• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

N/A
N/A
izzatu jahra

Academic year: 2025

Membagikan "MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN ESENSIALISME

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Filsafat Pendidikan Islam

DISUSUN OLEH : Kelompok 4

Abdul Rahim (2111101262) Izzatu Jahra (2111101066) Ichsan fizhof alkahfi (2111101126)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN AJI MUHAMMAD IDRIS 2022

(2)

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang dan dengan memanjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, nikmat, dan karunia-Nya sehingga kita masih diberikan kesehatan jasmani dan rohani.

Sholawat serta salam tetaplah kita curahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW.

Yang telah menunjukan kita kepada jalan yang terang pada saat ini.

Penulis akhirnya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN ESENSIALISME” Dalam makalah ini penulis sangat berharap makalah ini dapat menambah pengetauan dan wawasan pembaca. Penulis mengucapakan terimakasih atas semua pihak dan sumber yang telah membantu hingga terselesaikan makalah ini. Menyadari apabila makalah ini masih banyak kekurangan saran serta kritik senantiasa kami terima dengan senang hati guna memperbaiki kesalahan sebagai mana mestinya di masa mendatang.

Kalimantan Timur, 18 Maret 2022

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...1

B. Rumusan Masalah ...2

C. Tujuan Penulisan ...2

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Aliran Esensialisme ...3

B. Tokoh-Tokoh Aliran Esensialisme ...4

C. Tujuan Pendidikan Menurut Aliran Esensialisme ...6

D. Pandangan Esensialisme Dalam Pembelajaran ...7

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ...10

B. Saran ...10

DAFTAR PUSTAKA ...11

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pada dasarnya pendidikan adalah proses memanusiakan manusia secara manusiawi agar peserta didik memiliki kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan merupakan intisari dari tujuan pendidikan, baik dalam hal pembentukan kepribadian, keterampilan maupun sikap dan kemampuan untuk patuh kepada perintah Tuhan, taat beribadah, dan menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi dengan sebaikbaiknya. Dengan kata lain, nilai-nilai kemanusiaan yang diharapkan adalah kesediaan seseorang untuk berserah diri kepada Tuhan sehingga memperoleh keselamatan dan kedamaian.

Sebagaimana yang telah disepakati bersama, bahwa pendidikan haruslah bersendikan atas nilai-nilai yang dapat mendatangkan kestabilan. Agar maksud tersebut dapat terpenuhi, nilai-nilai itu perlu dipilih dan memiliki tata yang jelas serta yang telah teruji oleh waktu. Nilai-nilai yang dapat memenuhi adalah berasal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif selama 4 abad belakangan ini, dengan perhitungan zaman Renaisans, sebagai pangkal timbulnya pandangan- pandangan esensialistis awal. Esensialisme percaya bahwa pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Pada umumnya, pemikiran aliran pendidikan esensialisme dilandasi dengan filsafat tradisional idealisme klasik dan realisme. Dua aliran tersebut adalah pendukung esensialisme, namun tidak melebur menjadi satu dan tidak melepaskan karakteristiknya masing-masing. Maka untuk itu, dalam makalah ini penulis akan membahas lebih lanjut mengenai filsafat pendidikan esensialisme, baik yang berhubungan dengan ajaran-ajarannya maupun pandangannya dalam pendidikan.

(5)

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian aliran esensialisme?

2. Siapa saja tokoh-tokoh aliran esensialisme?

3. Apa tujuan pendidikan menurut aliran esensialisme?

4. Bagaimana pandangan esensialisme dalam pembelajaran?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahuai pengertian aliran esensialisme 2. Untuk mengetahui tokoh-tokoh aliran esensialisme

3. Untuk mengetahui tujuan pendidikan menurut aliran esensialisme 4. Untuk mengetahui pandangan esensialisme dalam pembelajaran

(6)

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Aliran Esensialisme

Filsafat pendidikan esensialisme ini muncul pada awal tahun 1930, dengan beberapa orang pelopornya, seperti William C. Bagley, Thomas Brigger, Frederick Breed, dan Isac L Kandel. Pada tahun 1983, mereka membentuk suatu lembaga yang disebut "The esensialist commite for the advanced of American Education". Bagley sebagai pelopor esensialisme adalah seorang guru besar pada "teacher college", Columbia University. Ia yakin bahwa fungsi utama sekolah adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda.

Esensialisme muncul pada zaman Renaisance dengan ciri-ciri yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu.

Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Nilai-nilai di dalamnya adalah berasal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif selama empat abad belakang.

Kesalahan dari kebudayaan sekarang menurut esensialisme, yaitu terletak pada kecenderungan bahkan gejala-gejala penyimpangannya dari jalan lurus yang telah ditanamkan kebudayaan warisan itu. Fenomena-fenomena sosial-kultural yang tidak diinginkan sekarang, hanya dapat di atasi dengan kembali secara sadar melalui pendidikan, yaitu kembali ke jalan yang telah ditetapkan itu, dengan demikian kita boleh optimis terhadap masa depan kita dan masa depan kebudayaan umat manusia.

Esensialisme adalah suatu filsafat dalam aliran pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah- sekolah. Bagi aliran ini "Education as Cultural Conservation",

(7)

pendidikan sebagai pemeliharaan kebudayaan. Karena dalil ini, maka aliran esensialisme dianggap para ahli sebagai "Conservatif road to culture" yakni aliran yang ingin kembali kepada kebudayaan lama warisan sejarah yang telah membuktikan kebaikan-kebaikannya bagi kehidupan manusia. Esensialisme percaya bahwa pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak zaman awal peradaban umat manusia. Kebudayaan yang mereka wariskan kepada kita hingga sekarang, telah teruji oleh zaman, kondisi dan sejarah kebudayaan.

Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, yang memberikan kestabilan dan nilai- nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Pendapat ini dikemukakan oleh Jalaluddin dkk yang dikutip dari pendapat Zuhairini. Dengan artian, esensialisme ingin kembali ke masa dimana nila-nilai kebudayaan itu masih tetap terjaga, yang nilai itu tersimpul dalam ajaran para filosof, ahli pengetahuan yang agung, yang ajaran dan nilai-nilai ilmu mereka kekal.

B. Tokoh-Tokoh Aliran Esensialisme

Tokoh utama esensialisme pada permulaan awal munculnya adalah George Wilhelm Friedrich Hegel (1770–1831). George Wilhelm Friedrich Hegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah.

Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan, yang dikuasai oleh hukum- hukum yang sejenis. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak, maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak.

Tokoh lainnya adalah George Santayana, dengan memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa

(8)

nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu.

Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter atau nilai-nilai, namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih, melaksanakan).

Ada beberapa tokoh terkemuka yang berperan dalam penyebaran aliran essensialisme dan sekaligus memberikan pola dasar pemikiran mereka.

a. Desidarius Erasmus, humanis Belanda yang hidup pada akhir abad ke-15 dan permulaan abad ke-16, adalah tokoh pertama yang menolak pandangan hidup yanag berbijak pada “dunia lain”. Ia berusaha agar kurikulum di sekolah bersifat humanistis dan bersifat internasional, sehingga dapat diikuti oleh kaum tengahan dan aristokrat.

b. Johann Amos Comeniuc (1592-1670), tokoh Reinaissance yang pertama yang berusaha mensistematiskan proses pengajaran. Ia memiliki pandangan realis yang dogmatis, dan karena dunia ini dinamis dan bertujuan, maka tugas kewajiban pendidikaan adalah membentuk anak sesuai dengan kehendak Tuhan.

c. John Lock (1632-1704), tokoh dari inggris dan populer sebagai “pemikir dunia” mengatakan bahwa pendidikan hendaknya selalu dekat dengan situasi dan kondisi.

d. Johann Henrich Pestalozzi (1746-1827), mempunyai kepercayaan bahwa sifat-sifat alam itu tercermin pada manusia, sehingga pada diri manusia terdapat kemampuan-kemampuan wajarnya. Selain itu ia percaya kepada hal-hal yang transendental, dan manusia mempunyai hubungan transendental langsung dengan Tuhan.

e. Johann Frederich Frobel (1782-1852), seorang tokoh transendental pula yang corak pandangannya bersifat kosmissintetis, dan manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang merupakan bagian dari alam ini. Oleh karena itu ia tunduk dan mengikuti ketentuan dari hukum-hukum alam. Terhadap pendidikan ia memandang anak sebagai makhluk yang berekspresi kreatif,

(9)

dan tugas pendidikan adalah memimpin peserta didik kearah kesadaran diri sendiri yang murni, sesuai fitrah kejadiannya.

f. Johann Fiedrich Herbart (1776-1841), salah seorang murid Immanuel Kant yang berpandangan kritis. Ia berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebajikan dari Yang Mutlak, berarti penyesuaian dengan hukumhukum kesusilaan, dan ini pula yang disebut

“pengajaran yang mendidik” dalam proses pencapaian pendidikan.

g. Tokoh terakhir dari Amerika Serikat, William T. Harris (1835- 1909)- pengikut Hegel, berusaha menerapkan Idealisme Obyektif pada pendidikan umum. Menurut dia bahwa tugas pendidikan adalah mengizinkan terbukanya realita berdasarkan susunan yang pasti, berdasarkan kesatuan spiritual. Keberhasilan sekolah adalah sebagai lembaga yang memelihara nilai-nilai yang telah turun temurun dan menjadi penuntun penyesuaian diri setiap orang kepada masyarakat.

C. Tujuan Pendidikan Menurut Aliran Esensialisme

Konsep dasar pendidikan esensialisme adalah bagaimana menyusun dan menerapkan program-program esensialis di sekolah-sekolah. Tujuan utama dari program-program teresebut di antaranya :

a. Sekolah-sekolah esensialis melatih dan mendidik subjek didik untuk berkomunikasi dengan logis.

b. Sekolah-sekolah mengajarkan dan melatih anak-anak secara aktif tentang nilai-nilai kedisiplinan, kerja keras dan rasa hormat kepeda pihak yang berwenang atau orang yang memiliki otoritas.

c. Sekolah-sekolah memprogramkan pendidikan yang bersifat praktis dan memberi anak-anak pengajaran yang mempersipkannya untuk hidup.

Berdasarkan konsep dasar tersebut, maka di antara tujuan pendidikan esensialisme adalah :

1) Untuk meneruskan warisan budaya dan warisan sejarah melalui pengetahuan inti yang terakumulasi dan telah bertahan dalam kurum

(10)

waktu yang lama serta merupakan suatu kehidupan yang telah teruji oleh waktu dan dikenal oleh semua orang. Pengetahuan yang dimaksud adalah skill, sikap dan nilai-nilai yang mamadai.

2) Untuk mempersiapkan manusia untuk hidup. Persiapan yang dimaksud adalah bagaimana merancang sasaran mata pelajaran sedemikian rupa sehingga hasilnya mampu mempersiapkan anak didik untuk menghadapi hidup di masa yang akan datang. Dalam mempersiapkan subjek didik tersebut, tanpaknya sekolah hanya bertugas bagaimana merancang sasaran tujuan pembelajaran, pelaksanaanya diperlukan adanya kerja sama dengan unsur-unsur luar sekolah.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahawa pada dasarnya tujuan pendidikan esensialisme adalah transmisi kebudayaan untuk menentukan solidaritas sosial dan kesejahteraan.

D. Pandangan Esensialisme Dalam Pembelajaran

Aliran esensialisme memandang bahwa pendidikan bertumpu pada dasar pandangan fleksibilitas dalam segala bentuk yang dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah-ubah, mudah goyah dan kurang terarah, tidak menentu dan kurang stabil. Maka dari itu, idealnya pendidikan harus berpijak di atas nilai-nilai yang sekiranya dapat mendatangkan kestabilan, telah teruji oleh waktu, tahan lama, serta nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan telah terseleksi (anwar,2015). Adapun nilai-nilai yang dianggap dapat dijadikan pijakan, yaitu nilai-nilai yang berasal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif. Puncak refleksi dari gagasan ini adalah pada pertengahan abad kesembilan belas (barnadib, 1997).

Adapun pandangan esensialisme dan penerapannya di bidang pendidikan antara lain :

a. Kurikulum Pendidikan

Menurut aliran esensialisme kurikulum pendidikan lebih diarahkan pada faktafakta (nilai-nilai), kurikulum pendidikan esensialisme berpusat pada

(11)

mata pelajaran.Dalam hal ini ditingkat sekolah dasar misalnya, kurikulum lebih ditekankan pada beberapa kemampuan dasar, diantaranya yaitu kemampuan menulis, membaca dan berhitung. Sementara itu dijenjang sekolah menengah penekanannya sudah lebih diperluas, misalnya sudah mencakup sains, bahasa, sastra dan sebagainya. Dalam hal ini menurut pandangan esensialisme kurikulum yang diterapkan dalam sebuah proses belajar menganjar lebih menekankan pada penguasaan berbagai fakta dan pengetahuan dasar merupakan sesuatu yang sangat esensial bagi kelanjutan suatu proses pembelajaran dan dalam upaya untuk mencapai tujuan pendidikan secara umum. Dengan kata lain penguasaan fakta dan konsep dasar disiplin yang esensial merupakan suatu keharusan.

b. Metode Pendidikan

Metode Pendidikan Dalam pandangan esensialisme, metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar lebih tergantung pada inisiatif dan kreatifitas pengajar (guru), sehingga dalam hal ini sangat tergantung pada penguasaan guru terhadap berbagai metode pendidikan dan juga kemampuan guru dalam menyesuaikan antara berbagai pertimbangan dalam menerapkan suatu metode sehingga bisa berjalan secara efektif. Pendidikan berpusat pada guru (teacher centered), umumnya diyakini bahwa pelajar tidak betul-betul mengetahui apa yang diinginkan dan mereka harus dipaksa belajar. Metode utama adalah latihan mental, misalnya melalui diskusi dan pemberian tugas, penguasaan pengetahuan, misalnya melalui penyampaian informasi dan membaca.

c. Pelajar

Dalam pandangan esensialisme sekolah bertanggung jawab untuk memberikan engajaran yang logis atau terpercaya kepada peserta didik, sekolah berwenang untuk mengevaluasi belajar siswa. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa siswa adalah mahluk rasional dalam kekuasaan (pengaruh) fakta dan keterampilan-keterampilan pokok yang diasah melakukan latihan-latihan intelek atau berfikir, siswa kesekolah adalah

(12)

untuk belajar bukan untuk mengatur pelajaran sesuai dengan keinginannya.

Dalam hal ini sangat jelas dalam pandangan esensialisme bahwa pelajar harus diarahkan sesuai dengan nilai-nilai yang sudah diakui dan tercantum dalam kurikulum, bukan didasarkan pada keinginannya

d. Pendidik/Pengajar

Menurut pandangan aliran filsafat esensialisme, Guru mempunyai pernan yang kuat dalam mempengrauhi dan mengawasi kegiatan-kegiatan di kelas.

Guru adalah pemilik kewenangan di bidang keahliannya. Selain itu, guru juga sebagai teladan atau contoh dalam pengawalan nilia-nilai dan penguasaan-penguasaan atau gagasangagaasan. Dengan kata lain dalam pandangan esensialisme dalam proses belajar menganjar pengajar (guru) mempunyai peranan yang sangat dominan dibanding dengan peran siswa, hal ini tidak terlepas dari pandangan mereka tentang kurikulum dan juga tentang siswa dimana siswa harus diarahkan sesuai dengan kurikulum yang sesuai dengan nilai-nilai yang sudah teruji dan tahan lama, sehingga guru mempunyai peranan yang begitu dominan dalam jalannya proses belajar mengajar.

(13)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Aliran filsafat Esensialisme adalah suatu aliran filsafat yang menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama. Aliran Esensialisme ini memandang bahwa pendidikan yang bertumpu pada dasar pandangan fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah-ubah, mudah goyah, kurang terarah, tidak menentu dan kurang stabil.

Esensialisme menghendaki pendidikan yang bersendikan atas nilai-nilai yang tinggi, yang hakiki kedudukannya dalam kebudayaan. Tujuan pendidikan adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah suatu inti pengetahuan yang telah terhimpun, yang telah bertahan sepanjang waktu dan dengan demikian adalah berharga untuk diketahui oleh semua orang. Pendidikan berpusat pada guru, ada keyakinan bahwa pelajar tidak betulbetul mengetahui apa yang diinginkan, dan mereka harus dipaksa belajar.

B. Saran

Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia,terutama dalam bidang pendidikan. Untuk itu kita harus memajukan sistem pendidikan, karena pendidikan merupakan suatu modal penerapan dalam pengembangan ilmu bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari baik formal maupun informal,yang berperan aktif menjadikan mutu pendidikan lebih maju.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Faizin, I. (2020). Paradigma Essensialisme Dalam Pendidikan Islam. Al-Miskawaih:

Jurnal Pendidikan Agama Islam1(2), 155-171.

Hardanti, B. W. (2020). Landasan ontologis, aksiologis, epitesmologis aliran filsafat esensialisme dan pandanganya terhadap Pendidikan. Reforma: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran9(2), 87-95.

Sigli, S. P. A. H. (2021). Filsafat Pendidikan esensialisme. Jurnal Aktualisasi Pendidikan Islam Azkia15(2), 162.

Thaib, M. I. (2015). Essensialisme dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam. Jurnal MUDARRISUNA: Media Kajian Pendidikan Agama Islam5(2), 325-356.

Yunus, H. A. (2016). Telaah aliran Pendidikan progresivisme dan esensialisme dalam perspektif filsafat Pendidikan. Jurnal Cakrawala Pendas2(1), 29-39.

Referensi

Dokumen terkait

“nilai” ini tidak terbatas. Menurut Barnadib, aliran rekontruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan asas-asas supranatural, yaitu menerima nilai natural yang

Dengan berpijak pada pandangan filosofis dari empat madzhab utama Filsafat Islam Klasik, yaitu: Masya’iyah (Peripatetik) Ibnu Sina, Hermenetik-Phitagorean Ikhwan

MAKALAH SISTEM PENDIDIKAN ISLAM. “NILAI-NILAI SISTEM

Dengan berpijak pada pandangan filosofis dari empat madzhab utama Filsafat Islam Klasik, yaitu: Masya’iyah (Peripatetik) Ibnu Sina, Hermenetik-Phitagorean Ikhwan

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa aliran Esensialisme menghendaki agar landasan pendidikan adalah nilai-nilai esensial yaitu yang telah teruji oleh waktu,

Bahwa upaya pendidikan Islam adalah pembinaan pribadi muslim sejati yang mengabdi dan merealisasikan “kehendak” Tuhan sesuai dengan syari’at Islam, serta mengisi tugas kehidupannya

Tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertakwa kepadaNya,

Dalam konteks filsafat pendidikan Islam, pemahaman dan perkembangan konsep-konsep ini memainkan peran penting dalam membentuk pandangan dunia, tujuan pendidikan, serta pemahaman tentang