PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Fokus Penelitian
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Sistematika Pembahasan
KAJIAN PUSTAKA
Kajian Teori
- Metode Sorogan di Pondok Pesantren
- Metode Sorogan sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan
26 Ridho Hidayah, “Meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning dengan metode Sorogan bagi Santri Pondok Pesantren Walisongo”, 62. 27 Ridho Hidayah, “Meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning dengan metode Sorogan bagi Santri Pondok Pesantren Walisongo”, 64. 28 Ridho Hidayah, “Meningkatkan Kemampuan Membaca Kitab Kuning Metode Sorogan Bagi Santri Pondok Pesantren Walisongo, 67.
Telaah Penelitian Terdahulu
Skripsi pertama: ditulis oleh Maratus Sholichah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Ponorogo dengan judul tesis “Pengaruh Aktif Membaca Kitab Kuning dan Kegiatan Keagamaan Terhadap Kerohanian kecerdasan santri Pondok Pesantren Darusalam Bangunsari Ponorogo”. Dan dalam tesis ini peneliti menyimpulkan bahwa 1) berdasarkan hasil nilai thitung sebesar 5,313 dan tabel sebesar 2,001, maka (thitung > .tabel) variabel aktivitas setelah mengaji kitab kuning berpengaruh terhadap kecerdasan spiritual (SQ) santri di Pondok Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo; 2) Berdasarkan hasil thitung sebesar 6,939 dan tabel sebesar 2,001, (thitung > tabel) variabel partisipasi aktif dalam beragama kegiatan berdampak penting pada kecerdasan spiritual (SQ) santri di Pondok Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo Tesis Kedua: ditulis oleh Nurul Luthfi Munfaridah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Ponorogo dengan judul skripsi “Penerapan Metode Sorogan Kitab Safinatun Al-Najat Dalam Makna Kitab Kuning Di Asrama Islam Darul Huda Mayak”.
Dan dalam tesis ini peneliti sampai pada kesimpulan bahwa (1) Latar belakang diterapkannya metode sorogan dalam kitab Safinat al-Najhat dalam pengertian kitab kuning di pesantren Darul Huda Mayak, karena dalam penerapannya dari sorogan terdapat pengamalan ilmu nahvu dan sharfit, seperti yang kita ketahui ilmu nahwu dan sharfit adalah ilmu untuk memahami jenis kelamin arab, oleh karena itu sangat tepat menggunakan metode sorogan dalam pengertian Kitab Safinet al- Najhat. Tesis Ketiga: ditulis oleh Wasik Nur Mahmudah, mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Ponorogo dengan judul skripsi “Pengaruh Pemahaman Ilmu Nahwu dan Metode Sorogan Terhadap Kemampuan Membaca Kitab Kuning di Pesantren Al-Barokah Mangunsuman Siman Ponorogo”. Dan dalam tesis ini peneliti menyimpulkan bahwa (1) terdapat pengaruh yang signifikan antara pemahaman ilmu nahwu terhadap kemampuan membaca kitab kuning sebesar 46,9% dan sisanya 53,1% dipengaruhi oleh variabel lain.
Tesis Kelima: Ditulis oleh Hermawan, mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Ponorogo dengan judul skripsi “Penggunaan Metode Bandongan Dalam Pembelajaran Kitab Kuning di Al-Barokah Pesantren Mangunsuman Ponorogo semester genap tahun pelajaran 2019”. Dan dalam tesis ini peneliti menyimpulkan bahwa (1) pembelajaran kitab kuning dengan metode bandongan diawali dengan santri menunggu kedatangan kiyai, yang mengawali kegiatan pembelajaran dengan salam dan dilanjutkan santri dengan salam. tanggapan.
Kerangka Pikir
Selanjutnya, beberapa siswa yang datang terlambat untuk pengajian kitab kuning menyebabkan siswa ketinggalan materi pelajaran dan kurangnya semangat siswa untuk mengikuti proses pembelajaran, karena masih ada siswa yang sering mengobrol dengan siswa lain.
METODE PENELITIAN
- Pendekatan Dan Jenis Penelitian
- Lokasi Dan Waktu Penelitian
- Data Dan Sumber Data
- Prosedur Pengumpulan Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Pengecekan Keabsahan Data
- Tahapan Penelitian
Status Ustaz/Ustazah, Santri dan Struktur Organisasi Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo Darussalam Bangunsari Ponorogo. Penerapan metode sorogan kitab kuning dalam meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning santri di Pondok Pesantren kemampuan membaca kitab kuning santri di Pondok Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo. Dalam observasi tersebut peneliti menemukan apa saja faktor penghambat dan faktor pendukung adanya kegiatan sorogan di Pondok Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo.
Hasilnya, peneliti menemukan bahwa kegiatan sorogan yang dilakukan di Pondok Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo berpengaruh signifikan terhadap kemampuan membaca kitab kuning. Implementasi Metode Kitab Kuning Sorogan dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Kitab Kuning Santri di Pondok Pesantren Kemampuan Membaca Kitab Kuning Santri di Pondok Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo. Kegiatan Sorogan di Pondok Pesantren Bangunsari Ponorogo dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kemampuan membaca Kitab Kuning santri.
Kegiatan Sorogan di Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo secara umum telah berjalan dengan baik dan sistematis mulai dari kelas 1, 2 dan 3. Analisis kemampuan membaca pada kitab gundul dengan menggunakan metode Sorogan di Pesantren Sunan Ampel Denanyar Jombang.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Latar Penelitian
- Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Darusaalam Bangunsari
- Letak Geografis Pondok Pesantren Darussalam Bangunsari
- Tujuan, Visi dan Misi Pondok Pesantren Darussalam
- Keadaan Ustaz/Ustazah, Santri dan Struktur Organisasi
- Keadaan Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren Darussalam
- Program Kegiatan Pondok Pesantren Darussalam Bangunsari
- Kegiatan Sorogan di Pondok Pesantren Darussalam
Nama ini diambil dari nama pondok pesantren Ibu Nyai Rofi'ah dan Ustadz Abdul Aziz Ali Mutadlo saat mereka masih bersekolah. Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo tidak memiliki gedung tersendiri untuk asrama santri pada awal pendiriannya. Untuk santri putra ditempatkan di belakang masjid, sedangkan santri putri ditampung di belakang rumah Kiai Yasin dan Ny. Nyai Rofi'ah Namun tidak lama kemudian, pesantren ini membangun asrama baru untuk santri putra dan putri. Pada tahun 2017 Pondok Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo telah memiliki badan hukum berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia nomor AHV-0014928.AH.01.04.
Selain itu, Pondok Pesantren Darussalam juga memiliki izin operasional dari Kementerian Agama Nomor Dokumen: B-1847/Kk 13.02. Letak Geografis Pondok Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo Secara administratif Pondok Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo terletak di Jalan Anggrek no. Pondok Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo memiliki santri yang beragam. Mulai dari SMP, SMA hingga mahasiswa. Namun sebagian besar santri di pondok pesantren ini adalah mahasiswa IAIN Ponorogo. Jumlah siswa saat ini 107 siswa, dengan rincian 32 siswa laki-laki dan perempuan.Total 75 siswa.
Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo memiliki manajemen yang terstruktur dengan baik. Jabatan struktural tertinggi adalah petugas kebersihan, K.H.M. Yasin Ashari dan Nyai Hj. Setelah beberapa bulan berjalan sesuai rencana, Ustadz M Fahrurrhozi Muktafa memutuskan mundur karena merasa santri Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo mampu melakukannya sendiri.
Deskripsi Data
- Pelaksanaan metode sorogan kitab kuning dalam
- Faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pelaksanaan
Dengan penjelasan yang diberikan oleh Ustadz Masyrukin (sekarang sudah tidak mengajar) yang sebelumnya memulai kegiatan sorogan dari nol. Berdasarkan pengamatan langsung oleh peneliti diketahui bahwa pelaksanaan kegiatan sorogan di Pondok Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning santri yang dilaksanakan pada hari senin malam, selasa, rabu, setelah doa malam. dan berakhir pada sore hari. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi tersebut di atas menunjukkan bahwa kegiatan sorogan di Pondok Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning santri dan dilaksanakan dalam tiga jenis atau tiga kelas sesuai dengan ketentuan yang berlaku. kemampuan siswa.
Kegiatan sorogan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Darussalam dapat berjalan dengan baik, namun pasti juga terdapat kendala. Sedangkan faktor penghambatnya adalah para santri sendiri tidak bisa mengikuti secara penuh kegiatan sorogan yang dilakukan di Pondok Pesantren Dar es Salaam Bangunsari Ponorogo. Dan dalam wawancara yang dilakukan, banyak siswa yang tidak bisa membaca buku, tapi dengan kegiatan sorogan ini bisa.
Ustadz sepakat kegiatan sorogan ini sejalan dengan apa yang ingin ditekuni santri (bisa baca kitab kuning). Menurut saya sangat efektif dengan kegiatan sorogan ini, dengan metode sorogan ini saya sangat termotivasi, karena kegiatan yang tidak terlalu formal memudahkan saya untuk mengikuti apa yang disampaikan oleh ustadz.
Pembahasan
- Dampak pelaksanaan metode sorogan terhadap kemampuan
Jika semua aspek tersebut dapat dimanfaatkan oleh santri, maka dapat disimpulkan bahwa santri sudah dapat dikatakan mampu membaca kitab kuning (gundul). Kegiatan ini membuktikan bahwa banyak siswa yang dapat membaca kitab kuning dengan metode sorogan. Dengan demikian dapat disimpulkan dari hasil wawancara dan observasi menunjukkan adanya peningkatan kemampuan membaca kitab kuning di Pondok Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo dengan adanya kegiatan sorogan yang dibuktikan dengan peningkatan kemampuan mengetahui kitab kuning oleh nahwu, sorof dan juga muroti (menafsirkan) setiap kata yang terkandung dalam kitab kuning.
Faktor pendukung dan faktor penghambat implementasi metode sorogan kitab kuning di Pondok Pesantren Darussalam metode sorogan kitab kuning di Pondok Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo. Kemampuan membaca kitab kuning dapat dikatakan baik apabila memenuhi indikator sebagai berikut: pertama, siswa dapat membaca teks. 85 Ridho Hidayah, “Meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning dengan metode Sorogan bagi santri Pesantren Walisongo”, 67.
Faktor pendukung dan faktor penghambat dalam penerapan metode sorogan kitab kuning di Pondok Pesantren Darussalam Bangunsari Ponorogo secara umum ada dua faktor pendukung. Dapat dijadikan sebagai arsip dan inventarisasi yang selanjutnya dapat dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan membaca kitab kuning siswa melalui metode sorogan.
PENUTUP
Simpulan
Pada kelas pertama santri di Pondok ini mereka mempelajari asas-asas nahwu dan sorof, seperti tanda-tanda isim, apa itu ikrob dan bagaimana tafsirannya, dan di kelas ini mereka mempelajari kitab safinatun najah. Jika anda masuk darjah dua, maka pengajian anda sudah mula membincangkan apa jawatan anda, cara membacanya dan susunan perkataan yang sesuai untuk ayat tersebut, belajarlah di kelas ini kitab fathul qorib iaitu mata. Dan untuk kelas ketiga sudah berbincang tentang semua yang dipelajari di kelas 1 dan 2 dan menambah sedikit ilmu yang mendalam, dan di kelas 3 ini mempelajari kitab fatqul qarib iaitu sarah.
Pertama, kelengkapan sarana dan prasarana yang disediakan pondok cukup untuk melaksanakan kegiatan sorogan. Sedangkan faktor penghambatnya adalah masih ada beberapa siswa yang tidak mengikuti sorogan dengan berbagai alasan yang jelas atau tidak jelas. Misalnya sering datang terlambat, sering mengobrol dengan siswa lain, ada yang belum belajar dan ketika ditanya masih bingung menjawab sampai poin ada yang tidak.
Karena metode sorogan mengajarkan bahwa siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga harus belajar praktek. Dengan belajar praktek, siswa dapat mengetahui letak kesalahannya sehingga siswa dapat memperbaiki kesalahan tersebut.
Saran
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi khazanah keilmuan baru dan mampu meningkatkan pemahaman pembaca terhadap kegiatan Sorogan. Efektifitas Penerapan Metode Sorogan dengan Kemampuan Membaca Buku Pesantren Safinatun Najah Santri Al-Inaaroh Desa Mertapada Kulon Kecamatan Astanapura Kabupaten Cirebon. Kebijakan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun di Pondok Pesantren Salafiyah Bin Ba Center Yogyakarta.