PROJECT
“Kontrasepsi Bukan Tabu : Mengapa Remaja Perlu Memahami untuk Mencegah Stunting”
Disusun Oleh:
Annisa Huriyatis Solihah, PIK-R TANATRA SMA Negeri 1 Kejayan
APRESIASI DUTA GENERASI BERENCANA KABUPATEN PASURUAN
2024
1.1 Latar Belakang
Stunting adalah salah satu permasalahan kesehatan yang serius di Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika seorang anak memiliki tinggi badan yang jauh lebih pendek dari rata-rata anak seusianya akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan otak dan kemampuan kognitif anak.
Faktor utama penyebab stunting adalah kurangnya asupan gizi pada ibu hamil dan bayi, namun pernikahan usia muda serta kehamilan yang tidak direncanakan juga berkontribusi besar. Remaja menjadi kelompok yang rentan terhadap masalah kesehatan reproduksi dan kehamilan yang tidak diinginkan. Tingkat literasi mengenai kesehatan reproduksi di kalangan remaja masih tergolong rendah, sehingga penting untuk memberikan pemahaman yang baik mengenai penggunaan alat kontrasepsi sebagai langkah pencegahan kehamilan dini dan upaya menghindari stunting pada generasi berikutnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, masalah kesehatan reproduksi, khususnya di kalangan remaja, semakin menjadi perhatian. Angka kehamilan tidak diinginkan (KTD), pernikahan dini, serta kurangnya pengetahuan tentang kontrasepsi dan kesehatan seksual membuat remaja sangat rentan terhadap berbagai masalah. Di antara risiko terbesar adalah Infeksi Menular Seksual (IMS), kehamilan pada usia yang tidak tepat (baik terlalu muda maupun terlalu tua), serta kelahiran yang terlalu banyak atau terlalu dekat. Semua faktor ini memiliki implikasi besar terhadap kesehatan ibu dan anak, termasuk meningkatkan risiko stunting.
Stunting di Indonesia menjadi masalah kesehatan publik yang serius. Menurut data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan kontrasepsi di kalangan remaja turut mempengaruhi tingginya angka pernikahan dini dan KTD, yang pada akhirnya memperburuk masalah
stunting. Dalam konteks ini, kontrasepsi tidak boleh lagi dianggap sebagai topik tabu di kalangan remaja. Melalui pendidikan dan program seperti Generasi Berencana (GenRe) dan PIK R (Pusat Informasi dan Konseling Remaja), remaja perlu memahami pentingnya kontrasepsi sebagai langkah preventif untuk menghindari IMS (Infeksi Menular Seksual), KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan), dan 4T (terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak, dan terlalu dekat).
Sebagaimana juga pengeluaran Peraturan Pemerintah (PP) tentang Kesehatan yang baru-baru ini di perbincangkan. Di liput dari BBC News, terdapat satu pasal yang menyebut penyediaan alat kontrasepsi bagi kelompok usia sekolah dan remaja. Pasal 103 dari PP Nomor 28 Tahun 2024 mengatur tentang upaya kesehatan sistem reproduksi yang mencakup pencegahan, peningkatan, perlindungan, pengobatan, dan pemulihan. Dalam konteks edukasi kontrasepsi dan pencegahan stunting, pasal ini sangat relevan karena menekankan pentingnya layanan kesehatan reproduksi, termasuk akses terhadap kontrasepsi yang aman dan efektif.
Edukasi kontrasepsi berperan penting dalam membantu masyarakat memahami cara mengatur keluarga secara bertanggung jawab, terutama dalam mencegah kehamilan berisiko. Edukasi ini juga membantu mencegah stunting dengan memastikan bahwa setiap kehamilan direncanakan dengan baik dan anak-anak lahir dalam kondisi yang optimal. Selain itu, Pasal 103 juga menekankan promosi kesehatan reproduksi untuk remaja melalui program-program seperti GenRe dan PIK R, yang bertujuan menunda kehamilan di usia dini. Dengan pendekatan yang holistik, pasal ini menggarisbawahi pentingnya kualitas layanan kontrasepsi yang sesuai dengan standar kesehatan untuk mendukung perencanaan keluarga yang baik, mencegah KTD, dan melindungi hak reproduksi.
2.1 B. Pembahasan
2.2 Pentingnya Pemahaman Kontrasepsi di Kalangan Remaja
Kontrasepsi sering dianggap tabu oleh masyarakat, terutama jika dikaitkan dengan remaja. Padahal, pemahaman tentang kontrasepsi merupakan bagian penting dari pendidikan kesehatan reproduksi. Tanpa pemahaman yang memadai, remaja berisiko melakukan hubungan seksual yang tidak aman, yang dapat mengarah pada IMS dan KTD. Dengan memahami cara kerja kontrasepsi, remaja dapat mengambil keputusan yang lebih baik untuk masa depannya. Di banyak negara, termasuk Indonesia, pernikahan dini sering dipicu oleh KTD. Remaja yang hamil di luar nikah sering dipaksa untuk menikah pada usia yang terlalu muda hal ini dapat menyebabkan masalah kesehatan bagi ibu dan anak ,seta anak akan meiliki resiko stunting. Dengan mengedukasi remaja tentang kontrasepsi, kita dapat membantu menunda pernikahan dini dan mengurangi risiko yang terkait dengan pernikahan di usia muda. Edukasi tentang kontrasepsi membantu remaja merencanakan hidup mereka dengan lebih baik.
Mereka bisa fokus menyelesaikan pendidikan, mengembangkan karier, dan membangun pondasi yang kuat sebelum memutuskan untuk memiliki anak. Pemahaman yang baik tentang kontrasepsi memungkinkan remaja membuat keputusan yang matang mengenai kapan waktu terbaik untuk menikah dan memiliki anak
2.3 Pengaruh Kontrasepsi pada Pencegahan Stunting
Kontrasepsi memiliki peran penting dalam pencegahan stunting dengan membantu mengatur jarak antar kehamilan dan merencanakan keluarga secara tepat. Penggunaan kontrasepsi memungkinkan pasangan untuk menunda kehamilan hingga usia yang ideal, sehingga menghindari risiko kehamilan terlalu muda atau terlalu tua, yang dapat berdampak buruk pada kesehatan ibu dan anak. Selain itu, kontrasepsi membantu menjaga jarak kehamilan yang cukup, biasanya lebih dari dua tahun, sehingga tubuh ibu memiliki waktu untuk pulih dan memastikan kondisi kesehatan yang optimal sebelum kehamilan berikutnya. Hal ini penting
untuk mengurangi risiko anak lahir dengan berat badan rendah, gizi buruk, atau mengalami stunting.
Selain itu, kontrasepsi juga membantu mencegah kehamilan yang terlalu banyak, yang dapat meningkatkan tekanan fisik dan ekonomi pada keluarga, sehingga mempengaruhi kemampuan mereka untuk memberikan nutrisi yang cukup bagi anak-anak. Dengan perencanaan keluarga yang baik melalui penggunaan kontrasepsi, keluarga dapat memastikan bahwa setiap anak mendapatkan perhatian, perawatan, dan asupan gizi yang optimal, yang merupakan kunci penting dalam pencegahan stunting.
Hubungan antara penyebab stunting dan peran kontrasepsi dalam pencegahannya sangat erat. Adapun penyebab terjadinya stunting terdapat beberapa faktor,yaitu :
1. Kekurangan gizi kronis: Anak yang tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup, terutama dalam kandungan hingga usia dua tahun, berisiko mengalami pertumbuhan terhambat. Gizi yang kurang memadai menghambat perkembangan fisik dan otak anak.
2. Infeksi berulang: Anak yang sering mengalami infeksi, seperti diare atau infeksi saluran pernapasan, lebih rentan terhadap stunting. Infeksi mengganggu penyerapan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.
3. Pola asuh yang kurang baik: Pengetahuan orang tua, terutama ibu, tentang gizi dan kesehatan anak sangat penting. Pola asuh yang kurang tepat, seperti pemberian makanan yang tidak seimbang atau tidak memenuhi kebutuhan gizi anak, dapat menyebabkan stunting.
4. Kurangnya akses terhadap layanan kesehatan: Kurangnya akses terhadap
perawatan kesehatan yang baik, seperti imunisasi, pemeriksaan kesehatan ibu hamil, dan pelayanan kesehatan anak, berkontribusi pada risiko stunting.
5. Sanitasi dan kebersihan yang buruk: Lingkungan yang tidak bersih, seperti sanitasi buruk atau akses air bersih yang minim, dapat menyebabkan anak sering sakit, yang akhirnya memengaruhi asupan gizi dan menghambat pertumbuhan.
6. Kehamilan berisiko: Kehamilan pada usia terlalu muda, terlalu tua, jarak kehamilan yang terlalu dekat, atau jumlah kehamilan yang terlalu banyak (4T) dapat
meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah atau terhambat pertumbuhannya.
2.4 Stunting dan Pentingnya Perencanaan Keluarga
Salah satu akibat dari kehamilan pada usia yang tidak tepat, jarak kelahiran yang terlalu dekat, atau kekurangan gizi pada ibu adalah stunting pada anak. Masalah stunting dapat dicegah dengan perencanaan keluarga yang baik dan tepat. Dengan memahami pentingnya kontrasepsi, pasangan bisa merencanakan kapan waktu terbaik untuk memiliki anak Selain itu, perencanaan yang matang membantu memastikan ibu dapat memberikan nutrisi yang optimal untuk anak-anaknya.
PERENCANAAN KELUARGA
Perencanaan keluarga adalah tindakan yang dilakukan oleh pasangan untuk menentukan jumlah dan jarak kelahiran anak sesuai dengan kondisi kesehatan dan ekonomi keluarga. Dengan perencanaan keluarga yang baik, kesehatan ibu dan anak dapat lebih terjaga, sehingga risiko stunting dapat dikurangi.
Peran Perencanaan Keluarga dalam Pencegahan Stunting:
Jarak Kelahiran yang Tepat: Memberi waktu bagi ibu untuk memulihkan kesehatan sebelum kehamilan berikutnya, sehingga dapat memberikan nutrisi yang optimal bagi anak.
Kesehatan Ibu yang Lebih Baik: Dengan menggunakan kontrasepsi dan melakukan perencanaan yang matang, ibu dapat lebih siap secara fisik dan mental untuk menjalani kehamilan, mengurangi risiko komplikasi yang berdampak pada anak.
Peningkatan Kesejahteraan Keluarga: Perencanaan keluarga membantu mengatur ekonomi keluarga, sehingga orang tua mampu memberikan nutrisi dan perawatan yang baik bagi anak.
Akses pada Konseling dan Layanan Kesehatan: Melalui program perencanaan keluarga, pasangan mendapatkan informasi dan layanan terkait kesehatan reproduksi yang membantu mengurangi risiko stunting.
Perencanaan keluarga yang baik membantu mencegah stunting dengan memastikan anak mendapatkan asupan gizi yang cukup, jarak kelahiran yang sehat, dan dukungan penuh untuk pertumbuhan optimal.
2.5 Hubungan Kontrasepsi dan Pencegahan IMS
Infeksi Menular Seksual adalah salah satu ancaman serius yang dapat dicegah dengan penggunaan kontrasepsi yang benar, terutama penggunaan kondom. Kondom tidak hanya efektif untuk mencegah kehamilan, tetapi juga merupakan satu-satunya metode kontrasepsi yang dapat melindungi dari IMS. Edukasi kontrasepsi pada remaja sangat diperlukan untuk mengurangi angka penularan IMS, seperti klamidia, gonore, dan HIV/AIDS, yang dapat merusak kesehatan reproduksi dan kehidupan mereka di masa depan. Adapun pemahaman lebih lanjut seperti di bawah ini :
a) Kondom sebagai kontrasepsi dan pelindung IMS
Kondom, baik yang terbuat dari lateks maupun poliuretan, adalah satu-satunya metode kontrasepsi yang tidak hanya mencegah kehamilan tetapi juga efektif dalam mencegah penularan IMS. Penggunaan kondom secara konsisten dan benar dapat mengurangi risiko penularan IMS secara signifikan.
Cara kerja kondom: Kondom bekerja dengan menciptakan penghalang fisik yang mencegah sperma memasuki vagina, sekaligus melindungi dari kontak langsung dengan cairan tubuh (seperti air mani, cairan vagina, atau darah) yang bisa mengandung patogen penyebab IMS. Kondom juga mencegah kontak kulit langsung yang bisa menularkan IMS melalui luka atau lesi kulit (misalnya pada herpes genital atau sifilis).
Efektivitas dalam mencegah IMS: Kondom, jika digunakan dengan benar setiap kali berhubungan seksual, memiliki tingkat perlindungan tinggi terhadap IMS. Kondom pria memiliki efektivitas sekitar 85-98% dalam mencegah kehamilan, dan serupa dalam mencegah penularan IMS bila digunakan dengan benar. Kondom wanita, meskipun kurang umum digunakan, juga memberikan perlindungan yang serupa.
b) Metode Kontrasepsi Lain Tidak Melindungi dari IMS
Sebagian besar metode kontrasepsi lainnya, seperti pil KB, suntik, IUD (intrauterine device), dan implan, efektif dalam mencegah kehamilan, tetapi tidak melindungi dari penularan IMS. Metode-metode ini bekerja dengan mengontrol hormon atau
mencegah pembuahan, tetapi tidak menciptakan penghalang fisik untuk mencegah kontak dengan cairan tubuh atau kulit yang bisa menularkan IMS.
Oleh karena itu, meskipun metode-metode ini penting untuk mencegah kehamilan tidak diinginkan (KTD), kondom tetap perlu digunakan sebagai perlindungan ganda jika ada risiko IMS dalam hubungan seksual.
2.6 Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) dan Pernikahan Dini
Kehamilan di luar rencana, terutama di usia remaja, membawa berbagai risiko kesehatan bagi ibu dan anak. Remaja yang hamil di usia muda lebih mungkin mengalami komplikasi kehamilan seperti preeklamsia, kelahiran prematur, dan berat badan lahir rendah pada bayi. Edukasi tentang kontrasepsi memungkinkan remaja untuk menunda kehamilan hingga usia yang lebih matang, sehingga mereka bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik, baik secara fisik maupun mental.
Adapun faktor dari kehamilan tidak diinginkan meliputi :
Kurangnya Edukasi tentang Kontrasepsi: Banyak remaja dan wanita yang tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang metode kontrasepsi, yang mengarah pada ketidaktahuan tentang cara mencegah kehamilan.
Akses Terbatas pada Alat Kontrasepsi: Di beberapa wilayah, terutama daerah terpencil, akses terhadap alat kontrasepsi seperti pil KB, suntik, atau kondom sangat terbatas.
Norma Sosial dan Budaya: Beberapa komunitas masih menganggap pembicaraan tentang kontrasepsi atau kesehatan reproduksi sebagai hal yang tabu, sehingga remaja merasa malu atau tidak nyaman untuk mencari
informasi tentang cara melindungi diri mereka.
Tekanan Pasangan atau Lingkungan: Dalam beberapa kasus, wanita atau remaja perempuan mungkin mengalami tekanan dari pasangan atau
lingkungan untuk tidak menggunakan kontrasepsi atau berhubungan seksual tanpa kesiapan mental dan fisik.
Hubungan Seksual Tanpa Izin: Kasus kekerasan seksual atau pemaksaan juga dapat menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan.
Dampak dari Kehamilan Tidak Diinginkan :
a) Putus Sekolah: Remaja yang mengalami KTD sering kali terpaksa berhenti sekolah karena harus fokus pada kehamilan dan perawatan anak, yang berujung pada berkurangnya kesempatan pendidikan dan karier.
b) Kesehatan Mental: KTD sering kali disertai dengan stres, depresi, dan rasa cemas, terutama jika kehamilan tersebut dianggap sebagai beban sosial dan ekonomi.
c) Komplikasi Kesehatan: Ibu yang belum siap secara fisik, terutama remaja, lebih berisiko mengalami komplikasi kehamilan seperti anemia, preeklamsia, kelahiran prematur, dan bayi dengan berat badan lahir rendah.
d) Kemiskinan dan Beban Ekonomi: KTD sering kali terjadi pada keluarga yang belum siap secara finansial. Hal ini dapat memperburuk kemiskinan, karena biaya untuk merawat anak meningkat, sementara kemampuan orang tua untuk bekerja atau mendapatkan pendidikan lebih lanjut berkurang.
e) Risiko Stunting pada Anak: Anak yang lahir dari KTD memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah gizi, termasuk stunting, karena ibu mungkin tidak siap secara ekonomi maupun kesehatan untuk memberikan perawatan yang optimal.
Pencegahan Kehamilan Tidak Diinginkan dan Pernikahan Dini
Pendidikan Kesehatan Reproduksi: Penting untuk memberikan edukasi kesehatan reproduksi dan kontrasepsi kepada remaja sejak dini melalui
program seperti GenRe dan PIK R, agar mereka lebih siap dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab mengenai kesehatan seksual dan
reproduksi mereka.
Akses terhadap Kontrasepsi: Remaja harus memiliki akses yang mudah dan aman terhadap alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan yang tidak
diinginkan. Edukasi tentang penggunaan kontrasepsi yang benar juga harus menjadi bagian dari kurikulum sekolah dan program kesehatan masyarakat.
Kebijakan untuk Mengatasi Pernikahan Dini: Pemerintah perlu
memperkuat regulasi dan kebijakan untuk menunda usia pernikahan, serta melibatkan masyarakat dalam upaya pemberdayaan perempuan dan perubahan norma sosial yang mendukung pernikahan di usia yang lebih dewasa.
Penguatan Program Sosial dalatarn Ekonomi: Menyediakan akses
pendidikan yang lebih baik dan program ekonomi bagi perempuan muda dapat membantu mencegah pernikahan dini, dengan memberikan mereka lebih banyak pilihan untuk masa depan.
2.7 4T (Terlalu Muda, Terlalu Tua, Terlalu Banyak, Terlalu Dekat)
4T adalah istilah dalam kesehatan reproduksi yang merujuk pada empat kondisi risiko yang harus dihindari oleh wanita saat merencanakan kehamilan untuk menjaga kesehatan ibu dan anak. Keempat kondisi tersebut adalah:
a. Terlalu Muda : Menikah atau hamil pada usia terlalu muda meningkatkan risiko kesehatan bagi ibu dan bayi, termasuk stunting. Misalnya ibu hamil anak
pertama usia kurang dari 21 tahun secara fisik kondisi Rahim dan panggul belum berkembang secara optimal .
b. Terlalu Tua : Kehamilan di usia yang terlalu tua juga meningkatkan risiko komplikasi kehamilan dan melahirkan anak dengan gangguan kesehatan.
Misalnya ibu hamil anak pertama pada usia kurang lebih 35 tahun dapat menyebabkan kematian pada ibu dan bayinya.
c. Terlalu Banyak : Wanita yang memiliki banyak anak lebih rentan terhadap komplikasi kesehatan, serta anak-anak mereka lebih mungkin mengalami gizi buruk dan stunting. Misalnya ibu pernah hamil dan melahirkan lebih dari 2 kali yang menyebabkan dapat mengahambat proses persalinan seperti gangguan konstraksi, kelainan letak dan posisi janin, pendarahan pasca persalinan.
d. Terlalu Dekat : Jarak yang terlalu dekat antar kehamilan meningkatkan risiko bagi ibu dan anak, termasuk risiko stunting. Jarak antara kehamilan pertama dengan berikutnya kurang dari 2 tahun yang dapat menyebabkan penghambatan pada proses persalinan.
Dengan pengetahuan tentang kontrasepsi, pasangan muda dapat merencanakan keluarga secara lebih bijak dan menghindari risiko 4T.
2.8 Peran Program GenRe dan PIK R
Program Generasi Berencana (GenRe) dan Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK R ) bertujuan memberikan edukasi kesehatan reproduksi pada remaja. Melalui konseling dan informasi yang disediakan, remaja diajarkan tentang pentingnya perencanaan keluarga, kesehatan seksual, serta risiko yang muncul dari pernikahan dini dan KTD. Program ini juga mengajarkan tentang pentingnya kontrasepsi dalam mencegah IMS dan memastikan keluarga
yang sehat di masa depan. Program GenRe dan PIK R menyediakan ruang yang aman bagi remaja untuk berdiskusi mengenai isu kesehatan reproduksi tanpa rasa malu atau tabu.
Adapun peran Progam GenRe, antara lain seperti berikut :
Edukasi Kesehatan Reproduksi: Memberikan informasi tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi remaja dan penggunaan kontrasepsi yang tepat.
Pencegahan Pernikahan Dini dan KTD: Membantu remaja memahami risiko pernikahan dini dan kehamilan tidak diinginkan.
Pengembangan Diri: Mendukung remaja untuk merencanakan pendidikan dan karier sebelum menikah dan memiliki anak.
Penguatan Keluarga: Membantu menciptakan generasi yang siap membangun keluarga yang sehat dan sejahtera.
--- PUSAT INFORMASI REMAJA dan KONSELING REMAJA
PIK R adalah wadah informasi dan konseling yang dikelola oleh remaja dan untuk remaja, sebagai bagian dari program GenRe. PIK R berfungsi untuk mendukung remaja dalam memberikan informasi kesehatan reproduksi, perencanaan hidup, dan pencegahan risiko sosial.
Adapun Peran PIK R sebagai berikut :
Penyuluhan dan Konseling: Memberikan informasi serta konseling terkait kesehatan reproduksi, pencegahan IMS, KTD, dan perilaku seksual yang sehat.
Fasilitasi Akses Informasi: Menjadi pusat akses bagi remaja untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan penggunaan kontrasepsi.
Pemberdayaan Remaja: Membantu remaja membuat keputusan yang tepat terkait kehidupan reproduksi dan perencanaan keluarga.
Pelatihan Sebaya: Meningkatkan kesadaran melalui remaja yang telah dilatih menjadi agen perubahan untuk mendidik teman-teman sebayanya.
3.1 KESIMPULAN
Dari pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa edukasi kesehatan reproduksi dan pemahaman tentang kontrasepsi sangat penting bagi remaja. Melalui edukasi yang tepat, remaja dapat memahami risiko pernikahan dini, kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), dan penyakit menular seksual (IMS). Dengan pengetahuan ini, mereka akan lebih mampu membuat keputusan yang tepat untuk merencanakan kehidupan mereka, termasuk menghindari kondisi berisiko yang dapat memengaruhi kesehatan reproduksi dan masa depan mereka.
Kontrasepsi juga berperan besar dalam pencegahan stunting, dengan cara membantu mengatur jarak kelahiran dan menjaga kesehatan ibu sebelum, selama, dan setelah kehamilan.
Penggunaan kontrasepsi yang tepat memungkinkan keluarga merencanakan kehamilan pada usia dan kondisi kesehatan yang optimal, sehingga bayi yang dilahirkan memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh dan berkembang dengan sehat. Ini sangat relevan untuk mencegah stunting, yang sering kali disebabkan oleh gizi buruk dan kurangnya perencanaan keluarga.
Penerapan program-program pemerintah seperti Generasi Berencana (GenRe) dan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK R) juga berkontribusi dalam mempersiapkan remaja untuk masa depan yang lebih baik. Program-program ini tidak hanya memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi, tetapi juga membantu remaja dalam perencanaan kehidupan, pendidikan, dan karier. Dengan demikian, upaya pencegahan stunting, KTD, dan pernikahan dini dapat lebih efektif melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan individu.
4.1 DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). "Stunting." Diakses dari https://ayosehat.kemkes.go.id/penyakit/stunting.
Dokter Sehat. (n.d.). "Infeksi Menular Seksual (IMS)." Diakses dari https://doktersehat.com/penyakit-a-z/infeksi-menular-seksual/.
BBC News Indonesia. (2023). "Kebijakan Alat Kontrasepsi di Sekolah: Dampaknya
pada Kesehatan Remaja." Diakses dari
https://www.bbc.com/indonesia/articles/cjk338jx603o.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). "Stunting." Diakses dari https://ayosehat.kemkes.go.id/penyakit/stunting.
Kompasiana. (n.d.). "Peran PIK-R: Pusat Informasi dan Konseling Remaja dalam Memberikan Pemahaman terhadap Triad KRR." Diakses dari https://www.kompasiana.com/agung1303/6331d6e508a8b54de1240b43/peran-pik-r- pusat-informasi-dan-konseling-remaja-dalam-memberikan-pemahaman-terhadap- triad-krr-tiga-ancaman-dasar-kesehatan-reproduksi-remaja
Kompas. (2023). Mengenal Apa Itu Kehamilan Tak Diinginkan dan 4 Cara
Mencegahnya. Diakses dari
https://www.kompas.com/parapuan/read/533231301/mengenal-apa-itu-kehamilan-tak- diinginkan-dan-4-cara-mencegahnya.
Ners Unair. (2023). Ibu Hamil dengan 4T Dapat Meningkatkan Risiko Kematian Ibu.
Diakses dari https://ners.unair.ac.id/site/index.php/news-fkp-unair/30-lihat/1855-ibu- hamil-dengan-4t-dapat-meningkatkan-risiko-kematian-ibu.