• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn)

N/A
N/A
Putri Setianingrum

Academic year: 2024

Membagikan "MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn)"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn)

“Implementasi Konsep Green Economy dalam Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam di Indonesia sebagai Upaya Pembangunan

Berkelanjutan Menuju Netral Karbon Indonesia Tahun 2060”

Disusun Oleh:

Nama : Putri Setianingrum NIM : B1A021074

Dosen Pengampu:

Wiman Rizkidarajat, S.H, M.H.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITA JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO

2022

(2)

i

LEMBAR PENGESAHAN

1. Judul Makalah : Implementasi Konsep Green Economy dalam Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam di Indonesia sebagai Upaya

Pembangunan Berkelanjutan Menuju Netral Karbon Indonesia Tahun 2060

2. Identitas

a. Nama Lengkap : Putri Setianingrum b. NIM : B1A021074

c. Jurusan/Fakultas : Biologi/Fakultas Biologi

d. Universitas : Universitas Jenderal Soedirman e. No. Telp/Hp : +625712626391

f. Email : [email protected] 3. Dosen Pengampu

a. Nama Lengkap : Wiman Rizkidarjat, S.H., M.H.

b. NIP : -

c. No. Telp/Hp : +628122794432

d. Email : [email protected]

Disetujui Oleh :

Koordinator Mata Kuliah PKn

Drs. Slamet Santoso SP., MS.

NIP. 195805261984101001

(3)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya dapat terselesaikan makalah ini guna memenuhi tugas individu terstruktur untuk mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), dengan judul “Implementasi Konsep Green Economy dalam Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam di Indonesia sebagai Upaya Pembangunan Berkelanjutan Menuju Netral Karbon Indonesia Tahun 2060”. Saya ucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Drs. Slamet Santoso SP., MS. dan Wiman Rizkidarajat, S.H., M.H. atas arahan dan binbingannya dalam membantu proses pembuatan makalah ini.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna baik dari segi penyusunan, bahasa, maupun penulisannya. Maka dari itu, penulis sangat berharap makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca dan menjadi bahan evaluasi bagi saya untuk lebih baik lagi dalam makalah-makalah berikutnya serta tetap memberik manfaat pendidikan dan pengetahuan.

Purwokerto, 12 September 2022

Putri Setianingrum

(4)

iii DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 2

C. Tujuan ... 2

D. Manfaat ... 2

E. Ruang Lingkup ... 2

II. METODE PENULISAN ... 3

A. Objek Penulisan ... 3

B. Dasar Pemilihan Objek ... 3

C. Metode Pengumpulan Data ... 4

D. Metode Analisis ... 5

III. ANALISIS PERMASALAHAN ... 6

A. Pembahasan ... 6

B. Kesimpulan dan Saran ... 12

DAFTAR PUSTAKA ... vi

(5)

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Efek Gas Rumah Kaca...6 Gambar 3.2 Pertemuan G20 1st EDM-CSWG...10 Gambar 3.3 Siaran Pers Kementerin Perekonomian...12

(6)

v ABSTRAK

Akhir-akhir ini berbagai negara tak terkecuali Indonesia dihadapkan pada masalah penurunan sumber daya alam, seperti sumber daya lingkungan, sumber daya energi, dan sumber daya pangan. Menyadari akan permasalahan sumber daya dan lingkungan, mulai dikembangkan konsep pembangunan berkelanjutan pada abad ke-21, yaitu pembangunan yang serasi dengan kebutuhan generasi kini, namun tetap memeperhatikan kesempatan bagi generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka yaitu sebuah konsep green economy. Makalah ini dibuat untuk mengetahui bentuk implementasi konsep tersebut dan kebijakan Pemerintah Indonesia terkait pembangunan berkelanjutan yang rendah karbon. Oleh karena itu, dengan melakukan deskriptif analitis didapatkan bahwa Pemerintah Indonesia bersama Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia dan Global Green Growth Institute (GGGI) dan melaui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) telah benar mengimplementasikan konsep green economy sesuai tujuan sosial dan ekonomi Indonesia yang tertera pada Rencana Pembangunan jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. melalui penandatanganan Paris Agreement, kebijakan harga karbon dalam bentuk carbon cap and trade, skema pajak karbon di 2023, UU Nomor 32 Tahun 2009, dan Perpres No 98 Tahun 2021 juga merupakan suatu bentuk kebijakan dan perundang-undangan untuk mendukung terwujudnya Netral Karbon Indonesia Tahun 2060.

(7)

1 I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Akhir-akhir ini berbagai negara tak terkecuali Indonesia dihadapkan pada masalah penurunan sumber daya alam, seperti sumber daya lingkungan, sumber daya energi, dan sumber daya pangan.

Perubahan iklim dan pemanasan global memberikan ancaman makin berkurangnya sustainabilitas bumi dalam mencukupi kesejahteraan dan kebutuhan umat manusia. Perilaku umat manusia yang tidak ramah lingkungan dengan mengeksploitasi sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui semakin memperburuk sumber daya lingkungan yang ada.

Menyadari akan permasalahan sumber daya dan lingkungan, mulai dikembangkan konsep pembangunan berkelanjutan pada abad ke-21, yaitu pembangunan yang serasi dengan kebutuhan generasi kini, namun tetap memeperhatikan kesempatan bagi generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Konsep pembangunan berkelanjutan ini mencakup tiga lingkup kebijakan, meliputi yaitu pembangunan ekonomi, pembangunan sosial, dan perlindungan sosial. Di Indonesia sendiri, konsep pembangunan berkelanjutan sudah dimulai sedari tahun 1970-an, tetapi sampai saat ini masih cenderung fokus pada pembangunan ekonomi, bahkan pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Karenanya, kualitas pembangunan ekonomi semakin memburuk dan tidak memperhatikan keberlanjutannya.

Tak hanya itu, melihat adanya perubahan iklim dan pemanasan global yang terjadi maka pada pertemuan tingkat tinggi dunia mengenai perubahan iklim (COP-26, United Nations Framewok Convention on Climate Change/UNFCCC) yang diselenggarakan di Glasglow Inggris Raya Oktober – November 2021, salah satu kesimpulan vital dari pertemuan tersebut yaitu menghentikan pemanasan global. Dalam menindaklanjuti hasil pertemuan tersebut maka Indonesia dituntut untuk menetapkan terjadinya transformasi pembangunan yang menciptakan produk ramah lingkungan, termasuk melalui pembangunan rendah karbon (low carbon development) (Erwinsyah, 2021).

(8)

2

B. Rumusan Masalah

1. Sejauh mana kerusakan lingkungan di Indonesia sehingga pemerintah perlu menerapkan konsep green economy?

2. Bagaimana implementasi konsep green economy dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam di indonesia?

3. Apakah kebijakan pembangunan berkelanjutan yang rendah karbon sudah dilakukan pemerintah di Indonesia?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui sudah sejauh manakah kerusakan lingkungan di Indonesia sehingga perlu diterapkannya konsep green economy oleh pemerintah.

2. Untuk mengetahui implementasi konsep green economy dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam di Indonesia.

3. Untuk mengetahui kebijakan pemerintah Indonesia dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang rendah karbon.

D. Manfaat

Dibuatnya makalah ini agar memberi manfaat baik bagi penulis maupun bagi pembaca. Diharapkan makalah ini dapat memberikan pengetahuan tentang kerusakan lingkungan di Indonesia, implementasi konsep green economy pada pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam, dan kebijakan yang dibuat pemerintah dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang rendah karbon bagi penulis dan pembaca. Bagi penulis makalah ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kompetensi dalam kepenulisan.

E. Ruang Lingkup

Berdasarkan sumber yang diperoleh terkait topik yang diusung, maka penulis membatasi ruang lingkup topik permasalahan yang mengulas tentang latar belakang, definisi umum dan para ahli topik permasalahan, penerapan dan implementasi terkait topik permasalahan di Indonesia, data dan fakta dari topik permasalahan, kebijakan pemerintah terkait topik permasalahan, dan hukum dan undang-undang terkait topik permasalahan.

(9)

3 II. METODE PENULISAN

A. Objek Penulisan

Objek penulisan adalah objek berupa informasi, lembaga, maupun sosok yang berkaitan dengan topik permasalahan yang ditentukan oleh penulis dalam upaya mengkaji topik permasalahan sehingga membantu memperoleh jawaban dari topik permasalahan yang diusung guna mendapatkan suatu kesimpulan.

Pada makalah ini, objek penulisan yang dipakai adalah kerusakan lingkungan di Indonesia yaitu pemanasan global, pembuangan limbah industri, dan efek rumah kaca. Objek selanjutnya ialah bentuk implementasi konsep green economy dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam di Indonesia khususnya pada sektor industri dan pembangunan. Tak hanya itu, kebijakan pemerintah Indonesia dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang rendah karbon juga menjadi objek pada makalah ini.

Penulisan ini menjadi menarik untuk diusung karena salah satu isu yang dibahas pada G20 yang akan dilangsungkan di Bali pada November mendatang adalah mengenai kepedulian anggota G20 terhadap masalah pemanasan global. Di sisi lain melihat berita yang beredar mengenai salah satu proyek PLTU di Cirebon disebut mengabaikan pelestarian atmosfer pada 11 September 2022 menjadi suatu hal yang sangat bertolak belakang.

Namun adanya Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau (Green Growth Program) bersama Pemerintah Indonesia dan Global Green Growth Institute (GGGI) di Indonesia yang hadir untuk perwujudan green economy di negara ini menjadi hal yang patut dilihat bersama kinerjanya.

B. Dasar Pemilihan Objek

Dasar pemilihan objek ialah tujuan dan argumen penulis dalam menentukan objek yang berangkaian dengan topik permasalahan. Pada dasar pemilihan objek harus terdapat pula tujuan dan argumen supaya topik permasalahan yang dikaji memperoleh kesimpulan akhir.

Dasar pemilihan objek untuk membuktikan bahwa Indonesia menyadari adanya kerusakan alam yang terjadi dan berupaya

(10)

4

menanggulanginya serta bentuk implementasi dalam pengelolaan dan pemanfatan sumber daya alam di Indonesia yang masih belum jelas bentuk realisasinya seperti pembangunan PLTU di Cirebon. Tak hanya itu, kebijakan yang digagas pemerintah untuk pembangunan berkelanjutan yang rendah karbon dalam bentuk undang-undang maupun peraturan yang berlaku juga menjadi dasar pemilihan objek pada makalah ini.

C. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data merupakan faktor penting pada keberhasilan suatu makalah. Metode pengumpulan data berhubungan dengan bagaimana cara mengumpulkan data, sumber data yang diperoleh, kegiatan yang berkaitan dengan topik permasalahan, lembaga yang berkitan dengan topik permasalahan, dan dasar hukum yang berkaitan dengan topik permasalahan. Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh beberapa informai yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan penulisan makalah ini.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis mengumpulkan objek penulisan dari sumber tidak langsung (data sekunder) seperti jurnal-jurnal yang berkaitan dengan topik permasalahan, media digital, dan diskusi yang dilakukan dengan kerabat dari berbagai macam pendapat dan pandangan yang berkaitan dengan topik permasalahan. Berikut adalah uraian sumber-sumber data yang digunakan dalam metode pengumpulan data:

1. Jurnal

Suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan informasi dan data-data perihal topik permasalahan yang bertautan seperti pengertian konsep green economy, permasalahan lingkungan di Indonesia, dan kebijakan pemerintah mengenai pembangunan berkelanjutan dari jurnal-jurnal yang masih mempunyai topik yang sama dengan topik yang diusung.

2. Media Digital

Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan mencari data- data dan informasi dari media digital berupa berita maupun isu-isu yang

(11)

5

berkaitan dengan topik permasalahan yang diusung seperti berita mengenai salah satu proyek PLTU di Cirebon yang disebut mengabaikan pelestarian atmosfer dan juga konsep green economy yang diusung oleh Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau (Green Growth Programme) di Indonesia.

3. Diskusi/Forum Group Discussion (FGD)

Metode pengumpulan data berupa pandangan maupun pendapat melalui diskusi dan bertukar pikiran baik secara langsung maupun melalui aplikasi pesan online mengenai topik permasalahan yang diusung.

D. Metode Analisis

Metode analisis yang dipakai dalam mengkaji dan mengidentifikasi topik permasalahan yang diusung menggunakan metode deskriptif analitis.

Metode deskriptif analitis adalah salah satu metode yang dipakai untuk memaparkan atau menggambarkan objek permasalahan yang dikaji dengan memakai data atau sampel yang sudah dikumpulkan selengkap- lengkapnya melalui simpulan secara umum dan tidak menganalisis secara langsung (Sugiono, 2009 dalam Alkautsar: 2021).

Maka dari itu, pengkajian menggunakan metode deskriptif analitis menghimpun masalah ataupun informasi mengenai topik permasalahan yang diususng dengan objek yang dikaji serta sesuai dengan metode pengumpulan informasi yang dilakukan sebagaimana adanya. Hasil pengkajian dan identifikasi lalu dipilah kembali, kemudian dianalisis sehingga memperoleh kesimpulan secara umum. Maka dalam pengkajian topik permasalahan, yaitu konsep green economy pada pembangunan berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya alam, digunakan metode deskriptif analitis dikarenakan dirasa cocok dan sesuai untuk mengetahui peristiwa dari topik permasalahan yang terjadi.

(12)

6 III. ANALISIS PERMASALAHAN

A. Pembahasan

Tak dapat dipungkiri bahwa dewasa ini berbagai negara di belahan dunia dihadapi akan permasalahan lingkungan berupa perubahan iklim, pemanasan global, maupun efek gas rumah kaca. Jumlah kualitas sumber daya alam menurun dan akan berpengaruh terhadap manusia yang masih menanggung hidupnya terhadap sumber daya alam itu sendiri. Sedangkan permintaan manusia akan sumber daya alam akan terus meningkat dan akan sangat berpengaruh terhadap keanekaragaman hayati serta mengancam wilayah keamanan, kesehatan, kesetaraan, dan kesejahteraan (WWF, 2012 dalam Nisa, A.N. dan Suharno: 2020).

Gambar 3.1 Efek Gas Rumah Kaca

Negara Indonesias saat ini juga mengalami pernasalahan yang cukup krusial tentang pencemaran dan kerusakan lingkungan yang dari ke hari semakin meningkat. Permasalahan lingkungan hidup masih menjadi tanggung jawab besar dikarenakan berkaitan dengan kualitas kehidupan mendatang. Eksploitai pada sumber daya alam dan juga lingkungan hidup telah mengakibatkan semakin parahnya kualitas lingkungan hidup khususnya sumber daya alam. Banyaknya kerusakan alam seperti, ekosistem lautan, rusaknya sebagian besar hutan yang menjadi paru-paru dunia oleh kebakaran hutan, banjir yang terjadi dimana-mana, tanah longsor, dan masih banyak lagi. (Nisa, A. N. dan Suharno, 2020).

Polusi dari kawasan industri dan kendaraan motor yang makin menjamur juga menambah parah kerusakan lingkungan yang terjadi.

Pembuangan limbah industri yang sembarangan juga ikut andil dalam kerusakan lingkungan. Terjadinya beberapa kerusakan lingkungan

(13)

7

disebabkan karena faktor masalah ekonomi, kepentingan individu maupun kelompok, pola hidup, ataupun karena lemahnya sistem peraturan perundang-undangan yang berlaku serta lemahnya pengawasan terhadap pengelolaan serta perlindungan lingkungan. Pada dasarnya pasal yang menyangkut dengan penegakan hukum pada permasalahan lingkungan hidup sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 yang terdapat pada pasal 15 sampai dengan pasal 97 tentang sanksi pidana terhadap tindak pidana lingkungan hidup.

Dari permasalahan-permasalahan tersebut, menandakan bahwa kerusakan lingkungan di Indonesia sudah dirasa cukup parah. Kerusakan lingkungan yang terjadi menimbulkan berbagai dampak yang terjadi contohnya, menipisnya lapisan ozon, pemanasan global, dan efek rumah kaca. Maka dari itu, pemerintah Indonesia perlu menerapkan konsep green economy pada pembangunan dan sektor industrinya. Sebab saat kesadaran akan lingkungan meningkat, praktik bisnis berkelanjutan menjadi penting yang menjurus pada munculnya green economy sebagai mesin ekonomi baru dunia (Kahle dan Atay, 2015 dalam Erwinsyah: 2021). Lavrinenko, et al. (2019) pada penelitiannya membuktikan peran positif green economy pada pembangunan berkelanjutan di negara-negara Uni Eropa di periode 2016-2017. Salah satu lembaga internasional yang menggiatkan perihal Green Economy ialah lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa lewat United Nations Environment Programme (UNEP), yang juga sudah diberlakukan oleh berbagai negara dengan berbagai keragamannya (Zulfikar dkk, 2019).

Green Economy atau ekonomi hijau merupakan salah satu faktor yang dapat memperbaiki kondisi lingkungan manusia serta keadilan sosial, dan secara masif dapat mennurunkan risiko lingkungan dan langkanya sumber daya lingkungan. Dalam seminar “Application of Green Economy strategy for Sustainable Forest Development” tanggal 24 April 2013 dikutip dari buku Bappenas: Prakarsa Strategis Pengembangan Konsep Green Economy (hlm.20) dikatakan bahwa Green Economy ialah ekonomi yang terus menerus tumbuh dan memberikan lapangan kerja serta mengurangi kesenjangan sosial, tanpa melalaikan perlindungan

(14)

8

lingkungan, utamanya fungsi ekosistem serta mengutamakan keadilan sosial. Dapat diartikan bahwa green economy ialah perekonomian yang rendah karbon, hemat sumber daya alam, dan berkeadilan sosial serta melengkapi konsep pembangunan berkelanjutan yaitu memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan pemenuhan generasi mendatang.

Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa ekonomi hijau atau green economy mempunyai potensi untuk dipergunakan sebagai sarana menuju pembangunan berkelanjutan (Zulfikar dkk, 2019).

Salah satu isu yang dibahas pada G20 yang akan dilangsungkan di Bali pada November mendatang adalah mengenai kepedulian anggota G20 terhadap masalah pemanasan global. Indonesia sebgai tuan rumah pada G20 perlu dipertanyakan kiat dan strateginya dalam mencegah pemanasan global yang disebabkan oleh akumulasi kerusakan lingkungan secara terstruktur. Struktur organisasi pembangunn ada tiga, yaitu bagian perencanaan pembangunan, pelksana pembangunan, dan pengendali pembangunan. Tetapi, struktur organisasi pada pemerintahan Indonesia hanya terdapat dua yaitu bagian perencanaan pembangunan (Bappenas) serta para pelaksana pembangunan (para menteri). Pada era orde baru dan awal reformasi, Indonesia mempunyai bagian pengendali pembangunan dalam bentuk Badan Pengendalian Pembangunan (Bapedal) dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Saat ini Indonesia tidak mempunyai Bapedal dan KLH digabung dengan Kementerian Kehutanan yang mengakibatkan fungsi dari KLH tak terdengar dan menjadi ambigu (Manurung, 2022).

United Nation Environment Programme (UNEP), pada kesepakatan global baru (global green new deal) mengatakan bahwa pemerintah harus mendukung perubahan ekonomi yang awal mulanya hanya tentang profit dan kesejahteraan menjadi ekonomi hijau yang lebih mengutamakan kelestarian lingkungan. Dengan adanya ekonomi hijau diharapkan dapat menanggulangi permasalahan lingkungan yang ada khususnya perubahan iklim yang sekarang menjadi topik utama di berbagai negara (Shachi, 2018 dalam Rany dkk, 2020). Di Indonesia,

(15)

9

sudah ada kebijakan berupa Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau Phase II: 2016-2020 yang tertuang dalam Perpres No.82 Tahun 2014 tentang Pengesahan Persetujuan Pembentukan Lembaga Internasional Pertumbuhan Hijau. Dengan hadirnya program tersebut, Indonesia akan bekerjasama dengan Palm Oil Green Economic Zone (POGEZ) atau biasa dikenal dengan Kawasan Ekonomi CPO (Rany dkk, 2020).

Implementasi dari program Palm Oil green Economic Zone (POGEZ) dilaksanakan di Kawasan Industri Dumai yang terdapat di provinsi Riau dan Kawasan Industri Berau yaang terdapat di provinsi Kalimantan Timur. Kawasan ini dibuat untuk mengatasi kesenjangan pembangunan sektor industri dan membangkitkan usaha pengembangan industri di seluruh wilayah yang mengedepankan prinsip Green Industry.

Green Industry ialah program bilateral antara Indonesia dan Malaysia, bertujuan untuk menarik para investor untuk mengembangkan bisnis industri dengan ramah lingkungan sekitar (Palm Oil Green Economic Zone atau kawasan tidak berpolusi) (Rany dkk, 2020).

Pada 16 Maret 2022 mengutip dari laman resmi Indonesia Green Growth Program, telah dilaksanakan FGD Kajian Dampak Keberadaan Program Ekonomi Hijau bersama Universitas Mulawarman di Kalimantan Timur dalam rangka pemetaan Potret Implementasi Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Kalimantan Timur. Diskusi tersebut menghasilkan rumusan kajian yang bertujuan untuk membantu provinsi Kalimantan Timur mengukur dampak intervensi program, kebijakan, dan komitmen pertumbuhan ekonomi hijau di Kalimantan Timur sebagai kawasan industri kelapa sawit, serta program yang sudah dilaksanakan dengan indikator dampak dari pertumbuhan ekonomi hijau, target-target pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) dan Nationally Determined Contribution (NDC).

Tak hanya itu pada laman yang sama juga diberitakan bahwa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menyelenggarakan rangkaian pertemuan G20 Environment Deputies Meeting and Climate Sustainability Working Group pertama (1st EDM-

(16)

10

CSWG) pada 21-24 Maret di Yogyakarta (Green Growth Bappenas, 2022).

Gambar 3.2 Pertemuan G20 1st EDM-CSWG

Tujuan sosial dan ekonomi Indonesia yaitu untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi pada 2030, tertera pada Rencana Pembangunan jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 dengan prioritas pada pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan dan energi, pengentasan kemiskinan, dan pengelolaan sumber daya alam. Upaya yang dilakukan Program Pertumbuhan Hijau untuk memastikan pertumbuhan yang lebih hijau dan kemajuan yang lebih hijau tercermin dalam RPJMN. Sasaran hasil akhir dari Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau diantaranya yaitu, seluruh jajaran institusi pemerintahan yang memiliki kapasitas untuk menjalankan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi hijau dan aliran investasi yang meningkat di sektor-sektor prioritas, yang inklusif dan dapat mengurangi emisi, serta memastikan ekosistem yang lebih sehat dan produktif (Indonesia Green Growth Program, 2022). Dengan aktif dan kontribusi nyata dari Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia bersama oleh Pemerintah Indonesia dan Global Green Growth Institute (GGGI) yang juga didirikan salah satunya oleh Indonesia dan melaui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) diharapkan mampu menjadi pondasi yang kuat untuk pembangunan berkelanjutan yang berkonsep green economy di Indonesia.

Pada berita yang beredar pada 11 September 2022 mengenai sidang gugatan izin lingkungan PLTU Tanjung Jati A Cirebon yang digelar di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) di Bandung, Jawa Barat

(17)

11

pada tanggal 18 Agustus 2022 yang membahas mengenai penerbitan izin proyek PLTU batubara tersebut yang diminta untuk kembali dicabut dan proyek dibatalkan. Hal itu dikarenakan penerbitan izin diduga tidak dilandaskan pada analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang komprehensif, khususnya tidak menakar lepasan karbon yang dapat berakibat pada peningkatan efek gas rumah kaca dan memperburuk perubahan iklim. Di sisi lain, ahli hukum lingkungan Universitas Indonesia, Prof. Andri Gunawan Wibisana, berpendapat, meski peraturan perundang-undangan dianggap belum secara spesifik mengatur batas emisi gas rumah kaca tersebut, pemerintah tetap harus mempertimbangkan kepentingan lingkungan, tak hanya berpegang perizinan pada formalitas hukum (Ripaldi, 2022).

Dari berita tersebut, memunculkan pertanyaan tentang bagaimana sebenarnya kebijakan dan perundang-undangan mengenai pembangunan berkelanjutan yang rendah karbon. Pada dasarnya, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup masih berlaku di Indonesia. Pasal 1 ayat (3) UU Nomor 32 Tahun 2009 mengatakan bahwa pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Tak hanya itu, pemerintah juga telah menetapkan Perpres Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon untuk Pencapaian Target Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca dalam Pembangunan Nasional. Selain hal itu, ada pula UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang menyempurnakan berbagai undang-undang lintas sektor, khususnya perihal Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Pada siaran pers yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia di Jakarta pada tanggal 24 April 2022 dengan judul „Green Economy Mendorong

(18)

12

Terciptanya Pembangunan Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan‟

menyebutkan bahwa Pemerintah Indonesia menyerahkan perhatian penuhnya terhadap pengembangan energi baru terbarukan pada skala nasional maupun global. Salah satu bentuk upaya yang sudah dilakukan Pemerintahan Indonesia guna menanggulangi perubahan iklim yaitu melalui penandatanganan Paris Agreement sebagai bentuk keikutsertaan dalam komitmen global mengantisipasi perubahan iklim.

Gambar 3.3 Siaran Pers Kementerin Perekonomian

Salah satu bentuk ekonomi hijau yang akan digarap ialah implementasi kebijakan harga karbon dalam bentuk carbon cap and trade, dan skema pajak karbon di 2023. Pada acara “EdHeroes Forum Oceania:

Australia Chapter” yang diselenggarakan secara daring pada 23 April 2022, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengungkapkan bahwa “Pemerintah Indonesia telah menetapkan arah kebijakan melalui Pembangunan Rendah Karbon. Dengan menggunakan Nationally Determined Contributions (NDC), Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada tahun 2030”

(Limanseto, 2022). Melihat berbagai kebijakan yang sudah maupun akan dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk pembangunan berkelanjutan yang rendah karbon dan juga berbagai perundang-undangan yang dibuat, diharapkan upaya tersebut masif dilakukan dan nyata terealisasikan demi terwujudnya Netral Karbon Indonesia Tahun 2060.

B. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan dari bentuk implementasi konsep green economy dan juga kebijakan Pemerintah Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan

(19)

13

yang rendah karbon ialah bahwa Pemerintah Indonesia bersama Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia dan Global Green Growth Institute (GGGI) dan melaui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) telah benar melakukan dan mengupayakan perwujudan green economy bagi pembangunan nasional sesuai tujuan sosial dan ekonomi Indonesia yang tertera pada Rencana Pembangunan jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Diharapkan, kinerja dari program yang telah dibuat tersebut terus diupayakan dan aktif agar dapat mengatasi permasalahan lingkungan maupun permasalahan sumber daya alam yang terjadi. Tak hanya itu, kebijakan yang hendak maupun sudah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia harus benar-benar nyata dilaksanakan serta UU Nomor 32 Tahun 2009 dan Perpres No 98 Tahun 2021 harus terus diterapkan pada pembangunan nasional agar Netral Karbon Indonesia Tahun 2060 dapat segera terwujud.

(20)

vi

DAFTAR PUSTAKA

Alkautsar, A. H. (2021). Ketidakadilan Tuntutan Hukuman Korupsi Terhadap Djoko Tjandra atas Kasus Bank Bali dan Penyuapan Terhadap Seorang Jaksa dan Dua Jenderal POLRI, Makalah. Universitas Jenderal Soedirman: Purwokerto.

Erwinsyah. (2021). Peluang Ekonomi Hijau dan Keterampilan Hijau Menuju Netral Karbon Indonesia Tahun 2060. Journal of Applied Business and Economic (JABE), 8(2), 159-181.

Indonesia Green Growth Program. (2022). Pertemuan G20 Environtment Deputies Meeting and Climate Sustainability Working Group yang Pertama (on- line). https://greengrowth.bappenas.go.id/pertemuan-g20-environment- deputies-meeting-and-climate-sustainability-working-group-yang-

pertama/, diakses (11 September 2022).

Limanseto, Haryo. (2022). Green Economy Mendorong Terciptanya Pembangunan Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan (on-line).

https://ekon.go.id/publikasi/detail/4024/green-economy-mendorong- terciptanya-pembangunan-ekonomi-yang-inklusif-dan-berkelanjutan, diakses (11 September 2022).

Manurung, Gurgur. (2022). Revitalisasi Organisasi Pengendalian Pembangunan demi Mencegah Kerusakan Lingkungan (on-line).

https://www.kompas.com/revitalisasi-organisasi-pengendalian-

pembangunan-demi-mencegah-kerusakan, diakses (11 September 2022).

Nisa A.N dan Suharno. (2020). Penegakan Hukum terhadap Permasalahan Lingkungan Hidup untuk Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan (Studi Kasus Kebakaran Hutan di Indonesia). Jurnal Bina Mulia Hukum, 4(2), 294-312.

Rany dkk. (2020). Tantangan Indonesia dalam Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi yang Kuat dan Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan melalui Indonesia Green Growth Program oleh BAPPENAS. Jurnal Ilmu Ekonomi dan Pembangunan, 20(1), 63-73.

(21)

vii

Ripaldi, Dikdik. (2022). Proyek PLTU Tanjung Jati A Cirebon Disebut Abaikan Pelestarian Atmosfer (on-line). https://www.liputan6.com/proyek-pltu- tanjung-jati-a-cirebon-disebut-abaikan-pelestarian-atmosfer, diakses (11 September 2022)

Zulfikar dkk. (2019). Pengantar Green Economy. Yogyakarta: Deepublish (Grup Penerbitan CV Budi Utama).

Gambar

Gambar 3.1 Efek Gas Rumah Kaca
Gambar 3.2 Pertemuan G20 1st EDM-CSWG
Gambar 3.3 Siaran Pers Kementerin Perekonomian

Referensi

Dokumen terkait

Kami juga menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan baik dari segi isi, maupun dari segi penulisan, untuk itu kami mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat

Dengan penerapan konsep Green Chemistry dalam mata kuliah Pengetahuan Lingkungan diharapkan mahasiswa paham bahwa konsep Green Chemistry adalah mencegah polusi

Dalam penyusunan rencana pengelolaan ini, perlu juga diperhatikan bahwa konsep pengelolaan sumber daya pesisir terpadu berbasis masyarakat diharapkan akan mampu

Berbagai kegiatan yang telah dijelaskan di atas menujukkan bahwa kegiatan di TN Sebangau adalah kegiatan berbasis green economy yang mana pengelolaan sumber daya alam

Konsep daya dukung ini dikembangkan terutama untuk mencegah kerusakan atau degradasi dari suatu sumberdaya alam dan lingkungan sehingga kelestarian, keberadaan, dan fungsinya dapat

1987.Konsep Pembangunan Berkelanjutan dalam Pengelolaan DAS Daerah Aliran Sungai Terpadu adalah pendekatan yang menekankan pada upaya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya

Kebijakan lingkungan dibuat untuk mencegah kerusakan lingkungan dan menjaga keanekaragaman hayati melalui pengendalian pencemaran dan pengelolaan pemanfaatan sumber daya alam yang

Dengan memahami konsep dasar pembuatan video dan poster iklan produk menggunakan Canva, diharapkan pembaca makalah ini dapat mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam strategi