• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH LEMBAGA PENYELENGGARA NEGARA

N/A
N/A
Putri Dilla Tunissyah

Academic year: 2023

Membagikan "MAKALAH LEMBAGA PENYELENGGARA NEGARA "

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

LEMBAGA PENYELENGGARA NEGARA

O L E H

NAMA ANGGOTA KELOMPOK:

1. IQBAL BAYU SANTOSO (tidak bekerja) 2. ILHAM KHAIRIL INSANI (tidak bekerja)

3. BIMO ABYNAGARA (tidak bekerja)

4. L. BILLIE DWIANTO (tidak bekerja)

5. KAYLA RATU TSANIA KHAIRO

(2)

KATA PENGANTAR

Pusat pembukuan; bada standar, kurikulum merdeka, riset pendidikan;

kementrian pendidikan, kebudayaan,riset dan teknologi sesuai tugas dan fungsinya mengembangkan kurikulum yang mengusung semangat Merdeka belajar mulai dari satuan Pendidikan anak usia dini, Pendidikan dasar, dan Pendidikan menengah. Kurikulum ini memberikan keleluasaan bagi satuan Pendidikan dala, mengembangkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik.

Untuk mendukung pelaksanaan kurikulum tersebut, sesuai undang-undang nomor 3 tahun 2017 tentang system pembukuan, pemerintah dalam hal ini pusat pembukuan memiliki tugas untuk menyiapkan buku teks utama.

Buku ini merupakan salah satu sumber belajar utama untuk di gunakan pada satuan Pendidikan, adapun acuan penyusun buku adalah keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia nomor 9580/ tentang capaian pembelajaran pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. sajian buku di rancang dalam bentuk berbagai aktivitas

pembelajaran untuk mencapai kompetensi dalam capaian pembelajaran tersebut.

penggunaan buku teks ini dilakukan secara bertahap pada sekolah penggerak, sesuai dengan keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan program

sekolah penggerak.

Sebagai dokumen hidup, buku ini tentunya dapat diperbaiki dan di

sesuaikan dengan kebutuhan. oleh karena itu, saran-saran dan masukan dari para guru, peserta didik, orang tua, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk

penyempurnaan buku teks ini. pada kesempatan ini, pusat perbukuan mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan buku ini dapat bermanfaat khususnya bagi peserta didik dan guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran.

(3)

ORGANISASI

Organisasi adalah suatu bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan dan dalam ikatan itu terdapat seorang atau sekelompok orang yang disebut bawahan. Organisasi dapat didefinisikan

sebagai proses identifikasi dan pengelompokan pekerjaan yang akan dilakukan, mengerjakan tanggung jawab dan wewenang serta membangun hubungan untuk sebuah tujuan yang membuat anggota organisasi saling bekerja sama secara efektif dalam mencapai tujuan.

Organisasi memiliki ciri-ciri seperti terdiri dari minimal dua orang atau lebih manusia yang sadar dalam membentuk, memiliki tujuan organisasi yang utama, dan memiliki struktur organisasi yang jelas. Contoh organisasi yang umum ditemukan di sekitar kita adalah OSIS di sekolah, BEM di kampus, Karang Taruna di tingkat desa, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di tingkat internasional antarnegara dunia.

PREROGATIF

Prerogatif adalah hak istimewa yang diberikan kepada pemerintah atau penguasa suatu negara dan diberikan kepada seorang atau sekelompok orang, yang terpisah dari hak-hak masyarakat menurut hukum yang berlaku. Dalam bahasa Indonesia, prerogatif dapat diartikan sebagai hak istimewa yang dipunyai oleh kepala negara mengenai hukum dan undang-undang di luar kekuasaan badan-badan perwakilan

JUDICIAL REVIEW

Judicial review adalah suatu pranata hukum yang memberikan

kewenangan kepada badan pelaksana kekuasaan kehakiman yang ditunjuk oleh konstitusi, seperti Mahkamah Konstitusi, untuk dapat melakukan peninjauan dan atau pengujian kembali dengan cara melakukan interpretasi hukum dan atau interpretasi konstitusi untuk memberikan penyelesaian yuridis. Pengujian ini dilakukan terhadap produk-produk hukum yang dihasilkan oleh eksekutif, legislatif maupun yudikatif di hadapan konstitusi yang berlaku. Dalam konteks Indonesia, judicial review undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi

(4)

CHECK AND BALANCES

Check and balances adalah prinsip ketatanegaraan yang menghendaki kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif sederajat serta saling mengontrol satu sama lain. Prinsip ini pertama kali dikemukakan oleh Baron de

Montesquieu dan diadopsi ke dalam konstitusi negara oleh Amerika Serikat pada tahun 1789. Tujuan dari prinsip check and balances adalah untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun cabang pemerintahan yang memiliki kekuasaan dominan, serta dapat dipengaruhi oleh cabang lainnya. Dalam konteks Indonesia, pelaksanaan prinsip check and balances kurang seimbang selama masa Orde Lama dan Orde Baru. Itulah sebabnya amendemen UUD 1945 dilakukan untuk menciptakan tata hubungan yang lebih harmonis dan fair.

DISTRIBUTOR OF POWER

Distributor of power dalam konteks penyelenggaraan negara merujuk pada pembagian kekuasaan antara tiga cabang pemerintahan, yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif, yang saling mengontrol satu sama lain. Prinsip ini bertujuan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan dan memastikan bahwa tidak ada satu pun cabang pemerintahan yang memiliki kekuasaan dominan. Dalam konteks Indonesia, prinsip distribusi kekuasaan ini diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan diimplementasikan melalui pembentukan lembaga-lembaga negara seperti DPR, Presiden, dan Mahkamah Konstitusi.

(5)

SISTEM PEMERINTAHAN

Sistem pemerintahan adalah suatu sistem yang digunakan oleh pemerintah suatu negara untuk mengatur negaranya. Sistem pemerintahan terdiri dari sekumpulan aturan-aturan dasar mengenai pola kepemimpinan, pola pengambilan keputusan, pola pengambilan kebijakan, dan berbagai macam hal lainnya. Terdapat beberapa jenis sistem pemerintahan, seperti:

1. Sistem Pemerintahan Presidensial: Negara republik menganut sistem ini.

Sistem yang memilih kekuasaan eksekutif lewat pemilihan umum. Pada sistem ini rakyatlah yang memilih siapa presidennya. Nantinya presiden akan menjalankan perannya sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan.

Memiliki kewenangan memilih dan mengangkat pejabat-pejabat

pemerintahan. Presiden juga mendapatkan jaminan konstitusi sehubungan kewenangannya dalam bidang legislatif.

2. Sistem Pemerintahan Parlementer: Di sistem ini parlemennya memegang peranan yang sangat penting. Perdana menteri dipilih dan diangkat oleh parlementer. Demikian pula sebaliknya parlemen bisa memberhentikannya dengan cara memberikan statement “mosi tidak percaya”. Di dalam sistem parlemen dimungkinkan ada perdana menteri dan presiden namun di sini presiden hanya bertindak selaku kepala negara. Negara Jepang, Malaysia, Belanda adalah negara-negara yang memegang sistem ini.

3. Sistem Pemerintahan Semi Presidensial: Merupakan gabungan dari sistem Presidensial dan Parlementer.

4. Sistem Pemerintahan Komunis: Negara yang menganut sistem ini adalah negara yang menganut ideologi komunis. Sistem pemerintahan ini memiliki ciri khas yaitu tidak adanya pemilihan umum. Kekuasaan dipegang oleh partai komunis dan dipimpin oleh seorang ketua partai.

5. Sistem Pemerintahan Demokrasi Liberal: Negara yang menganut sistem ini adalah negara yang menganut ideologi liberalisme. Sistem pemerintahan ini memiliki ciri khas yaitu adanya pemilihan umum dan kebebasan berpendapat.

6. Sistem Pemerintahan Liberal: Negara yang menganut sistem ini adalah negara yang menganut ideologi liberalisme. Sistem pemerintahan ini

memiliki ciri khas yaitu adanya pemilihan umum dan kebebasan berpendapat

(6)

Bunyi Pasal 4 Ayat 1 UUD 1945 adalah sebagai berikut: “Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang- Undang Dasar.” 12. Pasal ini memberikan dasar hukum bahwa Presiden bertanggung jawab atas pemerintahannya.

Penjelasan Pasal 4 Ayat 1 UUD 1945 adalah sebagai berikut: Pasal 4 ayat 1 dalam UUD 1945 memberikan dasar hukum bahwasanya presiden memiliki kekuasaan eksekutif sesuai dengan tugasnya sebagai kepala negara. Sebagai kepala negara, presiden bertugas membentuk pemerintahan, menyusun kabinet kerjanya, mengangkat dan memberhentikan para menteri, serta pejabat publik yang pengangkatannya berdasarkan kesepakatan politik. Pasal 4 ayat 1 ini juga menegaskan bahwa presiden bertanggung jawab atas pemerintahannya.

Sistem pemerintahan presidensial konstitusional memiliki beberapa karakteristik, yaitu:

1. Presiden dan wakil presiden dipilih secara langsung oleh rakyat.

2. Sistem partai politik adalah multipartai.

3. Presiden memegang kekuasaan eksekutif sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.

4. Presiden memiliki kewenangan memilih dan mengangkat pejabat-pejabat pemerintahan.

5. Presiden bertanggung jawab atas pemerintahannya.

Sementara itu, sistem pemerintahan konstitusional memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Negara menganut konstitusi sebagai hukum tertinggi.

2. Kekuasaan negara dibagi menjadi tiga cabang, yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

3. Setiap cabang pemerintahan saling mengontrol satu sama lain melalui sistem check and balances.

4. Hak asasi manusia dijamin dan dilindungi oleh negara.

(7)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ………..………I Daftar Isi……… II

Organisasi………1

Prerogatif……….1

Judicial Review……….. 1

Check and Balances………2

Distributor of Power………...2 System Pemerintahan………..3-4

Referensi

Dokumen terkait

Pasal 4 berbunyi sebagai berikut : Presiden Republik Indonesia memegang Kekuasaan Pemerintahan menurut Undang-undang Dasar; Dalam melakukan

Kekuasaan Dewan Perwakilan Rakyat dalam Penggunaan Hak Angket Menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik 1945 Pasca Amandemen beserta Peraturan Perundang- undangan

Kekuasaan membuat undang-undang (legislatif) harus dipegang oleh badan yang berhak khusus untuk itu.. Dalam negara demokratis, kekuasaan tertinggi untuk menyusun undang-undang itu

Demokrasi atau pemerintahan perwakilan rakyat yang representatif, dengan sistem pemisahan kekuasaan, tetapi di antara badan-badan yang diserahi kekuasaaan itu, terutama antara

1) Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. 2) Setiap rancangan undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk

Pada Pasal 20 ayat (1) Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengatur: “Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang- undang.”

Dengan perkataan lain, UUD 1945 menganut asas pembagian kekuasaan dengan menunjuk pada jumlah badan-badan kenegaraan yang diatur didalamnya serta hubungan kekuasaan

Sementara kekuasaan legislatif adalah kekuasaan untuk membentuk undang- undang yang dipegang oleh Dewan Perwakilan Rakyat DPR sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 20 ayat 1 UUD Negara