Nama : Rahmalia Norfaizah Program Studi : Matematika
Mata Kuliah : Pengantar Pendidikan untuk Anak Berkebutuhan Khusus
Dosen Pengampu : Yuni Suryaningsih, S.Pd., M.Pd.
LEMBAR KERJA I
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan benar!
1. Jelaskan pembeda utama antara ABK permanen dengan ABK temporer!
Jawab:
Pembeda utama antara ABK permanen dengan ABK temporer menurut Mirnawati (2019: 4) adalah anak berkebutuhan khusus yang bersifat sementara (temporer) adalah anak yang mengalami hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang disebabkan oleh faktor-faktor eksternal. Misalnya anak yang mengalami gangguan emosi karena trauma, dan sebagainya. Sedangkan anak berkebutuhan khusus yang bersifat tetap (permanen) adalah anak-anak yang mengalami hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang bersifat internal dan akibat langsung dari kondisi kecacatan, yaitu anak yang kehilangan fungsi penglihatan, gangguan perkembangan kecerdasan dan kognisi, gangguan gerak (motorik), dan sebagainya.
2. Jelaskan perbedaan karakteristik disabilitas intelektual/tunagrahita, dengan peserta didik lamban belajar dan kesulitan belajar!
Jawab:
Karakteristik disabilitas intelektual/tunagrahita, dengan peserta didik lamban belajar dan kesulitan belajar menurut Ashar dan Rahmahtrisilvia (2022, 6-7) sebagai berikut.
1. Disabilitas Intelektual/Tunagrahita
ABK dengan Disabilitas Intelektual mereka memiliki kemampuan intelektual di bawah rata-rata, menunjukkan disabilitas fungsi kecerdasan secara umum berasa di bawah usia kronologisnya. Membutuhkan layanan pendidikan khusus untuk mendukung perkembangan mereka. Ada 3 kelompok disabilat intelektual sebagai berikut.
a. Kelompok Disabilitas Intelektual Ringan 1) IQ ratarata dalam kisaran 50 s/d 70.
2) Termasuk kelompok yang masih mampu didik.
b. Kelompok Disabilitas Intelektual Sedang 1) IQ antara 30 s/d 50.
2) Menunjukkan tingkat ketunaan yang lebih signifikan.
c. Kelompok Disabilitas Intelektual Berat 1) IQ ratarata 30 ke bawah.
2) Memerlukan bantuan orang lain dalam kegiatan sehari-harinya.
3) Dapat dikategorikan sebagai anak yang memerlukan perawatan khusus.
2. Lamban Belajar
Lamban belajar atau disebut juga dengan slow learner adalah suatu kondisi disabilitas intelektual yang ditunjukkan dengan hasil tes IQ berkisar antara 80-90. Kondisi ini berdampak pada proses pemerolehan informasi dan pengolahan informasi saat belajar yang secara umum lebih lambat dibandingkan anak dengan IQ rata-rata (>90). Adapun kondisi lamban belajar memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Pencapaian akademik di bawah rekan-rekan seumurannya.
b. Rentang konsentrasi yang pendek
c. Kemampuan berimajinasi dan berpikir kreatif yang terbatas d. Lambat dalam memberikan respon
e. Kemampuan mengingat yang terbatas
f. Kemampuan untuk berpikir abstrak, melakukan evaluasi dan menentukan konsekuensi terbatas
g. Kemampuan pengelolaan diri, dan adaptasi lingkungan terbatas h. Kemampuan untuk menyampaikan gagasan, menyampaikan kondisi
yang abstrak mengalami kesulitan (Parveen, Reba & Khan, 2014).
3. Kesulitan Belajar
ABK dengan kesulitan belajar ditandai oleh ketidakmampuan dalam mengikuti pelajaran, yang berdampak pada hasil akademik mereka, khususnya dalam membaca (diseleksia), menulis (disgrafia), dan berhitung (diskalkulia). Kesalahan-kesalahan ini cenderung terus ada sepanjang hidup mereka. Setiap jenis kesulitan belajar memiliki karakteristik khusus sebagai berikut.
a. Disleksia (Kesulitan Membaca)
1) Perkembangan kemampuan membaca yang terlambat.
2) Kemampuan memahami isi bacaan yang rendah.
3) Sering melakukan banyak kesalahan saat membaca.
b. Disgrafia (Kesulitan Menulis)
1) Saat menyalin tulisan, sering terlambat selesai.
2) Sering salah dalam menulis huruf seperti b dengan d, p dengan q, v dengan u, serta angka 2 dengan 5, 6 dengan 9, dsb.
3) Hasil tulisan jelek dan sulit terbaca.
4) Kesalahan seperti huruf terbalik atau hilang, serta kesulitan menulis lurus pada kertas tak bergaris.
c. Diskalkulia (Kesulitan Berhitung):**
1) Sering salah dalam menulis angka, misalnya 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya.
2) Bingung atau rancu dengan simbol-simbol matematis seperti tanda +, -, x, dan :.
Karakteristik ini mencerminkan kesulitan yang beragam dan menuntut pendekatan pembelajaran yang disesuaikan untuk membantu ABK mengatasi tantangan mereka dalam proses pendidikan.
Berdasarkan karakteristik yang telah di paparkan, disabilitas intelektual/tunagrahita, peserta didik lamban belajar, dan peserta didik dengan kesulitan belajar memiliki perbedaan karakteristik yang signifikan. Disabilitas intelektual/tunagrahita ditandai dengan kemampuan intelektual di bawah rata- rata, sedangkan peserta didik lamban belajar memiliki kecepatan belajar yang lebih lambat meskipun kemampuan intelektual mendekati rata-rata. Sementara itu, peserta didik dengan kesulitan belajar mengalami kesulitan spesifik dalam area pembelajaran seperti membaca, menulis, atau berhitung, tanpa harus memiliki keterbatasan intelektual. Pembedaan ini penting untuk merancang pendekatan pendidikan yang sesuai dan memberikan dukungan yang tepat bagi setiap kelompok peserta didik.
3. Jelaskan perbedaan karakteristik peserta didik ADHD, dengan peserta didik spektrum autis!
Jawab:
Karakteristik peserta didik ADHD dengan peserta didik spektrum autis menurut Ashar dan Rahmahtrisilvia (2022, 8-12) sebagai berikut.
1. ADHD
ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) ditandai oleh kombinasi atau dominasi salah satu dari dua hambatan utama yaitu kurang perhatian atau hiperaktivitas-impulsif. Tiga jenis gejala tersebut memberikan dasar untuk diagnosis dan penanganan ADHD sesuai dengan karakteristik yang tampak pada individu.
a. Kurang Perhatian
1) Gagal memberikan perhatian cermat pada detail atau membuat kesalahan ceroboh.
2) Kesulitan memusatkan perhatian pada tugas atau aktivitas.
3) Terlihat tidak mendengarkan ketika diajak bicara langsung.
4) Tidak mengikuti instruksi dan gagal menyelesaikan tugas sekolah.
5) Kesulitan mengatur tugas dan aktivitas.
6) Menghindari atau enggan melakukan tugas membutuhkan usaha mental dalam jangka waktu lama.
7) Kehilangan barang-barang penting secara sering.
8) Mudah terganggu dan pelupa dalam aktivitas sehari-hari.
b. Hiperaktif dan Impulsif
1) Gelisah, mengetuk tangan atau kaki, atau menggeliat di kursi.
2) Sulit untuk tetap duduk diam.
3) Melakukan kegiatan ekstrim tanpa memperhatikan situasi.
4) Kesulitan bermain atau mengambil bagian dalam kegiatan dengan tenang.
5) Berbicara secara berlebihan.
6) Melontarkan jawaban sebelum pertanyaan selesai.
7) Kesulitan menunggu giliran.
8) Sering menyela atau mengganggu orang lain.
c. Jenis Gejala ADHD
1). Gabungan: Terdapat cukup gejala dari kurang perhatian dan hiperaktivitas-impulsif.
2). Hambatan Perhatian: Gejala kurang perhatian cukup, tanpa hiperaktivitas-impulsif.
3). Hambatan Hiperaktif-Impulsif: Gejala hiperaktif-impulsif cukup, tanpa kurang perhatian.
2. Spektrum Autis
Karakteristik anak dengan spektrum autis terbagi atas dua hambatan utama: komunikasi sosial dan perilaku, sebagai berikut.
a. Kurangnya Komunikasi dan Interaksi Sosial:
1). Kekurangan kemampuan komunikasi sosial dan emosional.
2). Terganggunya perilaku komunikasi non-verbal seperti kontak mata, bahasa tubuh, dan ekspresi wajah.
3). Kesulitan dalam mengembangkan dan mempertahankan hubungan sosial.
b. Perilaku, Pola Perilaku, dan Ketertarikan Terbatas serta Repetitif 1). Pergerakan motor, berbicara, dan penggunaan objek yang terbatas
dan repetitif.
2). Perilaku stereotip seperti menata mainan atau membalikkan objek.
3). Kelekatan dan pembatasan diri pada ketertarikan yang abnormal.
4). Hiperaktivitas atau hipoaktivitas pada input sensori atau ketertarikan yang tidak biasa pada aspek sensori.
Berdasarkan karakteristik yang telah di paparkan, maka peserta didik dengan ADHD dan peserta didik spektrum autis memiliki perbedaan karakteristik yang mencolok. Peserta didik ADHD cenderung mengalami kesulitan mempertahankan perhatian, impulsif, dan hiperaktif, dengan gejala seperti kesulitan mengikuti instruksi, gelisah, dan perilaku impulsif. Di sisi lain, peserta didik spektrum autis lebih menunjukkan kesulitan dalam komunikasi sosial, interaksi, dan perilaku repetitif. Mereka mungkin mengalami kekurangan dalam kemampuan komunikasi sosial dan emosional, kesulitan mengembangkan hubungan, serta menunjukkan ketertarikan yang terbatas pada aktivitas atau objek tertentu. Perbedaan ini memerlukan pendekatan pendidikan yang individual dan disesuaikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.
4. Kemukakan media pembelajaran apa saja yang diperlukan apabila terdapat peserta didik disabilitas penglihatan dan disabilitas pendengaran di kelas!
Jawab:
Berikut media pembelajaran yang menurut Salam (2022) dirancang khusus untuk mendukung pembelajaran anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan disabilitas penglihatan atau gangguan pendengaran.
a. ABK dengan Disabilitas Penglihatan
1). Peta Timbul, membantu pemahaman spasial melalui sentuhan.
2). Radio dan Audio, menyediakan informasi verbal atau auditif.
3). Penggaris, Papan Baca, dan Puzzle, memfasilitasi pengenalan bentuk dan konsep geometri.
4). Buah-buahan dan Talking Watch, menggunakan sentuhan dan suara untuk memahami objek dan waktu.
5). Botol Aroma, Stimulasi sensori melalui penciuman.
6). Bentuk-bentuk Geometri dan Tape Recorder, mendukung pembelajaran konsep matematika dan rekaman suara.
7). Komputer dengan System JAWS, membantu aksesibilitas komputer melalui suara.
8). Media Tiga Dimensi dan Lingkungan Sekitar, memberikan pengalaman konkret dan pemahaman tentang ruang.
9). Kamus Bicara, membantu perluasan kosa kata.
b. ABK dengan Disabilitas Pendengaran
1). CCTV, Magnifier, dan View Scan, memperbesar teks dan objek untuk kemudahan penglihatan.
2). Televisi dan Mikroskop, menyajikan informasi visual secara lebih besar dan jelas.
3). Foto-foto, Video, dan Kartu Huruf/Kalimat, memberikan stimulasi visual dan mendukung pembelajaran bahasa.
4). Anatomi Telinga dan Torso Setengah Badan, memahami struktur tubuh dan organ pendengaran.
5). Miniatur Beda dan Puzzle Konstruksi, melibatkan tangan dan penglihatan untuk pembelajaran konsep.
6). Silinder dan Model Geometri, membantu pemahaman konsep geometri.
7). Atlas dan Globe, mendukung pembelajaran geografi dan kosmologi.
8). Dinding Miniature Rumah Adat, memahami bentuk dan struktur rumah tradisional.
Penggunaan media pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan ABK ini penting untuk memastikan bahwa setiap anak dapat mengakses, memahami, dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran sesuai dengan kondisi dan potensinya.
Daftar Pustaka
Ashar, M.N., & Rahmahtrisilvia. 2022. Pengantar pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
Mirnawati, M. 2019. ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS" Hambatan Majemuk".
Sleman: CV Budi Utama
Salam, Mulyadi. 2022. Media Pembelajaran yang Cocok bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Diakses pada tanggal 31 Januari 2024 dari https://www.kompasiana.com/mulyadi84104/6339bd015cc804586965c7c2 /media-pembelajaran-yang-cocok-bagi-anak-berkebutuhan-khusus-abk