MAKALAH
PERAN DAN KEWENANGAN NOTARIS DALAM PENDIRIAN PERSEROAN TERBATAS PASCA UNDANG-UNDANG PENETAPAN CIPTA KERJA
Untuk memenuhi Ujian Tengah Semester mata kuliah Hukum Perusahaan yang dibina oleh dosen Ibu Dr. Amelia Sri Kusuma Dewi,
S.H., M.Kn.
Disusun oleh :
Lucy Erdika 236010200111025
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MAGISTER KENOTARIATAN
MALANG 2024
Daftar Isi
Daftar Isi ... 2
1. Latar Belakang ... 3
2. Rumusan Masalah ... 6
3. Pembahasan ... 6
A. Peran Notaris Dalam Pendirian Perseroan Terbatas Pasca Undang-Undang Cipta Kerja dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas ... 6
B. Kewenangan Notaris Dalam Pendirian Perseroan Terbatas Pasca Undang- Undang Cipta Kerja dan Undang-Undang Jabatan Notaris ... 10
4. Kesimpulan ... 13
Daftar Pustaka ... 14
1. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang gencar untuk meningkatkan sektor perekonomian untuk mensejahterakan warga negaranya. Oleh karena itu, pemerintah didorong untuk membuat suatu regulasi yang mampu dalam memenuhi kebutuhan tersebut sesuai dengan perkembangan zaman. Hukum memiliki peran penting dalam menjamin ketertiban melalui regulasi yang menandakan adanya kepastian hukum, juga turut serta dalam membantu dan mengatur suatu perubahan.1
Berkaitan dengan perkembangan tersebut, terdapat pengusaha yang memilih untuk membentuk Perseroan Terbatas (Perseroan) dalam memulai usahanya. Berdasarkan Pasal 109 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, pada Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang (UU Penetapan Ciptaker), definisi Perseroan ialah: 2
“Perseroan terbatas merupakan badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham atau badan hukum perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro dan kecil sebagaimana diatur dalam peraturan perundang undangan mengenai usaha mikro dan kecil.”
Dalam bahasa Belanda, Perseroan Terbatas ialah
Naamloze Vennootschap
yang berarti suatu badan hukum untuk menjalankan usaha dengan memiliki modal yang terdiri dari saham-saham, yang pemiliknya akan memiliki bagian sebanyak saham yang dimilikinya. Sebab modal tersebut terdiri dari saham- saham yang dapat diperjualbelikan, sehingga perubahan atas kepemilikan perusahaan dapat dilakukan tanpa membubarkan perusahaan.31 Muhammad Rusydianta, Dinamika Hukum dan Ekonomi dalam Realitas Social di Indonesia (Studi Kritis Terhadap Kebijakan Hukum – Ekonomi Indonesia), Volume 6, Nomor 3, Jurnal Rechtsvinding, Media Pembinaan Hukum Nasional, Universitas Darussalam Gontor, Ponorogo, 2017, hlm 323.
2 Pasal 109 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang- Undang.
3 Humas Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, Perseroan Terbatas (Online), https://ahu.go.id/perseroan-terbatas , (11 April 2024)
Ketentuan dalam Perseroan ialah salah satu bahan hukum yang diperlukan untuk mendukung pembangunan perekonomian di Indonesia yang diharapkan dapat berperan sebagai pilar penopang pembangunan perekonomian nasional berbasis kekeluargaan sesuai dengan dasar demokrasi ekonomi yang menjadi perwujudan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang menjamin akan kepastian hukum yang kokoh sehingga dapat memacu pembangunan ekonomi nasional dan kegiatan ekonomi atau kegiatan usaha yang aman serta kompetitif.4
Dasar hukum Perseroan terdapat pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) yang kemudian diubah dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Ciptaker), namun dalam perjalannya, UU Ciptaker di cabut oleh Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja, lalu ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang (UU Penetapan Ciptaker). Sehingga regulasi yang masih digunakan untuk PT ialah UUPT dan juga UU Penetapan Ciptaker.
Pendirian sebuah Perseroan berdasarkan Pasal 109 UU Penetapan Ciptaker Pasal 7 ayat (1) ialah:
“(1) Perseroan didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih dengan akta Notaris yang dibuat dalam Bahasa Indonesia.”
Akan tetapi, ketentuan diatas menurut Pasal 109 UU Penetapan Ciptaker Pasal 7 ayat (7) huruf a, b, c, d, dan e, yang berbunyi:5
“(7) Ketentuan yang mewajibkan Perseroan didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (5), dan ayat (6) tidak berlaku bagi:
a. Persero yang seluruh sahamnya dimiliki oleh negara;
b. Badan usaha milik daerah;
c. Badan usaha milik desa;
4 Arfan Faiz Muhlizi, Penataan Regulasi Dalam Mendukung Pembangunan Ekonomi Nasional, Volume 6, Nomor 3, Jurnal Rechtsvinding, Media Pembinaan Hukum Nasional, Pusat Analisis dan Evaluasi Hukum Nasional, Badan Pembinaan Hukum Nasional, Jakarta, 2017, hlm 351.
5 Pasal 109 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Pasal 7 ayat 7 huruf a, b, c, d, dan e dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang.
d. Perseorangan yang mengelola bursa efek, lembaga kliring, dan penjaminan, lembaga penyimpanan dan penyelesaian, dan lembaga lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal; atau e. Perseroan yang memenuhi kriteria untuk usaha mikro dan kecil.”
Pendirian atas perseroan yang dibuat dengan UMKM dapat dilakukan tanpa perjanjian dan akta Notaris, melainkan dengan menggunakan surat pernyataan pendirian yang dibuat dalam Bahasa Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, tentu terjadi berbagai macam perubahan masyarakat, maka dari itu pemerintah dituntut untuk selalu sigap dalam membuat regulasi yang sesuai dengan perkembangan zaman, tidak terkecuali perubahan-perubahan pada lingkup Perseroan. Mulanya Perseroan Terbatas di atur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, kemudian, munculnya gagasan
omnibus law
menjadikan UUPT sebagai salah satu peraturan yang masuk kedalamnya untuk mengubah dan menyisipkan beberapa Pasal dari UUPT, yakni Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang.Maka dari itu, terdapat berbagai jenis perubahan dalam pendirian Perseroan salah satunya ialah mengenai Perseroan Perorangan yang dikhususkan untuk usaha mikro dan kecil, sehingga memudahkan usaha tersebut untuk berkembang. Perubahan ini tentu berkaitan dengan peran- peran yang dipegang oleh Notaris, sebab dalam pendirian memerlukan Akta yang dibuat oleh Notaris beserta dengan dokumen pendukung lainnya.
Berdasarkan ketentuan diatas, maka pendirian Perseroan membutuhkan peran Notaris, karena yang berwenang dalam pembuatan akta pendirian, anggaran dasar beserta dengan perubahannya, memerlukan kehadiran Notaris. Akta pendirian terdiri dari anggaran dasar serta keterangan lain yang berkaitan langsung dengan pendirian Perseroan. Oleh sebab itu, untuk mengkaji lebih lanjut mengenai peran serta kewenangan Notaris dalam pendirian Perseroan pasca UU Penetapan Ciptaker, maka makalah ini dibuat dengan judul:
Peran Dan Kewenangan Notaris Dalam Pendirian Perseroan Terbatas Pasca Undang-Undang Penetapan Cipta Kerja
2. Rumusan Masalah
1) Bagaimana peran dan kewenangan Notaris dalam Pendirian Perseroan Terbatas pasca Undang-Undang Penetapan Cipta Kerja?
3. Pembahasan
A. Peran Notaris Dalam Pendirian Perseroan Terbatas Pasca Undang- Undang Cipta Kerja dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
Notaris memiliki peran yang sangat penting dalam pendirian suatu Perseroan, yakni membuat akta pendirian dan anggaran dasar serta perubahannya. Pada Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN):6
“Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam undang- undang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya.”
Akta pendirian sebuah Perseroan merupakan akta otentik yang harus dibuat dihadapan Notaris, karena hanya pejabat umum yang dapat membuat akta tersebut. Berdasarkan Pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer), akta otentik adalah:7
“Suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang- undang oleh/atau dihadapan pejabat umum yang berwenang untuk maksud itu, ditempat dimana akta dibuat.”
Tujuan akta pendirian dibuat dalam bentuk akta otentik ialah untuk menjadikan akta tersebut memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna jika terjadi suatu perselisihan antara para pihak atau terdapat gugatan dari pihak lainnya.8 Kemudian, akta Notaris dianggap mampu menciptakan kepastian hukum karena sifatnya yang otentik.9
Melihat pada konsep yang diatur dalam ketentuan pengertian Perseroan Terbatas, tambak jika pendirian PT berdasarkan atas perjanjian. Sehingga
6 Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.
7 Pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
8 Alwesius, Pengetahuan dan Praktik Pembuatan Akta Perseroan, LP3 INP, Jakarta, 2020, hlm 5.
9 Audita Nurul Safitri, Pemalsuan Akta Jual Beli yang dibuat setelah PPAT Meninggal Dunia: Studi Kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor 620k/Pid/2016, Volume 1, Nomer 1, Indonesian Notary, Universitas Indonesia, Depok, 2019.
dapat dipahami bila Perseroan merupakan akibat dari perjanjian karena pada dasarnya Perseroan bersifat kontraktual. Kemudian, Perseroan juga bersifat konsensual yang artinya ialah para pihak terkait, yakni pemegang saham, sepakat untuk mengikatkan diri pada perjanjian pendirian Perseroan.10
Berdasarkan pemikiran dari Rochmat Soemitro, konsep dasar Perseroan Terbatas, sebagai berikut:11
a) Persekutuan (Persekutuan antara dua orang atau lebih untuk menyerahkan atau memusatkan sesuatu, barang, uang, atau tenaga dengan maksud untuk mengusahakan itu dan membagi keuntungan yang didapatnya);
b) Dengan modal perseroan yang tertentu yang terbagi atas saham-saham;
c) Para Persero ikut serta dalam modal itu dengan mengambil satu saham atau lebih;
d) Melakukan perbuatan-perbuatan hukum di bawah nama yang sama, dengan tanggung jawab yang semata-mata terbatas pada modal yang mereka setorkan.
Seperti yang telah disebutkan, Pendirian sebuah Perseroan berdasarkan Pasal 109 UU Penetapan Ciptaker Pasal 7 ayat (1) ialah:
“(1) Perseroan didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih dengan akta Notaris yang dibuat dalam Bahasa Indonesia.”
Sedangkan menurut Pasal 109 UU Penetapan Ciptaker Pasal 153A ayat (1) dan ayat (2) telah dijelaskan bahwa:
“(1) Perseroan yang memenuhi kriteria usaha mikro dan kecil dapat didirikan oleh 1 (satu) orang”
“(2) Pendirian Perseroan untuk usaha mikro dan kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan surat pernyataan pendirian yang dibuat dalam Bahasa Indonesia”
10 Nur Aini dan Yoan Nursari Simanjuntak, Tanggung Jawab Notaris Atas Keterangan Palsu Yang Di Sampaikan Penghadap Dalam Akta Pendirian Perseroan, Volume 5, Nomor 2, Jurnal Komunikasi Hukum, Universitas Surabaya, Surabaya, 2019, hlm 105-116.
11 Rochmat Soemitro, Hukum Perseroan Terbatas, Yayasan, dan Wakaf, Eresco, Bandung, 1993, hlm 34.
Namun dalam pendiriannya, Perseroan Perorangan ini tidak memerlukan Akta Pendirian dari Notaris.12 Sehingga pendiri tersebut hanya perlu membuat pernyataan yang kemudian didaftarkan secara elektronik kepada Menteri dengan mengisi format isian.13
Menurut Nindyo Pramono, dapat dipahami bila pada ketentuan tersebut terdapat dua unsur yang harus dipenuhi, yakni 1) minimal perseroan dibuat oleh 2 (dua) orang, termasuk badan hukum, kecuali yang telah di sebutkan pada Pasal 109 UU Penetapan Ciptaker Pasal 7 ayat (7) huruf a, b, c, d, dan e; dan 2) pendirian Perseroan harus berdasarkan akta Notaris yang dibuat dalam bahasa Indonesia.14 Oleh karena itu, ketentuan tersebut memberi legitimasi mengenai peranan Notaris dalam pembuatan akta Notaris terkait dengan akta pendirian Perseroan Terbatas.
Akta pendirian suatu Perseroan akan terdiri dari anggaran dasar dan keterangan yang tentunya berkaitan dengan pendirian Perseroan yang sekurang-kurangnya harus memuat mengenai beberapa hal. Pada Pasal 8 ayat (2) UUPT, menjelaskan bahwa:
“(2) Keterangan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat sekurang-kurangnya:
a. Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, tempat tinggal, dan kewarganegaraan pendiri perseorangan, atau nama, tempat kedudukan dan alamat lengkap serta nomor dan tanggal Keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum dari pendiri Perseroan;
b. Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, tempat tinggal, kewarganegaraan anggota Direksi dan Dewan Komisaris yang pertama kali diangkat;
c. Nama pemegang saham yang telah mengambil bagian saham, rincian jumlah saham, dan nilai nominal saham yang telah ditempatkan dan disetor.”
Sedangkan mengenai anggaran dasar yang telah diatur pada Pasal 15 ayat (1) UUPT menegaskan, bahwa:15
“(1) Mengenai anggaran dasar, serta memuat sekurang-kurangnya mengenai:
12 Rifdah Rudi, 2024, Kemudahan Pendirian PT Untuk Usaha Mikro dan Kecil (Online), https://www.hukumonline.com/klinik/a/kemudahan-pendirian-pt-untuk-usaha-mikro-dan-kecil- lt59253a2a37dfb/#_ftn14 , (11 April 2024)
13 Pasal 109 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Pasal 153B ayat (2) dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Penggant Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang.
14 Nindyo Pramono, Hukum PT Go Public dan Pasar Modal, Andi, Yogyakarta, 2013, hlm 26.
15 Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
a. nama dan tempat kedudukan perseroan;
b. maksud dan tujuan serta kegiatan usaha perseroan;
c. jangka waktu berdirinya perseroan;
d. besarnya jumlah modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor;
e. jumlah saham, klasifikasi saham apabila ada berikut jumlah saham untuk setiap klasifikasi, hak-hak yang melekat pada setiap saham, dan nilai nominal setiap saham;
f. nama jabatan dan jumlah anggota direksi dan dewan komisaris;
g.penetapan tempat dan tata cara penyelenggaraan rapat umum pemegang saham (RUPS);
h.tata cara pengangkatan, penggantian, pemberhentian anggota direksi dan dewan komisaris;
i. tata cara penggunaan laba dan pembagian deviden.”
Pembentukan anggaran dasar ditujukan agar Perseroan dapat berjalan tanpa melanggar kesusilaan dan ketertiban umum. Sebab, ketentuan pada anggaran dasar tidak hanya mengikat pendiri, pemegang saham, dan pengurus, melainkan juga mengikat pihak-pihak yang ingin melakukan transaksi dengan Perseroan tersebut, karena anggaran dasar akan menjadi hukum positif bagi Perseroan yang harus dipatuhi, maka jumlah modal dari Perseroan Terbatas, maksud dan tujuan, serta hal-hal yang sekiranya relevan dan berkaitan dengan Perseroan harus dijabarkan pada anggaran dasar tersebut.16
Apabila sewaktu-waktu anggaran dasar perlu diadakan perubahan, maka Notaris akan hadir saat RUPS diselenggarakan untuk menyaksikan prosesi RUPS dan selanjutnya Notaris akan membuat risalah rapat berupa Akta Berita Acara Rapat. Sehingga Akta Berita Acara Rapat tersebut berbentuk akta relaas, salah satu bentuk akta yang dibuat oleh Notaris, karena isinya ialah apa yang dilihat serta disaksikan sendiri oleh Notaris.17
Perseroan merupakan badan hukum, maka agar Perseroan dapat berjalan sebagaimana mestinya maka Perseroan harus memiliki Surat Keputusan Menteri mengenai Pengesahan Badan Hukum Perseroan.
Pengesahan tersebut dapat diperoleh dengan mengajukan permohonan pada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia yang dapat dilakukan secara elektronik pada Sistem Administrasi Badan Hukum (SABU). Untuk saat ini,
16 Sentosa Sembiri, Hukum Perusahaan Tentang Perseroan Terbatas, Nuansa Aulia, Bandung, 2006, hlm 78.
17 Pasal 90 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
Notaris ialah satu-satunya pihak yang dapat mengakses sistem tersebut untuk mengajukan permohonan.18
Mengajukan permohonan untuk memperoleh Keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum perseroan, telah diatur pada Pasal 9 ayat (1) UUPT, sebagai berikut:
“(1) untuk memperoleh Keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum Perseroan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4), pendiri bersama-sama mengajukan permohonan melalui jasa teknologi informasi sistem administrasi badan hukum secara elektronik kepada Menteri dengan mengisi format isian yang memuat sekurang-kurangnya:
a. nama dan tempat kedudukan Perseroan;
b. jangka waktu berdirinya Perseroan;
c. maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan;
d. jumlah modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor;
e. alamat lengkap Perseroan.”
Kemudian dalam Pasal 9 ayat (3) UUPT juga ditegaskan, bila:
“(3) Dalam pendirian tidak mengajukan sendiri permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), pendiri hanya dapat memberi kuasa pada Notaris.”
Dalam Pasal 109 UU Penetapan Ciptaker Pasal 153A ayat (2), mengenai Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam pendirian suatu Perseroan,
Notaris berperan aktif dalam pembuatan Akta Pendirian Perseroan, pembuatan, perubahan, dan pengesahan anggaran dasar, kemudian Notaris juga berperan dalam mengajukan permohonan pada SABU sehingga Perseroan tersebut dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
B. Kewenangan Notaris Dalam Pendirian Perseroan Terbatas Pasca Undang-Undang Cipta Kerja dan Undang-Undang Jabatan Notaris
Pada saat melaksanakan profesinya sebagai pejabat umum, tentunya Notaris berpedoman pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN), Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN Perubahan), dan Kode Etik Notaris (KEN). Sebab, Notaris memiliki kewenangan yang krusial dalam segala aspek profesinya.
Tugas utama Notaris dalam profesinya ialah untuk membuat akta otentik yang tidak dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Dapat
18 Alwesius, Op.Cit, hlm 6.
dilihat bila Notaris memiliki batasan-batasan yang tidak dapat dilanggar.
Kewenangan Notaris diatur pada Pasal 15 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UUJN Perubahan, sebagai berikut:19
“(1) Notaris berwenang membuat Akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan penetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang- undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam Akta autentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan Akta, menyimpan Akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan Akta, semuanya itu sepanjang pembuatan Akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang.
(2) Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Notaris berwenang pula:
a. mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;
b. membukukan surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;
c. membuat kopi dari asli surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan;
d. melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya;
e. memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan Akta;
f. membuat Akta yang berkaitan dengan pertanahan; atau g. membuat Akta risalah lelang.
(3) Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Notaris mempunyai kewenangan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.”
Berdasarkan kewenangan tersebut, dalam Pasal 15 ayat (1) UUJN Perubahan terdapat kalimat yang menyatakan jika Notaris memiliki kewenangan untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan penetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang- undangan. Selaras dengan ketentuan tersebut, pendirian Perseroan memerlukan Akta Pendirian yang dibuat oleh Notaris dan telah ditegaskan pada Pasal 109 UU Penetapan Ciptaker dalam Pasal 7 ayat (1) tersebut.
Selain itu juga dikatakan bahwa pembuatan akta tersebut yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, sebagaimana kalimat tersebut, bahwa pendirian Perseroan merupakan kehendak para pihak, sehingga Notaris menuangkan keinginan para pihak
19 Pasal 15 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.
tersebut dalam Akta Pendirian Perseroan, keterangan, dan anggaran dasarnya.
Pasal 15 ayat (3) UUJN Perubahan dikatakan jika Notaris mempunyai kewenangan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan, sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 109 UU Penetapan Ciptaker dalam Pasal 7 yang memberikan kewenangan pada Notaris untuk membuatkan Akta Pendirian Perseroan.
Akta yang dibuat sebagai dasar pembentukan Perseroan, dikenal sebagai Akta Pendirian. Keberadaan Akta Pendirian dalam pembentukan perseroan ialah untuk mengatur hal-hal yang harus dipercaya kebenarannya sehingga tidak memerlukan tambahan bukti lain. Akta ini nantinya yang akan diajukan untuk permohonan pengesahan Akta Pendirian Perseroan Terbatas. Kekuatan pembuktian akta Notaris sebagai alat bukti adalah kekuatan pembuktian yang sempurna. Itu merupakan keistimewaan dari akta otentik. Kekuatan tersebut dianggap telah melekat pada akta itu sendiri, yang berarti bahwa akta otentik merupakan suatu bukti yang mengikat karena apa yang telah tertuang didalamnya ‘harus’
dianggap benar adanya dan dipercaya oleh hakim. 20
Akta otentik juga memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna karena akta tersebut tidak memerlukan alat bukti lainnya untuk menunjukkan jika akta tersebut ialah benar. Ia memiliki kekuatan pembuktian secara lahirian, formal, dan materiil sesuai dengan Pasal 1868 KUHPer. Akta otentik yang dibuat oleh Notaris harus dibuat sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 38 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) UUJN Perubahan, sebagai berikut:21
“(1) Setiap Akta terdiri atas:
a. awal Akta atau kepala Akta;
b. badan Akta; dan
c. akhir atau penutup Akta.
(2) Awal Akta atau kepala Akta memuat:
a. judul Akta;
b. nomor Akta;
c. jam, hari, tanggal, bulan, dan tahun; dan d. nama lengkap dan tempat kedudukan Notaris.
(3) Badan Akta memuat:
20 Pricilia Yuliana Kambey, Peran Notaris Dalam Proses Peradilan Pidana, Volume 1, Nomor 2, Lex et Societatis, Universitas Sam Ratulangi, Manado, 2013, hlm 28.
21 Pasal 38 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.
a. nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, kewarganegaraan, pekerjaan, jabatan, kedudukan, tempat tinggal para penghadap dan/atau orang yang mereka wakili;
b. keterangan mengenai kedudukan bertindak penghadap;
c. isi Akta yang merupakan kehendak dan keinginan dari pihak yang berkepentingan; dan
d. nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, serta pekerjaan, jabatan, kedudukan, dan tempat tinggal dari tiap-tiap saksi pengenal.
(4) Akhir atau penutup Akta memuat:
a. uraian tentang pembacaan Akta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf m atau Pasal 16 ayat (7);
b.
uraian tentang penandatanganan dan tempat penandatanganan atau penerjemahan Akta jika ada;c. nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, jabatan, kedudukan, dan tempat tinggal dari tiap-tiap saksi Akta; dan
d. uraian tentang tidak adanya perubahan yang terjadi dalam pembuatan Akta atau uraian tentang adanya perubahan yang dapat berupa penambahan, pencoretan, atau penggantian serta jumlah perubahannya.”
Pembuatan akta otentik oleh Notaris harus sesuai dengan ketentuan peraturan diatas, sebab apabila tidak dilakukan demikian maka akta tersebut akan menjadi akta bawah tangan, yang tidak memiliki kekuatan pembuktian sempurna seperti akta otentik.22
Maka dari itu, kewenangan Notaris dalam pendirian Perseroan pasca UU Ciptaker ialah membuat Akta Pendirian Perseroan beserta keterangan dan juga anggaran dasarnya. Kemudian dalam Perseroan Terbatas Perorangan, Notaris tidak berwenang apapun sebab pendirian Perseroan Terbatas Perorangan tidak memerlukan Akta Pendirian Notaris.
4. Kesimpulan
Peran Notaris dalam Pendirian Perseroan pada Pasca UU Penetapan Ciptaker ialah membuat akta otentik berupa Akta Pendirian Perseroan, kemudian agar Perseroan dapat berjalan sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku, Perseroan harus didaftarkan pada Sistem Administrasi Badan Hukum (SABU), namun karena hanya Notaris yang dapat mengakses sistem tersebut, maka pendiri dapat menguasakan pengajuan permohonan Surat Keputusan Menteri pada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia yang dapat dilakukan secara elektronik pada SABU.
22 Tegar Abma Putra Lubis, dkk, Akta Kuasa Ditandatangani Tidak Dihadapan Notaris Sebagai Dasar Balik Nama Sertifikat Hak Milik, Volume 2, Issue 1, Notary Law Journal, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, 2023, hlm 36.
Notaris ialah salah satu pejabat umum yang diberikan wewenang oleh UUJN, UUJN Perubahan, dan peraturan perundang-undang lainnya membuat akta otentik. Pada UUPT dan UU Penetapan Ciptaker, Notaris diberikan wewenang untuk membuat Akta Pendirian Perseroan, kecuali Perseroan Perorangan yang tidak memerlukan akta otentik. Akta otentik yang dibuat oleh Notaris tersebut memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna sehingga dapat dijadikan sebagai alat bukti bila terjadi perselisihan maupun gugatan oleh pihak lainnya.
Daftar Pustaka Buku
Alwesius, Pengetahuan dan Praktik Pembuatan Akta Perseroan, LP3 INP, Jakarta, 2020.
Nindyo Pramono, Hukum PT
Go Public
dan Pasar Modal, Andi, Yogyakarta, 2013.Rochmat Soemitro, Hukum Perseroan Terbatas, Yayasan, dan Wakaf, Eresco, Bandung, 1993.
Sentosa Sembiri, Hukum Perusahaan Tentang Perseroan Terbatas, Nuansa Aulia, Bandung, 2006.
Jurnal
Arfan Faiz Muhlizi, Penataan Regulasi Dalam Mendukung Pembangunan Ekonomi Nasional, Volume 6, Nomor 3, Jurnal Rechtsvinding, Media Pembinaan Hukum Nasional, Pusat Analisis dan Evaluasi Hukum Nasional, Badan Pembinaan Hukum Nasional, Jakarta, 2017.
Audita Nurul Safitri, Pemalsuan Akta Jual Beli yang dibuat setelah PPAT Meninggal Dunia: Studi Kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor 620k/Pid/2016, Volume 1, Nomer 1, Indonesian Notary, Universitas Indonesia, Depok, 2019.
Muhammad Rusydianta, Dinamika Hukum dan Ekonomi dalam Realitas Social di Indonesia (Studi Kritis Terhadap Kebijakan Hukum – Ekonomi Indonesia), Volume 6, Nomor 3, Jurnal Rechtsvinding, Media Pembinaan Hukum Nasional, Universitas Darussalam Gontor, Ponorogo, 2017.
Nur Aini dan Yoan Nursari Simanjuntak, Tanggung Jawab Notaris Atas Keterangan Palsu Yang Di Sampaikan Penghadap Dalam Akta Pendirian Perseroan, Volume 5, Nomor 2, Jurnal Komunikasi Hukum, Universitas Surabaya, Surabaya, 2019.
Pricilia Yuliana Kambey, Peran Notaris Dalam Proses Peradilan Pidana, Volume 1, Nomor 2,
Lex et Societatis,
Universitas Sam Ratulangi, Manado, 2013.Tegar Abma Putra Lubis, dkk, Akta Kuasa Ditandatangani Tidak DIhadapan Notaris Sebagai Dasar Balik Nama Sertifikat Hak Milik, Volume
2,
Issue 1,
Notary Law Journal, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, 2023.Internet
Humas Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, Perseroan Terbatas (Online), https://ahu.go.id/perseroan-terbatas, (11 April 2024) Rifdah Rudi, 2024, Kemudahan Pendirian PT Untuk Usaha Mikro dan Kecil
(Online), https://www.hukumonline.com/klinik/a/kemudahan- pendirian-pt-untuk-usaha-mikro-dan-kecil-lt59253a2a37dfb/#_ftn14, (11 April 2024)
Peraturan Perundang-Undangan
Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Burgerlijk Wetboek voor Indonesie, Staatsblad Tahun 1847 Nomor 23
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris, Lembar Negara 2014/Nomor 3, Tambahan Lembar Negara Nomor 5491.
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris, Lembar Negara 2004/Nomor 117, Tambahan Lembar Negara Nomor 4432.
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Lembar Negara 2007/Nomor 106, Tambahan Lembar Negara Nomor 4756.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang, Lembar Negara 2023/Nomor 41, Tambahan Lembar Negara Nomor 6856.