1
Kelarutan Sebagai Fungsi Suhu
Dewa Gian Ramadhan 1, Dini Septi Kurnia Ardana 2,Galan Tricahya Eksa3,Renova Panjaitan, S.T., M.T.
124041010193, Paralel E, Teknik Kimia, Fakultas Tekniks & Sains, Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur
224031010198, Paralel E, Teknik Kimia, Fakultas Tekniks & Sains, Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur
324031010210, Paralel E, Teknik Kimia, Fakultas Tekniks & Sains, Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur
Abstrak. Kelarutan suatu zat dalam suatu pelarut selalu identik dengan salah satu konsep fundamental dalam kimia fisika. Kelarutan bahan kimia dalam pelarut merupakan faktor krusial yang mempengaruhi proses produksi serta efisiensi reaksi kimia. Percobaan kelarutan sebagai fungsi suhu dilakukan dengan menggunakan metode titrasi. Metode analisis kimia yang digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu zat dalam larutan. Dalam percobaan kelarutan sebagai fungsi suhu, data kelarutan asam oksalat diperoleh pada suhu 278.15K, dengan nilai ms 0.766330941 mol/gr, 282.15 K dengan nilai Ms 0.779685539 mol/gr, 287.15 K dengan nilai Ms 0.809639472 mol/gr dan 290.15 K dengan nilai Ms 0.913989856 mol/gr. Percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan kelarutan serta menghitung panas pelarutan diferensial dalam larutan jenuh.
Kata kunci ; Entalpi pelarutan; Jenis Jenis Larutan; Kelarutan; Kelarutan Sebagai Fungsi Suhu;
Konsentrasi Larutan; Kenaikan Titik Didih dan Penurunan Titik Beku; Larutan; Persamaan Van’t Hoff
1. Pendahuluan
Kelarutan suatu zat dalam suatu pelarut selalu identik dengan salah satu konsep fundamental dalam kimia fisika. Interaksi antara molekul pelarut dan molekul zat yang larut dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya suhu. Perubahan suhu dapat mempengaruhi energi kinetik molekul pelarut dan molekul zat yang larut, sehingga mempengaruhi kelarutan. Dalam konteks industri kimia, kelarutan bahan kimia dalam pelarut merupakan faktor krusial yang mempengaruhi proses produksi serta efisiensi reaksi kimia. Pemahaman yang mendalam dan upaya penanggulangan masalah kelarutan menjadi esensial untuk meningkatkan kualitas produk dan efisiensi proses produksi di berbagai sektor industri. Penelitian yang berfokus pada interaksi molekul dan parameter yang mempengaruhi kelarutan bahan kimia diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mengoptimalkan proses-proses industri tersebut(Indri Astuti et al., 2022).
Percobaan kelarutan sebagai fungsi suhu dilakukan dengan menggunakan metode titrasi.
Metode analisis kimia yang digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu zat dalam larutan.
Metode ini melibatkan penambahan larutan standar dengan konsentrasi yang diketahui ke dalam larutan yang akan dianalisis hingga terjadi reaksi yang lengkap. Titik akhir titrasi dicapai ketika reaksi antara larutan standar dan larutan sampel telah selesai, yang biasanya ditandai dengan perubahan warna indikator atau perubahan sifat fisik lainnya. Data yang diperoleh kemudian dapat dianalisis menggunakan metode statistik untuk menentukan hubungan antara kelarutan dan suhu. Selain itu, dapat juga digunakan metode simulasi komputer untuk memodelkan proses kelarutan. Metode ini dapat membantu memprediksi kelarutan suatu zat dalam suatu pelarut pada berbagai suhu.. (Faúndez, Valderrama and
2 Campusano, 2020).
Dalam industri farmasi, kimia, dan pangan, kontrol suhu sangat penting untuk memastikan kelarutan yang tepat dari bahan-bahan yang digunakan. Misalnya, produksi obat-obatan melibatkan pelarutan bahan aktif yang harus dilakukan pada suhu optimal untuk memastikan kelarutan maksimal dan stabilitas produk (Indri Astuti et al., 2022). Oleh karena itu, percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan kelarutan serta menghitung panas pelarutan diferensial dalam larutan jenuh.
2. Tinjauan Pustaka 2.1 Kelarutan
Kelarutan adalah sifat suatu zat untuk larut dalam pelarut tertentu pada kondisi tertentu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan melibatkan interaksi antara partikel-partikel zat dengan molekul-molekul pelarut. Suhu seringkali menjadi factor kunci dalam menentukan kelarutan suatu zat, karena kebanyakan zat memiliki kelarutan yang meningkat dengan kenaikan suhu. Selain itu, tekanan juga dapat memengaruhi kelarutan, terutama pada zat-zat yang larut dalam pelarut gas. Konsep kelarutan sangat penting dalam kimia, terutama dalam merancang reaksi kimia atau memahami perilaku suatu senyawa dalam berbagai kondisi.(Singh et al. 2021)
2.1.1 Kelarutan Sebagai Fungsi Suhu
Kelarutan zat ionik meningkat seiring dengan kenaikan suhu. Berdasarkan Prinsip Le Chatelier, ketika suhu suatu sistem dalam keadaan seimbang dinaikkan, reaksi endotermik akan berlangsung untuk menyerap panas. Jika perubahan entalpi (ΔH) bernilai positif, peningkatan suhu akan menyebabkan kelarutan zat terlarut meningkat. Sebaliknya, jika ΔH bernilai negatif, yang menunjukkan reaksi eksotermik, maka kelarutan akan berkurang seiring dengan kenaikan suhu. Sebagai contoh, ketika NaOH dilarutkan dalam air, suhu larutan meningkat secara signifikan akibat proses eksotermik yang terjadi. (Indri Astuti et al., 2022). Adapun contoh grafik beberapa larutan sebagai fungsi suhu adalah sebagai berikut:
Gambar 2. 1 Kelarutan beberapa larutan sebagai fungsi suhu (Sumber:Indri astuti,2022) 2.1.2 Persamaan Van’t Hoff
Tekanan osmotik tidak bergantung pada jenis zat terlarut; sebaliknya, besarnya hanya bergantung pada jumlah partikel zat terlarut persatuan volume larutan, sehingga termasuk dalam sifat-sifat koligatif. Tekanan osmotik larutan encer dapat dihitung dengan menggunakan persamaan beriku, atau Persamaan Van’t Hoff. Berdasarkan van Holf penurunan titik beku sebagai berikut (Haryono,2019):
[𝜕𝑙𝑛𝑙𝑛 𝑘
𝜕𝑇 ]
𝑝= ∆𝐻0
𝑅𝑇2 (1)
3 Keterangan:
∆𝐻 = perubahan entalpi K = konstanta kesetimbangan
R = tetapan gas ideal (0,08206 Latm/mol°K) T = temperature (K)
Faktor Van 't Hoff adalah angka yang menggambarkan jumlah partikel yang terbentuk saat suatu zat terlarut dalam pelarut. Faktor ini mempengaruhi sifat koligatif larutan, seperti penurunan tekanan uap, peningkatan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmotik.
Senyawa elektrolit memiliki faktor Van 't Hoff lebih dari satu karena mengalami ionisasi, sedangkan senyawa nonelektrolit memiliki faktor satu karena tidak terurai menjadi ion.
Semakin besar faktor Van 't Hoff, semakin kuat pengaruhnya terhadap perubahan sifat koligatif larutan. Oleh karena itu, faktor ini penting dalam menentukan sifat fisik larutan di berbagai aplikasi kimia dan industri.(Lima, Gomes and Tran, 2020)
2.2. Larutan
Larutan adalah campuran homogen dari dua zat atau lebih. Larutan dapat berupa gas (seperti udara), padat (seperti kuningan), atau cair. Larutan meupakan campuran yang homogen dari zat terlarut dan pelarut. Larutan pekat disebut dengan zat terlarut yang banyak.
Larutan encer disebut dengan zat terlarut yang sedikit. Karena kemampuan air untuk melarutkan berbagai zat, air disebut sebagai pelarut universal. Larutan memiliki ukuran partikel kurang dari 10 nm. Larutan tidak dapat disaring. Suatu larutan pasti berfasa Tunggal.
Jika dua bagian yang membentuk larutan adalah cairan, maka pelarut adalah bagian yang jumlahnya lebih besar atau strukturnya tidak berubah. Larutan "miscible" adalah campuran yang dapat saling melarutkan satu sama lain dalam segala perbandingan (Aisah Malau and Wahyu Nugraha, 2021).
2.3. Jenis Jenis Larutan
Larutan berdasarkan Tingkat kejenuhan dibagi menjadi seperti beriku(Yusnindar,2019):
1.Larutan Elektrolit
Larutan dibagi menjadi dua kategori: larutan elektrolit (terdiri dari elektrolit kuat dan lemah) dan larutan non elektrolit. Larutan elektrolit adalah larutan yang memiliki kemampuan untuk menghantarkan arus listrik, sedangkan larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak memiliki kemampuan untuk menghantarkan arus listrik.
2. Larutan non elektrolit
Larutan non-elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik, hal ini disebabkan karena larutan tidak dapat menghasilkan ion-ion (tidak meng-ion).
Berdasarkan tingkat kejenuhan larutan dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Larutan jenuh
Larutan jenuh adalah suatu larutan yang telah mencapai titik di mana tidak mampu lagi melarutkan lebih banyak zat terlarut pada kondisi tertentu. Ketika sebuah larutan jenuh terbentuk, zat terlarut yang melebihi kapasitas larutan tersebut akan terkumpul sebagai endapan di dasar wadah. Proses pembentukan larutan jenuh melibatkan keseimbangan antara laju pelarutan dan laju pengendapan zat terlarut.
3. Larutan tak jenuh
Larutan tak jenuh merupakan suatu jenis larutan di mana jumlah zat yang dilarutkan lebih rendah dibandingkan dengan jumlah maksimum yang dapat larut pada suhu dan tekanan tertentu. Dalam larutan tak jenuh, partikel-partikel zat terlarut tersebar secara merata di dalam pelarut, tanpa adanya sisa yang tidak larut. Karakteristik ini berbeda dengan larutan jenuh di mana jumlah zat yang dilarutkan sudah mencapai batas maksimal pada kondisi tertentu. Larutan tak jenuh dapat membentuk larutan jenuh jika
4 ditambahkan lebih banyak zat terlarut atau melalui peningkatan suhu, yang memungkinkan lebih banyak zat terlarut larut dalam pelarut.
4. Larutan lewat jenuh
Larutan lewat jenuh merujuk pada suatu kondisi di mana larutan mengandung sejumlah zat terlarut melebihi batas kemampuannya untuk larut pada suhu dan tekanan tertentu.
Fenomena ini terjadi ketika suatu zat dilarutkan dalam pelarut hingga tidak mungkin menyerap lebih banyak zat lagi. Dalam larutan lewat jenuh, terdapat kelebihan zat terlarut yang umumnya akan mengendap atau membentuk kristal di dasar wadahnya.
2.4. Konsentrasi Larutan
Jumlah zat terlarut dalam setiap satuan larutan atau pelarut disebut konsentrasi larutan.
Secara sederhana, konsentrasi larutan dapat memberikan gambaran atau informasi tentang perbandingan jumlah zat terlarut dan pelarut. Ada beberapa perhitungan konsentrasi yaitu(Jankovic et al., 2019):
1. Persen konsentrasi
Dalam dunia kimia, sering kali persentase digunakan untuk menunjukkan konsentrasi larutan. Konsentrasi ini dapat dinyatakan dalam persen berat (% W/W) maupun persen volume (% V/V).
a. Persen berat
Persen berat (%W
W) =garam zat terlarut
garam larutan x 100% (2)
Keterangan:
Massa zat terlarut = adalah massa zat yang dilarutkan dalam pelarut.
Massa larutan = adalah massa total larutan b. Persen volume
Persen volume (%V
V) = volume zat terlarut
jumlah volume larutanx 100% (3) Keterangan:
Volume zat terlarut = adalah volume cairan yang dilarutkan dalam pelarut.
Jumlah volume larutan = adalah volume total larutan, yang merupakan jumlah volume zat terlarut dan volume pelarut.
2. Parts per Million (ppm) dan parts per Billion (ppb)
Ketika suatu larutan memiliki konsentrasi yang sangat rendah, satuan yang digunakan adalah parts per million, ppm (bagian per juta), dan parts per billion, ppb (bagian per miliar). Satu ppm setara dengan 1 mg zat yang terlarut dalam 1 liter larutan. Sementara itu, satu ppb setara dengan 1 µg zat yang terlarut dalam 1 liter larutan.
1 ppm = berat zat terlarut
jumlah berat larutanx 100% (4)
1 ppb = berat zat terlarut
jumlah berat larutanx 100% (5) Keterangan:
Berat zat terlarut = adalah massa zat yang terlarut dalam larutan.
Jumlah berat larutan = adalah massa total larutan (zat terlarut + pelarut).
3. Fraksi mol
Fraksi mol merupakan rasio antara jumlah mol suatu elemen dengan total jumlah mol semua elemen dalam suatu larutan.
fraksi mol = XA jumlah mol A
jumlah mol semua komponen (6)
Keterangan:
XA = adalah fraksi mol dari komponen A, nA = adalah jumlah mol komponen A, ntotal = adalah jumlah mol semua komponen 4. Molaritas/kemolaran (M)
Molaritas atau tingkat konsentrasi molar (M) larutan merupakan jumlah mol zat
5 terlarut yang terdapat dalam 1 liter larutan, atau jumlah milimol per 1 ml larutan.
Molaritas (M) =mol zat terlarut
liter larutan (7)
Keterangan:
mol zat terlarut = adalah jumlah mol zat yang terlarut dalam larutan.
liter larutan = adalah volume larutan yang mengandung zat terlarut tersebut.
5. Molalitas/kemolalan (m)
Kemolalan m, menunjukkan jumlah mol senyawa terlarut yang terdapat dalam 1000 gram pelarut. Kemolalan bersifat independen terhadap suhu dan diterapkan dalam ilmu kimia fisika, khususnya dalam karakteristik koligatif.
Molalitas (m) =mol zat terlarut
kg larutan (8)
Keterangan:
Mol zat terlarut = adalah jumlah mol zat yang terlarut (Mol)
Massa pelarut (kg) = adalah massa pelarut (bukan larutan) dalam satuan kilogram.
6. Normalitas/kenormalan (N)
Normalitas merupakan ukuran konsentrasi larutan yang dinyatakan dengan rumus ekuivalen per liter larutan.
Normalitas (N) =ekuivalen zat terlarut
liter larutan . (9)
Keterangan:
Ekuivalen zat terlarut = adalah jumlah mol zat terlarut yang terlibat dalam reaksi Liter larutan = adalah volume larutan dalam satuan liter
2.5 Kenaikan Titik Didih dan Penurunan Titik Beku
Setiap zat cair pada suhu tertentu mempunyai tekanan uap jenuh tertentu dan mempunyai harga yang tetap. Zat cair akan mendidih dalam keadaan terbuka jika tekanan uap jenuhnya sama dengan tekanan atmosfer.Pada saat udara mempunyai tekanan 1 atm, air mendidih pada suhu 100°C, tetapi jika dalam zat cair itu dilarutkansuatu zat, maka tekanan uap jenuh air itu akan berkurang. Faktor yang mempengaruhi kenaikan titik didih larutan adalah Kelarutan Semakin besar kelarutan suatu zat dalam pelarut, maka semakin besar pula kenaikan titik didih larutan. Penurunan tekanan uap jenuh larutan yang lebih rendahdibanding tekanan uap jenuh pelarut murni menyebabkan titik didih larutan lebih tinggi daripada titik didih pelarutmurni. Selisih antara titik didih suatu larutan dengan titikdidih pelarut murni disebut kenaikan titik didih larutan (ΔTb) (Herawati,2020):
𝛥𝑇𝑏 = 𝑇𝑏 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 − 𝑇𝑏 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑚𝑢𝑟𝑛𝑖 (10) Keterangan:
∆𝑇𝑏= kenaikan titik didih (℃)
1. Untuk larutan non elektrolit kenaikan titik didih dinyatakan dengan:
∆𝑇𝑏 = 𝑚 . 𝐾𝑏 (11) Keterangan:
∆𝑇𝑏= kenaikan titik didih (℃) m = molalitas larutan
Kb = tetapan kenaikan titik didih molal
2. Untuk larutan elektrolit kenaikan titik didih dinyatakan dengan:
𝑇𝑏 = 𝑚 . 𝐾𝑏 . 𝑖 (12)
Tb = kenaikan titik didih larutan m = molal solut
W = massa solut (gram) Mr = Mr solute
P = massa pelarut (gram)
Kb = kenaikan titik didih molal pelarut i = faktor Var‘t Hoff
Dapat dilihat bahwa tekanan uap larutan lebih rendah daripada tekanan uap pelarut murni.
6 Hal ini menyebabkan penurunan titik beku larutan lebih rendah dibandingkan dengan penurunan titik beku pelarut murni. Selisih temperatur titik beku larutan dengan titik beku pelarut murni disebut penurunan titik beku (ΔTf):
𝛥𝑇𝑓 = 𝑇𝑓 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑚𝑢𝑟𝑛𝑖 – 𝑇𝑓 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 (13) Menurut Hukum Backman dan Raoult bahwa penurunan titik beku dan kenaikan titik didih berbanding langsung dengan molalitas yang terlarut di dalamnya. Hukum tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Untuk penurunan titik beku non elektrolit persamaannya dinyatakan sebagai :
∆𝑇𝑓 = 𝑚 . 𝐾𝑓 = 𝑊/𝑀𝑟 . 1000/𝑝 . 𝐾𝑓 (14) 2. Untuk penurunan titik beku elektrolit persamaannya dinyatakan sebagai:
𝑇𝑓 = 𝑚 . 𝐾𝑓 . 𝑖 (15) Keterangan:
∆Tf = penurunan titik beku m = molalitas larutan
Kf = tetapan penurunan titik beku molal W = massa zat terlarut
Mr = massa molekul relatif zat terlarut
p = massa pelarut Apabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm, maka titik beku 2.6 Entalpi pelarutan
Entalpi pelarutan mengacu pada perubahan energi yang terjadi ketika zat terlarut bercampur dengan pelarut. Proses ini mencerminkan jumlah energi yang terlibat dalam pelarutan. Entalpi pelarutan bisa bersifat eksotermik (mengeluarkan panas) atau endotermik (menyerap panas). Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh suhu dan berhubungan erat dengan entalpi pelarutan. Pada umumnya, kelarutan zat padat meningkat seiring dengan kenaikan suhu, terutama jika pelarutan bersifat endotermik dan memerlukan energi untuk memisahkan partikel-partikel zat tersebut. Jika endotermik, reaksi memerlukan energi tambahan untuk memutus ikatan antar partikel solute agar bisa larut dalam solvent. Seiring kenaikan suhu, kelarutan biasanya meningkat. Jika eksotermik, reaksi menghasilkan energi saat solute larut. Meningkatnya suhu dapat mengurangi kecenderungan zat tersebut untuk larut Rumus entalpi pelarutan adalah sebagai berikut (Kilday, no date):
ΔHsol = ΔHret+ ΔH hid (12) Keterangan gambar:
ΔHsol : perubahan entalpi pelarutan.
ΔHret : entalpi yang diperlukan untuk memutuskan ikatan antar molekul zat terlarut
ΔHhid : entalpi yang dihasilkan ketika molekul pelarut membentuk ikatan dengan molekul zat terlarut
2.7 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Kelarutan
Faktor faktor yang mempengaruhi kelarutan adalah (Singh, Singh and Singh, 2021) 1. Suhu
Pada proses endotermik, kenaikan suhu meningkatkan kelarutan zat yang dilarutkan, sementara pada proses eksotermik, penurunan suhu menyebabkan penurunan kelarutan zat. Ini karena proses endotermik menyerap energi dari lingkungan sehingga meningkatkan kelarutan zat, sedangkan proses eksotermik melepaskan energi ke lingkungan yang menyebabkan penurunan kelarutan zat.
2. Ukuran Partikel
Semakin kecil ukuran partikel, semakin luas permukaannya sehingga partikel- partikel tersebut akan lebih mudah bereaksi dan kelarutan terjadi lebih cepat. Luas permukaan yang lebih besar memungkinkan lebih banyak kontak antara partikel dengan pelarut, mempercepat proses pelarutan. Selain itu, partikel kecil memiliki
7 energi permukaan yang lebih tinggi, yang mendukung pemecahan ikatan dan meningkatkan kelarutan. Oleh karena itu, pengurangan ukuran partikel adalah salah satu cara efektif untuk meningkatkan laju pelarutan zat dalam berbagai aplikasi ilmiah dan industri.
3. pH
Perubahan pH larutan dapat menyebabkan elektrolit lemah berubah bentuk dari non- ion menjadi ion, yang lebih mudah larut dalam air. Pada pH rendah, elektrolit lemah dapat terprotonasi, sedangkan pada pH tinggi, mereka dapat terionisasi, meningkatkan kelarutannya. Oleh karena itu, mengatur pH larutan merupakan strategi penting untuk mengoptimalkan kelarutan dan stabilitas elektrolit lemah dalam berbagai aplikasi.
2.8 Aplikasi
Kelarutan adalah konsep penting dalam industri kimia yang mempengaruhi berbagai proses,termasuk pemisahan, reaksi kimia, dan formulasi produk. Larutan penting dalam proses pengolahan air, di mana zat pencemar perlu dilarutkan atau diendapkan agar dapat dihilangkan. Bahan kimia koagulan (seperti aluminium sulfat atau besi klorida) ditambahkan ke dalam air mentah untuk membentuk gumpalan kecil dengan partikel pencemar yang terlarut. Gumpalan kecil ini kemudian bergabung membentuk partikel yang lebih besar, disebut flok, yang lebih mudah diendapkan. Setelah proses flokulasi, air mengalir ke tangki sedimentasi. Di sini, flok yang terbentuk akan mengendap di dasar tangki karena gravitasi, sementara air bersih berada di bagian atas.Air yang berada di bagian atas tangki sedimentasi kemudian dialirkan melalui berbagai media penyaring (seperti pasir, kerikil, atau karbon aktif) untuk menghilangkan partikel kecil yang masih tersisa. Air yang telah difiltrasi kemudian diolah dengan bahan disinfektan (seperti klorin atau ozon) untuk membunuh bakteri, virus, dan mikroorganisme patogen lainnya. Proses ini sering kali melibatkan pelarutan disinfektan ke dalam air untuk memastikan penyebaran yang merata. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam mengenai entalpi pelarutan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya sangat penting untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan dalam produksi industry (Bao et al., 2025).
3. Pelaksanaan Praktikum 3.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum kelarutan sebagai fungsi suhu antara lain, ice bath, tabung reaksi besar, termometer, pipet ukuran 10 ml, spatula, piknometer, buret, statif, klem, erlenmeyer, magneti stirer, magnetig bar, beaker glass, labu ukur, dan gelas ukur.
3.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan kelarutan fungsi suhu yaitu asam oksalat, NaoH 0,5 N, dan aquadest 100 ml.
3.3 Rangkaian Alat
Berisikan gambar rangkaian alat dan diberikan judul gambar
8 Keterangan :
1. Klem 2. Statif 3. Buret 4. Keran 5. Erlenmayer
Gambar 3.1 Rangkaian Alat Titrasi
Keterangan:
1. Tombol on/off 2. Top plate
3. Knop pengatur kecepatan 4. Knop pengatur suhu 5. Panel display 6. Beaker glass 7. Magnetic bar Gambar 3.2 alat penimbangan
3.4 Prosedur
Kristal asam oksalat dilarutkan dalam 100 ml aquadest sedikit demi sedikit sampai jenuh pada suhu kamar lebih dari 25°C menggunakan magnetic stirrer. Larutan jenuh bebas kristal sebanyak 25 ml diambil, kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi besar volume lebih dari 50 ml. Tabung reaksi tersebut dimasukkan ke dalam ice bath pada suhu 25°C hingga terjadi kesetimbangan kurang lebih 30 menit. Setelah itu, suhu larutan disesuaikan hingga mencapai variabel suhu yang ditentukan. Sebanyak 10 ml larutan jenuh bebas kristal diambil untuk dilakukan penimbangan dengan piknometer, kemudian dilakukan percobaan dengan larutan NaOH 0,5 N menggunakan indikator PP. Lalu percobaan dilakukan sebanyak 2 kali dengan masing-masing volume titrat sebanyak 10 ml. Densitas larutan jenuh ditentukan pada langkah sebelumnya, dan percobaan diulang pada suhu sesuai dengan variabel yang diberikan. Tujuan titrasi pada percobaan ini untuk menentukan konsentrasi suatu zat dalam suatu larutan.
4. Hasil dan Pembahasan
Metode yang digunakan pada percobaan kelarutan sebagai fungsi suhu adalah titrasi dan penurunan titik beku. Langkah pertama adalah membuat larutan asam oksalat dengan melarutkan 10 gram asam oksalat ke dalam 100 ml aquadest hingga mencapai batas ukur pada labu ukur sebanyak 50 ml. Tujuannya adalah untuk membuat larutan asam oksalat dengan konsentrasi yang diketahui untuk digunakan dalam percobaan. Kemudian, larutan asam oksalat dimasukkan ke dalam tabung reaksi besar dan didinginkan menggunakan ice bath selama 30 menit. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi daya larut suatu larutan pada suhu rendah. Penambahan garam grosok ke dalam ice bath bertujuan untuk memperlambat kenaikan suhu dan menjaga titik beku es batu. Suhu dalam tabung reaksi diukur secara berkala menggunakan termometer hingga mencapai variabel yang telah ditentukan. Tujuannya adalah untuk mencatat perubahan suhu selama proses penurunan titik beku guna memahami hubungan suhu dengan kelarutan asam oksalat. Selanjutnya, larutan asam oksalat bebas kristal diambil menggunakan pipet dan ditimbang sebagai massa piknometer isi. Tujuannya adalah
9 untuk mengukur massa larutan asam oksalat yang bebas kristal untuk analisis lebih lanjut.
Setelah ditimbang, larutan dibagi menjadi dua dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer untuk dilakukan titrasi secara duplo. Titrasi dilakukan dengan memasukkan NaOH ke dalam buret sesuai batas, kemudian 10 ml larutan asam oksalat yang telah ditimbang menggunakan piknometer dan neraca analitik dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Selanjutnya, indikator PP diteteskan pada larutan asam oksalat dan diaduk sedikit. Lalu, dilakukan proses titrasi dengan cara meneteskan larutan NaOH menggunakan buret ke dalam larutan asam oksalat yang telah ditambahkan indikator PP secara perlahan hingga mencapai titik akhir titrasi. Tujuannya adalah untuk menentukan konsentrasi asam oksalat melalui proses titrasi dengan NaOH sampai terjadi perubahan warna menjadi merah muda samar-samar. Titik akhir titrasi dapat diketahui apabila terjadi perubahan warna tersebut, dan pada waktu mencapai titik akhir titrasi maka penetesan NaOH diakhiri. Proses titrasi tersebut dilakukan sebanyak dua kali. Tujuannya adalah untuk menentukan konsentrasi larutan asam oksalat dan dilakukan secara duplo agar lebih akurat dalam mendapatkan rata-rata volume yang dibutuhkan natrium hidroksida untuk mentitrasi larutan asam oksalat. Dari hasil percobaan tersebut, didapatkan data sebagai berikut:
Tabel IV.1 Perhitungan Larutan Asam Oksalat pada Variasi Suhu
Tabel IV.2 Ms dan Log Ms
Suhu (C) Suhu(K) 1/T(K) Ms(molal) LOG Ms(molal)
5 278.15 0.00360 0.766330941 -0.115583639
9 282.15 0.00354 0.779685539 -0.108080521
14 287.15 0.00348 0.809639472 -0.091708327
17 290.15 0.00345 0.913989856 -0.039058624
Pada hasil percobaan yang telah dilakukan, diperoleh data pada tabel IV.1 dan IV.2 dengan dua kali percobaan pada variabel suhu 5°𝐶, 9°𝐶, 14°𝐶, dan 17°𝐶. Tabel IV.1 menampilkan data perhitungan larutan asam oksalat pada variasi suhu. Data yang diperoleh adalah densitas larutan, jumlah mol asam oksalat, massa pelarut, dan normalitas asam oksalat.
Densitas larutan diperoleh dari massa piknometer isi dikurangi massa piknometer kosong dibagi volume piknometer. Lalu Mol asam oksalat diperoleh dari normalitas dikali volume sampel dibagi 1000 dikali valensi dari asam oksalat. Data Massa pelarut diperoleh dari perhitungan densitas dikali volume sampel dikurangi mol asam oksalat dikurangi berat molekul dari asam oksalat. Mengetahui nilai Perhitungan normalitas diperoleh dari massa dikali 1000 dikali valensi asam oksalat dibagi berat molekul dikali volume. Tabel IV.2 menyajikan data Ms (molalitas) dan log Ms pada variasi suhu yang sama seperti tabel IV.1.
Data tabel IV.2 digunakan untuk menganalisis pengaruh suhu terhadap kelarutan dari asam oksalat. Suhu dalam satuan kelvin diperoleh dari penambahan 273,15 pada suhu dalam celcius.
Nilai 1/T dihitung untuk menganalisis hubungan linear antara kelarutan dengan suhu.
Perhitungan molalitas (Ms) diperoleh dari membagi jumlah mol asam oksalat dengan massa asam oksalat dikalikan 1000. Log Ms diperoleh dari perhitungan logaritma basis 10 dari nilai Ms.
5 1.05046 0.00805 10.5046 1.61 100.49655
9 1.04369 0.0081375 10.4369 1.6275 100.4287625
14 1.04985 0.0085 10.4985 1.7 100.49
17 0.9464 0.00865 9.464 1.73 99.45535
Suhu(C) Densitas(gr/ml) Mol asam oksalat
Massa asan oksalat
Normalitas asam oksalat
Massa pelarut (gr)
10 4.1 Grafik Hubungan antara Suhu dan Kelarutan Zat
Gambar 4. 1 Grafik Hubungan antara Suhu dan Kelarutan Zat
Pada gambar 4.1, hubungan antara massa terlarut (Ms) dengan suhu (T) dalam derajat Celsius (°K) dapat dilihat. Pada sumbu-x, kita melihat nilai variabel suhu, sedangkan sumbu-y menunjukkan logaritma massa terlarut, yang mengindikasikan tingkat kelarutan.
Grafik yang ditampilkan menunjukkan kurva tidak linear, baik naik maupun turun. Grafik ini menghasilkan persamaan linear y= 0,0111x – 2,3306 dan nilai R² sebesar 0,7737. Nilai slope diketahui sebesar 0,0111. Nilai-nilai ini diperoleh menggunakan metode kuadrat terkecil untuk meminimalkan selisih kuadrat antara nilai prediksi dan observasi. kenaikan ini menunjukkan bahwa kelarutan zat meningkat dengan peningkatan suhu pada awalnya . Kelarutan zat mencapai titik maksimum pada suhu tertentu. Ketika suhu meningkat, energi kinetik partikel dalam larutan juga meningkat, menyebabkan partikel-partikel dalam larutan bergerak dengan kecepatan yang lebih tinggi dan energi yang lebih besar. Faktor lain yang mempengaruhi kurva menjadi linear adalah ukuran partikel. Semakin kecil ukuran partikel, semakin luas permukaannya sehingga partikel-partikel tersebut akan lebih mudah bereaksi dan kelarutan terjadi lebih cepat. Luas permukaan yang lebih besar memungkinkan lebih banyak kontak antara partikel dengan pelarut, mempercepat proses pelarutan. Selain itu, partikel kecil memiliki energi permukaan yang lebih tinggi, yang mendukung pemecahan ikatan dan meningkatkan kelarutan. Oleh karena itu, pengurangan ukuran partikel adalah salah satu cara efektif untuk meningkatkan laju pelarutan zat dalam berbagai aplikasi ilmiah dan industri (Singh, Singh and Singh, 2021).
4.2 Hubungan antara Suhu dan Log ms
Gambar 4. 2 Hubungan antara Suhu dan Log ms
y = 0,0111x - 2,3306 R² = 0,7737
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
276 278 280 282 284 286 288 290 292
MS
T(K)
y = -462,99x + 1,5398 R² = 0,7811
-0.14 -0.12 -0.1 -0.08 -0.06 -0.04 -0.02 0
0.00340 0.00345 0.00350 0.00355 0.00360 0.00365
Log Ms
1/T (K)
11 Grafik di atas menunjukkan hubungan antara logaritma massa terlarut (Log Ms) dengan kebalikan suhu (1/T) dalam Kelvin. Grafik ini menggambarkan pengaruh suhu terhadap kelarutan suatu zat. Dari grafik diatas didapatkan data suhu dalam satuan Kelvin, kemudian nilai 1/T(K) yang diperoleh dari kebalikan suhu dalam satuan Kelvin. Sementara itu, nilai Log Ms dihitung dari logaritma basis 10 molalitas (Ms) yang diperoleh dari perhitungan jumlah mol dari asam oksalat yang larut dalam setiap kilogram pelarut. Setelah itu, hubungan 1/T(K) dan Log Ms dilakukan plot dalam bentuk grafik dan menghasilkan persamaan linear y = -462,99x + 1,5398 dan R2 sebesar 0,7811. Persamaan yang diperoleh tersebut menunjukkan nilai slope dan intercept dari grafik tersebut yang masing- masing diperoleh sebesar -462,99. Berdasarkan persamaan yang diperoleh dapat diketahui nilai panas pelarutan dengan cara nilai slope dikali dengan 2,303 kemudian dikalikan dengan nilai R.
Sehingga nilai panas pelarutan didapatkan sebesar 8.864,9352 J/mol.K. Faktor yang memengaruhi grafik ini adalah suhu dan jenis zat terlarut. Nilai ∆H (entalpi pelarutan) dapat dihitung dari slope grafik, yang dalam hal ini adalah -462,99. Slope yang negatif menunjukkan bahwa proses pelarutan bersifat eksotermik. Resultan dari hubungan ini adalah persamaan garis lurus y = -462,99x + 1,5398, dengan R² sebesar 0,7811 , yang menunjukkan bahwa hubungan antara Log Ms dan 1/T cukup kuat (Singh, Singh and Singh, 2021).
Berdasarkan penelitian (Indri Astuti et al., 2022), hasil percobaan ini menunjukkan hasil yang sesuai dengan teori tersebut, di mana pada grafik, hubungan antara massa terlarut (Ms) dengan suhu (T) adalah perbanding lurus; semakin tinggi suhu, semakin tinggi pula massa terlarut. Grafik kedua juga mendukung teori ini, di mana hubungan antara logaritma massa terlarut (Log Ms) dengan kebalikan suhu (1/T) dalam Kelvin berbanding lurus. Data menunjukkan bahwa perubahan suhu memiliki dampak signifikan terhadap massa terlarut dalam larutan. Selain itu, penelitian ini memperkuat pemahaman kita tentang dinamika massa terlarut dalam berbagai kondisi suhu. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan bukti empiris yang kuat untuk teori tersebut dan membuka peluang untuk aplikasi praktis di berbagai bidang.
Dari percobaan yang telah dilakukan, hasil menunjukkan bahwa percobaan tersebut sesuai dengan tujuan, yaitu untuk menentukan kelarutan suatu zat dengan variasi suhu. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa kelarutan asam oksalat telah diukur pada empat variasi suhu: 5°C, 9°C, 14°C, dan 17°C. Hal ini menegaskan bahwa percobaan telah mencapai tujuannya untuk mengevaluasi pengaruh suhu terhadap kelarutan asam oksalat. Dari tujuan ke dua hasil dari panas pelarutan dapat di tentukan. Hasil dari perhitungan panas pelarutan sudah mencapai tujuan menghitung panas diferensial. Karena nilai panas pelarutan dapat ditentukan dari perolelahan nilai slope yang dihasilkan oleh data suhu dengan log Ms.
5. Kesimpulan
Dalam percobaan kelarutan sebagai fungsi suhu, data kelarutan asam oksalat diperoleh pada suhu 278.15K, dengan nilai ms 0.766330941 mol/gr, 282.15 K dengan nilai Ms 0.779685539 mol/gr, 287.15 K dengan nilai Ms 0.809639472 mol/gr dan 290.15 K dengan nilai Ms 0.913989856 mol/gr. Reaksi yang terjadi dalam larutan dikenal sebagai panas pelarutan. Nilai panas pelarutan diferensial yang dihasilkan selama proses pelarutan asam oksalat adalah 8.864,9352 J/mol.K. Pada percobaan kelarutan sebagai fungsi suhu, peningkatan suhu meningkatkan kelarutan. Percobaan ini menunjukkan bahwa kelarutan zat terlarut dalam pelarut meningkat dengan peningkatan suhu.
Daftar Pustaka
Aisah Malau, N. and Wahyu Nugraha, A. (2021) ‘Study Of Energy And Structure On Intermolecular Interactions In Organic Solvents Using Computational Chemistry Method’.
Bao, Z. et al. (2025) ‘A dataset on formulation parameters and characteristics of drug-loaded PLGA microparticles’, Scientific Data, 12(1), p. 364. Available at:
https://doi.org/10.1038/s41597-025-04621-9.
12 Faúndez, C.A., Valderrama, J.O. and Campusano, R.A. (2020) ‘Henry’s law constant as a function of temperature and pressure to calculate the solubility of difluoromethane (R-32) in ionic liquids’, International Journal of Refrigeration, 119, pp. 401–409.
Herawati N. and Roni A.K. (2020). Kimia fisika II. Rafah Press UIN Raden Fatah Palembang.
Palembang
Indri Astuti, S. et al. (2022) ‘PENGARUH SUHU TERHADAP KELARUTAN DAN VISKOSITAS PADA GULA PASIR’, Jurnal Pendidikan IPA, 11(1), pp. 19–21. Available at: https://doi.org/10.20961/inkuiri.v11i1.52179.
Jankovic, S. et al. (2019) ‘Application of the solubility parameter concept to assist with oral delivery of poorly water-soluble drugs – a PEARRL review’, Journal of Pharmacy and Pharmacology. Blackwell Publishing Ltd, pp. 441–463.
Kilday, M. V (no date) The Enthalpy of Solution of SRM 1655 (KCI) in H 2 0, JOURNAL OF RESEARCH of the National Bureau of Standard.
Lima, E.C., Gomes, A.A. and Tran, H.N. (2020) ‘Comparison of the nonlinear and linear forms of the van’t Hoff equation for calculation of adsorption thermodynamic parameters (∆S° and
∆H°)’, Journal of Molecular Liquids, 311. Available at:
https://doi.org/10.1016/j.molliq.2020.113315.
Singh, N., Singh, Amar Pal and Singh, Ajeet Pal (2021) ‘Solubility: An overview’, International Journal of Pharmaceutical Chemistry and Analysis, 7(4), pp. 166–171.
Yusnindar Y. (2019). Belajar mudah Kimia analisis. Educenter Indonesia,Jakarta.
13 Lampiran 1
Gambar 1. Menimbang bahan Gambar 2. Melarutkan kristal asam
Asam oksalat 10 gram oksalat
Gambar 3. Memasukkan tabung Gambar 4. Menimbang bahan NaOH
Reaksi ke dalam ice bath sebanyak 2 gram
Gambar 5. Melakukan titrasi Gambar 6. Hasil akhir larutan setelah
dengan menambahkan dilakukan titrasi
indikator PP
14 Lampiran 2
Tabel 1 Pengamatan nilai densitas dari asam oksalat Suhu
(C)
Berat Piknometer (gr) Volume titrasi (mL)
Rata
Kosong Isi 1 2
5 11.67 22.1746 32.4 32 32.2
9 11.67 22.1069 32.5 32.6 32.55
14 11.67 22.1685 34 34 34
17 11.67 21.134 32 37.2 34.6
Tabel 2 Perhitungan larutan asam oksalat pada variasi suhu Suhu(C) Densitas(gr/ml
)
Mol asam oksalat
Massa asan oksalat
Normalitas asam oksalat
(N)
Massa pelarut (gr)
5 1.05046 0.00805 10.5046 1.61 100.49655
9 1.04369 0.0081375 10.4369 1.6275 100.428762
5
14 1.04985 0.0085 10.4985 1.7 100.49
17 0.9464 0.00865 9.464 1.73 99.45535
Tabel 3 Ms dan Log Ms
Suhu (C) Suhu(K) 1/T(K) Ms(molal) LOG Ms(molal)
5 278.15 0.00360 0.766330941 -0.115583639
9 282.15 0.00354 0.779685539 -0.108080521
14 287.15 0.00348 0.809639472 -0.091708327
17 290.15 0.00345 0.913989856 -0.039058624
Perhitungan
1. Pembuatan Larutan NaOH, 0,5 N N = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎
𝑀𝑟 ×1000 𝑣 0,5 N = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎
40 𝑔𝑟
𝑚𝑜𝑙
× 1000 100 𝑚𝑙 massa = 0,5 𝑁 × 40 𝑔𝑟
𝑚𝑜𝑙
10 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 = 2 𝑔𝑟
Jadi dibutuhkan 2 gram NaOH murni untuk dilarutkan dengan aquadest sampai 100 ml 2. Perhitungan Densitas
a.) Pada suhu 5°𝑐
𝜌 = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑖𝑠𝑖 − 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔 𝑣 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
= 22,174 𝑔𝑟 − 11,67 𝑔𝑟 10 𝑚𝑙
= 1,05016 𝑔𝑟
𝑚𝑙
Jadi densitas pada suhu 5°𝑐 adalah 1,05016 𝑔𝑟
𝑚𝑙
b.) Pada suhu 9°𝑐
15 𝜌 = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑖𝑠𝑖 − 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔
𝑣 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 22,1069 𝑔𝑟 − 11,67 𝑔𝑟
10 𝑚𝑙 = 1,02369𝑔𝑟
𝑚𝑙
Jadi densitas pada suhu 9°𝑐 adalah 1,02369 𝑔𝑟
𝑚𝑙
c.) Pada suhu 14°𝑐
𝜌 = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑖𝑠𝑖 − 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔 𝑣 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
= 22,1685 𝑔𝑟 − 11,67 𝑔𝑟 10 𝑚𝑙
= 1,04985𝑔𝑟
𝑚𝑙
Jadi densitas pada suhu 14°𝑐 adalah 1,04985 𝑔𝑟
𝑚𝑙
d.) Pada suhu 17°𝑐
𝜌 = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑖𝑠𝑖−𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔 𝑣 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
= 21,134 𝑔𝑟 − 11,67 𝑔𝑟 10 𝑚𝑙
= 0,9464𝑔𝑟 𝑚𝑙
Jadi densitas pada suhu 17°𝑐 adalah 0,9464 𝑔𝑟
𝑚𝑙
3. Perhitungan Normalitas asam oksalat a.) Suhu 5°c
𝑁1𝑉1 = 𝑁2𝑉2
𝑁1.10𝑚𝑙 = 0,5𝑁. 32,2𝑚𝑙 N1 = 0,5N ×32,2ml
10 ml
𝑁1 = 1,61 𝑁
Jadi normalitas pada suhu 5°𝑐 adalah 1,61N b.) Suhu 9°c
𝑁1𝑉1 = 𝑁2𝑉2
𝑁1.10𝑚𝑙 = 0,5𝑁. 32,55𝑚𝑙 N1 = 0,5N ×32,55ml
10 ml
𝑁1 = 1,6275 𝑁
Jadi normalitas pada suhu 9°𝑐 adalah 1,6275 N c.) Suhu 14°c
𝑁1𝑉1 = 𝑁2𝑉2
𝑁1.10𝑚𝑙 = 0,5𝑁. 34𝑚𝑙
16 N1 = 0,5N ×34ml
10 ml
𝑁1 = 1,7 𝑁
Jadi normalitas pada suhu 14°𝑐 adalah 1,7 N d.) Suhu 17°c
𝑁1𝑉1 = 𝑁2𝑉2
𝑁1.10𝑚𝑙 = 0,5𝑁. 34,6𝑚𝑙 N1 = 0,5N ×34,6ml
10 ml
𝑁1 = 1,73 𝑁
Jadi normalitas pada suhu 17°𝑐 adalah 1,73N 4. Perhitungan mol asam oksalat
a.) Suhu 5°c
𝑛 = 𝑁 × 𝑉 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 1000 × 𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖
= 1,61𝑁 × 10 𝑚𝑙 1000 × 1
= 0,00805 𝑚𝑜𝑙
Jadi nilai mol pada suhu 5°𝑐 adalah 0,00805 𝑚𝑜𝑙 b.) Suhu 9°c
𝑛 = 𝑁 × 𝑉 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 1000 × 𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖
= 1,6275𝑁 × 10 𝑚𝑙 1000 × 1
= 0,0081375 𝑚𝑜𝑙
Jadi nilai mol pada suhu 9°𝑐 adalah 0,0081375 𝑚𝑜𝑙 c.) Suhu 14°c
𝑛 = 𝑁 × 𝑉 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 1000 × 𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖
= 1,7𝑁 × 10 𝑚𝑙 1000 × 1 = 0,0085 𝑚𝑜𝑙
Jadi nilai mol pada suhu 14°𝑐 adalah 0,0085𝑚𝑜𝑙 d.) Suhu 17°c
𝑛 = 𝑁 × 𝑉 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 1000 × 𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖 = 1,73𝑁 × 10 𝑚𝑙
1000 × 1
17 = 0,00865 𝑚𝑜𝑙
Jadi nilai mol pada suhu 17°𝑐 adalah 0,00865𝑚𝑜𝑙 5. Perhitungan massa asam oksalat
a.) Suhu 5°c
𝑚 = 𝜌𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 × 𝑉𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 = 1,05046𝑔𝑟
𝑚𝑙× 10 𝑚𝑙
= 10,5046 𝑔𝑟
Jadi massa asam oksalat yang dibutuhkan pada 5°𝑐 adalah 10,5046 𝑔𝑟 b.) Suhu 9°c
𝑚 = 𝜌𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 × 𝑉𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 = 1,04369𝑔𝑟
𝑚𝑙× 10 𝑚𝑙
= 10,4369 𝑔𝑟
Jadi massa asam oksalat yang dibutuhkan pada 9°𝑐 adalah 10,4369 𝑔𝑟 c.) Suhu 14°c
𝑚 = 𝜌𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 × 𝑉𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 = 1,04955𝑔𝑟
𝑚𝑙× 10 𝑚𝑙
= 10,4985 𝑔𝑟
Jadi massa asam oksalat yang dibutuhkan pada 14°𝑐 adalah 10,4985 𝑔𝑟 d.) Suhu 17°c
𝑚 = 𝜌𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 × 𝑉𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 = 0,9464𝑔𝑟
𝑚𝑙× 10 𝑚𝑙
= 9,464 𝑔𝑟
Jadi massa asam oksalat yang dibutuhkan pada 17°𝑐 adalah 9,464 𝑔𝑟 6. Perhitungan massa pelarut
a.) Suhu 5°c
𝑚 = 𝜌𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 × 𝑉𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 − (𝑚𝑜𝑙 𝐶2𝐻2𝑂4 − 𝐵𝑚 𝐶2𝐻2𝑂4) = 1,05046𝑔𝑟
𝑚𝑙𝑥 10 𝑚𝑙 − (0,00805 𝑚𝑜𝑙 × 90 𝑔𝑟
𝑚𝑜𝑙) = 100,497 𝑔𝑟
Jadi massa pelarut yang dibutuhkan pada 5°𝑐 adalah 100,497 𝑔𝑟 b.) Suhu 9°c
𝑚 = 𝜌𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 × 𝑉𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 − (𝑚𝑜𝑙 𝐶2𝐻2𝑂4 − 𝐵𝑚 𝐶2𝐻2𝑂4) = 1,04369𝑔𝑟
𝑚𝑙𝑥 10 𝑚𝑙 − (0,0082 𝑚𝑜𝑙 × 90 𝑔𝑟
𝑚𝑜𝑙) = 100,4288 𝑔𝑟
Jadi massa pelarut yang dibutuhkan pada 9°𝑐 adalah 100,4288 𝑔𝑟 c.) Suhu 14°c
𝑚 = 𝜌𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 × 𝑉𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 − (𝑚𝑜𝑙 𝐶2𝐻2𝑂4 − 𝐵𝑚 𝐶2𝐻2𝑂4) = 1,04985𝑔𝑟
𝑚𝑙𝑥 10 𝑚𝑙 − (0,0085 𝑚𝑜𝑙 × 90 𝑔𝑟
𝑚𝑜𝑙) = 100,49 𝑔𝑟
Jadi massa pelarut yang dibutuhkan pada 14°𝑐 adalah 100,49 𝑔𝑟 d.) Suhu 17°c
𝑚 = 𝜌𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 × 𝑉𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 − (𝑚𝑜𝑙 𝐶2𝐻2𝑂4 − 𝐵𝑚 𝐶2𝐻2𝑂4)
18 = 0, 9464𝑔𝑟
𝑚𝑙𝑥 10 𝑚𝑙 − (0,00865 𝑚𝑜𝑙 × 90 𝑔𝑟
𝑚𝑜𝑙) = 109,456 𝑔𝑟
Jadi massa pelarut yang dibutuhkan pada 17°𝑐 adalah 100,456 𝑔𝑟 7. Perhitungan Ms dan log Ms
a.) Suhu 5°c 𝑚𝑠 = 𝑛
𝑚× 1000
= 0,00805 𝑚𝑜𝑙
1,05046 𝑔𝑟 × 1000
= 0,766331 𝑚𝑜𝑙/𝑔𝑟, log 𝑀𝑠 = −0,115583639
Jadi nilai log Ms adalah −0,115583639 b.) Suhu 9°c
𝑚𝑠 = 𝑛
𝑚× 1000 = 0,0082 𝑚𝑜𝑙
1,04369 𝑔𝑟× 1000
= 0,779639 𝑚𝑜𝑙/𝑔𝑟 log 𝑀𝑠 = −0,108080521
Jadi nilai log Ms adalah −0,108080521 c.) Suhu 14°c
𝑚𝑠 = 𝑛
𝑚× 1000
= 0,0085𝑚𝑜𝑙
1,04985 𝑔𝑟× 1000
= 0,809639 𝑚𝑜𝑙/𝑔𝑟 log 𝑀𝑠 = −0,039058624
Jadi nilai log Ms adalah −0,039058624 d.) Suhu 17°c
𝑚𝑠 = 𝑛
𝑚× 1000
= 0,00865 𝑚𝑜𝑙
0,9464 𝑔𝑟 × 1000
= 0,91399 𝑔𝑟
log 𝑀𝑠 = −0,039058624
Jadi nilai log Ms adalah −0,039058624 8. Perhitungan Nilai Panas Pelarutan Differensial
∆𝐻𝐷𝑆 = −𝑠𝑙𝑜𝑝𝑒 × (2,303 × 𝑅)
∆𝐻𝐷𝑆 = −(−462,99) × (2,303 × 8,314)
∆𝐻𝐷𝑆 = 8864,9352 J/mol.K
Jadi nilai panas pelarutan adalah 8864,9352 J/mol.K