• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH KEL 2 desain pembelajaran

N/A
N/A
Cahya P

Academic year: 2023

Membagikan "MAKALAH KEL 2 desain pembelajaran"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

Model Desain Intruksional atau Desain Pembelajaraan.

Mata Kuliah : Desain Pembelajaran

Dosen : Ifran Nurtiputra M.Pd

Disusun Oleh Kelompok 2 : 1. Maria Magdalena Geme 2. Dany Kurniawan

3. Rustandi 4. Siti Mufadhilah

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA S1 FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI 2023

(2)

KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa, katrena rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah Desain Pembelajaran tentang Model Desain Intruksional atau Desain Pembelajaraan.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan daalam penulisan makalah ini, baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar penulis dapat memperbaiki tulisan dalam penulisan makalah selanjutnya.

Akhir kata penulis berharap semoga makalah Desain Pembelajaran tentang model Desain Intruksional atau Desain Pembelajaraan.ini dapat memberikan manfaat terhadap pembaca.

Jakarta, 01 oktober 2023

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………..i

KATA PENGANTAR………...ii

DAFTAR ISI………..iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang………...1

1.2 Rumusan Masalah ………...2

1.3 Tujuan………...4

BAB II PEMBAHASAN MASALAH ……….5

2.1 Desain Pembelajaran Model Jerold E. Kemp ………..1

2.2 Desain Pembelajaran Model Borg dan Gall ………2

2.3 Model Hannafin dan Peck ……….. 3

2.4 Desain Pembelajaran Model Gagne dan Briggs ………. 4

2.5 Desain Pembelajaran Model ARCS ……… 5

BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan………..…..6

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Desain sistem instruksional ialah pendekatan secara sistematis dalam perencanaan dan pengembangan sarana serta alat untuk mencapai kebutuhan dan tujuan instruksional.

Semua komponen sistem ini (tujuan, materi, media, alat, evaluasi) dalam hubungannya satu sama lain dipandang sebagai kesatuan yang teratur sistematis.

Ada banyak sekali pengertian mengenai desain instruksional atau desain pembelajaran demikian juga model yang dikembangkan berkaitan dengan desain

instruksional ini. Setiap ahli atau pakar mengajukan pendapat dan pengertian masing-masing dengan berbagai dasar pemikiran. Jelord E. Kemp yang adalah pengembang model desain instruksional yang paling awal bagi pendidikan, memberikan bimbingan kepada para siswanya untuk berpikir tentang masalah-masalah umum dan tujuan-tujuan pembelajaran.

Model ini juga mengarahkan pengembang desain instruksional untuk melihat karekteristik para siswa serta menentukan tujuan-tujuan belajar yang tepat.

Borg and Gall memuat panduan sistematika langkah-langkah yang dilakukan oleh peneliti agar produk yang dirancangnya mempunyai standar kelayakan. Dengan demikian, yang diperlukan dalam pengembangan ini adalah rujukan tentang prosedur produk yang akan dikembangkan. Sedangkan model Hanafin dan Peck merupakan salah satu dari banyak model desain pembelajaran yang berorietasi produk. Model berorientasi produk adalah model desain pembelajaran utuk menghasilkan suatu produk, biasanya media pembelajaran (Afandi dan Badarudin, 2011:22).

Selain itu, Gagne dan Briggs menyatakan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan internal capability) yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah menjadi milik pribadi seseorang dan memungkinkan orang itu melakukan sesuatu.selain itu masih ada lagi model-model pembelajaran lainnya salah adalah model ARCS memadukan antara keaktifan siswa dengan pendekatan ilmiah dan penyampaian materi yang menarik serta mudah dipahami.

Karena banyaknya model desin pembelajaran yang dapat di gunakan oleh para tentu akan membuta pengajar sedikit binggung tentanga bagaimana pengaplikasiannya dalam proses belajar mengajar di kelas. Hal itulah yang melatarbelakangi penulis untu membuat makalah ini.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud dengan desain pembelajaran model Jerold E. Kemp dan bagaimana penerapannya?

2. Apa yang di maksud dengan desain pembelajaran model Borg dan Gall serta bagaimana penerapannya?

3. Apa yang dimaksud dengan desain pembelajaran model Hannafin dan Peck serta bagaiman penerapannya?

4. Apa yang dimaksud dengan desain pembelajaran model Gagne dan Briggs Serta bagaimana penerapannya?

5. Apa yang dimaksud dengan desain pembelajaran model ARCS dan bagaimana penerapannya?

1.3 TUJUAN

1. Untuk mengetahu dan memahami desain pembelajaran model Jerold E. Kemp dan bagaimana penerapannya.

2. Untuk mengetahu dan memahami dengan desain pembelajaran model Borg dan Gall serta bagaimana penerapannya.

(5)

3. Untuk mengetahu dan memahami desain pembelajaran model Hannafin dan Peck serta bagaiman penerapannya.

4. Untuk mengetahu dan memahami desain pembelajaran model Gagne dan Briggs Serta bagaimana penerapannya.

5. Untuk mengetahu dan memahami desain pembelajaran model ARCS dan bagaimana penerapannya.

(6)

BAB 2

PEMBAHASAN

A. Desain Pembelajaran Model Jerold E. Kemp.

Jelord E. Kemp berasal dari California Satate University di Sanjose. Kemp mengembangkan model desain instruksional yang paling awal bagi pendidikan. Model Kemp memberikan bimbingan kepada para siswanya untuk berpikir tentang masalah- masalah umum dan tujuan-tujuan pembelajaran. Model ini juga mengarahkan pengembang desain instruksional untuk melihat karekteristik para siswa serta menentukan tujuan-tujuan belajar yang tepat. Langkah berikutnya adalah spesifikasi pelajaran dan mengembangkan pretest dari tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.

Selanjutnya adalah menetapkan strategi dan langkah-langkah dalam kegiatan belajar mengajar serta sumber-sumber belajar yang akan digunakan. Selanjutnya, materi/isi (content) kemudian di evaluasi atas dasar tujuan-tujuan yang telah dirumuskan. Langkah berikutnya adalah melakukan identifikasi dan revisi didasarkan atas hasil-hasil evaluasi.

Pentingnya pembahasan ini yaitu agar kita bisa memahami bagaimana model pembelajaran menorur J.E kemp sehingga dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas.

Menurut Kemp, desain pembelajaran terdiri dari banyak bagian dan fungsi yang saling berhubungan dan mesti dikerjakan secara logis agar mencapai apa yang diinginkan.

Berorientasi pada perancangan pembelajaran yang menyeluruh. Sehingga guru sekolah dasar dan sekolah menengah, dosen perguruan tinggi, pelatih di bidang industry, serta ahli media yang akan bekerja sebagai perancang pembelajaran.

Model Kemp adalah sebuah pendekatan yang mengutamakan sebuah alur yang dijadikan pedoman dalam penyusunan perencanaan program. Dimana alur tersebut merupakan rangkaian yang sistematis yang menghubungkan tujuan hingga tahap evaluasi.

Komponen-komponen dalam model pembelajaran Kemp ini dapat berdiri sendiri, sehingga sewaktu-waktu tiap komponennya dapat dilakukan revisi.

Menurut Miarso dan Soekamto, model pembelajaran Kemp dapat digunakan di semua tingkat pendidikan, mulai dari Sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Ada 4 unsur yang merupakan dasar dalam membuat model Kemp

 Untuk siapa program itu dirancang? (ciri pebelajar)

 Apa yang harus dipelajari? (tujuan yang akan dicapai)

 Bagaimana isi bidang studi dapat dipelajari dengan baik? (metode/strategi pembelajaran)

 Bagaimana mengetahui bahwa proses belajar telah berlangsung? (evaluasi)

 Penerapan dan Tahap-tahap dalam mengembangkan perangkat pembelajaran menurut model Kemp, (1994: 9), yaitu:

1) Instructional Problems (Masalah Pembelajaran).

Pada tahapan ini dilakukan analisis tujuan berdasarkan masalah pembelajaran yang

(7)

terdapat di dalam kurikulum yang berlaku untuk bahan kajian yang akan dikembangkan perangkatnya.

2) Leaner Characteristics (Karakteristik Siswa).

Pada tahap ini dilakukan analisis karakteristik siswa yang akan menjadi tempat implementasi perangkat. Karakteristik yang dimaksud meliputi ciri, kemampuan, dan pengalaman baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Sumber untuk memperoleh karakteristik siswa antara lain guru, kepala sekolah atau dokumen yang relevan. Ciri pribadi misalnya umur, sikap, dan ketekunan terhadap pelajaran.

3) Task Analysis (Analisis Tugas)

Analisis tugas merupakan perincian isi mata ajar dalam bentuk garis besar untuk menguasai isi bahan kajian atau mempelajari keterampilan yang mencakup keterampilan kognitif, keterampilan psikomotor, dan keterampilan sosial. Analisis tugas ini meliputi analisis struktur isi, analisis prosedural, analisis konsep, dan pemrosesan informasi. Analisis struktur isi dilakukan dengan mencermati kurikulum sedangkan analisis prosedural adalah analisis tugas yang dilakukan dengan mengidentifikasi tahap-tahap penyelesaian tugas sehingga diperoleh peta tugas.

Analisis konsep dilakukann dengan mengidenfikasi konsep-konsep utama yang akan diajarkan dan menyusunnya secara sistematis sesuai urutan penyajian dan merinci konsep-konsep yang relevan. Hasil analisis ini akan diperoleh peta konsep. Analisis pemrosesan informasi dilakukan untuk mengelompokkan tugas-tugas yang akan dilaksanakan oleh siswa selama pembelajaran berlangsung dengan mempertimbangkan alokasi waktu. Analisis pemrosesan informasi ini akan menghasilkan cakupan konsep atau tugas yang akan diajarkan dalam pembelajaran yang tertuang dalam satu rencana pembelajaran.

4) Instructional Objectives (Merumuskan Tujuan Pembelajaran) Rumusan tujuan pembelajaran adalah tujuan pembelajaran khusus (indikator hasil belajar) yang diperoleh dari hasil analisis tujuan yang dilakukan pada tahap masalah pembelajaran.

5) Content Squencing (Urutan Materi Pembelajaran)

Pada tahap ini isi pokok bahasan yang akan diajarkan diurutkan terlebih dahulu.

Menurut Posner dan Strike (Kemp, 1994: 104) ada lima aspek yang perlu diperhatikan dalam mengurutkan pokok bahasan yaitu pengetahuan prasyarat, familiaritas, kesukaran, minat, dan perkembangan siswa. Setelah isi pokok bahasan diurutkan, langkah selanjutnya adalah menentukan strategi awal pembelajaran.

6) Instructional Strategies (Strategi Pembelajaran)

Strategi pembelajaran yang digunakan menggambarkan urutan dan metode pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

7) Instructional Delivery (Cara Penyampaian Pembelajaran) Metode penyampaian ditentukan berdasarkan tujuan dan lingkungan pembelajaran, yang dapat bersifat klasikal, kelompok, atau individual.

(8)

8) Evaluation Instrumens (Instrumen Penilaian) Instrumen penilaian (tes hasil belajar) disusun berdasarkan tujuan pembelajaran khusus yang telah dirumuskan. Kriteria penilaian yang dilakukan adalah penilaian acuan patokan sehingga tes hasil belajar yang dikembangkan harus dapat mengukur tingkat pencapaian tujuan pembelajaran khusus.

9) Instructional Resources (Sumber Pembelajaran)

Faktor-faktor yang diperhatikan dalam membuat media pembelajaran yang akan dipergunakan yaitu ketersediaan secara komersial, biaya pengadaan, waktu untuk menyediakannya dan menyenangkan bagi siswa.

10)Revision (Revisi Perangkat)

Revisi perangkat pembelajaran dimaksudkan untuk mengevaluasi dan memperbaiki perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Revisi perangkat dilakukan melalui tahap telaah oleh para pakar, hasil simulasi pembelajaran, hasil uji coba I maupun hasil uji coba II.

11)Formative Evaluation (Penilaian Formatif)

Penilaian formatif adalah penilaian yang dilakukan setiap selesai satu unit proses pembelajaran. Penilaian ini berguna untuk menemukan kelemahan dalam perencanaan pembelajaran sehingga berbagai kekurangan ini dapat dihindari sebelum program dipakai secara luas.

12)Planning (Perencanaan) dan Project Management (Manajemen Proyek) Aspek teknis perencanaan sangat mempengaruhi keberhasilan rancangan pengembangan. Merencanakan pembelajaran merupakan suatu proses yang rumit sehingga menuntut pengembang perangkat untuk selalu memperhatikan tiap-tiap unsur dan secara terus menerus menilai kembali hubungan setiap bagian rencana itu dengan tata keseluruhannya, karena setiap unsur dapat mempengaruhi perkembangan unsur yang lain.

13) Summative Evaluation (Penilaian Sumatif)

Penilaian sumatif diarahkan pada pengukuran seberapa jauh hasil belajar utama dicapai pada akhir seluruh pembelajaran, dapat juga berupa kegiatan menindaklanjuti siswa setelah ia menyelesaikan suatu program pembelajaran untuk menentukan apakah dan bagaimana ia menggunakan dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipelajarinya dalam program pembelajaran.

14)Support Services (Pelayanan Pendukung)

Pelayanan pendukung meliputi ketersediaan anggaran, fasilitas, bahan, perlengkapan, kemampuan staf, pengajar, perancang pembelajaran, pakar, dan lain sebagainya.

B. Desain Pembelajaran Model Borg dan Gall

Borg & Gall (2003), dalam bukunya "Educational Research", menjelaskan bahwa

"Penelitian dan Pengembangan" dalam pendidikan adalah model pengembangan berbasis industri dimana temuan hasil penelitiannya digunakan untuk merancang produk pembelajaran,

(9)

yang kemudian secara sistematis diuji cobakan dilapangan, dievaluasi, dan disempurnakan sampai dihasilkannya suatu produk pembelajaran yang memenuhi standarisasi tertentu, yaitu efektif, efisien, dan berkualitas.

Efektif, adalah ukuran terhadap keunggulan produk dalam mencapai tujuan/kompetensi pembelajaran sesuai dengan kriteria/indikator atau standar ketuntasan belajar yang telah ditetapkan sebelumnya oleh sekolah, lembaga, atau pemerintah. Oleh karena itu dalam menentukan kriteria/indikator atau standar ketuntasan perlu dilakukan secara cermat dan terukur. Untuk itu perlu ada penelitian pendahuluan agar apa yang telah ditetapkan merupakan 4 target yang realistis sesuai dengan kebutuhan.

Efisien, artinya bahwa produk yang dikembangkan mampu memberikan jaminan bahwa dari segi waktu, biaya, dan tenaga yang diperlukan untuk mencapai tujuan/kompetensi pembelajaran tertentu lebih singkat, lebih murah, dan lebih ringan bila dibandingkan dengan menggunakan produk-pruduk pembelajaran sebelumnya. Berkualitas, artinya bahwa produk yang dikembangkan harus memenuhi standar industri dari berbagai aspeknya. Selain itu satu hal yang harus diperhatikan dari aspek kualitas selain memenuhi standar industri adalah keamanan dalam menggunakan produk tersebut dan tidak berbahaya terhadap kesehatan pengguna.

Selanjutnya apa yang dimaksud dengan produk instruksional dalam "Penelitian dan Pengembangan" menurut Borg & Gall dalam "Educational Research" (1989), tidak hanya terbatas pada buku dan filmfilm instruksional atau jenis media lainnya, tetapi juga meliputi metode, strategi pembelajaran, model pembelajaran, bahkan sampai pada program-program pengembangan lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan "program" adalah "sistem belajar yang lengkap", termasuk didalamnya bahan belajar yang dikembangkan serta bahan-bahan penyerta lainnya; seperti panduan penggunaan bagi guru dan panduan belajar bagi siswa, serta set instrumen pengukuran ketercapaian tujuan pembelajaran.

Sesepuluh langkah utama yang dikemukan oleh Borg & Gall (1989).

1. Melakukan penelitian pendahuluan 2. Melakukan perencanaan

3. Mengembangnkan produk awal 4. Uji coba lapangan tahap awal 5. Melalukan revisi produk urtama 6. Uji coba lapngan utama

7. Melakukan revisi produk operasional 8. Uji coba lapangan operasional 9. Melakukan rvisi produk akhir 10. Mendesiminasikan produk.

C. Model Hannafin dan Peck

Model Hanafin dan Peck merupakan salah satu dari banyak model desain pembelajaran yang berorietasi produk. Model berorientasi produk adalah model desain

(10)

pembelajaran utuk menghasilkan suatu produk, biasanya media pembelajaran (Afandi dan Badarudin, 2011:22).

Menurut Hanafin dan Peck (Afandi dan Badarudin, 2011:26) model desain pembelajaran terdiri dari tiga fase yaitu Need Assessment (Fase Analisis Keperluan), Design (Fase Desain), dan Develop/Implement (Fase Pengembangan dan Implementasi). Dalam model ini disetiap fase akan dilakukan penilaian dan pengulangan.

Fase pertama dari model Hanafim dan Peck adalah analisis kebutuhan (Need Assessment).

Pengertian analisis kebutuhan dalam konteks pegembangan kurikulum menurut John Mc- Neil (Wina Sanjaya, 2008:91) ialah : ‘the process by which one defines educational needs and decides what their priorities are’. Artinya, bahwa analisis kebutuhan merupakan sebuah proses yang didefinisikan sebagai sebuah kebutuhan pendidikan dan ditentukan sesuai dengan prioritasnya. Jadi pada intinya, proses ini merupakan proses untuk menentukan hal utama dari apa yang dibutuhkan dalam pendidikan. Menganalisis kebutuhan menjadi hal dasar dalam mendesin pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Tidak mudah mengidentifikasi apa yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Terdapat langkah-langkah dalam fase analisis kebutuhan, Glasgow dalam Wina Sanjaya (2008:93) mengemukakan secara detail langkah-langkah need assessment yakni :

1. Tahapan Pengumpulan Informasi

Dalam merancang pembelajaran pertama kali seorang desainer perlu memahami terlebih dahulu informasi tentang siapa dapat mengerjakan apa, siapa memahami apa, siapa yang akan belajar, kendala-kendala apa yang dihadapi dan lain sebagainya.

Berbagai informasi yang dikumpulkan akan bermanfat dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai. Jadi, informsi yang terkumpul digunakan sebagai dasar dalam merancang sistem pembelajaran. Model Hanafin dan Peck ini berorintasi pada produk sehingga informasi yang dibutuhkan mislnya bagaimana cara pembuatan media pembelajaran dengan bahan yang ada.

2. Tahapan Identifikasi Kesenjangan

Dalam mengidentifikasi kesenjangan Kaufan dan English dalam Wina Sanjaya (2008), menjelaskan bahwa terdapat lima elemen yang saling berkaitan yakni Input, Proses, Produk, Output dan Outcome. Input meliputi kondisi yang tersedi saat ini misalnya tentang keuangan, waktu, bangunan, guru, pelajar, kebutuhan. Komponen proses, meliputi perencanaan, metode, pembelajaran individu, dan kurikulum.

Komponen produk, meliputi penyelesaian pendidikan, keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang dimiliki. Komonen output, meliputi ijazah kelulusan, keterampilan prasyarat, lisensi. Komponen Outcome, meliputi kecukupan dan kontribusi individu atau kelompok saat ini dan masa depan. Dari analisis diatas dapat digambarkan

(11)

masalah dan kebutuhan pada setiap komponen yakni Input, proses, produk dan Output.

3. Analisis Performance

Tahap selanjutnya adalah tahap menganalisis performance. Pada tahap ini sorang guru yang sudah memahami informasi dan mengidentifikasi kesenjangan yang ada, kemudian mencari cara untuk memecahkan kesenjangan tersebut. Baik dengan perencanaan pembelajaran atau dengan cara lain, seperti melalui kebijakan pengelolaan baru, penentuan struktur organsasi yang lebih baik, atau mungkin melalui pengembangan bahan dan alat-alat. Jika dilihat dari orientasi model Hanafin dan Peck yang mengarah ke produk maka dalam analisis performance msalah yang mungkin bisa diselesaikan adalah tentng pengembangan bahan dan alat-alat.

4. Mengidentifikasi Kendala Beserta Sumber-sumbernya

Tahap keempat dalam need assessment adalah mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul beserta sumber-sumbernya. Maksudnya, kita harus mengantisipsi kendala yang mungkin akan muncul. Kendala dapat berupa waktu, fasilitas, bahan, personal dan lain sebginya. Dan sumbernya bisa berasal dari orang yang terlibat (guru atau siswa), berasal dari fasilitas yang mendukung atau tidak, dan jumlah pendanaan beserta pengaturannya.

5. Identifikasi Krakteristik Siswa

Siswa menjadi pusat dalam pembelajaran, oleh karena itu identifikasi karakteristik siswa sangat dibutuhkan. Sebab, tidak ada siswa yang sama sehingga penangan dari setiap masalah yang ada di setiap siswa akan berbeda pula. Identifikasi karakteristik siswa meliputi usia, jens kelamin, level pendidikan, gaya belajar dan lain sebagainya.

Dengan identifikasi tersebut dapat bermanfaat ketika kita menentuka tujuan yang harus dicaai, pemilihan dan penggunaan strategi embelajaran yang dianggap cocok.

6. Identifikasi Tujuan

Mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai merupakan tahap keenam dalam need assessment. Tidak semua kebutuhan menjadi tujuan yang ingin dicapai, namun kebutuhan-kebutuhan yang diprioritaskanlah yang menjadi tujuan agar dapat segera dipecahkan sesuai kondisi.

7. Menentukan Permasalahan

Tahap terakhir adalah menentukan permasalahan, sebagai pedoman dalam

penyusunan proses desain pembelajaran. Dalam model Hanafin dan Peck berorientasi produk, sehingga masalah yang biasanya timbul adalah tentang media pembelajaran.

Fase kedua dari Hanfin dan Peck adalah fase desain (Design). Hanafin dan Peck (Afandi dan Badarudin, 2011) menytakan fase desain bertujuan untuk

mengidentifikasikan dan mendokumenkan kaidah yang paling baik untuk mencapai tujuan pembuatan media tersebut. Dokumen tersebut dapat berupa story board. Jadi, hasil dari need assessment kemudian dituangkan ke dalam sebuah papan dan caranya dengan mengikuti aktifitas yang sudah dianalisis dalam need assessment sebelumnya.

Dokumen ini nantiya akan memudahkan kita dalam menentukan tujuan pembuatan media pembelajaran, karena merupakan sebuah papan.

(12)

Dalam fase kedua ini, tidak lupa dilakukan tes atau penilaian sebelum dilanjutkan ke fase pengembangan dan implementasi. Hanafin dan Peck telah menggambarkan (gambr 1) bahwa harus ada timbal blik dari setiap fase, hal ini mungkin membuat kita mudah megetahui kesalahan yang kita buat dan menjadi pembelajaran untuk kita.

Fase terakhir dari model Hanafin dan Peck adalah pengembangan dan implementasi. Hanafin dan Peck (Afandi dan Badarudin, 2011) mengatakan aktivitas yang dilakukan pada fase ini ialah penghasilan diagram alur, pengujian, serta penilain formatif dan sumatif. Penilaian formatif ialah penialain yang dijalankan saat proses pengembangan media berlangsung, sedangkan penilaian sumatif dijalankan pada akhir proses. Pada fase ini media dikembangkan dan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang telah dibuat berdasarkan analisis kebutuhan dan desain yang telah dijalankan.

D. Desain Pembelajaran Model Gagne dan Briggs

Gagne dan Briggs menyatakan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan internal capability) yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah menjadi milik pribadi seseorang dan memungkinkan orang itu melakukan

sesuatu. Menurut Gagne belajar bukan merupakan proses tunggal, melainkan proses yang luas yang dibentuk oleh pertumbuhan dan perkembangan tingkah laku, di mana tingkah laku tersebut merupakan hasil dari efek kumulatif dari belajar. Artinya banyak

keterampilan yang telah dipelajari memberikan kontribusi untuk belajar keterampilan yang lebih rumit. Belajar merupakan suatu proses yang kompleks yang menghasilkan berbagai macam tingkah laku yang berbeda yang disebut "kapasitas". Kapasitas itu diperoleh orang dari stimulus yang berasal dari lingkungan, dan proses kognitif yang dilakukan si belajar.

Berdasarkan pandangan ini Gagne mendefinisikan secara formal bahwa "belajar"

adalah perubahan dalam posisi atau kemampuan manusia yang bertahan selama masa waktu dan tidak semata-mata disebabkan oleh proses pertumbuhan. Perubahan tersebut berbentuk perubahan tingkah laku, hal itu dapat diketahui dengan jalan membandingkan tingkah laku sebelum belajar dan tingkah laku yang diperoleh setelah

belajar. Gagne menemukan lima ragam belajar yang terjadi pada manusia, yaitu;

- Informasi verbal

- Keterampilan intelektual - Keterampilan motor - Sikap

- Siasat kognitif.

Gagne menyebut dengan istilah kondisi internal (internal conditions) dan kondisi eksternal (external condition). Faktor internal adalah faktor yang berasal dalam diri individu yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Faktor-faktor tersebut dibedakan menjadi tiga, yaitu: faktor fisiologis, faktor psikologis, yang meliputi faktor intelektif (kecerdasan, minat, kebutuhan, emosi dan motivasi), dan faktor kematangan.

Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu yang.mempengaruhi prestasi belajar siswa. Faktor-faktor tersebut dibedakan atas faktor:

lingkungan budaya, lingkungan fisik, lingkungan spiritual, dan lingkungan Agama.

Menurut Briggs hasil belajar yang sering disebut dengan istilah "scholastic achievement" atau "academic achievement" adalah seluruh efisiensi dan hasil yang dicapai

(13)

melalui proses belajar mengajar di sekolah yang dinyatakan dengan angka-angka atau nilai-nilai berdasarkan tes hasil belajar.

Hal ini berarti bahwa hasil belajar seseorang dapat diperoleh melalui perangkat tes dan dengan hasil tes dapat memberikan informasi tentang seberapa jauh kemampuan penyerapan bahan oleh seseorang setelah mengikuti proses pembelajaran. Oleh karena itu hasil belajar siswa adalah cermin dari pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang telah diukur dan ditampilkan dengan nilai. prestasi belajar merupakan pengetahuan yang diperoleh atau ketrampilan yang dikembangkan dalam pelajaran di sekolah, yang biasanya ditampilkan dengan skor atau nilai atau pekerjaan yang dibangun guru. Hasil belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor dari dalam (faktor internal) maupun faktor dari luar (faktor eksternal).

1. Yang termasuk faktor internal adalah faktor fisiologis dan faktor psikologis misalnya kecerdasan, motivasi berprestasi, dan kemampuan kognitif.

2. sedangkan yang termasuk faktor eksternal adalah faktor lingkungan dan faktor instrumental misalnya guru, kurikulum, dan model pembelajaran.

E. Desain Pembelajaran Model ARCS

model ARCS memadukan antara keaktifan siswa dengan pendekatan ilmiah dan penyampaian materi yang menarik serta mudah dipahami. Alur pembelajaran memerlukan pengeplotan waktu dengan kegiatan yang tepat agar kekurangan model ARCS dapat tertutupi oleh kelebihan ARCS.

Alur pembelajaran ARCS akan membuat kegiatan pembelajaran terarah dan tersusun dengan teratur serta menarik untuk siswa.

Model pembelajaran ARCS dikembangkan berdasarkan teori nilai harapan (expectancy value theory) yang mengandung dua komponen yaitu nilai (value) dari tujuan yang akan dicapai dan harapan (expentancy) agar berhasil tujuan itu.

Model pembelajaran ARCS mengutamakan perhatian siswa, menyesuaikan materi pembelajaran dengan pengalaman belajar siswa, menciptakan rasa percaya diri dalam diri siswa, dan menimbulkan rasa puas dalam diri siswa tersebut.

(14)

BAB III SIMPULAN

Desain sistem instruksional ialah pendekatan secara sistematis dalam perencanaan dan pengembangan sarana serta alat untuk mencapai kebutuhan dan tujuan instruksional. Semua komponen sistem ini (tujuan, materi, media, alat, evaluasi) dalam hubungannya satu sama lain dipandang sebagai kesatuan yang teratur sistematis. Ada banyak sekali pengertian mengenai desain instruksional atau desain pembelajaran demikian juga model yang dikembangkan berkaitan dengan desain instruksional ini. Setiap ahli atau pakar mengajukan pendapat dan pengertian masing-masing dengan berbagai dasar pemikiran yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Suparman, M. Atwi. Desain Instruksional, Jakarta: Pusat Penerbit Universitas Terbuka, 2004.

Afandi, Muhammad dan Badarudin. (2011). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta Majid, Abdul. (2011). Perencanaan Pembelajaran. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Hudhori, Mahmud Al. 2013. Pengaruh Penggunaaan Model ARCS terhadap Hasil Belajar Fisika pada Konsep Dinamika Rotasi dan Kesetimbangan Benda Tegar. Jurnal Pendidikan Fisika, FKIP Universita Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Dasar perlunya desain pembelajaran: perbaikan kualitas pembelajaran, pembelajaran dirancang dengan pendekatan sistem, desain pembelajaran harus diacukan pada

Dalam perbaikan pembelajaran diasumsikan untuk perbaikan kualitas pembelajaran, pembelajaran dirancang dengan pendekatan sistem, desain pembelajaran mengacu

Dasar perlunya desain pembelajaran: perbaikan kualitas pembelajaran, pembelajaran dirancang dengan pendekatan sistem, desain pembelajaran harus diacukan pada

Dasar perlunya desain pembelajaran: perbaikan kualitas pembelajaran, pembelajaran dirancang dengan pendekatan sistem, desain pembelajaran harus diacukan pada

Pada makalah ini akan disampaikan mengenai desain turbin angin sumbu horizontal bersudu tiga serta analisa terhadap perhitungan daya dan efisiensi dari desain

b.indo

Makalah presentasi teknik penilaian tes sebagai alat evaluasi

Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dosen pada mata kuliah Teori Belajar dan TPACK Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah