Nama : Nia Ramadhani
NIM : 222101030068
Mata Kuliah : Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah, dan Pesantren
Kelas : MPI C4
Dosen Pengampu : Dr. Ahmad Royani, M.Pd.I
1. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah salah satu strategi dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah, madrasah dan pesantren. MBS juga merupakan bentuk otonomi manajemen pendidikan pada satuan pendidikan, yang dalam hal ini kepala sekolah/madrasah, pengasuh pesantren/kiai dan guru dibantu oleh komite sekolah/madrasah dan pesantren dalam mengelola kegiatan pendidikan. Program ini memberdayakan seluruh potensi dan stakeholder sekolah/madrasah dan pesantren sesuai kebijakan pemerintah.
2. Perbedaan Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah (MBS/M) dengan Manajemen Berbasis Pusat (MBP) terletak pada cara pengambilan keputusan dan keterlibatan pihak-pihak terkait dalam proses pengambilan keputusan. Pada MBP, keputusan- keputusan dibuat oleh pusat dan kemudian diterapkan di sekolah, sehingga sekolah tidak memiliki kemandirian dan tidak berdaya dalam pengambilan keputusan. Dalam MBS/M, keputusan-keputusan dibuat oleh sekolah dengan keterlibatan pihak-pihak terkait seperti guru, orang tua siswa, siswa, dan masyarakat yang berada di dekat sekolah.
Contoh perbedaan MBS/M dengan MBP adalah dalam pengambilan keputusan tentang penggunaan anggaran sekolah. Pada MBP, anggaran sekolah dikelola oleh pusat dan kemudian diterapkan di sekolah, sehingga sekolah tidak memiliki kewenangan dalam penggunaan anggaran. Sebaliknya, pada MBS/M, anggaran sekolah dikelola oleh sekolah sendiri dengan keterlibatan pihak-pihak terkait, sehingga sekolah memiliki kewenangan dalam penggunaan anggaran dan dapat mengambil keputusan yang lebih sesuai dengan kebutuhan sekolah.
3. berikut adalah implementasi aktivitas manajerial dalam MBS/M (Manajemen Berbasis Sekolah/Manajemen Madrasah) dari perspektif berbagai teori manajemen:
a. Perencanaan
- Teori klasik, merumuskan tujuan pendidikan, menetapkan strategi untuk mencapai tujuan tersebut, dan mengidentifikasi langkah-langkah yang diperlukan.
- Teori Humanistik, perencanaan juga memperhatikan faktor manusiawi seperti motivasi guru dan siswa, serta kepuasan kerja mereka
- Teori Kontingensi, perencanaan disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan unik sekolah atau madrasah
- Teori sistem, Perencanaan diintegrasikan dengan fungsi manajemen lainnya, seperti pengorganisasian dan pengawasan.
b. Pengorganisasian
- Teori klasik, Sekolah menetapkan struktur organisasi yang jelas dengan tugas yang terdefinisi, wewenang yang jelas, dan tanggung jawab yang terinci.
- Teori humanistik, Pengorganisasian memperhatikan aspek sosial seperti komunikasi yang baik dan atmosfer yang mendukung.
- Teori kontingensi, Struktur organisasi disesuaikan dengan perubahan lingkungan.
- Teori sistem, Pengorganisasian dipandang sebagai sistem kompleks yang terdiri dari berbagai bagian yang saling terkait dan berinteraksi.
c. Penggerakan
- Teori klasik, Kepemimpinan diarahkan pada penggunaan wewenang dan pengarahan untuk memotivasi staf dan siswa.
- Teori Humanistik, Penggerakan melibatkan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia, memperhatikan kebutuhan individu dan memberikan dukungan yang diperlukan.
- Teori Kontingensi, Gaya kepemimpinan disesuaikan dengan situasi dan karakteristik individu.
- Teori Sistem, Penggerakan dipandang sebagai bagian integral dari proses yang melibatkan interaksi antara berbagai elemen organisasi.
d. Pengawasan
- Teori Klasik, Pengawasan melibatkan pemantauan kinerja dan perbandingannya dengan standar yang ditetapkan.
- Teori Humanistik, Pengawasan juga memperhatikan aspek psikologis
- Teori Kontingensi, Pengawasan disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan karakteristik organisasi
- Teori Sistem, Pengawasan dilihat sebagai bagian integral dari proses manajemen yang terhubung dengan fungsi lainnya.
4. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki fungsi yang sangat penting dalam masyarakat Indonesia. Dalam perspektif Undang-Undang (UU) Pesantren Nomor 18 Tahun 2019, pesantren memiliki tiga fungsi utama, yaitu:
- Sebagai lembaga pendidikan, Pesantren sebagai lembaga pendidikan memiliki tujuan yang sama dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, akhlak mulia, serta memegang teguh ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin
- Sebagai lembaga dakwah, yaitu sebagai tempat untuk menyebarluaskan ajaran Islam dan meningkatkan kesadaran agama di kalangan masyarakat
- Lembaga pemberdayaan masyarakat, yaitu sebagai tempat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan dan agama dalam kehidupan sehari-hari
5. Motivasi memiliki peran penting dalam Lembaga Pendidikan Islam karena mempengaruhi kesadaran siswa tentang tujuan pendidikan dan bagaimana mereka dapat mencapai tujuan tersebut. Dalam Lembaga Pendidikan Islam, motivasi belajar tidak hanya berfokus pada pencapaian prestasi akademis, tetapi juga pada pengembangan karakter siswa yang berbasis pada nilai-nilai agama dan budaya Islam.
6. Dalam sudut pandang Islam manajemen diistilahkan dengan menggunakan kata al- tadbir (pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak terdapat dalam Al Qur’an seperti firman Allah SWT :
اَّمِّم ٍةَنَس َفألَأ ُه ُراَدأقِّم َناَك ٍم أوَي يِّف ِّهأيَلِّإ ُج ُرأعَي َّمُث ِّض أرَ ألْا ىَلِّإ ِّءاَمَّسلا َنِّم َرأمَ ألْا ُرِّ بَدُي َنوُّدُعَت
Artinya : Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (As Sajdah : 05).
Contoh hadis dalam pengawasan dari fungsi manajemen dapat dijumpai dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari sebagai berikut:
Al-Bukhari Muslim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Suatu malam aku menginap di rumah bibiku, Maimunah. Setelah beberap saat malam lewat, Nabi bangun untuk menunaikan shalat. Beliau melakukan wudhu` ringan sekali (dengan air yang sedikit) dan kemudian shalat. Maka, aku bangun dan berwudhu` seperti wudhu`
Beliau. Aku menghampiri Beliau dan berdiri di sebelah kirinya. Beliau memutarku ke arah sebelah kanannya dan meneruskan shalatnya sesuai yang dikehendaki Allah…”
Dari peristiwa di atas dapat ditemukan upaya pengawasan Nabi Muhammad terhadap Ibnu ‘Abbas yang melakukan kesalahan karena berdiri di sisi kiri beliau saat menjadi makmum dalam shalat bersama Beliau. Karena seorang makmum harus berada di sebelah kanan imam, jika ia sendirian bersama imam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan kekeliruan Ibnu ‘Abbas dengan dalih umurnya yang masih dini, namun beliau tetap mengoreksinya dengan mengalihkan posisinya ke kanan beliau.
Dalam melakukan pengawasan, beliau langsung memberi arahan dan bimbingan yang benar