• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH FARMAKOGNOSI KASUS 5

N/A
N/A
vivi yusna

Academic year: 2024

Membagikan "MAKALAH FARMAKOGNOSI KASUS 5"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH FARMAKOGNOSI KASUS 5

Dosen Pengampu : apt. Amalia Eka Putri, M.Farm

Disusun oleh : KELOMPOK B

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

STIKes KARYA PUTRA BANGSA TULUNGAGUNG

Jl. Raya Tulungagung – Blitar KM 4 – Sumbergempol – Tulungagung Telp (0355) 331080 – Fax (0355) 332960

2023/2024

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas segala rahmat dan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT. Karena pada kesempatan kali ini kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik, guna memenuhi tugas farmakognosi.

Terselesaikannya makalah yang kami buat ini melalui banyak proses dan hambatan, dan segala hal dapat kami lalui berkat dukungan dari berbagai pihak sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan cukup baik. Oleh karena itu kami ucapkan terima kasih kepada Dosen pengampu mata kuliah Mikrobiologi- virologi dan teman-teman yang telah membantu jalannya membuat makalah ini.

Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari bahwa masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan yang ada, baik disengaja maupun tidak disengaja, dikarenakan keterbatasan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu sebelumnya kami meminta maaf sebesar-besarnya atas ketidak sempurnaan makalah ini. Dan kami mengharapkan sekali adanya kritik dan saran yang membangun demi perbaikan pada tugas-tugas berikutnya.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca, untuk itu kami ucapkan terima kasih

Tulungagung, 20 Januari 2024

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

BAB 1 PENDAHULUAN...1

1.1 . LATAR BELAKANG...1

1.2 . RUMUSAN MASALAH...2

1.3 . TUJUAN...2

BAB 2...3

PEMBAHASAN...3

2.1 . DEFINISI BIOKIMIA...3

2.2 . SEJARAH BIOKIMIA...3

2.3 . TUJUAN DAN MANFAAT BIOKIMIA...4

2.4 . MEKANISME BIOKIMIA RESISTENSI...5

2.5 . FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA RESISTENSI...5

2.6 . KLASIFIKASI RESISTENSI ANTIBIOTIK...6

2.7 . SOLUSI RESISTENSI BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIK...8

BAB 3 PENUTUP...9

DAFTAR PUSATAKA...10

(4)
(5)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 . LATAR BELAKANG

Skrining fitokimia merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan senyawa metabolit sekunder suatu bahan alam.

Skrining fitokimia merupakan tahap pendahuluan yang dapat memberikan gambaran mengenai kadnungan senyawa tertentu dalam bahan alam yang akan diteliti. Skrining fitokimia dapat dilakukan, baik secara kualitatif, semi kuantitatif, maupun kuantitatif sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Metode skrining fitokimia secara kualitatif dapat dilakukan melalui reaksi warna dengan menggunakan suatu pereaksi tertentu. Hal penting yang mempengaruhi dalam proses skrining fitokimia adalah pemilihan pelarut dan metode ekstraksi. Pelarut yang tidak sesuai memungkinkan senyawa aktif yang diinginkan tidak dapat tertarik secara baik dan sempurna(Vifta & Advistasari, 2018)

Aegle marms Carri merupakan tanaman yang biasa dikenal sebagai Maja memiliki sebutan beragam di tiap daerah, antara lain: Mojo atau Moje Agi (Jawa), Mans (Madura), Balık (Melayu), danKabile (Alor, Nusa Tenggara).

Tanaman ini diklasifikasikan ke dalam Divisi Spermatophyta, Sub Divisi Angiosperman, Kelas Dicotyledoneue, Barigsa Ratales, Suku Ratanae, dan Marga legk. Selain di Indonesia, ternyata Maja juga dapat dijumpai di wilayah Asia Tenggara lainnya dan Asia Selatan. Daerah penyebarannya terutama di dataran rendah hingga ketinggian ± 500 m di atas permukaan laut dengan kondisi lahan basah seperti rawa-rawa maupun di lahan kering, dan pada suhu 49 °C saat musim kemarau atau -7°C saat musim dingin.

1.2 . RUMUSAN MASALAH

1.2.1 . Bagaimana skrining fitokimia secara kualitatif dan kuantitatif terhadap kandungan senyawa metabolit sekunder dalam buah maja?

1.3 . TUJUAN

(6)

1.3.1 . Mengetahui tentang skrining fitokimia secara kualitatif dan kuantitatif terhadap kandungan senyawa metabolit sekunder dalam buah maj

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 . DEFINISI SKRINING FITOKIMIA

Skrining fitokimia merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan senyawa metabolit sekunder suatu bahan alam.

Skrining fitokimia merupakan tahap pendahuluan yang dapat memberikan gambaran mengenai kadnungan senyawa tertentu dalam bahan alam yang akan diteliti. Skrining fitokimia dapat dilakukan, baik secara kualitatif, semi kuantitatif, maupun kuantitatif sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Metode skrining fitokimia secara kualitatif dapat dilakukan melalui reaksi warna dengan menggunakan suatu pereaksi tertentu. Hal penting yang mempengaruhi dalam proses skrining fitokimia adalah pemilihan pelarut dan metode ekstraksi. Pelarut yang tidak sesuai memungkinkan senyawa aktif yang diinginkan tidak dapat tertarik secara baik dan sempurna(Vifta & Advistasari, 2018)

2.2 . BUAH MAJA

2.2.1 Sistematika tumbuhan

(7)

Menurut BPOM RI. 2008 sistematika tanaman maja (Aegle marmelos Linn.) sebagai berikut :

Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub Divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Bangsa : Sapindales Suku : Rutaceae Marga : Aegle

Jenis : Aegle marmelos (L.) Correa

2.2.2Deskripsi tanaman

Habitus berupa pohon tahunan dengan tinggi 10-15 m. Batangnya berkayu, bulat, bercabang, berduri dan berwarna putih kekuningan.

Daunnya tersebar pada batang muda, berbentuk lonjong dengan ujung dan pangkal runcing, tepi bergerigi 7 atau berlekuk tidak dalam. Panjang daun 4-13,5 cm, lebar 2-3,5 cm, berwarna hijau. Bunga berupa bunga majemuk, bentuk malai. Daun mahkota lonjong,berwarna hijau dengan panjang 1-1,5 cm. Buah berbentuk bola, diameter 5-12 cm, berdaging dan berwarna coklat. Biji berbentuk pipih dan berwarna hitam. Akar tunggang berwarna putih kotor (BPOM RI. 2008).

2.2.3. Kandungan kimia

Kandungan buah maja diantaranya alkaloid, terpenoid, polifenol, saponin, tanin, dan plobatanin. Penelitian lain juga disebutkan pula kandungan buah maja diantaranya alkaloid, flavonoid, fenol dan tanin. Kandungan yang

(8)

diduga memiliki aktivitas antibakteri pada buah maja yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan steroid/triterpenoid.

a. Alkaloid.

Alkaloid dilaporkan memiliki antimikroba spektrum luas,antiradikal, antioksidan, antiplasmodial, antikanker dan antimutagenik. Alkaloid memiliki kemampuan sebagai antibakteri.

Mekanisme yang diduga adalah dengan cara mengganggu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel tersebut.

b. Flavonoid.

Flavonoid adalah senyawa yang terdapat dalam tumbuhan terikat pada gula sebagai glikosida dan aglikon flavonoid yang mungkin saja terdapat dalam satu tumbuhan dalam beberapa bentuk kombinasi glikosida, larut dalam air. Flavonoid terdapat dalam tumbuhan sebagai campuran, jarang sekali dijumpai hanya flavonoid tunggal dalam jaringan tumbuhan. Senyawa flavonoid merupakan golongan senyawa fenol, diduga mekanisme kerjanya dengan mendenaturasikan protein sel dan merusak membran sel mikroorganisme. Suatu substansi yang dapat mendenaturasikan protein dan merusak sel tanpa dapat diperbaiki lagi (irreversible) sehingga pertumbuhan mikroba terhambat.

c. Saponin.

Saponin merupakan jenis glikosida yang banyak ditemukan dalam tumbuhan, sehingga dapat direaksikan dengan air dan digojog maka akan terbentuk busa yang dapat bertahan lama.

Saponin mudah larut dalam air dan 8 etanol tetapi tidak larut dalam eter. Saponin memiliki rasa pahit menusuk dan menyebabkan bersin serta iritasi pada selaput lendir. Saponin bersifat racun bagi hewan berdarah dingin maka saponin dapat digunakan sebagai

(9)

racun ikan. Saponin bersifat keras atau racun biasa disebut sebagai sapotoksin

Mekanisme kerja saponin termasuk dalam kelompok antibakteri yang memiliki kemampuan dalam menghambat fungsi membran sel sehingga merusak permeabilitas membran yang mengakibatkan dinding sel rusak atau hancur.

d. Tanin.

Tanin adalah polifenol tanaman yang berfungsi mengikat dan mengendapkan protein. Tanin juga dipakai untuk menyamak kulit. Terapi di dunia pengobatan, tanin berfungsi untuk mengobati diare, menghentikan pendarahan, dan mengobati ambeien. Tanin merupakan senyawa fenolik kompleks yang memiliki berat molekul 500-3000. Tanin dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu berdasarkan tipe struktur dan aktivitasnya terhadap senyawa hidrofilik terutama asam, tanin terkondensasi dan tanin yang dapat dihidrolisis.

e. Triterpenoid.

Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya dari enam satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C-30 asiklik yaitu skualena. Senyawa ini tidak berwarna, berbentuk Kristal, bertitik leleh tinggi dan bersifat optis aktif. Triterpenoid dibagi menjadi empat golongan senyawa yaitu triterpen, saponin, steroid, dan glikosida jantung. Mekanisme triterpenoid sebagai antibakteri adalah bereaksi dengan porin (protein transmembran) pada membran luar dinding sel bakteri, membentuk ikatan polimer yang kuat sehingga mengakibatkan rusaknya porin. Rusaknya porin merupakan pintu keluar masuknya senyawa akan mengurangi permeabilitas dinding sel bakteri dan mengakibatkan sel bakteri akan kekurangan nutrisi, sehingga pertumbuhan bakteri terhambat atau mati.

(10)

2.2.4 Kegunaan tanaman

Secara tradisional maja dijadikan obat untuk mengobati luka, gatal, demam, diare, dan hipokondria. Maja telah lama digunakan oleh masyarakat pedesaan sebagai obat tradisional seperti merebus daunnya dan meminum air hasil rebusannya dan dipercaya dapat

menurunkan tekanan darah tinggi atau hipertensi.

Buah maja juga dapat digunakan sebagai bahan baku pestisida nabati.

Tanaman maja juga sering digunakan sebagai obat tradisional. Buah yang matang dapat diiris-iris, dikeringkan dan digunakan sebagai obat disentri kronis, diare, dan sembelit. Kulit batangnya digunakan untuk meracuni ikan. Akar maja digunakan sebagai obat penenang debaran jantung, gangguan pencernaan, dan bengkak lambung (Nurcahyati 2008). Selain itu getah maja juga dapat digunakan sebagai obat pharmaceutical yang berfungsi sebagai perekat untuk obat-obatan tablet.

2.3 . EKTRAK KENTAL

2.4 . MEKANISME BIOKIMIA RESISTENSI

2.5 . FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA RESISTENSI

2.6 . KLASIFIKASI RESISTENSI ANTIBIOTIK

(11)

BAB 3 PENUTUP

3.1 KESIMPULAN 3.2 SARAN

(12)

DAFTAR PUSATAKA

Vifta, R. L., & Advistasari, Y. D. (2018). Skrining Fitokimia, Karakterisasi, dan Penentuan Kadar Flavonoid Total Ekstrak dan Fraksi-Fraksi Buah Parijoto (Medinilla speciosa B.) Pytochemical Screening, Characterization, and Determination of Total Flavonoids Extracts and Fractions of Parijoto Fruit.

Prosiding Seminar Nasional Unimus, 1, 8–14.

https://prosiding.unimus.ac.id/index.php/semnas/article/view/19/116

Referensi

Dokumen terkait

Cairan pelarut dalam proses pembuatan ekstrak adalah pelarut yang baik (optimal) untuk senyawa kandungan yang berkhasiat atau yang aktif, dengan demikian senyawa tersebut

Cairan pelarut dalam proses pembutan ekstrak adalah pelarut yang baik (optimal) untuk senyawa kandungan yang berkhasiat atau yang aktif, dengan demikian senyawa tersebut

Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau hewani dengan menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua pelarut

Cairan pelarut dalam proses pembuatan ekstrak adalah pelarut yang baik (optimal) untuk senyawa kandungan yang berkhasiat atau yang aktif, dengan demikian senyawa tersebut

Cairan pelarut dalam proses pembuatan ekstrak adalah pelarut yang baik (optimal) untuk senyawa yang berkhasiat atau yang aktif, dengan demikian senyawa tersebut dapat terpisah

Hal ini dikarenakan pada proses sokletasi digunakan panas sesuai dengan titik didih pelarut untuk mempercepat kelarutan senyawa aktif dalam suatu bahan, sehingga senyawa aktif

Cairan penyari (pelarut) dalam proses pembuatan ekstrak adalah pelarut yang baik untuk senyawa kandungan yang berkhasiat atau yang aktif, dengan demikian senyawa tersebut

Cairan pelarut dalam proses pembutan ekstrak adalah pelarut yang baik (optimal) untuk senyawa kandungan yang berkhasiat atau yang aktif, dengan demikian senyawa tersebut