TEORI KOMUNIKASI
OLEH:
AGHNA ELFIANA DALIMUNTHE
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2023
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami sampaikan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan saya nikmat sehat dan nikmat kesempatan, sehingga dapat menyelesaikan makalah ini sebagai hasil tugas tentang “Teori-teori Komunikasi” sebagai kepentingan perkuliahan Teori Komunikasi dan Pengolahan Informasi Pendidikan di Pascasarjana Universitas Negeri Medan yang diampu oleh ibu Prof. Dr. Dina Ampera, M.Pd.
Makalah ini disusun berdasarkan beberapa sumber referensi yang relevan. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. Dina Ampera, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Teori Komunikasi dan Pengolahan Informasi Pendidikan yang telah memberikan arahan kepada saya dalam pembuatan makalah ini.
Kata maaf saya sampaikan apabila dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi penyusunan maupun tata bahasa yang digunakan. Semoga dengan adanya makalah ini saya dan para pembaca, khususnya Mahasiswa Program Studi Teknologi Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Medan dapat mengetahui berbagai teori belajar yang nanti akan diaplikasikan dalam proses pembelajaran agar mencapai tujuan yang diinginkan. Disamping itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kebaikan kita semua.
Medan, 18 September 2023
Aghna Elfiana Dalimunthe
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada hakikatnya komunikasi adalah terjadinya proses sosial antara manusia dengan manusia yang lain. Dengan berkomunikasi maka terjadilah perubahan perilaku yang semula tidak tahu menjadi tahu, dan yang tidak paham menjadi faham.
Begitupun dengan upaya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam konteks kualitas pendidikan yang saat ini sedang diperbincangkan merupakan suatu harapan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Kegiatan belajar mengajar antara pendidik dan peserta didik merupakan wujud dari bagaimana proses pendidikan secara langsung dalam sebuah satuan pendidikan. Dengan terciptanya kualitas dalam proses belajar mengajar, maka akan berpengaruh dengan terciptanya kualitas pendidikan yang menghasilkan sumber daya manusia . Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar membutuhkan sarana komunikasi agar apa yang disampaikan dalam pembelajaran bisa tercerna dan mampu dipahami.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka muncul rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan teori?
2. Apa yang dimaksud dengan teori belajar?
3. Apa macam-macam teori komunikasi?
1.3. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengertian teori.
2. Untuk mengetahui pengertian teori komunikasi.
3. Untuk mengetahui macam-macam teori komunikasi.
1.4 Manfaat Pembahasan
Pembahasan makalah ini bermanfaat secara teoritis dan praktis. Bagi mahasiswa pascasarjana, secara teoritis pembahasan ini bermanfaat menambah wawasan mengenai Teori Komunikasi.
Secara praktis pembahasan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penyelenggara pendidikan seperti guru atau dosen, karena akan mendorong untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan suatu proses pembelajaran bagi siswa.
Dengan cara mendesain, menerapkan dan mengevaluasi secara sistematis serta memanfaatkan segala sumber baik yang bersifat manusia maupun non-manusia. Teori komunikasi memberikan pandangan bagi guru sebagai agen perubahan demi terciptanya pendidikan yang berkualitas dan menghasilkan output atau siswa yang berkompeten dan berkarakter.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Teori Komunikasi
Menurut pendapat Emory Cooper (dalam Umar, 2004:50), mengatakan “Teori adalah suatu kumpulan konsep, definisi, proposisi, dan variabel yang berkaitan satu sama lain secara sistematis dan telah digeneralisasi sehingga dapat menjelaskan dan memprediksi suatu fenomena (fakta-fakta) tertentu”. Menurut Siswoyo (dalam Mardalis, 2003:42), bahwa “Teori adalah sebagai seperangkat konsep dan definisi yang saling berhubungan yang mencerminkan suatu pandangan sistematik mengenai fenomena dengan menerangkan hubungan antar variabel, dengan tujuan untuk menerangkan dan meramalkan fenomena”.Menurut Hoy & Miskel (dalam Sugiyono, 2010:55), “Teori adalah seperangkat konsep, asumsi, dan generalisasi yang dapat digunakan untuk mengungkapkan dan menjelaskan perilaku dalam berbagai organisasi”.Berdasarkan pendapat ahli di atas, jadi penulis menyimpulkan bahwa teori adalah seperangkat asas tentang kejadian-kejadian yang didalamnya memuat ide, konsep, prosedur dan prinsip yang dapat dipelajari, dianalisis dan diuji kebenarannya.
Secara umum, teori komunikasi ini dapat diartikan sebagai bentuk pandangan serta strategi yang bermanfaat membentuk kerangka kerja dan digunakan sebagai alat pendorong kegiatan yang hendak dilakukan. Dalam proses komunikasi, teori ini memegang peranan sebagai pembina yang memiliki fungsi untuk membentuk dan merangkai kaidah komunikasi.
Ada beberapa pengertian teori komunikasi menurut beberapa ahli, seperti berikut.
Teori komunikasi merupakan salah satu teori dari gabungan pemikiran kolektif dan diperoleh dari kesatuan sumbernya dengan memusatkan topik berupa proses komunikasi. (Little John)
Teori komunikasi merupakan teori ikatan antara konsep teoritik dengan kesanggupan untuk membeli keseluruhan maupun beberapa bagian, penjelasan, informasi, penilaian, penerangan maupun tebakan pada perilaku tindakan manusia berdasarkan orang yang berkomunikasi.Tindakan tersebut dapat dimanfaatkan untuk jangka waktu tertentu dengan perantara. (Cragan dan Shields)
Teori komunikasi merupakan salah satu kata maupun istilah yang memiliki arti timbal balik untuk seluruh pembicaraan maupun komunikasi dengan penelitian
dan dapat dilaksanakan dengan hati-hati, terstruktur, dan sadar tentang komunikasi. (Borman)
2.2.1. Komunikasi sebagai ilmu
Kajian tentang teori komunikasi sangat menarik untuk dibahas dan di kaji secara mendalam, karena kajian dan teori komunikasi tergolong relative baru dalam ilmu komunikasi sebagai ilmu pengetahuan, yakni sekitar abad ke-20 sejak dikenalkanya ilmu pers oleh Max Waber, sehingga objek material yang menjadi kajian teori komunikasi dalam ilmu komunikasi tersebut masih terus diteliti dan dikembangkan oleh para ahli.
Hingga saat ini perkembangan teori komunikasi semakin pesat selaras dengan perkembangan peradaban manusia. Teori komunikasi menjadi sebuah kebutuhan terutama untuk mengatasi problematika hubungan manusia dalam kehidupanya.
Manusia harus mampu memperbaiki komunikasinya dengan menerapkan teori komunikasi yang cocok untuk mendekati dan menyelesaikan permasalahan tersebut.
Dengan asal berkomunikasi saja tanpa menggunakan teori komunikasi yang tepat, maka akan sulit memecahkan persoalan dari proses komunikasinya.
Pada dasarnya teori komunikasi mengajarkan kepada manusia bagaimana cara bertindak dan berperilaku sesuai dengan norma norma kebudayaan melalui teknik teknik pengemasan pesan secara persuasive sesuai dengan teori komunikasi yang tepat. Teori komunikasi yang tepat yang mampu menggugah “emosi khalayak” akan membangunka kualitas hubungan antar manusia yang semakin baik.
Proses komunikasi yang terjadi dalam perilaku kehidupan manusia, baik komunikasi dalam diri manusia (interpersonal communication), komunikasi antarpribadi (intrapersonal communication), komunikasi kelompok (group communication), komunikasi organisasi (organicational communication), komunikasi massa (mass communication) dan bentuk komunikasi lainya.dari semu tipe komunikasi yang masing masing mempunyai banyak macam teori komunikasi.permasalahan hubungan antarmanusia yang terjadi dalam komunikasi organisasi dan cara penyelesainya dengan menggunakan bentuk komunikasi massa, maka di prediksikan oleh ilmuan komunikasi dan ilmuan social adalah hasilnya
kurang tepat. Dengan demikian, setiap manusia diperlukan dapat memahami bentuk bentuk teori komunikasi yang akan bermanfaat dalam aplikasi kehidupanya.
Dalam hubungan ini, teori komunikasi menjadi sangat penting dan srategis untuk disimak dan dipelajari secara lebih mendalam dan komprehensif khususnya bagi para peminat dan pemerhati masalah masalah komunikasi baik dari kalangan intelektual maupun masyarakat awam lainya. Untuk mempelajari teori komunikasi tentunya diperlukan referensi referensi buku yang mampu menambah wawasan dan pengetahuan tentang komunikasi.
2.2.2. Komunikasi sebagai ilmu multidispliner
Ilmu komunikasi merupakan ilmu social yang bersifat multidispliner.
Pendekatan yang digunakan untuk mempengaruhi peta ilmu komunikasi berasal dari berbagai ilmu seperti sosiologi, psikologi, politik, liguistik, antopologi dan lain sebagainya. Sifat multidispliner ini tidak dapat dihindari karena objek pengamatan dalam ilmu komunikasai ini sangat luas dan kompleks, menyangkut berbagai aspek social, budaya, ekonomi dan politik dari kehidupan manusia.
Berkaitan dengan pendekatan yang mempengaruhi perkembangan ilmu komunikasi, Lettlejohn dalam bukunya Theories of human communications, menyatakan bahwa secara umum terdapat tiga cara pandang ilmu dan kaitanya dengan objek pokok pengamatanya. Ketiga pendekatan itu adalah:
1. Pendekatan scientific (ilmiah-empiris)
2. Pendekatan humanistic
3. Pendekatan ilmu pengetahuan social (social sciences)
2.2.3. Tradisi dan prespektif komunikasi
Defenisi ataupun teori teori komunikasi sangatlah berbeda satu sama lain, hal ini sangat tergantung dengan perspektif dan melatar belakanginya. Ilmu komunikasi pada dasarnya menembus berbagai disiplin ilmu, sehingga berbagai pendekatan ilmiah dilakukan untuk mengungkapkan sesuatu yang bukan saja ditangkap oleh panca indra tetapi lebih dari itu berbagai analisis, definisi, pengertian, metode yang terbangun berhasil mendeskripsikan dlam berbagai prespektif.
Robert Craing menyebut adanya tujuh tradisi dalam kajian tori komunikasi yaitu:
semiotic, fenomenologi, cybernetic, psikologi, social, social budaya, kritis dan retorika. Akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Tradisi semiotic
Yaitu yang berkaitan tentang simbol simbol. Keberadaan simbol menjadi sangat penting dalam menjelaskan fenomena komunikasai. Simbol merupakan produk budaya suatu masyarakat untuk mengungkapkan ide ide, makna, dan nilai nilai yang ada pada diri mereka. Tradisi semiotika itu sendiri terbagi atas tig varian yaitu:
Semantic, Sintagmatic dan Paradigmatic. Yang menjadi dasar dari semiotika adalah konsep tentang tanda. Dan yang paling terkenal tentang teori tanda yaitu teori tanda dari Ferdinand de Saussure.
2. Tradisi fenomenologi
Inti dari tradisi fenomenologi ialah mengamati kehidupan dalam keseharian dalam suasana yang alamiah. Tradisi fenomenologi dapat menjelaskan tentang khalayak dalam berinteraksi dengan media.
3. Tradisi cybernetic
Tradisi ini berkaitan dengan proses pembuatan keputusan. Tradisi cybernetic berangkat dari teori system yang memandang terdapatnya hubungan yang saling menggantungkan dalam unsur atau komponen yang ada dalam system.
4. Psikologi social
Teori yang berangkat dari psikologi social ini juga dapat menjelaskan tentang proses proses yang berlangsung pada diri manusia dalam proses komunikasi yakni ketika proses membuat pesan dan proses memahami pesan.
5. Tradisi social budaya
Tradisi social budaya berangkat dari kajian antropologi. Bahwa komunikasi berlangsung dalam konteks budaya tertentu karenanya komunikasi dipengaruhi dari kebudayaan suatu masyarakat.
6. Tradisi kritis
Tradisi ini berangkat dari asumsi teori teori kritis yang yang memperhatikan terdapatnya kesenajaan didalam masyarakat. Proses komunikasi dilihat dari sudut kritis. Bahwa komunikasi
7. Tradisi retorika
Tradisi retorika memberi perhatian pada aspek pembuatan pesan atau simbol.
Prinsip utama disina adalah bagaimana menggunakan simbol yang tepat dalam menyampaikan maksud yang berkaitan dengan proses pembuatan pesan.
Seperangkat asumsi kerja sering disebut suatu “prespektif” atau “suatu pendekatan” atau “paradigama”. Sebagai ilmu yang multidisipliner, komunikasi tidak terlepas dari perspektif ilmu ilmu yang telah mapan yang lahir sebelumnya. Salah satunya adalah akar dan landasan ilmu yang berasal dari sosiologi. Berikut diuraikan perspektif ilmu komunikasi:
1. Perspektif teori evolusi
Perspektif teori komunikasi merupakan perspektif teorotis yang paling awal dalam sosiologi. Perspektif teori evolusi biasanya dihubungkan dengan konsep biologi yang memusatkan perhatianya pada perubahan perubahan jangka panjang. Perspektif teori evolusi ini merupakan perspektif yang popular meskipun bukan prespektif utama dalam perkembangan ilmu lomunikasi.
2. Perspektif teori structural fungsional
Perspektif teori structural fungsional dipandang sebagai perspektif teori yang sangat dominan. Dalam perkembangan sosiologi dewasa ini dan telah memberikan konstribusi sangat besar terhadap perkembangan teori komunikasi. Sering kali prespektif ini disamakan dalam teori system, teori ekuilibrium. Konsep yang penting dalam prespektif ini adalah struktur dan fungsi yang menunjuk kepada dua atau lebih bagian atau komponen yang berbeda dan terpisah tetapi berhubungan satu sama lain.
3. Prespektif teori konflik
Teori ini berakar dari pemikiran ahli sosiologi klasik Karl Max. dia memulainya dengan asumsi dasar yang sederhana, yaitu struktur dari masyarakat ditentukan organisasi ekonomi, terutama pada pemilikan barang produksi (ownership of poverty). Para ahli teori konflik masa kini melihat bahwa konflik merupakan fenomena yang senantiasa ada dalam kehidupan social sebagai hasilnya, masyarakat senantiasa berada dalam perubahan yang terus menerus.
4. Prespektif teori interaksionisme simbolik
Bagi prespektif interaksionalisme simbolik yang penting bagi sosiologi adalah memahami bagaimana individu mempengaruhi dan sebaliknya mempengaruhi juga dipengaruhi oleh masyarakat. Perspektif ini berasumsi bahwa masyarakat itu terdiri dari dari individu individu yang telah mengalami proses sosialisasi dan eksistensi serta strukturnya tampak dan terbentuk melalui interaksi social yang berlangsung diantara individu dalam masyarakat tersebut dalam tingkatan simbolik.
5. Prespektif teori pertukaran
Teori prespektif pertukaran pada dasarnya memiliki akar pemikiran yang berbeda dari perspektif yang lain, dimana perspektif ini bersuber dari pemikiran ekonomi, antropologi, psikologi maupun sosiologi. Perspektif ini berdasarkan pada anggapan bahwa kehidupan pada dasarnya adalah serangkaian pertukaran yang didalamnya terdapat keuntungan dan kerugian.
2.3. Macam-macam Teori Komunikasi
Terdapat berbagai teori komunikasi yang telah dikembangkan oleh para ahli dalam bidang komunikasi. Berikut ini adalah 10 teori komunikasi yang relevan dan berpengaruh:
2.3.1. Teori Jarum Hipodermik (Hypodermic Needle Theory)
Teori jarum hipodermik dikenal juga dengan Magic Bullet atau Stimulus Response Theory. Disebut sebagai jarum hipodermik karena teori ini dikesankan seakan-akan para audience bisa
ditundukkan dengan pemberian informasi sesuai dengan apa yang di kehendaki oleh media. Sebagaimana di ibaratkan obat yang di simpan, dan disebar ke dalam seluruh tubuh melalui jarum suntik.
Selain itu teori ini juga mengasumsikan bahwa media memiliki kekuatan yang perkasa, dan lebih pintar. Dibandingkan audience yang bersifat pasif atau tidak tahu apa-apa. Akibatnya, audience bisa dikelabui sedemikian rupa dari apa yang diberitakan oleh media. Oleh karena itu, untuk menghindari dampak negatif dari pemberitaan di media massa. Penting sekali bagi audience untuk selalu menyaring informasi yang diberitakan oleh media.
2.3.2. Teori Pengembangan (Cultivation Theory)
Teori kultivasi atau disebut dengan teori pengembangan pertama kali diperkenalkan oleh Profesor George Gerbner. Pada pertengahan tahun 1960 an, Ia memulai proyek penelitian mengenai
“Indikator Budaya”. Untuk mempelajari pengaruh nonton televisi terhadap kehidupan masyarakat.
Menurut teori kultivasi, televisi menjadi media atau alat utama di mana para penonton dapat belajar tentang masyarakat dan kultur lingkungannya. Persepsi apa yang terbangun di benak penonton sangat ditentukan oleh televisi. Ini artinya, melalui kontak penonton dengan televisi, seseorang dapat belajar tentang dunia, orang- orangnya, nilai-nilainya, serta adat kebiasaannya.
Berdasarkan pendapat para peneliti, televisi adalah pendongeng utama di dalam masyarakat masa kini. Dengan menonton televisi masyarakatmeraih berbagai informasi. Selain itu televisi juga menampilkan sebuah tayangan mainstream atau pandangan yang seragam mengenai dunia saat ini.
Sehingga bagi para pecandu berat televisi (heavy viewers) akan menganggap bahwa apa yang terjadi di televisi adalah dunia
senyatanya. Padahal sebenarnya hal tersebut belum tentu terjadi di dunia nyata. Dengan kata lain, penilaian, persepsi, dan opini penonton televisi, digiring sedemikian rupa agar sesuai dengan apa yang mereka lihat di televisi.
2.3.3. Teori Imperialisme Budaya (Cultural Imperialism Theory)
Teori imperialisme budaya pertama kali dikemukakan oleh Herb Schiller pada tahun 1973. Teori ini menyatakan bahwa negara barat mendominasi media di seluruh dunia. Alasannya, media barat mempunyai efek yang kuat untuk mempengaruhi media di negara-negara lainnya. Seperti negara-negara berkembang, yang cenderung sulit untuk memproduksi media massa seperti negara barat, karena berbagai keterbatasannya.
Selain itu teori ini juga berpandangan bahwa media dapat membantu memodernisasikan dengan memperkenalkan nilai-nilai barat yang dilakukan. Dengan mengorbankan nilai-nilai tradisional dan hilangnya keaslian budaya lokal. Nilai-nilai yang diperkenalkan itu adalah nilai kapitalisme. Nilai ini disengaja agar menempatkan negara yang sedang berkembang lebih kecil dibawah kepentingan kekuasaan kapitalis yang lebih mendominasi.
2.3.4. Teori Persamaan Media (Media Equation Theory)
Media Equation Theory atau teori persamaan media ini ingin menjawab persoalan mengapa orang-orang secara tidak sadar. Dan bahkan secara otomatis merespon apa yang dikomunikasikan media seolah-olah media itu juga manusia.
Teori ini memperhatikan bahwa media juga bisa diajak berbicara. Media bisa menjadi lawan bicara individu seperti dalam komunikasi interpersonal yang melibatkan dua orang dalam situasi face to face.
Misalnya, ketika kita sedang mencari informasi tentang pengolahan data dengan menggunakan komputer. Maka kita seakan berbicara secara langsung meminta informasi tersebut, seolah-olah komputer itu manusia. Kita juga menggunakan media lain untuk berkomunikasi. Bahkan kita berperilaku secara tidak sadar seolah-olah media itu manusia.
2.3.5. Teori Spiral Keheningan (Spiral Of Silence Theory)
Teori spiral keheningan yang diperkenalkan oleh Elizabeth Noelle Neumann ini menganggap bahwa suara minoritas sulit diterima oleh media. Sehingga menyebabkan kelompok minoritas ini harus menyembunyikan pendapat maupun pandangannya ketika berada dalam kelompok mayoritas.
Seseorang yang berpikir, bahwa mereka adalah orang minoritas akan menekan pandangannya. Namun daripada itu jika seseorang mempunyai pendirian yang sangat kuat. Maka orang tersebut tidak akan mudah mengikuti opini mayoritas.
Sebagai contoh jika opini menyangkut kepecayaan. Seorang muslim percaya daging babi itu haram, dan dia percaya betul hal itu. Tentu dia akan menolak dengan sangat tegas jika ada opini yang mengatakan bahwa daging babi halal untuk muslim.
2.3.6. Teori Determinisme Teknologi (Technological Determinism Theory) Teori determinisme teknologi ini dikemukakan oleh Marshall McLuhan pada tahun 1962. Ide dasar teori ini adalah bahwa perubahan yang terjadi pada berbagai macam cara berkomunikasi akan membentuk pula keberadaan manusia itu sendiri.
Teknologi membentuk individu bagaimana cara berpikir, berprilaku dalam masyarakat. Sehingga teknologi tersebut pada akhirnya mengarahkan manusia untuk bergerak lebih maju.
2.3.7. Teori Difusi Inovasi (Diffusion Of Innovation Theory)
Munculnya Teori Difusi Inovasi dimulai pada tahun 1903 oleh seorang sosiolog asal perancis, Gabriel Tarde. Menurut teori ini sesuatu yang baru akan menimbulkan keingintahuan masyarakat untuk mengetahuinya. seseorang yang menemukan hal baru cenderung mensosialisasikan dan menyebarkannya. Jadi teori ini menitikberatkan bahwa manusia ketika menemukan hal baru, cenderung akan membagikan informasi tersebut kepada orang lain melalui media massa.
2.3.8. Teori Penggunaan Dan Kepuasan (Uses And Gratification Theory)
Teori penggunaan dan kepuasan ini digagas oleh Hebert Blumer, Elihu Katz, dan Michael Gurevitch. Teori ini merupakan kebalikan dari teori jarum hipodermik.
Dalam teori jarum hipodermik, media sangat aktif dan berpengaruh besar. Sementara audience berada di pihak yang pasif. Sementara dalam teori ini ditekankan bahwa audience aktif untuk menentukan media mana yang harus dipilih untuk memuaskan kebutuhannya.
2.3.9. Teori Pengaturan Agenda (Agenda Setting Theory)
Teori pengaturan agenda menciptakan public awareness (kesadaran masyarakat) dengan menekankan sebuah isu yang dianggap paling penting untuk dilihat, didengar, dibaca, dan dipercaya di media massa. Tokoh yang merumuskan teori ini adalah Bernard Cohen, Maxwell McCombs, dan Donald Shaw.
Teori ini didasari oleh asumsi para peneliti. Yaitu bahwa pers dan media tidak merefleksikan kenyataan yang sebenarnya kepada publik. Dan media lebih mengajak membahas suatu isu tersebut, dibandingkan membahas isu-isu yang lainnya.
2.3.10. Teori Media Kritis (Media Critical Theory)
Teori Media Kritis berasal dari aliran ilmu-ilmu kritis yang bersumber pada ilmu sosial Marxis. Teori ini melihat bahwa media tidak lepas kepentingan, terutama sarat kepentingan kaum pemilik modal, negara atau kelompok yang lebih kuat lainnya. Dalam artian ini, media menjadi alat dominasi masyarakat.
Selanjutnya, teori kritis melihat bahwa media adalah pembentuk kesadaran.
Representasi yang dilakukan oleh media dalam sebuah struktur masyarakat lebih dipahami sebagai media yang mampu memberikan konteks pengaruh kesadaran (manufactured consent). Ini sebabnya media dijadikan sebagai agen sosial yang dapat mempengaruhi masyarakat secara luas.
BAB 3 PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Jadi kesimpulan pada makalah ini adalah pada dasarnya teori komunikasi itu sangat penting bagi kehidupan manusia, komunikasi tanpa didasari dengan teori komunikasi yang benar akan menambah bingung, Karena pesan yang disampaikan dari komunikator tidak sinkron dengan realita Karena tidak ada kaidah dan teori dalam penyampaian pesan, dan akan membuat bingung ataupun salah pemahaman bagi komunikan. Dan pada dasarnya dalam teori komunikasi ini mencangkup banyak hal yang terkandung didalamnya. Jadi tidak mudah mempelajari dan memahami pelajaran ini tanpa buku dan referensi yang akurat. Dari konteks, tradisi dan perspektif komunikasi dan teori komunikasi, semuanya memiliki teori teori tersendiri, sehingga kita tidak boleh asal mempelajarinya.
3.2. Saran
Dengan memahami berbagai teori komunikasi, kita menjadi lebih mudah menyampaikan dan memahami pesan-pesan yang ingin disampaikan sehingga terciptanya interaksi dan pertukaran informasi yang baik.
Daftar Pustaka
Umar, Husein. 2004. Metode Riset Ilmu Administrasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Mardalis, 2003. Metode Penelitian Kualitatif (Suatu Pendekatan Proposal). Jakarta : Bumi
Aksara.
Sugiyono Prof, Dr. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Cv. Alfa Beta.
Rohim, Syaiful. 2009. Teori Komunikasi (Prespektif, Ragam & Aplikasi). Jakarta : Rineka Cipta.
Morissan. 2013. Teori Komunikasi (Individu hingga massa). Jakarta : Kharisma Putra Utama.
Ardianto Elvinaro & Q-Anees Bambang. 2011. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung : Simbiosa Rekatama Media.
Nofita Putri, Harmada. 2021.“10 Teori Komunikasi Massa Menurut Para Ahli”.
https://vocasia.id/blog/teori-komunikasi-massa-menurut-para-ahli/