MAJAZ MURSAL DALAM AL-QUR’AN
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Balāgah Qur’aniyyah
Dosen Pengampu:
Mabda Dzikara, M.Ag
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH
INSTITUT ILMU AL-QUR’AN JAKARTA 1445 H / 2023 M
Disusun oleh:
Kristina Hutabarat 20211425 Fatimah Nurul Jannati 20211398
Fatimatuz Zahro 20211399
Intania Aulia Zahra 20211417
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah- Nya. Hanya kepada-Nya lah kami memuji dan bersyukur, meminta ampunan dan memohon pertolongan. Tak lupa shalawat juga tercurahkan bagi Nabi Muhammad SAW karena telah menyampaikan ajaran-ajaran Islam dan petunjuk dari Allah SWT, yaitu syariat agama Islam yang sempurna. Satu-satunya syariat Islam dari Rasulullah SAW adalah karunia terbesar bagi alam semesta.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas pada mata kuliah Balāgah Qur’aniyyah. Penulisan makalah berjudul “Majaz Mursal didalam Al-Qur’an” sebagai bentuk penyelesaian tugas dan sekaligus menambah wawasan dan pengetahuan pada mata kuliah tersebut. Harapannya, kami sebagai mahasiswa pada khususnya, dan para pembaca pada umumnya dapat mendapatkan sudut pandang baru terutama bermanfaat bagi banyak orang.
Penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Kami menyadari bahwa banyak kekurangan dan kelemahan pada penyusunan dan penulisan. Demi kesempurnaan makalah ini, kami sangat berharap adanya perbaikan, kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca.
Ciputat, 07 November 2023
Penyusun
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 1
C. Tujuan Masalah ... 1
BAB II PEMEBAHASAN ... 2
A. Pengertian Majaz Mursal ... 2
B. Macam-macam ‘alâqah majaz mursal dan contohnya dalam Al-Qur’an ... 3
BAB III KESIMPULAN ... 11
DAFTAR PUSTAKA ... 12
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Al-Qur’an merupakan kalamullah yang diturunkan kepada umat manusia untuk di baca, dipahami dan diamalkan apa-apa yang di kandungnya. Bahasa yang digunakan pada setiap susunan kalimat di dalamnya merupakan kesastraan paling tinggi. Bagian penting yang seharusnya diketahui oleh peneliti bahasa pada Al- Qur’an, salah satunya yaitu dengan memerhatikan aspek majaz dalam penafsiran.
Dalam cabang ilmu bayan, majaz meliputi dua aspek, yakni mufrad (yang berarti kalimat tunggal dan tidak tersusun. Yaitu penempatan kalimat yang bukann pada semestinya bukan dalam bentuk susunan) dan murakkab. Keduanya akan berfungsi jika rukun tasybih ada dalam suatu lafaz atau kalimat.
Melalui susunan tersebut, maka seorang penafsir dapat mengidentifikasi dan membedakan mana yang bermuatan makna majaz (konotatif) dan mana yang hakikat (denotatif). Hal ini berkaitan pula dengan fungsi majaz sebagai peringkas suatu kalimat, pengungkap makna dalam pada ungkapan singkat, pemerluas kandungan makna dan pemaham terhadap makna yang dikehendaki Allah Swt dalam suatu lafaz pada Al-Qur’an. Terakhir, ia akan berpengaruh pada simpulan atau pesan yang disampaikan pada ayat tertentu. Majaz mursal merupakan salah satu bagian kecil dari kajian majaz secara keseluruhan. Ia lekat dengan banyak ‘alaqah sebagaimana syarat pada suatu majaz. Penggunaannya pada suatu ayat, membuatnya terkesan lebih unggul dibanding bentuk bahasa yang lain, begitu juga dengan penggunaan majaz secara keseluruhan. Selain itu ia berimplikasi pada penafsiran dan pemaknaan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian majaz dalam Al-Qur’an?
2. Apa saja macam-macam majaz dalam Al-Qur’an?
3. Bagaimana contoh majaz dalam Al-Qur’an?
C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui pengertian majaz.
2. Mengetahui macam-maxam majaz.
3. Mengetahui contoh-contoh majaz dalam Al-Qur’an.
2 BAB II PEMEBAHASAN A. Pengertian Majaz Mursal
Majaz mursal ini merupakan bagian dari majaz lughawy yaitu majaz yang
‘alâqahnya dilihat dari segi kebahasaan. Dalam kitab balāgah wadihah mazaj mursal didefinisikan sebagai:1
ةينرق عم ةهباشملا ريغ ةقالعل يلصأللا اهانعم ريغ ىف تلمعتسا ةملك لسرملا زاجملا ىلصألا ىنعملا ةدارإ نم ةعن ام Majaz mursal yaitu majaz yang dipakai bukan untuk maknanya yang asli (haqiqi) karena ada ‘alâqah (hubungan) yang selain keserupaan serta ada juga qarinah yang menghalangi pemahamaan dengan makna yang haqiqi (asli).”
Majaz ini berasal dari kata لسرا yang artinya menurut Bahasa adalah terlepas. Jika isti’arah tersebut terikat karena adanya dakwaan penyatuan makna musyabbah bih.
Sedangkan majaz mursal terlepas dari ikatan tersebut. Dikatakan pula bahwasanya majaz ini dinamakan mursal karena terlepasnya dari ikatan (taqyid) dengan persesuaian khusus, tetapi majaz ini mempunyai persesuaian-persesuaian yang banyak dibandingkan dengan isti’arah yang hanya mempunyai satu persesuaian yaitu Musyabbah (perserupaan).2
Dari penjelasan ini kita mengetahui bahwasanya majaz mursal adalah majaz yang hubungannya (‘alâqah) bukan dalam bentuk persamaan atau keserupaan.
Sebagaimana yang disebutkan oleh ‘Ilal Nuraim, yaitu:3
ةقالعلا تناك ام ةراعتسال راجتو ةهباشملا ريغ يف ةقالعلا تناك ام وه لسرملا زاجملاف ةهباشملا يف
“Majaz mursal ialah majaz yang hubungannya bukan Keserupaan, sedangkan majaz isti’arah ialah majaz yang hubungannya dalam bentuk keserupaan”
1 Alim al-Jarim dan Musthafa Amin, Al-balaaghatul Waadhihah, terj. Mujiyo Nurkholis, Bahrun
Abu Bakar, dan Anwar Abu Bakar, Terjemahan Al-Balaghatul Waadhihah, (Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset, 2020). h,152.
2 Muhammad Syamsuddin Noor, Majaz Mursal Dalam Surah Al-Baqarah 6, no. 1 (2019). h. 26.
3 Hamzah Hamzah dan M. Napis Djuaeni, MAJAZ (Konsep Dasar dan Klasifikasinya dalam Ilmu Balagah) (Academia Publication, 2021), h.51-52.
3
Jika disimpulakan maka, Majaz mursal adalah majaz lughawy dengan ‘alâqah ghairmusyâbahah (bukan penyerupaan). Dinamakan mursal sebab ia tidak terikat oleh alâqahnya. Majaz mursal memiliki alâqah yang cukup banyak, yaitu sababiyyah, musabbabiyyah, kulliyyah, juz’iyyah, I’tibâr mâ kânâ, I’tibâr mâ yakûnu, hâliyyah, dan ta‟alluq isytiqâqi. Dalam Al-Qur‟an banyak ayat yang mengandung majaz dengan ‘alâqah-‘alâqah tersebut.4
B. Macam-macam ‘alâqah majaz mursal dan contohnya dalam Al-Qur’an Macam-macam majaz mursal dengan penjelasan di Al-Qur’an yaitu, :5
Majaz mursal mempunyai persesuaian-persesuaian yang banyak, seperti yang diterangkan Dr. Ahmad Mathlub dalam Fununun Balaghiyyah, yaitu:
1) Juz’iyyah, artinya bagian, yaitu adanya lafaz yang disebutkan disimpan oleh makna sesuatu yang lain. Contohnya :
ا ْو ُعَ
كْرا َو ََع َم ََنْي ِع ِكّٰرلا
Artinya, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk. (QS. Al-Baqarah:43) Ayat ini adalah majaz yang jelas. عوكر secara bahasa artinya adalah membungkung dan menundukkan kepala. Ia juga adalah salah satu gerakan dalam shalat. menyebutkan ruku’ untuk makna shalat tidak diragukan lagi adalah majaz mursal dengan ‘alaqah juz‟iyyah.
2) Kulliyyah, artinya keseluruhan, yaitu adanya makna yang dipindahkan menyimpan hal yang dimaksudkan dan lainnya. Contohnya :
َْوَ ا َ بِ ي َصَ
ك ََن ِ مَِءۤاَم َّسلا َِهْي ِف َ ت ٰمُ
ل ُظ َ دْع َر َّوَ ق ْرَب َّو َن ْوَ ُ ل َع ْج َ
ي َْم ُه َعِبا َصَ
ا َ ْيِفَْم ِه ِناَذٰا ََن ِ مَ ِق ِعا َوصلا ََرَّ َ ذ َح َ ِت ْو َمْ
لا
َُّٰ
للّا َو ٌۢ ط ْي ِح ُ م ََنْي ِر ِفٰ
كْ لاِب Artinya, Atau, seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit yang disertai berbagai kegelapan, petir, dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya (untuk menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah : 19)
Majaz mursal dalam ayat ini ialah firman-Nya َْم ِه ِناَذٰا َ ْيِف َْم ُه َعِبا َصَ ا َن ْوَ ُ
ل َع ْجَ ي
(mereka menjadikan jari-jari mereka dalam telinga-telinga mereka).
4 Ahmad Fasya, “Gaya Bahasa Majaz Dalam Surat Al-Baqarah Dan Ali Imran”, (Tesis,
Pascasarjana Strata Dua, Institute PTIQ, Jakarta,2016), h.28.
5 Muhammad Syamsuddin Noor, Majaz Mursal Dalam Surah Al-Baqarah 6, no. 1 (2019). h. 27.
4
Memasukkan keseluruhan jari-jari ke dalam telinga adalah mustahil. Yang dimaksud dengan jari-jari adalah ujung jari. Dengan demikian penggalan ayat ini adalah majaz mursal dengan ‘alaqah kulliyyah dan qarinah-nya adalah haliyyah.
3) Sababiyyah, yaitu adanya makna yang dipindahkan itu merupakan sebab dan memberi pengaruh pada lainnya.
4) Musabbabiiyyah, artinya akibat, yaitu adanya suatu makna yang dipindahkan merupakan hal yang disebabkan atau akibat bagi sesuatu yang lain. Contohnya:
ََكِٕىٰۤلوُ ا ا َم َن ْوَ ُ
لُ كْ
أَي َْيِفَْم ِه ِن ْو ُطُب اَّ
ل ِا َراَّنلا Artinya, mereka hanya menelan api neraka ke dalam perutnya. (QS. Al-Baqarah : 174)
Majaz mursal dalam firman-nya راَّنلا ال ِاَّ. Kenyataannya adalah bahwa mereka tidaklah memakan api. Tetapi, maksudnya ialah mereka tidaklah memakan dari harta yang didapat dari menjual ayat-ayat Allah itu, melainkan yang dimakan itu nantinya di akhirat akan menjadi api. Beginilah yang dikatakan oleh kebanyakan ahkli tafsir. Dikatakan pula bahwa maksud dari memakan api itu adalah ia kelak akan benar-benar memakan api di neraka Jahannam.
Ayat ini adalah majaz mursal dengan alaqah musabbabiyyah (ةيبسم). yaitu, bahwa memakan dari harta yang haram itu menyebabkan ia mendapat azab api neraka. Atau bisa juga dikatakan alaqahnya, adalah I‟tibaaru ma yakun (نوكيامرابتعا). Yaitu, bahwa harta yang haram itu nantinya akan menjadi api di akhirat kelak.
5) I’tibâru mâkân, atau sabaq, artinya menganggap apa yang telah lalu yaitu memandang kepada masa yang telah lewat. Contohnya :
اوُتٰ ا َو َ ى ٰمٰتَيْ
لا َْم ُهَ لا َو ْمَ
ا Artinya, Berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah dewasa) harta mereka. (QS. An-Nisa : 2)
Contoh tersebut ditafsiri dengan “anak-anak yatim kemudian memasuki dewasa”. Jadi lafazh al-yataamaa adalah majaz mursal yang ‘alaqahnya I’tibaru
5
makan atau menganggap apa yang ada dengan menghendaki apa yang akan terjadi.
6) I’tibâru mâ yakun, atau istidad, artinya menganggap apa yang akan terjadi, yaitu melihat apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Contohnya :
َْم ُهُ
لَث َم َِلَثَمَك ى ِذَّ
لا ََدق ْوَت ْسا َا ًراَن َ Artinya, Perumpamaan mereka seperti orang yang menyalakan api. (QS.
Al-Baqarah : 17)
Kalimat ا ًراَن ََدق ْوَت ْساَ adalah majaz mursal dengan ‘alaqah i’tibaru ma yakun (mengganggap apa yang akan terjadi). Qarinah-nya adalah lafaz اران. Orang tidak akan menyalakan api, tetapi menyalakan kayu sehingga menjadi api. Majaz untuk makna ini lebih baligh dari haqiqah.
7) Mahalliyyah, (yang ditempati), yaitu adanya sesuatu menjadi tempat bagi sesuatu yang lain. Contohnya :
َُعْدَيْ لَ
ف َ هَي ِداَن Artinya, Biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya). (QS.
Al-Baqarah : 17)
Contoh tersebut ditafsiri dengan هيدان لهأartinya para anggota perkumpulannya.
8) Halliyyah, (yang menempati) yaitu adanya sesuatu itu menempati pada lainnya.
Contohnya :
َْي ِفَ ف َِة َمْح َر َِّٰ
للّا َْم ُه ا َه ْي ِف ََ ن ْو ُدِلٰخ Artinya, mereka berada dalam rahmat Allah (surga). Mereka kekal di dalamnya. (QS. Ali Imran : 107)
Yang dimaksud dengan rahmat adalah surga, dimana rahmat itu berada di dalamnya. Jadi lafaz “rahmah” adalah majaz mursal yang ‘alaqah-nya adalah halliyyah.
9) Aliyyah, artinya alat, yaitu adanya sesuatu merupakan perantara atau alat untuk menyampaikan pengaruh sesuatu kepada lainnya. Contohnya :
َْ
ل َع ْجا َو َْي ِل ََ
نا َسِلَ قْد ِصَىِفََنْي ِر ِخٰ اْ
لا
6
Artinya, Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik di kalangan orang- orang (yang datang) kemudian. (QS. Asy-Syu’ara’ : 84)
Contoh tersebut ditafsiri dengan انسحا ركذ yang artinya buah tutur yang baik. Jadi lafazh lisana shidqin dengan menggunakan arti buah tutur yang baik adalah majaz mursal yang ‘alaqah-nya adalah Aliyyah. Sebab lisan adalah sebagai alat dalam buah tutur yang baik.
10) Mujawarah, artinya berdampingan, yaitu adanya sesuatu itu berdekatan dengan sesuatu yang lain. Contohnya :
11) Malzumiyyah, artinya yang ditetapi, yaitu adanya sesuatu pasti terwujud ketika sesuatu yang lain terwujud. Contohnya :
…َاَ ل َّو َُ
ذ َخ ْؤُي ا َهْن ِم َل ْدَع … Artinya,dan tebusan apa pun darinya tidak diterima, (QS. Al-Baqarah 48) Kata ذخا arti asalnya adalah ديلاب ضبقلا yaitu mengambil dan memegang dengan tangan. Ia adalah suatu kata kerja muta‟addi, yaitu kata kerja transitif yang memerlukan objek yang bersifat materi dan kongkrit. Sedangkan َلدعلا (keadilan) ialah sesuatu yang bersifat abstrak. Ia bukanlah sesuatu yang dapat digambarkan dengan materi, apalagi dapat diambil dan dipegang dengan kedua tangan.
Pemakaian kata لدعلا(keadilan) sebagai na‟ibul fa‟il untuk kata kerja َذخأَ
pada ayat ini adalah sesuatu yang menyimpang dari kaidah bahasa. Sebagaimana telah kita ketahui, setiap sesuatu yang menyimpang dari kaidah bahasa, tidak syak lagi, hal itu merupakan majaz.
Mayoritas mufassirin menafsirkan kata َلدع(keadilan) pada ayat ini dengan
ةيدف atau َءادف yang artinya adalah tebusan. Baik tebusan itu berupa harta, orang yang menggantikan atau taubat. Sebab, ketika manusia telah dihadapkan kepada Allah pada hari kaiamat nanti, pintu taubat sudah ditutup. Hanya amalnya sewaktu
7
di dunialah yang dapat menyelamatkannya. Bukan hartanya, anak buahnya atau kekuasaannya.
Dengan demikian jelaslah bahwa kata لدع pada ayat ini adalah majaz mursal. Penyebutan لدعَuntuk makna ةيدفَءادفوأَpada ayat ini karena adanya alaqah yaitu malzumiyyah. Sebab, biasanya keadilan selalu disertai dengan sesuatu yang seimbang nilainya atau dengan kata lain, keadilan selalu disertai dengan tebusan.
12) Lazimiyyah, artinya yang menetapi, yaitu adanya sesuatu pasti terwujud dikala sesuatu lain terwujud. Contohnya :
اَم َو َناَك هٰاللّ َعْي ِضهيِل ْمهكَناَمْيِا نِا َٰاللّ ِسا نلاِب ف ْوهء َرَل مْي ِح ر Artinya, Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (QS.
Al-Baqarah : 143)
Lafazh َْمكَناَمْي ِاُ dalam ayat ini adalah majaz. Maksudnya adalah shalatmu.
Imam Qurthubi menyebutkan bahwa para ulama tafsir sepakat mengatakan bahwa ayat ini turun mengenai orang-orang yang meninggal dunia pada saat mereka masih shalat menghadap Baitul Maqdis. Ayat ini turun menjawab pertanyaan para sahabat kepada Nabi Saw tentang orang-orang yang mati sebelum pemindahan arah Kiblat. Allah tidak menyia-nyiakan shalat mereka yang menghadap Baitul Maqdis itu bahkan Allah memberi mereka pahala. Dengan demikian jelaslah bahwa lafazh َْمكَناَمْي ِاُ adalah majaz mursal dan ‘alaqahnya lazimiyyah.
13) Muthlaqiyyah, yaitu adanya sesuatu itu dilepaskan dari beberapa batasan.
Contohnya :
…َُرْيِر ْحَتَف َ ةَبق َر َ َْن ِ مَِلْبق ََ نْ َ
ا َ ا َّسۤاَمَتَّي َْمُ
كِل ٰذ َن ْو ُظ َع ْوُت َ َ هِب َُّٰ
للّا َو اَمِب َن ْوَ ُ
ل َم ْعَت َ رْيِب َخ Artinya, … wajib memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu berhubungan badan. Demikianlah yang diajarkan kepadamu. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadalah : 3)
Lafazh َ ةَبق َر َ َُرْيِر ْحَتَف ditafsiri dengan ةنمؤم ةبقر قتع. Jadi lafazh raqabah adalah majaz mursal, alaqah-nya adalah ithlaq, artinya menyebutkan bentuk mutlak
8
dengan menghendaki muqayyat. Jadi yang dikehendaki dari budak tersebut tersebut adalah budak yang mukmin. Mengucapkan lafaz raqabah untuk diberi makna tubuh secara total adalah majaz mursal yang ‘alaqah-nya juz’iyyah artinya menyebutkan bagian tetapi bermaksud keseluruhan.
14) Muqayyadatiyyah, artinya pembatasan, yaitu adanya sesuatu itu dibatasi dengan suatu batasan atau lebih banyak. Contohnya :
َا ْوَ لا َعَت ىٰ
ل ِاَ ة َمِلَ
ك ٌۢ ءۤا َو َس اَنَنْيَب َْمُ كَنْيَب َو Artinya, marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu,, (QS. Ali Imran : 64)
Yang dimaksud dengan kalimat pada ayat tersebut adalah kalimat syahadat yang terdiri dari beberapa kata. Jadi menyebutkan lafaz kalimah untuk makna syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah adalah majaz mursal yang
‘alaqah-nya adalah muqayyadatiyyah.
15) Khusus, yaitu adanya lafaz memang khusus untuk sesuatu yang satu, seperti mengucapkan nama seseorang untuk menghendaki suku atau puak.
16) ‘Umum, yaitu adanya sesuatu itu mencakup hal yang banyak. Contohnya :
َْمَ
ا َن ْو ُد ُس ْحَ َ
ي َ َساَّنلا ىٰ
لَع ا َم َُم ُهىٰتٰ ا َُّٰ
للّا َْن ِمَ هِل ْضَ ف Artinya, Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadanya? (QS. An-Nisa’: 54)
Ayat tersebut ditafsiri dengan “Nabi Saw”. Jadi lafazh َ َساَّنلاadalah majaz mursal yang ‘alaqah-nya adalah ‘umum, maksudnya menyebutkan lafaz umum tetapi menghendaki arti khusus.
17) Ithlaqul Jam’i wa Iradatul Mutsanna, artinya dilepaskan dengan bentuk jamak, tetapi yang dikehendaki adalah mutsanna (dua). Contohnya :
َْ
ن ِا َ اَب ْوُتَت ىَ ل ِا َِّٰ
للّا َْدقَف َْت َغ َص َ اَمَ ُ كُب ْوُ
لقُ Artinya, Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, sungguh hati kamu berdua telah condong (pada kebenaran), (QS. At-Tahrim:4)
Dilepaskan dengan menggunakan lafazh َ اَمكُب ْوُ لُق,ُ tetapi maksudnya امكابلق.
9
18) Nuqshan, (pengurangan), termasuk nuqshan adalah membuang mudhaf dan menetapkan mudhaf ilaih pada tempat mudhaf. Contohnya :
ََ
ن ْو ُع ِدٰخ ُي ََّٰ
للّا ََنْي ِذَّ
لا َو ا ْوُن َمٰ ا Artinya, Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman,, (QS. Al- Baqarah : 9)
Dalam ayat ini terdapat majaz mursal yaitu pada lafazh ََللّا َّٰ ن ْو ُع ِدَ ٰخ ُي (mereka menipu Allah). Karena sesungguhnya Allah dengan segala sifat kebesaran-Nya tidak akan bisa ditipu. Maksud dari “menipu Allah” pada ayat tersebut adalah menipu Rasulullah. Alaqahnya ialah pengguguran mudhaf atau hazful mudhaf (pembuangan mudhaf) yaitu لوسر.
19) Ziyadah, (tambahan). Contohnya :
َ َسْيَ ل َ هِلْث ِمَ
ك َ ء ْي َ ش Artinya, Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.. (QS. Asy- Syura : 11)
Ziyadahnya adalah huruf ََك.
20) Ithlaqu Ismidh-dhiddaini alal akhar, artinya menyebutkan sesuatu, tetapi yang dikehendaki adalah kebalikannya (lawan katanya). contohnya :
َُه ْر ِ شَبَف َ باَ ذ َعِبَ مْيِلَ
ا Artinya, Maka, berilah kabar gembira kepadanya dengan azab yang pedih. (QS. Luqman : 7)
Lafazhرشبadalah majaz mursal yang maksudnya adalah رذنأ, artinya berilah kabar menakutkan.
21) Iqamatu shighah maqama ukhra, artinya menetapkan satu shighah yang maksudnya adalah shighah lain, ‘alaqah ini disebut juga ta’alluq isytiqaq.
Contohnya :
َْذ ِا َو اَنْ ذ َخَ
ا َ َقاَثْي ِمَ ْي ِنَب ََ
لْي ِءۤا َر ْس ِا اَ
ل َن ْو ُد ُب ْعَت َاَ َّ
ل ِا ََللّا ّٰ
10
Artinya, (Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil,
“Janganlah kamu menyembah selain Allah, (QS. Al-Baqarah : 84)
Dalam ayat ini terdapat bentuk lain dari alaqah iqamatu shighah maqaama ukhraa yaitu penggunaan bentuk khabar untuk makna amr (perintah) dalam firman-Nya َن ْو ُدُب ْعَت اَ َ
ل. Maksud dari kata اََََن ْو ُدُب ْعَتَ
ل (kalian tidak menyembah) pada ayat di atas adalah (janganlah kalian menyembah). Zamakhsyari berkata:
“datangnya khabar yang bermaksud perintah atau cegahan lebih baligh dari kalimat perintah atau cegahan itu sendiri, karena dengan demikian, seakanakan perintah dan larangan itu telah dilaksanakan dengan cepat”.
11 BAB III KESIMPULAN
Majaz mursal yaitu majaz yang dipakai bukan untuk maknanya yang asli (haqiqi) karena ada ‘alâqah (hubungan) yang selain keserupaan serta ada juga qarinah yang menghalangi pemahamaan dengan makna yang haqiqi (asli).” Majaz ini berasal dari kata لسرا yang artinya menurut Bahasa adalah terlepas. Jika isti’arah tersebut terikat karena adanya dakwaan penyatuan makna musyabbah bih. Sedangkan majaz mursal terlepas dari ikatan tersebut. Dikatakan pula bahwasanya majaz ini dinamakan mursal karena terlepasnya dari ikatan (taqyid) dengan persesuaian khusus, tetapi majaz ini mempunyai persesuaian-persesuaian yang banyak dibandingkan dengan isti’arah yang hanya mempunyai satu persesuaian yaitu Musyabbah (perserupaan).
‘Alaqah-‘Alaqah Majaz Mursal, yaitu: Juz’iyyah, Kulliyyah, Sababiyyah, Musabbabiiyyah, I’tibâru mâkân, atau sabaq, I’tibâru mâ yakun, atau istidad, Mahalliyyah, (yang ditempati), Halliyyah, (yang menempati), Aliyyah, artinya alat, Mujawarah, artinya berdampingan, Malzumiyyah, artinya yang ditetapi, Lazimiyyah, artinya yang menetapi, Muthlaqiyyah, yaitu adanya sesuatu itu dilepaskan dari beberapa Batasan, Muqayyadatiyyah, artinya pembatasan, Khusus, ‘Umum, yaitu adanya sesuatu itu mencakup hal yang banyak. Ithlaqul Jam’i wa Iradatul Mutsanna, Nuqshan, (pengurangan), Ithlaqu Ismidh-dhiddaini alal akhar, Iqamatu shighah maqama ukhra.
12
DAFTAR PUSTAKA
al-Jari, Alim dan Musthafa Amin, Al-balaaghatul Waadhihah, terj. Mujiyo Nurkholis, Bahrun Abu Bakar, dan Anwar Abu Bakar, Terjemahan Al-Balaghatul Waadhihah, (Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset, 2020).
Fasya, Ahmad “Gaya Bahasa Majaz Dalam Surat Al-Baqarah Dan Ali Imran”, (Tesis, Pascasarjana Strata Dua, Institute PTIQ, Jakarta,2016).
Hamzah dan M. Napis Djuaeni, MAJAZ (Konsep Dasar dan Klasifikasinya dalam Ilmu Balagah) (Academia Publication, 2021)
Syamsuddin Noor, Muhammad, Majaz Mursal Dalam Surah Al-Baqarah 6, no. 1 (2019).