ra w at an dir i se se o- ra n g m ele bih i k e- m am pu an ny a un tu k m em en uh in y a. • ke tid ak m am - pu an s es eo - ra ng u n tu k m em en uh i ke bu tu ha n pe ra w at an dir i

N U R S IN G S IS - T E M • R an g ka ia n da ri t in - da ka n pr a kti k se b ag a i pe ra n p er - aw a t da la m s u- atu w ak tu , de ng a n t u- ju a n u n tu k • m en g e- ta h ui d an m en e - m uk a n ko m p o ne n th e ra p e uti k se lf c a re de m a nd . ke g ia ta n ke p er - aw a ta n ya n g d i- la ku ka n ke tik a pa sie n m en g ala m i de fis it p e r- aw a ta n d iri

(6)

Aplikasi model self care Orem dalam proses keperawatan

1. Universal self-care requisites 2. Developmental self-care requisites 3. Health deviation self-care requisites

01

pengkajian

Self-care deficit

(defisit perawatan diri):

1. Total:

2. Sebagian

02

diagnoasa

1. Wholly compensatory nursing system

2.Partly compensatory nursing system 3. Supportive-educative nursing system

03

intervensi

1. Acting or doing for another 2. Guiding (membimbing)

3. Supporting (men- dukung) 4Teaching (mengajar) 5. Providing environment (menyediakan lingkungan)

04

implementasi

1. Peningkatan kemampuan self-care agency, 2.Pemenuhan self-care

requisites, 3.Kemandirian pasien,

4.Pencapaian tujuan Keperawatan

05

evaluasi

(7)

Pasien DM

PENDEKATAN TEORI SELF CARE OREM

laporan kasus

(8)

PENGKAJIAN

KASUS 1 KASUS 2

Pasien laki-laki, Tn. R, umur 47 tahun, petani, pendidikan SMP, agama islam, menikah. Pasien datang ke rumah sakit untuk berobat ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan utama demam dan badan lemas sejak 10 hari SMRS.

Pangkal paha kanan bengkak, keras dan terasa nyeri sejak 5 hari SMRS. Ada ulkus di ibu jari kaki kanan sudah lebih satu bulan, bewarna merah pucat dan sebagian kehitaman. Awalnya muncul karena gesekan sepatu, luka terasa nyeri.

Di poliklinik pasien semakin lemas dan pusing, di periksa gula daraah sewaktu 584 mg/dl, kemu- dian pasien di anjurkan rawat inap. Pasien terdiagnosa DMT2 sejak 3 tahun yang lalu , dirawat di RSAM Bukittinggi. Pasien juga mem- punyai riwayat stroke tahun 2019 dan sembuh.

Pasien Ny. S usia 55 tahun, tidak bekerja,

Pendidikan terakhir SMP, agama Islam, Suku Jawa.

Pasien datang ke IGD dengan keluhan Pasien men- gatakan lemas dan tidak bisa bangun dari tempat tidur.

Kondisi ini dirasakan sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, semakin lemas dan tidak bisa bangun dari tempat tidur 1 hari terakhir, tidak selera makan sejak 3 bulan terakhir, makan 1/4 porsi

saja, sejak 1 minggu terakhir hanya bisa makan 1-3 sendok, Bengkak pada kedua tungkai sejak 4 hari

terakhir, kebas dan terasa tebal pada telapak kaki sejak 1minggu terakhir. Gaya hidup yang negative terhadap Kesehatan pasien riwayat merokok sejak 20 tahun yang lalu, baru berhenti 1 bulan sebelum masuk Rumah sakit.

Riwayat rawat inap 5 tahun yang lalu dengan Diabetes Melitus di Aek Kanopan, Riwayat rawat inap 1 bulan yang lalu dengan HT di RSAM. RPO : Metformin 3x500 mg( tidak teratur).

a. Basic conditioning faktor

(9)

kasus 1 kasus 2

Pasien mengatakan tidak merasa sesak dan batuk, tidak ada riwayat penyakit paru dan jantung. Hasil pemeriksaan TTV : TD 140/70 mmHg, Nadi 84x/menit, RR 18 x/menit, sruhu 36,9 0C, suara nafas vesikuler, tidak ada ronchi dan whezing. Irama jantung teratur, menunjukkan tidak ada ke- lainan pada jantung dan paru. Pasien mengatakan selera makan baik, tidak ada mual dan muntah, porsi makan habis. BAK lancar, BAB belum ada selama di RS. Pasien mengatakan sebelumnya di rumah pasien sering merasa haus, lapar dan sering BAK. Istirahat pasien kadang terganggu karena nyeri di paha kanan dan ibu jari kaki kanan. Skal nyeri/ VAS 6-7, nyeri terus menerus dan meningkat saat kaki digerakan. Terdapat ulkus di ibu jari kaki kanan dengan ukuran 6x3 cm , bagian dalam berwarna merah pucat, bagian luar berwarna kehitaman dan mengeras. Kaki kanan nyeri digerakan dan berubah posisi, sehingga aktivitas pasien di tempat tidur dibantu oleh istri, sebagian aktivitas bisa mandiri. Hasil pemerik- saan laboratorium (30-01-2025) : GDS 584 mg/ dl, Hb 11,4 g/dl, Leukosit 20.2 10^3/mm^3, Eritrost 4.40 10^6/L, Trombosit 406 10^3/mm^3, Hematoktrit 33%, Ureum 35 mg/dl, creatinin 0,7 mg/dl, Albumin 2,8d/dl, HBA1C 12%, Natrum/kalium/clorida 131/ 4,4/8 mmol/L.

Pa sien mengatakan sebelum masuk rumah sakit pasien sempat sesak, tetapi setelah dirawat sesak hi- lang, Saat pengkajian sudah tidak ada keluhan, Pasien tidak menggunakan oksigen tambahan, pola nafas teratur, tidak ada batuk. Hasil pemeriksaan tanda vital TD: 150/70 mmhg T: 36,8 SPO2: 98% RR: 20 x/i HR: : 65 x/I, suara nafas vesikuler, tidak ada ronchi dan whezing. Irama jantung teratur, menunjukkan tidak ada kelainan pada jantung dan paru. Passion mengatakan tidak nafsu makan, selama dirawat hanya makan ¼ porsi, mual tidak ada, muntah tidak ada. BAK lancar frekuensi sering 8-10x/ dalam sehari, berkemih di malam hari sering 3-5x/ setiap malam, jumlah urine masih banyak info pasien bisa ½-1 aqua gelas, warna kuning jernih). Kebiasaan minum1-1 ½ aqua botol (1500m-2000ml) dirumah sakit dibatasi minum sebanyak 1000 ml ( 5 gelas), Kedua kaki bengkak(bengkak berkurang sejak dirawat), kaki sering kebasdan kesemutan , BAB tidak teratur, sejak 1 bulan kebiasaan BAB 1x dalam 3-4 hari. Pasien sulit un- tuk memulai tidur,tidur 5-6 jam di malam hari (pukul 23.00-05.00) pola istirahat terganggu, karena berkemih di malam hari . dan keletihan terasa saat bangun. Aktifitas kebutuhan sehari-hari mampu dilakukan secara mandiri, Tingkat ketergantungan ringan .status emosional cemas dan takut terhadap terapi. Interaksi ter- hadap orang lain baik dan kooperatif. Respon kognitif kurang, Pasien tidak mendapatkan informasi yang je- las tentang penyakitnya, dan tidak mematuhi pengobatan yang dijalani.

Hasil Pemeriksaan laboratorium :

Tanggal 27/1/25 : HB : 6.4 gr/dl Leukosit 10.1 ( 10 3/mm3) Thrombosit : 326 ( 10 3/mm3) HT : 19,1 % GDR: 199 mg/dl Ureum : 160 mg/dl Creatinine: 6.1 mg/dl

Natrium : 142 Kalium 4.2 Clorida: 115

Tanggal 28/1/25 : GDP : 182 mg/dl GD 2jam pp : 146 mg/dl Tanggal 30/1/25:

Ureum darah 171 mg/dl, Kreatinine darah 6.8 mg/dl Albumin 3.0 gr/dl Kolesterol: 333 mg/dl

Triglieserida 162 mg/dl Kolesterol LDL: 257 mg/dl Hasil USG

Proses kronis ginjal bilateral, cholelitiasis dengan cholecitisi, asites minimal dengan efusi pleura kanan, Pemeriksaan URinalisa 30/1/25

- protein (positif +2) -Glukosa (positif+2)

Tanggal 31/1/25: HBA1C: 5,4%, HB : 12.3 g/dl Leukosit 10.1 ( 10 3/mm3), Thrombosit : 381 ( 103/mm3) HT 35% GDP: 242 mg/dl GD 2jam PP: 261mg/dl

Tanggal 1/2/25 : GDR 181 mg/dl

Pengkajian Universal self-requisites

(10)

lanjutan pengkajian

Developmental self-requisites

Pasien laki-laki berperan sebagai kepala keluarga, saat ini pasien hanya bertani dan berjualan sayur membantu istri, sebelumnya pasien bekerja sebagai buruh pelabuhan tapi berhenti sejak terserang stroke.

Pasien sudah lama menikah tapi tidak mempunyai anak.

Developmental self-requisites

Pasien adalah seorang Ibu, saat ini sudah tidak bekerja dan ikut tinggal dengan anaknya, sebelumnya ibu bekerja sebagai pedagang, pasien memilki kesadaran akan penyakitnya dan masih dapat mengambil Keputusan sendiri terhadap pengobatan yang dijalani. Perkembangan dipengaruhi faktor internal yaitu kurangnya pengetahuan/ informasi ten- tang penyakitnya, dan faktor lingkungan dan budaya yang menganggap bahwa jika terus minum obat DM akan membuat penyakit ginjal

kasus 02

Healt deviation self-care requisites

Pasien terdiagnosa DMT2 sejak 3 tahun yang lalu, kontrol rutin di RSAM.

Pasien mendapatkan pengobatan dengan metformin 3x500 mg. Pasien

kadang-kadang ada merasa kemutan dan kebas, pandangan kabur tidak ada. Pasien terdiagnosa dengan DM sejak 10 tahun yang lalu, setiap 1X sebulan mengikuti kelas posyandu lansia, mengambil obat tapi tidak rutin diminum ( metformin 3x500), kebas dan kesemutan , dan bengkak pada kaki

kasus 01

Healt deviation self-care requisites

(11)

Terapeutic self-care deman

Mempertahankan kebutuhan sirkulasi, nutrisi, aktivitas dan istirahat, pencegahan risiko yang mengancam kehidupan,

manajemen kondisi perawatan mandiri untuk mendukung perkembangan, edukasi untuk pengelolaan penyakit

kasus1

Mempertahan kebutuhan sirku- lasi,

nutrisi, pencegahan risiko yang mengancam kehidupan,

meningkatkan proses koqnitif untuk mencapai pemahaman dan pengelolaan penyakit

kasus 2

(12)

Nursing diagnosa

Kasus 1 Kasus 2

Ketidakstabilan gula darah ( (D.0027)

Nyeri Akut (D.0077) Defisit nutrisi (D.0019 )

Gangguan integritas kulit/ jaringan (D0.129)

Defisit Pengetahuan (D.0111)

Risiko perfusi perifer tidak efektif (D.0015)

Partly

compensatory

nursing system

Nursing System

(13)

SLKI : (L.03022)

Kestabilan kadar glukosa darah membaik

1

SIKI: (I.03115)

Manajemen hiperglikemia

2

EPB : Senam Kaki

Pada studi literatur Riview Nurhayani, Y. (2022). Hasil peneliti melakukan literature review pada 10 jurnal didapatkan hasil pengaruh senam kaki terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes Melitus. Kesimpulan dari peneliti menunjukan bahwa ada pengaruh senam kaki terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes Melitus.

3

1. Ketidakstabilan gula darah ( (D.0027)

(14)

Analisis temuan

• Manifestasi klinis pada kedua kasus menunjukkan trias, klasik diabetes Melitus namun dengan intensitas berbeda.

• Kontrol glikemik pada kedua kasus menunjukkan manajemen yang subopti- mal Faktor yang berkontribusi meliputi:

ketidakpatuhan pengobatan, kendala ekonomi, dan kurangnya edukasi.

Pasien kasus pertama menunjukkan gam- baran diabetes melitus dengan kontrol glikemik yang sangat buruk. Dengan riwayat diabetesselama 3 tahun dan mani- festasi klasik berupa polidipsi, polifagia, dan poliuri. Pasien ini mengalami hiperg- likemia berat yang terbukti dari kadar GDS 584 mg/dl, GDN 320 mg/dl, dan GD 2 jam post-prandial 336 mg/dl

Nilai HbA1C

12% mengonfirmasi kontrol glikemik yang sangat buruk dalam 3 bulan terakhir

Pasien kasus kedua memiliki riwayat diabetes yang lebih panjang (10 tahun) dengan

pola pengobatan yang tidak teratur (Metformin tidak diminum secara rutin).

Manifestasi klinis

meliputi kelemahan, polidipsi, dan poliuria yang signifikan (8-10x/hari termasuk nokturia).

Kadar gula darah menunjukkan fluktuasi dengan GDP berkisar 182-242 mg/dl dan GD 2JPP

124146-261 mg/dl, Nilai Hba1C 5,4

Nilai HbA1C 5,4% pada kasus kedua menunjukkan ketidaksesuaian dengan kadar gula darah aktual yang tinggi. Ada 2 faktor yang berhubungan dengan nilai ini yakni dalam 3 bulan terakhir pasien minum obat dan mematuhi regimen pengobatan secara teratur. 2. keterkaitan langsung dengan anemia berat, HbA1C merupakan penguku- ran glikasi hemoglobin, dan nilai ini sangat dipen-

garuhi oleh masa

hidup eritrosit dan jumlah total hemoglobin yang tersedia

(15)

ketidak- stabilan

GD

Implementasi manajemen hiperglikemia sudah sesuai dengan prinsip penanganan hiperglikemia pada pasien DM. Terlihat adanya pola pemberian insulin yang disesuaikan dengan hasil monitoring kadar glukosa darah. Pendekatan ini sejalan dengan teori self care Orem dalam sistem partly compensatory, dimana perawat memberikan bantuan dalam hal yang pasien belum mampu lakukan sendiri (pemberian insulin) sambil mengajarkan keluarga untuk bisa mendukung perawatan di rumah

1. implementasi

Evaluasi

.

maslalah teratasi sebagian , meskipun terdapat fluktuasi kadar glukosa darah yang signifikan (495 mg/dl pada pagi hari, turun menjadi 112 mg/dl siang hari, dan naik kembali menjadi 268 mg/dl), belum tercapai stabilitas glukosa darah yang konsisten.

Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan hiperglikemia memerlukan

penyesuaian intervensi, terutama terkait dosis insulin dan pola makan. Terdapat perbaikan pada ge- jala polidipsia (pasien menyatakan rasa haus sudah mulai berkurang), tetapi kelelahan masih di- rasakan. Sesuai dengan teori Orem, perlu penguatan pada komponen self care

agency pasien, khususnya terkait pengelolaan pola makan dan pemantauan gejala hiperglikemia.

(16)

SLKI (L.08066)

Tingkat nyeri menurun

1

SIKI (I.08238) Manajemen Nyeri

2

EBP: Teknik relaksasi nafas dalam.

3

2. NYERI

(17)

Analisis temuan

nyeri pada kasus ini dapat dijelaskan melalui mekanisme inflamasi dan neuropati.

Proses inflamasi pada area bengkak di pangkal paha

(kemungkinan besar limfadenitis atau abses dalam) menyebabkan pelepasan

mediator inflamasi seperti prostaglandin, bradikinin, dan sitokin

proinflamasi yang mengaktivasi dan mensensitisasi nosiseptor, menghasilkan

sensasi nyeri.

Hiperglikemia tidak terkontrol (GDS 584 mg/dl, GD 2JPP 336 mg/dl) memperburuk

keadaan

dengan meningkatkan stres oksidatif pada sel saraf dan mempercepat kerusakan

mikrovaskular

yang memasok nutrisi ke saraf perifer.

Kondisi hipoalbuminemia (albumin 2,8 g/dl) juga dapat

memperburuk edema lokal yang menekan ujung saraf, sehingga meningkatkan

persepsi nyeri.

teknik relaksasi nafas dalam mampu merangsang tubuh untuk melepaskan opoid endogen yaitu en- dorphin dan enkafalin. Hormon endorphin meru- pakan substansi sejenis morfin yang berfungsi se- bagai penghambat transmisi impuls nyeri ke otak.

sehingga pada saat neuron nyeri mengirimkan sinyal ke otak, terjadi sinapsis antara neuron perifer dan neuron yang menuju otak tempat seharusnya subtansi p akan menghasilkan impuls. Pada saat tersebut endorphin akan memblokir lepasnya sub- stansi p dari neuron sensorik,

sehingga sensasi nyeri menjadi berkurang (Lela &

Reza, 2018).

masalah nyeri teratasi Sebagian , keluhan nyeri masih dilaporkn pada

tahap evaluasi, dengan penurunan skala nyeri.

(18)

SLKI: (L.03030)

Status nutrisi membaik

1

SIKI

Manajemen Nutrisi (I.03119)

2

EBP: Diabetes Self-Management Education (DSME)

3

3.DEFISIT NUTRISI

(19)

Pembahasan

Pasien dengan diabetes melitus selama 10 tahun ini menunjukkan kondisi defisit nutrisi yang signifikan. Secara subjektif, pasien melaporkan penurunan nafsu makan progresif, dari hanya mampu menghabiskan 1/4 porsi makanan se- lama 3 bulan terakhir hingga hanya mampu mengonsumsi 1-3 sendok makanan dalam seminggu terakhir. Se- cara objektif, data antropometri menun- jukkan IMT 17,0 kg/m² (BB 42 kg, TB 157 cm) yang mengkonfirmasi status gizi ku- rang.

ParameteraHB 5,4, albumin serum 3,0 g/dl menguatkan adanya malnutrisi pro- tein, sementara manifestasi klinis berupa kerontokan rambut , kulit kering

mengindikasikan defisiensi nutrisi kronis.

temuan data

defisit nutrisi pada pasien diabetes ini dapat dijelaskan melalui beberapa

mekanisme. Pertama, hiperglikemia kronis menyebabkan peningkatan katabolisme protein untuk glukoneogenesis, mengakibatkan penu- runan massa otot dan penurunan berat badan.

Kedua, neuropati diabetik dapat memengaruhi sistem gastrointestinal (gastroparesis diabetikum), menyebabkan mual, kembung, dan penurunan nafsu makan. Ketiga, kontrol glikemik yang buruk dan fluktuatif (terlihat dari GDP yang bervariasi 182-242 mg/dl dan GD 2JPP 146-261 mg/dl) dapat memengaruhi sen- sasi rasa dan persepsi lapar. Kondisi ini diperburuk dengan ketidakpatuhan pengobatan yang mengakibatkan kontrol metabolik yang tidak optimal.

Your title here

mengkaji kebutuhan nutrisi pasien karena pemberian nutrisi yang tepat sesuai den- gan kebutuhan kalori sangat membantu dalam pengendalian kadar gula darah pasien diabetes dari memenuhi kebu- tuhan nutrisi yang adekuat

Kondisi sakit membuat kebutuhan metabolisme tubuh meningkat, asupan nutrisi yang tidak adequat dapat mem- perburuk kondisi pasien.

masalah nutrisi teratasi sebagian Meskipun ada peningkatan asupan

dibandingkan sebelumnya,

pola makan masih belum optimal terutama

terkait

jumlah dan jenis makanan yang dikonsums

implementasi & evalu-

asi

(20)

SLKI (L.14125)

integritas kulit/jaringan meningkat

1

SIKI Perawatan Integritas kulit (I.11353) Perawatan luka (I.14564)

2

EBP: Kombinasi perawtan luka dengan modifikasi hidrocell

3

4. GANGGUAN INTEGRITAS KULIT

(21)

01 Data temuan

Pada Tn R di dapatkan data Ulkus di 2/3 ibu jari kaki kanan, Luka terlihat mulai

menghitam dan mengeras, tidak terlihat pengeluaran pus/ eksudat Pasien mengatakan luka di ibu jari kaki sudah lebih sebulan dan tidak bisa sembuh, awalnya bermula lecet karena

sepatu.

Pasien mengatakan selama di rumah luka di ibu jari tidak ada dirawat khusus, hanya dibersihkan sendiri. Ulkus ini bermula dari trauma minor (lecet karena sepatu) yang tidak mendapat perawatan adekuat. Secara objektif, ulkus telah mengenai 2/3 bagian ibu jari kaki kanan, dengan tanda-tanda nekrosis jaringan yang ditandai oleh penghitaman dan pengerasan

jaringan. Meskipun tidak terlihat pengeluaran pus, leukositosis yang signifikan (20.2 x 10³/mm³) mengindikasikan respons inflamasi sistemik terhadap infeksi lokal

02 Analisis temuan

Hiperglikemia kronis menyebabkan kerusakan pembuluh darah, baik makroangiopati (pembuluh besar) maupun mikroangiopati (pembuluh kecil), yang mengurangi aliran darah ke jaringan perifer.

Kadar glukosa tinggi merusak saraf perifer, menyebabkan penurunan sensasi nyeri, tekanan, dan

suhu. Pasien tidak menyadari trauma kecil atau luka yang terjadi pada ekstremitas

Hiperglikemia mengganggu fungsi leukosit, men- gurangi kemampuan fagositosis dan respons inflamasi, sehingga luka mudah terinfeksi, ku- rangnya aliran darah ke jaringan menyebabkan hipoksia jaringan, yang menghambat proses penyembuhan luka dan menyebabkan nekrosis jaringa

03

Masalah gangguan integritas kulit belum teratasi, saat dilakukan evaluasi pasien masih

mengeluhkan luka di kaki dan mengeluh sakit

Perawatan luka memainkan peran penting dalam pengelolaan ulkus kakii diabetik, yang terdiri dari pem- bersihan luka dengan saline normal mengikuti teknik aseptik dan penggunaan teknik perawatan luka modern (pemakaian hidrocell) yang mempromosikan

lingkungan penyembuhan luka yang lembab.

implementasi dan

evaluasi

(22)

SLKI(L.12111)

Tingkat pengetahuan membaik

1

SIKI(l.12383)

edukasi kesehatan

2

EBP: Edukasi terstruktur melalui Diabetes Self-Management Education (DSME)

3

5. DEFISIT PENGETAHUAN

(23)

evaluasi Title

01 03

keseluruhan menunjukkan bahwa implementasi keperawatan telah mengikuti prinsip-prinsip teori self care Orem dengan pendekatan bertahap dari partly compen-

satory ke supportive-educative system

Pendekatan integrasi evidence-based nursing

practice dengan teori Orem dengan pemberian edukasi tentang faktor risiko (merokok, ketidak- patuhan pengobatan, diet tidak terpola) dan pengajaran senam kaki diabetik menunjukkan

penerapan sistem supportive-educative yang bertujuan meningkatkan self-care agency

pasien.

02

Pasien secara eksplisit menyatakan masih

belum memahami tentang penyakitnya dan

belum mengikuti anjuran pengobatan.

Title

(24)

SLKI (L.02011)

perfusi perifer meningkat

1

SIKI:(I.02079)

Perawatan Srikulasi

2

EBP: “SENAM KAKI DIABETIK”

Pada diagnosa Risiko perfusi perifer juga dapat dilaksanakan program senam kaki, hal ini sesuai dengan penelitian(Fitriani 2020) ,pada systematic riview dengan judul Pengaruh senam kaki terhadap sirkulasi darah dite- mukan Dari ke 11 jurnal yang telah dianalis, 10 jurnal menyatakan bahwa ada pengaruh senam kaki terhadap sirkulasi darah atau ABI pada pasien DM tipe 2.

3

6. RISIKO PERFUSI PERIFER TIDAK EFEK-

TIF

(25)

Pada Tn. R, memiliki risiko tinggi gangguan per- fusi jaringan perifer berdasarkan beberapa faktor risiko yang teridentifikasi. Secara subjektif, pasien melaporkan riwayat diabetes melitus selama 3 tahun, kesemutan pada anggota gerak, dan kebas pada ujung jari, gejala klasik neuropati diabetik. Faktor risiko tambahan men- cakup riwayat stroke 6 tahun lalu dan kurangnya aktivitas fisik yang mengurangi aliran darah perifer melalui pompa otot. Objektif, hiperglikemia berat (GDS 584 mg/dl, GD 2JPP 336 mg/dl) mempercepat perkembangan makroangiopati dan mikroangiopati diabetik. Pasien terlihat pucat dan lemas, dengan nadi yang teraba agak lemah meskipun frekuensinya normal (84 x/menit), mengindikasikan potensial penurunan curah jantung atau resistensi vaskular perifer

kasu 1

berfokus pada pengkajian sirkulasi

perifer secara komprehensif Pada pasien S di dapatkan yaitu:

Hiperglikemia, Gaya hidup kurang Gerak, Hipertensi, Merokok, Prosedur endovaskuler. Trauma, Kurang terpapat informasi tentang faktor pemberat (misalnya merokok, gaya hidup kurang gerak, obesitas, imobilitas).

kasus 2

Implementasi intervensi keperawatan untuk risiko perfusi jaringan perifer tidak efektif mencakup pendekatan komprehensif yang berfokus pada ak- tivitas fisik

Evaluasi : Masalah gangguan sirkulasi perifer masih ada (kebas dan kesemutan)

Intervensi edukasi dan demonstrasi senam kaki berhasil (pasien dan istri dapat mengikuti)

Motivasi pasien untuk perawatan mandiri baik (berkomitmen melakukan latihan rutin)

Meskipun ada perbaikan tanda dan gejala, masalah keperawatan masih berisiko terjadi mengingat faktor risiko yang mendasar (hipertensi dan diabetes) belum terkontrol optimal

Implementasi dan

evaluasi

(26)

Teknik yang Benar -->Konsistensi---> efektifitas Pilar dalam

pengelolaan diabetes

Pencegahan Neuropati Perifer - Senam kaki meningkatkan sirkulasi darah perifer yang sering terganggu pada pasien DM, terutama pada ekstremitas bawah. Ini membantu mengurangi risiko neu- ropati diabetik yang merupakan komplikasi umum

Pengurangan Risiko Ulkus - Stimulasi aliran darah ke kaki melalui gerakan-gerakan senam dapat mencegah pembentukan ulkus dia- betik dan membantu penyembuhan ulkus yang sudah ada.

Terapi Ekonomis dan Non-Inv,ansif mempertahankan mobilitas

Manfaat

1.Memperbaiki sirkulasi darah 2.Memperkuat otot-otot kecil

3.Mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki 4.Meningkatkan kekuatan otot betis dan paha 5.Mengatasi keterbatasan gerak sendi 6.Meningkatkan kebugaran pasien diabetes mellitus

Your title here Defenisi

Merupakan kegiatan atau latihan yang di- lakukan oleh penderita diabetes mellitus un- tuk mencegah terjadinya luka dan membantu

melancarkan peredaran darah bagian kaki

(27)

Terima kasih

Melalui penerapan terapi senam kaki secara teratur, kita dapat meningkatkan sirkulasi darah per- ifer, mencegah kaki diabetik, dan meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes. Peran kita sebagai perawat sangatlah penting dalam edukasi, pendampingan, dan implementasi intervensi ini.

Petik bunga di atas bukit, Harum semerbak sepanjang jalan.

Ajak keluarga mencegah sakit, Senam kaki bersama jadi andalan.

Pagi-pagi memetik melati, Harum semerbak di dalam taman.

Perawat sigap penuh dedikasi,

Edukasi diabetes jadi pedoman.

Referensi

Dokumen terkait

Pemeriksaan deteksi dini DM dilakukan pada kedua anak pasien yang ada di rumah dan didapatkan hasil Gula darah puasa 88 mg/dL dan 88 mg/dl yaitu kadar gula

pengendalian DM, keseluruhan indikator yang diamati baik itu HbA1c, GDP, GD 2 jam PP, dan TD pada pasien yang memiliki kepatuhan terhadap obat baik, juga belum mencapai nilai

Pada keadaan ini terjadi peningkatan glukosa darah sangat tinggi (600-. 1200 mg/dL), tanpa tanda dan gejala asidosis, osmolaritas

Pada penelitian ini didapatkan rerata GD2JPP masing-masing 283,20 pada DMT2 de- ngan TB paru mg/dl dan 211,49 mg/dl pada DMT2 tanpa TB paru yang artinya masih banyak subyek

Pemeriksaan deteksi dini DM dilakukan pada kedua anak pasien yang ada di rumah dan didapatkan hasil Gula darah puasa 88 mg/dL dan 88 mg/dl yaitu kadar gula

a) Seseorang dikatakan penderita diabetes mellitus jika kadar glukosa darah a) Seseorang dikatakan penderita diabetes mellitus jika kadar glukosa darah ketika puasa > 120 mg/dl

Manfaat makanan dengan nilai indeks glikemik rendah dan tinggi serat menyebabkan kadar gula darah post-prandial dan respon insulin yang lebih rendah sehingga dapat memperbaiki profil

Gejala tetap dengan hipoglikemia Jika kadar glukosa darah di bawah 70 mg/dl Pasien sadar hipoglikemia ringan-sedang Pasien tidak sadar hipoglikemia berat Berikan glukagon secara i.v