• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lotut Pemb

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Lotut Pemb"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ARTIKPL ILMIAH

,lw

W

6

*nFb

p h'n)

zaln-lb

Lotut Pemb ',n 6'9

4

WIZARAHMAD. YA IIIPM:12ffiW7

PROGRAM STUDI BIMBINGAI\I DAN KONSELING SEKOLAII TINGGI KEGURUAI\I DAN ILMU PENDIDIKAI\I

(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

2016

(2)

Profile of Young Children Social Behavior in PAUD Nurul Jihad Kabupaten SolokKecamatan Lembang Jaya

Oleh:

Wiza Rahmadya*

Weni Yulastri, M.Pd.**

Citra Imelda Usman, M.Pd, Kons.***

* Mahasiswa

** Pembimbing 1

*** Pembimbing 2

Program Studi Bimbingan dan Konseling, STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRACT

This research is motivated by the problems that the researchers found in the field where their early childhood that cant work together with friends, do not share with their friends, not their concern, lack of empathy and generosity, the children who behave aggressively and hyperactivity, as well as their children who are not responsible for what he had done, the absence of helping each other, not their friendship and their mutual respect between the child. The purpose of this study was to describe the social behavior of young children in PAUD Nurul Jihad Kecamatan Lembang Jaya Kabupaten Solok, seen from the aspect 1. Aspect empathy 2. Aspect generosity 3. Aspect cooperation 4. Aspect concern. Research was conducted with a qualitative descriptive approach.

The research result is seen from 1. aspect of empathy is no early childhood to understand his feelings, but some are not. Early childhood can be warm, gentle, friendly and courteous 2. aspects of the generosity that early childhood has been accustomed to share and give their possessions to others 3. aspects of cooperation that is still found in early childhood, which are not always able to cooperate with his terms it turns and turns 4. aspects of concern that their early childhood, which can help their friends in need.

Keyword : Social Behavior, early childhood Pendahuluan

Anak merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa yang tiada bandingannya, kehadiran seorang anak pada sebuah keluarga merupakan kebahagiaan dan memberikan sinar terang untuk menggapai harapan masa depan yang lebih cerah dalam keluarga itu. Harapan-harapan orang tua tertumpu kepada anak-anaknya, setiap orang tua selalu mengharapkan agar kelak anaknya lebih cerdas dan dapat mencapai kehidupan yang lebih baik daripada orang tuanya serta berguna bagi bangsa, negara, dan agama.

Dalam masa perkembangannya anak usia 0-6 tahun merupakan masa emas, dimana pada masa ini proses perkembangan anak harus mendapat perhatian yang maksimal. Perkembangan anak terjadi mulai

dari aspek sosial, emosional, dan intelektual yang berkembang pesat saat anak memasuki usia prasekolah. Pada usia emas ini, jika anak mendapat perhatian yang maksimal akan mampu mewujudkan kesejahteraan dimasa mendatang.

Jika orang tua kurang memahami apa yang terjadi pada anak dan kurang memberi stimulus yang tepat, maka yang terjadi adalah perkembangan yang kurang optimal.

Pada usia ini umumnya seorang anak disebut juga sebagai usia prasekolah, karena dalam rentang perkembangan usia ini seorang anak umumnya diikutsertakan oleh orang tua dalam program pendidikan prasekolah baik itu formal maupun non formal (Suryana, 2013:28)

(3)

Senada dengan itu di dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14 tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa: Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak (Slameto, 2003:7).

Usia dini merupakan usia dimana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Makanan yang bergizi dan seimbang serta stimulasiyang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut.

Masa anak usia dini merupakan salah satu periode yang sangat penting, karena periode ini merupakan tahap perkembangan kritis. Pada masa inilah kepribadian seorang dibentuk. Pengalaman-pengalaman yang terjadi masa ini cenderung bertahan dan mempengaruhi sikap anak sepanjang hidupnya, untuk itu diperlukannya anak usia dini tahu tentang perilaku sosial apa saja yang telah mereka lakukan.

Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam hubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, guru, orang tua maupun saudara-saudaranya. Didalam hubungan dengan orang lain, terjadi peristiwa-peristiwa yang sangat bermakna dalam kehidupannya yang membentuk kepribadiannya, yang membantu perkembangannya menjadi manusia sebagaimana adanya.

Sejak kecil anak telah belajar cara berperilaku sosial sesuai dengan harapan orang-orang yang paling dekat dengan dia, yaitu: ibunya, ayahnya, saudara-saudaranya, dan anggota keluarga yang lain. Apa yang telah dipelajari anak dari lingkungan keluarganya sangat mempengaruhi perilaku sosialnya. Perasaan terhadap orang lain, juga merupakan hasil dari pengalaman yang lampau dan mempengaruhi hubungan sosial, seperti yang dapat diobservasi dalam situasi kehidupan sehari-hari.

Perbedaan ini dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu: persepsi individu

yang menjadi anggota kelompok, lingkungan tempat terjadinya interaksi dan pola kepemimpinan yang dipakai guru di kelas. Banyak sebutan yang diberikan kepada anak usia dini 3-6 tahun ini. Para orang tua biasanya menyebut anak seusia ini dengan sebutan sebagai ”usia sulit” atau usia yang mengandung masalah. Karena pada usia ini anak berada dalam masa proses perkembangan kepribadian yang unik oleh karena itu anak sering tampak bandel, keras kepala, menjengkelkan dan melawan orang tua.

Perilaku sosial anak usia dini diarahkan untuk pengembangan sosial yang baik, seperti kerja sama, tolong menolong, berbagi, simpati, empati, dan saling membutuhkan satu sama lain. Untuk itu, sasaran pengembangan perilaku sosial pada anak usia dini ini ialah untuk keterampilan komunikasi, keterampilan memiliki rasa senang dan periang, menjalin persahabatan, memiliki etika dan tata krama yang baik.

Dengan demikian bentuk perilaku sosial yang paling penting diterapkan pada anak usia dini yakni untuk penyesuaian sosial yang memungkinkan anak dapat bergaul dengan teman-temannya (Susanto, 2011:138).

Menurut Beaty (Susanto, 2011:145) bahwa perkembangan sosial anak berkaitan dengan perilaku prososial dan bermain sosialnya. Aspek perilaku sosial meliputi:

a. Empati

Empati yaitu menunjukkan perhatian kepada orang lain yang kesusahan atau menceritakan perasaan orang lain yang mengalami konflik.

b. Kemurahan hati

Kemurahan hati yaitu berbagi sesuatu dengan yang lain atau memberikan barang miliknya

c. Kerja sama

Kerja sama yaitu bergantian menggunakan barang, melakukan sesuatu dengan gembira.

d. Kepedulian

Kepedulian yaitu membantu orang lain yang sedang membutuhkan bantuan.

Pada usia pra sekolah dimana proses perkembangan anak harus mendapatkan perhatian secara maksimal. Pada usia ini anak sudah memasuki sekolah PAUD (2-3 tahun) dan di TK (4-5 tahun). Sehingga

(4)

banyak orang tua berlomba-lomba untuk memilihkan sekolah PAUD yang terbaik untuk anak-anaknya. Tumbuh kembang anak usia 2-3 tahun merupakan suatu hal yang menyenangkan apabila diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Kita akan menemukan seorang anak mampu berceloteh dan mulai tumbuh besar seperti anak lainnya.

Secara spesifik pola perilaku sosial pada anak usia dini termasuk kedalam pola- pola perilaku seperti, meniru, persaingan, kerja sama, simpati, empati, dukungan sosial, berbagi dan perilaku akrab. Selain itu pola perilaku sosial lainnya yang perlu diajarkan atau dikembangkan oleh anak usia dini ialah pola perilaku seperti anak mampu menghargai temannya, baik menghargai milik, pendapat, hasil karya teman, atau kondisi yang ada pada teman. Mengahargai kondisi orang lain misalnya anak tidak mengejek atau mengisolasi anak lain yang kurang sempurna (Susanto, 2011: 140).

Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas pada tanggal 2 Maret 2016 menunjukkan bahwa anak berperilaku dalam suatu kelompok berbeda dengan perilakunya dalam kelompok lain.

Perilaku anak dalam kelompok juga berbeda dengan pada waktu dia sendirian

Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan pada tanggal 3 Maret 2016, dengan dua orang guru PAUD Nurul Jihad bahwa ada perilaku anak usia dini yang tidak bisa kerja sama dengan temannya, tidak saling berbagi dengan temannya, tidak adanya kepedulian, tidak adanya rasa empati serta kemurahan hati, adanya anak yang berperilaku agresif dan hiperaktif, serta adanya anak yang tidak bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukannya, tidak adanya saling tolong menolong, tidak adanya menjalin persahabatan dan tidak adanya saling menghargai antara anak tersebut.

Bedasarkan observasi dan wawanacara tersebut peneliti ingin mengambil dan mengangkat masalah ini, karena banyaknya anak usia dini yang yang belum bisa berprilaku sosial terhadap teman-tamnnya.

Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”Profil Perilaku Sosial Anak Usia Dini di PAUD Nurul Jihad Kecamatan Lembang Jaya Kabupaten Solok”.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi masalah penelitian ini sebagai berikut:

1. Adanya perilaku anak usia dini yang tidak bisa bekerja sama dengan temannya.

2. Adanya anak usia dini yang berikap agresif dan hiperaktif.

3. Adanya anak usia dini yang tidak peduli dengan temannya.

4. Adanya anak usia dini yang tidak bisa berbagi dengan temannya

5. Adanya anak usia dini yang tidak menghargai teman-temannya.

6. Adanya anak usia dini yang tidak bisa menjalin persahabatan dengan temannya.

7. Adanya anak usia dini yang tidak bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukannya.

8. Adanya anak usia dini yang tidak saling tolong menolong.

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan, maka fokus masalah pada penelitian ini sebagai berikut:

1. Perilaku sosial anak usia dini dilihat dari aspek empati.

2. Perilaku sosial anak usia dini dilihat dari aspek kemurahan hati.

3. Perilaku sosial anak usia dini dilihat dari aspek kerja sama.

4. Perilaku sosial anak usia dini dilihat dari aspek kepedulian.

Berdasarkan rumusan masalah, maka rumusan masalah penelitian ini adalah:

Bagaimana profil perilaku sosial anak usia dini di PAUD nurul jihad kecamatan lembang jaya kabupaten solok?”.

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

1. Perilaku sosial anak usia dini dilihat dari aspek empati.

2. Perilaku sosial anak usia dini dilihat dari aspek kemurahan hati.

3. Perilaku sosial anak usia dini dilihat dari aspek kerja sama.

4. Perilaku sosial anak usia dini dilihat dari aspek kepedulian.

Metode Penelitian

Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian, maka penelitian yang dilakukan termasuk penelitian kualitatif yang

(5)

menghasilkan data deskriptif. Menurut Moleong (2010:6) penelitian kualitatif yaitu

“Penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya, perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll.

Secara hoslitik dan dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah”.

Kemudian menurut Sugiyono (2011:15) dijelaskan bahwa: Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek ilmiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive, teknik pengumpulan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.

Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 4 sampai 10 Juli 2016, dan tempat atau lokasi penelitian dilaksanakan adalah di PAUD Nurul Jihad Kecamatan Lembang Jaya.

Penetapan subjek/ informan penelitian terlebih dahulu peneliti menentukan informan kunci. Informan kunci dalam penelitian ini adalah 2 orang tua dari anak usia dini, dan menjadi informan tambahan dalam penelitian ini adalah 2 orang guru PAUD Nurul Jihad.

Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini wawancara. Menurut Yusuf (2005: 278)

“Wawancara merupakan percakapan tatap muka antara pewawancara dengan responden, dimana pewawancara bertanya langsung tentang suatu objek yang diteliti dan dirancang sebelumnya”. Kemudian menurut Bugin (2011: 155) “Wawancara adalah proses percakapan dengan maksud untuk mengonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, motivasi perasaan, dan sebagainya dilakukan dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dengan orang yang diwawancarai(interviewee)”.

Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik

Triangulasi. Sebagaimana yang dikemukakan Moleong (2010: 327) yaitu Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Pembahasan

1. Perilaku Sosial Anak Usia Dini Dilihat dari Aspek Empati.

a) Kognitif

Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, dapat diketahui bahwa tidak selalu anak usia dapat memamahami perasaan temannya yang lagi bersedih, ketika anak usia dini dapat memahami perasaan temannya, mereka akan bertanya kepada guru atau orang tuanya kenapa temannya bersedih, dan pada saat anak usia dini tidak dapat memahami perasaan temannya maka dia akan mengolok-olok temannya yang bersedih tersebut

Menurut Kohut (Taufik, 2012:40) individu yang memiliki kemampuan empati dapat memahami apa yang orang lain rasakan dan mengapa hal tersebut dapat terjadi pada orang tersebut. Bahwa kognitif merupakan suatu kemampuan individu yang dapat memahami perasaan orang lain serta apa yang dirasakan orang tersebut. Agar supaya dapat memahami perasaan orang lain yaitu dengan menanyakan bagaimana keadaan dan kondisi orang tersebut.

a)

Afektif

Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, dapat diketahui bahwa anak usia dini memiliki sikap dan tingkah laku sosial yang baik terhadap guru maupun sesama teman-temannya.

Sikap anak usia dini yang ramah, sopan dan baik serta tingkah laku sosial yang dapat bekerja sama, saling memberi, saling mendukung. Namun masih ada juga anak usia dini yang memiliki sikap dan tingkah laku sosial yang kurang baik terutama kepada teman- temannya.

Menurut Sudijono (2011: 27) afektif merupakan suatu sikap, tingkah laku, emosi dan perasaan dari individu yang merasakan apa yang orang lain

(6)

rasakan. Bahwa seorang anak usia dini harus dapat bersikap baik, bertingkah laku yang baik terhadap guru maupun kepada orang lain. Serta dapat menjaga emosi dan perasaan orang lain terutama dari orang-orang terdekat dari anak usia dini tersebut.

b)

Kehangatan

Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, dapat diketahui bahwa anak usia dini dapat bersikap hangat kepada guru dan teman-temannya serta bentuk dari sikap hangat anak usia dini kepada guru dan temannya yaitu nenunjukkan sikap perhatian, sikap ramah saling bertanya dan sopan.

Menurut Kohut (Taufik, 2012:40) kehangatan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap hangat, ramah penuh perhatian dan memberikan kasih sayang terhadap orang lain. Bahwa suatu perasaan yang dimiliki oleh anak usia dini untuk dapat mampu bersikap hangat, ramah, penuh pengertian dan perhatian terhadap sesama teman, guru dan orang lain.

Anak usia dini dapat menunjukkan kehangatan dan kasih sayang kepda orang-orang disekitarnya.

c)

Kelembutan

Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, dapat diketahui bahwa ada anak usia dini yang dapat bersikap lembut kepada teman serta kepada gurunya, namun ada juga anak usia dini yang bersikap kurang lembut karena adanya pengaruh dari teman-temannya yang bersiakp kurang baik atau kasar.

Menurut Kohut (Taufik, 2012:40) kelembutan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap yang lemah lembut maupun bertutur kata yang baik terhadap orang lain.

Bahwa anak usia dini harus memiliki sikap lembut, berkata yang baik, serta bertingkah laku yang sopan terhadap sesama serta anak usia dini tidak boleh bertingkah laku kasar kepada teman, guru dan kepada orang lain.

d)

Kasihan

Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, dapat diketahui bahwa ada anak usia dini yang bersikap biasa saja, tidak ada merasa iba atau kasihan jika melihat teman-temannya yang sedang

kesusahan. Namum ketika guru memperingatkan untuk membantu temannya yang lagi kesusahan, maka anak usia dini baru melakukannnya.

Menurut Kohut (Taufik, 2012:40) kasihan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap iba atau belas kasih terhadap orang lain. Bahwa perasaan yang dimiliki anak usia dini untuk dapat bisa bersikap iba atau belas kasih terhadap orang lain yang sedang mengalami kesusahan, serta anak usia dini juga dapat menunjukkan rasa iba atau kasihan dengan memberikaan bantuan kepada temannya di sekolah.

1. Perilaku Sosial Anak Usia Dini Dilihat Aspek Kemurahan Hati.

a) Berbagi sesuatu dengan yang lain Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, dapat diketahui bahwa ada anak usia dini yang terbiasa untuk saling berbagi, ada juga anak usia dini yang tidak selalu berbagi dengan teman-temannya. Bentuk berbagi yang dilakukan anak usia dini yaitu berbagi makanan dan minuman, mainan dan tempat duduk.

Menurut Susanto (2011:139) berbagi sesuatu dengan yang lain atau memberikan barang miliknya kepada orang lain, serta kesedian hati untuk berbagi sesutu dengan anak yang lain. Bahwa anak usia dini diharapkan untuk selalu bersedia dengan kemurahan hati untuk dapat saling berbagi dan memberikan sesuatu yang menjadi miliknya kepada orang lain serta, bentuk berbagi yang harus dilakukan anak usia dini yaitu berbagi makanan, minuman dan tempat duduk.

b) Memberikan sesuatu yang menajdi miliknya kepada orang lain

Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, dapat diketahui bahwa anak usia dini tidak selalu memberikan sesuatu yang menjadi miliknya kepada orang lain, ada kalanya anak usia dini diperingatkan oleh gurunya dan orang tuanya untuk memberikan sesutu menjadi miliknya. Namun bentuk pemberian yang dilakukan anak usia dini yaitu

(7)

memberikan makanan, minuman, dan jajan serta alat tulis.

Menurut Susanto (2011:139) memberikan sesuatu yang menjadi miliknya dengan suka rela dan tanpa mengharapkan imbalan, berbagi sesuatu dengan yang lain atau memberikan barang miliknya kepada orang lain, serta kesedian hati untuk saling berbagi sesutu dengan anak yang lain. Bahwa anak usia dini harus memiliki sifat untuk saling memberi dan berbagi miliknya secara suka rela kepada orang lain atau kepada teman- temannya, anak usia dini harus memberikan miliknya dengan suka rela tanpa ada peringatan dari guru maupun dari orang tua untuk memberikan kepada temannya.

2. Perilaku Sosial Anak Usia Dini di lihat dari Aspek Kerja Sama.

a) Bergantian atau bergiliran dalam suatu permainan dalam sebuah tim

Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, dapat diketahui bahwa tidak selalu anak usia dini dapat bergantian atau bergiliran dalam melakukan suatu permainan dalam sebuat tim, serta ada anak usia dini yang tidak selalu baik dakam melakukan hal tersebut, ada kalanya anak usia dini berebut untuk melakukannya.

Menurut Beaty (Susanto, 2011:145) kerja sama yaitu bergantian atau bergiliran menggunakan barang, melakukan sesuatu dengan gembira, sejumlah kecil anak belajar bermaian atau bekerja secara bersama dengan anak lain sampai mereka berumur 4 tahun.

Bahwa anak usia dini diharapkan dapat bergantian atau bergiliran mengunakan barang atau melakukan sesuatu dengan baik, dengan gembira, dan dapat berkerja sama teman- temannya, sedangkan untuk anak yang kurang baik melakukan hal tersebut diharapkan guru memberikan perhatian lebih.

b) Mengajak temannya dalam melakukan aktifitas atau kegiatan

Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, dapat diketahui bahwa anak usia dini tidak selalu dapat

mengajak temannya untuk melakukan aktivitas atau kegiatan karena ada saat anak tersebut malas untuk melakukan aktivitas, bentuk aktivitas yang dilakukan anak usia dini yaitu mengambar untuk dipajang di kelas, bergotong royong membersihkan kelas.

Saripah (2006:58) kerja sama merupakan keinginan untuk mengajak orang lain, tolong menolong, membantu, menghargai dan memahami dalam melakukan sesuatu. Bahwa anak usia dini diharapkan dapat mengajak teman- temannya atau orang lain untuk dapat bekerja sama dengan dirinya serta dapat saling tolong menolong, membantu dalam melakukan sesuatu, anak usia dini dapat menghargai dan memahami temannya dengan baik.

3. Perilaku Sosial Anak Usia Dini Dilihat dari Aspek Kepedulian.

a) Membantu teman yang membutuhkan Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, dapat diketahui bahwa anak usia dini tidak selalu dapat membantu temannya yang sedang membutuhkan, ada kalanya anak usia dini diperingtkan oleh guru dan orang tuanya untuk membantu temannya yang sedang membutuhkan atau yang sedang kesusahan.

Menurut Bender (Walgito, 2003:35) kepedulian merupakan membantu orang lain yang sedang membutuhkan bantuan, orang yang peduli mereka selalu berusaha untuk menghargai, berbuat, membantu dan membuat yang orang lain senang.

Bahwa anak usia dini harus dapat menanamkan sifat kepedulian supaya dapat membantu orang yang sedang membutuhkan bantuan, menghargai guru dan teman-temannya.

b) Memberikan perhatian kepada temannya

Berdasarkan hasil wanwancara di lapangan dapat diketahui bahwa anak usia dini dapat memberikan perhatian terutama kepada guru serta kepada teman-temannya masih kurang, cara perhatian yang ditunjukkan anak usia dini yaitu dengan bertanya kepada guru, dan

(8)

tidak meribut ketika guru menerangkan pelajaran.

Menurut Boyatzis dan McKee (Walgito, 2003:35) kepedulian merupakan wujud nyata perhatian.

Peduli merupakan suatu sikap yang dimiliki seorang untuk memberikan perhatian terhadap sesama maupun lingkungan disekitarnya. Bahwa anak usia dini diharapkan dapat memberikan perhatian kepada teman, orang tua dan gurunya, serta kepedulian merupakan suatu sikap untuk saling memberikan perhatian kepada orang lain maupun terhadap lingkungan, cara perhatian anak usia dini kepada guru dan teman-

temannya yaitu dengan

mendengarkan dan bertanya.

Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:

1. Aspek Empati

Perilaku empati anak usia dini yang dapat memahami perasaan temannya namun ada juga yang tidak. Anak usia dini dapat bersikap ramah, sopan, bertingkah laku yang baik terhadap guru dan teman- temannnya. Anak usia dapat bersikap hangat dan bersikap lembut, betutur kata yang baik. Adapun sikap kasar yang ditampilkan anak usia dini itu merupakan pengaruh dari temannya,

2. Aspek Kemurahan Hati

Perilaku kemurahan hati anak usia dini sudah terbiasa untuk saling berbagi dan memberikan miliknya kepada orang lain.

Namun ada juga anak usia dini yang perlu diperingati oleh gurunya terlebih dahulu untuk memberikan sesuatu yang menjadi miliknya kepada teman, guru dan orang tuanya. Bentuk berbagi yang dilakukan anak usia dini adalah berbagi makanan, minuman dan tempat duduk.

3. Aspek Kerja Sama

Perilaku kerja sama anak usia dini masih ditemukan anak usia dini yang tidak selalu dapat berkerja sama dengan temannya dari segi hal bergantian dan bergiliran dalam bermain. Serta adanya anak usia dini yang tidak selalu baik dalam merespon ajakan dari teman-temannya dalam melakukan aktivitas. Namun bentuk

kerja sama yang sudah dilakukan anak usia dini dengan temannya yaitu mengerjakan tugas, bergotong royong dalam mebersihkan kelas.

4. Aspek Kepedulian

Perilaku kepedulian anak usia dini dapat disimpulkan bahwa anak usia dini terbiasa dalam membantu temannya yang sedang membutuhkan, tindakan yang dilakukan anak usia dini untuk membantu temannya yaitu dengan menanyakan kesulitan teman. Anak usia dini dapat memberikan perhatian terutama kepada guru, cara perhatian yang ditunjukkan anak usia dini yaitu dengan bertanya kepada guru, dan tidak meribut ketika guru menerangkan pelajaran.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka menyarankan kepada berbagai pihak yang terkait, sebagai berikut:

1. Orang tua

Orangtua yang mempunyai anak usia dini agar dapat meningkatkan sikap memahami perasaan, sopan santun, bersifat lembut dan sifat hangat, serta anak yang belum bisa memahami perasaan temannya untuk dapat bisa memahami perasaan, bersikap lembut, hangat dan sopan kepada temannya.

Serta lebih meningkatkan sikap saling berbagi dan memberi, Serta dapat lebih meningkatkan dalam membantu teman- temannya yang sedang membutuhkan.

2. Guru PAUD

Agar guru PAUD dapat lebih meningkatkan pembinaan kepada anak usia dini untuk saling bergiliran dan bergantian dalam suatu permainan, serta untuk dapat meningkatkan pembinaan kepada anak usia untuk dapat membantu temannya yang sedang membutuhkan bantuan. Serta lebih ditingkatkan pembinaan kepada anak usia dini dalam perhatian kepada guru dan teman- temannya.

3. Anak usia dini

Agar anak usia dini dapat meningkatkan perilaku sosial yang baik terhadap sesama teman maupun dengan guru dan orang lain, bersikap lembut, hangat dan sopan santun. Memiliki kemurahan hati, menjalin kerja sama dan peduli terhadap sesama.

(9)

4. Peneliti selanjutnya.

Agar penelitian ini dapat menjadi landasan atau pedoman khususnya bagi peneliti yang berminat untuk meneliti tentang perilaku sosial anak usia dini.

Kepustakaan

Ahmad, Susanto. 2012. Perkembangan Anak Usia Dini :Pengantar dalam Berbagai Aspek. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Arikunto, Suharasimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Bungin, Burhan. 2011. Penelitian Kualitatif.

Jakarta: Kencana Prenada Media.

Moleong, J. Lexy. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Saripah, Ipah. 2006. Pengembangan Perilaku Prososial Anak.

Bandung: UPI.

Sudijono, Anas. 2011. Pengatar Evaluasi Pedidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif. Bandung:

Alfabeta.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan.

Bandung: Alfabeta.

Slameto, Suyanto. 2003. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.

Yogyakarta: Universitas Yogyakarta.

Suryana, Dadan. 2013. Pendidikan Anak Usia Dini. Padang: UNP Press Padang.

Susanto, Ahmad. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Prenada Media Group.

Taufik. 2012. Empati Pendekatan Psikolgi Sosial. Jakarta: Rajawali Pers.

Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional.

Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial Suatu Pengantar. Yogyakarta: Andi Offset.

Yusuf, Syamsu & Sughandi, Nani M. 2011.

Perkembangan Peserta Didik:

Jakarta: Raja Grafindo.

Yusuf. 2005. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: UPI.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil observasi awal yang peneliti lakukan pada tanggal 3-10 Maret 2021 terhadap kegiatan pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK)