• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengenai Surat An Naas

N/A
N/A
Alfadjri Salman

Academic year: 2024

Membagikan "Mengenai Surat An Naas"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Surat Surat

An-Naas

An-Naas

(2)

• Surat An-Naas terdiri dari 6 ayat

• Surat ini terdapat pada urutan terakhir dalam susunan Al-Qur’an

• Menurut pendapat para ulama di bidang tafsir bahwa surat An-Naas termasuk golongan surat Makkiyah (turun sebelum hijrah).

Kedudukan dan keutamaan surat Kedudukan dan keutamaan surat

An-Naas

An-Naas

(3)

 Surat An Naas merupakan salah satu Al

Mu’awwidzataini. Yaitu dua surat yang mengandung permohonan perlindungan, yang satunya adalah surat Al Falaq.

 Kedua surat ini memiliki kedudukan yang tinggi diantara surat-surat yang lainnya. Rasulullah SAW bersabda:

ِنْيَتَذّوَعُمْلا ّطَق ّنُهُلْثِم َرُي ْمَل ٌتاَيآ ّيَلَع ْتَلِزْنُأ ْوَأ َلِززْنُأ

“Telah diturunkan kepadaku ayat-ayat yang tidak semisal dengannya yaitu Al Mu’awwidataini (surat An Naas dan surat Al Falaq).” (Muslim no. 814, Tirmidzi

no. 2827, Nasa’i no. 944)

 Setelah turunnya dua surat ini, Rasulullah SAW mencukupkan keduanya sebagai bacaan (wirid) untuk

membentengi diri dari pandangan jelek jin maupun manusia.

(Tirmidzi no. 1984, dari shahabat Abu Sa’id ra)

(4)

  Namun bila disebut Al Mu’awwidzat, Namun bila disebut Al Mu’awwidzat, maka yang dimaksud adalah dua surat maka yang dimaksud adalah dua surat

ini dan surat Al Ikhlash. Al ini dan surat Al Ikhlash. Al

Mu’awwidzat, salah satu bacaan Mu’awwidzat, salah satu bacaan

wirid/dzikir yang disunnahkan untuk wirid/dzikir yang disunnahkan untuk

dibaca sehabis shalat. Shahabat dibaca sehabis shalat. Shahabat

‘Uqbah bin ‘Amir membawakan hadits

‘Uqbah bin ‘Amir membawakan hadits dari Rasulullah SAW, bahwa beliau SAW dari Rasulullah SAW, bahwa beliau SAW

bersabda:

bersabda:

ٍةَلَص ّلُك ِرُبُد ْيِف ِتاَذ ّوَعُمْلا اوُأَرْقا

“Bacalah Al Mu’awwidzat pada setiap sehabis shalat.” (Abu Dawud no. 1523, dishahihkan oleh

Asy Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no.

1514)

(5)

 Al Mu’awwidzat juga dijadikan wirid/dzikir di waktu pagi dan sore. Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang membacanya sebanyak tiga kali diwaktu pagi dan sore, niscaya Allah subhanahu wata’ala akan mencukupinya dari segala sesuatu”. (Abu Daud no. 4419, Naasaai no.

5333, dan Tirmidzi no. 3399)

 Demikian pula disunnahkan membaca Al Mu’awwidztat sebelum tidur. Caranya, membaca ketiga surat ini lalu meniupkan pada kedua telapak tangannya, kemudian diusapkan ke kepala, wajah dan seterusnya ke seluruh anggota badan, sebanyak tiga kali. (Bukhari 4630

 Al Muawwidzat juga bisa dijadikan bacaan ‘ruqyah’

(pengobatan ala islami dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an). Dipenghujung kehidupan Rasulullah saw, beliau dalam keadaan sakit. Beliau meruqyah dirinya dengan membaca Al Muawwidzat, ketika sakitnya semakin parah, maka Aisyah yang membacakan ruqyah dengan Al Muawwidzat tersebut. (Al Bukhari no. 4085 dan Muslim no.

2195)

(6)

HUBUNGAN SURAT HUBUNGAN SURAT

Hubungan surat An-Naas dengan surat sebelumnya

Kedua-duanya sama-sama mengajarkan kepada manusia, hanya kepada Allah-lah menyerahkan diri dari segala kejahatan

Surat Al-Falaq memerintahkan untuk memohon perlindungan dari segala bentuk kejahatan, sedang surat An-Naas

memerintahkan untuk memohon perlindungan dari jin dan manusia.

(7)

ِساّنلا ّبَرِب ُذوُعَأ ْلُق

“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Aku berlindung kepada Rabb manusia.”

ِساّنلا ِكِلَم

“Raja manusia.”

ِساّنلا ِهَلِإ

“Sembahan manusia.”

TAFSIR AYAT 1-3 TAFSIR AYAT 1-3

Memohon perlindungan kepada Allah

Memohon perlindungan kepada Allah

(8)

 Tiga ayat diatas merupakan sebuah tarbiyah ilahiyah, Tiga ayat diatas merupakan sebuah tarbiyah ilahiyah, Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk memohon Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk memohon perlindungan hanya kepada-Nya. Karena Dia adalah:

perlindungan hanya kepada-Nya. Karena Dia adalah:

* Rabb (yaitu sebagai pencipta, pengatur, dan pemberi

* Rabb (yaitu sebagai pencipta, pengatur, dan pemberi rizki),

rizki),

* Al Malik (pemilik dari segala sesuatu yang ada di alam

* Al Malik (pemilik dari segala sesuatu yang ada di alam ini),

ini),

* Al Ilah (satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi).

* Al Ilah (satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi).

 Dengan ketiga sifat Allah SWT ini, Nabi Muhammad Dengan ketiga sifat Allah SWT ini, Nabi Muhammad diperintah untuk memohon perlindungan hanya kepada- diperintah untuk memohon perlindungan hanya kepada- Nya, dari kejelekan was-was yang dihembuskan syaithan Nya, dari kejelekan was-was yang dihembuskan syaithan dan dari kejahatan karena kedengkian jin dan manusia.

dan dari kejahatan karena kedengkian jin dan manusia.

 Sebuah pendidikan Rabbani, bahwa semua yang Sebuah pendidikan Rabbani, bahwa semua yang makhluk Allah SWT adalah hamba yang lemah, butuh makhluk Allah SWT adalah hamba yang lemah, butuh akan pertolongan-Nya SWT. Termasuk Nabi Muhammad akan pertolongan-Nya SWT. Termasuk Nabi Muhammad SAW beliau adalah manusia biasa yang butuh akan

SAW beliau adalah manusia biasa yang butuh akan

pertolongan-Nya. Sehingga beliau adalah hamba yang pertolongan-Nya. Sehingga beliau adalah hamba yang tidak boleh disembah, bukan tempat untuk meminta tidak boleh disembah, bukan tempat untuk meminta pertolongan dan perlindungan, dan bukan tempat pertolongan dan perlindungan, dan bukan tempat bergantung.

bergantung.

(9)

ِكِلَم ، ِساّنلا ّبَرِب ِةَر ْوُسلا ِهِذَه يِف ُةَذاَعِتْسِلا ّرَش : َوُه ُهْنِم ُذاَعَت ْسُمْلا َو . ِساّنلا ِهَلِإ ، ِساّنلا ِر ْوُدُص يِف ُسِوْس َوُي يِذّلا ، ِساّنَخْلا ِسا َوْس َوْلا . ِساّنلا َو ِةّنِجْلا َنِم ، ِساّنلا

Memohon perlindungan yang disebutkan pada surat ini adalah kepada Tuhan

manusia, raja manusia dan sembahan manusia.

Yang dimintakan perlindungan darinya adalah

Jahatnya bisikan yang bersumber dalam

dada manusia; baik dari jin atau manuisa

(10)

، ُهَلِلا ، ِكِلَمْلا ، ّبّرلاِب ُةَذاَعِتْسِلا َو

ُعَف ْدَي ِهِب اَم ُهَناَحْبُس ِا ِتاَف ِص ْنِم ُر ِض ْحَتْسَت .ًةَصا َخ ِساّنَخْلا ِسا َوْس َوْلا ّرَش َو ، ًةَماَع ّرّشلا

Memohon perlindungan kepada

Tuhan, Raja dan Ilah akan

menghadirkan sifat-sifat Allah

yang dapat menolak segala

kejahatan secara umum dan

kejahatan bisikan secara khusus.

(11)

. يِما َحْلا َو يِعاّرلا َو ُهّج َوُمْلا َو يّب َررُمْلا َوُه ّبّرلاَف

يِل ْعَت ْسُمْلا َوُه ُهَلِلا َو . ُفّرَصَتُمْلا ُمِكاَحْلا ُكِلاَمْلا َوُه ُكِلَمْلا َو ّررّشلا َنِم ٌةَياَمِح اَهْيِف ُتاَفّصلا ِهِذَه َو . . ُطّلَسَتُمْلا يِل ْوَت ْسُمْلا ُهُعَف ْدَت َفْيَك ُف ِرْعَت َل َيِه َو . . ِر ْوُدّصلا ىَلِإ ُسّسَدَتَي يِذّلا . ٌر ْوُت ْسَم ُهّنَل

Ar-Rabb adalah murabbi (yang membimbing, mengarahkan, memelihara dan melindungi.

Al-Malik adalah yang memiliki, yang menentukan dan mengatur.

Al-Ilah adalah yang Maha tinggi, berkuasa dan menekan.

Sifat-sifat ini dapat memberikan perlindungan dari

segala kejahatan yang berasal dari dada (hati), yang

kebanyakan manusia tidak mampu melakukannya karena

tersembunyi

(12)

، ٍء ْيَش ّلُك ُكِلَم َو ، ٍء ْيَش ّلُك ّب َر ُا َو ِرْكِذ ُصْي ِص ْخَت ْنِكَل َو . ٍء ْيَش ّلُك ُهَلِإ َو يِف ىَب ْرُقْلاِب َن ْوّسُحَي ْمُرهُلَع ْجَي اَنُه ِساّنلا . ِءاَمِت ْحِلا َو ِذاَيِعْلا ِفِق ْوَم

Allah adalah Pengatur dan penata dari segala sesuatu, pemilik dari segala sesuatu dan Ilah (Tuhan) yang berhak disembah dari segala

sesuatu. Namun dikhususkan penyebutan beriring dengan sebutan manusia membuat mereka

merasakan kedekatan terutama pada saat

memohon perlindungan dan penjagaan.

(13)

َمّلَس َو ِهْيَلَع ُا ىّلَص ُهَل ْوُس َر ُهّج َوُي ُهْنِم ٍةَم ْح َرِب ُا َو

يِناَعَم ِراَض ْحِتْسا َعَم ، ِهْيَلِإ ِءاَجِتْلِلا َو ِهِب ِذاَيِعْلا ىَلِإ ُهَتّمُأ َو ّلِإ ِهِعْفَدِب ْمُهَل َلَبِق َل ، ِبْيِبّدلا ّيِفَخ ّرَش ْنِم ، ِهِذَه ِهِتاَف ِص َل ُثْي َح ْنِم ْمُهُذُخْأَي َوُهَف . ِهَلِلا ِكِلَمْلا ّبّرلا َنِم ٍن ْوَعِب .. َن ْوُب ِسَت ْحَي َل ُثْي َح ْنِم ْمِهْيِتْأَي َو ، َن ْوُرُعْشَي

Allah dengan rahmat-Nya memberikan pengarahan kepada Rasulullah saw dan umat untuk senantiasa

berlindung dan bersimpuh kepada-Nya, diiringi dengan menghadirkan makna dari sifat-sifat-Nya dari berbagai bisikan yang tersembunyi yang tidak memiliki kekuatan untuk menghadapinya kecuali dengan pertolongan Allah;

Rabb, al-Malik dan al-Ilah. Karena bisikan tersebut hadir

dari arah yang tidak dapat mereka rasakan, datang dari

arah yang tidak mereka duga.

(14)

Makna Al was-was adalah bisikan yang betul-betul Makna Al was-was adalah bisikan yang betul-betul tersembunyi dan samar,

tersembunyi dan samar,  Sementara makna al khannas Sementara makna al khannas adalah mundur.

adalah mundur.

Bagaimana maksud dari ayat ini?

Bagaimana maksud dari ayat ini?

Maksudnya, bahwasanya syaithan selalu menghembuskan Maksudnya, bahwasanya syaithan selalu menghembuskan bisikan-bisikan yang menyesatkan manusia disaat manusia bisikan-bisikan yang menyesatkan manusia disaat manusia lalai dari berdzikir kepada Allah SWT. Sebagaimana firman- lalai dari berdzikir kepada Allah SWT. Sebagaimana firman- Nya (artinya):

Nya (artinya):

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb yang

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan). Maka syaitan itulah yang menjadi (yang menyesatkan). Maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az Zukhruf: 36)

teman yang selalu menyertainya.” (Az Zukhruf: 36) Adapun ketika seorang hamba berdzikir kepada Allah Adapun ketika seorang hamba berdzikir kepada Allah

subhanahu wata’ala, maka syaithan bersifat khannas yaitu subhanahu wata’ala, maka syaithan bersifat khannas yaitu

‘mundur’ dari perbuatan menyesatkan manusia.

‘mundur’ dari perbuatan menyesatkan manusia.

Sebagaimana dalam firman-Nya (artinya):

Sebagaimana dalam firman-Nya (artinya):

“Sesungguhnya syaitan itu tidak mempunyai kekuasaan atas

“Sesungguhnya syaitan itu tidak mempunyai kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabb- orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabb- nya.” (An Nahl: 99)

nya.” (An Nahl: 99)

TAFSIR AYAT 4 TAFSIR AYAT 4

Jenis permohonan perlindungan Jenis permohonan perlindungan

ِساّن َخْلا ِسا َو ْس َوْلا ّرَش نِم

“Dari kejahatan (bisikan) syaithan yang biasa bersembunyi.”

(15)

Al Imam Ibnu Katsir

Al Imam Ibnu Katsir  di dalam  di dalam kitab tafsirnya ketika

kitab tafsirnya ketika

membawakan penafsiran dari membawakan penafsiran dari

Sa’id bin Jubair dan Ibnu Sa’id bin Jubair dan Ibnu

‘Abbas, yaitu: 

‘Abbas, yaitu:  “Syaithan “Syaithan bercokol di dalam hati

bercokol di dalam hati

manusia, apabila dia lalai atau manusia, apabila dia lalai atau

lupa maka syaithan lupa maka syaithan

menghembuskan was-was menghembuskan was-was

padanya, dan ketika dia padanya, dan ketika dia

mengingat Allah subhanahu mengingat Allah subhanahu

wata’ala maka syaithan lari wata’ala maka syaithan lari

darinya.

darinya.

(16)

هحلسو هتنجو هتدع ىلع ا هلدي مث نمو . ةيفخلا ةسوسولا عفد نع زجاع ناسنلاو

!ةبيهرلا ةكرعملا يف نم لدت ةفصلا هذهف . . { سانخلا } هنأب ساوسولا فصو يف ىزغم تاذ ةتفل كانهو

ىرخأ ةهج نم اهنكلو . سوسويو بديف ةحناس ةصرفلا دجي ىتح هئابتخاو هيفخت ىلع ةهج مأ ةنجلا نم ناك ءاوس وهف . هردص لخرادم يمحيو ، هركمل ظقيتسي نم مامأ هفعضب يحوت لوسرلا لاق امك وأ . ىفتخاو عبقو ، ىتأ ثيح نم داعو ، سنخ ه ْجوو اذإ سانرلا نم ناك . « سوسو لفغ اذإو ، سنخ ىلاعت ا ركذ اذإف » : قيقدلا روصملا هليثمت يف ميركلا

ةدع مامأ فيعض . سانخ وهف . ساوسولا ةهجاوم ىلع بلقلا يوقت ةتفللا هذهو

ةكرعملا يف نمؤملا .

Bahwa manusia memang lemah dari menolak bisikan yang tersembunyi. Karena itulah Allah memberikan petunjuk dengan perangkat, benteng dan senjata dalam perang yang sangat mengerikan!

Ada pelajaran yang sangat penting dalam mensifati kata-kata “Al-waswas” yaitu dengan Al-Khannas… bahwa sifat ini –dari satu sisi- menunjukkan tersembunyi dan samar sehingga mendapatkan kesempatan yang baik untuk membisikkan dan merayu. Namun – dari sisi lain- mengisyaratkan kelemahannya dihadapan orang-orang yang sadar akan tipu daya dan selalu melindungi pintu-pintu masuk yang ada di dadanya. Baik yang berasal dari jin atau dari manusia, jika mampu dihadapai akan lambat dan kembali lagi

sebagaimana semula, lalu menutup dan bersembenyi. Atau seperti yang disabdakan oleh nabi saw: “jika ia berdzikir kepada Allah maka ia akan menjauh namun jika lengah maka ia akan membisiki”

Dari pelajaran ini akan memperkuat hati dalam menghadapi berbagai bisikan, karena ia adalah lambat, lemah dihadapan orang yang beriman dan sadar terhadap perang ini.

(17)

TAFSIR AYAT 5 TAFSIR AYAT 5

Jenis dan Cara kejahatan Jenis dan Cara kejahatan

Inilah misi syaithan yang selalu berupaya Inilah misi syaithan yang selalu berupaya menghembuskan was-was kepada manusia;

menghembuskan was-was kepada manusia;

* Menghiasi kebatilan sedemikian indah dan menarik.

* Menghiasi kebatilan sedemikian indah dan menarik.

* Mengemas kebenaran dengan kemasan yang buruk.

* Mengemas kebenaran dengan kemasan yang buruk.

Sehingga seakan-akan yang batil itu tampak benar dan Sehingga seakan-akan yang batil itu tampak benar dan yang benar itu tampak batil.

yang benar itu tampak batil.

Cobalah perhatikan, bagaimana rayuan manis syaithan Cobalah perhatikan, bagaimana rayuan manis syaithan yang dihembuskan kepada Nabi Adam dan istrinya. Allah yang dihembuskan kepada Nabi Adam dan istrinya. Allah SWT kisahkan dalam firman-Nya :

SWT kisahkan dalam firman-Nya :

“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada

“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada

keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya, dan syaitan yang tertutup dari mereka yaitu auratnya, dan syaitan berkata: “Rabb-mu tidak melarangmu untuk mendekati berkata: “Rabb-mu tidak melarangmu untuk mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal

malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam al jannah/surga)”. (Al A’raf: 20)

(dalam al jannah/surga)”. (Al A’raf: 20)

ِساّنلا ِروُدُص يِف ُسِو ْس َوُي يِذّلا

“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.”

(18)

Demikian pula, kisah ketika Rasulullah saw sedang beri’tikaf.

Shafiyyah bintu Huyay (salah seorang istri beliau saw) mengunjunginya di malam hari. Setelah berbincang beberapa saat, maka Rasulullah saw mengantarkannya pulang ke kediamannya. Namun perjalanan keduanya dilihat oleh dua orang Al Anshar. Kemudian syaithan menghembuskan ke dalam hati keduanya perasaan was-was (curiga). Rasulullah saw melihat gelagat yang kurang baik dari keduanya. Oleh karena itu Rasulullah saw segera mengejarnya, seraya bersabda:

لله.ا َلوُسَراَي ا َناَحْبُس :َلاَقَف ّيَيُح ُتْنِب ُةّيِفَص اَهّنِإ ,اَمُكِلْسِر ىَلَع ْنَأ ُتْيِش َخ يّنِإَو ,مّدلا ىَر ْجَم َمَدآ ِنْبا ِنِم يِر ْجَي َناَطْيّشلا ّنِإ :َلاَقَف

اًّرَش ْوَأ ,ًائْيَشاَمُكِبوُلُق يِف َفَذْقُي .

“Tenanglah kalian berdua, dia adalah Shafiyyah bintu Huyay. Mereka berdua berkata: “Maha Suci Allah wahai Rasulullah. Maka Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya syaithan mengalir di tubuh bani Adam sesuai dengan aliran darah, dan aku khawatir dihembuskan kepada kalian sesuatu atau keburukan.” (H.R Muslim no. 2175)

(19)

Demikianlah watak syaithan selalu menghembuskan bisikan-bisikan jahat ke dalam hati manusia. Apalagi Allah subhanahu wata’ala dengan segala hikmah-Nya telah menciptakan ‘pendamping’ (dari kalangan jin) bagi setiap manusia, bahkan Rasulullah saw juga ada pendampingnya. Sebagimana sabdanya shalallahu ‘alaihi wasallam:

َكاّيِإَو :اوُلاَق ، ّنِجلا َنِم ُهُنْيِرَق ِهِب َلّكُو ْدَقَ ّلِإ ٍدَحَأ ْنِم ْمُكْنِم اَم ،َمَلْسَأَف ِهْيَلَع يِنَناَعَأ ا ّنَأ ّلِإ ،َياّيِإَو :َلاَق ؟ ا َلوُسَزراَي

ٍرْي َخِبّلِإ يِنُرُمْأَي َلَف لله.

“Tidaklah salah seorang dari kalian kecuali diberikan seorang pendamping dari kalangan jin, maka para shahabat berkata: Apakah termasuk engkau wahai Rasulullah? Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Ya, hanya saja Allah telah menolongku darinya, karena ia telah masuk Islam, maka dia tidaklah memerintahkan kepadaku kecuali kebaikan”. (Muslim no. 2814)

(20)

TAFSIR AYAT 6 TAFSIR AYAT 6

Sumber kejahatan Sumber kejahatan

Dari ayat ini tampak jelas bahwa yang melakukan bisikan ke dalam dada manusia tidak hanya dari golongan jin, bahkan manusia pun bisa

berperan sebagai syaithan. Hal ini juga dipertegas dalam ayat lain:

“Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang

indah-indah untuk menipu (manusia)” (Al An’am: 112)

Maka salah satu jalan keluar dari bisikan dan godaan syaithan baik dari kalangan jin dan manusia adalah sebagaimana firman Allah SWT: “Dan jika syaithan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah.” (Fushshilat: 36)

ِساّنلا َو ِةّنِجْلا َنِم

“Dari (golongan) jin dan manusia.”

(21)

 Melalui surat ini jelas bagi kita bahwa memohon pertolongan dan perlindungan hanya kepada Allah subhanahu wata’ala semata.

Mengakui bahwa sesungguhnya seluruh makhluk berada di bawah pengaturan dan kekuasaan-Nya subhanahu wata’ala.

Bahwa semua kejadian ini terjadi atas kehendak-Nya SWT.

Dan tiada yang bisa memberikan pertolongan dan menolak mudharat kecuali atas kehendak-Nya subhanahu wata’ala pula.

PENUTUP

PENUTUP

(22)

Semoga Allah SWT Semoga Allah SWT

menjadikan kita sebagai menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang hamba-hamba-Nya yang

senantiasa meminta senantiasa meminta

pertolongan, perlindungan pertolongan, perlindungan dan mengikhlaskan seluruh dan mengikhlaskan seluruh peribadahan hanya kepada- peribadahan hanya kepada-

Nya. Nya.

(23)

كل ا ًركش

Referensi

Dokumen terkait

Dalam mengungkap rahasia susunan surat dalalm al-Qur`an yang sekilas terkesan kacau dan tidak sistematis, terlebih dahulu perlu dibahas tentang pandangan-pandangan

Secara teoritis, karya ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang waqf al-mu‟ânaqah dalam kepustakaan ilmu Al-Qur‟an dan Tafsîr Al-Qur‟an melalui studi

Sesuatu fenomena yang menarik dalam Al-Qur‟an berkaitan dengan operasi bilangan adalah bahwa berdasarkan urutan surat, ternyata Al-Qur‟an mengajarkan terlebih dahulu

pun menjelaskan dalam Al-Qur‟an surat An- Nahl ayat 125, Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka

Jenis kelamin merupakan perbedaan alami, karena setiap makhluk hidup, termasuk manusia, telah diciptakan berbeda kelamin (berpasangan), sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur‟an

Hasil penelitian menunjukkah bahwa terdapat nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam al- Qur‟an surat an - Nisā‟ ayat 1 meliputi: pertama, pendidikan akidah yang

1) Menjadikan petunjuk al-Qur‟an bersifat parsial. Al-Qur‟an merupakan satu kesatuan yang utuh, sehingga satu ayat dengan ayat yang lain membentuk satu pengertian yang

Sedangkan sumber sekunder yang akan menjadi penelitian ini adalah berupa kamus-kamus bahasa Arab, antara lain Lisan al-Arab, al-Furuq al-Lug`awiyah, Mu‟jam Mufradat al-Faz al-Qur‟an,