• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMINIMALISISIR LIMBAH SAYUR UMKM MEKAR JAYA DENGAN PENDEKATAN GREEN SUPPLY CHAIN MANAGEMET, MENGGUNAKAN METODE FMEA

Sinta Sulanda

Academic year: 2023

Membagikan " MEMINIMALISISIR LIMBAH SAYUR UMKM MEKAR JAYA DENGAN PENDEKATAN GREEN SUPPLY CHAIN MANAGEMET, MENGGUNAKAN METODE FMEA"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

MEMINIMALISISIR LIMBAH SAYUR UMKM MEKAR JAYA DENGAN PENDEKATAN GREEN SUPPLY CHAIN

MANAGEMET, MENGGUNAKAN METODE FMEA

LAPORAN TUGAS GREEN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT

DISUSUN OLEH : SINTA BELLAH SULANDA

(561419030)

HALAMAN JUDUL

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

2022

(2)

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan kerja praktek dengan judul ” Meminimalisisr Limbah Sayur Umkm Mekar Jaya Dengan Pendekatan Green Supply Chain Managemet , Menggunakan Metode FMEA ”

Penyusunan laporan ini tentunya tidak lepas dari berbagai pihak yang telah mengizinkan, membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyelesaian laporan ini, untuk itu kami ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada :

1. Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan rezeki-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan dan menyelesaikan laporan kerja praktik.

2. Bapak Idham Halid Lahay, ST., M.Sc selaku Dosen matakuliah Green Supply Chain Management

3. Kak Yolanda Lapai S.T selaku asisten Dosen

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna dan banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik, masukan, dan saran untuk laporan ini. Semoga laporan kerja praktik ini dapat memberikan manfaat bagi penulis, perusahaan, dan pembaca sekalian.

Gorontalo, 23 Desember 2022

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...i

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

DAFTAR TABEL...v

DAFTAR GAMBAR...vi

DAFTAR LAMPIRAN...vii

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...3

1.3 Tujuan...3

1.4 Batasan Masalah...3

1.5 Manfaat...3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...4

2.1 Profil UMKM...4

2.2 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)...4

2.3 Green Supply Chain Management (GSCM)...5

2.3.1 Eco- Desain...5

2.3.2 Green Manufacturing...6

2.3.3 Green Purchasing...6

2.3.4 Cooperation with Customers...7

2.3.5 Green Information Systems...7

2.4 Supply Chain Operation Reference (SCOR)...7

2.5 Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)...9

(4)

2.5.1 Tahapan dalam pembuatan FMEA...10

2.6 Fault Tree Analysis...10

2.6.1 Tahapan untuk melakukan analisis dengan Fault Tree Analysis...11

BAB III METODOLOGI PENELITIAN...13

3.1 Metode Pengumpulan Data...14

3.2 Metode Pengolahan dan Analisa Data...14

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...16

4.1 Pemetaan Menggunakan SCOR...16

4.2 Failure Modes and Effect Analysis (FMEA)...17

4.2.1 Menghitung Nilai RPN...21

4.3 Fault Tree Analysis...21

4.3.1 Analisis dan Saran Pengendalian...22

BAB V PENUTUP...28

4.1 Kesimpulan...28

4.2 Saran...28

DAFTAR PUSTAKA...29

LAMPIRAN...32

(5)

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Simbol-simbol Fault tree...11

Tabel 4. 1 Pemetaan Aktivitas...16

Tabel 4. 2 Analisis FMEA...17

Tabel 4. 3 Severity dan Kriterianya...18

Tabel 4. 4 Occurrance dan kriterianya...19

Tabel 4. 5 Skala Detection dan kriterianya...20

Tabel 4. 6 Rata-rata Nilai RPN...21

Tabel 4. 7 Analisis dan Saran Pengendalian...23

(6)

DAFTAR GAMBA

Gambar 3. 1 Kerangka Metode Penelitian...13 Gambar 4. 1 Fault Tree Limbah Sayur...22

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Angket FMEA...32 Lampiran 2. Dokumentasi...44

(8)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia memiliki peran penting dalam banyak aspek ekonomi nasional. Setiap kegiatan industri tidak hanya akan memberi dampak positif maupun negatif pada perekonomian, namun juga dampak lain yaitu lingkungan. Khususnya pada industri manufaktur yang lebih berpotensi menghasilkan limbah lebih banyak. Selain itu juga terdapat beberapa masalah lingkungan yang signifikan saat ini, di mana manusia memainkan peran penting dalam penyebabnya. Masalah perubahan lingkungan tentu akan memengaruhi kesehatan masyarakat yang tinggal disekitar wilayah industri yang mengalami penurunan kualitas lingkungan (Brilliana, Baihaqi, & Persada, 2020).

Tidak hanya perusahaan besar, UMKM juga memiliki peran dalam menjaga lingkungan sekitar dalam mengurangi polusi industri. Salah satu penyebab polusi industri adalah kehadiran industri skala kecil dalam jumlah yang besar. Banyak industri skala kecil dan pabrik yang tidak memiliki modal yang cukup dan bergantung pada hibah pemerintah untuk menjalankan bisnis sehari-hari. Mereka sering lolos dari peraturan lingkungan dan mengeluarkan sejumlah besar gas beracun di atmosfer. Kewajiban perusahaan untuk menjaga lingkungan sekitar, sudah tertulis dalam Undang-Undang No 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian pasal 30, yang mewajibkan perusahaan industri untuk mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam secara efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan (Indonesia, 2014). Selain itu, sebagaimana pada pasal 79 dan pasal 80, perusahaan Industri wajib memenuhi ketentuan standar Industri Hijau yang disusun dan ditetapkan oleh menteri.

Strategi GSCM merupakan konsep yang mengacu pada usaha-usaha untuk meminimalkan dampak negatif dari suatu organisasi dan rantai pasoknya terhadap lingkungan yang berkaitan dengan perubahan iklim, polusi dan sumber-sumber daya yang tidak diperbaharui. GSCM mengintegrasikan supply chain management dengan tujuan mengurangi dampak lingkungan yang diakibatkan siklus hidup produk maupun limbah yang dihasilkan dari hasil produksi dengan

(9)

melakukan harmonisasi dengan supply chain partner untuk melakukan tindakan- tindakan yang menunjang proses bisnis yang berwawasan lingkungan. Dalam mewujudkan hal ini, aktivitas-aktivitas yang terkait didalamnya adalah kerjasama dari beberapa pihak sangat dibutuhkan dalam proses penerapan GSCM ini seperti suppliers, customer, serta pemerintah yang dapat ikut serta dalam aktivitas- aktivitas GSCM ini.

Menurut data BPS Provinsi Gorontalo tahun 2022 terdapat sekitar 2664 UMKM yang berada di Bone Bolango yang dapat menghasilkan macam-macam limabah dan dapat memberikan dampak buruk terhadap lingkungan, salah satunya yaitu UMKM Mekar Jaya. UMKM Mekar Jaya merupakan UMKM yang terletak di Desa Tunas Jaya, Kecamatan Bonepantai, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. UMKM ini termasuk UMKM baru karena produksi pertama dimulai pada tanggal 15 Juni 2022 dan sedang berada pada tahap pedampingan. UMKM Mekar Jaya ini merupakan UMKM yang memproduksi sayur-sayuran berupa sayur kangkung, sawi, serta sayur bayam. Sayur-sayur yang di produksi ini nantinya akan di jual di pasar Desa Tunas Jaya. Sayur-sayur yang dihasilkan ini hanya akan bertahan hingga 2-3 hari, jika sayur sudah terlalu lama maka akan menurunkan harga dari sayur tersebut karena keadaan sayur yang sudah tidak bagus lagi, bahkan sayur biasanya hanya dubuang tanpa dimanfaatkan kembali.

Sayur yang dibuang akan menjadi limbah. Limbah sayur yang dihasilkan dapat berpengaruh terhadap lingkungan sekitar apalagi dengan jumlah yang banyak karena jenis limbah ini merupakan limbah padat oranik yang mengandung kadar air yang tinggi dan cepat membusuk serta dapat menimbulkan bau tidak enak bagi lingkungan sekitar (Tusania, 2019). Walaupun limbah ini termasuk kedalam jenis limbah organic yang dapat teruarai dengan mudah tetapi dampak dari limbah ini juga termasuk kedalam limbah berbahaya karena limbah yang dihasilkan dapat menyumbang polusi bagi lingkungan pasar dan masyarakat, serta menimbulkan bau busuk, dan dapat mengakibatkan penyakit bagi masyarakat (Mushollaeni &

Fitasari, 2021). Maka dari itu diperlukan tindakan yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan pencemaran dari hasil limbah tersebut.

Hal ini merupakan alasan bagi penulis untuk membuat penerapan green supply chain management dengan menggunakan metode SCOR sebagai pemetaan

(10)

proses terjadinya limbah, metode FMEA digunakan untuk menentukan proses apa yang menghasilkan limbah terbanyak dilihat dari nilai RPN tertinggi serta metode FTA yang digunakan sebagai analisis dari penyebab terjadiya limbah yang dihasilkan dari produksi sayur pada UMKM Mekar Jaya agar limbah tersebut dapat dimanfaatkan kembali dan tidak mencemari lingkungan sekitar.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan yang di dapatkan dari hasil wawancara adalah bagaimana penerapan green supply chain management serta meminimalisir limbah dari hasil sayuran yang sudah busuk menggunakan metode SCOR, FMEA dan FTA agar dapat dimanfaatkan kembali dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.

1.3 Tujuan

Tujuan penelitian ini yaitu untuk meminimalisisr terjadinya limbah pada proses pengolahan limbah dari hasil produksi sayur-sayuran pada UMKM Mekar Jaya sebagai penerapan green supply chain management (GSCM)

1.4 Batasan Masalah

1. Pengambilan data di lakukan di UMKM Mekar Jaya, Desa Tunas Jaya, Kecamatan Bonepantai, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo

2. Data yang digunakan berupa data wawancara langsung dengan ketua UMKM 1.5 Manfaat

Memberikan manfaat untuk Masyarakat serat UMKM agar dapat mengetahui bagaimana cara peminimalisiran limbah yang dihasilkan dari UMKM Mekar Jaya serta mengurangi dampak pencemaran lingkungan.

(11)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Profil UMKM

UMKM Mekar Jaya merupakan UMKM yang terletak di Desa Tunas Jaya, Kecamatan Bonepantai, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. UMKM ini memproduksikan sayur-sayuran berupa sayur kangkung, sawi, serta sayur bayam. Sayur-sayuran yang dihasilkan merupakan sayuran yang diproduksi dari kebun sendiri tanpa membeli dari orang lain, UMKM ini di Ketuai oleh Ibu Hartati yang merupakan masyarakat asli Desa Tunas Jaya. UMKM ini berdiri pada tanggal 15 Juni 2022 dengan jumlah aggota 12 orang.

2.2 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) adalah jenis kegiatan ekonomi yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia sebagai tumpuan dalam memperoleh pendapatan untuk kelangsungan hidupnya. Peranan UMKM dalam perekonomian Indonesia bukan hanya sebagai penyerap tenaga kerja karena persentasenya yang mencapai 90% jika dibandingkan dengan usaha besar, tetapi juga mampu memperkenalkan berbagai produk lokal ke dunia internasional (Suyadi, Syahdanur, & Suryani, 2018). Menurut Rudjito (2003) Mengemukakan bahwa pengertian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) adalah usaha yang punya peranan penting dalam perekonomian Negara Indonesia, baik dari sisi lapangan kerja yang tercipta maupun dari sisi jumlah usahanya.

Pada Bab I pasal 1 UU No 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), maka yang dimaksud dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah adalah:

1) Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

2) Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari. Usaha Menengah

(12)

atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini.

3) Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini (Hamidah Ratri, Sejati Pambudi Tri, & Mujahidah Zulfatu, 2019).

Berdasarkan definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) adalah suatu bentuk usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

2.3 Green Supply Chain Management (GSCM)

Green supply chain management merupakan penambahan komponen

green” atau ramah lingkungan pada manajemen rantai pasok yang menyangkut penekanan pada pengaruh dan hubungan dari pengelolaan rantai pasok kepada lingkungan alam (A, M., Baihaqi & D.S, 2019). Green supply chain management juga merupakan praktik pengelolaan perusahaan dalam rantai pasokan (supply, manufacturing, distribution sampai ke produk sampai ke konsumen). Green supply chain management mengarah pada cara dimana inovasi dalam supply chain management dan pembelian industri dapat dilakukan pertimbangan dalam kontens lingkungan. Praktek yang dilakukan untuk memantau dan meningkatkan kinerja lingkungan dalam rantai pasokan.

Literature menunjukkan bahwa terdapat lima praktek kerja green supply chain management yaitu green manufacturing, green purchasing, eco- design, cooperation with customers dan green information systems terhadap kinerja perusahaan/organisasi.

2.3.1 Eco- Desain

Eco-design merupakan suatu usaha untuk menciptakan produk yang berkelanjutan dengan memasukkan perimbangan lingkungan di seluruh siklus

(13)

hidup dari akuisisi bahan baku hingga pembuangan akhir. Menurut Nevins dan Whitney (1989) Eco-design mengacu pada desain lingkungan dari suatu produk maupun proses. Dimana Eco-design fokus pada pengurangan dan pencegahan efek lingkungan dari suatu produk sebelum di lakukan proses produksi, distribusi dan digunakan Eco-design dianggap sebagai alat pencegahan pencemaran utama, pada bagian desain produk atau proses sebagaian besar karakteristik produk ditetapkan. Diperkirakan sekitar 70 hingga 80 persen dari biaya siklus hidup produk ditentukan selama desain. Karena Eco-design merupakan kegiatan yang berkaitan dari desain hingga produks, dimana tujuan utama dari penerapan sistem tersebut adalah untuk 11 meminimalkan dampak lingkungan dan tefokus pada produk daur ulang serta penggunaan ulang (Vijayvargy dan Agarwal, 2014).

2.3.2 Green Manufacturing

Green manufacturing adalah upaya dalam mengurangi limbah berbahaya pada proses produksi guna melindungi lingkungan yang terdampak. Dengan demikian, adanya evolusi teknologi dan ilmu pengetahuan dalam suatu teknologi

“hijau” yang berhubungan dengan kelestarian lingkungan. Proses produksi dengan label green manufacturing dapat mengurangi dampak lingkungan. Dengan banyaknya perusahaan yang tidak memperhatikan efek limbah lingkungan, pembuangan dan emisi dapat mempengaruhi kelestarian lingkungan akibat limbah dari bekas produksi. Green manufacturing diharapkan suatu proses yang dapat mengurangi pengaruh negatif dari proses produksi pada lingkungan. Dengan demikian inovasi teknologi ramah lingkungan telah digunakan pada konsep remanufaktur, manufaktur, daur ulang dan efisiensi energi. Berdasarkan hasil penelitian bahwa praktik kerja dan proses teknologi green manufacturing diperlukan untuk mengurangi kerusakan lingkungan.

2.3.3 Green Purchasing

Pada green purchasing terdapat tujuh komponen yang mempengaruhi pembelian yaitu jenis produk, bentuk, merek, penjualan, produk berkualitas, waktu pembelian dan cara bayar. Green purchasing merupakan pembelian yang dilakukan berdasarkan prinsip lingkungan, Green purchasing adalah suatu bentuk praktik penerapan pemilihan untuk membeli produk dengan mengedepankan

(14)

prinsip ramah lingkungan. Green purchasing diukur sebagai niat dan perilaku pembelian produk ramah lingkungan, dengan mengacu pada kesediaan konsumen untuk membeli green product. Faktor niat beli konsumen adalah penentu dalam memberikan motivasi dalam meningkatkan pembelian produk yang ramah lingkungan.

2.3.4 Cooperation with Customers

Pelanggan atau customers merupakan kepentingan utama dalam sebuah suppy chain dan customers dapat mempengaruhi kinerja dari suatu perusahaan.

Komsumen berperan positif dalam sistem green supply chain management, karena pelanggan mementingkan keamanan serta efek negatif dari suatu produk maupun proses produksi.

2.3.5 Green Information Systems

Green information system mengacu pada penggunaan sistem informasi yang mana dapat mempromosikan suatu produksi ramah lingkungan. Dengan demikian hal tersebut mampu mengoptimalkan kegiatan perusahaan menuju inovasi dan praktik hijau atau ramah lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian El- Gayar dan Fritz (2006), bahwa green information system merupakan suatu sistem utama dalam upaya penerapan green management dan untuk memenuhi kebutuhan supply chain. Penerapan green information system oleh suatu perusahaan diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan kinerja perusahaan, meningkatkan kualitas, efisiensi dan mengurangi biaya. Green information system tidak hanya berdampak positif terhadap koordinasi dan integrasi dengan praktik supply chain, namun secara 13 signifikan berpengaruh terhadap lingkungan dan ekonomi sehingga berpengaruh terhadap kinerja perusahaan (Marliana, 2020).

2.4 Supply Chain Operation Reference (SCOR)

SCOR adalah sebuah metode yang dikembangkan oleh Supply Chain Council atau Dewan Rantai Suplai, SCOR menyajikan mengenai kerangka proses bisnis, indikator kinerja, serta teknologi untuk mendukung kolaborasi antarmitra rantai suplai. Penggunaan metode ini demi memberikan sebuah alternative ataupun solusi terhadap permasalahan yang terjadi dengan menggunakan tolak ukur yang digunakan untuk mengukur kinerja operasional dari perusahaan dan

(15)

menetapkan target-target yang akan dicapai perusahaan. SCOR adalah sebuah bahasa rantai suplai, yang dapat digunakan dalam berbagai konteks untuk merancang, mendeskripsikan, dan mengkonfigurasi ulang berbagai jenis aktivitas komersial bisnis. Penerapan metode SCOR dalam batas-batas tertentu cukup fleksibel dan dapat disesuaikan untuk meningkatkan produktivitas demi memenuhi kebutuhan konsumen. SCOR merupakan model referensi proses yang menggabungkan konsep-konsep dalam rekayasa ulang proses bisnis, benchmarking, dan pengukuran proses (Wulandari, Buana, Jumaryadi, & Buana, 2021).

SCOR membagi proses-proses supply chain menjadi 5 proses inti, yaitu plan, source, make, deliver, dan return. Uraiannya adalah sebagai berikut:

1. Plan

Yaitu proses yang menyeimbangkan permintaan dan pasokan untuk menentukan tindakan terbaik dalam memenuhi kebutuhan pengadaan, produksi, dan pengiriman. Plan mencakup proses menaksir kebutuhan distribusi, perencanaan dan pengendalian persediaan, perencanaan produksi, perencanaan material, perencanaan kapasitas, dan melakukan penyesuaian supply chain plan dengan financial plan.

2. Source

Yaitu proses pengadaan barang maupun jasa untuk memenuhi permintaan.

Proses yang dicakup termasuk penjadwalan pengiriman dari supplier, menerima, mengecek, dan memberikan otorisasi pembayaran untuk barang yang dikirim supplier, memilih supplier, mengevaluasi kinerja supplier, dan sebagainya. Jenis proses bisa berbeda tergantung pada apakah barang yang dibeli termasuk stocked, make to-order, atau engineer-to-order products.

3. Make

Yaitu proses untuk mentransformasikan bahan baku/komponen menjadi produk yang diinginkan pelanggan. Kegiatan make atau produksi bisa dilakukan atas dasar ramalan untuk memenuhi target stok, atas dasar pesanan, atau engineer-to-order. Proses yang terlibat di sini antara lain adalah penjadwalan produksi, melakukan kegiatan produksi dan melakukan

(16)

pengetesan kualitas, mengelola barang setengah jadi (work-in-process), memelihara fasilitas produksi, dan sebagainya.

4. Deliver

Merupakan proses untuk memenuhi permintaan terhadap barang maupun jasa. Biasanya meliputi order management, transportasi, dan distribusi. Proses yang terlibat diantaranya adalah menangani pesanan dari pelanggan, memilih perusahaan jasa pengiriman, menangani kegiatan pergudangan produk jadi, dan mengirim tagihan ke pelanggan.

5. Return

Yaitu proses pengembalian atau menerima pengembalian produk karena berbagai alasan. Kegiatan yang terlibat antara lain identifikasi kondisi produk, meminta otorisasi pengembalian cacat, penjadwalan pengembalian, dan melakukan pengembalian. Post-delivery customer support juga merupakan bagian dari proses return (Rumahorbo, Wahyuda, & Profita, 2021).

2.5 Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)

FMEA adalah metode pengidentifikasian yang sistematis pada kerusakan atau kegagalan suatu objek untuk mengetahui sebab dan akibat serta tindakan yang diberikan untuk mengatasi masalah pada objek. Tujuan FMEA adalah untuk membantu mendefinisikan, mengidentifikasi, serta memprioritaskan kerusakan yang berpotensial merusak kerja sistem serta menyelesaikan kerusakan dengan rencana aksi yang ditetapkan sehingga dapat meminimalkan risiko yang terjadi (Aprianto, Nusyirwan, Prasetya, & dan Sonki, 2019). Terdapat 3 parameter yang digunakan untuk mengidentifikasi kegagalan pada FMEA, 3 parameter tersebut adalah sebagai berikut (Dewi & Prasanti, n.d.):

a)

Severity (Tingkat keparahan)

b)

Severity merupakan parameter tingkat keparahan yang ditimbulkan dari gagalan terhadap mesin atau komponen, semakin tinggi parameternya maka semakin memungkinkan mesin atau komponen terjadi kerusakan.

c)

Occurance (Frekuensi kejadian)

(17)

d)

Occurrance adalah frekuensi kejadian dari penyebab terjadinya kegagalan atau biasa disebut peluang munculnya kegagalan.

e)

Detection (Tingkat deteksi)

f)

Detection adalah penilaian berdasarkan tingkat deteksi pada penyebab kegagalan berdasarkan pengalaman dalam mendeteksi kegagalan pada mesin.

2.5.1 Tahapan dalam pembuatan FMEA

Proses kegiatan FMEA ini dilakukan dengan langkah sebagai berikut (Aprianto et al., 2019):

1.

Penetapan komponen / sistem, Pencarian komponen atau sistem yang sedang / akan mengalami kegagalan hingga harus melakukan FMEA.

2.

Pembentukan tim FMEA, terdiri dari orang-orang yang memiliki peran fungsionalis dalam proses serta mampu berkontribusi dalam hal pengalaman dan pengetahuan.

3.

Penggambaran alur proses kerja dari permasalahan yang ditemukan. Alur proses kerja berfungsi untuk mengetahui langkah yang harus diambil agar tetap pada bahasan yang diambil.

4.

Analisis failure modes, Pengidentifikasian penyebab / masalah yang muncul berdasarkan kegagalan yang terjadi

5.

Analisis failure effects, Pengidentifikasian akibat yang timbul dari kegagalan tersebut.

2.6 Fault Tree Analysis

Fault Tree Analysis atau biasa di singat menjadi FTA adalah teknik yang banyak dipakai untuk studi yang berkaitan dengan resiko dari keandalan dari suatu sistem engineering (Situmorang, 2019). Event potensial yang menyebabkan kegagalan dari suatu sistem engineering dan probabilitas terjadinya event tersebut dapat ditentukan dengan FTA. Sebuah top event yang merupakan definisi dari kegagalan suatu sistem (system failure), harus ditentukan terlebih dahulu dalam mengkonstruksikan FTA. Sistem kemudian dianalisa untuk menemukan semua kemungkinan yang didefinisikan pada top event. Fault Tree adalah sebuah model

(18)

grafis yang terdiri beberapa kombinasi kesalahan (faults) secara paralel dan secara berurutan yang mungkin menyebabkan awal dari failure event yang sudah ditetapkan. Setelah mengidentifikasi top event, event-event yang memberi kontribusi secara langsung terjadinya top event diidentifikasi dan dihubungkan ke top event dengan memakai hubungan logika (logical link). Gerbang AND (AND gate) dan sampai dicapai event dasar yang idependen dan seragam (mutually independent basic event). (Bakhtiar, A., Sembiring, J. I., & Suliantoro, 2018)

2.6.1 Tahapan untuk melakukan analisis dengan Fault Tree Analysis

Berikut merupakan tahapan untuk melakukan analisis dengan fault tree analysis.

a. Mengidentifikasi masalah dan kondisi batas dari suatu sistem batas yang ditinjau.

b. Penggambaran model grafis fault tree.

c. Mencari minimal cut set dari analysis fault tree.

d. Melakukan analisis fault tree.

Berikut merupakan simbol-simbol dalam FTA yang digunakan dalam menguraikan kejadian yang dirincikan.(Djamal & Azizi, 2015)

Tabel 2. 1 Simbol-simbol Fault tree

Simbol Keterangan

Top Event Logic Event OR Logic Event AND

Transfrred Event

Undeveloped Event

Basic Event

(19)

Keterangan : a. Top Event

Berfungsi untuk menyatakan kejadian yang muncul dari kombinasi kejadian-kejadian input gagal yang masuk gerbang.

b. Logic Even OR

Berfungsi untuk menyatakan kejadian yang akan muncul terjadi jika terdapat satu atau lebih kejadian gagal yang merupkan inputnya terjadi.

c. Logic Event AND

Berfungsi untuk mentakan kejadian output yang muncul hanya jika semua input terjadi.

d. Transffred Event

Merupakan titik dimana sub-fault tree dapat dimulai sebagai kelanjutan pada transfer out

e. Undeveloped Event

Berfungsi untuk menyatakan kejadian yang tidak dapat lagi berkembang, yaitu suatu kejadian kegagalan tertentu yang tidak dicari penyebab-nya lagi, karena tidak tersedia informasi yang terkait sehingga menjadi suatu kejadian akhir dari suatu masalah.

f. Basic Ivent

Berfungsi untuk menyatakan kegagalan mendasar yang tidak perlu dicari penyebab-nya.(Dhea & Wulan, 2022)

(20)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian merupakan tahapan penelitian yang harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum melakukan proses pemecahan masalah, sehingga penelitian dapat dilakukan dengan lebih terarah dan terkendali sehingga mempermudah dalam menganalisa permasalahan yang ada yaitu pemetaan proses, menggunakan metode SCOR, penentuan nilai RPN dengan FMEA, serta menganalisis penyebab terjadinya limbah dengan menggunakan FTA.

Gambar 3. 1 Kerangka Metode Penelitian

(21)

3.1 Metode Pengumpulan Data

Adapun metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data dalam penulisan tugas GSCM ini adalah :

1. Observasi

Pengumpulan data dengan cara mengamati langsung kelokasi tempat UMKM Mekar Jaya

2. Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data terhadap narasumber atau sumber data. Dalam penelitian ini peneliti mewawancara Ketua UMKM Mekar Jaya serta memberikan angket kepada anggota UMKM.

3.2 Metode Pengolahan dan Analisa Data

Penelitian ini menggunakan metode SCOR, FMEA dan FTA dengan melakukan pemetaan dengan menggunakan 5 proses inti pada metode SCOR yaitu plan, source, make, deliver, dan return. Mengetahui penyebab yang paling dominan menghasilkan limbah dari pemetaan aktivitas dengan nilai RPN yang tertinggi menggunakan metode FMEA serta pembuatan FTA untuk menganalisis penyebab limbah terjadi, sehingga membutuhkan beberapa tahap pada proses pengolahan dananalisa data yaitu:

1. Pemetaan kegiatan dalam SCOR dilakukan dengan menggunakan 5 proses dibawah ini

a) Rencana (Plan)

Perencanaan : Sebuah proses yang menyeimbangkan permintaan dan pasokan untuk menentukan tindakan terbaik dalam memenuhi kebutuhan pengadaan, produksi, dan pengiriman. Pada perencanaan yang dilakukan yaitu perencanaa dalam produksi sayur dalam artian penanaman dan pemanenan sayur .

b) Sumber (Source)

Sumber : Pengadaan produk persediaan (sourcing stocked), menurut pesanan (make to order) dan rancangan menurut pesanan (engineer to

(22)

order). Untuk UMKM Mekar Jaya sendiri menggunakan sitem Make To Stok dalam proses produksi karena UMKM ini telah mempersiapkan sayuran yang akan di pasarkan.

c) Proses (Make)

Proses : untuk mentransformasikan bahan baku/komponen menjadi produk yang diinginkan pelanggan. Untuk UMKM mekar jaya bahan baku yang digunakan di produksikan sendiri dengan menanam sayur di kebun dan di panen setiap minggu.

d) Kirim (Delivery)

Krim : Merupakan proses untuk memenuhi permintaan terhadap barang maupun jasa. Biasanya meliputi order management, transportasi, dan distribusi, di UMKM Mekar Jaya menggunakan motor sebagai alat transportasi dari tempat produksi hingga ke pasar sebagai tempat penjualan.

e) Pengembalian (Return)

Pengembalian : proses pengembalian atau menerima pengembalian produk karena berbagai alasan.

2. Menentukan Jenis faktor utama atau faktor yang mempunyai nilai tertinggi dalam penyebab terjadinya limbah pada UMKM Mekar Jaya, Pada tahap ini melakukan analisa terhadap penyebab terjadinya limbah dengan menggunakan FMEA dalam penetuan nilai RPN-Nya,

3. Setelah didapatkan penyebab tertinggi selanjutnya mengidentifikasi dan menganalisis penyebab terjadinya limbah menggunakan Fault Tree Anlysis (FTA) dengan metode ini akan didapatkan penyebab utama dari terjadinya limbah.

4. Usulan perbaikan dengan FTA (Fault Tree Analysis) berdasarkan basic iven yang didapatkan dari Fault Tree Analysis.

(23)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pemetaan Menggunakan SCOR

Metode Supply Chain Operations Reference menjelaskan bagaimana pemetaan aktivitas yang dilakukan untuk mendapatkan kerangka model yang nyata mengenai aliran bahan baku, aliran informasi dan aliran finansial dari suatu rantai pasok yang berpotensi menimbulkan limbah. Tabel di bawah ini merupakan pemetaan aktivitas proses produksi Sayur di UMKM Mekar Jaya yang diperoleh dari hasil wawancara ketua UMKM.

Tabel 4. 1 Pemetaan Aktivitas

Variable Aktivitas Pengaruh

Plan Perencanaan dalam pemanenan sayur untuk memproduksi sayuran yang akan di pasarkan

Pemanenan sayur yang berlebih dapat menimbulkan produksi sayur yang

berlebihan dan menyebabkan terjadnya limbah hasil produksi

Source Memperhatikan Kualitas bibit sayur yang akan di tanam

Bibit sayur yang tidak bagus akan mempengaruhi kualitas dari sayur itu

sendiri

Make

- Pada proses awal produksi yaitu

penanaman sayur Tidak menghasilkan limbah

- Pada proses Pemanenan Sayur

Menghasilkan jenis limbah organik yaitu berupa sayuran yang rusak/tidak

memenuhi kualitas

Deliver Pendistribusian hasil produksi di Pasar Jarak mempengaruhi pemborosan pada bahan bakar

(24)

4.2 Failure Modes and Effect Analysis (FMEA)

Tahapan dalam metode FMEA mengidentifikasi masalah yang terjadi dengan cara wawancara dan observasi. Dengan melalui wawancara dan observasi dapat diketahui jenis limbah yang dihasilkan oleh UMKM Mekar Jaya.

Wawancara dilakukan untuk mengetahui penyebab dan akibat dari adanya limbah tersebut.

Tabel 4. 2 Analisis FMEA

Item Penyebab Akibat

Pemanenan secara berlebihan

Tidak adanya perencanaan panen

yang dilakukan oleh pemilik UMKM Mekar

Jaya

Terjadinya penumpukan sayur yang berlebihan sehingganya apabila sayur tidak habis di jual maka akan menjadi limbah organik yang dapat mencemari lingkungan karena limbah tersebut dapat menimbulkan bau tidak sedap/tidak sedap

Kualitas Bibit sayur yang kurang baik

Kurangnya pengetahuan dalam

pemilihan bibit yang akan di

tanam

Dapat merusak sayur hasil produksi/gagal panen

Hasil panen yang rusak

Limbah ini berasal dari sayuran- sayuran gagal panen pada saat proses panen sayur

Dapat menimbulkan bau yang busuk karena menurut (Puger, 2018) Sampah organik dapat mengalami perubahan melalui dekomposisi anaerobik, sehingga menimbulkan bau busuk dan pelepasan gas metana (CH4) ke atmosfer serta dapat menimbulkan pencemaran udara sekitar

Jarak mempengaruh

i pemborosan pada bahan

bakar

Jarak antara kebun dan pasar yang

cukup jauh

Dapat menimbulkan polusi atau pencemaran udara karena efek pencemaran udara terhadap kesehatan manusia sangat berbahaya dapat terlihat dari beberapa efek yang ditimbulkan dari pencemaran udara akibat dari kendaraan bermotor dapat menyebabkan beberapa penyakit sebagai berikut :

- keracunan, kelumpuhan pada sistem syaraf, dan kematian

- Parameter Sulfur Dioksida (SO2), dapat menyebabkan iritasi pernapasan

- Parameter Partikel Debu (PM10 dan TSP), partikulat debu yang melayang dan berterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangi daya tembus pandangan mata

- Oksidan (O3), bila masuk kedalam tubuh dapat mengganggu pernapasan normal, dan oksidan fotokimia juga dapat menyebabkan iritasi mata (Indrayani & Asfianti, 2018).

(25)

Selanjutnya adalah pembuatan skala rating variabel dan kriterianya.

Pembuatan skala rating dan kriteria disesuaikan dengan masalah yang terjadi.

Pada penelitian ini kriteria yang digunakan yaitu sebagai berikut:

a. Severity (Tingkat keparahan)

Dalam penelitian ini, severity diterjemahkan sebagai tingkat keparahan dari dampak yang dihasilkan masalah limbah.

Tabel 4. 3 Severity dan Kriterianya

Skala Tingkat keparahan Kriteria

1 Sama sekali tidak

mengganggu

Sama sekali tidak menimbulkan akibat yang merugikan 2 Tidak terlalu mengganggu Menganggu pemandangan 3 Cukup mengganggu Membuat kotor lingkungan sekitar

4 Mengganggu Menimbulkan bau tidak sedap

5 Sangat mengganggu Menjadi sarang hewan (lalat, ulat, semut)

6 Agak berbahaya Mengganggu Proses produksi

7 Cukup berbahaya Dapat menyebabkan penyakit ringan

8 Bahaya ringan Dapat menyebakan penyakit

9 Berbahaya Menyebabkan penyakit berbahaya

10 Sangat berbahaya Menimbulkan penyakit yang sangat berbahaya

b. Occurrance (Frekuensi)

Variabel occurance dalam hal ini adalah frekuensi banyaknya jumlah limbah yang dihasilkan tiap satu Minggu.

Tabel 4. 4 Occurrance dan kriterianya

Skala Occurrance Kriteria

1 Hampir tidak pernah Kegagalan tidak mungkin terjadi 2 Tipis (sangat kecil) Jumlah kegagalan langka

3 Sangat sedikit Sangat sedikit kegagalan

4 Sedikit Beberapa kegagalan

5 Kecil Jumlah kegagalan sekali

6 Sedang Jumlah kegagalan sedang

7 Cukup tinggi Cukup tingginya jumlah kegagalan

8 Tinggi Jumlah kegagalan tinggi

9 Sangat tinggi Sangat tinggi jumlah kegagalan

10 Hampir pasti Kegagalan hampir pasti

(26)

c. Detection (Tingkat deteksi)

Variabel detection dalam hal ini adalah tingkat kesulitan pengola han limbah.

Tabel 4. 5 Skala Detection dan kriterianya

Skala Tingkat deteksi Kriteria

1 Sangat sulit Teknologi pengolahan sulit untuk dilakukan 2 Sulit Diperlukan alat/bahan tambahan berbiaya mahal

(>Rp 2.000.000), membutuhkan waktu ≥ 1 Jam 3 Cukup sulit Diperlukan alat/bahan tambahan berbiaya mahal

(>Rp 2.000.000), membutuhkan waktu ≤ 1 Jam 4 Dapat dilakukan Diperlukan alat/bahan tambahan berbiaya murah

(< Rp. 2.000.000), membutuhkan waktu ≥ 1 jam 5 Tidak terlalu

mudah Diperlukan alat/bahan tambahan berbiaya murah (< Rp. 2.000.000), membutuhkan waktu ≤ 1 jam 6 Agak mudah Alat/bahan yang dibutuhkan ada di perusahaan,

membutuhkan waktu ≥ 1 Jam

7 Cukup mudah Alat/bahan yang dibutuhkan ada di perusahaan, membutuhkan waktu ≤ 1 Jam

8 Mudah Tidak memerlukan alat/bahan

tambahan,membutuhkan waktu ≥ 1 Jam

9 Sangat mudah Tidak memerlukan alat/bahan

tambahan,membutuhkan waktu ≤ 1 Jam 10 Sangat mudah

sekali Tidak perlu proses tambahan

4.2.1 Menghitung Nilai RPN

Failure Modes and Effect Analysis (FMEA) disusun berdasarkan fungsi komponen yang kemudian dapat ditentukan berbagai penyebab terjadinya limbah yang menimbulkan pencemaran lingkungan. Dari nilai Severity , Occurrence dan Detection dapat diperoleh nilai RPN, yaitu dengan cara mengalikan ketiga unsur tersebut (RPN = S X O X D). Berdasarkan nilai RPN yang telah diperoleh maka dilakukanlah pengurutan berdasarkan nilai RPN tertinggi sampai dengan terendah

Tabel di bawah merupakan tabel nilai RPN yang diperoleh dari pengisian angket yang dilakukan oleh 12 orang anggota UMKM Mekar Jaya yang dapat dilihat pada lampiran 1

Tabel 4. 6 Rata-rata Nilai RPN N

O ITEM

RPN 1

RPN 2

RPN 3

RPN 4

RPN 5

RPN 6

RPN 7

RPN 8

RPN 9

RPN 10

RPN 11

RPN 12

Rata- Rata

1 Pemanenan secara 324 270 324 210 324 378 378 288 252 210 432 270 305

(27)

berlebihan 2

Kualitas Bibit sayur yang kurang

baik

90 90 90 126 108 90 120 56 30 90 120 120 94

3

Hasil panen yang

rusak 270 240 216 315 240 324 216 225 240 216 216 225 245

4

Jarak mempengaruhi pemborosan pada

bahan bakar

18 8 36 18 21 27 9 32 27 18 16 18 21

JUMLAH 665

Berdasarkan nilai RPN yang diperoleh, dari tabel di atas dapat diketahui bahwa terdapat 2 item dengan nilai RPN tertinggi yaitu pada item pemanenan secara berlebihan dengan nilai 305 dan hasil panen yang rusak dengan nilai 245.

Maka dari itu harus dilakukan analisis lebih lanjut terkait item pemanenan secara berlebihan dan hasil panen yang rusak tersebut dengan menggunakan metode fault tree analysis agar dapat diketahui basic ivent dari penyebab terjadinya limbah sayur pada UMKM Mekar Jaya.

(28)

4.3 Fault Tree Analysis

Setelah didapatkan 2 potential cause yang yang memiliki nilai RPN tertnggi ,langkah selanjutnya adalah membuat pohon kesalahan (Fault Tree) yang berfungsi untuk menjelaskan penyebab-penyebab terjadinya limbah dalam bentuk diagram pohon menggunakan simbol standar logika. Untuk membantu

meminimalisir jumlah limbah yang dihasilkan oleh UMKM Mekar Jaya, dilakukan penjelasan mengenai faktor-faktor penyebab terjadinya limbah. Berikut merupakan pohon kesalahan potential cause terbsesar yang akan diidentifikasi.

Berdasarkan fault tree di atas dapat dilihat bahwa penyebab dari terjadinya limbah sayur di tinjau dari 2 aspek utama yaitu pemanenan secara berlebihan dan hasil panen yang rusak. Pada aspek pemanenan secara berlebihan di sebabkan oleh 2 basic ivent yaitu kurangnya perencanaan jadwal panen dan kurang memahami kondisi pasar, sedangkan pada hasil panen yang rusak disebabkan oleh penggunaan dan pemilihan pupuk yang kurang tepat dan pemilihan bibit yang kurang baik.

Gambar 4. 1 Fault Tree Limbah Sayur

(29)

4.3.1 Analisis dan Saran Pengendalian

Saran dan pengendalian diberikan berdasarkan akar permasalahan yang didapat melalui Fault Tree Analaysis. Tabel 4.7 berikut menunjukkan deskripsi akar permasalahan dan saran perbaikannya :

Tabel 4. 7 Analisis dan Saran Pengendalian

No Akar Masalah Deskripsi Masalah Saran Pengendalian

1 Kurangnya perencanaan jadwal panen

Pada UMKM Mekar Jaya perncanaan jadwal panen belum dilakukan dengan maksimal yaitu tanpa memperhatikan

beberapa aspek-aspek, yang

menyebabkan terjadinya pemanenan secara berlebihan. karena menurut (Mutiarawati, 2007) waktu panen merupakan faktor penting dalam proses pemanenan. Panen harus dilakukan dalam waktu yang tepat agar produk hasil tanaman dapat dikonsumsi dan di produksi secara baik.

Untuk melakukan pemanenan harus dilakukan penjadwalan agar produksi sayur yang dihasilkan dapat di produksi secara maksimal (sesuai kebutuhan penjualan ) dalam penentuan waktu panen mana atau kombinasi cara mana yang sesuai untuk menentukan kematangan suatu komoditas, kita harus mengetahui proses pertumbuhan dan kematangan dari bagian tanaman yang akan dipanen. Pemanenan secara berlebihan dapat berdampak buruk pada aspek biaya yang akan di hasilkan karena akan membuat kerugian kepada petani, apabila penjualan tidak maksimal akan menurunkan pendapatan petani bahkan dapat merugikan petani.

2 Kurang memahami kondisi pasar

Sama halnya dengan kurangnya perencanaan, pada UMKM Mekar Jaya kurag memahami kondisi pasar pada saat melakulan penjualan sayur dipasar, mereka tidak melakukan prediksi terkait masyarakat yang akan datang kepasar dan menjadi konsumen mereka, sehingganya terkadang sayur yang mereka jual dipasar tidak terjual secara maksimal. Menurut (Payung, 2020) Dalam penelitianya dengan judul

“Analisis Strategi Pemasaran Dalam Meningkatkan Penjualan Produk”

Turunnya omset penjualan dan tidak

Untuk menanggulangi hal tersebut maka harus dilakukan analisis pasar sebelum melakukan penjualan dipasar karena pemasaran sangat berpengaruh terhadap hasil penjualan, pada proses pemasaran harus menggunakan beberapa strategi untuk mencapai target yang diinginkan. menurut (Nusantara, 2022) Dengan melakukan analisa yang baik dan tepat, Anda akan lebih bisa memahami keadaan pasar yang sesungguhnya

(30)

stabilnya omset penjualan dalam beberapa tahun merupakan indikasi lemahnya kekuatan persaingan dan strategi yang diterapkan oleh toko dalam menghadapi persaingan, sehingga perlu dikaji apa yang menjadi penyebab adanya penurunan penjualan serta strategi pemasaran seperti apa yang dapat meningkatkan penjualan.

sehingga strategi yang dilakukan untuk memasarkan produk bisnis yang di miliki akan berjalan dengan baik sehingga keuntungan bisnis meningkat. Seperti pada penelitian (Agribisnis, Anggraeni, Syahputri, & Geo, 2019) Dengan judul Analisis pemasaran sayur di desa alebo kabupaten konawe selatan menjelaskan bahwa diperlukan analisis strategi dalam melakukan pemasaran yaitu strategi distribusi seperti petani produsen melakukan proses pemasaran sayuran melalui pedagang pengumpul atau biasa disebut papalele dengan penentuan harga didominasi oleh pedagang pengumpul dan menempatkan petani sebagai penerima harga, kemudian ada strategi promosi, dan strategi harga yang bisa diterapkan.

Kondisi pasar yang tidak sesuai akan berpengaruh besar terhadap biaya yang akan dikeluarkan karena, apabila setiap harinya penjualan tidak maksimal karena konsumen yang tidak stabil akan menambah biaya pengeluaran untuk proses penyimpanan sayur dan dapat mengakibatkan kerugian bagi petani.

3 Penggunaan dan pemilihan pupuk yang kurang tepat

Pada UMKM Mekar Jaya ini pupuk yang digunakan belum sesuai karena pupuk yang digunakan yaitu pupuk daun sehingga hasil panen yang didapatkan mempunyai hasil yang tidak sesuai (rusak) yang mana menurut (Aditiameri, 2016) pupuk daun memiliki kelemahan, antara lain: kemungkinan terjadinya daun yang terbakar, masalah kelarutan, khususnya 117 dengan air dingin, perlu menyesuaikan kondisi cuaca saat aplikasi, penyerapan yang tidak efisien ketika Ph terlalu tinggi (dengan boron dan potassium), inkompatibilitas dengan

Pengendalian yang dilakukan yaitu memilih jenis pupuk yang tepat untuk tanaman sayur daun, karena untuk tanaman sayur daun jenis pupuk yang tepat yaitu harus mengandung natrium (N) yang tinggi. Untuk pupuk yang mengandung Natrium yang tinngi bisa menggunakan pupuk kandang atau pupuk cair organik, selain mudah didapatkan pupuk ini dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman, meningkatkan daya

(31)

bahan kimia tertentu, ketidak mampuan untuk mensuplai nutrisi yang cukup jika defisiensi parah, dan kemungkinan ketidak efisienan serapan dengan bertambahnya umur daun dalam kanopi atau dalam kondisi kekeringan sehingga dapat merusak tanaman

tahan tanaman terhadap penyakit, serta meningkatkan hasil produksi tanaman (Roidah, 2013). Pupuk organik juga merupakan pupuk yang mempunyai biaya cukup

murah sehingga tidak

menimbulkan kerugian pada petani karena untuk pembuatan pupuk yang nantinya akan digunakan yaitu pupuk organik dari limbah sayur dan beberapa kotoran hewan yang telah difermentasi. Bahan baku dari pupuk organik ini sendiri tidak mengeluarkan begitu banyak biaya karena salah satu bahan baku yang digunakan yaitu limbah dari produksi sayur yang diproduksi sendiri sehingga tidak merugikan petani.

4 Pemilhan bibit sayur yang kurang baik

Pemilihan benih atau bibit sayur yang ditanam sangat berpengaruh terhadap proses produksi sayur pada UMKM Mekar Jaya benih atau bibit yang di beli untuk ditanam tidak diperhatikan mereka tidak mengetahui bagaimana cara memilih benih atau bibit sayur yang baik agar sayur yang mereka rawat dapat tumbuh dengan subur dan tidak ada yang cacat.

Pengendalian yang dilakukan yaitu dengan cara memilih benih sayur dengan mempertimbangkan beberapa aspek seperti :

 Bersertifikat

 Kadar air benih

 Kemurnian benih

 Kotoran benih

 Benih tanaman lain

 Daya kecambah benih

 Kesehatan benih

Dengan mempertimbangkan aspek-aspek diatas maka sayur yang akan ditanam dapat tumbuh secara sehat karena benih menjadi faktor yang utama dalam bercocok tanam, semakin bagus benih yang di dapat semakin besar

pula kesempatan untuk

mendapatkan sayuran dengan kualitas terbaik. Benih sebaiknya dipilih yang sudah bermerk dan belum kadaluarsa (Sita, 2021).

Seperti pada penelitian (Lama &

(32)

Juan, 2016) dengan judul “Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Produksi Usaha Tani Sayur Sawi di Kelurahan Bensone Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara” menyatakan bahwa Berdasarkan hasil uji statistik ini dapat disimpulkan, bahwa benih secara parsial berpengaruh sangat nyata terhadap hasil produktivitas sayur sawi. artiya semakin besar jumlah benih yang digunakan maka akan menghasilkan produksi yang semakin tinggi. Hal ini juga disebakan karena petani ditempat penelitian selalu menggunakan benih yang unggul dan memiliki label. Biaya pembelian benih yang unggul cukup mahal dibandingkan dengan benih yang biasa saja, dengan perbedaan harga yang ada tidak dapat merugikan petani, karena apabila petani menanam dengan bibit yang unggul produksi yang dihasilkan akan menutupi biaya pembelian bibit tesebut, karena hasil produksi akan lebih baik dan berkualitas seperti penjelasan pada penelitian (Chan, 2021) dengan judul “Industri Perbenihan Dan Pembibitan Tanaman Hortikultura Di Indonesia : Kondisi Terkini Dan Peluang Bisnis “ menjelaskan bahwa Selain permasalahan import benih, permasalahan yang sering muncul di kalangan petani adalah sampai saat ini masih banyak petani yang menggunakan benih yang dibuat sendiri, tanpa

(33)

diketahui asal usulnya dan digunakan berulang-ulang, maka tentunya mutu benih tersebut semakin lama semakin menurun mutunya sehingga kemungkinan besar tidak dapat memberikan hasil yang memuaskan.

BAB V PENUTUP 4.1 Kesimpulan

Setelah dilakukan proses identifikasi penyebab terjadinya limbah sayur dengan menggunakan beberapa metode di atas didapatkan bahwa ada beberapa penyebab dasar (basic iven) yang dapat menyebabkan terjadinya limbah yaitu pemanenan secara berlebihan yang di sebabkan oleh kurangnya perencanaan jadwal panen dan kurang memahami kondisi pasar serta hasil panen yang rusak yang disebabkan oleh penggunaan dan pemilihan pupuk yang kurang tepat dan pemilihan bibit sayur yang kurang baik. Sebagai upaya dari penerapan green supply chain management, pengendalian yang di lakukan yaitu dengan pembuatan penjadwalan panen, melakukan analisis atau riset pasar, pemilihan jenis pupuk yang tepat serta pemilihan beni atau bibit yang berkualitas agar sayur yang sihasilkan juga berkualitas.

4.2 Saran

Saran yang dapat diberikan yaitu agar nanti penelitian selanjatnya dapat mengoptimalkan penerapan green supply chain management pada proses produksi sayur dengan melakukan beberapa kegiatan yang dapat membantu para petani untuk melakukan persiapan sebelum melakukan penanaman dan penjualan produk.

(34)

DAFTAR PUSTAKA

A, M., Baihaqi, J., & D.S, A. (2019). Analisis dan Perbaikan Kinerja Green Supply Chain Management Perusahaan ( Studi Kasus : Joint Operating Body Pertamina-, 8(1).

Aditiameri, A. (2016). Respon Pemberian Macam Pupuk Organik Dan Dosis Pupuk Daun Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Pakcoy (Brassica rapa …. AGRISIA-Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, 113–127. Retrieved from http://ejournal.borobudur.ac.id/index.php/3/article/viewFile/203/200

Agribisnis, J. I., Anggraeni, A., Syahputri, J., & Geo, L. O. (2019). Analisis pemasaran sayur mayur di desa alebo kecamatan konda kabupaten konawe selatan, 4(1), 22–28.

Aprianto, H. A., Nusyirwan, Prasetya, & dan Sonki. (2019). Analisis Kegagalan Gas Cooler pada Sistem Gas Compressor Menggunakan Metode FMEA.

Bakhtiar, A., Sembiring, J. I., & Suliantoro, H. (2018). Analisis Penyebab Kecacatan Dengan Menggunakan Metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) Dan Metode Fault Tree Analysis (FTA) Di PT . Alam Daya Sakti Semarang. Jurnal Ilmiah Teknik Industri, 6(2), 95–170.

Brilliana, C. W., Baihaqi, I., & Persada, S. F. (2020). Praktik Green Supply Chain Management (GSCM) pada UKM. Jurnal Teknik ITS, 9(1), 7–11.

https://doi.org/10.12962/j23373539.v9i1.48112

Chan, S. R. O. S. (2021). Industri Perbenihan Dan Pembibitan Tanaman Hortikultura Di Indonesia : Kondisi Terkini Dan Peluang Bisnis Sari Rukmana Okta Sagita Chan, 2(1), 26–31.

Dewi, E. S., & Prasanti, N. (n.d.). Analisis Kerusakan Mesin Pada Stasiun Pemurnian Yang Mempengaruhi Kadar Air Dari Kualitas Cpo Menggunakan Metode FMEA Di PT. Ujong Neubok Dalam. SITEKIN: Jurnal Sains, Teknologi Dan …, 19(2), 270–276.

Dhea, S., & Wulan, R. (2022). Analisis Defect Produk dengan Menggunakan Metode FMEA dan FTA untuk Mengurangi Defect Produk ( Studi Kasus : Garment 2 dan Garment 3 PT Sri Rejeki Isman Tbk ), 1–10.

Djamal, N., & Azizi, R. (2015). Identifikasi dan Rencana Perbaikan Penyebab Delay Produksi Melting Proses dengan Konsep Fault Tree Analysis (FTA) di PT. XYZ. Jurnal Intech Teknik Industri, 1(1), 34–45.

Hamidah Ratri, Q., Sejati Pambudi Tri, A., & Mujahidah Zulfatu, A. (2019). The Development of Small and Medium Businesses (MSMEs) Based on Tecnology to Deal with The Industrial Revolution 4.0 Qotrunnada, 2(Snip), 345–349.

(35)

Indonesia, P. (2014). Undang-Undang No 3 Tahun 2014 Tentang Perindustrian.

Retrieved from https://www.ptonline.com/articles/how-to-get-better-mfi- results

Indrayani, & Asfianti, S. (2018). PENCEMARAN UDARA AKIBAT KINERJA LALU-LINTAS Air Pollutions Due To Traffic Performance Of Motor Vehicles In Medan City, 13(1), 13–20.

Lama, M., & Juan, S. (2016). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Usaha Tani Sayur Sawi di Kelurahan Bensone Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara, 1(2502), 27–29.

Marliana, T. (2020). Analisis Penerapan Green Supply Chain Management Terhadap Kinerja Perusahaan Pada Ukm Kerajinan Tangan Kasongan Di Bantul Yogyakarta. Manajemen.

Mushollaeni, W., & Fitasari, E. (2021). Pemanfaatan Limbah Sayur dalam Formulasi Ransum Ayam Broiler. PRIMA: Journal of Community

Empowering and Services, 5(1), 29.

https://doi.org/10.20961/prima.v5i1.43803

Mutiarawati, T. (2007). Penanganan Pasca Panen Hasil Pertanian, 1–17.

Nusantara, P. mid S. (2022). Pentingnya Analisa Pasar Untuk Kepentingan Bisnis.

Enterpreneur. https://doi.org/10.21776/ub.jepa.2020.004.02.3

Payung, S. A. P. (2020). Analisis Strategi Pemasaran Dalam Meningkatkan Penjualan Produk. Retrieved from http://repo.uinsatu.ac.id/7623/

Puger, I. G. N. (2018). Sampah Organik, Kompos, Pemanasan Global,. Agro Bali (Agricultural Journal), 1(2), 127–136.

Roidah, I. S. (2013). Manfaat Penggunaan Pupuk Organik Untuk Kesuburan Tanah, 1(1).

Rumahorbo, E., Wahyuda, & Profita, A. P. (2021). MATRIK Perancangan dan Pengukuran Kinerja Supply Chain dengan Menggunakan Metode SCOR, XXII(1), 1–14. https://doi.org/10.350587/Matrik

Sita, D. P. (2021). Teknik Penyemaian Benih dan Bibit sayuran. Dinas Pertanian Pangan. Retrieved from https://pertanian.jogjakota.go.id/detail/index/15118 Situmorang, F. (2019). Analisa Penerapan K3 dengan Pendekatan Fault Tree

Analysis dalam Meningkatkan Produktivitas Kerja di PT. XYZ, 1, 1–79.

Suyadi, Syahdanur, & Suryani, S. (2018). Analisis Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM ) di Kabupaten Bengkalis-Riau, 29(1), 1–10.

(36)

Tusania, N. (2019). Pengolahan Limbah Sayuran Dengan Metode Conductive Drying, 1–11.

Wulandari, I. P., Buana, U. M., Jumaryadi, Y., & Buana, U. M. (2021).

Implementasi Metode SCOR 11 . 0 dalam Pengukuran Kinerja Supply Chain Management, (February). https://doi.org/10.32520/stmsi.v10i1.1111

(37)

LAMPIRAN Lampiran 1 Angket FMEA

FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS

JABATAN Ketua

No Item Potential effects of failure Potential cause of failure S O D RPN

1

Pemanenan secara berlebihan

Terjadinya penumpukan sayur yang berlebihan sehingganya apabila sayur tidak habis di jual maka akan menjadi limbah organik yang dapat mencemari lingkungan karena limbah tersebut dapat menimbulkan bau tidak sedap/tidak sedap

Tidak adanya perencanaan panen yang dilakukan oleh pemilik

UMKM Mekar Jaya 9 6 6 324

2

Kualitas Bibit sayur yang

kurang baik Dapat merusak sayur hasil produksi/gagal panen

Kurangnya pengetahuan dalam pemilihan bibit yang akan di

tanam 6 5 3 90

3 Hasil panen yang rusak

Dapat menimbulkan bau yang busuk karena menurut (Puger, 2018) Sampah organik dapat mengalami perubahan melalui dekomposisi anaerobik, sehingga menimbulkan bau busuk dan pelepasan gas metana (CH4) ke atmosfer serta dapat menimbulkan pencemaran udara sekitar

Limbah ini berasal dari sayuran- sayuran gagal panen pada saat

proses panen sayur 9 5 6 270

4

Jarak

mempengaruhi pemborosan pada bahan bakar

Dapat menimbulkan polusi atau pencemaran udara karena efek pencemaran udara terhadap kesehatan manusia sangat berbahaya dapat terlihat dari beberapa efek yang ditimbulkan dari pencemaran udara akibat dari kendaraan bermotor dapat

menyebabkan beberapa penyakit sebagai berikut :

- keracunan, kelumpuhan pada sistem syaraf, dan kematian

- Parameter Sulfur Dioksida (SO2), dapat menyebabkan iritasi pernapasan - Parameter Partikel Debu (PM10 dan TSP), partikulat debu yang melayang dan

berterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangi daya tembus pandangan mata

- Oksidan (O3), bila masuk kedalam tubuh dapat mengganggu pernapasan normal, dan oksidan fotokimia juga dapat menyebabkan iritasi mata (Indrayani & Asfianti, 2018)

Jarak antara kebun dan pasar yang

cukup jauh 9 2 1 18

(38)

FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS

JABATAN Bendahara

No Item Potential effects of failure Potential cause of failure S O D RPN

1

Pemanenan secara berlebihan

Terjadinya penumpukan sayur yang berlebihan sehingganya apabila sayur tidak habis di jual maka akan menjadi limbah organik yang dapat mencemari lingkungan karena limbah tersebut dapat menimbulkan bau tidak sedap/tidak sedap

Tidak adanya perencanaan panen yang dilakukan oleh pemilik

UMKM Mekar Jaya 9 6 5 270

2

Kualitas Bibit sayur yang

kurang baik Dapat merusak sayur hasil produksi/gagal panen

Kurangnya pengetahuan dalam pemilihan bibit yang akan di

tanam 6 5 3 90

3 Hasil panen yang rusak

Dapat menimbulkan bau yang busuk karena menurut (Puger, 2018) Sampah organik dapat mengalami perubahan melalui dekomposisi anaerobik, sehingga menimbulkan bau busuk dan pelepasan gas metana (CH4) ke atmosfer serta dapat menimbulkan pencemaran udara sekitar

Limbah ini berasal dari sayuran- sayuran gagal panen pada saat

proses panen sayur 8 5 6 240

4

Jarak

mempengaruhi pemborosan pada bahan bakar

Dapat menimbulkan polusi atau pencemaran udara karena efek pencemaran udara terhadap kesehatan manusia sangat berbahaya dapat terlihat dari beberapa efek yang ditimbulkan dari pencemaran udara akibat dari kendaraan bermotor dapat

menyebabkan beberapa penyakit sebagai berikut :

- keracunan, kelumpuhan pada sistem syaraf, dan kematian

- Parameter Sulfur Dioksida (SO2), dapat menyebabkan iritasi pernapasan - Parameter Partikel Debu (PM10 dan TSP), partikulat debu yang melayang dan

berterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangi daya tembus pandangan mata

- Oksidan (O3), bila masuk kedalam tubuh dapat mengganggu pernapasan normal, dan oksidan fotokimia juga dapat menyebabkan iritasi mata (Indrayani & Asfianti, 2018)

Jarak antara kebun dan pasar yang

cukup jauh 8 1 1 8

(39)

FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS

JABATAN Anggota

No Item Potential effects of failure Potential cause of failure S O D RPN

1 Pemanenan secara berlebihan

Terjadinya penumpukan sayur yang berlebihan sehingganya apabila sayur tidak habis di jual maka akan menjadi limbah organik yang dapat mencemari lingkungan karena limbah tersebut dapat menimbulkan bau tidak sedap/tidak sedap

Tidak adanya perencanaan panen yang dilakukan oleh pemilik

UMKM Mekar Jaya 9 6 6 324

2

Kualitas Bibit sayur yang

kurang baik Dapat merusak sayur hasil produksi/gagal panen

Kurangnya pengetahuan dalam pemilihan bibit yang akan di

tanam 6 5 3 90

3 Hasil panen yang rusak

Dapat menimbulkan bau yang busuk karena menurut (Puger, 2018) Sampah organik dapat mengalami perubahan melalui dekomposisi anaerobik, sehingga menimbulkan bau busuk dan pelepasan gas metana (CH4) ke atmosfer serta dapat menimbulkan pencemaran udara sekitar

Limbah ini berasal dari sayuran- sayuran gagal panen pada saat

proses panen sayur 9 4 6 216

4

Jarak

mempengaruhi pemborosan pada bahan bakar

Dapat menimbulkan polusi atau pencemaran udara karena efek pencemaran udara terhadap kesehatan manusia sangat berbahaya dapat terlihat dari beberapa efek yang ditimbulkan dari pencemaran udara akibat dari kendaraan bermotor dapat

menyebabkan beberapa penyakit sebagai berikut :

- keracunan, kelumpuhan pada sistem syaraf, dan kematian

- Parameter Sulfur Dioksida (SO2), dapat menyebabkan iritasi pernapasan - Parameter Partikel Debu (PM10 dan TSP), partikulat debu yang melayang dan

berterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangi daya tembus pandangan mata

- Oksidan (O3), bila masuk kedalam tubuh dapat mengganggu pernapasan normal, dan oksidan fotokimia juga dapat menyebabkan iritasi mata (Indrayani & Asfianti, 2018)

Jarak antara kebun dan pasar yang

cukup jauh 9 2 2 36

(40)

FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS

JABATAN Anggota

No Item Potential effects of failure Potential cause of failure S O D RPN

1 Pemanenan secara berlebihan

Terjadinya penumpukan sayur yang berlebihan sehingganya apabila sayur tidak habis di jual maka akan menjadi limbah organik yang dapat mencemari lingkungan karena limbah tersebut dapat menimbulkan bau tidak sedap/tidak sedap

Tidak adanya perencanaan panen yang dilakukan oleh pemilik

UMKM Mekar Jaya 7 6 5 210

2

Kualitas Bibit sayur yang

kurang baik Dapat merusak sayur hasil produksi/gagal panen

Kurangnya pengetahuan dalam pemilihan bibit yang akan di

tanam 7 6 3 126

3 Hasil panen yang rusak

Dapat menimbulkan bau yang busuk karena menurut (Puger, 2018) Sampah organik dapat mengalami perubahan melalui dekomposisi anaerobik, sehingga menimbulkan bau busuk dan pelepasan gas metana (CH4) ke atmosfer serta dapat menimbulkan pencemaran udara sekitar

Limbah ini berasal dari sayuran- sayuran gagal panen pada saat

proses panen sayur 9 5 7 315

4

Jarak

mempengaruhi pemborosan pada bahan bakar

Dapat menimbulkan polusi atau pencemaran udara karena efek pencemaran udara terhadap kesehatan manusia sangat berbahaya dapat terlihat dari beberapa efek yang ditimbulkan dari pencemaran udara akibat dari kendaraan bermotor dapat

menyebabkan beberapa penyakit sebagai berikut :

- keracunan, kelumpuhan pada sistem syaraf, dan kematian

- Parameter Sulfur Dioksida (SO2), dapat menyebabkan iritasi pernapasan - Parameter Partikel Debu (PM10 dan TSP), partikulat debu yang melayang dan

berterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangi daya tembus pandangan mata

- Oksidan (O3), bila masuk kedalam tubuh dapat mengganggu pernapasan normal, dan oksidan fotokimia juga dapat menyebabkan iritasi mata (Indrayani & Asfianti, 2018)

Jarak antara kebun dan pasar yang

cukup jauh 9 2 1 18

FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS

Gambar

Tabel 2. 1 Simbol-simbol Fault tree
Gambar 3. 1 Kerangka Metode Penelitian
Tabel 4. 1 Pemetaan Aktivitas
Tabel 4. 2 Analisis FMEA
+6

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Aspek budidaya dan pasca panen berisi daftar pertanyaan mengenai pola tanam akar wangi, proses budidaya akar wangi yang sesuai Good Agricultural Process (GAP)

Tujuan penyusunan akhir ini adalah dapat membangun aplikasi SCM penanganan paska panen padi yang mampu membantu proses distribusi hasil produksi paska panen padi1.

Terjadinya adsorpsi ion logam Fe dalam limbah sintesis terjadi pada saat proses batch dimana limbah karbit sintesis dengan konsentrasi awal 800 gr dilarutkan dalam 1 liter

Dalam kenyataannya, perusahaan mengalami kehilangan waktu proses produksi akibat tingginya tingkat downtime mesin produksi yang terjadi selama periode Januari 2013 hingga

Implementasi yang dilakukan adalah dengan melakukan studi lebih lanjut mengenai cara proses pemanfaatan limbah menjadi energi listrik menggunakan metode fuel

Adapun Strategi penanganan risiko yang paling efektif untuk mengurangi kemungkinan terjadinya agen risiko pada proses supply chain di PT JDC yaitu melakukan manajemen

penanganan kerusakan (pemeliharaan jalan) tidak dilakukan secara dini dan tepat (kerusakan lubang yang terjadi akibat dari kerusakan-kerusakan kecil yang terus menerus

adalah penggabungan input distribusi bahan baku, proses produksi serta distribusi produk sehingga akan membentuk sebuah life cycle. Dari life cycle tersebut nantinya