• Tidak ada hasil yang ditemukan

malik proposal 13

N/A
N/A
Muhamad Ghulamun Halim

Academic year: 2025

Membagikan "malik proposal 13"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

METODE KOMUNIKASI ARBAIN DALAM MEMBANTU MEMAHAMI DAN MEMBACA KITAB KUNING DI PONDOK ULUL ALBAB CUKIR DIWEK JOMBANG

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan kepada Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Agama Islam Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang untuk Memenuhi

Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial (S.Sos.)

Oleh:

Ahmad Abdul Malik NIM: 2092034023

Dosen Pembimbing:

Sayidah Afyatul Masruroh, M.Pd.I.

UHA.01.0684

UNIVERSITAS HASYIM ASY’ARI FAKULTAS AGAMA ISLAM

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM TEBUIRENG JOMBANG

SEPTEMBER 2024

(2)

i

SURAT KETERANGAN PERSETUJUAN PROPOSAL

Yang bertanda tangan di bawah ini, menerangkan bahwa proposal skripsi:

Nama : Ahmad Abdul Malik NIM : 2092034023

Program Prodi : Komunikasi Penyiaran Islam

Judul : Metode Komunikasi Arbain Dalam Membantu Memahami dan Membaca Kitab Kuning di Pondok Ulul Albab Cukir Diwek Jombang

Yang telah diperiksa, disetujui, dan layak untuk di ujikan pada proposal seminar skripsi.

Demikian surat keterangan ini dibuat agar digunakan sebagaimana mestinya.

Jombang, 20 Oktober 2024 Pembimbing

Sayidah Afyatul Masruroh, M.Pd.I.

UHA.01.0684

(3)

ii DAFTAR ISI

SURAT KETERANGAN PERSETUJUAN PROPOSAL ... i

DAFTAR ISI ... ii

A. Konteks Penelitian ... 1

B. Fokus Penelitian ... 5

C. Tujuan Penelitian... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Definisi Istilah ... 6

F. Tinjauan Pustaka ... 8

1. Kajian Pustaka ... 8

2. Kajian Teoritik ... 15

G. Metode Penelitian... 19

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 19

2. Subyek dan Objek Penelitian ... 19

3. Jenis dan Sumber Data ... 20

4. Tahapan Penelitian ... 21

5. Teknik Pengumpulan Data ... 23

6. Teknik Analisis Data ... 24

7. Teknik Keabsahan Data ... 25

H. Sistematika Pembahasan ... 27

I. Jadwal Penelitian ... 28

J. Daftar Pustaka ... 29

(4)

1

Metode Komunikasi Arbain Dalam Membantu Memahami Dan Membaca Kitab Kuning Di Pondok Ulul Albab Cukir Diwek Jombang

A. Konteks Penelitian

Pondok Ulul Albab merupakan salah satu pondok yang berada di desa cukir Kecamatan Diwek Jombang, pondok ini menerapkan sistem metode pembelajaran menghafal al-Qur’an dan membaca Kitab kuning secara praktis agar memudahkan para santri. Dengan ketekunan pengasuh dan para pengajar dalam mendidik santri telah terbukti banyak santri yang lulusan Pondok Ulul Albab ini menjadi seorang penghafal al-Qur”an dan mahir membaca kitab kuning.

Pondok Ulul Albab, didirikan oleh Gus Mahbub Hasyim pada 2 Agustus 2020. Berawal dari adanya Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) yang ditempatkan di ruang tamu kediamannya, setelah itu keluarga berbincang mengenai keinginan untuk mendirikan sebuah pondok dan ketika itu namanya masih Riyadul Qur’an. Setelah di daftarkan ke notaris namanya berubah menjadi Pondok Ulul Albab karena kebijakan dari pihak notaris nama Riyadul Qur’an tidak bisak digunakan akhirnya nama Riyadul Qur’an tetap dipakai untuk TPQ saja.1

Di Pondok Ulul Albab Cukir Diwek Jombang, pengajaran dan pembelajaran kitab kuning telah menjadi bagian integral dari dakwah pendidikan Islam tradisional. Berbagai kitab kuning yang sudah menjadi karya tulis ulama klasik dalam Bahasa Arab itu memiliki nilai penting dalam pemahaman dan pembentukan identitas keagamaan para santri di Pondok Ulul Albab sendiri. Namun pemahaman dan penguasaan dalam isi kitab kuning sering kali menjadi tantangan bagi para santri, terutama yang memiliki latar belakang pendidikan yang beragam.

1 Hasil observasi awal tanggal 21 Agustus 2024 di Pondok Ulul Albab Cukir Diwek

Jombang

(5)

2

Upaya yang dilakukan oleh pengasuh Pondok Ulul Albab ini untuk memfasilitasi proses pembelajaran kitab kuning dengan cara merubah metode Amtsilati menjadi metode Arbain yang mana metode ini dikembangkan oleh KH. Muharror Khudlori. Metode ini dianggap memiliki keunggulan dalam mempercepat pemahaman dan penguasaan isi kitab kuning, serta meningkatkan kemampuan membaca dalam bahasa Arab.

Metode Arbain telah merancang pendekatan yang sistematis dan terstruktur, ketika kitab kuning ini diperkenalkan kepada santri dengan metode ini pengajar akan lebih fokus kepada interaksi antara pengajar itu sendiri dengan santri. Meskipun metode Arbain telah diterapkan di Pondok Ulul Albab, belum ada penelitian yang mendalam tentang efektivitasnya dalam membantu memahami dan membaca kitab kuning di lembaga pendidikan ini.

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis mendalam terhadap metode komunikasi Arbain dalam konteks Pondok Ulul Albab Cukir Diwek Jombang. Dengan menganalisis bagaimana metode ini diimplementasikan dan dirasakan oleh para santri serta pengajar, dari analisis tersebut kita dapat mengevaluasi manfaat yang didapat dalam mencapai tujuan yang diinginkan.

Adapun Interaksi yang dilakukan oleh pengasuh dan para pengurus yaitu menggunakan metode komunikasi. Metode komunikasi memiliki arti suatu kerangka kerja untuk melakukan tindakan atau suatu kerangka berfikir Menyusun sebuah gagasan yang relevan dengan maksud dan tujuan.2 Melalui metode komunikasi dapat mempermudah pengasuh dan para pengurus untuk berinteraksi dengan santai dan tanpa membuat para santri merasa canggung.

Metode komunikasi juga mempermudah membina mereka dengan mengajarkan nilai-nilai keislaman kepada santri-santri yang ada di pondok.

2Agung Erwansyah dan Sukma Nur Prasetyo, “Metode Komunikasi”, Scribd, (makalah online), 2, (https://www.scribd.com/doc/73631940/Metode-Komunikasi, diakses pada tanggal 2 Agustus 2024).

(6)

3

Metode pengajaran yang digunakan di Pondok Ulul Albab agar mempermudah para santri membaca kitab kuning adalah metode Kitab Arbain.

Metode ini merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran Ilmu Nahwu (gramatika Bahasa Arab) yang berasal dari Demak Jawa Tengah.

Metode yang digunakan di kitab Arbain melibatkan terjadinya interaksi antara pengajar dengan para santri. Apabila dikaitkan dengan kajian ilmu komunikasi, interaksi ini dapat di kategorikan sebagai metode komunikasi yang unik. Cara-cara yang terkadung di kitab Arbain mampu mempengaruhi para santri serta memberikan dampak positif pada mental dan spiritual santri, secara tidak langsung santri merasakan kemudahan dalam membaca kitab kuning. Selain itu, metode komunikasi Arbain ini secara perlahan membantu meningkatkan semangat santri untuk selalu memperdalam nilai-nilai Islam yang ada di kitab kuning.

Adapun urgensi penelitian ini dapat dilihat dari beberapa perspektif yaitu untuk meningkatan pengembangan keilmuan menggunakan metode komunikasi Arbain sehingga pengasuh dan pengurus mudah dalam membina serta mendidik para santri dengan memberikan beberapa cara yang sudah diterapkan dalam Kitab Arbain.

Pondok Pesantren sebagai lembaga dakwah mengajarkan ilmu agama dengan tujuan untuk mengajarkan nilai-nilai Islam serta membentuk karakter dan keimanan santri. Pondok Ulul Albab sebagai lembaga dakwah Islam yang berfokus untuk mengajarkan cara membaca kitab kuning kini memiliki tantangan baru bagaimana cara mempermudah dan mempercepat membaca kitab kuning. Keadaan tersebut mengharuskan pengasuh dan para pengajar untuk mencari cara dalam proses pembelajaran, pembinaan, dan pendampingan agar santri dapat mudah dalam belajar. Dari website Direktorat Jenderal Pendidikan, Presiden Jokowi menegaskan bawasannya pondok pesantren sebagai penentu keberhasilan cita-cita bangsa Indonesia.3 Keberhasilan

3 Direktorat Jenderal Pendidikan, “Presiden Jokowi Tegaskan Pondok Pesantren Penentu Keberhasilan Cita-Cita Bangsa (Ahad, 22 Oktober 2023Pukul 08:46 WIB), (berita online),

(7)

4

pembelajaran metode komunikasi Arbain memiliki keberhasilan yang signifikan dalam pembelajaran nahwu shorof santri menjadi mudah lebih paham dan menghafal nahwu shorof, santri lebih cepat praktek membaca kitab kuning dan membedahnya.

Saat ini, Sudah Banyak Berkembang Strategi Metode Komunikasi agar memudahkan antara Pengasuh dan Santri dalam membantu memahami kitab kuning sebagai indetitas Pesantren, diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Faris Abdiansyah yang berjudul “Implementasi Metode Arba’in dalam Pembelajaran Kitab kuning di Pondok Pesantren Subhanah Subah” Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Faris bahwa Implementasi Arbain memiliki beberapa tahapan dalam penerapannya yaitu dalam menghafal materi, deteksi kalimat/tarkib dan memaknai.4

Penelitian yang kedua dibuat oleh Tamara Diina Al-Hakim yang berjudu“Implementasi pembelajaran membaca al-Qur’an melalui Metode Arbain di Madin Al-Hikam Malang” Hasil dari penelitian yang dilakukan Tamara ada beberapa bagan yang digunakan dalam perencanaan pembelajaran dalam membaca al-Qur’an menggunakan metode Arbain di Madin Al-Hikam yaitu menyusun rancangan pelaksanaan pembelajaran dan placement test atau penempatan ustadz/ustadazh. Pelaksanaan pembelajaran dalam membaca al- Qur’an menggunakan metode ini juga ada beberapa hal yang disiapkan yaitu pelaksanaan pembelaaran, pengelolaan kelas, serta penggunaan media pembelajaran.5

Penelitian yang ketiga oleh Kori Ermawati yang berjudul Metode Arbain dalam pembelajaran Cara Cepat Membaca Kitab Pondok Pesantren Walyathalaththaf Darussalam Petanahan. Hasil dari penelitian ini yaitu metode

(https://pendis.kemenag.go.id/read/presiden-jokowi-tegaskan-pondok-pesantren-penentu- keberhasilan-cita-cita-bangsa, diakses 3 juli 2024).

4 Abdiansyah, “Implementasi Metode Arba’in Dalam Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Subhanah Subah Skripsi.” ( Pekalongan: Universitas Islam Negeri K.H Abdurrahman Wahid: 2023) Hal viii

5 Al-Hakim, “Implementasi Pembelajaran Membaca Al-Qur’an Melalui Metode Arbain Di

Madin Al-Hikam Malang.” (Malang:Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim:2024) Hal xvi

(8)

5

arbain merupakan salah satu faktor penting yang berperan dalam keberhasilan dalam meningkatkan membaca kitab kuning, baik dalam memba kitab kuning maupun al-Qur’an. Persamaan dalam penelitian ini yaitu sama membahas mengenai metode arba’in dalam membaca kitab.6

Dari beberapa hasil riset tersebut berbeda dengan topik yang akan dibahas oleh peneliti. Peneliti lebih memfokuskan kepada implementasi metode komunikasi Arbain dan faktor pendukung/penghambat implementasi metode komunikasi Arbain.

Dari konteks penelitian di atas, peneliti merasa tertarik dan merasa penting untuk mengkaji ini kemudian peneliti mengakat sebuah judul “Metode Komunikasi Arbain Dalam Membantu Mehami dan Membaca Kitab Kuning di Pondok Ulul Albab Cukir Diwek Jombang”.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan uraian informasi pada konteks penelitian di atas maka peneliti akan membatasi pembahasan dengan fokus penelitian, sebagai berikut:

1. Bagaimana implementasi metode komunikasi Arbain dalam membantu memahami membaca kitab kuning di Pondok Ulul Albab Cukir Diwek Jombang?

2. Apa saja faktor pendukung dan penghambat implementasi metode komunikasi Arbain dalam memahami dan membaca kitab kuning di Pondok Ulul Albab?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian fokus masalah di atas maka dapat dituliskan tujuan penelitian, sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsikan implementasi metode komunikasi Arbain dalam membantu memahami dan membaca kitab kuning di Pondok Ulul Albab Cukir Diwek Jombang

6 Ernawati, Najitama, and Maesaroh, “Metode Arba’in Dalam Pembelajaran Cara Cepat

Membaca Kitab Di Pondok Pesantren Walyathalaththaf Darussalam Petanahan.” Tarbi:Jurnal Ilmiah Mahasiswa, Vol 2 Tahun 2023 hlm 179

(9)

6

2. Untuk mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi metode komunikasi Arbain dalam memahami dan membaca kitab kuning di Pondok Ulul Albab Cukir Diwek Jombang

D. Manfaat Penelitian

Dalam bagian ini menjelaskan secara tegas untuk apa penelitian dilakukan, baik secara teoritik maupun praktis. Secara umum manfaat penelitian akan memberikan kontribusi, sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

a. Untuk memberikan ilmu pengetahuan dam informasi mengenai metode Arbain dalam memahami dan membaca kitab kuning.

b. Dapat digunakan sebagai kerangka acuan untuk penelitian berikutnya yang sejenis dengan variabel yang sama ataupun berbeda.

c. Temuan penelitian ini dapat menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut yang sama atau terkait. Kontribusi penelitian ini bisa menjadi tambahan pemahaman tentang metode komunikasi, khususnya dalam ilmu komunikasi di Jurusan/Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Pengelola Pondok, dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk mengukur metode pembelajaran santri.

b. Bagi Pengajar Kitab Kuning, untuk penunjang bagi para santri dalam mengasah kemampuan nahwu shorof.

c. Bagi pembaca, penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi atau acuan pada penelitian serupa lainnya.

E. Definisi Istilah

Pada bagian ini, peneliti akan memberikan penjelasan mengenai beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian, supaya pembaca dan peneliti sepemahaman dalam memaknai. Bagian ini juga memberikan keterangan rinci pada beberapa kata kunci saja yang akan diuraikan dari judul skripsi.

(10)

7 1. Metode Arbain

Metode Arbain adalah salah satu metode cepat membaca kitab kuning yang dikembangkan oleh KH. Muharror Khudlori dari Demak, Jawa Tengah. Metode ini dikenal juga dengan nama "Nahwu Shorof Arbain" atau "Kitab Arbain". Metode Nahwu Arbain ini menggunakan pendekatan yang sistematis dan terstruktur untuk memudahkan pemahaman dan penguasaan tata bahasa yang mudah, terutama dalam memahami kaidah-kaidah dasar dalam struktur Nahwu Shorof.

Metode Arbain bisa di kaji dengan waktu cukup 40 hari sesuai nama dari kitab tersebut Arbain yang bermakna 40. Kitab ini sangat istimewa serta mudah dipahami. Keunggulan dari Metode Arbain yaitu kandungan materi didalamnya merupakan rangkuman dari kitab-kitab nahwu shorof seperti Jurumiah, Alfiyah, Amsilah Tashrifiyah dan kitab-kitab lainnya yang sudah di jelaskan secara singkat dan terang didalamnya. Penjelasan yang tertera dalam kitab ini dibungkus dalam bagan yang menyerupai mind mapping. Pada bagian definisi dituliskan dengan Pegon berbahasa Indonesia yang memungkinkan semua santri dari Sabang hingga Merauke dapat memahaminya sesuai dengan Metode yang sudah diterapkan yaitu 40 hari belajar Nahwu Shorof.7

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan metode komunikasi Arbain adalah cara berkomunikasi ustadz dan santri dalam mempelajari nahwu shorof dengan waktu yang relatif singkat menggunakan kitab Arbain untuk membantu memahami dan membaca kitab kuning.

2. Kitab Kuning

Kitab kuning sering sekali disebut dengan kitab klasik, kitab-kitab ini merujuk pada karya tradisional para ulama dengan gaya kepenulisan bahasa arab yang berbeda dengan buku moderen. Ada juga yang mengartikan kitab kuning ditulis diatas kertas berwarna kuning. Menurut Martin Van Bruinessen kitab kuning yaitu kitab kasik yang ditulis berabad-

7 Ponpes Al Ghazali Cirebon, “ Perkenalan dengan Metode Arbain, (Berita Online), (https://www.alghozali.ponpes.id/berkenalan-dengan-metode-arbain/, diakses 3 juli 2024).

(11)

8

abad yang lalu, buku ini didefinisikan dengan buku-buku berhuruf arab yang diwariskan para ulama dan di pelajari dilingkungan pondok pesantren.8

Sedangkan yang di maksud kitab kuning dalam peneliti ini adalah seperti Kitab Al-Ajurumiyah, Amtsilah At-Tashrifiyah, Mushtholah Al- Hadits, Aqidatul Awam dan kitab lain. Yang di pelajari di Pondok Ulul Albab Cukir Diwek Jombang

F. Tinjauan Pustaka 1. Kajian Pustaka

a. Metode Komunikasi

Metode Komunikasi merupakan sebuah cara yang digunakan untuk menciptakan proses komunikasi metode komunikasi juga di kenal sebagai tehnik komunikasi, yaitu cara yang digunakan dalam menyampaikan informasi dari kominaktor ke komunikan dengan media tertentu. Dengan adanya tehnik ini diharapkan dapat memberikan kemudahan seseorang secara efektif melakukan komunikasi.9 Menurut effendy metode komunikasi terdiri dari komunikasi informative yaitu sebuah pesan untuk diinformasikan kepada sejumlah orang tentang sesuatu hal baru untuk mereka ketahui. Komunikasi persuasive merupakan kesadaran sesorang untuk melakukan suatu kegiatan dalam bentuk ajakan orang lain.

Komunikasi instruktif yaitu komunikasi yang disampaikan kepada orang lain dengan mengandung unsur paksaan atau ancaman, agar mereka merasa takut akan akibatnya.10

Metode Komunikasi Arbain merupakan metode komunikasi yang menjelaskan ilmu nahwu dan shorof (tata bahasa Arab) dengan

8 (Barizi, 2011) Ahmad Barizi “Pendidikan Integratif Akar Tradisi dan Integratif Keilmuan Pendidikan Islam” (Malang: UIN Maliki Press: 2011) Hal 62

9 Butsi, “Memahami Pendekatan Positivis, Kontruktivitas Dalam Metode Penelitian Komunikasi.” Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Communique Vol. 2 No.1 September 2019

10 Wisman, “KOMUNIKASI EFEKTIF DALAM DUNIA PENDIDIKAN.” Jurnal Nomosleca No. 2 Vol. 3 2017 Hlm 648

(12)

9

menggunakan bahasa yang sangat mudah. Metode Arbain merupakan karya ulama lokal, Kiyai Muharror Demak, yang memiliki pemahaman mendalam terhadap tata bahasa Arab dan keislaman. Metode komunikasi arbain menjadi bagian dari tradisi pesantren yang mengutamakan pendalaman ilmu agama, termasuk ilmu nahwu dan shorof. Pondok Pesantren seringkali mendapatkan kesulitan untuk menerapkan metode pembelajaran yang cocok untuk memudahkan para santri membaca kitab kuning oleh karena itu Metode komunikasi arbain dapat dijadikan sebagai alternatif metode pembelajaran yang efektif dalam mempelajari tata bahasa Arab.

Dengan penjelasan yang terstruktur sangat mudah dipahami dan metode ini dapat membantu para santri dalam memahami konsep- konsep lebih baik. Metode komunikasi arbain karangan Kiyai Muharror Demak memberikan kontribusi yang berharga dalam pendalaman ilmu nahwu dan shorof, serta memperkaya tradisi keilmuan pesantren dengan memberikan kemudahan dan kecepatan dalam membaca kitab kuning.

Jadi kesimpulan di atas metode komunikasi arbain merupakan metode nahwu shorof yang dikarang menggunakan bahasa yang mudah, praktis dan cepat di pelajari bagi para kalangan santri, masyarakat, pengajar dan lain lain dalam memudahkan membaca kitab kuning.

b. Kitab Kuning Sebagai Identitas Pesantren

Kitab kuning, dengan kertas yang berwarna kuning sangat khas, ini telah menjadi sebuah simbol dan jantung identitas pesantren yang biasa di naungi oleh pondok pondok dalam naungan nahdatul ulama ( NU) selama bertahun – tahun dan berabad-abad.

Lebih dari sekadar buku, kitab kuning merepresentasikan tradisi intelektual, spiritual, dan sosial yang melekat erat dengan para santri.

(13)

10

Warisan Klasik para ulama terdahulu salah satunya kitab kuning, kitab ini merujuk pada kitab-kitab karya ulama ulama Islam terdahulu ditulis dalam bahasa Arab yang menjadi sumber utama ke ilmuan dan pembelajaran di pondok pesantren. Kitab-kitab kuning ini berisi berbagai ilmu pengetahuan, mulai dari tafsir al-Qur'an, hadits, fiqih, tasawuf, ilmu falak, nahwu shorof dan masih banyak lagi. 11 Sebelum ada buku-buku cetak ada yang namanya ilmu lisan, yang mana ilmu pengetahuan Islam ini diwariskan secara lisan dari guru ke murid. Kitab kuning menjadi jembatan penting untuk mencatat dan melestarikan ilmu tersebut, sehingga pengetahuan dapat diakses dan dipelajari secara lebih sistematis.

Selain ilmu pengetahuan ada juga yang namanya pembentukan karakter , kitab kuning juga memuat nilai-nilai moral dan spiritual yang membentuk karakter santri. Ajaran tentang akhlak mulia, toleransi, dan cinta kasih menjadi pondasi utama dalam pendidikan pondok pesantren. Kemudian Identitas dan Kebanggaan, kitab kuning menjadi simbol kebanggaan dan rujukan bagi santri di kalangan pondok pesantren. Kedekatan dengan kitab-kitab kuning dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab untuk melestarikan tradisi intelektual dan spiritual yang diwariskan oleh para ulama terdahulu.

Kitab kuning berperan sebagai Sumber Pengetahuan: Kitab kuning menjadi sumber utama pembelajaran di pondok pesantren, memberikan pondasi yang kuat bagi santri dalam memahami ajaran Islam. Pembentukan Karakter: Ajaran moral dan spiritual yang terkandung dalam kitab kuning membentuk karakter santri yang berakhlak mulia, toleran, dan bertanggung jawab. Identitas Pesantren: Kitab kuning menjadi simbol identitas sebuah pondok pesantren yang membedakannya dengan lembaga pendidikan lain.

11(Elshinta) “Kitab Kuning dan Tradisi Keilmuan Pesantren”. emenag.go.id/opini/kitab- kuning-dan-tradisi-keilmuan-pesantren-v5u53a (Diakses 15 September 2024)

(14)

11

Penghubung perkataan ulama dahulu dan Masa Kini: Kitab kuning menjadi jembatan penghubung antara ke ilmuan, sejarah, dan spiritual masa lalu dengan masa kini, kitab kuning juga sebagai rujukan sumber ke ilmuan santri untuk mempelajari agama islam.

Kitab kuning bukan hanya sekadar buku, tetapi merupakan warisan ke ilmuan ulama dan intelektual islam terdahulu ke ilmuan yang ada didalam kitab kuning seperti spiritual,social, hukum merupakan ciri khas yang melekat erat dengan pondok pesantren.

Kitab kuning menjadi sumber pengetahuandan, rujukan, pembentuk karakter, dan simbol identitas yang ada bagi para santri dan pondok pesantren.12

c. Pondok Pesantren Sebagai Lembaga Dakwah

Pondok pesantren merupakan sebuah Lembaga dakwah berbasis agama Islam, memiliki peran sangat penting sebagai benteng dakwah dan pelopor peradaban sejarah kemerdekaan indonesia. Sejak berabad-abad silam, pondok pesantren telah menjadi pusat penyebaran nilai-nilai Islam dan resolusi jihad untuk bangsa Indonesia melahirkan generasi penerus yang berakhlak mulia, dan berkontribusi dalam membangun peradaban bangsa.13

Menurut Hariyanto Al Fandi, Pondok pesantren sebagai salah satu lembaga Pendidikan dakwah yang ada dalam masyarakat mempunyai peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan pesantren tidak saja memberikan pengetahuan dan keterampilan teknis tetapi yang jauh lebih penting adalah menanamkan nilai-nilai moral dan agama. Seiring dengan perkembangan zaman maka pesantren dituntut tidak hanya memberikan pendidikan agama saja, tetapi pesantren juga

12 (Elshinta) “ Kitab Kuning dan Tradisi Keilmuan Pesantren”...

13 https://baznas.go.id/news show/Peringati_Hari_Santri_Nasional_2022, Wapres _Ma%60ruf_Amin_Luncurkan_Beasiswa_Santri_BAZNAS_2022/1252 (diakses 15 September 2024)

(15)

12

diharapkan mampu berperan sebagai lembaga social.14 Adapun peran pondok sebagai Lembaga dakwah sangat krusial terhadap masyarakat dalam pembetukan karakter baik yang berpedoman pada al-Qur an dan sunnah, serta pengembangan pembelajaran yang dapat berpikir kritis bertanggung jawab dan siap menghadapi tantangan zaman bedasarkan nilai- nilai islami.15

Kesimpulan bedasarkan artikel di atas pondok pesantren merupakan Lembaga dakwah yang mengajak masyarakat dalam kebaikan dan sebagai tempat untuk pembentukan karakter baik dengan berpedoman pada al-Quran dan sunnah

d. Interaksionalisme Simbolik Dalam Komunikasi

Interaksionisme simbolik merupakan sebuah komunikasi yang mengacu pada teori yang menekankan pentingnya simbol- simbol. Simbol-simbol adalah Bahasa manusia yang di gunakan untuk memberikan makna individu kepada orang disekitarnya dalam proses interaksi social. Teori ini menekankan bahwa manusia berinteraksi dengan lingkungan sosialnya berdasarkan makna yang mereka berikan pada simbol-simbol. Berikut adalah penjelasan lebih rinci mengenai interaksionisme simbolik dalam komunikasi.

Makna Interaksionisme simbolik menekankan bahwa manusia memberikan makna pada objek, peristiwa, dan situasi berdasarkan simbol-simbol yang digunakan. Dalam konteks komunikasi, individu memberikan interpretasi pada pesan yang diterima berdasarkan makna subjektif yang mereka berikan pada simbol-simbol yang terkandung dalam pesan tersebut. Proses Interaksi teori interaksionisme simbolik menyoroti bahwa proses interaksi sosial terjadi melalui pertukaran simbol-simbol yang

14 Mujahidin, “Peran Pondok Pesantren Sebagai Lembaga Pengembangan Dakwah.”

Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam No 1 Vol. 1 2021

15 Barella, Ondeng, and Saprin, “Peranan Majelis Taklim Dan Lembaga Dakwah Dalam Pengembangan Pendidikan Islam: Sebuah Analisis Fungsional.” Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran Vol.7 No.2 2024 Hlm 4873

(16)

13

memiliki makna. Pada komunikasi individu saling berinteraksi menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan pesan dan memahami pesan yang diterima. Selanjutnya yaitu konstruksi realitas social, konstruksi ini melalui interaksionisme simbolik, individu secara aktif terlibat dalam konstruksi realitas sosialnya.

Mereka membentuk pemahaman bersama tentang realitas sosial dari interpretasi simbol-simbol yang digunakan dalam proses komunikasi.

Kesimpulannya dengan demikian, interaksionisme simbolik dalam komunikasi menyoroti pentingnya simbol-simbol dalam proses interaksi sosial, mengakui peran subjektivitas individu dalam memberikan makna, dan menekankan konstruksi bersama realitas sosial dengan orang lain.

Dalam hal ini sebenarnya sudah ada penelitian terdahulu yang membahas akan tetapi peneliti akan mengeksplorasi bertujuan untuk memahami konteks yang lebih luas dan melihat arti inti persoalan dan hasil kajiannya. Kemudian peneliti akan menjelaskan niche dalam penelitian ini.

Penelitian yang pertama dilakukan oleh Faris Abdiansyah yang berjudul “Implementasi Metode Arba’in dalam Pembelajaran Kitab kuning di Pondok Pesantren Subhanah Subah”Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif. Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu bahwa implementasi arba’in memiliki beberapa tahapan dalam penerapannya yaitu dalam menghafal materi, deteksi kaimat/tarkib, I’lal dan memaknai.

Faktor pendukung antara lain adalah adanya kesadaram diri santri yang baik, Kyai atau ustadz sudah paham dan menguasai metode arba’in serta penerapannya, tersedia juga sarana dan prasarana atau fasilitas yang mendukung dalam proses pembelajaran, serta dukungan dari orang tua terhadap program pondok pesantren. Faktor penghambat dalam menerapkan metode arba’in yaitu kemampuan

(17)

14

daya ingat santru yang berbeda-beda dan kemampuan santri yang tentunya berbeda-beda pula dalam membaca Arab pegon.

Persamaan dalam penelitian ini yaitu sama membahas mengenai metode arbain. Perbedaannya pada penelitian ini tidak membahas mengenai metode arbain. Perbedaannya pada penelitian ini tidak membahas mengenai metode komunikasi arbain hanya metode arbain saja, pada lokasi penelitian juga berbeda.16

Penelitian yang kedua, telah dibuah oleh Tamara Diina Al- Hakim yang berjudul “Implementasi pembelajaran membaca al- Qur’an melalui pembelajaran dalam membaca al-Qur’an menggunakan metode Arbain di Madin Al-Hikam yaitu menyusun rancangan pelaksanaan pembelajaran dan placement test atau penempatan ustadz/ustadazh. Pelaksanaan pembelajaran dalam membaca al-Qur’an menggunakan metode ini juga ada beberapa hal yang disiapkan yaitu pelaksanaan pembelaaran, pengelolaan kelas, serta penggunaan media pembelajaran. Persamaan dalam penelitian ini yaitu sama menggunakan metode arbain. Dari persamaan tersebut tentunya ada perbedaan pada penelitian ini dalam menggunakan metode Arbain diterapkan kepada membaca al- Qur’an sedangkan penulis pada kitab kuning.17

Penelitian yang ketiga, penelitian Kori Ernawati yang berjudul Metode Arbain dalam Pembelajaran Cara Cepat Membaca Kitab Pondok Pesantren Walyathalaththaf Darussalam Petanahan”.

Metode penelitian ini menggunakan metode observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini yaitu metode arbain

16 Al-Hakim, “Implementasi Pembelajaran Membaca Al-Qur’an Melalui Metode Arbain

Di Madin Al-Hikam Malang.” (Malang:Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim:2024) Hal xvi

17 Ernawati, Najitama, and Maesaroh, “Metode Arba’in Dalam Pembelajaran Cara Cepat

Membaca Kitab Di Pondok Pesantren Walyathalaththaf Darussalam Petanahan.” Tarbi:Jurnal Ilmiah Mahasiswa, Vol 2 Tahun 2023 hlm 179

(18)

15

merupakan salah satu faktor penting yang berperan dalam keberhasilan dalam meningkatkan membaca kitab kuning, baik dalam memba kitab kuning maupun al-Qur’an. Persamaan dalam penelitian ini yaitu sama membahas mengenai metode arba’in dalam membaca kitab. Perbedaanya yaitu tidak memfokuskan kepada komunikasi arbainnya.18

2. Kajian Teoritik

Pada kajian teoritik, peneliti akan menggunakan teori interaksi simbolik yang pertama kali diperkenalkan oleh George Herbert Mead yang merupakan seorang filsuf, sosiolog, dan psikolog. Kemudian teori miliknya dikembangkan oleh Herbert Blumer hingga menjadi aliran tersendiri yaitu aliran Chichago. Ada juga aliran Iowa yang digagas oleh Manford Kuhn. Terakhir aliran Indiana yang digagas oleh Sheldon Stryker.

Pada penelitian ini akan menganut teori interaksi simbolik dari Herbert Blumer.

Menurut Mead dalam membangun konstruksi teori interaksi simbolik memiliki tiga hal penting, “(1) Fokus pada interaksi antara pelaku dan dunia; (2) Pandangan bahwa baik pelaku maupun dunia sebagai proses yang dinamis dan bukanlah struktur yang statis; dan (3) Nilai yang dilekatkan pada kemampuan pelaku untuk menginterpretasikan dunia atau masyarakat sosial.”19

1818 Ernawati, Najitama, and Maesaroh, “Metode Arba’in Dalam Pembelajaran Cara Cepat Membaca Kitab Di Pondok Pesantren Walyathalaththaf Darussalam Petanahan.” Tarbi:Jurnal Ilmiah Mahasiswa, Vol 2 Tahun 2023 hlm 179

19 Dadi Ahmadi, “Interaksi Simbolik: Suatu Pengantar”, MediaTor (Jurnal Komunikasi),

(online), jilid 9, no.2, 305,

(https://scholar.google.com/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=Dadi+Ahmadi.+Interaksi+Simbolik

%3A+Suatu+Pengan&btnG=, diakses 6 Agustus 2024).

(19)

16

George Ritzer, seorang tokoh teoritis sosiolog, menyimpulkan substansi teori interaksi simbolik adalah bahwa kehidupan bermasyarakat terbentuk melalui proses komunikasi dan interaksi, menggunakan simbol- simbol dengan makna yang dipahami melalui pembelajaran. Tindakan seseorang dalam interaksi tidak hanya respons langsung terhadap stimulus, melainkan hasil interpretasi terhadap stimulus, yang mana hal ini hasil proses pembelajaran dalam memahami arti simbol-simbol dan saling menyesuaikan makna dari simbol-simbol tersebut. Meskipun norma, nilai sosial, dan makna simbol memberikan batasan, pada akhirnya manusia bebas untuk memilih tindakan dan tujuan-tujuan yang dikehendakinya.20

Pemikiran Herbert Blumer terhadap teori interaksi simbolik yang dikembangkannya melalui gagasan Mead yakni bahwasanya interaksi antarmanusia mempunyai sifat yang unik. keunikan yang dimaksud bahwa manusia saling menerjemahkan dan mendefinisikan tindakannya, bukan sekadar reaksi terhadap tindakan orang lain. Respons seseorang tidak timbul secara langsung atas tindakan itu. Melainkan tergantung pada pemberian “makna”. Oleh karena itu, interaksi manusia dijembatani oleh penggunaan simbol, penafsiran, dan penemuan makna tindakan orang lain.

Menurut Blumer teori interaksi simbolik memiliki 6 ide dasar, yaitu:21

a. Masyarakat terbentuk oleh manusia yang saling berinteraksi dan menjalankan kegiatan bersama sehingga membentuk struktur sosial.

b. Interaksi mencakup berbagai kegiatan manusia yang melibatkan hubungan antarmanusia. Interaksi simbolis melibatkan penafsiran tindakan-tindakan, sementara interaksi nonsimbolis melibatkan stimulus respons.

20 Teresia Noiman Derung, “Interaksionisme Simbolik dalam Kehidupan, Bermasyarakat”, SAPA Jurnal Kateketik dan Pastoral, (online), jilid 2, no.1, 130, (https://e-journal.stp- ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/33/28, diakses 7 Agustus 2024).

21 Dadi Ahmadi, “Interaksi Simbolik: Suatu Pengantar”, MediaTor (Jurnal Komunikasi),

(online), jilid 9, no.2, 310,

(https://scholar.google.com/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=Dadi+Ahmadi.+Interaksi+Simbolik

%3A+Suatu+Pengan&btnG=, diakses 6 Agustus 2024).

(20)

17

c. Objek-objek tidak mempunyai makna yang terkandung di dalamnya.

Makna merupakan hasil interaksi simbolis. Objek-objek dapat dikategorikan sebagai objek fisik, sosial, dan abstrak.

d. Manusia tidak hanya mengenal objek eksternal, tetapi mereka dapat melihat dirinya sendiri sebagai objek.

e. Tindakan manusia adalah interpretasi yang diciptakan oleh manusia itu sendiri.

f. Tindakan tersebut saling terkait sehingga membentuk “tindakan bersama” yang kemudian disesuaikan oleh anggota kelompok.

Sebagian mayoritas “tindakan bersama” ini terjadi secara berulang dan kondisi nya stabil. Hingga pada akhirnya tercipta kebudayaan.

Blumer menarik pada tiga landasan kesimpulan yaitu (1) Manusia bertindak berdasarkan makna yang diberikan pada sesuatu bagi mereka;

(2) Makna tersebut didapat saat selesai berinteraksi dengan orang lain; (3) Makna-makna tersebut disempurnakan pada saat berlangsungnya proses interaksi sosial.

Setelah membahas ide dasar, Blumer juga merasa perlu menegaskan tiga prinsip utama komunikasi dalam teori interaksi simbolik:22

a. Meaning (makna), dalam teori ini tidaklah berhubungan erat atau terkandung di dalam objek namun “makna” berkembang dan terbentuk melalui proses interaksi sosial antar manusia.

b. Language (bahasa), merupakan alat komunikasi yang menjadi sumber makna yang berkembang melalui interaksi sosial. Berhubung pembahasan language (bahasa), Mead berpendapat kehidupan sosial dan komunikasi mungkin dapat terjadi jika antar manusia memahami dan menggunakan bahasa yang sama.

c. Thought (pemikiran), ialah pemikiran yang melibatkan pada penafsiran seseorang terhadap simbol dan proses kegiatan mental

22 Haritz Asmi Zanki, “Teori Psikologi dan Sosial Pendidikan (Teori Interaksi Simbolik)”, Scolae: Journal of Pedagogy, (online), jilid 3, no.2, 118, (https://www.ejurnal.stkipdamsel.ac.id/index.php/scl/article/view/82/84, diakses 7 Agustus 2024).

(21)

18

(menginterpretasi, menganalisis, dan memahami) yang mengonversi makna, nama, dan simbol, termasuk di dalamnya kemampuan imajinasi untuk menggambarkan sesuatu yang tidak diketahui berdasarkan pengetahuan yang sudah ada.

Lebih lanjut, Blumer mengatakan bahwa ada lima konsep dasar yang harus dipahami agar menjadi penguat landasan teori interaksi simbolik.

Adapun lima konsep dasar tersebut, yaitu:23 a. Konsep Diri (Self)

Konsep diri lebih menegaskan bahwa manusia bergerak bukan hanya sebagai organisme yang bergerak berdasarkan stimulus yang datang untuk memengaruhinya, melainkan manusia adalah organisme yang sadar akan dirinya sendiri. Manusia mampu menjadikan dirinya sebagai objek dan berinteraksi dengan diri sendiri.

b. Konsep Perbuatan (Action)

Perbuatan yang dilakukan oleh manusia merupakan hasil konstruksi proses interaksi dengan diri sendiri dan tidak semata- semata sebagai reaksi biologis.

c. Konsep Objek (Object)

Menunjukkan bahwa manusia hidup di tengah-tengah objek.

Objek tersebut tidak ditentukan oleh ciri-ciri intrinsiknya, tetapi oleh minat dan arti yang diberikan kepadanya.

d. Konsep Interaksi Sosial (Social Interaction)

Konsep ini menegaskan pada pemahaman maksud aksi orang lain dengan cara memindahkan proses mental diri kepada orang lain.

Tujuannya agar manusia dapat memahami dan mengerti simbol- simbol yang diberikan oleh orang lain.

e. Konsep Tindakan Bersama (Joint Action)

23 Dadi Ahmadi, “Interaksi Simbolik: Suatu Pengantar”, MediaTor (Jurnal Komunikasi),

(online), jilid 9, no.2, 303-304,

(https://scholar.google.com/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=Dadi+Ahmadi.+Interaksi+Simbolik

%3A+Suatu+Pengan&btnG=, diakses 7 Agustus 2024).

(22)

19

Konsep ini merujuk pada aksi kolektif antar peserta kelompok yang disesuaikan, dileburkan, dan disinkronkan arti, tujuan, pikiran, dan sikap..

G. Metode Penelitian

Dalam bab ini dijelaskan secara rinci dan operasional ten tang metode dan teknik yang digunakan dalam mengkaji subyek penelitian. Adapun urutan serta pembahasannya sebagai berikut:

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, dan jenis penelitian deskriptif karena pada penelitian ini digunakan peneliti untuk mendeskripsikan metode komunikasi arbain dalam memahami dan membaca kitab kuning. Landasan metode penelitian kualitatif yaitu filsafat postpotivisme, yang mana pada penelitian ini lebih memfokuskan pada kondisi objek alamiah, dimana instrumen kuncinya yaitu si peneliti sendiri, pengambilan sumber data dengan purposive sampling dan snowball.24 Menurut Rukin penelitian kualitatif dapat dijelaskan sebagai penelitian yang sifatnya deskriptif dan lebih condong menggunakan analisis dengan pendekatan induktif (khusus ke umum).25 Sedangkan jenis penelitian deskriptif menurut Anisah merupakan jenis penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan suatu fenomena atau peristiwa sosial dengan cara menggambarkan secara rinci tentang variabel yang terkait dengan masalah atau unit yang diteliti terhadap fenomena yang sedang diuji.26

2. Subyek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian dalam penelitian kualitatif sering disebut informan untuk menjadikannya sebagai teman atau konsultan dalam menggali

24 Sugiyono, “Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&d. Bandung: Alfabeta, Mei 2010.” (Bandung: Alfabeta: Mei 2013 ) Hlm 15

25 Rukin “Metodologi Penelitian Kualitatif,” (Takalar: Ahmar Cendekia Indonesia, 2019), 6.

26 Hastin Umi Anisah, Metode penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Zahir Publishing, 2021), 29.

(23)

20

berbagai informasi yang dibutuhkan oleh peneliti.27 Dalam penelitian ini subjek penelitian yang akan dijadikan sebagai informan yaitu pengasuh pondok Ulul Albab, 2 pengurus, 2 ustadz, dan 3 santri. Objek penelitiannya adalah implementasi metode komunikasi Arbain dalam membantu memahami dan membaca kitab kuning di Pondok Ulul Albab Cukir Diwek Jombang.

3. Jenis dan Sumber Data

Ada dua jenis data dalam penelitian kualitatif yaitu : a. Data Primer

Data primer merupakan data utama yang didapatkan dari subjek penelitian secara langsung dari tangan pertama. Biasanya data Primer diperoleh dari hasil observasi, dokumentasi dan wawancara dengan subjek penelitian secara langsung.28

Data primer dalam penelitian ini berupa buku Arbain, dokumentasi ketika pembelajaran kitab kuning, dan hasil wawancara kepada informan mengenai implementasi metode komunikasi Arbain dalam membantu memahami dan membaca kita kuning di Pondok Ulul Albab Cukir Diwek.

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang bukan didapatkan dari subek penelitian atau sumber pertama yang digunaka untuk penelitian sumber data yang tidak secara langsung memberikan data kepada peneliti.29 Dengan kata lain data sekunder merupakan sebuah sumber data tambahan untuk melengkapi data primer. Adapun data yang diperoleh dari penelitian ini berupa jurnal ilmiah, buku referensi dan dokumen lain. Penelitian terdahulu yang membahas mengenai implentasi metode komunikasi arbain dalam membantu memahami dan membaca kitab kuning.

27 Salim and Syahrum, “Metodologi Penelitian Kualitatif Konsep Dan Aplikasi Dalam Ilmu Sosial, Keagamaan Dan Pendidikan. Bandung: Citapustaka Media, 2012.” Hlm 143

28 Nasution, Metode Penelitian Kualitatif. (Bandung: CV Harfa Creative:2023) hlm 6

29 Nasution...hlm 6

(24)

21

Adapun sumber data yang diambil berasal dari lapangan yaitu kegiatan pengajian kitab metode Arbain di Pondok Ulul Albab beserta santri-santrinya.

4. Tahapan Penelitian

Dalam penelitian ini ada beberapa tahapan yang dilakukan oleh peniliti adalah sebagai berikut:

a. Menentukan Topik

Peneliti mencari topik dan menggali fenomena yang ada untuk menentukan topik penelitian yang akan peneliti teliti. Adapun topik penelitiannya, peneliti mengangkat judul “Metode Komunikasi Arbain dalam membantu memahami dan membaca kitab kuning di Pondok Ulul Albab ”.

b. Menentukan Fokus Penelitian

Dalam penelitian kualitatif ini peneliti akan membatasi penelitiannya. Batasan masalah dilakukan agar tidak meluas dalam sebuah penelitian. Adapun batasannya antara lain: Bagaimana metode komunikasi Arbain dalam membantu memahami dan membaca kitab kuning di Pondok Ulul Albab Cukir Diwek Jombang? Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi metode komunikasi Arbain di Pondok Ulul Albab Cukir Diwek?

c. Menentukan Metode Penelitian

Pada penelitian ini metode yang digunakan melalui pendekatan kualitatif dengan model jenis penelitian deskriptif kualitatif.

d. Menentukan Metode Analisis

Analisis adalah kegiatan memeriksa peristiwa melalui data untuk mengungkap keadaan sebenarnya. Umumnya, analisis dilakukan dalam penelitian atau pengolahan data, dengan harapan dapat meningkatkan pemahaman serta mendorong pengambilan

(25)

22

keputusan. Sedangkan menurut KBBI menjelaskan bahwa analisis merupakan penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.30

Peneliti menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yang mana selain menyajikan data dan mengolahnya, peneliti juga melakukan analisis data kualitatifnya.

e. Menentukan Analisis Data

Analisis deskriptif kualitatif adalah salah satu teknik analisis data yang sering digunakan sebagai metode penelitian. Dalam suatu penelitian untuk menggabarkan fenomena metode penelitian ini memanfaatkan data kualitatif dan dijabarkan secara deskriptif. Jenis analisis data deskriptif kualitatif kerap digunakan untuk menganalisis kejadian keadaan secara sosial. Sekaligus merupakan gabungan dari teknik analisis data deskriptif dan kualitatif.

f. Menarik Kesimpulan

Menarik kesimpulan adalah Langkah peneliti mengambil kesimpulan berdasarkan rumusan penelitian yang telah mendapatkan jawaban melalui analisis data. Setelah itu, peneliti perlu menyusun laporan penelitian yang telah dianalisis dan disusun secara terstruktur.

g. Tahap Penulisan Laporan

Tahapan penulisan laporan dalam tahapan penelitian merupakan tahap akhir yang sangat penting, di mana semua hasil penelitian disusun dan disajikan secara sistematis dan terstruktur. Tahap ini merupakan puncak dari seluruh proses penelitian, dan hasil penulisan laporan akan menjadi bukti konkrit dari hasil penelitian yang dilakukan.

30 Hanif Sri Yanto, “Arti Analisis, Ketahui Macam-Macam, Jenis, dan Tujuannya”

(bola.com Jakarta,

11 Oktober 2023) di akses melalui https://www.bola.com/ragam/read/5419655/arti- analisis-

ketahui-macam-macam-jenis-dan-tujuannya?page=4 pada tanggal 5 Januari 2024

(26)

23 5. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tiga macam Teknik pengumpulan data, diantaranya;

a. Observasi

Observasi merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan melakukan kegiatan pengamatan dan pencatatan dengan sistematis terhadap fenomena yang terjadi untuk dijadikan objek pengamatan.31 Dalam observasi ini peneliti menggunakan observasi partisipasi yang dimana peneliti ikut terjun langsung dalam memahami atau membaca kitab kuning ini dengan menggunakan metode komunikasi Arba’in. Praktik lapangannya peneliti mengamati proses santri dalam membaca kitab kuning dengan metode komunikasi Arba’in. Kemudian dari hasil observasi dipertegas dengan metode wawancara.

b. Wawancara

Teknik wawancara merupakan cara sistematis untuk memperoleh informasi-informasi dalam bentuk tanya-jawab dengan narasumber mengenai suatu obyek berupa keterangan, penjelasan, pendapat, fakta, bukti pada suatu fenomena.32

Metode wawancara yang digunakan oleh peneliti adalah metode wawancara terstruktur yang mana peneliti menyusun pertanyaan kemudian ditanyakan kepada pengasuh, ustadz, pengurus dan santri tentang implementasi komunikasi Arbain dalam membantu memahami dan membaca kitab kuning dan Bagaimana Faktor Pendukung Penghambatnya.

Pada tahapan wawancara ini peneliti menanyakan : 1. Kepada pengasuh

2. Kepada ustadz

31 Djaali dan Pudji Muljono, Pengukuran dalam Bidang Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2008), 16.

32 Sugiyono, “Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&d. Bandung: Alfabeta, Mei 2010.” Hlm 317

(27)

24 3. Kepada pengurus 4. Kepada santri c. Dokumentasi

Dokumentasi adalah catatan otentik atau asli yang bisa dijadikan bukti untuk memperkuat laporan penelittian dari hasil wawancara dan observasi.33 Pada proses ini pengumpulan data didapat melalui dokumentasi berupa foto-foto, teks naratif hasil dari observasi, dan rekaman suara saat melakukan wawancara kepada pihak terkait yang kemudian akan peneliti transkrip rekaman hasil wawancara tersebut yang dilakukan di Pondok Ulul Albab Cukir Diwek Jombang tentang metode komunikasi Arbain dalam membantu memahami dan membaca kitab kuning.

6. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif, yang mana selain menyajikan data dan mengolahnya, peneliti juga melakukan analisis data kualitatifnya.34

Lebih jelasnya, peneliti akan menganalisis data secara sistematis, yaitu:

a. Pengumpulan Data

Peneliti akan mengumpulkan data yang diperlukan di lapangan.

Pengumpulan data yang dilakukan peneliti adalah dengan cara mengobservasi, mewawancarai, dan mendokumentasi data di lapangan.

b. Reduksi Data

Merangkum, mencari yang penting-penting, memili hal pokok, mencari tema dan pola serta memilah dan memili hasil yang tidak diperlukan namanya adalah reduksi data. Pada reduksi data peneliti akan menyajikan data guna memberikan gambaran terhadap

33 Abdussamad, Metode Penelitian Kualitatif. Makassar: Syakir Media Press, Desember 2021. Hlm 149-150

34 Miles dan Hibermawan tentang analisis data...

(28)

25

fenomena yang ada di lapangan. Dari data mengenai metode komunikasi arbain dalam membantu memahami dan membaca kitab kuning di pondok Ulul Albab Cukir Diwek Jombang di lapangan yang peneliti dapat cukup banyak, dari data itu tidak semuanya dimasukkan tapi hanya beberapa data saja yang memang dibutuhkan oleh peneliti untuk dimasukkan ke dalam laporan.

c. Penyajian Data/ Display data

Setalah Peneliti mereduksi data atau merangkum data yang didapat, selanjutnya yaitu mendisplay data atau menyajikan data.

Dalam penelitian kualitatif penyajian data dapat diuraikan dengan singkat, bagan, berhungan dengan teori 1 dengan teori lainnya. Pada penyajian data dapat memudahkan kita memahami sesuatu yang terjadi, merencanakan sesuatu berdasarkan yang sudah dipahami.

d. Penarikan Kesimpulan

Kesimpulan yang kemukakan diawal masih bersifat sementara daoat berubah-ubah apabila nantinya peneliti menukan bukti perubahan data yang kuat dan mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Pada kesimpulan ini peneli dapatkan dari berbagai informasi mengenai metode komunikasi arbain dalam membantu memhami dan membaca kitab kuning melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Sehingga dapat peneliti ketahui analisis dari penelitian ini.

7. Teknik Keabsahan Data

Dalam memastikan keabsahan data penelitian, beberapa teknik keabsahan data akan diterapkan. Adapun langkah-langkah nya, sebagai berikut:

a. Uji Kredibilitas

Pada penelitian kualitatif ada dua jenis validitas yaitu : validitas internal dan eksternal. Dalam penelitian kualitatif validitas data internal sering disebut dengan uji kredibilitas (credibility), sedangkan

(29)

26

validitas data eksternal adalah sebuah alat ukur untuk mengukur apa yang akan diukur contohnya seperti mengukur kadar gula darah, dari hasil mengukur tersebut apakah benar-benar akurat memberikan bahwa hasil ukur benarnya. Tujuan dari uji kredibilitas pada penelitian kualitatif yaitu untuk mengetahui tingkat kepercayaan data yang dihasilkan dari suatu penelitian, apakah data yang diperoleh dapat dipercaya atau tidak.35 Kredibilitas data akan diperkuat dengan memeriksa dan mengonfirmasi kembali data yang didapat. Selain itu, triangulasi sumber data akan digunakan untuk membandingkan temuan dari sumber data, yaitu observasi, wawancara, dan analisis dokumen.

b. Uji Reabilitas (Dependabilitas)

Reabilitas dalam penelitian kualitatif yaitu dalam penelitian ini dapat diulangi atau direplikasi oleh peneliti lain dan peneliti itu menemukan hasil yang sama apabila peneliti menggunakan metode yang sama.36 Uji Reabilitas dilakukan guna melihat metode penelitian.

Uji ini dilakukan dengan menilai apa saja yang dilakukan peneliti dari awal menentukan fokus masalah, kegiatan lapangan, menentukan informan, melakukan analisis informan, uji keabsahan informan sampai dengan kesimpulan.37

Selama proses kegiatan yang dilakukan peneliti dalam mengambil sumber data, seperti wawancara dan observai dalam mendokumentasikannya dengan menggunakan rekaman audio atau video. Tujuannya untuk mendapatkan bukti dan sebagai jejak aktifitas lapangan peneliti dalam melakukan penelitian di Pondok Ulul Albab.

c. Uji Konfirmabilitas

35Flantika et al., Metodologi Penelitian Kualitatif. Padang Sumatera Barat: PT.Global Eksekutif Teknologi, Maret 2022.Hlm 180

36 Abdussamad, Metode Penelitian Kualitatif. Makassar: Syakir Media Press, Desember 2021.hlm 187

37Flantika et al., Metodologi Penelitian Kualitatif. Padang Sumatera Barat: PT.Global Eksekutif Teknologi, Maret 2022. Hlm 187

(30)

27

Uji konfirmabilitas pada penelitian kualitatif identik dengan uji objektivitas. Penelitian dapat dikatakan objektif apabila penelitian tersebut disepakati banyak orang.38 Pengujian keabsahan data ini merupakan langkah peneliti untuk memastikan bahwa proses penelitian dan hasilnya dapat diverifikasi dan diakui keabsahannya oleh pihak bersangkutan. Tujuannya untuk menjadikan dasar untuk penarikan kesimpulan pada penelitian ini.

H. Sistematika Pembahasan

Supaya pembahasan di dalam penulisan proposal ini lebih terarah dan sistematis, maka secara rinci penulis akan membagi menjadi beberapa bab, diantaranya;

1. BAB I: Pendahuluan

Pada bab ini peneliti akan menjelaskan tentang konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, serta sistematika pembahasan.

2. BAB II: Kajian Pustaka

Pada bab ini peneliti memaparkan mengenai kajian pustaka, kajian teoritik yang menjadi landasan dalam penelitian yaitu teori yang berkaitan dengan kajian tentang komunikasi interpersonal, dan menjelaskan hasil penelitian terdahulu yang relevan.

3. BAB III: Metode Penelitian

Pada bab ini peneliti menjelaskan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif, tempat penelitian di Pondok Ulul Albab, dan waktu penelitian. Adapun subjek penelitian ini adalah pengasuh, dan pengajar.

Metode pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknis analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan data, menyajikan data, mereduksi data, dan menarik kesimpulan. Terakhir,

38 Abdussamad, Metode Penelitian Kualitatif. Makassar: Syakir Media Press, Desember 2021. hlm 196

(31)

28

teknik keabsahan data dilakukan dengan langkah-langkah uji kredibilitas, uji dependabilitas, dan uji konfirmabilitas.

4. BAB IV: Hasil Penelitian dan Pembahasan

Pada bab ini, peneliti mendeskripsikan isi pembahasan penelitian sesuai hasil temuan data yang telah dikumpulkan di lapangan. Sistematika sub bab diawali setting penelitian, penyajian data, dan analisis pembahasan. Bab ini bertujuan untuk menjawab permasalahan yang telah diidentifikasikan oleh peneliti di sub bab fokus penelitian.

5. BAB V: Penutup

Pada bab ini peneliti memberikan kesimpulan dan saran dalam hasil dari penelitian mengenai metode komunikasi arbain dalam membantu memahami dan membaca kitab kuning di Pondok Ulul Albab Cukir Diwek Jombang. Dan faktor apa saja yang mendukung dan menghambat saat proses mengimplementasikan metode komunikasi arbain dalam membantu memahami dan membaca kitab kuning di Pondok Ulul Albab Cukir Diwek.

I. Jadwal Penelitian

No Kegiatan Tahun 2024 Tahun 2025

Sept Okt Nov Des Jan- Feb Maret 1. Tahapan Pra Penelitian

a. Penyusunan dan pengajuan judul b. Rancangan dan

pembuatan Proposal c. Pengajuan Proposal 2. Tahapan Pelaksanaan

Penelitian

a. Pengumpulan Data

(32)

29 b. Analisis Data

3. Tahap Penyusunan Laporan dan Hasil

4. Ujian Skripsi

J. Daftar Pustaka

Abdiansyah, M Faris. 2023. “Implementasi Metode Arba’in Dalam Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Subhanah Subah Skripsi,” (Skripsi:

Pekalongan: Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid).

Abdussamad, Zuchri. 2021. Metode Penelitian Kualitatif. (Makassar: Syakir Media Press, Desember ). https://www.ptonline.com/articles/how-to-get- better-mfi-results.

Agung Erwansyah dan Sukma Nur Prasetyo, “Metode Komunikasi, Scribd, (makalah online), 2, (https://www.scribd.com/doc/73631940/Metode- Komunikasi

Al-Hakim, Tamara Diina.2024. “Implementasi Pembelajaran Membaca Al-Qur’an Melalui Metode Arbain Di Madin Al-Hikam Malang,” (Skripsi: Malang:

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim) .

Barella, Yusawinur, Syarifuddin Ondeng, and Saprin. 2024. “PERANAN MAJELIS TAKLIM DAN LEMBAGA DAKWAH DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM: SEBUAH ANALISIS FUNGSIONAL.” Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran 7, no. 2. : 4868–76.

http://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jrpp.

Barizi, A. (2011). Pendidikan Integratif Akar Tradisi dan Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam. Malang: UIN Maliki Press.

Butsi, Febry Ichwan. 2011. “Memahami Pendekatan Positivis, Kontruktivitas Dalam Metode Penelitian Komunikasi.” Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi

Communique 2. : 421–27.

https://doi.org/10.7767/boehlau.9783205790099.421.

Dadi Ahmadi, “Interaksi Simbolik: Suatu Pengantar”, MediaTor (Jurnal Komunikasi), (online), jilid 9, no.2, 305,

Direktorat Jenderal Pendidikan, “Presiden Jokowi Tegaskan Pondok Pesantren

Penentu Keberhasilan Cita-Cita Bangsa ,

(https://pendis.kemenag.go.id/read/presiden-jokowi-tegaskan-pondok- pesantren-penentu-keberhasilan-cita-cita-bangsa,.

Djaali dan Pudji Muljono, 2008. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan, (Jakarta:

(33)

30 Grasindo)

Ebta Setiawan, “Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kamus versi online/daring (dalam jaringan)”, (KBBI Online, 2012-2023 versi 2.9), (berita online), (https://kbbi.web.id/pola,.

Elshinta. (n.d.). Kitab Kuning dan Tradisi Keilmuan Pesantren. 2022:

emenag.go.id/opini/kitab-kuning-dan-tradisi-keilmuan-pesantren-v5u53a.

Ernawati, Kori, Fikria Najitama, and Maesaroh. “Metode Arba’in Dalam Pembelajaran Cara Cepat Membaca Kitab Di Pondok Pesantren Walyathalaththaf Darussalam Petanahan.” Tarbi : Jurnal Ilmiah Mahasiswa 2, no. 55 (2023): 181.

Flantika, Feny Rita, Mohammad Wasil, Sri Jumiyati, Leli Honesti, Sri Wahyuni, Erland Mouw, Jonata, et al. 2022. Metodologi Penelitian Kualitatif. Padang Sumatera Barat: PT.Global Eksekutif Teknologi.

https://scholar.google.com/citations?user=O-B3eJYAAAAJ&hl=en.

Haritz Asmi Zanki, “Teori Psikologi dan Sosial Pendidikan (Teori Interaksi Simbolik)”, Scolae: Journal of Pedagogy, (online), jilid 3, no.2, 118, (https://www.ejurnal.stkipdamsel.ac.id/index.php/scl/article/view/82/84, Hastin Umi Anisah, 2021. "Metode penelitian Kualitatif", Yogyakarta: Zahir

Publishing,

Mujahidin, Irfan. 2021. “Peran Pondok Pesantren Sebagai Lembaga Pengembangan Dakwah.” SYIAR; Jurnal Komunikasi Dan Penyiaran Islam 1, no. 1: 31–44.

https://media.neliti.com/media/publications/359395-peran-pondok-pesantren- sebagai-lembaga-p-d0acc8b4.pdf.

Nasution, Abdul Fattah. 2023. "Metode Penelitian Kualitatif". Bandung: CV Harfa Creative.

Neliwati. 2019. “Pondok Pesantren Modern Sistem Pendidikan, Manajemen, Dan Kepemimpinan.” Buku Pondok Pesantren Modern SISTEM PENDIDIKAN, MANAJEMEN, DAN KEPEMIMPINAN Dilengkapi Konsep Dan Studi Kasus, no. 112 .Depok : PT Rajagrafindo Persada .

Nurdin, Ali, Agoes Moh. Moefad, Advan Navis Zubaidi, and Rahmad Harianto.

2013. “Pengantar Ilmu Komunikasi.” Pengantar Ilmu Komunikasi. Surabaya:

CV Mitra Media Nusantara.

Rukin, 2019. ”Metodologi Penelitian Kualitatif," Takalar: Ahmar Cendekia Indonesia.

Salim, and Syahrum. 2012. “Metodologi Penelitian Kualitatif Konsep Dan Aplikasi Dalam Ilmu Sosial, Keagamaan Dan Pendidikan". Bandung: Citapustaka Media.

Sugiyono. 2010 “Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&d". Bandung:

Alfabeta.

(34)

31

Teresia Noiman Derung, “Interaksionisme Simbolik dalam Kehidupan, Bermasyarakat”, SAPA Jurnal Kateketik dan Pastoral, (online), jilid 2, no.1, 130, (https://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/33/28,

Uin Suska, Bab 2 Kajian teori Kerangka Teori Metode(https://repository.uin- suska.ac.id/4847/3/BAB%20II.pdf

Wiryanto, 2004."Pengantar Ilmu Komunikasi". Jakarta: PT Grasindo.

Wisman, Yosita. “KOMUNIKASI EFEKTIF DALAM DUNIA PENDIDIKAN.”

Jurnal Nomosleca 3, no. 2 (2017): 646–54.

Zurriyatun Thoyibah, 2021. "Komunikasi dalam Keluarga: Pola dan Kaitannya dengan Kenakalan Remaja". Pekalongan: PT Nasya Expanding Management (NEM).

(35)

32 Panduan Wawancara

Pengasuh Pondok

1. Bagaimana peran pengasuh dalam mendukung pembelajaran metode komunikasi arbain di dalam pondok

2. Apakah ada program khusus di pondok untuk pembelajaran metode komunikasi arbain

3. Bagaimana pondok mengukur keberhasilan pembelajaran metode komunikasi arbain untuk santri

4. Apa saja faktor penghambat bagi santri dalam pembelajaran metode komunikasi arbain

5. Apa saja contoh contoh kaidah kaidah nahwu shorof yang di ajarkan didalam metode komunikasi arbain

Pengurus

1. Apa tujuan utama dari metode komunikasi Arbain di pondok Ulul Albab cukir diwek Jombang?

2. Bagaimana metode komunikasi Arbain di terapkan dalam pembelajaran 3. Apa keunggulan menggunakan metode komunikasi arbain

4. Apakah metode komunikasi arbain cocok untuk semua kalangan ?

5. Bagaimana awal metode arbain di terapkan di pondok ulul albab cukir diwek jombang.

(36)

33 Santri

1. Apa yang kamu ketahui tentang metode komunikasi arbain 2. Apa yang di sukai dari metode komunikasi arbain

3. Apa kesulitan yang kamu alami dalam mempelajari metode komunikasi arbain

4. Apa manfaat belajar metode komunikasi arbain

5. Apa perbedaan metode komunikasi arbain dengan metode lain

Referensi

Dokumen terkait

pelaksanaan pembelajaran kitab kuning melalui metode sorogan untuk. meningkatkan mahir baca dan pemahaman santri di

(4) Pondok Pesantren yang selanjutnya disebut Pesantren adalah sistem pendidikan berasrama yang menyelenggarakan pengajian kitab kuning dalam rangka mempersiapkan santri untuk

Demikian pula, secara langsung santri mendapat pendidikan multikultural setelah mereka mengikuti pengajian kitab-kitab salaf (kuning) yang diajarkan di

Hampir setiap waktu bagi santri di pondok pesantren adalah mengaji, baik mengaji Al-Qur’an atau mengaji kitab- kitab tradisional (kitab kuning). Tentu, kegiatan

Nilai dasar pesantren selain dijadikan landasan bagi pengasuh untuk mendirikan pendidikan agama Islam sesuai dengan tradisi pesantren yang menggunakan kitab kuning sebagai

Pendamping Asrama adalah orang yang membantu pengasuh untuk. menertibkan santri melaksanakan kegiatan di

kuning dengan menggunakan kitab Nubdzatul Bayan santri lebih mudah. untuk memahami kitab Nubdzatul Bayan, karena cara

viii ABSTRAK PENGARUH KEMAMPUAN MEMBACA KITAB KUNING TERHADAP HASIL BELAJAR FIQIH SANTRI KELAS TIGA IBTIDA’ TSALITS PONDOK PESANTREN RIYADLATUL ULUM Oleh LuthfiaVebri Kitab