MAKALAH ANTROPOLOGI AGAMA KONFLIK AGAMA DAN PERDAMAIAN
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah antropologi agama Dosen pengampu: Prof. Dr. Benny Ridwan, M. Hum.
Disusun oleh:
1. Arya Fauzun 53050190026
PROGRAM STUDI AQIDAH FILSAFAT ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SALATIGA TAHUN 2023
i
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb.
Makalah ini diawali dengan ungkapan rasa syukur dan penghormatan kepada Allah SWT, yang merupakan sumber segala kebijakan dan rahmat-Nya. Kami juga menyampaikan salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, pemimpin kami, beserta keluarga dan para sahabatnya. Tidak lupa, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Prof. Dr. Benny Ridwan, M. Hum., dosen pengampu mata kuliah antropologi agama, yang telah memberikan bimbingan dan dukungan dalam perjalanan pembelajaran kami. Selain itu, kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman mahasiswa yang turut berkontribusi, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam penyusunan makalah ini.
Makalah ini bertujuan untuk menyajikan pengetahuan mengenai "Konflik Agama dan Perdamaian." Kami sadar bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan, dan kami sangat menghargai kritik serta saran yang konstruktif demi meningkatkan kualitas dan kesempurnaan makalah ini. Kami berharap isi makalah ini akan memberikan manfaat dan pemahaman yang lebih baik kepada pembaca.
Wassalamualaikum wr.wb
Salatiga, 13 Oktober 2023
Penyusun
ii DAFTAR ISI
COVER ... i
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I ... iii
A. Latar Belakang ... iii
B. Rumusan Masalah ... iii
C. Tujuan ... iv
BAB II ... 1
A. Konflik ... 1
1. Pengertian Konflik ... 1
2. Jenis-Jenis Konflik ... 1
3. Ciri-Ciri Konflik ... 2
4. Strategi Konflik ... 2
5. Langkah-Langkah Penyelesaian Konflik ... 3
B. Konflik Agama... 4
1. Pengertian Konflik Agama ... 4
2. Penyebab Konflik Agama ... 5
3. Penyelesaian Konflik Agama... 6
C. Perdamaian ... 7
1. Pengertian Perdamaian ... 7
2. Perdamaian dalam Perspektif Islam ... 8
BAB III ... 13
PENUTUP... 13
A. Kesimpulan ... 13
B. Saran ... 13
DAFTAR PUSTAKA ... 14
iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Dalam perjalanan sejarah umat manusia, agama telah memainkan peran penting dalam membentuk budaya, nilai-nilai, dan perilaku sosial. Agama memiliki potensi besar untuk mempromosikan perdamaian, harmoni, dan kerukunan di antara kelompok manusia yang berbeda keyakinan. Namun, disayangkan, agama juga seringkali terlibat dalam konflik dan konfrontasi.
Konflik agama telah menjadi salah satu tantangan paling berbahaya dan merusak dalam dinamika sosial di berbagai belahan dunia. Konflik semacam itu dapat memicu kekerasan, intoleransi, dan pemisahan antara kelompok yang berbeda agama, merusak hubungan antarumatan manusia, dan bahkan mengancam perdamaian global.
Pemahaman tentang akar penyebab konflik agama, mekanisme yang mendorongnya, serta upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi konflik tersebut sangat penting dalam dunia yang semakin terglobalisasi.
Selain itu, melalui perspektif antropologi agama, kita dapat memahami bagaimana agama memengaruhi pemikiran, perilaku, dan interaksi manusia dalam konteks konflik dan perdamaian.
Dalam mata kuliah ini, kita akan menjelajahi isu-isu krusial ini dan mencoba merumuskan pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan antara agama, konflik, dan perdamaian. Selain itu, akan dipelajari juga upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mempromosikan dialog antaragama, toleransi, dan pemahaman lintas budaya guna mencapai perdamaian yang berkelanjutan.
Makalah ini bertujuan untuk menyajikan wawasan dan pemahaman yang mendalam tentang konflik agama dan bagaimana antropologi agama dapat memberikan kontribusi penting dalam memahami serta mengatasi masalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan pandangan yang lebih baik tentang peran agama dalam konflik dan perdamaian, serta menjadi bahan kajian yang bermanfaat untuk mahasiswa mata kuliah Antropologi Agama.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan konflik?
iv
2. Apa yang dimaksud dengan konflik agama?
3. Apa yang dimaksud dengan perdamaian?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari konflik.
2. Untuk mengetahui pengertian dari konflik agama.
3. Untuk mengetahu pengertian dari perdamaian.
1 BAB II PEMBAHASAN
A. Konflik
1. Pengertian Konflik
Konflik menurut istilah “conflict” di dalam bahasa aslinya berarti suatu
“perkelahian, peperangan, atau perjuangan. Bagi Pruitt dan Rubin, konflik berarti persepsi mengenai perbedaan kepentingan (perceived divergence of interest), atau suatu kepercayaan bahwa aspirasi pihak-pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai secara simultan.1
2. Jenis-Jenis Konflik
a. Konflik di dalam individu
Konflik ini timbul apabila individu merasa bimbang terhadap pekerjaan mana yang harus dilakukan, bila berbagai permintaan pekerjaan saling bertentangan atau individu diharapkan untuk melakukan lebih dari kemampuannya.
b. Konflik antar individu dalam organisasi yang sama
Konflik ini timbul akibat tekanan yang berhubungan dengan kedudukan atau perbedaan-perbedaan kepribadia
c. Konflik antara individu dengan kelompok
Konflik ini berhubungan dengan gara individu menanggapi tekanan untuk keseragaman yang dipaksakan oleh kelompok kerja mereka. Contoh, seseorang yang dihukum karena melanggar norma-norma kolompok
d. Konflik antar anggota dalam organisasi yang sama
Konflik ini timbul akibat adanya pertentangan pertentangan kepentingan antar kelompok dalam organisasi yang sama.
e. Konflik antar organisasi
Akibat adanya bentuk persaingan ekonomi dalam sistem perekonomian suatu Negara. Konflik semacam ini sebagai sarana untuk mengembangkan produk baru, teknologi, jasa-jasa, harga yang lebih rendah dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia secara efisien.
1 Dean G.Pruitt dan Jeffrey Z. Rubin, Teori Konflik Sosial, (Pustaka Pelajar,Yogyakarta, 2004), h. 9.
2
Selain itu, kategori konflik yang terjadi biasanya ada tiga yaitu : konflik resiko kecil (pendirian rumah ibadah) yang tidak mengikuti peraturan pemerintah , konflik resiko menengah (perayaan hari raya) yang mengganggu ketertiban umum bagi agama lain, dan konflik besar yaitu terjadi perkelahian dan pembunuhan antar umat beragama.
3. Ciri-Ciri Konflik
Menurut Wijono ciri-ciri Konflik adalah :
a. Setidak-tidaknya ada dua pihak secara perseorangan maupun kelompok yang terlibat dalam suatu interaksi yang saling bertentangan.
b. Paling tidak timbul pertentangan antara dua pihak secara perseorangan maupun kelompok dalam mencapai tujuan, memainkan peran dan ambigius atau adanya nilai-nilai atau norma yang saling berlawanan.
c. Munculnya interaksi yang seringkali ditandai oleh gejala-gejala perilaku yang direncanakan untuk saling meniadakan, mengurangi, dan menekan terhadap pihak lain agar dapat memperoleh keuntungan seperti: status, jabatan, tanggung jawab, pemenuhan berbagai macam kebutuhan fisik: sandang- pangan, materi dan kesejahteraan atau tunjangan-tunjangan tertentu: mobil, rumah, bonus, atau pemenuhan kebutuhan sosio-psikologis seperti: rasa aman, kepercayaan diri, kasih, penghargaan dan aktualisasi diri.
d. Munculnya tindakan yang saling berhadap-hadapan sebagai akibat pertentangan yang berlarut-larut.
e. Munculnya ketidakseimbangan akibat dari usaha masing-masing pihak yang terkait dengan kedudukan, status sosial, pangkat, golongan, kewibawaan, kekuasaan, harga diri, prestise dan sebagainya2
4. Strategi Konflik
Menurut Stevenin terdapat lima langkah meraih kedamaian dalam konflik.
Apa pun sumber masalahnya, lima langkah berikut ini bersifat mendasar dalam mengatasi kesulitan:3
a. Pengenalan
Kesenjangan antara keadaan yang ada diidentifikasi dan bagaimana keadaan yang seharusnya. Satu-satunya yang menjadi perangkap adalah
2 Wijono,S, Konflik dalam Organisasi/Industri dengan Strategi Pendekatan Psikologi, (Semarang:
Wacana, 1993), h. 7.
3 Stevenin, Strategi Menang dalam Menghadapi Konflik, (Jakarta: Prenhallindo, 2000), h. 134-135.
3
kesalahan dalam mendeteksi (tidak mempedulikan masalah atau menganggap ada masalah padahal sebenarnya tidak ada).
b. Diagnosis
Inilah langkah yang terpenting. Metode yang benar dan telah diuji mengenai siapa, apa, mengapa, dimana, dan bagaimana berhasil dengan sempurna. Pusatkan perhatian pada masalah utama dan bukan pada hal-hal sepele.
c. Menyepakati suatu solusi
Kumpulkanlah masukan mengenai jalan keluar yang memungkinkan dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Saringlah penyelesaian yang tidak dapat diterapkan atau tidak praktis. Jangan sekali-kali menyelesaikan dengan cara yang tidak terlalu baik. Carilah yang terbaik.
d. Pelaksanaan
Ingatlah bahwa akan selalu ada keuntungan dan kerugian. Hati-hati, jangan biarkan pertimbangan ini terlalu mempengaruhi pilihan dan arah kelompok.
e. Evaluasi
Penyelesaian itu sendiri dapat melahirkan serangkaian masalah baru.
Jika penyelesaiannya tampak tidak berhasil, kembalilah ke Langkah-langkah sebelumnya dan cobalah lagi.
5. Langkah-Langkah Penyelesaian Konflik
a. Elimination, yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat di dalam konflik, yang diungkapkan dengan ucapan antara lain : kami mengalah, kami keluar, dan sebagainya
b. Subjugation atau domination, yaitu orang atau pihak yang mempunyai kekuatan terbesar untuk dapat memaksa orang atau pihak lain menaatinya. Sudah barang tentu cara ini bukan suatu cara pemecahan yang memuaskan bagi pihak-pihak yang terlibat.
c. Majority rule, yaitu suara terbanyak yang ditentukan melalui voting untuk mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan argumentasi.
d. Minority consent, yaitu kemenangan kelompok mayoritas yang diterima dengan senang hati oleh kelompok minoritas. Kelompok minoritas sama sekali tidak
4
merasa dikalahkan dan sepakat untuk melakukan kerja sama dengan kelompok mayoritas.
e. Kompromi, yaitu jalan tengah yang dicapai oleh pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik.
f. Integrasi, yaitu mendiskusikan, menelaah, dan mempertimbangkan kembali pendapat-pendapat sampai diperoleh suatu keputusan yang memaksa semua pihak.4
B. Konflik Agama
1. Pengertian Konflik Agama
Konflik agama adalah suatu yang dibenarkan dari adanya perbedaan keberagamaan.5 Oleh karenanya konflik sebagai gejala yang tidak mungkin dihindari dalam masyarakat.6 Sehingga, pada gilirannya masyarakat beragama akan menghadapi konflik, yang suatu saat muncul kepermukaan (manifes). Atau meminjam istilah Islam, bahwa konflik adalah Sunnatullah.
Terjadinya konflik antar agama seolah-olah menggambarkan wajah keagamaan dari sisi yang berbeda, secara diametral sangat kontradiktif, berlawanan seperti siang dan malam, yang satu mengajarkan kasih dan sayang, yang lain benci dan dendam.7 Meskipun setiap agama mengajarkan perdamaian, kebersamaan sekaligus menebar misi kemaslahatan bagi lingkungan disekitarnya. Namun dalam tataran sosiologis, wajah agama tidak seideal seperti yang diharapkan dalam kerangka normative tersebut. Kerap kali raut wajah agama tampak bopeng, tercoreng dan ternoda dalam kecamuk konflik sosial, budaya, dan politik. Demikian itu sebenarnya bukan kesalahan ajaran agama itu sendiri, namun lebih diakibatkan human error, yakni sikap sebagian para pemeluknya yang kadangkala menafsirkan ajaran teologis-normatif secara serampangan.8
4 Doyle Paul Johnson, Sosiologi Klasik dan Modern Diterjemahkan Oleh Robert M,Z, (Lawang. Jakarta:
Gramedia, 1989), h. 31
5 Djam’annuri, Sejarah Konflik dan Perdamaian Agama-agama, Deskripsi Mata-Kuliah, (Yogyakarta:2008), h. 2
6 Georg Simmel, Beberapa Teori Sosiologi, (Terjm) Soejono Seokamto., (Jakarta, Rajawali:1986), h. 72
7 Arifin Assegaf, Agama dan Kekerasan, (Yogyakarta, Interfidei Newsletter, Edisi Khusus 2003), h. 12
8 Thoha Hamim (dkk)., Resolusi Konflik Islam Indonesia, (Yogyakarta: LKiS Aksara, 2007), h. 5
5 2. Penyebab Konflik Agama
a. Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya.
Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
b. Perbedaan latar belakang kebudayaan
Seseorang sedikit banyaknyaakan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
c. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latarbelakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda.
Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menganggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menebang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang.
Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan.
Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara
6
kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
d. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehidupan masyarakat yang telah ada.
Konflik agama juga bisa disebabkan oleh berbagai factor, diantaranya ialah:
a. Adanya Klaim Kebenaran (Truth Claim) Setiap agama mempunyai kebenaran.
Keyakinan tentang benar itu didasarkan pada tuhan sebagai satu-satunya sumber kebenaran.
b. Adanya Pengkaburan Persepsi antar Wilayah Agama dan Suku.
c. Adanya Doktrin Jihad dan Kurangnya Sikap Toleran dalam Kehidupan Agama.
d. Minimnya Pemahaman terhadap Ideologi Pluralisme.9 3. Penyelesaian Konflik Agama
a. Dalam menangani konflik antaragama, jalan terbaik yang bisa dilakukan adalah saling mentautkan hati di antara umat beragama, mempererat persahabatan dengan saling mengenal lebih jauh, serta menumbuhkan kembali kesadaran bahwa setiap agama membawa misi kedamaian.
b. Tidak memperkenankan pengelompokan domisili dari kelompok yang sama didaerah atau wilayah yang sama secara eksklusif. Jadi tempat tinggal/domisili atau perkampungan sebaiknya mixed, atau campuran dan tidak mengelompok berdasarkan suku (etnis), agama, atau status sosial ekonomi tertentu.
c. Kesenjangan sosial dalam hal agama harus dibuat seminim mungkin, dan sedapat – dapatnya dihapuskan sama sekali.
9 Mircea Eliade, The Encylopedia of Religion, (New York: Collier Macmillan Publishers, 1987), Vol. XI, h. 331
7
d. Perlu dikembangkan adanya identitas bersama (common identity) misalnya kebangsaan (nasionalisme-Indonesia) agar masyarakat menyadari pentingnya persatuan dalam berbangsa dan bernegara.
e. Masyarakat pendatang dan masyarakat atau penduduk asli juga harus berbaur atau membaur atau dibaurkan.
f. Segala macam bentuk ketidakadilan struktural agama harus dihilangkan atau dibuat seminim mungkin.
g. Mengadakan silaturahim antara FKUB dengan Masyarakat supaya terjalinnya keharmonisan umat beragama.
h. Menanamkan sifat saling toleransi atau menghargai pendapat maupun perbedaan dalam segala hal.
Tahapan-tahapan utama yang digunakan untuk menyelesaikan konflik agama mempunyai beberapa tahapan untuk menangani konflik, yaitu :
a. Mengidentifikasi sumber konflik
b. Mengetahui faktor-faktor penyebab konflik c. Mengetahui pihak yang dilibatkan
d. Mempunyai upaya penyelesaian konflik e. Menghindari terjadinya konflik yang terjadi f. Melakukan evaluasi terhadap konflik.
C. Perdamaian
1. Pengertian Perdamaian
Damai memiliki arti yang cukup banyak dan dapat berubah sesuai dengan hubungan kalimat. Damai dapat diartikan sebagai persetujuan untuk mengakhiri sebuah peperangan atau sengketa dan masih banyak lagi. Damai juga dapat diartikan sebagai sebuah kondisi yang tenang. Dan juga damai juga bisa diartikan sebagai kondisi emosi dalam diri. Konsep damai yang tersusun dapat berbeda-beda sesuai dengan lingkungan serta budaya. Karena memang setiap orang memiliki lingkungan dan budaya yang berbeda yang mana akan mempengaruhi pola pikir dalam menyusun sebuah konsep perdamaian.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) kata “damai” berarti “tidak ada perang”, “tidak ada kerusuhan”, dan “aman”. Merujuk kata “damai” jika ditambahkan awalan “per” maka arti dari kata “perdamaian” menurut kamus besar
8
bahasa Indonesia (KBBI) “perhentian permusuhan (perselisihan, perang, dan sebagainya).
Kata damai sering dimaknai sebagai situasi tanpa peang. Padahal, menurut de Rivera10 dan Fell11 , kata ini dapat ditinjau dari dua sisi. Pertama adalah perdamaian negative (negative peace). Sudut pandang ini persis dengan defenisi sebagai situasi tanpa perang (war), pemerkosaan (rape), pembunuhan (homicide) atau kekerasan (violence). Sudut pandang kedua adalah damai positif (positive peace), yakni tumbuhnya kesamaan hak, harapan hidup yang panjang dan berbagai indikator keadilan. Sebagaimana mengutip pendapat Galtung (1969), de Rivera juga menyebut bahwa perang dan pembunuhan merupakan bentuk-bentuk kekerasan yang bersifat langsung (direct violence) sedangkan yang kedua, seperti persamaan hak dan keadilan, dapat menjadi kekerasaan tidak langsung (indirect violence) apabila tidak diperjuangkan dan diwujudkan. Berpijak pada konsep ini, kemiskinan misalnya, merupakan bentuk kekerasan tidak langsung. Dengan demikian, konsep ‘damai’ perlu didefenisikan secara menyeluruh, mulai dari keadaan tanpa perang hingga keberlangsungan keadilan di tengah masyarakat.
Di Indonesia sendiri ada salah satu tokoh spiritual terkenal yang merupakan keturunan India yang bernama Anand Krishna. Anand lahir di Solo, Jawa Tengah pada tanggal 1 September 1956.12 Dalam diskusi tentang perdamaian Anand berpendapat bahwa pengertian damai di dalam pendidikan kedamaian adalah sebuah proses dimana seseorang bisa mengubah sikap serta prilakunya mengenai konflik kekerasan, mendapatkan beberapa nilai, pengetahuan serta mengembangkan keterampilan serta prilaku untuk hidup secara harmoni bersama orang lain.
2. Perdamaian dalam Perspektif Islam
Setiap individu pasti menginginkan perdamaian. Ketenangan dari menjalankan aktivitas, kebebasan dalam memeluk ajaran ketuhanan, tegaknya keadilan dan kesetaraan, terbebas dari peperangan dan lain sebagainya. Merupakan cita-cita setiap individu. Begitu pula Sayyid Quṯhb menegaskan Tujuan utama
10 De Rivera, J. “Assesing the Peacefulness of Culture” dalam de Rivera. J. (Ed.). Handbook on Building Cultures of Peace. (USA: Springer, 2009), h. 89
11 Fell, G. “Peace” dalam Hicks, D. Education for Peace: Issues. Principles and Practice in the Classroom, (London: Routledge, 1998), h. 72
12 Anand Krishna, Islam Esoteris Kemulyaan dan Keindahannya, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000), h. 5
9
Islam adalah Perdamaian. Bahkan Islam sangat tetiliti dalam melihat makna dari perdamaian.
Kita melihat banyak dari buku-buku sejarah atau dokumen-dokumen yang mencatat peristiwa perbudakan yang mana Islam hadir sebagai konsep yang universal tentang makna dari Perdamaian. Pembesan budak dari kekejaman Raja Firʻaun, hingga penyetaraan antara pria dan Wanita. Karena memang sejarah mencatat Wanita tidak memiliki nilai pada masa itu dan lebih kejamnya lagi dijadikan alat jual.
Belum pernah terjadi Islam mencetuskan peperangan dengan tujuan memaksa orang supaya memeluknya.13 Seperti halnya Ketika Islam mampu menaklukan kekuasaan Andalusia yang saat ini Bernama Spanyol. Latar belakang datangnya tantara Islam di sana karena atas undangan bangsawan Julian salah seorang Gubernur Ceutah. Tujuan undangan itu tidak lain hanyalah untuk menyingkirkan panglima Roderik yang telah merampas kekuasan dari tangan raja Gothik Bernama Witiza pada tahun 710 M14. setelah berhasil menaklukan Andalusia, Islam tidak memaksa penduduk setempat untuk memeluk ajaran Islam.
Mereka tetap pada keyakinannya masing-masing. Namun untuk system pemerintahan yang baru menggunakan system kepemimpinan dari Islam.
Islam sangat menjaga persatuan dan kesatuan umat manusia. Meskipun selalu ada pertikaian di kalangan umat manusia, Islam datang dan menawarkan satu konsep tunggal tentang ajaran hidup bermasyarakat dan hidup beragama. agama mempunyai dua peran besar: pertama, agama mengajarkan bagaimana kita melaksanakan ritual. Dalam Islam, misalnya, bagaimana seseorang melaksanakan shalat, puasa, berzakat, dan sebagainya, berdoa, dll. Dan kedua, agama mengajarkan kedamaian dan toleransi. Peran agama yang kedua inilah yang dapat berkontribusi dalam pencegahan perang dan konflik.15
Islam memandang perdamaian sebagai suatu keharusan, di dalam al-Qurʻan banyak terdapat ayat-ayat tentang perdamaian. Perdamaian merupakan kunci untuk melaksanakan aktivitas dengan sempurna. Bahkan untuk melakukan ritual dalam
13 Sayyid Quthb, Islam dan Perdamaian Dunia (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1987), h. 24
14 Zainal Abidin Ahmad, Sejarah Islam dan Umatnya Sampai Sekarang, (Jakarta: Bulan Bintang 1978), h.
96
15 Prof. Azyumardi Azra, Teaching Tolerancethrough Education in Indonesia, Reflections on the Keynote Address and Symposium Theme of International Symposium on Educating for a Culture of Peace through Values, Virtues, and Spirituality of Diverse Cultures, Faiths, and Civilizations, Multi-Faith Centre, Griffith University, 10-13August 2005
10
Islam seperti sholat, mengaji dan lainnya, harus dilandasi dengan hati yang damai dan tenang. Segala macam bentuk pertikaian yang menngikis nilai perdamaian, sangat dihindari di dalam Islam. Dalam surah al-Baqarah ayat 181:
ْ نَمَف
ْ هَلَّدَب
ْاَمَد عَ ب
ْ هَعَِسَ
اََّنَِّإَف
ْ ه ثِْإ ىَلَع
َْنيِذَّلا
ْ هَنو لِ دَب ي
ْۚ
َّْنِإ
ََّْللّا
ْ عيَِسَ
ْ ميِلَع
Artinya: “Akan tetapi barangsiapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ayat tersebut merupakan peristiwa tentang permasalahan yang mengganggu keharmonisan rumah tangga dan masyarakat.dan perdamaian atas persoalan tersebut merupakan jalan utama dalam Islam untuk menjaga tali silaturahmi.
Quraish shibab menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:
“Namun jika isi wasiat itu menyeleweng dari keadilan dan jalan lurus yang telah Kami jelaskan, seperti apabila pemberi wasiat mendahulukan si kaya dari si miskin yang sangat membutuhkan, atau mengabaikan kerabat dekat demi para fakir yang bukan ahli waris yang tidak memiliki hubungan kekerabatan, lalu ada seorang yang bermaksud baik dan meluruskan persoalan dengan mengajak para penerima wasiat itu kembali kepada kebenaran, maka ia tidak berdosa dan Allah tidak akan menghukumnya atas tindakan mengubah wasiat jika demikian bentuknya.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Dalam surah an-Nissa ayat 114, sangat jelas diterangkan bahwa perdamaian merupakan kebaikan yang diharuskan oleh Islam untuk setiap manusia. Dan atas hal tersebut dijanjikannya oleh Allah pahala yang besar:
۞ ْ نَمَو ِْْۚساَّنلا َْ يَب ْ ح َلَ صِإ ْ وَأ ْ فو ر عَم ْ وَأ ْ ةَقَدَصِب َْرَمَأ ْ نَم َّْلِّإ ْ م هاَو َنَ ْ نِم ْ يِثَك ِْف َْ يَخ َْلّ
ْ لَع فَ ي
َْكِلََٰذ
َْءاَغِت با
ِْتاَض رَم
َِّْللّا
َْف وَسَف
ِْهيِت ؤ ن اًر جَأ
ًْميِظَع
ا
11
Artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”
Sementara dalam tafsir Jalalayn tentang ayat tersebut seperti berikut:
“(Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka) artinya bisikan- bisikan manusia dan apa yang mereka percakapkan (kecuali) bisikan (orang yang menyuruh mengeluarkan sedekah atau melakukan perbuatan baik) atau kebaikan (atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang melakukan demikian) yakni yang telah disebutkan tadi (demi menuntut) mencari (keridaan Allah) dan bukan karena hal-hal lainnya berupa urusan dunia (maka akan Kami beri dia) memakai nun dan ya maksudnya Allah (pahala yang besar).”
Perdamaian merupakan watak atau karakter dari Islam itu sendiri, yang mana Islam sangat menaruh perhatian lebih terhadap perdamaian di dalam kitab sucinya. Beberapa ayat-ayat al-Qurʻan tentang perdamaian sudah dipaparkan sebelumnya dan berikut beberap nama ayat-ayat al-Qurʻan yang menyinggung tentang perdamaian:
Q.S. Al-Waaqiʻah [56]: 26; Q.S. Ash-Shafaat[37]: 109; Q.S. Ash-Shafaat [37]:130; Q.S. Ash-Shafaat [37]: 181; Q.S. Al-Hijr [15]: 46; Q.S. Ash-Shafaat [37]:
120; Q.S. Yaa Siin [36]: 58; Q.S. Adz-Dzariaat [51]: 25; Q.S. Ash-Shafaat [37]: 79;
Q.S. Al-Qadr [97]: 5; Q.S. Al-Waaqiʻah [56]: 91; Q.S. Qaf [50]: 34; Q.S. Az- Zuhruf[43]: 89; Q.S. Al-Anbiyaa` [21]: 69; Q.S. Ar-Raʻd: 24; Q.S. Huud: 69; Q.S.
Maryam: 33; Q.S.Al-Hijr: 52; Q.S. Maryam: 15; Q.S. Al-Anʻaam: 127; Q.S. Al- Ahzaab; 44; Q.S. Yuunuus: 25; Q.S. Maryam: 47; Q.S. Al-Furqaan: 75; Q.S.
Maryam: 62;Q.S. An-Naml:59; Q.S. AaliImraan: 85; Q.S. Al-Furqaan: 63; Q.S. An- Naml: 32; Q.S.Yuunuus: 10; Q.S. Ash-Shaf: 7;Q.S. Al-Qashash: 55; Q.S. Al- Maaidah: 16; Q.S.Al- Hasyr: 23; Q.S. Huud: 48; Q.S. Taahaa: 47;Q.S. Al-Hujuraat:
17; Q.S. Ibraahiim: 23; Q.S.Az-Zumar: 22; Q.S. Al-A'raaf: 46; Q.S. Az-Zumar; 73;
Q.S. Ali Imraan: 19; Q.S. Al-Anʻaam: 54; Q.S. Al-Anʻaam: 125; Q.S. An-Nisaa:
94; Q.S. At-Taubah: 74;Q.S. Al-Maaidah: 3. Q.S Al-Baqarah:182; Q.SAn-
12
Nisaa`:62;Q.S An-Nisaa`: 90; Q.S An-Nisaa`: 91; Q.S An-Nisaa`: 92; Q.S An- Nisaa`: 114; Q.S An-Nisaa`:128; Q.S Al-Anfaal: 61;Q.S Al-Qashash:19;
Q.SMuhammad:35; Q.S Al-Hujurat: 9; dan Q.S Al-Hujurat: 10.
Setelah dijumlah, total terdapat 59 Ayat. Jika ayat al-Qurʻan semuanya berjumlah 6236 berarti 0.95% dari ayat al-Qurʻan. Data tersebut menunjukkan bahwa hampir satu persen ayat al-Qurʻan memiliki relevansi dengan topik perdamaian.16
16Firdaus Wajdi, Jurnal Studi al-Qur’an, “Ayat-ayat Damai dalam al-Qur’an”, Membangun Tradisi Qur’ani, Vol. 5, No. 1, Tahun. 2009.
13 BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam makalah ini, kita telah menjelaskan bahwa konflik tersebut merupakan dampak dari perbedaan keyakinan, kepentingan, dan nilai-nilai dalam masyarakat.
Penyebab konflik agama meliputi perbedaan individu, latar belakang kebudayaan, kepentingan, dan perubahan nilai yang cepat. Penyelesaiannya memerlukan langkah- langkah seperti meningkatkan pemahaman antarumat beragama, mengurangi pemisahan wilayah berdasarkan agama atau etnis, mempromosikan toleransi, dan menghilangkan ketidakadilan struktural. Dengan upaya ini, diharapkan konflik agama dapat diatasi, dan masyarakat dapat hidup harmonis dalam keragaman keyakinan dan nilai-nilai agama.
Perdamaian adalah nilai yang sangat penting dalam Islam, dengan beragam definisi yang mencakup kondisi tanpa perang atau konflik, harmoni dalam hubungan sosial, dan kesetaraan hak. Dalam perspektif Islam, perdamaian sangat ditekankan, dengan banyak ayat dalam al-Qur'an yang menekankan pentingnya perdamaian, keadilan, dan toleransi. Islam menekankan pentingnya menyelesaikan konflik melalui cara yang damai dan berkeadilan, bukan hanya dengan absennya perang, melainkan juga melalui terciptanya kesetaraan hak, keadilan, dan hubungan yang harmonis dalam masyarakat. Islam mempromosikan toleransi, kesetaraan gender, dan persamaan hak, serta menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang lain. Oleh karena itu, perdamaian dalam Islam bukan hanya sekedar ketiadaan perang, tetapi juga mencakup upaya untuk menciptakan keadilan, toleransi, dan harmoni dalam masyarakat.
B. Saran
Sebagai manusia biasa kami memiliki keterbatasan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca sekalian guna memperbaiki dan menyempurnakan tulisan dan pengetahuan kami. Inilah pengetahuan dan wawasan kami mengenai konflik agama dan perdamaian dalam antropologi agama.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk pembaca sekalian.
14
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Zainal Abidin. 1978. Sejarah Islam dan Umatnya Sampai Sekarang. Jakarta: Bulan Bintang.
Assegaf, Arifin. 2003. Agama dan Kekerasan. Yogyakarta: Interfidei Newsletter.
De Rivera, J. 2009. "Assessing the Peacefulness of Culture" dalam de Rivera. J. (Ed.).
Handbook on Building Cultures of Peace. USA: Springer.
Djam'annuri. 2008. Sejarah Konflik dan Perdamaian Agama-agama. Yogyakarta.
Eliade, Mircea. 1987. The Encyclopedia of Religion. New York: Collier Macmillan Publishers.
Johnson, Doyle Paul. 1989. Sosiologi Klasik dan Modern. Diterjemahkan Oleh Robert M.Z.
Jakarta: Gramedia.
Krishna, Anand. 2000. Islam Esoteris Kemulyaan dan Keindahannya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Pruitt, Dean G., dan Jeffrey Z. Rubin. 2004. Teori Konflik Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Quthb, Sayyid. 1987. Islam dan Perdamaian Dunia. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Simmel, Georg. 1986. Beberapa Teori Sosiologi. Terjemahan oleh Soejono Soekanto. Jakarta:
Rajawali.
Stevenin. 2000. Strategi Menang dalam Menghadapi Konflik. Jakarta: Prenhallindo.
Thoha Hamim (dkk). 2007. Resolusi Konflik Islam Indonesia. Yogyakarta: LKiS Aksara.
Wajdi, Firdaus. 2009. "Ayat-ayat Damai dalam al-Qur'an." Jurnal Studi al-Qur'an, Membangun Tradisi Qur'ani, Vol. 5, No. 1, 2009.
Wijono, S. 1993. Konflik dalam Organisasi/Industri dengan Strategi Pendekatan Psikologi.
Semarang: Wacana.